Susah Sinyal di Desa Bareng

Kesederhanaan sebuah desa selalu menarik perhatian manusia-manusia yang setiap hari terpapar oleh polusi udara dan suara. Mereka yang terjebak oleh kungkungan kubikel atau mereka yang sedang dalam kondisi memangku kesemrawutan pola hidup. Di mana ada tempat yang menawarkan kearifan lokal yang tidak sama dengan budaya perkotaan, itulah tempat pelarian singkat mereka.

Walau ironi, banyak penduduk desa mengadu nasib ke kota besar. Sejenak segala yang terlihat berbeda dan menyehatkan jiwa menjadi dambaan.

Desa Sawahan Nganjuk
Desa Sawahan, Nganjuk

Bulan Desember 2019 lalu, saya dan beberapa kawan alumni #EksplorDeswita kembali menyinggahi desa wisata di Jawa Timur. Desa tujuan yang terletak di lereng Gunung Wilis sisi Kabupaten Nganjuk tersebut terbilang baru mendapat pengesahan sebagai desa wisata dan tengah melakukan uji coba paket wisata yang layak ditawarkan ke pelancong. Jadi kami datang untuk menjajal keseruan yang akan mereka sajikan di sana.

Siang itu saya dan @lagilibur menjadi tamu paling awal tiba di Nganjuk. Kami berdua tidak bingung mencari transportasi umum menuju ke sana karena tim Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) bersedia menjemput kami di titik temu yang telah disepakati. Jarak antara Kota Nganjuk dengan desa yang akan kami kunjungi adalah 28 kilometer atau sekitar 45 menit menggunakan kendaraan bermotor dengan catatan kondisi lalu lintas lancar.

Desa Bareng, namanya. Sepanjang perjalanan menuju Desa Bareng yang administratif masuk Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, kami disuguhi bentangan sawah ijo royo-royo. Kelokan anak sungai dan bongkahan batu-batu besar sisa letusan gunung berapi masa lampau pun mewarnai persawahan. Selanjutnya hamparan ladang dan perbukitan Gunung Wilis menjadi pemandangan jamak desa terakhir batas kabupaten tersebut.

Salah satu tim Pokdarwis Desa Bareng yang bernama Lela membawa kami berdua menilik sebuah situs yang masih disakralkan oleh warga setempat. Peninggalan bersejarah yang dinamai Situs Mbah Budho berwujud arca dengan tinggi sekitar lima puluh sentimeter dikelilingi tiga patung kecil. Mereka diletakkan di lempengan batu andesit bersama dengan beberapa batu bulat dan sebuah lumpang. Folklor yang berkembang mengatakan bahwa sosok mbah Budho adalah seseorang yang sakti dan disegani pada masa lalu.

Belum ada informasi detail dilampirkan oleh balai arkeologi atau pihak berwenang, sehingga tidak bisa menebak dengan pasti berapa umur arca dan peninggalan dari kerajaan mana. Hanya bisa berkesimpulan bahwa penamaan Desa Bareng berasal dari situs tersebut. Sesuai petuah dari Mbah Budho kepada warga desa, jika melakukan segala sesuatu ada baiknya dikerjakan gotong royong dan tanpa pamrih. Bareng-bareng atau bersama-sama agar pekerjaan cepat selesai dan mempererat persaudaraan.

Usai mendengarkan dongeng Mbah Budho, kami beranjak ke sekretariat Pokdarwis Desa Bareng yang menempati rumah Maryadi selaku kepala Pokdarwis Desa Bareng. Setiba di pintu masuk, saya diminta oleh seorang nenek untuk mencelupkan tangan ke dalam wadah berisi irisan bunga kenanga, bunga mawar, dan daun pandan, lalu mengoleskannya dari dagu ke bawah. Campuran itu telah diberi sedikit air dan bubuk bedak dingin sehingga berbau harum dan menyegarkan.

Kembang boreh ini buat menyambut kedatangan tamu sekaligus sebagai tolak bala,” jelasnya. Sungguh unik cara penyambutan mereka menggunakan kembang boreh tersebut. Tradisi ini masih lestari dan biasa dilakukan oleh warga Desa Bareng ketika mengadakan hajatan besar atau pesta pernikahan pertama kali di rumah mereka. Harapannya supaya acara bisa berlangsung lancar dan menjauhkan tuan rumah dari kedatangan tamu yang hendak bikin onar.

