Tahu-Menahu Tentang Tahu Desa Kalisari Banyumas

Gerobak batagor yang berdiri di pinggir jalan menuju rumah singgah menarik perhatian kawan-kawan Juguran Blogger sore itu. Meski perut sudah terisi di Purwokerto satu jam sebelumnya, godaan batagor tidak bisa kami tolak. Tak lama kemudian satu-persatu memesan sepiring Batagor Goreng yang berisi bulatan tahu dan tahu isi yang diguyur saus kacang kental.

Lain dengan Batagor Kuah dengan isi sama namun disiram kuah kehitaman encer yang rasanya sepintas mirip dengan kuah Bakmi Acar. Kolaborasi rasa yang sedikit aneh bagi saya, namun nikmat di lidah. Senikmat cerita tahu-tahu yang kami dengarkan selama singgah di Desa Kalisari yang terletak di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Kepala Desa Kalisari, Ardan Aziz ( paling kiri )
Kepala Desa Kalisari, Ardan Aziz ( paling kiri )

Keesokan harinya Pak Ardan Aziz Masruri selaku Kepala Desa Kalisari menjemput dan mengantar rombongan Juguran Blogger menuju beberapa tempat yang mewakili identitas Desa Kalisari sebagai desa sentra industri tahu. Sebelum beranjak dari rumah singgah, Kades muda yang masih berusia 30 tahun ini bercerita singkat tentang sejarah tahu yang hingga kini menghidupi ekonomi warga Desa Kalisari.

Konon produksi tahu di Desa Kalisari awalnya diperkenalkan oleh seorang pengusaha peranakan Tionghoa yang sudah menetap di sana sejak ratusan tahun yang lalu. Peranakan Tionghoa tersebut dikisahkan mengungsi di Desa Kalisari ini karena suatu peristiwa (terduga Geger Pecinan yang pernah terjadi pada abad ke-17). Selang beberapa tahun, pengusaha itu kembali melarikan diri ke Jawa bagian utara. Beliau mewariskan ilmu membuat tahu kepada warga sekitar dan meninggalkan lahan dan tempat industri yang telah dibangunnya serta peralatan produksi kepada warga Kalisari. Dari situlah warga Kalisari melestarikan ilmu yang telah mereka dapat hingga kini.

salah satu rumah pembuatan tahu di Desa Kalisari
salah satu rumah pembuatan tahu di Desa Kalisari

Seperti bisa dilihat sekarang, Desa Kalisari sudah dianggap sebagai sentra pembuatan tahu berbahan kedelai yang terkenal di Kabupaten Banyumas dan kabupaten sekitarnya. Dari total 1413 KK, terdapat 250 UKM yang tersebar di desa seluas 204.355 hektar tersebut. Bahkan tercatat sembilan ton biji kedelai impor didatangkan dan diolah setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan pembuatan tahu. Wow! Jadi memang tak salah jika menyebutkan bahwa perputaran ekonomi desa berasal dari industri tahu yang telah mereka jalankan selama ini.

Pagi itu kami berkesempatan mengunjungi salah satu rumah produksi tahu. Mulai dari pencucian kedelai hingga proses pencetakan. Pertama-tama biji kedelai dicuci bersih dan dipisahkan antara biji dan kulitnya. Setelah itu biji kedelai digiling hingga menjadi seperti bubur, lalu dimasak di atas tungku api sampai mendidih dan mengeluarkan busa. Proses berikutnya adalah penyaringan bubur kedelai bersama air asam yang diaduk perlahan sampai adonan menggumpal. Penggumpalan dan air asam dipisahkan. Dari tahap itulah dihasilkan limbah tahu padat dan limbah cair. Sebagian besar limbah padat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan limbah cair kelak dimanfaatkan sebagai biogas.

Hasil gumpalan adonan dicetak menggunakan saringan tahu dan ditekan menggunakan pemberat. Setelah dibiarkan sekitar setengah jam dan memadat barulah diiris sesuai ukuran yang diinginkan dan dibungkus satu-persatu dengan saringan tahu agar bentuknya rapi dan semakin padat. Pastinya pengrajin tahu membungkusnya dalam keadaan masih panas. Oh ya, tahu yang dijual di pasar ada pilihan tahu putih dan tahu kuning. Untuk tahu kuning, setelah proses pendinginan masih ada proses terakhir di mana tahu yang sudah dibungkus satu-persatu direbus lagi ke dalam air masak yang sudah diberi tumbukan kunyit.

