Belajar dari Hilangnya Kepatihan Surakarta

Memahami permainan politik itu bisa dibilang susah-susah gampang. Ketika diberitakan pendukung kubu kiri berselisih dengan kubu kanan, pemimpin kubu kanan justru beraksi dengan merangkul pendukung kubu kiri. Sebaliknya, pemimpin kubu kiri disiarkan oleh media bahwa dia memaki kubu kanan. Tak ada yang berusaha membaca isi hati mereka sesungguhnya.

Padahal, mereka hanya pemain sandiwara kelas teri. Sementara kelas kakapnya justru tersenyum lebar dari atas balkon rumahnya sembari menunggu waktu yang tepat untuk muncul sebagai pelerai, penengah, pendamai, atau istilah halus lain agar di babak terakhir dianggap sebagai pahlawan penyelamat bangsa.

Mengikuti permainan hati untuk mendapatkan perhatian dari gebetan aja susah setengah mati, apalagi mengikuti alur cerita yang digencarkan para politikus. Bikin puyeng, ‘kan? Sama puyengnya ketika saya berusaha mencerna kisah pembakaran dan hancurnya Kepatihan Surakarta puluhan tahun silam yang dijabarkan oleh pembicara dari Laku Lampah dalam kegiatan #LakuKepatihan pada akhir bulan October 2016 lalu.

tembok Kepatihan Surakarta
tembok Kepatihan

Perjalanan peserta Laku Lampah diawali dari Kantor Kelurahan Kepatihan Wetan di mana kantor ini menempati bekas lapangan semacam alun-alun sebelum tamu masuk ke dalam kompleks Kepatihan. Kepatihan merupakan pusat pemerintahan dari sebuah keraton. Dulu di dalamnya terdapat seorang patih dengan gelar Raden Adipati yang dipercaya oleh raja sebagai pejabat yang punya hak menjalankan roda pemerintahan dan mengatur beberapa hal penting. Di masa sekarang, pangkat seorang patih bisa disejajarkan dengan jabatan Perdana Menteri di sebuah negara dengan sistem pemerintahan monarki konstitusional.

Lokasi Kepatihan Surakarta sendiri berpindah-pindah seiring dengan waktu dan kebijakan raja yang memerintah saat itu. Awalnya Kepatihan memakai bangunan nDalem Sindurejan di Pura Mangkunegaran, kemudian dipindah ke nDalem Jayanegaran oleh Raden Adipati Jayanegara sebelum akhirnya dipindah lagi karena tempat tersebut akan dijadikan permandian raja oleh Sri Susuhunan Pakubuwono VII.

Pada masa jabatan Raden Adipati Sosrodiningrat IV, kompleks Kepatihan menempati lokasi seperti terlihat sekarang. Letak nDalem Kepatihan berada di perbatasan kotapraja dengan daerah pinggiran, namun memiliki kontur tanah yang bagus. Kompleks tersebut kini secara administratif masuk dalam wilayah Kelurahan Kepatihan Wetan dan Kelurahan Kepatihan Kulon di Kecamatan Jebres, Kotamadya Surakarta.

bekas kandang kuda Kepatihan
bekas kandang kuda Kepatihan

Kepatihan Surakarta digambarkan sebagai kompleks perkantoran sekaligus rumah patih yang bangunannya menyerupai miniatur Keraton Kasunanan Surakarta. nDalem Kepatihan memiliki alun-alun kecil dengan dua buah lengkungan baja sebagai gerbang penyambutan menuju gerbang utama. Di sisi barat lengkungan terdapat garasi kereta dan kandang kuda. Gerbang utama Kepatihan sendiri berukuran sangat besar, dibuat mirip pintu masuk samping baluwarti Keraton Kasunanan Surakarta.

Tembok tinggi dan tebal tersebut mengintari dan melindungi bangunan-bangunan yang ada di nDalem Kepatihan. Di balik benteng itulah pernah berdiri sebuah pendapa megah dengan taman yang indah dan kolam berhiaskan patung buatan Eropa di depannya. Dari sana bisa mengakses ke bangunan-bangunan yang lain, seperti perkantoran, tempat tinggal patih, hunian abdi dalem Kepatihan, dan tempat penyimpanan artefak dan arca.

