Kebon Rojo – Sebuah Kenangan

Kenangan indah selalu membekas di pikiran, namun ada kalanya kenangan buruk di masa lalu terasa lebih kuat yang berakibat membuat pikiran dipenuhi energi negatif. Merenung… Intropeksi diri…. Mata terpejam membayangkan masa kanak-kanak, itu yang yang sering saya lakukan agar pikiran negatif yang memenuhi otak lenyap seketika.

Sesaat kemudian terbayang adegan anak kecil membawa kembang gula di tangan kanannya dan topeng Satria Baja Hitam di tangan kirinya. Anak itu tersenyum bahagia setelah puas bermain bom-bom car, naik biang lala mini, lempar gelang berhadiah, sampai membeli kembang gula di pasar malam. Anak itu adalah saya… Siapa sangka Taman Hiburan Rakyat Sriwedari yang dulu menjadi taman bermain favorit saya merupakan bekas kebun milik raja.

Blusukan Solo bulan October lalu membawa saya dan peserta lain menelusuri sejarah Taman Sriwedari. Pernah terbentang sebuah kebun luas dengan beberapa paviliun mewah sebagai pendukung taman raja yang dibangun pada masa pemerintahan Sinuhun Paku Buwono X. Taman indah yang didirikan di atas tanah bernama Talawangi yang dulu dianggap angker tersebut merupakan sebuah komplek luas yang terdiri dari kebun binatang, museum, segaran, gedung pertunjukan, serta stadion olahraga.

sisa dari kebon rojo
sisa dari kebon rojo
prasasti Sriwedari
prasasti Sriwedari

Kebun binatang penuh hasil buruan seperti harimau, rusa, orang utan sampai gajah legendaris bernama Kyai Anggoro. Gajah bertelinga cacat sebelah tersebut dipercaya punya kesaktian, bahkan saya pernah mendengar bahwa kakak sepupu saya saat masih kecil sakit-sakitan pernah ditempeli-paksa kotoran Kyai Anggoro oleh orang tuanya, percaya nggak percaya beberapa hari kemudian kakak saya tidak pernah sakit-sakitan lagi. Sekali lagi percaya nggak percaya.

Sayangnya setelah Sinuhun Paku Buwono X mangkat ( 1939 ), Keraton Surakarta Hadiningrat mengalami banyak kemunduran baik dari segi ekonomi maupun kekuasaan, membuat beberapa wilayah kekuasaannya beralih tangan ke beberapa pihak dan tidak dijaga sebagaimana mestinya, salah satunya adalah kebun binatang Sriwedari yang semakin tidak terawat. Satu-persatu binatang terpaksa dipindah ke Taman Satwa Taru Jurug demi kelangsungan hidup mereka. Lambat laun tanah kosong bekas kandang binatang dialih-fungsikan sebagai Taman Hiburan Rakyat ( THR ) yang membangun beberapa arena bermain seperti rollercoaster, biang lala, komidi putar, bom bom car dan permainan lain di awal tahun 1980-an. Tidak ada inovasi membuat jenis permainan di THR terlihat sangat jadul di tahun 2000-an sehingga pengunjung sudah tidak seramai jaman dulu.

bekas "Taman Kapujanggan"
bekas “Taman Kapujanggan”

Beda nasib dengan Segaran yang menurut nara sumber Blusukan Solo dulu merupakan telaga buatan dengan pulau di tengahnya yang dibangun sebuah panggung dengan tembok melingkar dihiasi kaca warna-warni penuh ukiran. Dikisahkan alunan musik dan suara para pujangga selalu meramaikan malam syahdu di Segaran. Itu dulu… Kondisi sekarang Segaran sudah beralih fungsi menjadi sebuah restoran bernama BOGA yang sudah menutup sebagian besar telaga dengan tanah.

Hanya tersisa kolam tidak terlalu luas mengelilingi separuh bangunan restoran serta jembatan penghubung menuju paviliun. Tidak ada sisa panggung dan paviliun, sudah tidak jelas dimana letak Guwa Swara yang konon digunakan untuk menyimpan seperangkat gamelan dari keraton bernama Gamelan Satiswaran. Hanya tersisa sebuah jembatan penghubung yang nyaris ambrol serta beberapa pohon tua di halaman parkir restoran.