Selanjutnya saya diantar ke homestay untuk beristirahat sembari menunggu kedatangan teman-teman yang lain. Kediaman keluarga Ridwan dan Anik menjadi homestay yang saya dan @lagilibur inapi di Desa Bareng. Awal pertemuan ada kecanggungan antara kami dan tuan rumah, maklum karena kami berdua adalah tamu pertama mereka setelah rumahnya dipersiapkan sebagai salah satu homestay di Dusun Jabon, Desa Bareng. Selang beberapa menit, percakapan mengenai mata pencaharian mereka dan aktivitas di desa pun mengalir perlahan.

Sesekali saya mengintip gawai untuk mengusir kecanggungan. Ehm, sinyal naik turun nggak stabil. Sekian menit kemudian saya kembali merunduk, anjrit, sinyal telepon genggam jadi satu garis aja. Boro-boro mengirim MMS, obrolan Whatsapp saja berubah centang satu pakai lama. Panik! Hanya bisa berdoa supaya si gebetan nggak ngambek dan memakluminya. Efek samping tanpa sinyal internet yang saya alami hampir sama seperti generasi merunduk pada umumnya. Belingsatan keliling rumah cari sinyal, terus merunduk berharap centang dua, scroll naik turun layar gawai.

Pada akhirnya saya lelah mencari sinyal. Berusaha mengurangi tindakan yang seharusnya tidak dilakukan ketika liburan. Kejadian ini menyadarkan saya bahwa inilah faedah dari wisata ke desa. Dengan hilang sinyal (internet), saya bisa bercengkerama dengan tuan rumah tanpa gejala leher pegel karena kebanyakan merunduk. Bahkan leluasa berkeliling desa dan menikmati pemandangan sekitar tanpa dihantui lagi oleh hasrat kepo terhadap dunia halu selebgram A-Z dan dunia mantan!

Sejauh mata memandang halaman depan rumah di sana terlihat bersih dan asri. Pohon-pohon cengkeh menjulang tinggi dan rimbun. Tanaman serai wangi turut menghiasi kanan kiri jalan desa yang sudah beraspal dan cukup lebar. Namun jangan heran jika menemui beberapa benda yang dikeramatkan di Desa Bareng ya. Salah satunya adalah sebuah batu andesit besar di pinggir jalan yang saya lewati ketika berjalan menuju homestay. Batunya telah diberi batas pagar besi. Tidak ada yang berani memindah apalagi berani mendudukinya. Takut kena petaka, kata pemandu saya. Baiklah.

Dari hasil kongko dengan tuan rumah homestay dan warga setempat di poskamling, saya jadi tahu bahwa cengkeh merupakan komoditi utama Desa Bareng. Maka dari itu sebagian besar warga di sana berprofesi sebagai petani cengkeh. Sayang kedatangan saya di sana tidak dibarengi musim panen sebab bunga cengkeh biasa dipanen mulai bulan Mei hingga September. Boleh dikata bahwa pada bulan-bulan tersebut seluruh warga desa sibuk memanen cengkeh.

Lalu apa yang dilakukan petani cengkeh ketika masa panen sudah lewat? Selain melakukan perawatan secara kontinu di ladang cengkeh masing-masing, mereka juga mengumpulkan daun cengkeh yang berguguran di halamannya. Daun kering yang telah terkumpul akan dibeli oleh pengepul untuk disuling menjadi minyak. Ohh, pantas saja halaman rumah di Desa Bareng selalu terlihat bersih karena pemiliknya rajin menyapu guguran daun secara berkala.

panorama perbukitan Gunung Wilis
perbukitan Gunung Wilis

Meskipun cengkeh termasuk salah satu komoditi bernilai tinggi dan pernah menjadi rempah buruan negara lain, nyatanya harga cengkeh bisa naik-turun sesuai permintaan pasar. Anik dan suaminya mengeluhkan harga cengkeh merosot tahun ini. Mereka dibayar oleh tengkulak 65.000 rupiah untuk per kilogram bunga cengkeh yang mereka panen. Padahal tahun sebelumnya bisa mencapai harga 100.000 rupiah per kilogram. Saya hanya bisa menatap iba sebuah pohon cengkeh besar di depan rumah mereka. Puluhan tahun silam Pak Pujono, ayah Anik, menanam pohon tersebut di depan rumahnya. Pohon cengkeh berusia hampir empat puluh tahun yang menjadi salah satu saksi bisu sejarah percengkehan di Desa Bareng.

