Kala Kereta Api Argo Lawu Menyebar Aroma Kopi Seduh

Stasiun Solo Balapan terlihat lenggang pagi itu. Matahari enggan menampakkan diri, awan kelabu sebagai gantinya. Namun aktivitas penumpang tetap berjalan seperti biasanya. Sebagian kerumunan penumpang sudah masuk ke dalam gerbong penumpang Prameks jurusan Solo-Yogya pukul 07.20 WIB, sedangkan sebagian masih menunggu datangnya Kereta Api Argo Lawu dengan jadwal keberangkatan pukul 08.00 WIB.

Ketika KA Argo Lawu tiba, saya tercengang melihat wajah baru kereta jurusan Solo Balapan – Gambir itu. Gerbong kereta eksekutif buatan PT INKA tampil dengan desain minimalis dan lebih segar. Kursinya bisa direbahkan, lalu jarak antar kursi tidak terlalu mepet sehingga kaki bisa selonjoran dengan nyaman. Satu-persatu penumpang pun masuk dan duduk sesuai nomor kursi yang telah dipesannya.

Selewat Stasiun Tugu Yogyakarta, dua pemuda yang berprofesi sebagai tukang seduh kopi mulai menunjukkan kebolehannya. Perkenalkan, yang berambut gondrong akrab dipanggil Nanda mewakili Waiting Love sc, sedangkan satu lagi bernama Indra mewakili Cekopi. Keduanya adalah barista asal Solo yang ditugaskan menyeduh kopi selama kegiatan Ngopi Bareng KAI berlangsung di KA Argo Lawu.

Terhitung dari tanggal 30 sampai 31 Januari 2018, PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) bekerja sama dengan Komunitas Kopi Nusantara memperkenalkan potensi kopi lokal Indonesia. Waiting Love sc yang kedainya terletak di belakang kampus UNS dan Cekopi di Mendungan belakang SMAN 2 Pabelan Sukoharjo hanya dua di antara sepuluh kedai kopi Kota Solo yang mendukung jalannya rangkaian kegiatan Ngopi Bareng KAI.

Acara ini tidak hanya dilakukan di atas gerbong kereta saja, melainkan ada ruang seduh sementara yang sengaja didirikan di dalam Stasiun Solo Balapan. Jadi delapan lainnya (Pacewetan, Agave Coffee, Kopi Lawu, Djavanic Coffee, Home Coffee Roastery, Kopi Jayeng, Finest Coffee, Ebid Coffee) melakukan aksi menyeduh ratusan cangkir kopi di dalam ruang tunggu stasiun.

Pun tidak hanya Stasiun Solo Balapan dan KA Argo Lawu saja yang terlibat selama dua hari berturut-turut, ada Stasiun Tugu Yogya, Jakarta Gambir dan Pasar Senen, Bandung, Malang, Surabaya Gubeng dan Pasar Turi, Tegal, Cirebon, Semarang, Malang, hingga Jember dengan masing-masing kereta jarak jauh maupun kereta lokal yang mewakili. Totalnya ada 40 pemberangkatan kereta di tiga belas stasiun di sebelas kota besar di Jawa.

Gerbong kereta makan atau Restorasi Kereta Api (Reska) yang semula menjadi tempat kru Reska dan prami (sebutan pramugari kereta) melayani penjualan makanan mendadak sebagian ruangnya diramaikan oleh kedua barista di samping saya. Jajaran gelas-gelas karton dengan tulisan “Ngopi Bareng KAI 50 K” mulai diletakkan di meja bar. Bungkus biji kopi jenis robusta dibuka dan isinya digiling sampai setengah halus. Aroma roasting yangΒ keluar langsung mengundang rasa penasaran mbak-mbak prami yang sedari awal mengamati aksi barista.

Metode penyeduhan yang Nanda dan Indra gunakan adalah metode pour drip dengan alat bantu V60. Pertama-tama paper filter (kertas filter) diletakkan ke V60 yang berbentuk cangkir berlubang dan mengerucut ke bawah. Kertas akan disiram air panas terlebih dahulu supaya aroma kertas tidak tercampur dengan aroma kopi. Setelah itu biji kopi yang sudah digiling akan dimasukkan ke dalamnya. Air mendidih dari teko dituangkan secara perlahan dengan gerakan melingkar hingga membasahi kopi.

