Menyederhanakan Hidup Lewat Wisata Desa

Terlalu lama menghirup udara di kota besar sukses memberikan kejenuhan yang luar biasa. Cenat-cenut ketika sapaan selamat pagi selalu dibalas senyum kecut tetangga yang lupa dengan nama saya, pun sebaliknya. Deretan rumah berpagar tembok tinggi dengan jeruji runcing di rumah-rumah tengah kota. Bukti sudah lunturnya rasa percaya diri untuk bersosialisasi antara para pemilik rumah dengan tetangganya.

Belum ditambah bunyi klakson bagai paduan suara di tiap persimpangan jalan saat jam sibuk. Ribu makian yang tak sadar terucap ketika mereka hendak menekankan ketidaksenangan di jalan raya. Pun masalah-masalah sosial yang dirasa memberi dampak terhadap terengutnya kebahagiaan akibat rutinitas yang mengacaukan jiwa. Ahh, sepertinya saya dan mereka sudah terlalu lelah…

sweet morning di Desa Kalisari
sweet morning di Desa Kalisari

Beda dengan gambaran desa yang sepi, jauh dari polusi suara dan emisi kendaraan yang menyesakkan paru-paru. Ditambah pekarangan luas belakang rumah tempat hewan ternak dilepas bebas, buah-buahan dan bunga-bungaan tumbuh liar. Kesederhanaan yang sering disalah artikan sebagai daerah yang ketinggalan zaman, dianggap sebagai daerah yang tidak mampu memberikan hiburan duniawi seperti di kota besar. Kesan tidak nyaman hidup di tengah masyarakat tertinggal terlanjur terpatri di benak beberapa orang kota.

rumah singgah di Desa Kalisari
rumah singgah di Desa Kalisari

Mungkin itu salah satu alasan kenapa Juguran Blogger yang diadakan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah pada tanggal 13-15 Mei 2016 lalu tidak diminati banyak orang, padahal acara tersebut tidak dipungut biaya untuk singgah. Pada akhirnya hanya saya dan tiga belas blogger lainnya yang berkesempatan menikmati kesederhanaan yang disuguhkan. Sepanjang perjalanan dimanjakan oleh pemandangan persawahan dan perbukitan hijau yang menenangkan. Mendapati rumah singgah yang nyaman dan bersih, juga sambutan hangat dari kepala desa serta senyum-senyum ramah penduduk setempat.

Kekecewaan saya cuma satu hal, desa-desa yang kami kunjungi sudah masuk kategori DEMIT alias Desa Melek IT, sinyal internet operator tertentu bisa ditangkap dengan tajam. Sehingga masih ada yang tergoda untuk berinteraksi dengan pertemanan tidak kasatmata lewat gawai masing-masing. Untung hal itu tidak menyurutkan keinginan warga desa untuk tetap bertemu langsung dan ngobrol dengan manusia di dunia nyata. Perlahan melupakan sejenak kewajiban dan persoalan semu di dunia maya. 🙂

Dua desa di Kabupaten Banyumas yang kami kunjungi memiliki kekhasan masing-masing. Desa Kalisari di Kecamatan Cilongok mengunggulkan sentra industri tahu yang sudah terkenal di Banyumas dan kabupaten di sekitarnya. Kemandirian dan kejelian pihak desa dalam mengolah limbah pabrik berhasil membuat saya berdecak kagum.

Sedangkan desa kedua yang terletak di Kecamatan Lumbir, ujung barat dari Kabupaten Banyumas sebelum memasuki wilayah Kabupaten Cilacap justru mengenalkan kesenian Banyumasan yang sempat mati suri. Desa Dermaji mengusung seni dan kesakralan yang tak terbantahkan yang dalam waktu dekat akan diangkat ke dalam sebuah festival budaya agar masyrakat umum bisa menikmati dan melestarikan.

Desa Dermaji - Banyumas
Desa Dermaji – Banyumas

Saya pribadi termasuk golongan penikmat wisata di desa. Tak terhitung berapa kali saya singgah ke Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Letaknya yang tidak terlalu jauh dari Kota Solo menjadikannya sebagai salah satu tempat favorit untuk menenangkan jiwa yang lelah. Melihat dan belajar di sentra industri yang bertebaran di sana membuka mata bahwa ada banyak potensi baik bisnis maupun wisata. Hal serupa saya lihat di kedua desa di Banyumas tersebut. Banyak yang bisa digali dan banyak yang masih bisa dikembangkan. Ini baru dua desa di satu kabupaten, belum puluhan desa yang lain dan ribuan desa yang tersebar di Indonesia.