Kepatihan Surakarta
lokasi pendopo Kepatihan yang sudah menjadi bangunan baru SMKN 8 (SMKI) Surakarta

Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV tercatat sebagai patih yang menjabat pada masa Sri Susuhunan Pakubuwono IX yang memerintah tahun 1861-1893 dan Sri Susuhunan Pakubuwono X yang memerintah tahun 1893-1939. Raden Adipati Sosrodiningrat IV pun dianggap sebagai pendiri museum di Kepatihan pada 28 October 1890.

Museum di Kepatihan itu menyimpan koleksi benda purbakala hasil penemuan di daerah kekuasaan Kasunanan Surakarta dan sekitarnya. Koleksi-koleksi benda purbakala di Kepatihan kelak dipindah ke Museum Radya Pustaka pada tahun 1913 yang menempati bekas kediaman Johannes Busselaar di Purwosari weg (kini Jalan Slamet Riyadi).

Selain membeli rumah Johannes Busselaar, Raden Adipati Sosrodiningrat IV juga membeli tanah di sampingnya yang kemudian menjadi kediaman salah satu putranya bernama K.R.M.T.H. Woeryoningrat. Kini bekas kediamannya dikenal dengan nama nDalem Wuryaningrat, bagian dari komplek Museum Batik Danar Hadi yang sudah dimiliki oleh PT. Batik Danar Hadi.

Sebagai salah satu menantu Sri Susuhunan Pakubuwono X, K.R.M.T.H. Wuryoningrat juga merupakan salah satu tokoh penting dalam pergerakan kemerdekaan Republik Indonesia. Wuryoningrat bersama adiknya, Drs. K.R.M.A Sosrodiningrat (patih baru yang menggantikan posisi ayahnya, Raden Adipati Sosroningrat IV) tergabung dalam BPUPKI atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia bersama Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, Ki Hajar Dewantara dan tokoh-tokoh penting lainnya.

Masjid Kepatihan
Masjid Kepatihan

Setelah Ir. Soekarno mengikrarkan kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dua hari kemudian sebuah surat dilayangkan kepada Sri Susuhunan Pakubuwono XII, raja yang bertahta di Kasunanan Surakarta saat itu. “Pada kedudukannya dengan kepercayaan, bahwa Sri Paduka Kanjeng Susuhunan akan mencurahkan segala pikiran, tenaga, jiwa dan raga untuk keselamatan daerah Surakarta sebagai bagian dari Republik Indonesia,” petikan dari surat tersebut.

Sri Susuhunan Pakubuwono XII memberi tanggapan pada tanggal 1 September 1945 dengan isi kurang lebih berbunyi seperti ini, Negeri Surakarta Hadiningrat yang bersifat kerajaan istimewa dari Negara Republik Indonesia bersedia berdiri di belakang pemerintah pusat Republik Indonesia dan rakyat diminta untuk mematuhi maklumat yang sudah dikeluarkan oleh raja.

Itulah awal dari kisah terbentuknya DIS atau Daerah Istimewa Surakarta, sebuah provinsi yang meliputi Daerah Istimewa Kasunanan dan Daerah Istimewa Mangkunegaran. Namun, status salah satu provinsi dari Republik Indonesia ini hanya bertahan sejak Agustus 1945 hingga 16 Juli 1946 saja. Pergolakan demi pergolakan pasca kemerdekaan terjadi di antara masa itu.

Salah satu yang mencuat adalah Gerakan Anti Swapraja yang dipimpin oleh Tan Malaka, pemimpin PKI atau Partai Komunis Indonesia. Tan Malaka tidak menghendaki bentuk feodal yang masih terjadi di Surakarta dan bertujuan merampas tanah-tanah pertanian dan perkebunan milik Kasunanan dan Mangkunegaran agar bisa dimiliki oleh pendukungnya.

