Tergelitik Potensi Desa Jarum

Pemberian label desa wisata semakin marak dilakukan di puluhan desa atau bahkan ratusan desa Indonesia terutama di Pulau Jawa. Niat baik dari dinas pariwisata setempat tidak jauh dari harapan agar ekonomi desa meningkat dan mandiri. Sayang tanpa diimbangi pembinaan dan pendampingan oleh ahli di bidangnya dan ketidaksiapan dari warganya sendiri, embel-embel desa wisata kelak akan berstatus mati suri. Sama seperti nasib Desa Jarum beberapa tahun yang lalu.

Sebelum Festival Batik Jarum dengan tema Klaten Mbiyen gencar dipromosikan melalui media sosial oleh sebuah tour operator bernama Kalpasta, saya tidak tahu apa dan di mana letak Desa Jarum. Kalpasta yang dibentuk oleh tiga coklat (baca: cowok Klaten) terbilang sukses mendampingi warga Desa Jarum dalam Festival Klaten Mbiyen yang diselenggarakan pada bulan Agustus 2018 lalu. Festival yang bertujuan mengangkat potensi UMKM dan wisata di sana mampu menarik perhatian kepala daerah dan mendatangkan wisatawan dari luar Klaten.

Lalu ada apa di Desa Jarum? Dengan bantuan Kalpasta, saya dan kawan-kawan yang lain diajak mengenal potensi di sana. Desa Jarum yang sudah berstatus sebagai desa wisata sejak tahun 2015 ini terletak di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Akibat minim kreativitas dan kurangnya pemahaman pendahulu pokdarwis dalam mengembangkan aktivitas yang bisa dijual kepada wisatawan, membuat wisata di Desa Jarum belum menggeliat hingga luar Klaten. Padahal Desa Jarum punya sejarah panjang terkait dengan wastra Nusantara.

Dari informasi seorang pemuda lokal di sana, saya jadi tahu bahwa penamaan Jarum tidak lepas dari cerita turun-temurun yang erat kaitan dengan Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Bahkan asal mula nama Desa Jarum terlontar dari raja Kasunanan Surakarta sendiri. Sama seperti wilayah Boyolali, Sukoharjo, dan Sukowati (Sragen), sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk, Klaten termasuk dalam wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Alkisah, ada seorang Bekel (sekarang setingkat dengan lurah atau kepala desa) bernama Ekomoyo yang setiap tahun selalu menyerahkan upeti kepada Sinuhun Paku Buwono, sebutan pemimpin Kasunanan Surakarta. Suatu hari wilayahnya mengalami paceklik sehingga tidak ada hasil bumi bisa dibawa ketika akan menghadap ke keraton. Bekel Ekomoyo terpaksa membawa apa saja yang sedang tumbuh saat itu di sana, yaitu buah Mojo yang dikenal punya rasa pahit.

Uniknya buah Mojo dari Ekomoyo yang diterima Sinuhun tidak pahit, justru beraroma harum dan manis. Sinuhun yang senang menerima upeti tidak biasa tersebut langsung memberi perintah ke Ekomoyo supaya padukuhannya dinamai Mojo Arum yang punya arti buah Mojo harum wanginya. Dari nama panjang Mojo Arum, lambat laun telinga warga pun lebih akrab mendengarnya sebagai Jarum. (dikutip dari cerita mbah Suwitono seperti tertulis di prasasti Situs Mojo Aroem)

Dari Situs Jarum, kami diajak oleh anak-anak Kalpasta melihat usaha yang digeluti oleh Suradi (56) di tempat tinggalnya. Bongkahan batu gunung berserak di depan rumahnya adalah bahan dasar yang digunakan Suradi untuk membuat layah atau cobek batu. Dia termasuk satu dari empat pengrajin layah di satu RT yang masih meneruskan usaha tradisional tersebut. Hampir tiap seminggu sekali dia mendatangkan batu dari gugusan Gunung Sewu yang diangkut menggunakan truk besar. Suradi mengaku tidak menggunakan batu dari Gunung Merapi karena dinilai getas atau gampang rapuh.

Satu kali angkut, Suradi harus membayar sekitar 900ribu rupiah. Batu besar akan dipecah-pecah secara manual menjadi bentuk kotak yang bisa dipahat menjadi sebuah cobek. Sementara batu lebih kecil digunakan untuk membuat alat ulekan berbagai ukuran. Dalam sehari dia bisa membuat sekitar 15 buah layah dengan harga jual mulai dari 15ribu rupiah per buah tergantung diameternya. Semua dipasarkan di Klaten dan sekitaran Yogyakarta saja. Remukan batu dari pahatan yang tidak terpakai akan dijual lagi ke pemilik toko bahan bangunan, jelasnya menyiasati sampah industri rumahannya.

