Romansa Rumah Tua Parakan

Rasa-rasanya begitu mudah mengucapkan kalimat gombalan ketika sedang kasmaran. Rumah mewah ini kubangun demi kebahagiaanmu dan anak-anak. Halaman luasnya kelak akan menjadi saksi rasa sayangku padamu. Gombalan-gombalan yang mungkin diluapkan sebelum kecintaan terhadap suatu hunian menjadi hambar seiring berjalannya waktu. Memudar perlahan hingga kandasnya kebahagiaan pun tidak terelakkan lagi.

rumah tua Parakan
rumah juragan tembakau

“Rumah ini akan dijual,” jelas seorang bapak paruh baya sembari mengizinkan saya mengambil gambar dan masuk ke dalam rumah berplat nomor sembilan. Alasan yang dilontarkan cukup sederhana, keturunan pemilik rumah menghendaki pembagian warisan secepatnya. Sedetik kemudian saya memandang wajah-wajah dalam pigura yang terpaku di samping altar sembahyang. Kakek berjenggot memakai baju koko, nenek bersanggul dengan jubah kebesarannya, dan foto seorang lelaki berkumis mengenakan tuksedo. Semua menatap kosong seolah-olah sudah tidak peduli lagi siapa yang masuk ke dalam rumahnya.

Dua kamar utamanya memiliki pintu menghadap halaman tengah. Dua lainnya berada di seberang halaman. Televisi tabung, sofa reyot, dan meja kecil berlapis marmer masih menghiasi ruang tengah dari hunian berlanggam Indish dengan sentuhan arsitektur Tionghoa tersebut. Saya hanya menduga rumah ini hanya sebuah paviliun atau rumah pendamping bangunan utama. Tidak lama kemudian saya diajak masuk halaman samping rumah pertama yang terhubung oleh sebuah pintu kecil.

Turut dijelaskan pula bahwa jajaran rumah-rumah yang saya lihat sekarang masih satu kompleks dengan sebelumnya. Lalu dia menunjuk sebuah bangunan cukup besar di halaman paling belakang yang disebutnya sebagai bekas gudang tembakau pemilik pertamanya. Bisa dibilang kompleks rumah tersebut membentang dari gang utara hingga tembus jalan gang di sisi selatan!

Jika pada tahun 2015 saya hanya singgah sebentar dan memandang kecamatan di Kabupaten Temanggung tersebut secara umum, kali kedua tahun 2018 saya bersama beberapa kawan pencinta sejarah berpusat pada bangunan-bangunan yang telah mendukung Parakan dinobatkan sebagai salah satu kota pusaka yang tergabung dalam JKPI (Jaringan Kota Pusaka Indonesia).

Parakan masih saya anggap sebagai kota pusaka yang rendah hati dan siap membuat jatuh cinta siapa saja yang tertarik dengan rumah-rumah tua. Memiliki letak geografis di lereng Gunung Sumbing memberi nilai tambah Parakan sebagai daerah berhawa sejuk dan nyaman hidup menua di sana. Salah satu rumah di Parakan Wetan yang saya ceritakan di atas hanyalah pemanasan. Tidak semua bangunan di Parakan memiliki akhir kurang bahagia seperti itu.

Klenteng Hok Tek Tong yang berfungsi sebagai tempat beribadah tridharma Parakan masih dalam kondisi terawat hingga sekarang. Klenteng yang beralamat di Jalan Letnan Suwaji tersebut diperkirakan dibangun tahun 1830-an. Sejarahnya diawali dengan kisah dari mulut ke mulut yang mengisahkan bagaimana patung dewa bumi Tho Tek Kong/ Hok Tek Cin Sin yang dibawa oleh seorang Tionghoa totok dari Semawung, Purworejo dianggap telah menyelamatkan warga Parakan dari musibah banjir besar.