Puncaknya adalah penculikan patih Drs. K.R.M.A Sosrodiningrat pada tanggal 17 October 1945. Dikabarkan bahwa beliau disiksa dan dibunuh, namun ada versi lain dari keluarganya yang menyatakan bahwa beliau berhasil melarikan diri dengan luka infeksi yang parah dan baru meninggal dunia tahun 1967 di usia ke-76. Setelah penculikan terjadi, rumah dan kantor patih dibakar oleh pendukung Gerakan Anti Swapraja.

Kekosongan jabatan patih kemudian digantikan oleh Raden Adipati Yudonagoro. Malangnya, patih yang baru itu juga diculik dan dibunuh pada Maret 1946. Diikuti pembunuhan pejabat-pejabat yang lain, termasuk K.R.M.T.H. Wuryoningrat yang sempat menjabat sebagai patih menggantikan Yudonagoro.

Singkatnya, akibat dari kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di kotapraja, Pemerintah Republik Indonesia membubarkan DIS dan menghapus kekuasaan raja Kasunanan dan adipati Mangkunegaran mulai 15 Juli 1946 melalui peraturan presiden no. 16/SD/1946 yang berbunyi: Daerah Kasunanan dan Mangkunegaran untuk sementara waktu dipandang merupakan karesidenan sebelum susunan pemerintahannya ditetapkan undang-undang.

Setelahnya, mereka dianggap sebagai rakyat biasa dan aset-aset yang dimiliki mereka di luar tembok keraton diambil alih oleh negara. Oleh beberapa kalangan masyarakat, mereka masih dianggap priyayi atau golongan berdarah biru, meskipun sudah tidak mendapat penghormatan sebaik dulu. Posisi dan jabatan patih pun dihapus selama-lamanya dan puing-puing Kepatihan dianggap sebagai pengingat kekejaman permainan politik yang pernah terjadi pasca kemerdekaan.

Puyeng baca rentetan sejarah di atas? Sama!

Mari mengendorkan urat leher dan melihat bangunan yang masih tersisa di kompleks Kepatihan Surakarta.

Sejauh ini hanya garasi kereta dan kandang kuda milik patih yang masih terlihat utuh. Meski sudah menjadi bagian dari pemukiman warga, saya masih bisa melihat pintu kayu jati berukuran besar dan tebal di dalamnya. Masjid yang didirikan oleh Sri Susuhunan Pakubuwono X sebagai hadiah untuk salah satu istrinya pun masih berdiri tegak hingga sekarang. Menurut info dari Laku Lampah, masjid yang kini bernama Masjid Al-Fatih Kepatihan dibangun tahun 1312 H atau 1890 M.

Nasib gerbang utama, pendopo dan rumah tinggal patih seperti disebutkan di atas, mereka sudah rata dengan tanah akibat pembakaran yang dilakukan oleh Gerakan Anti Swapraja tahun 1946. Gerbang utama sudah ditempati oleh bangunan Kejaksaan Surakarta, lalu bekas rumah tinggal patih telah didirikan bangunan baru SMKI atau SMK N 8 Surakarta. Sedangkan rumah pejabat penting di Kepatihan hanya tersisa nDalem Darmonegaran yang masih dihuni oleh keturunan dari Raden Roestopo Darmonagoro.

Lalu bekas rumah tinggal Raden Adipati Yudonagoro sendiri sudah berfungsi sebagai TK Pamardisiwi 2 di Jalan Aru. Sementara bekas bangunan yang dulu berfungsi sebagai ruang museum Radya Pustaka (sebelum dipindah di Slamet Riyadi) malah terbengkalai, kosong tanpa isi, terbengkalai di samping bangunan Kejaksaan Surakarta.

Yang menyita perhatian justru rumah-rumah priyayi di luar benteng Kepatihan. Sayangnya data sejarah yang didapat dari lisan tidak terlalu detail sehingga hanya bisa membayangkan betapa kaya rayanya mereka jika dilihat dari aksesoris rumah dan bentuk bangunannya. Seperti salah satunya rumah saudagar batik R.Ng. Nitisoewarno di Jalan Arifin yang kini dihuni oleh Pak Jon.