Pak Pujono sebagai warga asli Desa Bareng sekaligus petani cengkeh dari generasi ke generasi membagikan rekaman sejarah cengkeh di desanya. Beliau bercerita bahwa pada tahun 1976, desanya pernah mengalami krisis ekonomi. Turunnya harga cengkeh kala itu menyebabkan banyak warga menebangi pohon-pohon cengkeh tua dan mengantinya dengan tanaman ketela. Krisis itu berlangsung selama sepuluh tahun. “Tahun 1986 warga mulai tergerak menanam cengkeh lagi, tetapi kami harus menunggu selama enam tahun supaya pohon berbunga dan siap panen,” ungkap Pak Pujono sambil tersenyum ke arah saya menutupi penyesalan kecil masa lalu desanya.

Keesokan harinya, saya bergabung dengan @insanwisata, @silviananoerita, @awardeean, dan kawan-kawan yang lain melihat matahari terbit di sebuah bukit yang dinamai Bukit Surga. Jalan kaki dari dusun bawah lumayan bikin badan keringatan. Medannya cukup menanjak disertai jalan yang lebar, tapi belum beraspal mulus. Walau tergolong sebagai obyek wisata baru, bukit ini telah dilengkapi fasilitas toilet, gazebo dan sebuah warung yang menjual aneka gorengan dan minuman hangat. Saya kurang paham kenapa nama lamanya Bukit Plosorejo tidak dipakai lagi. Entah pemilihan nama untuk mendongkrak citra obyek wisata baru atau terlanjur dihantui oleh fenomena obyek wisata instan seperti terjadi di banyak destinasi wisata baru di Indonesia. Kabar baiknya, sinyal (internet) masih undlap-undlup sesampainya di atas.

Bukit Plosorejo atau Bukit Surga di Desa Bareng memiliki pelataran luas di mana pengunjung bisa melihat panorama perbukitan anak Gunung Wilis. Bukit Liman tampak menjulang di belakang saya berdiri. Sementara Bukit Tapan Sewelas yang masih disakralkan oleh penduduk mengerucut tajam di baliknya. Kabut tipis menyelimuti hamparan ladang cengkeh dan desa di bawah. Sesekali terdengar kicauan burung. Dikelilingi pemandangan semacam ini lalu bersantai di gazebo sembari menyeruput kopi panas, hmm nikmat mana yang akan didustakan.

Setelah mengawali rangkaian paket wisata dengan berburu sunrise, selanjutnya kami dibawa ke rumah penyulingan, tempat produksi keripik, dan pembuatan jamu tradisional. Aktivitas paling menarik bagi saya adalah melihat lebih dekat rumah penyulingan yang menjadi proses lanjut dari pengolahan cengkeh di Desa Bareng. Perlu diketahui bahwa pohon cengkeh tidak dipanen bunganya saja, melainkan daun kering dan batangnya turut diolah dan diambil kandungan minyak atsirinya. Jika bunga cengkeh umum dimanfaatkan untuk campuran rokok dan bumbu makanan, maka hasil penyulingan daun kering (clove leaf oil) dan ranting kering cengkeh (clove stem oil) juga dipakai sebagai bahan campuran obat gosok hingga parfum.

Rumah penyulingan yang kami kunjungi pagi itu tengah melakukan penyulingan daun cengkeh. Seorang pemuda yang bekerja di sana menjelaskan secara singkat proses dari dua kuali beda ukuran di sana. Kuali besarnya bisa menampung 5-6 kuintal daun cengkeh kering, sedangkan kuali kecil di lantai bawah mampu menampung maksimal 4 kuintal. Hasil penyulingan kuali kecil akan menghasilkan tiga belas kilogram minyak cengkeh murni setelah melalui delapan jam perebusan. Setelah minyak murni tersaring, para pengepul akan menjualnya langsung ke pabrik atau lewat tengkulak dengan harga jual 130.000 rupiah per kilogram.