Melalui kesepakatan 36 kepala keluarga di sana, dibangunlah sebuah klenteng di sebelah timur Desa Banjarsari yang letaknya berdekatan dengan Kawedanan Parakan (setingkat kantor pembantu bupati). Klenteng yang kemudian memuja dewa bumi itu diberi nama Hok Tek Tong. Tionghoa totok yang dianggap berjasa membawa toapekong diberi izin untuk tinggal dan diangkat jadi biokong atau juru kunci klenteng.

Klenteng berpintu utama satu ini telah melewati beberapa pemugaran. Leutenant Tionghoa Parakan yang bernama Lie Tiauw Pik (ayah dari Kapiten Tionghoa Lie Tjoen Khian) pernah memugarnya tahun 1844. Lalu atas prakarsa The A Tauw, pada tahun 1966 klenteng kembali direnovasi dan halaman depan ditata menjadi lebih rapi dan lapang. Terakhir dipugar besar-besaran pada tahun 2009 hingga terlihat cantik seperti sekarang dengan warna dominan merah dan kuning sebagai lambang warna kesejahteraan dan kemakmuran.

Dari klenteng kami beranjak ke Omah Tjandie “Goyong Royong” yang kini didiami oleh keluarga Eko Wardojo. Rumah yang dibangun oleh Hoo Tiang Bie sekitar tahun 1850-an tersebut pernah menjadi tempat tinggal Lauw Djeng Tie, pendekar kunthaw asal Khee Thao Kee, Hokkian, Tiongkok. Dari sejarah itulah rumah ini sering disebut dengan Rumah Kung Fu. Cukup panjang jika bercerita bagaimana sepak terjang pendekar Shaolin ahli bela diri, tenaga dalam, dan pengobatan tersebut.

Singkatnya Lauw Djeng Tie (1855-1921) berlayar ke Hindia Belanda setelah berusaha melindungi adik sepeguruannya dengan menendang kemaluan lawannya hingga tewas. Beliau berpindah-pindah dari Batavia, Semarang, Kendal, Ambarawa dan Wonosobo mengadu nasib dan berkerja sebagai tukang obat. Pada usia 30 tahun, Lauw Djeng Tie baru menetap ke Parakan. Pertamanya beliau menumpang di rumah Ang Tjeng di Handel-straat (Gamblok), kemudian pindah ke rumah Hoo Tiang Bie di Jalan Demangan. (dikutip dari buku ‘Hikayat Lauw Djeng Tie’ karya Tjioe Khing Soei)

Hoo Tiang Bie sendiri adalah pedagang tembakau yang tertarik dengan keahlian bela diri Lauw Djeng Tie. Di halaman rumahnya, Lauw Djeng Tie diperbolehkan membuka perguruan Garuda Mas dan mengangkat murid-murid baru termasuk putra Hoo Tiang Bie yang bernama Hoo Tik Tjay. Kelak Lauw Djeng Tie yang tidak memiliki keturunan mengangkat Hoo Tik Tjay (1888-1952) sebagai anak angkat dan memberinya nama baru, Hoo Liep Poen.

Omah Tjandie ‘Gotong Royong’ masih menyimpan sebagian senjata dan peralatan kung fu sisa perguruan Garuda Mas. Pak Eko Wardojo sebagai buyut dari Hoo Liep Poen mempertahankan bentuk asli dari rumah leluhurnya. Keluarganya hanya merenovasi lantai semen menjadi berlapis keramik, lalu memperbaiki ruang tengah agar tampak lebih lapang. Lukisan-lukisan di beranda depan tetap tertempel seperti aslinya mirip dengan latar foto lawas milik murid Lauw Djeng Tie puluhan tahun silam.

Berbagai label dan stempel produk obat serta alat membuat minyak gosok warisan Lauw Djeng Tie pun masih mewarnai rak kayu di bagian belakang rumahnya. Sayang obat gosok dan parem resep Lauw Djeng Tie sudah berhenti diproduksi sejak tahun 2015. Pak Eko kini fokus dengan produksi kue bolu kering dan mempertahankan satu produk minyak gosok ‘Tjiet Lie Ju’ isi delapan mililiter untuk mengobati pegal linu.