Lalu bekas rumah Raden Adipati Joyonegara yang sempat menjadi sekolah Tionghoa bernama Hwa Kung pada tahun 1950-an. Setelah gestapu 1965 meletus, semua sekolah Tionghoa di Solo dihapus dan bangunan tersebut berubah menjadi SMP N 26 Surakarta hingga sekarang. Selanjutnya masih ada kediaman R. Soetoro Hardjohoebojo yang rumahnya pernah difungsikan sebagai kantor kelurahan pasca terjadinya Agresi Militer Belanda II tahun 1949. Namun, sayngnya kondisi rumah inti milik keluarga R. Soetoro sudah rata dengan tanah, dijual oleh ahli warisnya.

Pada akhirnya saya hanya bisa meratapi nasib malang Kepatihan Surakarta saja. Tak ada lagi cerita kemegahan bangunan yang bisa dibanggakan dari bekas kediaman si perdana menteri itu. Hanya bisa mengoarkan cerita demi cerita penculikan dan pembunuhan pejabat yang pernah terjadi di Surakarta. Muncul sedikit rasa sirik dengan kota sebelah, Yogyakarta tiap melintas di depan Kantor Gubernur D.I. Yogyakarta yang masih berkesempatan memakai bekas kompleks Kepatihannya.Ahh, tapi, ya sudahlah.

Siapa pahlawan? Siapa yang menjadi korban? Memang susah-susah gampang untuk memahami permainan politik sebuah negara. Cheers and peace!  😉

Advertisements

40 Comments Add yours

  1. Eka Riana says:

    Tragis!

    Like

    1. Warna-warni politik untuk memperoleh kemutlakan pernyataan sebuah kesatuan Republik Indonesia. 🙂

      Liked by 1 person

  2. di foto yg terakhir kok ada salib yg tertempel di dinding, mas?

    Like

    1. Bekas kamar tamu Kepatihan sudah jadi hunian warga, Jo. Kalau ada salib di rumahnya ya brarti dia beribadah di Gereja, kan? Hehehe.

      Like

  3. Yasir Yafiat says:

    Jadi Surakarta dulu pernah berdiri sendiri menjadi Provinsi to, walaupun hanya bertahan 1 tahun.

    Like

    1. Surakarta pernah mendapatkan posisi yang sama dengan Yogyakarta dan menjadi daerah istimewa. Sayang setelah kerusuhan dan pembakaran Kepatihan Surakarta, hak tersebut dicabut dan tidak dikembalikan lagi oleh Pemerintah Republik Indonesia. Sementara kota sebelah pernah menjadi ibu kota negara saat Agresi Militer Belanda, lalu Sri Sultan-nya penah menjabat sebagai Perdana Menteri dan hal baik lain yang bertolak belakang dengan nasib Surakarta. 🙂

      Like

  4. winnymarlina says:

    kok aku suka ama lampu di dalam Masjid Kepatihan ya

    Like

    1. Detail lampu gantungnya antik banget, Win. Kurang jelas itu terbuat dari kristal atau hanya kaca biasa. 😀

      Like

  5. dwisusantii says:

    Lagi ngerti batik danar hadi ada museumnya juga toh di surakarta?
    Setauku cuma toko-tokonya aja yang berdiri di kota sebelah 😀
    Kenapa aku masih tertarik baca tentang batik batik yaaa :p

    Like

    1. Padahal tulisan ini fokusnya kepatihan, tapi mbak Dwi fokusnya malah Museum Batik hahaha. Museum Batik Danar Hadi worthed banget dikunjungi, mesti masuk mumpung masih euforia dengan batik. 😀

      Like

  6. Fubuki Aida says:

    Jadi kpn kamu bikin buku ms? Tulisanmu keren. Cocok go buku pokokke

    Liked by 1 person

    1. Hahahaha masih belum pede ngelahirin buku, tapi doain aja semoga cepat dapat pencerahan. Terima kasih yah. 😀

      Like

  7. Dian says:

    Sejak jaman dulu kala, panggung politik memang penuh sandiwara ya Lim.

