Memburu Manusia Kuat Asian Para Games 2018

Dua pekan lalu saya meluangkan waktu untuk melihat langsung jalannya latihan atlet difabel jelang Asian Para Games 2018. Kebetulan mereka menjalani pemusatan latihan nasional (Pelatnas) mulai dari bulan Januari hingga akhir September 2018 di Kota Solo, Provinsi Jawa Tengah, tempat saya tinggal. Saya pikir kapan lagi ada kesempatan meliput mereka yang akan berjuang mengharumkan nama bangsa? Mumpung tahun ini Indonesia menjadi tuan rumah Asian Para Games.

Saya sempat memendam keraguan untuk sekadar ngobrol dengan mereka yang memiliki keterbatasan. Takut salah omong yang berakibat menyinggung perasaan mereka. Kenyataan di lapangan, mereka adalah manusia-manusia kuat yang pernah saya jumpai. Tidak mudah tersinggung dan bisa diajak bercanda. Semangat olahraga mereka pun sama dengan atlet normal. Bahkan mereka tidak segan untuk berbagi kisah inspiratif yang rasa-rasanya bisa membangkitkan rasa percaya diri siapapun yang sedang terpuruk. 🙂

Ada 43 negara di benua Asia yang ikut serta dalam Asian Para Games 2018. Asian Para Games sebelumnya telah digelar di Guangzhou, China dan Incheon, Korea Selatan. Kali ketiga, pesta olahraga difabel terbesar se-Asia diselenggarakan di Jakarta, Indonesia yang berlangsung pada tanggal 6-13 Oktober 2018. Mereka akan bertanding dalam 513 nomor pertandingan dari total 18 cabang olahraga. Dan tim Indonesia mulai dari cabang olahraga atletik, renang, basket kursi roda, tenis kursi roda, badminton kursi roda, tenis meja, voli duduk, panahan, hingga judo dan Boccia, seluruh atletnya yang berjumlah 300-an menjalani pelatnas di Kota Solo.

Pertama-tama saya mengintip para atlet Tenis yang sedang berlatih di Lapangan Tenis Manahan. Ada tujuh atlet yang akan mewakili tim Wheelchair Tennis Indonesia, mereka adalah Erwin Subrata, Maryanta, Agus Fitriadi, Nurdin, Sri Atun, Puji Sumartono, dan Ndaru Patma Putri. Ketika saya menanyakan bagaimana mereka semua terpilih masuk pelatnas, pelatih mereka yang bernama Irfan (24) menjelaskan bahwa ketujuh atlet hebatnya merupakan peraih medali emas dalam Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) yang diselenggarakan di Bandung tahun 2016 lalu.

Baca juga: Berjuang Melawan Keterbatasan

Drill ball, endurance, latihan strategi sampai latihan fisik adalah rutinitas yang mereka jalani selama mengikuti pelatnas. Kursi roda menjadi alat bantu dalam cabang olahraga ini. Tangan kanan memegang raket, sementara tangan kiri selalu memegang roda kursi roda untuk bergerak mengejar lemparan bola di lapangan. Bedanya dengan tenis biasa adalah bola tenisnya boleh memantul sebanyak dua kali di lapangan. Tidak ada raut muka jutek dan lelah saat saya berinteraksi dengan mereka. Seolah semangat olahraga terbentuk semakin kuat selama latihan pagi (06.00-09.00) dan sore (14.00-17.00) setiap hari Senin sampai Sabtu.

Tenpin Bowling Indonesia
Wijayanto, atlet Para Bowling Indonesia

Tim Tenpin Bowling Indonesia yang rutin berlatih di Bengawan Bowling Center punya kisah lain. Cabang olahraga para bowling di Indonesia sendiri baru terdengar gaungnya mulai tahun 2011 saat ikut serta dalam ASEAN Para Games (olahraga difabel tingkat Asia Tenggara) di Kota Solo. Mereka yang telah lolos dalam proses penyaringan NPC (National Paralympic Committee) asal Jawa Tengah, Riau, DKI Jakarta, dan Jawa Barat telah terbagi dalam empat kelas yang membedakan klasifikasi tingkat kecacatan meliputi tuna grahita, kursi roda, kelas tangan atau amputasi, dan kelas kaki atau polio, jelas Waluyo, pelatih para bowling.

Ada nama Elsa, Agus Supriyanto, Prayitno, Jaya Kusuma, dan Irvan yang masuk dalam kelas tuna grahita, kelas tangan dan polio. Sementara Rohayati, Wisma Wijayanto, Haryo, dan Siti Aminah masuk dalam kelas kursi roda. Untuk prestasi, Siti Aminah asal Riau berhasil menyabet medali perunggu saat mengikuti turnamen World Para Bowling 2018 di Malaysia beberapa bulan lalu. Melihat kerja keras dan keuletan atletnya, Waluyo menaruh harapan supaya tim mereka dapat memenuhi target satu medali emas. Pun berharap kelak ada atlet difabel baru bermunculan dari provinsi lain supaya persaingan untuk masuk pelatnas semakin bagus.