Selanjutnya kami berjalan menuju bekas rumah saudagar di Jalan Gambiran yang punya letak bersebelahan dengan Rumah Kung Fu. Saking kerennya, rumah dengan dua langgam tersebut masuk dalam buku berjudul Chinese Houses of Southeast Asia: The Eclectic of Sojourners and Settlers yang ditulis oleh Ronald G. Knapp, disandingkan dengan rumah Tjong A Fie di Medan. Lalu apa yang membuatnya istimewa?

Bangunan megah yang pernah dihuni oleh keluarga besar Siek Oen Soei memiliki dua rumah utama yang masing-masing dibangun dengan gaya yang berbeda. Kompleks rumahnya terbentang dari Jalan Demangan hingga Jalan Gambiran. Rumah pertama bergaya Indish punya pintu utama menghadap Gunung Sumbing di sisi utara, sedangkan rumah kedua yang kental sentuhan arsitektur Tionghoa berpunggungan menghadap ke arah selatan.

Siek Oen Soei sukses dengan bisnis beras dan tembakaunya di Parakan. Jika dirunut silsilah keluarganya, semua terbilang kaya berkat insting perdagangan hasil bumi yang melimpah dari lereng Sindoro-Sumbing. Kisahnya berawal dari pemuda asal Shanxi, Tiongkok bernama Siek Hwie Soe yang merantau ke Parakan pada tahun 1821. Siek Hwie Soe yang menikahi anak perempuan majikannya mewarisi bisnis gambir yang kala itu dibutuhkan sebagai pewarna kain.

Tak lupa dengan sanak saudara, setelah sukses dan menyempatkan pulang Tiongkok, Siek Hwie Soe memboyong keponakannya yang bernama Siek Tiauw Kie (ayah Siek Oen Soei) ke Parakan. Siek Hwie Soe yang wafat tahun 1882 telah mendirikan firma Hoo Tong Seng Kie di Semarang yang kemudian diwariskan ke anaknya, Siek Tjing Liong. Sementara firma Hoo Tong Kiem Kie di Parakan diserahkan kepada Siek Tiauw Kie.

Dari ketiga anak Siek Tiauw Kie, hanya Siek Oen Soei (1861-1948) yang akhirnya mendiami rumah berlanggam indish yang diperkirakan dibangun tahun 1890-an tersebut. Rumah pertama dengan sedikit gaya Eropa memiliki empat kamar utama yang daun pintunya saling deret dan berhadap-hadapan. Di tengahnya berfungsi sebagai ruang makan keluarga. Barang antik seperti vynil pemutar piringan hitam, patung bergaya Romawi, dan ubin timbul warna-warni adalah sisa peninggalan keluarganya.

Ada sumber mengatakan, sepulangnya perjalanan liburan dari Tiongkok, Siek Oen Soei memutuskan membangun rumah menghadap selatan dengan desain Tionghoa sebagai wujud kepedulian terhadap tanah leluhurnya. Rumah kedua dibangun menuruti feng shui, tidak seperti rumah pertama yang arahnya menghadap gunung dan memiliki pintu-pintu yang berjajar lurus, semua dianggap membawa energi negatif menurut kepercayaan Tiongkok. Sepasang patung kilin menghiasi tangga masuk beranda depan. Empat kamarnya memiliki pintu yang tidak berderet lagi dan sudah diatur tata ruangnya agar sirkulasi udara bisa masuk dari segala arah.