Selain tahu putih dan tahu kuning yang beredar di pasar tradisional, Desa Kalisari juga berkreasi mengolah hasil tahu menjadi bakso tahu, tahu bolo-bolo yang dibentuk bulat sebesar ibu jari dengan rasa renyah yang bikin ketagihan, juga kerupuk yang terbuat dari ampas tahu. Iya, nggak salah baca. Ada kreasi kerupuk tahu berbahan ampas tahu. Limbah padat yang saya ceritakan di atas ternyata masih bisa diolah menjadi makanan yang bergizi bagi manusia, bukan hanya sebagai pakan ternak saja. Kreasi yang terakhir merupakan buah pemikiran dari salah satu dosen dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Pak Suwardi, pembuat kerupuk ampas tahu Desa Kalisari
Pak Suwardi, pembuat kerupuk ampas tahu Desa Kalisari

Ampas tahu yang semula digunakan sebagai campuran pakan ternak ternyata bisa diolah menjadi cemilan yang masih mengandung protein nabati. Buangan limbah padat dari pabrik-pabrik tahu ditampung oleh salah satu warga Kalisari bernama Pak Suwardi yang sudah mengembangkan olahan kerupuk ampas tahu. Sampah organik yang semula disepelekan dan dinilai tidak membawa untung besar itu justru berhasil diolah dan dijual dengan harga yang layak sehingga mampu menaikkan taraf hidup keluarganya.

Dengan perbandingan satu banding satu ampas tahu dan tepung tapioka, Pak Suwardi dengan cekat mencampur keduanya menggunakan tangan. Tekstur ampas tahu yang padat tidak beraturan menjadi alasannya tidak menggunakan tenaga mesin untuk mengaduknya. Takut bumbu tidak bisa tercampur dengan baik, katanya. Bumbu halus yang terdiri dari bawang putih dan garam yang sudah diblender dituangkan ke dalam adonan. Dimasukkan pula bubuk penyedap makanan. Setelah semua tercampur dengan rata, adonan dicetak menggunakan cetakan khusus agar memudahkan mereka melakukan proses pemotongan.

Cetakan-cetakan itu dikukus lalu dimasukkan ke dalam alat pendingin selama kurang lebih 5 jam. Setelah bentuknya memadat barulah lonjongan itu dipotong menggunakan mesin khusus. Klimaksnya adalah proses penjemuran yang mengantungkan diri kepada alam. Jika sinar matahari malu-malu keluar dari balik awan, diperlukan waktu lebih dari satu hari supaya kerupuk mentah siap dikemas dan diedarkan ke pasar.

Gimana? Menarik kan? Masih ingin tahu sepak terjang tahu di Desa Kalisari? Begini Kepala Desa Kalisari yang juga mengelola website http://kalisari-banyumas.desa.id berpesan, “Kalau mau mencari ilmu, carilah sampai ke negeri China, kalau mau mencari penge-tahu-an ya ke Desa Kalisari aja!”. 😉

Advertisements

39 Comments Add yours

  1. Seumur-umur aku belum pernah melihat orang membuat tahu. Jadi ingin juga datang ke Banyumas. Kalau ada trip berikutnya jangan lupa kasih tahu ya, Halim 😂

    Like

    1. Hahaha pastinya akan kasih tahu kalau ada trip ke sana lagi. Nggak rugi kok cari tahu dan cicip tahu di Desa Kalisari, nyum nyum… 😀 😀

      Like

  2. Satusatuen says:

    Besok ikut yang di Sleman?

    Like

    1. Sepertinya belum bisa ke sana, mas Wawan. Mau goreng kerupuk ampas tahu sik buat cemilan nonton film hahaha

      Like

    2. Satusatuen says:

      Lhaaaa, kan seru kita ketemusn lagi. Rian + Adi juga ikut.

      Like

  3. Pradna says:

    Paparan yang detil ibi tentunya akan jadi referensi yang lengkap tentang tahu Kalisari.

    Maturnuwun

    Like

    1. Terima kasih banyak, Mas Pradna. Salam tahu dan terima tahu 😀

      Like

  4. ndop says:

    Sayangnya kita gak dibawain oleh oleh tahu dari sana ya. Minimal sak bungkus lah.

    Tapi ora popo ding. Melihat pembuatan tahu ae wis nyenengne. Senajan diriku kurang begitu paham prosese haha.

