Nyentriknya Kuliner Banyuwangi

Sebagai kabupaten yang terletak di ujung paling timur Pulau Jawa, Kabupaten Banyuwangi di Provinsi Jawa Timur sering dimanfaatkan sebagai tempat transit wisatawan sebelum mereka hendak menyeberang ke Pulau Bali. Ada beberapa turis bertahan di Kawah Ijen, lalu pulang atau melanjutkan perjalanan ke kota yang lain.

Masih ada kesan negatif tentang santet di Banyuwangi yang selalu menjadi pemancing kepesimisan wisatawan untuk berlibur dalam waktu yang lama di sana. Kenyataannya tidak demikian, Kabupaten Banyuwangi justru punya banyak hal yang menarik untuk dieksplorasi, termasuk ragam masakan unik dan beda yang tersebar di kota-kotanya.

Sebagai pencinta kuliner khas suatu daerah, rasanya belum greget jika tidak mengawali cerita tentang Banyuwangi dengan kulinernya.

Are you ready? 😉

Nasi Pecel Kare menjadi kuliner Banyuwangi pertama yang saya cicipi. Alan, pemilik blog catatannobi.com merekomendasikannya seusai kami melakukan perjalanan dari Wana Wisata Rawa Bayu di Songgon dan istirahat sejenak di Rogojampi. Terdengar aneh memang nama makanan yang disematkan oleh pemilik Warung 99 di Rogojampi tersebut.

Warung 99 yang terletak di Jl. Raya Rogojampi (tidak jauh dari Kantor Pos Rogojampi), Kecamatan Rogojampi ini sudah terkenal dan selalu ramai pengunjung. Mereka bergantian keluar dan masuk, sehingga tempatnya tidak memungkinkan untuk nongkrong apalagi kongko lama setelah makanan sudah habis dimakan. Setelah Nasi Pecel Kare yang saya pesan dihidangkan di atas meja, betul saja kuliner ini merupakan perpaduan pecel sayur dengan kuah santan yang mereka istilahkan dengan kare.

Sayuran untuk pecelnya terdiri dari kangkung, kacang panjang, taoge yang kemudian diberi bumbu kacang. Untuk menambah kesan kare, si penjual menguyurkan kuah santan dengan gori atau nangka muda yang bisa dirikues sesuai selera. Tak lupa ditambahkan kerupuk beras dan peyek kacang.

Pelengkapnya ada telur balado, telur ceplok, daging ayam, ikan dan lauk lainnya. Terlihat aneh di mata, namun rasanya pas di lidah ndeso saya. Harga sepiring Nasi Pecel Kare mulai dari Rp10.000,- , harga yang wajar dengan porsi nasi yang pas, tidak terlalu sedikit untuk ukuran lambung laki-laki. 😀


Kuliner yang satu ini wajib hukumnya dicicipi ketika singgah di Banyuwangi. Namanya Rujak Soto yang lagi lagi punya nama yang terdengar nggak biasa, tapi harus pake banget menyempatkan diri untuk mencoba makanan paling hit se-Banyuwangi ini. Saya mencobanya di Warung Rujak “Rahmatullah”.

Warung makan yang kini punya baru Gubug Rujak Soto Taman Baru tersebut beralamat di Jalan Kutai 1A, Taman Baru, Kecamatan Banyuwangi (081244960678). Tempat makannya berada di halaman depan rumah dengan lesehan yang diberi dinding beranyaman bambu setengah terbuka yang memberi kesan sedang makan di tengah pedesaan.

Nggak salah jika menebak bahwa Rujak Soto adalah campuran rujak dan soto. Rujak sayur yang berisi kangkung, kacang panjang, ketimun, tahu yang sudah dilumuri bumbu kacang dan petis menjadi lapisan pertama yang menutupi irisan lontong. Lalu si penjual menuangkan kuah ke dalam mangkuk Rujak Soto.