Untuk ruang tengah rumah kedua sudah sedikit berubah fungsi. Ruang keluarganya memiliki meja altar patung Buddha yang digunakan sembahyang para pengikut Ekayana Buddhist Centre, pemilik sekarang. Siek Oen Soei yang meninggal di Yogyakarta tahun 1948 mempunyai tiga istri dan banyak anak. Beliau mewariskan rumah Gambiran ke salah satu anak dari istrinya Go Kwie Hwe, bernama Siek Bian Bie (1910-1989). Malang rumah ini justru dikosongkan selama puluhan tahun setelah Siek Bian Bie dan keluarganya pindah ke Jakarta ketika terjadi Agresi Militer Belanda II tahun 1948.

Pada tahun 2006 pihak Ekayana Buddhist Centre membeli rumah peninggalan keluarga Siek Oen Soei. Mereka sadar nilai cagar budaya, menjaga dan mau mempertahankan keaslian bangunan berumur lebih dari seratus tahun itu. Pimpinannya hanya menaruh beberapa perabot antik koleksinya menyesuaikan interior bangunan. Perlengkapan tidur ditambahkan ke dalam kamar-kamar samping bekas tempat tinggal istri dan anak-anak Siek Oen Soei guna banthe-banthe melakukan meditasi dan istirahat di rumah retret mereka.

Meskipun kecintaan pemilik lama terhadap rumah leluhurnya telah pudar, ada secercah harapan baru dari pencinta rumah tua. Mungkin catatan sejarah keluarga itu akan hilang ditelan waktu, tapi saya percaya dengan perhatian dan kasih sayang yang diluapkan oleh pemilik baru akan membuatnya merasakan kembali apa arti sebuah kebahagiaan. 😉

Advertisements

39 Comments Add yours

  1. Baru mau tidur, eh nemu tulisan ini. Liputannya ciamik mas. Bulan lalu aku singgah ke Parakan, tapi cuma mampir ke Stasiun saja, tidak sempat ke rumah tua karena diburu waktu harus kembali kerja ke Jakarta.

    Ah, liputan ttg rumah tua kadang bikin saya jadi meringis. Zaman berganti. Generasi muda dari keturunan pemilik rumah biasanya berpikir dua kali buat menetap. Tak jarang, banyak yang memilih merantau dan membiarkan rumahnya kosong, persis seperti yang aku jumpai di Lasem bulan lalu.

    Liked by 1 person

    1. Deja vu yang terus berulang tanpa penyelesaian jika berbicara mengenai pelestarian rumah tua di Indonesia. Kurangnya kesadaran pemilik bahwa rumah tuanya bernilai sangat tinggi bagi sejarah dan pariwisata. Kadang iri dengan Malaysia yang memiliki Penang, Malaka, dan Ipoh yang sudah unggul di segi pengelolaan heritage-nya. Vietnam punya Hoi An, Filipina punya Vigan yang masing-masing sudah diakui sebagai world heritage UNESCO. Indonesia entah kudu menunggu berapa puluh tahun lagi. 🙂

      Like

    2. Mgkin apakah karena pembangunan yang tidak merata juga kali ya. Jika daerah bisa maju, maka generasi muda tidak akan pindah ke kota. Mereka akan stay d tempat asalnya dan berkarya di sana. Tp, mgkin jg pola pikir bahwa penghidupan di kota lebih baik turut menjadi faktor, saling berkelindan.

      Aku malah pgen banget keluar dri Jkt dan pulang ke daerah hehehe

      Like

    3. Perlu dedikasi tinggi bagi anak muda zaman now agar mencintai tanah asalnya. Kadang bertanya-tanya sendiri kenapa banyak yang tergoda hidup di kota lebih besar yang menjanjikan kesejahteraan, padahal gaji besar diimbangi pengeluaran di sana pun terasa lebih miskin dibanding dengan yang mau berusaha menjalankan UMKM di desa asalnya. Eh ini keknya kudu rangkum materi penyuluhan biar anak muda desa mau bertahan di kampungnya. Ayo mbangun deso (terus jadi keinget ajakan mantan gubernur Jateng ini). Hahaha.