Di rumah penyulingan lain saya sempat bertemu dengan Gito Utomo (66 tahun). Salah satu petani cengkeh yang banting setir membuka rumah penyulingan sejak lima tahun lalu tersebut menyebut ongkos jasanya sebesar 50.000 rupiah untuk sekali proses penyulingan. Tidak hanya cengkeh saja yang disuling, melainkan serai wangi dengan waktu penyulingan sekitar empat jam (harga jual minyak serai wangi 170.000 rupiah per kilogram), dan daun nilam dengan waktu penyulingan selama lima jam (harga jual minyak nilam 600.000 per kilogram). Nilai jual olahan kekayaan alam Indonesia yang fantastis, bukan?

Kabar baik dari rumah penyulingan dan cerita indah para petani cengkeh melengkapi hari tanpa sinyal internet di Desa Bareng. Rasa-rasanya saya enggan mengakhiri hari di sana karena ilmu percengkehan masih perlu digali lebih dalam lagi. Namun apa daya waktu kunjung yang singkat dan tuntutan hidup anak dari kota. Akhir cerita, buah durian lokal yang dijajakan di pojok poskamling menutup pertemuan pertama saya dengan Desa Bareng. See you again, Desa Bareng. 😉


Note: Jika tertarik untuk berkunjung ke Desa Wisata Bareng dan memerlukan informasi mengenai paket wisata yang ditawarkan dan homestay di sana bisa menghubungi Rena dengan nomor hubung +6282231062913.

8 Comments Add yours

  1. @nurulrahma says:

    Desa wisata yang mengagumkan! Nganjuk, yaaa? Baiklah. kapan2 daku pengin main ke sana juga

    Like

    1. Cerita cengkeh di Desa Bareng, Nganjuk cocok jadi edukasi anak-anak sekolah maupun orang dewasa. Waktu saya berkunjung ke sana cengkeh yang dijual masih berupa minyaknya saja. Mudah-mudahan waktu mbak Nurul ke sana sudah ada produk unggulan lain yang mengangkat cengkeh. 🙂

      Like

  2. Hastira says:

    benar2 suasana pedesaan yang begitu hujau dan tenang. kalau orang kota mungkin beberapa hari di sini senang ya tapi kalau selamanya mikir2 dulu apalagi gak ada sinyal

    Like

    1. Inilah kenikmatan liburan di desa susah sinyal hehehe.

      Like

  3. Bama says:

    Waktu baca paragraf pertama langsung mak nyesss, soalnya ini memang yang saya rasakan sebagai seseorang yang sudah terlalu lama hidup di kota besar, belantara tembok dan beton dengan udara yang menyesakkan. Adem banget baca postingan ini, Halim. Desa wisata seperti ini memang harus terus dikembangkan menurut saya, tapi ada baiknya desa-desa yang baru membuka diri untuk wisatawan belajar dari keberhasilan dan kesalahan desa-desa lainnya yang sudah lebih dulu ‘terjun’. Saya setuju mengenai penamaan bukit itu — menurut saya alangkah baiknya jika nama aslinya tetap dijaga, karena nama itu yang harusnya jadi karakter dan identitas desa tersebut, alih-alih memilih nama yang lebih ‘pasaran’.

    Liked by 1 person

    1. Mengulik desa-desa di Indonesia makin lama makin menarik, banyak hal termasuk kearifan lokal yang tidak mudah didapat di tempat lain. Jadi yang terlihat berbeda dan menyehatkan jiwa menjadi dambaan, betul? Hehehe. Mudah-mudahan masukan dari Bama di sini dibaca dan jadi bahan renungan bagi anggota pokdarwis Desa Bareng. 🙂

      Liked by 1 person

  4. Saya pernah merasakan bagaimana sinyal hanya ada di satu tempat. Pas geser, langsung hilang. Orang mau telpon kudu konsisten di tempatnya. Hahahhahaha. Antara menyenangkan dan memilukan waktu itu. Tapi sekarang malah kangen dengan masa-masa tersebut. Kita asyik melihat sekitar tanpa terpaku dengan gawai.

    Like

    1. Kecanggihan teknologi sungguh dilema ya. Asalkan bisa mengontrol waktu untuk bersosialisasi dengan dunia nyata dan dunia maya, kurasa masih bisa menyelamatkan mindset para generasi merunduk. 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.