Kuah sotonya gurih ala soto Jawa Timuran yang sudah diberi jerohan seperti babat, usus, dan tetelan daging sapi. Lauknya bisa dikatakan menggunung dan bikin kenyang. Perpaduan rasa gurih dan manis ini nggak aneh di lidah, malah bikin saya ketagihan. Slurp. (Harga mulai dari Rp15.000 per mangkuknya)


Malam harinya saya dibawa oleh kawan saya, Andre yang aktif ber-Instagram di akun @andreyongz menuju Sego Tempong Mbok Nah di Jalan Kolonel Sugiono, Kertosari, Kecamatan Banyuwangi. Kebalikan dengan Rujak Soto yang mudah didapat dari pagi hingga siang hari, warung yang menjual Nasi Tempong atau Sego Tempong justru mulai buka dari sore hingga malam hari. Warung milik Mbok Nah termasuk salah satu yang berhasil mengangkat kasta makanan bekal para petani di sawah menjadi kuliner wajib dicicipi di Banyuwangi.

Pada dasarnya Sego Tempong terdiri dari sepiring nasi putih yang diberi lauk gorengan tahu, tempe, dadar jagung, ikan asin dilengkapi dengan lalapan seperti genjer, daun singkong, daun pepaya, ketimun dan daun semanggi. Pelanggan bisa menambahkan telur ceplok, ikan goreng, ayam goreng sebagai tambahan lauknya.

Yang membuat Sego Tempong terasa istimewa adalah sambal tomatnya yang terdiri dari campuran cabai rawit, tomat ranti, terasi, garam dan perasan jeruk limau. Pedas, manis, masam jadi keunggulan rasa sambal racikan Sego tempong Mbok Nah. Siap-siap nangis brambang jika tidak terlalu suka pedas, ya. Hehehe.


Hari berikutnya saya semakin terbiasa mendengar nama masakan di Banyuwangi yang memadukan dua jenis berbeda. Seperti Nasi Pecel Rawon yang menjadi andalan Warung Pangklang Asri di Jalan Letjend S. Parman no.3 (sebelah Hotel Santika Banyuwangi). Ketika sepiring Nasi Pecel Rawon sudah di hadapan mata, beneran yang tampak adalah nasi hangat dengan kangkung, kacang panjang, taoge yang diberi sambal kacang untuk pecel.

Ruang kosong yang lain diisi suwiran daging sapi dan kuah rawon yang berwarna kehitaman. Baru kali ini saya menyantap sesuatu yang tidak biasa seperti ini. Campur aduk kuah rawon dan pecel yang susah dijelaskan, tapi tetap dihabiskan apalagi racikan serba daging sapi itu mahal (Harga per porsi Nasi Pecel Rawon ditambah lauk empal – Rp30.000). 😉


Terakhir ada gado-gado yang dinobatkan oleh Andre sebagai gado-gado terenak di Banyuwangi. Bikin penasaran donk. Untungnya letak warung Gado-Gado DLLAJ (sebelah Indomaret Achmad Yani) tidak jauh dari Dormitory Achmad Yani, tempat saya menginap di Jalan Achmad Yani, Kecamatan Banyuwangi.

Gado-Gado DLLAJ membuka lapaknya mulai dari siang jelang makan siang hingga bahan makanan habis sekitar jam lima sore. Dekat dengan kompleks perkantoran pemerintah serta beberapa bank dan perusahaan swasta di jalan utama kota menjadi salah satu alasan kenapa tempat ini terlihat ramai pada jam makan siang.

Irisan lontong, kentang, tahu, ketimun dan taoge ditata sedemikian rapinya. Ditambahkan kerupuk dan emping yang bikin panik pengidap asam urat. Kemudian saus kacang yang lembuttt banget disiramkan di atasnya. Ikut dibubuhkan saus sambal ulek yang nggak pedas sama sekali, seolah sebagai hiasan saja. Beneran ini saus gado-gado terenak yang pernah saya makan. Sausnya tidak terlalu kental, tidak juga terlalu encer, pas campurannya. Nendang banget! Kuliner hari terakhir di Banyuwangi yang tidak mengecewakan lidah. 😉


Note: Acuan rasa dari tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi. Jika ada yang merasa Rujak Soto A lebih enak daripada Rujak Soto B atau sebaliknya, semua kembali ke selera lidah masing-masing. Tentu masih ada kuliner Banyuwangi lain yang belum sempat saya cicipi. Artinya selalu ada kesempatan lain untuk menggenapinya. Siapa tahu saja ada pembaca yang mau ajak kulineran bareng lagi saat liburan ke Banyuwangi. Ayok! 😉