      Like

    4. Wkwkwkwkwk. Bali Ndeso, Bangun Ndeso.
      Tp emg pada dasarnya manusia sulit puas wkwk. Aku yang di kota ngebet banget malah pindah ke desa haha. Yang di desa ngebet ke kota. Hihihihi

      Liked by 1 person

  2. Eko Nurhuda says:

    Beberapa bulan lalu aku dibuat sedih ketika melintasi kawasan Menteng lihat ada banner “DIJUAL” terpampang di sebuah rumah model Indish. Rumah tua, terlihat sekali dari arsitektur dan halamannya yang luas. Semoga pembeli rumah itu orang yang sadar akan nilai sejarah dan budaya, sehingga tidak menghancurkannya dan membangun bangunan baru nan (konon) modern di atasnya. Melihat rumah tua di Parakan ini terasa sekali damai, banyak cerita yang bisa dikisahkan sembari jadi pembelajaran untuk generasi muda seperti kita. Ah, tapi di Pemalang pun belum lama ada satu rumah tua yang dijual dan oleh pemilik baru bakal diruntuhkan karena hendak dibangun hotel di atasnya.

    Like

    1. Padahal kompleks perumahan di Menteng yang tata ruangnya keren itu bisa jadi kawasan heritage Jakarta yang bisa dibanggakan kelak. Miris pas dengar berita bahwa wakil presidennya justru ikut mendukung penghancuran rumah di sana. Kualitas bahan bangunan dan nilai arsitekturnya tidak akan bisa disamai oleh arsitek sekarang.

      Pemalang masih punya pabrik gula nggak, bung Eko? Jadi pingin main ke Pemalang dan eksplorasi sana nih.

      Liked by 1 person

    2. Eko Nurhuda says:

      Ada, namanya Pabrik Gula Sumberharjo. Masih menyimpan satu lokomotif untuk lori dari akhir abad 19. Tahun 1800-an akhir. Konon produsennya sendiri malah gak nyimpen seri itu, begitu tahu di Sumberharjo masih ada mau diminta.

      Liked by 1 person

  3. Andi Oen says:

    Ah Parakan…di mana waktu seakan enggan beranjak dari sana. Sempat 3 bulan ditugaskan di kantor Temanggung. Kadang kalau sore mlipir ke Parakan untuk klinong2 muterin kotanya dan juga sekaligus kulineran..
    Benar2 perfect place untuk menua tapi dengan catatan menua yang udah jaya…hahaaa…

    Like

    1. Ngerti ngunu pas dirimu tiga bulan tugas di sana, daku melu dolan Temanggung-Parakan trus numpang turu ya hahaha. Masih ada sisi Kedu yang menarik disambangi, sisa jembatan rel keretanya juga bikin nuansa damai nan syahdu. 🙂

      Like

  4. Charis Fuadi says:

    aku belum bisa mengurai keberadaan rumah rumah bersejarah itu…parakan masih punya banyak cerita yg prang temanggung sendiri tdk tahu ceritanya hahaha

    Like

    1. Kampung pecinannya ngumpul nggak jauh dari klenteng, sementara Kauman atau sekitar Jalan Bambu Runcing justru memiliki keterkaitan dengan keberadaan Kyai Parak dan pejuang bambu runcing. Ayo eksplor bareng Parakan, bro. 😀

      Like

  5. anisfa says:

    Pertama kali lihat foto tanpa baca, aku pikir ini di Malaka loh.

    Like

    1. Kalau boleh jujur, sebenarnya bangunan peninggalan bersejarah di Indonesia nggak kalah dengan luar negeri. Hanya kurang bisa dikemas dengan baik jadi udah melempem sebelum terkenal. Hehehe.

