Festival Nasi Goreng Desa Wonopringgo yang Ngangeni

“Agustus pertengahan free nggak, mas?” bunyi pesan singkat dari teman saya, Bayu Taufani pada akhir Juli lalu. Pesan itu berlanjut dengan kepastian waktu penyelenggaraan Festival Nasi Goreng di Desa Wonopringgo yang terletak di Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah.  Jika tahun lalu Desa Wonopringgo membagikan 1000 piring nasi goreng, Bayu menambahkan bahwa tahun 2018 ini, nasi goreng yang dibagikan gratis memiliki jumlah tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu. Penamaan festivalnya  pun diubah menjadi Festival 3000 Piring Nasi Goreng.

Momen tujuhbelasan masih menjadi alasan pemilihan tanggal festival. Dengan dukungan penuh dari kepala desa dan partisipasi penuh warga Desa Wonopringgo, Festival 3000 Piring Nasi Goreng terselenggara pada tanggal 18 Agustus 2018. Jalannya festival dan pembagian nasi goreng tahun ini diramaikan oleh 73 pedagang nasi goreng asal Desa Wonopringgo dan melibatkan seluruh warga dari 10 RT. Seperti tahun sebelumnya, nasi goreng yang dibagikan gratis selama festival merupakan swadaya masyarakat setempat, belum ada campur tangan dari pemerintah kabupaten.

Menaikkan jumlah nasi goreng gratis mencapai 3000 piring adalah target dari Slamet Haryanto, selaku Kepala Desa Wonopringgo atau akrab disapa Pak Lurah. Tahun lalu sempat muncul protes dari pengunjung karena mereka tidak mendapat nasi goreng gratis. Ada kelompok yang tidak terkontrol dan merebut paksa piring yang dibawa oleh panitia sebelum piring-piring itu tiba di titik pembagian. Berkaca dari antusias masyarakat yang luar biasa tersebut, Pak Lurah berjanji untuk menambah jumlah piring nasi goreng supaya warga desa dan pengunjung yang belum kebagian nasi goreng di Festival 1000 Piring Nasi Goreng bisa mendapatkannya pada tahun berikutnya (tahun 2018).

Dukungan dari para pedagang nasi goreng yang terlibat pun jadi penentu kelancaran jalannya festival. Untuk keperluan Festival 3000 Piring Nasi Goreng, desa telah menyiapkan beras sebanyak 3 kuintal dan 15 kilogram bawang merah. Dari bahan yang terkumpul, para pedagang nasi goreng sepakat membagi beras ke empat pos di 4 RW sama rata dan mengolah satu macam bumbu yang akan digunakan oleh para partisipan di masing-masing pos. Mereka tidak perlu mengulek dan membuat bumbu sendiri yang nantinya akan menghambat kelancaran waktu. Untuk pelengkap nasi seperti suwiran daging ayam dan telur menjadi hak masing-masing pedagang. Mereka boleh menambahkannya atau tidak, tapi itu jadi pengeluaran pribadi mereka.

Membagi 3000 piring nasi goreng gratis tentu bukan hal yang mudah dilakukan. Belajar dari pengalaman sebelumnya dan mengantisipasi kejadian tidak diinginkan selama acara, panitia membuat strategi baru dengan membagi pengambilan nasi goreng gratis menjadi empat pos. Dengan strategi pembagian pos dan peningkatan jumlah nasi goreng, seluruh warga desa akhirnya bisa mendapat bagian nasi goreng karena tiap rumah dijatah 2 kupon. Bahkan di akhir acara, tercatat ada lebih dari 3000 piring yang dimasak dan dibagikan oleh para partisipan dalam satu malam. Luar biasa, ‘kan?

