Mandirinya Desa Kalisari – Biogas dan Pemasaran Tahu

Saat membicarakan proses pembuatan tahu beberapa orang langsung membayangkan rumah produksi tahu yang dikelilingi bau menyengat sisa penggumpalan kedelai. Apalagi sungai tempat pembuangan air limbahnya bisa dipastikan memberikan kenyamanan bagi para nyamuk untuk berkembang biak.

Anehnya pemandangan itu tidak saya temukan ketika masuk ke sentra tahu di Desa Kalisari. Kandungan asam yang dihasilkan kecutan tahu hanya tercium saat memasuki dapur pengolahannya saja. Wajar karena di sana terjadinya percampuran sari kedelai dengan air asam untuk mendapatkan gumpalan protein yang kemudian kita kenal sebagai tahu. Sungai di depan rumah perajin tahu pun tidak kotor, terus dialiri air yang jernih. Kok bisa ya?

pipa penyaluran limbah cair tahu untuk diolah jadi biogas di Desa Kalisari
pipa penyaluran limbah cair tahu untuk diolah jadi biogas di Desa Kalisari

Seperti yang sudah saya tulis di artikel sebelumnya, proses produksi tahu menghasilkan limbah padat atau ampas tahu dan limbah cair. Umumnya ampas tahu digunakan sebagai campuran pakan ternak, bahkan ada yang mengolahnya menjadi tempe gembus. Berbeda dengan Desa Kalisari di Cilongok, Banyumas yang sudah mengolahnya menjadi cemilan bergizi, kerupuk ampas tahu seperti yang telah dikembangkan oleh Pak Suwardi.

Limbah cair pabrik tahu yang mengandung keasaman tinggi tentu saja tidak bisa diolah menjadi makanan apalagi minuman. Kandungan karbondioksida, metana, sulfur dan amoniak yang dibuang ke sungai terus-menerus pastinya akan memberi dampak yang tidak baik bagi lingkungan. Supaya tidak mencemari dan memperburuk citra desa yang asri, dibangunlah tempat penampungan limbah cair industri tahu yang akan diolah menjadi biogas. Pada tahun 2013 Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah menggelontorkan dana sebesar 1,5 miliar rupiah di tahun pertama untuk mewujudkan pengembangan biogas di Desa Kalisari.

Seusai kunjungan dari rumah pengrajin tahu, rombongan Juguran Blogger diajak oleh Pak Ardan Aziz selaku Kepala Desa Kalisari untuk melihat langsung Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pabrik tahu yang lokasinya berdekatan dengan Monumen Pengrajin Tahu di Jalan Curug Cipendok Km 1. Beliau menjelaskan bahwa 140 rumah produksi tahu di Desa Kalisari sudah memiliki pipa khusus yang menyalurkan limbah cairnya ke IPAL. Sisanya masih menunggu dana pembuatan IPAL baru di lahan yang sudah disediakan pemerintah desa.

Cara kerjanya kurang lebih seperti ini, air limbah dari tiap rumah produksi tahu dialirkan ke kolam penampungan yang berjarak sekitar satu kilometer dari pemukiman. Lalu dipompa ke bioreaktor yang tabungnya sebagian ditanam di dalam tanah. Setelah diurai dengan bakteri yang melakukan penyisihan senyawa organik, dihasilkan gas metana ( CH 4 ) yang naik ke masing-masing gas holder atau tabung penampungan gas setinggi dua belas meter. Tabung yang terisi penuh jelang sore hari akan dipompa turun ke rumah penduduk yang sudah didukung pipa penyaluran biogas.

Proses masih belum selesai. Air limbah yang sudah bebas dari gas beracun ditampung ke bak khusus dan disaring agar layak dialirkan ke kolam-kolam ikan milik warga. Kalau tidak melihat langsung mungkin saya tidak percaya bahwa air kolam di luar pagar tersebut merupakan proses akhir dari pengolahan limbah cair industri tahu. Percontohan kompor biogas juga tersedia di sana, membuktikan nyala api biru yang menghasilkan energi lebih murah daripada gas elpiji. Setiap rumah hanya membayar retribusi sebesar lima belas ribu rupiah per bulannya. Murah kan?

Selain pemanfaatan limbah cair industri tahu sebagai biogas, Desa Kalisari yang dikenal sebagai DEMIT atau Desa Melek IT sudah mulai memasarkan produknya melalui internet. Anak muda desa mengenalkan lewat Facebook dan media yang lain termasuk mengaktifkan website desa http://kalisari-banyumas.desa.id/. Di dunia nyata pun, kelompok pengusaha Tahu Kalisari fasih mempromosikan produknya di hadapan rombongan Juguran Blogger dan tamu undangan yang lain.

Pak Purwanto, wakil dari kelompok pengusaha Tahu Kalisari
Pak Purwanto – Tahu Sari Delai Kalisari

Pak Purwanto yang mewakili kelompok Tahu Sari Delai Karangsari tidak terdengar grogi mengisahkan perjalanan tahu Kalisari yang awalnya memakai biji kedelai lokal. Keledai lokal membuat tahu bertekstur padat dan lebih tahan lama. Sayangnya akibat pemberitaan tahu berformalin yang sempat marak, beberapa pengusaha tahu memutuskan mengganti bahannya menjadi biji kedelai impor agar lebih kenyal dan tidak disangka berformalin. Daun kecombrang sebagai pengawet alami, kuning dari kunyit pewarnanya, jelas Pak Purwanto siang itu.