      Like

  6. dwisusantii says:

    Jadi rumah tua itu tetep mau dijual mas? 😦
    Oh ya mas, apakah rumah tua khas Tionghoa pasti menaati aturan feng shui? Tentang feng shui ini dulu aku pernah rajin menyimak di salah satu acaranya metro*tipi, tapi entah sekarang masih ada engggak. Menarik 🙂

    Aku tiap liat rumah tua sekarang ingat dirimu mas wkwkwk

    Like

    1. Feng shui zaman modern gini masih ada yang kekeuh menaati, tapi ada juga yang udah nggak percaya begituan. Sebenarnya sih penalaran dari feng shui lebih ke tingkat kenyamanan tinggal, seperti rumah yang tusuk sate, karena letaknya rawan ditabrak kendaraan yang melaju lurus kencang maka harus diberi cermin di depan rumah. Realistisnya cermin membantu pengemudi waspada dan sadar kalau di depannya ada sesuatu. Kurang lebih seperti itu. 😀

      Like

  7. kalau lihat beginian tuh bikin ngiler, pengin memandang lekat2 sampai puas, btw lengkap bener infonya? dari mana dapat materinya?

    Liked by 1 person

    1. Info sejarahnya kurangkum dari beberapa sumber agar lebih enak dibaca dan dipahami awam. Sejarah lebih asyik dipelajari jika melihat langsung tempat kejadian dan menuangkan rasa yang ada, kan? 😉

      Liked by 1 person

  8. sangat indah sekali rumahnya yah…terkesan jadul tapi keren… nice juga foto-fotonya

    Like

    1. Terima kasih atas kunjungannya, kak Wira. Trust me, rumah tua tidak pernah bikin bosan, malah selalu berhasil meracuni wisatawan yang awalnya kurang suka bangunan tua jadi tergila-gila dengan mereka. 😀

      Like

    2. denawa says:

      Speechless saya bacanya mas….hehe…dua artikel tentang Parakan ngingetin masa kecil saya di sana…rumah nenek saya deket dari Gambiran situ, dulu saya pernah masuk ke salah satu bangunan tua di Gambiran itu, ternyata di dalamnya masih tersimpan mobil tua, ga tau sekarang masih ada atau nggak.
      Btw ga sempet mampir bekas gedung bioskop mas? Itu bangunan nya juga khas lho…hehe…
      Btw terimakasih udah bantu mengenalkan Parakan ya mas.

      Liked by 1 person

    3. Terharu membaca komen ini. Senang bisa membantumu bernostalgia dengan Parakan. 🙂 Bekas bioskop Parakan belum rata dengan tanah, tapi pintunya sudah ditutup rapat. Saya hanya bisa melihat bangunan luarnya saja dan bercakap-cakap dengan penjual warung di depannya. 🙂

      Like

  9. Malah Parakan menggoda da mempunyai banyak peninggalan yang nggak kalah ajibnya dibanding Lasem ahhahahah. Kudu rono;

    Like

    1. Karakter antara penduduk pedalaman (Parakan) dan pesisir seperi Lasem juga beda jauh. Pemilik rumah tua di Parakan lebih terbuka, mau bercerita panjang tentang rumah mereka dan tidak segan membawa masuk tamunya untuk melihat isinya. 🙂

      Like

  10. Wah, Koh, gombalan pembukanya bisa ditiru itu. Wkwkwkw
    Sayang ih kalo mau dijual. Rasanya pengen tak beli aja terus aku jadiin cagar budaya itu rumahnya. Sayang e ra nduwe uit. 😦

    Like

    1. Mumpung lagi tren gombalan Dilan, mari latihan menggombal hahaha. Babat isih akeh bangunan tua nggak? Jadi pingin intip daerah kono kih. 🙂

      Liked by 1 person

    2. Aduh, wes abis, Koh. Asli aku juga sedih. Satu-satunya yang ada tinggal CTN, itu pun tak terawat. Asli aku nggak tau harus gimana 😦

      Liked by 1 person

  11. Andi Oen says:

    Kopeng akeh villa2 tua peninggalan jaman londo lim..