    Btw, aku masih penasaran dengan Laku Lampah ini. Pengin deh kapan2 ikutan

    Like

    1. Maka dari itu, sudahi saja sandiwara cintamu dengan si om itu atau lepas susukmu untuk membebaskan si bronding. Tung tara tung cess. 😛 😛 Hayoklah nyolo maning njuk ikut Laku Lampah.

      Like

    2. Dian says:

      Hahahahaahhahaha, eh kemarin aku ngobrolin soal Laku Lampah ke mas sepupuku, gara2 dia cerita ada sekumpulan anak muda Tuban yg sedang “berburu” candi di Tuban. Trus aku kepikiran buat nyeritain Laku Lampahmu ini Lim

      Liked by 1 person

  8. BaRTZap says:

    Kalau mengingat sejarah DIS dan statusnya yang kemudian dilebur menjadi satu ke dalam provinsi Jawa Tengah memang menyedihkan. Selain DIS, daerah istimewa lainnya yang kemudian statusnya hilang adalah Bulungan (dahulunya Kerajaan Bulungan) di Kalimantan Utara. Entah mengapa, kedua -mantan- kerajaan besar tersebut kehilangan status daerah istimewanya tak jauh-jauh dari kericuhan di masa komunis masih memiliki pengaruh di Indonesia. Bedanya cuma DIS kehilangan statusnya di tahun 1946, sedangkan Bulungan di tahun 1965.

    Aku baru tahu jika kondisi keamanan di tahun 1946 sedemikian genting dan buruknya, sehingga para petinggi provinsi sekelas patih, yang juga priyayi, bisa diculik dan dibunuh sedemikian mudah hingga berkali-kali. Hmm dari yang aku baca pun, kalau tidak salah Sri Susuhunan XII juga sempat diculik atau menghilang gitu ya. Dan kondisi keamanan yang tidak menentu tersebut menjadi salah satu pertimbangan berkurangnya KPI DIS sebagai provinsi, sehingga akhirnya dihapuskan. Aku juga sempat membaca, di tahun-tahun berikutnya Sri Susuhunan XII sempat berusaha mengajukan pengembalian status daerah istimewa terhadap Surakarta, namun hal tersebut selalu menemui kegagalan.

    Btw, thanks sudah berbagi kisah ini Lim. Aku jadi makin tahu dan bertambah referensi sejarah mengenai kota Surakarta 🙂

    Liked by 1 person

    1. Pemain kelas kakap selalu mencari celah untuk memecah belah sebuah kepercayaan mungkin ya. Paham yang dinilai tidak aman bagi militer hingga isu sara selalu jadi langganan piala bergilir hehehe. Jadi penasaran dengan kondisi bekas Kerajaan Bulungan. Apalagi kemarin daku habis dari Banyuwangi untuk mengintip sisa Kerajaan Blambangan yang tidak pernah disebut dalam buku mata pelajaran sejarah di sekolah. 🙂

      Puncak kerusuhan Gerakan Anti Swapraja terjadi ketika Sutan Syahrir dikabarkan diculik oleh entahlah. Bab yang ini masih belum dapat bahan mentah yang jelas, sehingga nggak kutulis secara detail lagi di atas biar nggak semakin puyeng hehehe. Semoga info singkat tentang status Daerah Istimewa Surakarta di blog ini bisa membantu dan bermanfaat. 😉

      Liked by 1 person

  9. untuk dapet perhatian dari gebetan jangan pake hati, koh. nanti baper

    Like

    1. Buahahaha jadi main apa donk kalau nggak pake hati? Bagi tips menghilangkan rasa baper plis. 😛

      Like

  10. yofangga says:

    Baca ini jadi inget pertanyaanku dulu waktu jalan-jalan di Solo
    “Kenapa Surakarta yang daerahnya jauh lebih luas dibandingkan Yogyakarta malah ga bertahan jadi provinsi sendiri”

    Jadi gini sejarahnya 😂

    Like

    1. Jadi tulisan ini sudah menjelaskan ya? Hehehe. Pastinya ada bagian kelam lain yang nggak kubeberkan secara gamblang, takut ada yang ternungging, eh tersinggung maksudku. 😀

