Sakralnya Malam Satu Suro

Malam itu saya tidak berdiri seorang diri. Kerumunan samping saya bergumam, saling berbicara pelan. Tidak ada yang berani berteriak-teriak apalagi membuat kegaduhan. Semua khidmat menunggu keluarnya barisan para sentana dan abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta yang akan membawa pusaka-pusaka keraton dari tempat penyimpanannya untuk dikirab memutari tembok luar benteng.

Perlahan wangi dupa dan harum bunga melati menyeruak ke segala arah. Bau-bauan itu mengikuti embusan angin malam. Malam itu malam Satu Suro.

Satu Suro Keraton Kasunanan Surakarta
Satu Suro Keraton Kasunanan Surakarta

Banyak prasangka mengenai arti perayaan malam 1 Suro atau 1 Sura di Indonesia, terutama di Jawa. Ada yang mengibaratkan kesakralannya seperti Halloween-nya negara barat dengan tebaran cerita-cerita horor tentang roh-roh jahat yang keluar dari alamnya. Ada pula sekelompok golongan yang memanfaatkan malam satu Suro sebagai malam sangat istimewa untuk menyepi, bersemedi, berendam, atau mengajukan permintaan khusus yang tidak masuk akal di suatu petilasan, makam kuno hingga situs keramat.

Kenyataannya, malam 1 Suro adalah malam pergantian tahun (Jawa) yang dicetuskan pertama kali oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja ketiga dari Kesultanan Mataram. Sultan Agung yang lahir di Kotagede tahun 1593 adalah anak dari Panembahan Hanyakrawati/Panembahan Seda ing Krapyak, atau cucu dari Panembahan Senopati pendiri dinasti Mataram Islam. Setelah ayahnya mangkat, tahta bergulir ke Sultan Agung yang kemudian memerintah Kesultanan Mataram mulai tahun 1613 hingga 1645.

Sepak terjang Sultan Agung dalam melakukan perlawanan dan penaklukan kerajaan-kerajaan lain di ujung Jawa bagian timur hingga bagian barat membuahkan wilayah kekuasaan Kesultanan Mataram yang meluas secara signifikan dibandingkan perjuangan pendahulunya. Namun, pada tahun 1628 pasukan Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso mengalami kekalahan penuh melawan VOC di Batavia karena kekurangan pasokan makanan. Disusul kekalahan tahun 1629 yang menggugurkan lebih banyak pasukan pada penyerangan ke daerah dan musuh yang sama telah memberi dampak kurang bagus bagi legitimasi Mataram. Dari peristiwa itu Sultan Agung merenungi akibat kekalahan yang terlanjur memecah persatuan antara rakyat yang tersebar di pedalaman dan pesisir.

mubeng benteng satu suro
prosesi mubeng benteng Kasunanan Surakarta

Supaya rakyat yang berbeda kepercayaan itu bisa bersatu dan kembali loyal terhadap pemerintahannya, Sultan Agung menggabungkan perhitungan kalender Saka yang masih dipakai masyarakat Hindu Jawa dan Kejawen dengan kalender Islam yang digunakan oleh kaum santri. Perenungan itu lalu melahirkan penanggalan awal tahun Jawa yang dimulai pada bulan pertama tahun 1043 Hijriah (1633 Masehi). Singkatnya, jumlah hari dalam satu tahun Jawa diambil dari kalender Hijriah (345 atau 355 hari, memakai pergantian fase bulan), tetapi angka tahun pertama kalender Jawa menggunakan tahun kalender Saka (perhitungan matahari). Artinya awal penanggalan tidak menggunakan angka 1 Suro 1 Jawa, melainkan 1 Suro 1555 Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharam 1043 Hijriah. 1555 Saka = 1043 Hijriah = 1555 Jawa = 1633 Masehi.

Tradisi yang diturunkan oleh Sultan Agung dalam merayakan pergantian tahun Jawa sekaligus peringatan Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah masih dilestarikan oleh masyarakat Jawa dan generasi penerus dinasti Mataram Islam, termasuk kerajaan di Surakarta dan Yogyakarta. Khusus di Surakarta, ada Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kadipaten Mangkunegaran yang melewati malam 1 Suro dengan mubeng benteng atau memutari benteng luar istana dalam hening sembari mengirabkan pusaka-pusaka peninggalan leluhur mereka.

persiapan malam satu Suro
persiapan Suro di Pura Mangkunegaran

Bagi saya, perayaan pergantian tahun Jawa di Kota Solo selalu meninggalkan kesan yang berbeda satu sama lain. Salah satunya pada tahun 2017 lalu saat saya menyempatkan diri melihat dua gelaran Kirab Suro yang diselenggarakan oleh pihak Kraton Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran yang bertepatan dengan tahun Dal 1951 atau putaran delapan tahun/sewindu dalam tahun Jawa. Mereka menggelar kirab pada malam yang tidak sama. Pura Mangkunegaran mengadakan kirab Suro pada hari Rabu (20/9/2017) malam selepas maghrib, sedangkan kirab Suro Kraton Surakarta Hadiningrat jatuh pada hari Kamis (21/9/2017) malam. Perhitungan keduanya tidak ada yang salah, karena masing-masing memilih waktu yang telah disepakati, antara 1 Suro jatuh pada 1 Muharam tahun Hijriah atau 1 Suro tahun Jawa.