Advertisements

54 Comments Add yours

  1. ghozaliq says:

    Nasi pecel ayam, ayamnya bisa berkamuflase, ahahha aku kira nasi bentuk ayam…wkakwkka

    Like

    1. Hayooo jangan salah fokus dengan mbak berbaju ungu loh, fokuslah ke piring ayamnya. Hahaha

      Like

    2. ghozaliq says:

      Eh ada mbak berbaju ungu ya rupanya? *lihat lagi, wahwhahwha

      Liked by 1 person

  2. aku kangen sego tempong e kak, tapi penasaran juga sama cita rasa pecel rawon juga #maruk

    Like

    1. Sambel e Sego Tempong ada resep biar bisa dibikin sendiri di rumah nggak ya? Kan lauknya bisa didapat di rumah, kurang resep sambelnya. Hahaha

      Like

  3. Dimas Candra Sugiarto says:

    🙈🙈🙈🙈 laper

    Like

    1. Silakan dipilih-pilih dulu, kalau sudah nggak tahan lagi langsung tancap gas. Hihihi

      Liked by 1 person

  4. btw kuliner Banyuwangi itu cenderung manis atau asin ya?

    Like

    1. Manis campur asin hahaha. Kadang bingung mendeskripsikan dominan rasa dari kuliner Banyuwangi karena bumbu pecel yang manis kalau dicampur kuah rawon yang gurih kan jadi campur itu rasa. Tapi jadi khas banget campur-campurnya dan ngangeni hehehe.

      Liked by 1 person

    2. ooo brarti masih mirip sama lidahnya orang Banjarnegara

      Liked by 1 person

  5. Nasi pecel rawon?
    Mungkin ini memang perpaduan antara dua jenis makanan atau memang aslinya emg gtu mas? Penasaran rasanya kayak apa

    Like

    1. Pecel rawon adalah perpaduan dua jenis makanan, pecel dan rawon. Memang rada aneh, tapi setelah masuk ke dalam mulut masuk di akal juga percampuran menu ini. Jadi pengen coba di rumah hehehe.

      Like

  6. ku pengen nasi tempongnya

    Like

    1. Lauk pauke rame dengan harga yang masih merakyat. Anuh porsi nasinya juga porsi kuli. 😀

      Liked by 1 person

  7. Yugo says:

    Baru kesampaian makan Nasi Tempong-nya, lokasinya deket dengan Stasiun Karangasem sesuai dengan rekomendasi Mas Rachmad selaku pemilik Rumah Singgah Banyuwangi. ;D

    Like

    1. Loh Yugo kenal ama mas Rachmad juga? Kemarin daku ama kawan yg lain rent sepeda motor selama di Banyuwangi lewat dia juga. 🙂

      Like

    2. Wohh malah promo hahaha. Suk ikutan singgah di sana ahh.

      Like

    3. Yugo says:

      Loh, kirain kemarin nginanya di sana. 😀

      Like

    4. wah mas rachmad masih buka jadi host toh, maret lalu kesana katanya wes ga main couchsurfing lagi, alhamdulillah lek gitu, hihi

      Like

  8. Charis Fuadi says:

    Yang rujak soto kayaknya enak bgt segera ya.. Semoga bisa menikmati kapan2

    Like

    1. Ayokkk mBanyuwangi, mas Fuadi. Akeh event di sana, wisata alame juga masih bersih-bersih. 🙂

      Like

  9. denaldd says:

    Setelahnya, nyobain kulineran di kota sebelah Banyuwangi, Situbondo. Kuliner Situbondo ga kalah uniknya dan yummmm enak2 *haha aku promosi kota sendiri. Beberapa kulinernya juga pernah kutulis di blog.