Segaran
Segaran
batas antara Segaran dan BOGA
batas antara Segaran dan BOGA
Museum Radya Pustaka
Museum Radya Pustaka

Lalu bagaimana nasib bangunan yang lain? Museum Radya Pustaka masih berdiri gagah meski banyak cerita suram di balik koleksi benda bersejarah di dalamnya. Berdiri tahun 1913 menjadikan Radya Pustaka sebagai salah satu museum tertua di Indonesia. Namun kurangnya perhatian dari pemerintah dan pihak berwajib membuat koleksi berharga seperti arca, gamelan kuno, keris serta ratusan naskah kuno terlihat kurang terawat dan beberapa sempat dinyatakan hilang beberapa tahun yang lalu.

Kadang bertanya dalam hati, kenapa anak-anak sekolah tidak dikenalkan budaya berkunjung ke museum sejak dini? Kenapa anak-anak sekolah justru dikenalkan study tour ke luar kota sebelum mereka mengenal kotanya sendiri? Ahh hanya pertanyaan dalam hati saya saja, kawan… merenung

Stadion Sriwedari / Maladi
Stadion Sriwedari / Maladi

Stadion Sriwedari juga masih berdiri gagah meski namanya sudah tersamar menjadi Stadion R Maladi. Stadion yang sudah menjadi salah satu cagar budaya ini merupakan tempat penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional ( PON ) pertama di Indonesia. Saya tidak bisa membayangkan seramai apa kota Surakarta pada tahun 1948 tersebut.

Hanya ada gambaran semua hotel dan jalan raya dipenuhi oleh para supporter dari seluruh tanah air termasuk kedatangan Presiden Soekarno yang tentu saja disanjung hebat masa itu. Teriakan supporter saat bola masuk gawang, sorotan lampu stadion, rumput basah oleh peluh keringat para pemain. Andai , andai masa itu terulang lagi membangunkan tidur panjang Stadion yang sekarang sudah menjadi Monumen PON I.

Gedung Wayang Orang Sriwedari
Gedung Wayang Orang Sriwedari

Gedung Wayang Orang Sriwedari memiliki nasib hampir sama dengan Stadion, hanya bisa bertahan di tengah pembangunan mall dengan gedung bioskopnya yang semakin marak. Pertunjukan wayang orang sudah tidak diminati oleh banyak orang dan sudah tidak seelit jaman dulu yang ditonton para bangsawan dan pengusaha batik puluhan tahun yang lalu. Kini masyarakat lebih memilih tontonan dari Hollywood sampai Korea daripada mendengarkan cerita berbahasa Jawa yang diucapkan oleh para pemain. Memang gedung pementasan terlihat sedikit tidak terawat, pendingin ruangan tidak bisa menghilangkan rasa penat, tapi cobalah tengok sebentar.

Saya yang tidak terlalu paham bahasa Jawa hanya bisa memahami jalan cerita dari paparan sinopsis berbahasa Indonesia yang dipancarkan melalui proyektor. Alunan gamelan mengiringi gerakan para penari, terkadang alunan pelan membuat mata terasa berat, lain cerita saat gamelan dipukul lantang yang membuat hati terkejut dan mata langsung terbuka lebar. Tingkah lucu punakawan juga menjadi aksi yang ditunggu penonton. Gerakan kocak dan dialog mereka membuat penonton tertawa terbahak-bahak di sela adegan perang antara tokoh baik dan jahat. Tidak perlu saya deskripsikan pertunjukan wayang orang panjang lebar, hanya bisa berkata KENALILAH BUDAYA NEGARAMU SENDIRI SEBELUM MENGENAL BUDAYA NEGARA LAIN. 😉

penonton wayang orang
penonton wayang orang
the show begin...
the show begin…

Note : Banyak peninggalan bersejarah yang sudah tidak terawat, tidak ada dana lebih dari pihak berwajib, sejarah dilupakan perlahan. Relakah semua itu hanya tinggal kenangan? Tidak usah muluk-muluk mencari dana lewat socmed, tidak udah koar-koar menjelekkan pihak berwajib. Luangkan sedikit waktumu untuk mengunjungi museum, luangkan waktumu menonton Wayang Orang, luangkan waktumu menonton pertunjukan musik tradisional, itu sudah lebih dari cukup. Banyak cara melestarikan peninggalan bersejarah dan kebudayaan bangsa dan semua itu dimulai dari diri sendiri….