Kami melanjutkan perjalanan menuju kediaman Jeprik dan Subiyati yang halaman sampingnya diramaikan oleh beberapa pengrajin batik. Mereka tidak membatik di atas kain, melainkan mengoreskan canting yang sudah dicelup malam ke selembar kulit yang sudah disamak terlebih dahulu. Motif batik klasik menjadi daya tarik dari kriya yang diolah oleh Sularto atau akrab disapa Jeprik. Kulit yang telah dicanting akan dicelup warna sesuai permintaan konsumen, lalu digelontorkan tempelan malamnya seperti proses nglorot pada kain batik tulis.

Dalam satu bulan, mereka bisa menghasilkan lima belas karya batik kulit yang akan dioper ke penyetor kulit asal Yogyakarta untuk dijahit kembali menjadi bentuk tas. Gerai Batik Bima Sena yang sudah digeluti Jeprik sejak 25 tahun yang lalu pun menjual hasil jadi tas batik kulit dengan harga mulai dari 400ribu rupiah. Selain itu, gerainya memiliki aneka bentuk kerajinan batik kayu yang mengingatkan saya kepada pusat sentra batik kayu di Desa Bobung, Gunung Kidul, DIY.

Mengenai dunia perbatikan di Desa Jarum, kami diperkenalkan oleh Sussana Dewi, pemilik usaha Batik Purwanti di Dusun Pundungrejo yang sudah memiliki beberapa toko tersebar di Klaten dan Kabupaten Gunung Kidul. Kunjungan kami tidak disambut oleh aktivitas harian pembatik karena mereka sedang libur hari Minggu. Namun, dari cerita wanita yang akrab disapa Dewi, saya jadi tahu bagaimana awal mula Desa Jarum dikenal sebagai sentra batik tulis nomor satu di Klaten.

Pada tahun 1968, Purwanti, ibu dari Dewi memulai usaha pembatikan di Jarum. Dari ketrampilannya menyanting dan keuletannya berbisnis, industri rumahan yang semula dikerjakan oleh puluhan pengrajin, mulai berkembang pesat pada tahun 1980-an hingga rumahnya mampu menampung karya batik tulis dari 600-an pengrajin. Dewi memaparkan bahwa di awal mereka membuat batik tulis motif klasik Mataraman warna sogan untuk pasaran Surakarta dan sekitarnya. Lambat laun mereka mulai berani membuat batik tulis motif baru dengan pilihan warna yang lebih beragam, tidak selalu sogan.

Kelesuan industri batik tulis di Surakarta tahun 1990-an yang mengakibatkan usaha para juragan batik Laweyan gulung tikar rupanya tidak banyak berpengaruh terhadap roda industri batik tulis di Desa Jarum. Pulangnya para pengrajin dari kota ke desa seolah-olah membuka jalan baru bagi pengusaha batik di Jarum. Sekarang, rumah batik di Laweyan dan gerai batik besar seperti Batik Keris dan Danar Hadi justru memesan motif tertentu di Jarum.

Setelah Dewi meneruskan usaha ibunya mulai tahun 2009, rumahnya mampu menampung 25 pengrajin. Selebihnya ada sekitar 80 pembatik yang membawa pulang kain dan mengerjakan batik tulis pesanan di rumahnya masing-masing. Mereka tidak hanya memproduksi batik tulis dengan pewarna kain, tetapi juga membuat batik tulis dengan warna alami yang bahan pewarnanya menggunakan secang, talas, mahoni, indigo, dan bahan lainnya. Harga jual yang ditawarkan untuk selembar batik tulis mulai dari 160ribu rupiah tergantung kerumitan pola dan pewarna yang digunakan. Murah, kan?

Belum puas melihat perkembangan industri batik di Desa Jarum, saya pun menengok usaha yang dirintis oleh Suroto (58) di rumahnya di Dusun Kebon Agung. Selembar batik dengan motif cerita pewayangan yang dipamerkan dan dipuji wisatawan manca hingga disebut sebagai batik tulis yang unik mengawali langkahnya sebagai salah satu pengusaha batik di Desa Jarum. Batik Unik yang didirikan Suroto pada tahun 1990 telah berkembang dari motif pewayangan menjadi busana batik dengan ragam pola yang memadukan unsur klasik dan baru.

Tidak dipungkiri oleh Suroto bahwa dirinya pernah ikut kerja dengan Bu Purwanti (pemilik Batik Purwanti) dan belajar tentang pembatikan dari beliau. Mantan bosnya tidak melarang pegawainya untuk berwirausaha sendiri, malah senang jika pegawainya berani lepas dari zona nyaman dan mandiri. Kini Suroto telah menampung sebelas pengrajin batik yang bekerja di rumahnya setiap hari, ditambah beberapa pemuda yang bertugas mencuci kain dan melorot malam, dan pembatik-pembatik yang bekerja di rumahnya sendiri.