Terbilang tidak mudah menyeduh kopi secara manual di atas kereta api. Gerbong Reska Argo Lawu yang terletak di antara gerbong penumpang nomor empat dan lima selalu berguncang sepanjang perjalanan. Guncangan mulai berkurang saat laju kereta melambat di jalur tertentu atau tengah berhenti di stasiun untuk mengangkut penumpang baru. Selebihnya barista harus belajar tenang seperti kru Reska yang sudah terbiasa berjalan anggun menyusuri gerbong-gerbong membawa troli dan nampan makanan tanpa menumpahkannya.

Oh ya, selama acara berlangsung, kopi yang mereka seduh di gerbong Reska dibagikan secara cuma-cuma kepada penumpang yang telah mengunduh aplikasi KAI Access melalui Google Play Store atau App Store. KAI Access sendiri merupakan layanan baru PT KAI yang mudah diakses melalui gawai. Pemesanan tiket, pemesanan makanan hingga pemilihan kursi penumpang bisa langsung diproses di sana. Hanya perlu menunjukkan bukti sudah mengunduhnya di gawai masing-masing maka secangkir kopi bisa dibawa dan dinikmati oleh penumpang.

Ada banyak cerita saat satu-persatu cangkir kopi sampai ke tangan para penumpang KA Argo Lawu. Ada yang sudah mengetahui perihal promo ngopi gratis melalui media sosial yang mereka miliki, ada pula yang baru mengunduh aplikasi setelah kru Reska memberitahunya tentang pembagian kopi gratis pagi itu. Salah satu penumpang yang bernama Anna asal Solo mengungkapkan bahwa beliau sebagai penikmat kopi hitam merasa senang dengan promo tersebut meski sesekali dia mengeluh harus berjalan jauh dari gerbong penumpang nomor satu menuju gerbong kereta makan.

Berbeda dengan seorang penumpang dari Tugu Yogyakarta yang sangat antusias menerima secangkir kopi gratisnya ketika kereta api melewati Stasiun Kutoarjo. Bapak asal Toraja tersebut sangat menikmati dan menyesap perlahan kopi robusta Bowongso Wonosobo seduhan Indra. Pengetahuannya tentang dunia perkopian diluapkan di depan kedua barista. Saking antusiasnya, beliau berharap barista juga menjual sachet kopi yang bisa dibawa pulang sebagai buah tangan.

Memang acara Ngopi Bareng KAI tidak sekadar membagi kopi gratis dengan target 50.000 cangkir saja, pendukung acara juga diberi kebebasan menjual produk-produk kopinya. Nantinya 10% keuntungan penjualan produk akan disumbangan ke daerah yang terindikasi mengalami masalah gizi buruk. Waiting Love sc milik Nanda hanya menjual cold brew dua rasa origin dan kopi susu dengan harga Rp20.000 perbotolnya, tidak menjual kopi bubuk yang sudah dikemas.

Jelang tengah hari, setelah KA Argo Lawu melewati Stasiun Purwokerto, gerbong Reska mulai diramaikan oleh penumpang yang hendak membeli nasi kotak maupun penumpang yang mengantre cangkir demi cangkir kopi robusta seduhan Nanda dan Indra. Cukup sederhana alasan yang mereka ucapkan ketika saya menanyakan kenapa memilih kopi robusta dari Kopi Sedulur dalam rangkaian acara Ngopi Bareng KAI? Karena lidah orang Indonesia masih terbiasa dengan kopi rasa pahit. Jika kopi jenis arabika yang memiliki rasa sedikit asam diseduh, takut tidak memiliki ruang seluas robusta.

Beberapa penumpang yang saya tanya bagaimana rasa dari kopi yang mereka seruput pun mengatakan kopinya pahit dan enak. Tidak banyak dari mereka yang memahami betapa kayanya jenis kopi asli Indonesia yang terbentang dari Sumatra hingga Papua. Dalam kesempatan ini memang barista di KA Argo Lawu hanya mengenalkan kopi jenis robusta dari Bowongso, Wonosobo karena keterbatasan ruang seduh dan lama perjalanan, tapi di kereta jurusan lain dan stasiun di beberapa kota ada ragam kopi Indonesia yang mereka seduh.

Setibanya di Stasiun Gambir, Jakarta, pukul 16.27 WIB, saya pun memutuskan istirahat sembari berkeliling di ruang tunggu stasiun yang sedari pagi sudah diramaikan oleh lapak seduh dari berbagai kedai kopi asal DKI Jakarta. Sama seperti apa yang ditawarkan oleh barista di atas kereta, mereka menyeduh kopi tanpa ampas dan kopi tubruk sesuai selera penikmat kopi. Sebagian besar metode yang mereka gunakan juga sama, V60 dan aeropress. Bedanya produk yang mereka jual lebih beragam, dari cold brew, alat dripping, hingga sirup kopi.