    Like

    1. Kemarin ada niat mampir ke Situbondo sekalian intip titik akhir jalan Anyer-Panarukan, tapi gagal rencana hehehe. Jadi penasaran deh dengan kuliner Situbondo secara masih tetangga ama Banyuwangi. Meluncur ke tulisan mbak Den. 😀

      Like

  10. BaRTZap says:

    Kuliner Banyuwangi ini kata kuncinya ekletik ya? Rata-rata campuran dua jenis kuliner yang sudah kita kenal sebelumnya. Paling pengen nyobain rujak soto 🙂

    Like

    1. Asyik, dapat kosa kata baru “eklektik” dari Bart nih. Paduan dua macam atau lebih masakan yang sudah familiar di lidah warga Banyuwangi maupun pendatang sepertinya jadi terobosan yang dilakukan oleh Banyuwangi. Sudah punya event-event keren setiap satu bulan sekali, pemerintahnya bergiat mengenalkan kuliner yang kelak akan dianggap sebagai makanan yang cuma bisa ditemukan di Banyuwangi. Jadi kapan nih kita nyobain Rujak Soto bareng? 🙂

      Liked by 1 person

    2. BaRTZap says:

      Masa sih baru dengar kata itu Lim?

      Wah, event-event kulinernya diadakan setiap bulan? Rajin juga ya Banyuwangi ini. Hehehe emang kapan mau balik ke Banyuwangi lagi Lim?

      Like

    3. Event budaya di Banyuwangi yang diadakan setiap bulan, Bart. Bulan sebelumnya ada Festival Gandrung Sewu, Etchno Festival, dll. Terobosan yang dilakukan si bupati agar Banyuwangi semakin dikenal dunia khususnya negaranya sendiri, Indonesia hehehe. Kalau akan ke banyuwangi lagi dan kebetulan dirimu pas di darat ntar kukabar-kabar. 😉

      Liked by 1 person

    4. BaRTZap says:

      Wuih mantap kota satu ini. Siiip, makasih infonya ya Lim 🙂

      Like

  11. waiki. kamu jg direkomendasiin mas alan toh? aku juga dibawa ke rujak soto dan sego tempong.

    btw, kamu g diajak ke rujak soto yang deket kantor e mas alan yo? disana penjualnya cakep.. wkwkw

    Like

    1. Wah Alan pilih kasih nih, nggak ajakin kami makan ke warung Rujak Soto yang penjualnya cakep. Kudu protes! Hahaha

      Like

  12. Waiki hahahhaha.
    Mas kalau aku adanya enak dan enak banget hahahhaha. Kalau memang tidak enak bagiku, dijamin orang lain makan pasti nggak enak 😀

    Like

    1. Semua makanan itu enak, apalagi dimasak pakai perasaan penuh cinta #halah. Paling ada yang hambar karena kurang bumbu atau yang masak lagi badd mood jadi terasa nggak enak. Intinya makanan itu uenak, ehmm ini ungkapan dari orang ngragas nggak sih? Huahaha

      Like

  13. Alid Abdul says:

    Aku mungkin salah warung ya nyicipin Rujak Soto Banyuwangi, piyee gitu rasane. Begitu pula nasi tempong, muter-muter nyari dan berakhir di sebuah rumah emperan biasa. Yaaa gitu dehh.

    Klo kare pecel kok bayangin udah eneg haha, klo rawon pecel di Jombang biasanya yg bakulan sarapan sego rawon karo pecel klo pelanggannya rekues dicampur gitu uda biasa sih. Dan aku kok piyee gitu ya hahaha.

    Like

    1. Kamu salah ajak orang, Lid. Padahal kan ada Andre, sang pemburu kuliner enak Banyuwangi. Makane yen wes jadi seleb ki kudu tetep eling konco, ojo songong njuk ra gelem ketemu konco lawas. *trus terancam ra disambut karpet merah nde Jombang 😛

      Like

    2. Alid Abdul says:

      Lawong ben aku nang BWI dekne pulang kampung nang Jember haha

      Like

    3. Rupanya awakmu kalah seleb karo Andre. Hahaha

      Like

  14. Avant Garde says:

    paling penasaran sm rujak soto, aku pikir kayak rujak buah di solo yg pake buah dipotong2 kecil (kayak lotis) atau rujak buah ala jogja yg diparut halus, aku pikir mungkin kalo rujak di jawa timur lebih kaya gado2 yah, kaya rujak cingur :))

    Liked by 1 person

    1. Rujak yang dipakai adalah rujak cingur yang bumbunya pakai petis. Lidah Jawa Timuran banget yang jadi acuan mereka hehehe.

      Liked by 1 person

  15. Dari sekian banyak menu, pecel kare yang paling aku suka, emak-ku pandai sekali meraciknya. Ah… jadi ingin pulkam ke Banyuwangi deh….