Selain memproduksi baik tulis dengan pola sesuai permintaan pasar, Suroto juga menjadi orang pertama yang mencetuskan kreasi untuk menjahit wastranya menjadi kemeja jadi. Pelanggan Batik Unik yang tidak mau repot menyewa jasa tukang jahit merasa senang dengan terobosan dari beliau. Kini pembeli di sana bisa memilih batik tulis yang disukai dan memesannya dalam bentuk jadi kemeja atau langsung membawa pulang pilihan kemeja lengan pendek dan lengan panjang sesuai ukuran yang dijual di showroom-nya.

Usai melihat potensi unik dari Desa Jarum, saya tidak lupa mengintip salah satu angkringan atau wedangan yang dikabarkan ngehits di sana. Tak ayal, warga di sana menyebutnya Kantor Sambat karena banyaknya keluhan dan curhatan yang dipaparkan oleh pembeli kepada si penjual. Oh iya, Desa Jarum ternyata dikenal juga sebagai desa asal juragan angkringan! Masa sih? Hmm, penasaran? Sama, saya juga masih tergelitik ingin membuktikannya suatu hari nanti … 😉

Advertisements

13 Comments Add yours

  1. Bama says:

    Inisiatif desa wisata, jika dikelola dengan baik dan berkesinambungan, sebenarnya bisa menjadi salah satu solusi agar anak muda di desa tidak mudah tergiur untuk pindah ke kota untuk mencari pekerjaan. Sudah banyak cerita di berbagai penjuru dunia bahwa banyak desa yang penduduknya menua karena ditinggalkan kaum mudanya.

    Liked by 1 person

    1. Ada beberapa contoh desa wisata yang berhasil mengelola paket wisata dan ekonomi desa bisa mandiri. Seperti Desa Nglanggeran di Gunung Kidul yang unggul di wisata alam gunung api purbanya, atau Desa Pujon Kidul di Malang (sudah pernah saya tulis) yang terkenal dengan Cafe Sawah-nya. Rata-rata dari mereka sudah memupuk semangat pemuda-pemudi desa dan punya lokal hero yang menggugah kesadaran lainnya bahwa desa mereka punya sesuatu yang bisa dibanggakan dan bisa dijual ke luar. Harapan saya sih desa wisata yang dibentuk secara instan oleh dinas bisa belajar dari mereka yang sudah betul-betul jadi Desa Wisata. 🙂

      Liked by 1 person

  2. Menunggu ulasan tentang Angkringan, seberapa besar pengaruh angkringan mengangkat ekonomi warga di Desa Wisata Jarum, dan juga tentang ramuan teh ceretnya hahahahha

    Liked by 1 person

    1. Ramuan tehnya menarik buat dikulik hahaha. Lagi mencari narasumber buat juragan HIK Klaten nih. Kalau udah ketemu pastinya akan main ke Desa Jarum lagi. 😀

      Like

  3. Pemanfaatan desa wisata ini menjadi alternatif bagus dari pemerintah (atau swadaya masyarakat yang harapannya didukung pemerintah) agar budaya lebih dikenal tapi tetap terjaga.:)

    Like

    1. Kearifan lokal juga jadi hal utama yang perlu diangkat. Nggak asyik kan main ke sana dijutekin warga sekampung hahaha.

      Liked by 1 person

  4. si klimis says:

    wah keren desa Jarum, Minggu lalu dari sana, kebetulan cuma mampir ke batik Purwanti karena emang waktunya terbatas.

    Like

    1. Ayok main ke Desa Jarum lagi, hamparan pohon jadi dan gugusan bukitnya asyik buat diabadikan. 😀

      Like

  5. wah seru yaa bisa hunting foto di desa jarum pengrajin2 batik

    Like

    1. Lokal Jarum sudah terbuka terhadap kedatangan wisatawan. Monggo lihat langsung hasil karya mereka dan izin dulu jika ingin mengambil gambar aktivitas mereka. 🙂

      Like

  6. Keren ceritanya mas. Terima kasih telah mengabadikan diblog. Saya jadi tahu tentang sejarah desa ini

    Like

  7. lunarv2 says:

    Baca ini, malah fokus sama kain batik tulisnya. warnanya itu yang dark, jadi kesanya keren gimana gitu..

    Liked by 1 person

    1. Batik tulis di sini punya warna khas, tapi tetap mengangkat sogan. Mesti datang sendiri ke Jarum biar tambah terpesona dengan batik tulisnya hehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.