Tidak ada lagi deretan meja-meja kayu mengelilingi Gedung Serba Guna Pringgodani. Sebagai gantinya, panggung hiburan lengkap dengan pengeras suara dan spanduk festival menghiasi halaman depan gedung. Gedung Serba Guna ditetapkan sebagai Pos 1 untuk menyambut tamu undangan dan VIP. Sementara pengunjung umum bisa mengambil nasi goreng mereka di Pos 2 (RW1), Pos 3 (RW 4), dan Pos 4 (RW 3). Awalnya saya sedikit bingung dengan letak pos yang tersebar. Ternyata panitia telah membuat papan petunjuk yang jelas dan beberapa petugas ditempatkan di tiap belokan pos untuk membantu mengarahkan pengunjung agar tidak tersesat.

Setelah festival resmi dibuka mulai pukul 19.30 WIB, pertama-tama pengunjung harus mengantre melalui gerbang masuk desa di belakang area Asrama 407. Lalu laki-laki dan perempuan diarahkan ke dua jalur berbeda untuk mendapatkan karcis yang bisa ditukar dengan sepiring nasi goreng. Warna karcis (merah muda, hijau, atau kuning) yang mereka terima akan menentukan pos mana yang harus mereka datangi untuk mengambil nasi goreng.

Seperti panggung hiburan di halaman depan Gedung Serba Guna Pringgodani, pos yang lain juga disediakan panggung untuk menghibur masyarakat. Lagi lagi panggung dibangun dengan swadaya warga satu RW, sehingga warga di tiap pos dibebaskan memiliki ide dan hiburan yang berbeda satu sama lain. Misalnya Pos 2 menyajikan musik orkes angklung, sedangkan Pos 4 mendatangkan penyanyi muda untuk menghibur penonton dengan lagu-lagu pop dan dangdut kekinian.

Untuk penyajian nasi goreng, para partisipan tidak perlu mengumpulkan nasi goreng yang telah mereka masak ke Gedung Serba Guna Pringgodani seperti tahun lalu. Mereka bisa memasak nasi goreng di pos yang punya letak paling dekat dengan tempat tinggalnya. Pun bisa memasak di rumahnya masing-masing. Sehingga pengunjung bisa melihat langsung bagaimana cara mereka meracik nasi goreng khasnya sembari berjalan menuju pos sesuai karcis yang dimilikinya.

Berdasarkan pengamatan saya, malam itu Desa Wonopringgo jadi terlihat sangat hidup dengan sebaran empat pos tersebut. Jalan desa mendadak ramai orang lalu lalang. Mereka melintasi satu gang ke gang lain ketika hendak mencari pos yang sesuai dengan karcisnya. Atraksi memasak langsung nasi goreng di beberapa titik menjadi hiburan tersendiri bagi pengunjung yang meramaikan jalannya festival. Sesekali mereka bercengkerama dengan para pedagang nasi goreng dan mengutarakan kelezatan nasi goreng yang disantap.

Web Desa Wonopringgo –> http://www.desawonopringgo.com

Yang perlu dicontoh dari festival ini adalah peraturan baku yang tidak memperbolehkan pengunjung membawa kantong plastik dan minuman dari luar. Larangan kantong plastik tentu menghindari mereka membawa pulang tanpa izin nasi goreng yang dibagikan secara gratis karena nasi goreng hanya boleh dimakan di tempat. Sementara larangan membawa minuman berdampak pada toko kelontong dan warung yang mau buka lapaknya sampai acara selesai. Air mineral, minuman bersoda, teh botol, dan jenis minuman lain yang dijual langsung ludes dibeli oleh pengunjung festival. Sayang tidak semua pemilik warung memanfaatkan kesempatan tersebut. Pupus sudah keinginan saya untuk menyeruput es buah atau es campur segar usai makan nasi goreng. 🙂

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya di sini, sebagian besar dari pedagang nasi goreng Wonopringgo merantau ke luar desa untuk berjualan nasi goreng. Pekalongan Raya, Kabupaten Batang, Kota Bandung, DKI Jakarta adalah beberapa kota di Pulau Jawa yang pernah mereka pijak sebagai tempat mengadu nasib. Ada yang masih bertahan di tanah rantau hingga sekarang, ada pula yang sudah pulang kampung dan membuka warungnya sendiri di sekitar Wonopringgo.