Untuk lebih memarakkan Desa Kalisari, Kepala Desa juga merangkai acara tahunan bertajuk Festival Tahu Kalisari yang pernah diadakan tengah tahun lalu. Menghadirkan perang tahu, parade tahu, gala dinner tahu, permainan tradisional yang mengusung tahu. Bayangkan saja balap kelereng menggunakan tahu bolo-bolo sebesar ibu jari diletakkan di atas sendok yang digigit mulut. Mungkin sebelum tiba di garis finish, tahu bolo-bolo sudah masuk ke dalam perut hehehe.

Lalu kapan digelarnya Festival Tahu Kalisari?
Sabar. Tunggu update-nya dari Pak Kades ya. 😉

Advertisements

24 Comments Add yours

  1. Baru tahu itu camilan dari ampas tahu hehehehhe. 😀

    Like

    1. Kerupuknya terbuat dari ampas tahu, limbah padat industri tahu yang masih mengandung nilai protein tinggi. Rasanya enak loh 🙂

      Like

    2. huahuahua pengennnn kaakkakakkak

      Like

  2. Hebat ya Desa Kalisari. Industri tahu mereka sudah dirancang dengan baik. Alih-alih mengotori lingkungan limbah Tahu diolah jadi energi yang menguntungkan. Bravo!

    Like

    1. Tahunya lezat, limbahnya juga dimanfaatkan secara maksimal, hasilnya desa asri dan ekonomi meningkat. Tante Evi mesti intip langsung ke Desa Kalisari, pasti kerasan tinggal lama hehehe.

      Like

  3. Pradna says:

    Tulisan detail Biogas Tahu Kalisari yang bisa jadi referensi.. Salut!

    Like

    1. Semoga banyak desa yang belajar dari kemandirian Desa Kalisari 🙂
      Terima kasih, mas Pradna 😉

      Like

  4. Alid Abdul says:

    Waaakkk tahu kesenangku ikiii… salut deh sama warganya, pengolahan limbahnya top. Di jombang masih begitulah pabrik tahunya

    Like

    1. Sebagai calon Bupati Jombang, ayo dicanangkan proyek biogas buat pabrik-pabrik tahu di Jombang, Lid. Sopo reti iso menambah kepercayaan masyarakat Jombang wakakaka

      Like

  5. Waah, Kalisari bisa jadi teladan dalam energi terbarukan dari limbah tahu.. Terima kasih sharing pengetahuannya mas Halim.. 😀

    Like

    1. Same same, maz Iqbal. Semoga tulisan ini bisa memberikan contoh bahwa sudah ada desa sentra industri yang sudah mengolah limbah cair pabriknya menjadi biogas. 😉

      Like

  6. Avant Garde says:

    tahu, bergizi dan bebas kolesterol … lha ngajak aku liat festivalnya kapan mas ? Hahahehehihi

    Like

    1. Tunggu edar tanggal penyelenggaraan festivalnya yah hihihi

      Liked by 1 person

  7. BaRTZap says:

    Wah keren sekali desa ini. Ini gambaran desa yang ideal ya, produktif tapi tetap asri dan menjaga kelestarian lingkungannya. Semoga ada banyak desa lainnya yang bisa tumbuh seperti Kalisari ini.

    Liked by 1 person

    1. Desa asri yang mengedukasi. Kalau nemu desa semacam ini lagi dan klop di hati maulah daku investasi bikin homestay ala ala buat singgah para penikmat kesederhanaan hidup 😀

      Liked by 1 person

    2. BaRTZap says:

      Mantaap. Jangan mahal-mahal ya Lim.

      Liked by 1 person

  8. Menyambung komentar seperti tulisan desa wisata sebelumnya, desa-desa yang mandiri kayak gini perlu diperbanyak, nyatanya kan bisa 🙂

    Like

    1. Percontohan desa mandiri di dalam negeri yang patut ditiru, de-pe-er nggak perlu jauh-jauh study banding ke luar negeri kan? Hahaha. Tinggal melengkapi kekurangan dan menerapkannya ke calon desa-desa mandiri lainnya. 😀

      Like

  9. annosmile says:

    keberadaan sistem biogas dapat mengatasi ketergantungan pada gas bumi..
    selain itu dapat megurangi jumlah limbah yg dihasilkan hehe..salut sama desa kalisari..

    Like

    1. Bermanfaat dan hemat banget. Warga nggak perlu buang uang untuk beli tabung gas, apalagi cari dan olah kayu bakar untuk sekedar memasak air atau menanak nasi. Limbah yang sudah terurai juga tidak mengotori lingkungan lagi. 🙂

      Like

  10. wah gimana ya rasanya cemilan dr ampas tahu 😂

    Like

    1. Rasanya gurih dan nggak terlalu “tahu” banget seperti kerupuk tahu yang biasa dijual di toko oleh-oleh. Wajib cicip kalo mlipir Banyumas 🙂

      Like

  11. Agung Rangga says:

    festival tahu kalisari, kelihatannya menarik ya. 😀

    Like

    1. Pastinya seru apalagi ada perang tahu, lempar-lemparan tahu sampai karnaval serba tahu hehehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s