    Liked by 1 person

    1. Waaa ajaki mrono hunting villa tua, bro. 😀

      Like

  12. AR Meinanda says:

    Ulasan yang keren seperti biasanya, Mas. Saya meng-amini paragraf terakhir. Di manapun, semoga anak muda Indonesia, terutama pewaris, sadar untuk menjaga aset-aset sejarah. Jadi ingin berkunjung ke Parakan.

    Liked by 1 person

    1. Parakan memiliki pesona bangunan tua yang memikat. Nggak nyesel setelah sampai sana ketemu dan berbincang dengan pemilik rumah yang siap membuka pintu rumahnya. 🙂

      Like

  13. Saya malah baru tau kalo ada kota yang bernama Parakan.
    Ternyata kota kecil ini menyimpan banyak sekali jejah sejarah yang menarik.

    Like

    1. Temanggung sebagai pusat administratif kabupaten memiliki bangunan-bangunan penting yang pernah mendorong perekonomian warga di sana. Namun Parakan pun tidak kalah menarik, apalagi sejarah Lauw Djeng Tie yang begitu melekat di kecamatan yang memiliki hasil bumi dan tembakau yang melimpah hingga kini. Ayo main ke Parakan, mas Rudi. 🙂

      Like

  14. Gara says:

    Keren banget tulisannya, Mas. Manteplah, saya jadi berasa ikutan jalan-jalan, keliling Parakan, kagum dengan satu jalan tapi isinya bangunan lawas semua, yang megah-megah juga, membuktikan bahwa masyarakat di sana pada masa itu sangat berkecukupan penghidupannya. Balik lagi ke soal ekonomi, berarti daerah ini punya dua keunggulan di masa lalu ya, selain pusat ekonomi juga menawarkan alam yang bagus karena udaranya yang cukup sejuk. Mudah-mudahan suatu hari nanti bisa ke sana juga. Temanggung sudah sekian lama saya incar tapi belum pula diizinkan Tuhan untuk bertandang ke sana, haha.

    Like

    1. Uhuyyy kangen deh komentarnya Gara yang panjang gini. 😀 Andai kala itu pemerintah Hindia Belanda jadi memindahkan pusat pemerintahannya ke Purworejo, bukan merencanakan pindah ke Bandung, mungkin wilayah Kedu sampai Parakan akan menyandang status sebagai kota pensiun yang dipenuhi villa-villa untuk mereka rehat. Sayangnya rencana tinggal rencana. Kemudian Parakan berkembang sebagai kawedanan yang mengurusi perkebunan tembakau yang subur saja. 😉

      Like

    2. Gara says:

      Heh ada rencana pemindahan ke Purworejo? Wah saya baru tahu, hihi. Mungkin bisa Mas, jelajah Purworejo, terus dibahas yang soal ini lebih dalam, hehe. Tak tungguin deh.

      Liked by 1 person

  15. Himawan Sant says:

    Rumah tua ini apik banget bangunannya.
    Sangat disayangkan kalau sampai dirubuhkan.
    Seharusnya bangunan-bangunan seperti ini masuk sebagai cagar budaya ya…

    Like

    1. Parakan sudah diakui sebagai kota pusaka di Indonesia. Seharusnya beberapa rumah di sana sudah terdaftar sebagai cagar budaya yang tidak bisa diubah apalagi dibongkar demi kepentingan egois pemilik yang baru. Mudah-mudahan rumah-rumah tua di sana bisa bertemu dengan pemilik baru yang peduli dengan kecantikan alaminya. 😀

      Like

  16. ndesoedisi says:

    kalau rumah-rumah tua peninggalan keluarga seperti ini sebenarnya terbuka untuk umum siapa aja boleh melihat kedalam tentu saja dengan seizin penunggu atau khusus untuk orang-orang yang punya garis keturunan sama ?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s