Prosesi Kirab Suro di Pura Mangkunegaran diawali dengan ritual memandikan atau menjamasi pusaka utama seperti tombak dan pusaka peninggalan pendiri Mangkunegaran, Raden Mas Said atau KGPAA Mangkunagara I, berupa pakaian kebesaran yang disimpan dalam joli (tandu kecil). Satu-persatu pusaka yang telah dibersihkan dan dibungkus kain kuning tersebut dikeluarkan ke pendapa ageng. Sembari menunggu aba-aba dari KGPAA Mangkunagara IX, tampak barisan prajurit kadipaten memagari ruang antara penonton dan para gusti beserta kerabatnya. Atribut yang dipakai oleh para prajuritnya sederhana, baju kutangan, celana kain hitam, ikat kepala, serta dipersenjatai tombak atau tameng. Sementara para gusti dan tamu kirab diwajibkan memakai busana warna hitam, beskap hitam untuk pria, kebaya hitam dan bersanggul untuk wanita.

Pembukaan kirab yang dilakukan sendiri oleh KGPAA Mangkunagara IX bebas diikuti dan disaksikan oleh masyarakat umum. Pihaknya hanya menghimbau supaya penonton selalu tertib dan menghormati prosesi dengan menjaga santun. Tidak lama kemudian, barisan pembawa pusaka yang dipimpin oleh GPH Bhre Cakrautama Wira Sudjiwo, putra dari KGPAA Mangkunagara IX, mulai berjalan dalam hening sebagai bentuk intropeksi diri, perenungan, dan perwujudan akan keprihatinan kondisi negara saat ini.

Mereka berjalan mengelilingi benteng pura tanpa alas kaki. Keluar melalui gerbang utama sisi selatan, melewati Jalan Ronggowarsito, Jalan Kartika, Jalan RM Said, dan Jalan Teuku Umar, lalu kembali masuk pendapa ageng lewat gerbang utama. Kirab Suro di Mangkunegaran yang berlangsung mulai pukul 19.00 hingga sekitar 20.30 ditutup dengan pembagian nasi bungkus dan udik-udik atau tradisi menyebar uang receh yang dilakukan sebagai simbol Pura Mangkunegaran berbagi rezeki untuk rakyat. Setelah keramaian mereda, para gusti dan tamu kirab melanjutkan ritual malam satu Suro dengan bersemadi bersama di pendapa ageng.

Keunikan dari prosesi Kirab Suro tiap tahunnya adalah aksi warga terhadap air jamasan setelah rombongan pembawa pusaka terakhir keluar dari Pura Mangkunegaran. Air bunga bekas memandikan benda pusaka yang ditampung dalam gentong-gentong diperebutkan. Digunakan untuk membasuh muka, dibawa pulang dalam wadah botol, bahkan ada pula yang langsung meminumnya dengan harapan akan memberi mereka berkah. Mereka mengabaikan efek kronis dari luruhan karat, debu, dan bakteri yang terkandung dalam benda-benda berusia ratusan tahun tersebut. Berdalih menghormati budaya leluhur atau menentangnya karena mengedepankan tafsir pemuka agama, tentu semua dilakukan sesuai kepercayaan yang dipegang erat oleh masing-masing individu. Betul?

Kirab Suro Surakarta
kirab suro pusaka Kasunanan Surakarta

Berbeda dengan tradisi satu suro yang digelar oleh Kraton Surakarta Hadiningrat, prosesi awal Kirab Suro belum dipertontonkan secara bebas. Bagaimana penjamasan berlangsung, pusaka jenis apa saja yang dikeluarkan, hingga pembukaan yang disampaikan oleh Sinuhun kepada sentana dalem hanya bisa diikuti oleh peserta kirab yang telah melewati prosedur khusus atau memiliki undangan dari kraton. Masyarakat umum bebas mengakses jalannya kirab mulai dari pukul 21.00 di halaman depan Kori Kamandungan Lor, tempat tujuh kebo bule diumbar sebelum mereka mengawal jalannya kirab.

Pada dasarnya kirab yang dilakukan oleh Kraton Surakarta hampir mirip dengan kirab suro Pura Mangkunegaran, melakukan perjalanan memutari benteng luar kraton dan mengawal pusaka dalam keadaan hening. Busana yang dikenakan oleh peserta kirab pun harus hitam dan tidak boleh menggunakan alas kaki apalagi perhiasan. Alur perjalanan Kirab Suro Kraton Surakarta melewati Supit Urang, Jalan Jend Sudirman, berbelok ke kantor Telkom Jalan Mayor Kusmanto, melintasi Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, lalu Jalan Yos Sudarso hingga mengarah ke Jalan Slamet Riyadi, dan berakhir kembali kraton melalui Kori Kamandungan Lor.