Anehnya kesederhanaan yang menentramkan itu belum disadari banyak orang termasuk generasi penerus di desa itu sendiri. Menciptakan dilema yang mendalam saat mendengar tentang orang tua yang sudah banting tulang menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang paling tinggi dengan harapan mereka membawa pulang ilmu yang dipelajarinya.

Besar harapan agar ilmu yang sudah diperoleh bisa diterapkan di daerah asal mereka. Ironis jika banyak didapati anak-anak mereka justru merasa lebih betah di kota lebih besar. Lupa dengan kesederhanaan karena keegoan sudah memanipulasi. Tentu tidak ada kata terlambat, masing-masing hanya perlu waktu lebih banyak untuk menyadari dan memahaminya. 😉

Advertisements

59 Comments Add yours

  1. Satusatuen says:

    Mantab. Tak tunggu tulisan berikut e

    Liked by 1 person

    1. Asikkk ada yang menunggu. Siap menulis untuk episode berikutnya yang seru dan menantang *berasa sinetron kejar tayang* 😀

      Like

    2. arvernester says:

      Tulisan kamu mana mas? Biar aku rusuh-rusuhin komentarnya. 😛

      Like

  2. Pradna says:

    Mantaab..

    Maturnuwun sudah datang ke Banyumas. Semoga tidak kapok 😀

    Liked by 1 person

    1. anazkia says:

      Komen kok samaan, nggak kreatif blas -_-

      Liked by 1 person

    2. Sungkem dengan sepuh Blogger Banyumas hehehe. Sama-sama, mas Pradna.
      Sangat sangat senang bisa ikut kegiatan kemarin sampai selesai. Ingin mengulang lagi kalau ada kegiatan serupa #ngelunjak hihihi

      Like

  3. anazkia says:

    Fotonya bagus-bagus 🙂

    Like

    1. Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, mbak Anaz. *seduh kopi hitam* 😉

      Like

    2. anazkia says:

      Tahunya ada?

      Like

  4. Desanya asri… lereng gunung slamet mungkin ya ini?

    Like

    1. Letak Desa Kalisari sudah jauh dari lereng Gunung Slamet, tapi masih di dataran yang tinggi sehingga kontur tanahnya berbukit-bukit. 😀

      Like

  5. iyoskusuma says:

    Wah. Iri bacanya! Suasana desa memang bisa netralisir penat perkotaan sih. Bising klakson. Macet jalanan karena orang-orang yang nyetir seenak udel. Atau karena kerjaan yang penuh tekanan. Seger yak.. Hahaha.

    Btw. Itu kangkungnya….. *nelen ludah*

    Like

    1. Avant Garde says:

      aku juga iri, pengen ke banyumas, pengen liat alamnya, pengen denger bahasa banyumas secara langsung 😦

      Like

    2. Hahaha aksen Banyumas yang unik, beneran udah kangen balik ke sana lagi buat dengerin itu lagi 😀

      Like

    3. Wisata di desa itu refreshing murah meriah, hirup udara segar gratis nggak perlu bayar mahal hehehe.
      Tet tot, salah mas Iyos, yang di gambar potongan daun pepaya masak pedas ditemani tahu asli Desa Kalisari #slurppp 🙂

      Like

    4. iyoskusuma says:

      Wah. Mirip kangkung! Hahaha. Ga usah sedetail itu jelasinnya, Mas 😭😭😭 Jadi mau!

      Liked by 1 person

  6. jonathanbayu says:

    Dengan wisata desa bisa dapet dua keuntungan, pikiran tenang dan bisa bergaul lebih dekat dengan orang desa yang tidak didapatkan di kota besar 😀

    Like

    1. Seru kalo sudah disapa dan disuruh mampir ke dalam rumah mereka. Ada banyak cerita yang dibagi, juga keramah tamahan yang langka ditemui di kota besar. 🙂

      Liked by 1 person

  7. Mungkin kalau menurut saya, konsep desa wisata yang berkelanjutan harus diperbanyak di negeri ini, karena ini potensi sangat besar, memberikan diversifikasi pilihan wisata..

    Like

    1. Ditambah potensi wisata alam ( sawah, air terjun, sungai, hutan ) yang diperkenalkan saat wisatawan singgah di desa, bakal tambah keren dan mampu menahan lebih lama wisatawan yang haus akan pengalaman baru. 😀

      Liked by 1 person

    2. Setujuuu Mas 🙂

      Like

  8. annosmile says:

    baru tau ada kopdar lagi..hm sepertinya saya miskin info kopdar huhuhu
    lama ga main ke banyumas..pertumbuhan desa wisata cukup pesat ya..kayak desa wisata di daerah sleman yogyakarta

    Like

    1. Wahh kupikir mas Anno udah tahu tentang Juguran Blogger. Sayang banget nggak bisa ikut. Tapi tenang aja, boleh kok rajin mampir kemari biar update ada apa di acara itu hahaha. Desa-desa di Banyumas yang kemarin dikunjungi menarik dan khas banget, jadi menambah minat ingin kulik desa-desa di sekitar Solo lebih mendalam.