Saya sempat mengobrol dengan Pak Kaslari (61 tahun), salah satu partisipan Festival 3000 Piring Nasi Goreng yang meracik nasi goreng bersama kedua anak laki-lakinya. Beliau mengawali karirnya sebagai penjual nasi goreng di Jakarta pada tahun 1977. Setelah istrinya melahirkan anak pertamanya, tahun 1981 Pak Kaslari memutuskan pulang ke Desa Wonopringgo dan membuka warung nasi gorengnya di depan Koramil Wonopringgo. Meskipun sudah berumur, beliau masih terlihat semangat mengaduk olahan nasi gorengnya sepanjang acara di Pos 1.

“Hanya gerobak nasi goreng kami yang memakai lampu petromak minyak tanah di Wonopringgo,” jelas Bang Ipul ketika saya mengutarakan keunikan gerobaknya. Dia unjuk kebolehan memasak dan menjaga standar kelezatan olahan nasi goreng bersama bapaknya di depan tamu undangan dan VIP. Teknik mengaduk nasi dan meracik bumbu dipelajari dari bapaknya yang sudah memutuskan untuk mengurangi aktivitas memasak nasi goreng mengingat bertambahnya umur.

Adanya regenerasi dalam dunia nasi goreng menutup rasa kangen saya terhadap Nasi Goreng khas Desa Wonopringgo. Rasa-rasanya festival kuliner semacam ini tidak akan pernah bikin bosan untuk terus dikunjungi. Betul? Siapa sih yang bisa menolak nasi goreng gratis? 😉

Advertisements

9 Comments Add yours

  1. Weh, menarik juga yak. Ketika sebagian besar masyarakatnya merantau untuk menjual nasi goreng, mereka bikin festival nasi goreng. Artinya, kemampuan memasak nasi gorengnya sudah diakui.
    Di Lamongan bikin festival Pecel Lele atau Soto mantap nih haha

    Like

    1. Bisa tuh Lamongan dibikin festival kuliner khas juga. Atau Festival Makan Wingko Babat biar Babat mendunia, Lan. 😀

      Liked by 1 person

  2. Sungguh, surga bagi para pencinta nasi goreng…
    Mesti icip sesendok-sesendok aja ini tiap nasi goreng biar bisa ngerasain semua kekhasannya.. Itu pun mungkin udah kenyang di nasgor ke10.. haha

    Like

    1. Bagi pencinta nasi goreng, Festival Nasi Goreng Wonopringgo wajib banget didatengin deh. Tahun depan kalau ada festival ini dateng yok, mas. 😀

      Like

  3. adi pradana says:

    Waini, nasi goreng, saya suka saya suka

    Like

    1. Menyenangkan banget kalau penggemar nasi goreng lihat Festival Nasi Goreng kayak gini. Bikin ngiler dan pingin cicip semuanya hehehe.

      Like

  4. Lutfi Retno says:

    Wuaa keren. Desanya bisa menyiapkan lebih dari 3.000 piring nasi malah. Ramai sekali pasti. Dari ceritanya saja sudah ketahuan. Ngobrol-ngobrol, bumbunya sama atau beda-beda tergantung selera pemasaknya ya? 😀

    Like

    1. Bumbu sausnya disamakan agar mereka tidak kerepotan mengulek bumbu dasar waktu memasak bareng, tapi tambahan kecap dan bumbu lain menyesuaikan keahlian masing-masing pedagangnya. Ayok hadir di Festival Nasi Goreng mendatang. 😀

      Like

  5. Ikhwan says:

    Kreatif juga ya desanya, kebijakan ga boleh bawa minuman dari luar ngebantu banget buat warga yang berjualan kelontongan.
    Salut juga desanya punya website sendiri yang kontennya ternyata ga main-main.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.