Tiga medali emas jadi target tim Para Athletic Indonesia, cabang olahraga yang paling banyak menyumbang jumlah atlet dan nomor pertandingan di Asian Para Games 2018. Klasifikasi umum atlet difabel umumnya terbagi menjadi tiga kategori, Physical Impairment (PI) atau tuna daksa, Visual Impairment (VI) atau tuna netra, dan Intelectual Impairment (II) atau tuna grahita yang masing-masing memiliki nomor klasifikasi sesuai dengan kemampuan atlet dan pembagian kelas berdasarkan Track dan Field.

Terdapat lebih dari 100 nomor dalam cabang olahraga atletik berdasarkan kategorinya, mulai dari sprint 100, 200, 400 m, jarak menengah 800 dan 1.500 m, jarak jauh 5.000 dan 10.000 m, lari estafet, lompat tinggi, lompat jauh, lempar lembing, dan kategori lainnya. Ada atlet lari amputasi yang menggunakan kaki prosthesis atau alat bantu buatan untuk berlari, ada pula atlet lari dengan gangguan penglihatan disediakan penambat tali yang dihubungkan dengan pemandu. Untuk atlet seperti Setiyo Budi Hartanto (33), atlet lompat jauh yang pernah bertanding di Paralympic Games 2012 tidak memerlukan alat bantu karena masuk kelas F46 atau kekurangan pada tubuh bagian atas.

Berbeda dengan atletik kelas T54 yang atletnya memiliki paraplegia atau tidak berfungsinya bagian pinggul ke bawah, tapi memiliki fungsi lengan dan tangan yang baik. Mereka menggunakan kursi roda khusus yang memiliki tiga roda dan ukuran lebih panjang daripada kursi roda olahraga lain. Indonesia menurunkan tiga atlet untuk kelas T54 yang diwakilkan oleh Jaenal Aripin, Maria Goreti, dan Doni Yulianto yang akan bertanding dalam nomor sprinter 100 dan 200 meter, dan pembalap kursi roda kategori menengah dan jarak jauh, 800 m, 1.500 dan 5.000 m.

Selanjutnya saya sempat berkunjung ke GOR Toraja yang berlokasi di Kadipiro, tempat atlet Judo tuna netra berlatih selama pelatnas. Menurut pelatih mereka, Endang Sri Lestari, di Kota Solo pernah ada olahraga judo yang diikuti oleh penyandang tuna netra pada tahun ’90-an. Karena keterbatasan tenaga pelatih dan belum terbentuknya NPC, tim mereka vakum lama dan bubar. Blind Judo muncul kembali sebagai cabang olahraga baru yang dipertandingkan di Peparnas Bandung tahun 2016. Jadi untuk ajang olahraga difabel tingkat internasional, Blind Judo termasuk cabang olahraga baru dari Indonesia untuk Asian Para Games 2018.

Bercakap-cakap dengan penyandang tuna netra jadi tantangan besar bagi saya. Mereka harus menyadari kehadiran kita melalui sentuhan atau tepukan ringan. Dari pelatih dan asisten pelatih, saya mendapat beberapa informasi umum bahwa mereka tergolong dalam tiga kelas berdasakan klasifikasi B1 untuk buta total, B2 untuk buta yang masih punya jarak pandang beberapa sentimeter dari mata, dan B3 untuk low vision atau kekurangan penglihatan, tapi bisa melihat bayang-bayang. Total ada 16 nomor yang ditandingkan di cabang olahraga Blind Judo Asian Para Games 2018. Namun wakil dari Indonesia tidak bisa memenuhi semua nomor pertandingan tersebut karena keterbatasan jumlah atlet.

Tiga atlet buta total dan enam atlet low vision yang mewakili tim Blind Judo Indonesia berasal dari beberapa kota, seperti Rafli, Fendi, dan Marliya, Nur Fatimah, Melinda dari Jawa Barat, lalu Sisca dari Riau, Ilham dari Makassar, Ranto dari DKI, dan Miftahul Jannah dari Aceh. Sebenarnya tidak ada batasan usia dalam penyaringan atlet Blind Judo dari NPC, tetapi Endang sebagai mantan atlet judo nasional yang pernah mendapat peringkat 5 di Asian Games 2000 Busan menghendaki atlet binaannya berusia di bawah 30 tahun supaya fisik masih terbilang kuat untuk membanting dan menahan bantingan.

Blind Judo
Selamat berjuang!

Cara latihan mereka tidak seperti judo normal yang dipelajari melalui visual dan langsung praktek. Mereka bersembilan harus melewati beberapa metode pelatihan mulai dari adaptasi ruang latihan supaya bisa jalan mandiri dan tidak jatuh tersandung saat berkumpul di sana. Untuk latihan fisik pun harus digandeng tangannya supaya berlari lurus. Tahap berikutnya adalah memberi tahu teknik judo secara verbal, lalu dia harus merasakan bantingan dari pelatih. Setelah memahami kekuatan bantingan, atlet belajar membanting dan dibenarkan teknisnya dengan menilai tingkat tenaga mereka.