Tiga setengah jam kemudian saya kembali menyapa kru dan mbak-mbak prami yang sudah berdiri manis di depan gerbong penumpang KA Argo Lawu. Formasi mereka masih berlima sama seperti rute keberangkatan tadi pagi, Galang Prasetya sebagai kapten restorasi, Galung, Irlina, Erlinda, dan Falentina. Hanya masinis, kondektur, polsuska (polisi khusus kereta) dan teknisi saja yang turun dan ganti posisi di tiap stasiun pergantian wilayah DAOP yang dilewati KA Argo Lawu (Purwokerto atau Cirebon).

Tepat pukul 20.15 WIB, KA Argo Lawu bertolak menuju Stasiun Solo Balapan. Prami-prami mulai membagikan selimut kepada seluruh penumpang di tiap gerbong. Dua barista, Nanda dan Indra telah bersiap dengan alat seduh kopinya untuk menyambut penumpang yang akan ngopi gratis hingga ditutup pukul sepuluh malam. Aroma wangi kopi seduhan mereka sekali lagi menyusup masuk ke dalam gerbong-gerbong penumpang dan menunggu kedatangan para penikmat kopi lokal Indonesia. πŸ™‚

Advertisements

32 Comments Add yours

  1. Ah, kopi aromanya memang tak pernah bilang sama sekali, seperti event KAI yg masih bikin kangen naik kereta.

    Like

    1. Setelah mengamati proses seduh para barista jadi punya keinginan beli V60 lalu coba menyeduh kopi sendiri di rumah hahaha. Serulah ketemu mereka yang paham dengan dunia perkopian. πŸ™‚

      Like

  2. Hastira says:

    makin mantap PT KAI ya, jadi suak naik kereta

    Like

    1. PT KAI terus membenahi sistem lama dan berkreasi terus agar penumpangnya selalu merasa nyaman. Sayang kereta rute terjauh dari Stasiun Kediri sampai Stasiun Merak sudah tidak ada lagi, padahal jalurnya asyik tuh melintasi semua provinsi di Jawa. πŸ™‚

      Like

  3. Sebenarnya aku pengen banget meliput dan icip-icip ini di Jogja. Apa daya harus kerja ahahhahah.
    Nyicip berapa gelas koh? πŸ™‚

    Like

    1. Jan e sore iso mlipir Tugu sedilit loh. Kalau nggak salah yang stasiun pameran sampai jam 8 malam hehehe. Sepanjang perjalanan nyeruput tiga sampai empat gelas kopi hitam. Lumayan bikin melek sampai tengah malam. πŸ˜€

      Like

  4. Aku mungkin bukan pecinta kopi, krn jujurnya, lebih suka kopi susu drpd kopi hitam:p. Tapi, aku paling sukaaaa mencium wangi kopi yang sedang diseduh. Lgs ilang semua mual, capek, kalo udh mencium aroma kopi. :). Kebayang banget ini kalo di KAI ada barista nya, ya ampuuun aku lgs pilih duduk deket mereka supaya aroma kopinya kuat tercium :p

    Like

    1. Doakan saja KAI bikin acara serupa lagi dan bawa barista cakep supaya bisa duduk deket mereka di dalam kereta, kak Fanny. πŸ˜›

      Like

  5. Di satu sisi, ini terobosan yang bagus dari KAI. Di sisi lain, praminya jadi nggak banyak kerja. Soalnya nggak perlu bikin kopi. Tinggal nganter. Plus income tetep masuk. Wkwkw.
    Sayang praminya nggak ada yang nganu ah, Koh. Prami Argo Lawu yang aku kenal udah dipindah jadi kerja di kantornya sekarang. 😦

    Like

    1. Kemarin sih prami-nya tetep sibuk mondar-mandir gerbong nawarin nasi kotak dan camilan. Sayangnya barista cuma ngeramein kereta dua hari aja, selanjutnya kopi yang diseduh prami di atas kereta balik kopi instant lagi. Andai mbak prami bikin kopi hitam seduh sendiri kan tambah asyik ya? πŸ˜€
      Trus kok awakmu malah curhat, Gal? Jadi kelanjutane piye? Plis dijelaskan di blogmu. Hahaha.