    Like

    1. Tanda kalau mampir ke desa tahu kudu makan tahu sak puase di tempat hahahaha.
      Nah podo, seneng banget bisa lihat secara langsung pengolahan tahu di Kalisari. Trus kangen tahu bolo-bolo, rodo gelo gak sempet makan tahu bolo-bolo sak puase di sana 😛

      Like

    2. ndop says:

      Bener. Tak kiro sih bakalan entuk oleh oleh tahu. Ternyata enggak hahah mungkin karena tahu gak tahan lama ya

      Like

    3. Yugo says:

      Waktu workshop dari Pandi sebenarnya sudah disiapkan oleh-oleh tahu kuning, cuma karena takut basi keika dibawa pulang, akhirnya ga da yang mau bawa.

      Daripada mubazir, dibawa ke Deraji dan digoreng di sana. 😀

      Liked by 1 person

    4. ndop says:

      Owalah. Diriku lagi nyadar. Jahahahah.

      Like

  5. Dulu di Karimunjawa ada pabrik tahu, tapi bangkrut. Wahh seru juga acara di Banyumas kemarin 😀

    Like

    1. Seru banget acara Juguran Blogger tahun ini, Sitam. Sayang dirimu nggak bisa ikut 🙂

      Like

  6. Moiismiy says:

    Tahu yang menyimpan banyak penge-tahu-an 🙂

    Like

    1. Tahu-tahu pulang sudah dapat banyak penge-tahu-an 😀

      Like

  7. omnduut says:

    Isna kalo datang ke rumah suka bawa tahu isi daging bakso gitu, uenak bener. Uniknya, tahu ini adalah makanan yang dulu aku nggak pernah suka. Kalo makan mual. Eh belakangan doyan banget! hahaha tak TAHU maka tak CINTAH.

    Like

    1. Tak TAHU maka tak CINTAH hahahaha. Baru nyadar juga jarang nemu unsur tahu pas kulineran di Palembang, bahan baku ikan lebih mendominasi 😀

      Like

  8. aqied says:

    Aku suka banget tahuuu.
    Etapi disana aromanya gimana, om hal?

    Like

    1. Mau tahu atau mau tahu banget? Hahaha. Nggak ada bau kurang sedap selama keliling desa, karena limbah cainya sudah dialirkan ke tabung khusus yang detail-nya coming soon di blog ini, kak Aqied 😀

      Like

  9. ada tahu bulet gak mas? yang limaratusan? digoreng dadakan? 😀

    Like

    1. Ada donk, namanya tahu bolo-bolo kalo di Desa Kalisari. Bulat kecil seukuran ibu jari, lima ratus rupiah udah dapat banyak hehehe.

      Like

  10. Hastira says:

    wah tahunya besar-besar ya potongannya, aku doyan tahu

    Like

  11. diteraskata says:

    Wah seru banget berkunjung ke sentra pembuatan tahu. Kalau mau ke sini, bisa langsung dateng atau menghubungi kepala desa dulu?

    Like

    1. Bisa mampir dulu ke Kantor Desa agar diberi pengarahan oleh petugas di sana. Kalau datang langsung ke rumah produksi tahu bisa juga, tapi jangan lupa kulo nuwun atau minta izin dulu sebelum meliput mereka. 🙂

      Like

    2. diteraskata says:

      Ada biayanya nggak, Mas?

      Like

    3. Nggak ada biaya kalo cuma meliput. Kalo mau beli tahu Kalisari atau kerupuk ampas tahu ya beli langsung dan bayar ke pembuatnya hehehe.

      Like

  12. diteraskata says:

    Siap! Terima kasih banyak infonya, Mas. Semoga bisa berkunjung ke Kalisari juga dan beli tahu atau kerupuknya 🙂

    Like

  13. Dayu says:

    Keren

    Like

  14. agus says:

    Deket tuh ma kampung saya… Main2 ke kebasen mas.. Disana ada tmpt pembuatan gula kelapa.. Tp saya lg di bekasi..

    Like

    1. Menarik nih ada pembuatan gula kelapa juga. Kapan-kapan bantu pandu saya kalau sampeyan pas pulang ke Kebasen ya. 🙂

      Like

  15. Adi says:

    Keren

    Like

  16. Abay Kusnalia says:

    Enaknya

    Like

  17. Chusnul sabria says:

    Woww

    Like

  18. Robi Putra says:

    Wow

    Like

  19. beny kurniawan says:

    Ternyata tahu jg terkenal favorit di banyumas karna banyumas terkenal dgn tempe
    Tahu yg terkenal

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s