Primadona dari kirab malam satu suro yang digelar oleh Kraton Surakarta tiap tahunnya adalah kebo bule atau kerbau albino keturunan dari Kiai Slamet, kerbau albino peliharaan SISKS Pakubuwono VI. Masyarakat selalu terlihat antusias terhadap kemunculan tujuh kebo bule milik Kraton Surakarta tersebut. Banyak penonton yang datang dari luar Solo Raya mengutarakan alasan utama hadir pada malam satu suro di Kota Solo supaya bisa melihat langsung keanggunan iringan kerbau yang bertugas mengawal benda pusaka kraton.

Sayang sebagian dari masyarakat salah paham dengan menganggap keberadaan pengawal berwujud kerbau lah barang pusakanya. Iringan 19 benda pusaka kraton yang dibawa oleh sentana dalem beserta para abdi dalem seolah menjadi tontonan cadangan. Penonton kirab justru rela saling dorong dan berebut ketika kebo bule menyisakan sayur-mayur dan buah-buahan yang tidak habis dimakan sepanjang perjalanan. Paling ekstrem adalah aksi penonton yang merayah kotoran kerbau albino selama kirab berlangsung. Dibuat campuran pupuk agar panen di sawahnya melimpah atau disimpan dan diramu sebagai obat alternatif sebuah penyakit adalah alasan mereka.

Berkah yang melimpah, rezeki yang lebih baik dari sebelumnya, kesehatan, hingga dijauhkan dari marabahaya adalah mayoritas harapan yang disampaikan. Doa-doa yang berulang kali terucap untuk-Nya dan belum terkabul itu diharapkan akan tersampaikan dalam momen istimewa semacam malam satu suro. Namun, manusia tetaplah manusia. Akhlak baik dan buruknya selalu tersusun sebagai lembaran-lembaran buku kehidupannya sendiri. Semesta dan kuasa-Nya, siapa yang tahu?

13 Comments Add yours

  1. Hastira says:

    wah kearifan lokal yang patut dilestarikan

    Like

    1. Kirab Suro termasuk agenda wajib kraton di Surakarta dan Yogyakarta, selain grebeg-grebeg tentunya. Monggo disempatkan menyaksikan sendiri jika ada waktu. πŸ™‚

      Like

  2. Bama says:

    Asimilasi penanggalan Islam dengan penanggalan Jawa yang dilakukan Sultan Agung itu menjadi salah satu contoh bagaimana sejak dahulu kala (mulai dari masa ketika masyarakat Jawa masih penganut animisme, kemudian beralih ke masa Hindu-Buddha, lalu masa Islam setelahnya) budaya Jawa itu sangat plastis dan lentur dalam menyerap unsur-unsur budaya asing tanpa menanggalkan identitas ke-Jawa-annya. Cerita yang menarik, Halim! Semoga suatu saat nanti saya ada kesempatan untuk melihat prosesi malam Suro juga.

    Liked by 1 person

    1. Menghormati kepercayaan lain sudah ditanamkan oleh pemimpin masa lalu, termasuk salah satunya kebiasaan memakan daging kerbau, bukan sapi oleh Sunan Kudus di Kudus dan sekitarnya. Sayang, toleransi itu semakin bias kini. Tafsir dari ragam kepercayaan di Indonesia telah dijadikan sebagai salah satu senjata pemecah persatuan.

      Terima kasih sudah meninggalkan komentar di blog saya yang agak berdebu ini, Bama. πŸ˜€

      Liked by 1 person

    2. Bama says:

      Masyarakat Indonesia perlu untuk terus diingatkan betapa saling menghormati dan menghargai, serta berbaur dengan orang lain yang memiliki latar belakang yang berbeda itu sangat penting untuk menjaga Indonesia tetap bhinneka.

      Sama-sama, Halim. Akhir-akhir ini sepertinya semakin banyak blog yang mulai berdebu, hehe. πŸ™‚

      Liked by 1 person

  3. Pas perayaan Suro tahun ini aku di Solo koh, terjebak tidur di hotel Front One karena kecapekan.
    Semoga tahun depan bisa mampir dan nonton kirabnya.

    Like

    1. Wah eman banget dah di Solo hari itu malah nggak kesampaian ngintip kirabnya. Agendakan tahun depan ya. πŸ™‚

      Like

  4. Avant Garde says:

    kalo rebutan gunungan sekaten ok lah…bisa dimakan, tp rebutan kotoran kebo..dari kecil aku tau itu, tp sampe sekarang juga masih agak piye gitu mas 😦

    Like

    1. Itulah keunikan budaya di kota-kota di Indonesia. Maka dinikmati saja, budaya tersebut ojo digusur karena itulah kearifan lokal sesungguhnya. πŸ˜€

      Liked by 1 person

  5. Zae AbJal says:

    Jadi kepengen suatu saat hadir di acara seperti ini..

    Liked by 1 person

    1. Grebeg lain yang diselenggarakan oleh keraton juga menarik disaksikan. Ayo main ke Solo. πŸ™‚

      Like

    2. Zae AbJal says:

      Siap, insya Allah nanti kalau ada waktu dan kesempatan.. πŸ™

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.