      Like

    2. annosmile says:

      Sialann xixixi..
      jadi pengen tengok desa wisata yg deket2 saja..sambil mempromosikannya mas 😀

      Liked by 1 person

  9. Avant Garde says:

    mas Halim, racuni daku ke banyumas dong 😀

    Liked by 1 person

    1. Sabar, ratjun-ratjun sudah dipersiapkan. Tinggal tunggu tanggal tayangnya biar semakin meracuni. Hahahaha

      Liked by 1 person

    2. Avant Garde says:

      ajak ngetrip kesana mas 🙂

      Like

  10. virmansyah says:

    kuabeh apik dan enak-enak semua kemarin, eh ada satu ding yang menurut ku kurang enak, yaitu bunga kecombrang. hahaha, rasanya di kepala bikin pening. 😀

    Like

    1. Wah aku malah seneng banget ngunyah bunga Kecombrang. Bunga Kecombrang e malah arep tak minta dan bawa pulang loh, sayange pulangku pake molor jadi takut layu di jalan hehehe.

      Like

  11. Baktiar says:

    Suasana desa memang cespleng untuk mengobati suntuknya kota.. apalagi basa basi di desa itu jelas terasa lebih tulus.. generasi muda di desa yang paling sering kena benturan budaya..

    Like

    1. Ahaa bener banget, basa basi di desa itu terasa lebih tulus dibandingkan yang di kota. 🙂
      Jika diamati banyak potensi bisnis lebih menguntungkan jika generasi penerus tetap bertahan di desa, kesukarannya adalah meyakinkan dan menyelaraskan benturan budaya tersebut. 🙂

      Like

  12. fotone apik2 mas, Halim. staycation gak harus dihotel, di desa pun bisa ya mas 😀

    Like

    1. Terima kasih, mas Jo. Staycation di desa bikin betah lama di sana karena makanan dan kebutuhan hidup serba murah. 😀

      Like

  13. ndop says:

    Wah wah, ceritane podo nulis prologue iki wahaha. Aku langsung nulis intine haha.

    Btw, wisata desa ngene iki nyenengne dan berkesan ya. Aku yakin Juguran Blogger ini lebih memorable dibanding wisataku ke Pacitan beberapa bulan yang lalu. Walaupun pantainya indah.

    Like

    1. Hahaha soale akeh kesan pas ikut acara itu. Nah kui nyenengke banget, apa lagi dapat konco anyar sing seru dan friendly #eciyee. Trus masuk sentra industri yang sudah jadi minatku suwe, joss pokoke panitia Juguran Blogger tahun iki 😀

      Like

    2. ndop says:

      Tahun ngarep nek enek pendaftaran Juguran Blogger aku bakalan daftar disik dewe hahahaha

      Liked by 1 person

  14. Dieng says:

    Sweet morning di Desa Kalisari memang terasa sweet dan syahdu. Blusukan memang sangat istimewa kak. kapan Mblusuk ke pedesaan saya. he he

    Like

    1. Pedesaan nggak jauh dari kota pasti banyak loh. Jadi pingin tinggal di rumah warga setempat kalau pas mlipir ke Dieng juga nih biar dapat sensasi seperti apa kehidupan di sana. 😉

      Like

  15. Seru banget acara Juguran Blogger, spesial Tahu 😀

    Like

    1. Seru pake banget apalagi tiap hari disuguhi tahu aneka bentuk dan olahan 😀

      Like

  16. inggit_e says:

    Suka sekali baca tulisanya mas…apalagi point terakhir. Menumbuhkan kesadaran putra daerah memang tidak mudah. Andai saja mereka menerapkan ilmu yg di dapat untuk memajukan daerahnya…apalagi seperti desa di Banyumas ini, banyak sekali potensinya.