Tidak ditargetkan meraih medali emas bukan berarti atlet termuda Blind Judo, Rafli (18) merasa tidak punya beban dan berpuas diri. Dia akan berusaha semaksimal mungkin supaya masyarakat di luar sana tahu tentang proses yang telah dia lewati selama menekuni olahraga judo. Begitu pula dengan Endang yang berharap murid-muridnya bisa bermain dan menampilkan yang terbaik agar orang lain yang melihatnya bangga dengan semangat dan perjuangan mereka.

Pesannya untuk calon atlet difabel di luar sana senada dengan pelatih-pelatih dari cabang olahraga yang lain, pemerintah Indonesia sudah menunjukkan dukungannya dengan terbentuknya NPC dan grup-grup olahraga yang akan menampung kemampuan atlet difabel, jadi mereka tidak perlu minder dan mulai sekarang bisa mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi pelatnas bulan Desember 2018 mendatang untuk ASEAN Para Games Filipina.

Akhir kata, tidak ada manusia terlahir sempurna. Meskipun dipandang memiliki keterbatasan, mereka bisa berjuang dan hidup mandiri melalui olahraga. Jiwa-jiwa kuat yang menginspirasi banyak orang untuk belajar dari langkah dan mimpi mereka. Kisah hidup manusia kuat yang akan menjadi cerita indah kelak. Jangan lupa dukung penampilan hebat mereka di Asian Para Games 2018 yang berlangsung di Jakarta 6-13 Oktober 2018 ya. Indonesia hebat! 😉

Advertisements

10 Comments Add yours

  1. Membayangkan bagaimana mereka tetap aktif, berusaha memainkan olahraga dengan segala keterbatasan mereka. Pasti tampak sulit sekali. Tapi semangat mereka untuk membela negara itu jadi terharu. Semoga sukses

    Liked by 1 person

    1. Pas melihat kegigihan mereka berolahraga, dirimu sampe malu sendiri karena jarang olahraga, kalah sama mereka. Dari mereka dipetik bahwa olahraga bisa meningkatkan rasa percaya diri dan mereka tidak lagi malu untuk tampil di depan umum.

      Liked by 1 person

  2. Bama says:

    Di masyarakat kita masih ada sebagian yang menganggap penyandang difabilitas adalah orang-orang yang perlu dikasihani, padahal sebenarnya mereka banyak yang bahkan lebih tangguh dari kita-kita. Semoga ajang Asian Para Games kali ini bisa membuka mata kita bahwa mereka kuat, mampu dan tidak butuh belas kasihan. Langkah selanjutnya semoga semakin banyak fasilitas umum yang ramah kepada kelompok difabel dan lebih banyak lapangan pekerjaan yang terbuka bagi mereka.

    Liked by 1 person

    1. Saya melihat atlet difabel dan difabel lainnya betul-betul manusia kuat yang berhasil melawan keterpurukan dan bisa menumbuhkan semangat hidup siapapun yang melihatnya. Kemampuan mereka sudah diakui dan didukung pemerintah pusat dalam bidang olahraga. Tempat tinggal selama pelatnas 7 bulan mereka menggunakan hotel berbintang, lalu bonus yang akan mereka terima jika memenangkan medali juga sama perlakuan seperti atlet Asian Games. 🙂

      Berbicara tentang fasilitas umum di beberapa kota di Indonesia kadang masih bikin geleng kepala, misalnya blind path yang acapkali cuma dianggap penghias trotoar, padahal itu penting bagi penyandang tuna netra. 🙂

      Like

  3. Sudah dapat medali pertama dari bulutangkis koh. Semoga atlet-atlet lainnya juga bisa berprestasi.

    Like

    1. Atletik juga sudah menyumbang medali emas melampaui target. Salut dengan mereka semua. Mudah-mudahan difabel di luar sana menyaksikan semangat mereka dan ikut terinpirasi.

      Like

  4. Anggara says:

    Salut sama teman2 ini, mereka mampu menunjukkan prestasi yang luar biasa. Semoga kita bisa belajar dari para atlit yang bertanding di asian paragames ini

    Liked by 1 person

    1. Entah kenapa saya melihat semangat olahraga mereka jauh lebih terasa dibanding atlet normal hehehe. Keterbatasan bukan penghalang bagi mereka untuk berprestasi. 🙂

      Like

  5. satu pelajaran kemarin saat membantu orang difabel adalah, “jangan mengistimewakan mereka” jadi mereka sebenarnya ingin dianggap seperti kita pada umumnya, sesederhana itu ternyata

    Like

    1. Tawarkan bantuan jika mereka merasa memerlukan. Jika mereka mampu, jangan memaksakan kehendak supaya mereka tidak tersinggung. 😉

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.