      Like

  11. Avant Garde says:

    miris ya sejarah DIS (lalu ngebayangin kalo DIS beneran ada), harusnya sebagai kakak, solo lebih rame ketimbang ‘adeknya’ atau paling nggak ya sejajar lah wkwkkw…

    Like

    1. Harusnya ya, atau setidaknya sebagai “kakak” juga kudu ngerasain gimana sih rasanya jadi ibu kota negara hihihi. Mungkin ini sebab nggak langsung Solo kadang mung pasrah “yo wes lah, sak bahagiamu,” yen ada banyak wisatawan membanggakan banyaknya destinasi wisata di Yogya. 😛

      Liked by 1 person

  12. andinormas says:

    Kepatihan sama keraton nya itu beda ya mas?

    Like

    1. Beda, mas Andi. Semisal di Britania Raya, kantor dan rumah tinggal Perdana Menteri beda letak dengan istana Ratu Elizabeth II dan keluarganya, seperti itulah keadaan Kepatihan dan Keraton di masa lampau. 🙂

      Like

  13. jonathanbayu says:

    Dari kecil aku pernah berulang kali bertanya sama kakek nenek kenapa kok keraton solo gak se-terkenal yogya dan tidak memiliki gubernur sendiri. Oh ternyata ada permainan politik ya, makasih mas artikelnya, jadi tambah wawasan 😀

    Liked by 1 person

    1. Semoga tulisan ini sedikit mencerahkan bagi yang selalu bertanya-tanya mengenai status Surakarta di masa lalu dan kenapa Keraton Surakarta yang pernah menjadi sebuah kerajaan besar hanya punya nasib begini saja. 😀

      Liked by 1 person

  14. rini says:

    Baru tahu, antara Radya Pustaka dan Museum Batik Danar Hadi serentetan..Pas kesana cuma baca baca keterangan aja di benda bendanya, ruwet 😂
    Ruwet juga ya kisahnya. 😂

    Like

    1. Letak Radya Pustaka dan bekas rumah Wuryaningrat atau Museum Danar Hadi sederet dan punya keterkaitan yang malahan belum banyak dimengerti oleh orang Solo sendiri hehehe.

      Like

  15. Alid Abdul says:

    Aku puyeng, aku numpang lewat saja ah >_<

    Like

    1. Yen Nyolo maneh mrene ben tahu lokasi, trus bakalan tak ceritain sampe koe berbusa, Lid. Hahaha

      Like

  16. AR Meinanda says:

    Wah, pengetahuan baru nih. Jadi ngebayangin kalau Solo Masih jadi DIS. Mungkin persaingan sama Jogja akan sengit… hehehe

    Like

    1. Jangan sampai sengit antar kerajaan, masalah intern keraton aja sudah cukup sengit dan berhasil jadi tontonan menghibur untuk masyarakat. 😀 😀
      Kalau sekarang sih kedua kota ini berlomba-lomba bangun hotel-hotel dan mall baru hihihi.

      Like

  17. itu berarti bekas-bekas bangunannya dibeli ya? atau gimana?

    Like

    1. Statusnya sudah menjadi tanah milik pemerintah, bukan milik keraton lagi. Jadi beberapa lahan kosong sudah dibeli oleh pendatang baru atau keturunan dari warga yang pernah tinggal di dalam benteng Kepatihan. 🙂

      Liked by 1 person

    2. hmmm ini salah satu efek karena bukan daerah istimewa kali ya?

      Like

    3. Betul, segala hal yang berbau feodal di Surakarta dihapus, berimbas pula pada aset-aset rumah hingga perkebunan di luar benteng keraton yang semua jadi milik negara. 🙂

      Liked by 1 person

  18. The God's Work says:

    Lain dengan Jogyakarta yang ada ‘istimewa’nya sehingga seluruh aset tidak bisa dikuasai oleh negara

    Like

    1. Setelah hak “istimewa” Surakarta dicabut oleh presiden RI kala itu, seluruh aset mereka yang berada di luar tembok keraton jadi milik negara. Diikuti pencabutan karesidenan dan wilayah yang dulu jadi bagian kerajaan dipecah menjadi kabupaten-kabupaten baru. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s