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih Inggit. Ada banyak desa-desa yang memiliki potensi bisnis maupun wisata tersebar. Tinggal menunggu kejelian anak muda menanggapi bahwa yang bisa diolah di desa mereka akan menghasilkan pendapatan yang lebih besar dari penghasilan di kota besar. 🙂

      Like

  17. sinalani says:

    Widih bagus banget gan,,,mirip desa ane. namanya desa wisata cibuntu,kuningan jabar

    Like

    1. Wahh pastinya senang sekali bisa merasakan kehidupan di desa Cibuntu. Kalau ada kesempatan bolehlah saya akan mlipir ke sana. 🙂

      Like

  18. Hastira says:

    betul, desa banayk ditinggalkan anak muda baik untuk sekolah atau mencari kerja, banyak yang tak mmebuat peluang kerja dari alam . temanku lulus kuliah dia kembali ke desanya dan membangun desanya bersama2, dan sungguh sulit untuk mengubah mindset orang desa agar mereka maju. tapia khirnya berhasil menjadikan desa itu desa mandiri

    Liked by 1 person

    1. Salut dengan teman-teman mbak Tira yang mau kembali ke desanya dan berjuang di sana sembari menerapkan ilmu yang telah diperoleh. Mudah-mudahan langkahnya ditiru oleh anak muda lain di desanya juga. 🙂

      Like

  19. Fakhruddin says:

    Duh jadi kangen sama desaku di Jawa Timur sana, halaman luas, rumah tanpa pager sampai gotong royong yg luar biasa.

    Like

    1. Seneng banget kalau lihat rumah berhalaman luar yang nggak dipagar. Masih ada rasa aman hidup tanpa pagar tinggi di desa 🙂

      Like

  20. Gara says:

    Yah… saya contoh yang meninggalkan kampung halaman menuju ke kota besar, nasib membawa saya kemari :hehe :peace. Tapi saya suka juga tinggal di desa :)), masih asri dan alami, kehidupan di sana berjalan tenang sampai-sampai detak jantung tetangga pun bisa didengar :hihi. Pemandangan yang bagus dengan gunung-gunung yang berlapis, semoga bisa lestari.

    Like

    1. Nah loh nah loh hahaha. Tak apa, tidak ada kata terlambat kok. Kalau kelak sudah menetap di desa ntar kembangin potensi di sana, trus izinkan saya singgah lama ya, Gar. Hahaha 😀

      Liked by 1 person

    2. Gara says:

      Siap, Mas :)).

      Like

  21. Enak banget kalau bisa blusukan desa. Aku biasanya juga asal blusukan kalau sepedaan ahahhahah

    Like

    1. Seger yah hirup tempat yang nggak banyak polusi. Pikiran jadi fresh, kepenatan hilang, tapi pingin bobok terus jadinya hahaha

      Like

  22. MAS DARSONO says:

    waduh, saya tidak tahu ada acara spt itu..
    kalau tahu, saya pasti meluuncur kesana…
    saya tinggal di kalibagor…

    Like

    1. Kalau sebut Kalibagor jadi ingat bekas pabrik gulanya hehehe. Sayang sekali nggak dengar info acara ini padahal dekat. Lain kali ikut di acara Juguran Blogger mendatang dengan tujuan yang nggak kalah seru ya, mas Darsono. 🙂

      Like

  23. adeanto says:

    Mantaap , bahasan dan tulisannya mas Halim

    Like

    1. Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, mas Ade.
      Semoga tulisannya bermanfaat 🙂

      Like

  24. Tapi emang susah mas, menangkal keegoan dari perkotaan, mungkin saya salah satunya hehehe
    Pada akhirnya, orang desa kayak saya yang enggak sengaja menghirup keegoan kota, lama-lama rindu juga sama desa-desa hening kayak desa kalisari ini mas. Masalahnya, ketika menginjakkan kaki ke desa, nggak tau harus berbuat apa, apa yang bisa diperbuat untuk desa, dipersembahkan untuk desa, tidak tahu sama sekali. Sampai-sampai, bergaul dengan orang desa saja rasanya sulit minta ampun. Yaaah… maklum, egoisisme kota sudah terlanjur melekat…
    Ada saran kah? Hehehe

    Liked by 1 person

    1. Mencoba bertani dan berkebun salah satu cara cepat kembali beradaptasi di desa. Berkebun sekarang cakupan juga luas, bisa mengembangkan hidroponik, aeroponik sayur-mayur atau bunga-bungaan yang laku dijual di kota. Atau mau membudidayakan jamur juga bisa. Semua nggak pake modal besar, hanya perlu lahan seadanya saja.

      Kalau merasa punya lebih bisa bikin homestay dan berpikir bahwa desa itu bisa menjadi tempat wisata dengan memanfaatkan sentra industri, alamnya, atau faktor yang lain. Sebenarnya banyak peluang, tapi banyak yang sudah putus asa dan pesimis duluan jadi nggak kelakon terus hehehe. Semoga mencerahkan Bayu, trus jangan lupa undang saya kalau sudah berhasil ya 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s