    Like

    1. Baru tahu mas Haris asli Banyuwangi. Nasi pecel karenya Banyuwangi memang khas dan maknyus 🙂

      Like

  16. yogisaputro says:

    Aku habis dari Banyuwangi, udah nyobain nasi tempong Bu Nah sama ada namanya seafood Warung Biru. Recommended banget 🙂

    Liked by 1 person

    1. Porsi nasi tempong Banyuwangi bikin kenyang perut dan harga bersahabat banget. Kemarin malah belum sempat cicip kuliner seafood di Banyuwangi. Next time akan cobain Warung Biru sesuai rekomendasi dari Yogi. 🙂

      Liked by 1 person

    2. yogisaputro says:

      Yang di Jalan Kapten Pierre Tendean sebelum belokan ya Warung Biru nya 🙂

      Liked by 1 person

  17. Gara says:

    Jadi kepengin mengkhususkan satu kunjungan ke Banyuwangi spesial untuk kulineran deh kalau jadinya seperti ini Mas, haha. Kulinernya sudah dominasi pedas, itu favorit saya banget hoho. Kuliner seperti Nasi Tempong juga sudah ada di Bali dan Lombok (makanya saya heran kenapa di barat sini tidak ada) tetapi di daerah aslinya tetap lebih nendanglah ya. Saya selalu suka bagaimana dirimu memotret kuliner-kuliner itu Mas, soalnya betulan bikin lapar. Bagaimana sih caranya memfoto makanan sedemikian rupa sehingga yang melihat jadi lapar? Sharing dong, hehe.

    Like

    1. Malah belum pernah cobain Nasi Tempong di Lombok. Rasa mirip atau sudah menyesuaikan lidah masing-masing daerah ya? Beneran kuliner di Banyuwangi itu unik dan ada buanyak banget macamnya. Tulisan di atas masih belum menampilkan semua masakan tradisional di sana. 🙂
      Untuk mengambil gambar makanan sebenarnya saya belajar otodidak belajar dari majalah tentang kuliner. Triknya coba ambil gambar dari beberapa sudut dan dikira-kira sudut mana yang mampu membuatmu ngiler sendiri hihihi.

      Like

    2. Gara says:

      Berhubung saya belum pernah merasakan nasi tempong langsung di Banyuwangi jadi belum bisa membandingkan Mas, hehe. Terima kasih sharingnya, saya coba ya waktu memfoto makanan, hehe.

      Liked by 1 person

    3. Kutunggu postingan Gara khusus tentang kuliner hihihi.

      Like

    4. Gara says:

      Jarang. Makanannya habis duluan baru ingat foto. Batal deh.

      Like

  18. salah nih baca artikel ini sebelum makan siang..
    kan.. kan jadi lapar..
    *ngacak2 koperasi kantor*

    Like

    1. Hihihi kuliner tradisional tiap daerah di Indonesia memang nggak bikin bosan, malah bikin ngiler yang lihat. 😛

      Like

  19. Pas maret lalu kesana, asal aja nyoba rujak soto dan rujak bakso di warung pinggir jalan aja udah enak bangeeeeet rasanya gimana kalau warung yang tenar yaaaa aaahhh jadi pengen nyoba 😛 Gak nyoba ayam pedas banyuwangi mas? Itu enak banget pake nget lhooo, bikin ketagihan apalagi kalo doyan pedes. Meskipun belum nyobain seluruh kuliner Banyuwangi, tapi yakin sih kalau warga kota ini seneng makanan gurih gurih sedap, sama kayak kulinernya solo. Lezaaat dan bisa diterima banyak lidah ndeso hahaha

    Like

    1. Rujak bakso? Wah kelewatan nggak coba yang ini nih. Nasi ayam pedas pasti pedesss banget ya? Makan Nasi Tempong udah megap-megap nih hahaha. Tapi bolehlah masuk daftar kuliner wajib dicicipi kalau balik ke Banyuwangi lagi. 😀

      Like

    2. Iya ada mas, aku juga taunya baru liat dari menu, tapi masih enak rujak soto sih, wuenak pool.. Aku malah belum nyoba tempong, duuuuh penasaraaaan, kudu balik kesana nih

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s