Advertisements

19 Comments Add yours

  1. yusmei says:

    Ternyata kita bikin postingan barengan ya…hahahaha. Eksplornya masih kurang ya lim kemarin, belum ke radyapustaka dan segaran…perlu diulang iniii. Eh iya afa koreksi dikit Lim, PON I tahun 1948, bukan 1946 hehehehe

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Waaa makasih ralat nya mbak Yusmei… Langsung kuganti 🙂
      Ketemu ma pak Danang trus explore lebih dalem lagi ya hehe…

      Like

  2. Avant Garde says:

    jleb kalo baca nasib peninggalan sejarah di negeri ini ………. T.T

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Hanya bisa membantu melestarikan dengan cara berkunjung dan menyebarluaskan informasi agar seluruh masyarakat tergerak hatinya lagi untuk tetap menjaga peninggalan sejarah tersebut 🙂

      Like

  3. dee nicole says:

    Dulu ada pesawat tempur nangkring dibelakang gapura utama. Sempat heboh juga ketika meriam didepan “tidak mau” dipindahkan. Pernah bertemu Gogon sedang nyate kere ngleseh diplataran gedung WO.
    Dari fbnya blusukan solo nyangsang kesini. 🙂 salam kenal mas halim. Dulu kayaknya pernah tak follow tapi kok ga nongol ya…

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Salam kenal juga… Makasih sudah mampir di jejakbocahilang 🙂

      Like

  4. Goiq says:

    dan mirisnya kita baru panik kalau budaya kita mulai di klaim negara lain

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Dan keluar kata “maling” en bikin bulan-bulanan ke negara yg mau merawat dan lebih peduli tersebut…
      Indonesia oh Indonesia 🙂

      Like

  5. Aku pengen benget liat wayang orang…ke sini dulu gak pas sma jadwalnya.

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Jadwal wayang orang Sriwedari tiap malam mulai pukul 20.00 sampai selesai. Next time disempetin nonton dan kasi kabar ke guide lokal biar bisa nemeni hehehe 😀

      Like

  6. Ceritaeka says:

    Aku kok nangis baca ini 😦 huhuhu sedih.
    Btw aku lebih suka namanya tetap Stadion Sriwedari.
    Kenapa diganti sih ya?

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Beginilah nasib peninggalan keraton yang sudah diambil alih sebagian oleh negara , mau menentang dalam bentuk apapun juga pasti kurang kuat oleh kuasa politik pemimpin yang menjabat saat itu #kode.
      Hanya bisa mendukung sebagai penonton yang terus melestarikan kebudayaan asli Jawa seperti wayang orang saja. 🙂

      Like

    2. dalgreeny says:

      sekarang kan banyak tempat yg namanya diubah dengan nama orang(pahlawan), padahal nama lama pasti ada makna dan sejarah yang panjang. Bukan bermaksud tidak respect sama Pak Maladi yang sebagai pendiri PSSI tp nama Sriwedari terasa lebih indah. Btw lim aku Januari kemungkinan besar k Solo pengen nonton wayang orang jg,kancani yo,hehe..

      Like

    3. Halim Santoso says:

      Siyap jadi guide bro 😀

      Like

  7. Mau dong lim kapan2 di ajak blusukan bareng. Sama2 di Solo loh hehehe

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Ayokkk aja, malah seneng nambah temen mblusuk hehe

      Like

  8. agan says:

    makasih kak , jadi tahu sejarah sriwedari ..

    Like

    1. Semoga bermanfaat yah 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s