      Liked by 1 person

    2. Oh, itu cuma kenal aja, koh. Ketemu pun tak pernah. Apalah aku naiknya ekonomi, praminya cowok. wkwkw

      Like

  6. Deddy Huang says:

    kemarin aku nungguin kirain ini event bakal ada di palembang, soalnya lihat kalian liput kayaknya seru haha..

    Like

    1. PT KAI baru adain di Jawa aja, kirain juga seluruh stasiun aktif di Indonesia, ternyata belum. Tahun depan kali aja mereka punya ide demikian biar semakin ramai dan seluruh jaringan stasiun-stasiun KAI kembali menggeliat. πŸ™‚

      Like

  7. bedjosadewo says:

    Ketika mengantar teman cewek pulang naik KA Bangun Karta dari Gubeng. Sore-Sore ditemani Kopi. Syahdu ada dia dan ada kopi.

    Like

    1. Eaaa, ini so sweet banget kenangannya dengan kopi dan kereta api. πŸ˜€

      Like

  8. dwisusantii says:

    Ternyata acara itu juga mengusung misi sosial mas πŸ™‚

    Entahlah apa karena perasaanku saja, tapi memang akhir-akhir ini “kopi” sedang “melambung”. Yaa, banyak banget bermunculan tempat ngopi ala-ala termasuk di Jogja. Momen ini bisa ditangkap baik oleh PT KAI. Meskipun aku tak turut meramaikan, euforianya terasaa banget mas wkkwk.

    Like

    1. Demam ngopi kopi lokal Indonesia masih terasa banget meski euforia film kopi yang itu sudah memudar. Namun potensi kopi lokal beneran perlu diangkat sehingga penikmat kopi tidak terjebak lagi dengan nikmat semu kopi impor di mall-mall. Hehehe.

      Omong-omong saiki mbak Dwi tinggal deket ama warung kopi Joss ya? Sesekali nongkrong di sana bareng yok. πŸ˜€

      Like

  9. Berhubung aku tidak suka kopi, jadi saat baca tulisan ini perhatianku tertuju sama perjalananmu yang bolak-balik Solo-Jakarta-Solo hehehe. Ide kopi di atas kereta ini menarik menurutku, KAI bisa menciptakan event yang membuat perjalanan di atas kereta menjadi lebih berkesan.

    Liked by 1 person

    1. Pergi pulang naik KA Argo Lawu di hari yang sama lumayan bikin badan remuk hahaha. Besoknya langsung tepar dan hibernasi seminggu. πŸ˜€
      Mudah-mudahan sih nggak hanya kopi yang dilirik dan diajak kerja sama oleh KAI, ngeteh gratis di kereta api pun bisa bantu mengangkat potensi teh lokal, kan? #mekso πŸ˜›

      Like

    2. Bettuuull banget hehehe
      Mgkin ntr jg bisa disajikan pecel gratis ya di stasiun Kroya atau Madiun πŸ˜„

      Liked by 1 person

  10. bukan pecinta kopi, tapi ga ada salahnya ingin tahu tentang perkopian dan seluk beluknya, lumayan bisa jadi ilmu dan pengalaman baru

    Like

    1. Dari cerita barista, rasa kopi sering menyesuaikan lahan di mana mereka ditanam, jadi kalau ditanam di dekat laut akan muncul aroma sedikit gurih akibat terpaan air laut. Itu bagi yang sudah expert di dunia perkopian sih yang bisa jeli ngerasain hal tersebut. Bagiku kopi ya masih pahit dan enak hahaha.

      Liked by 1 person

    2. tapi akhir2 ini aku juga baru sadar kalau kopi itu ada yang pahit banget, kecut, asam, sedikit pedas,

      Like

  11. turiscantik says:

    Aku udh lama ngak naik kereta api ke luar kota. Lagi kepikiran untuk ajak anakku ke cirebon naik kereta, kids will love travelling by train.

    Liked by 1 person

    1. Ahaa ide bagus sekali tuh, sekalian ajak jalan-jalan Cirebon yang sarat dengan bangunan bersejarah kesultanan. πŸ™‚

      Like

  12. Alid Abdul says:

    White coffee luwak enak loh, yang good day cappucino juga enak. Tinggal sobek dan seduh air panas. Ngombe kopi ra ribet bhuahaha.

    Like

    1. Omong wae ora doyan kopi pahit sing ora dibubuhi gula hahaha.

      Like

    2. Alid Abdul says:

      Urip wis pahit ngapain nyari kepahitan lagi

      Like

  13. lunarv2 says:

    Gak tau kenapa kalau Traveling gak naik kereta rasanya gak afdol gitu, hehe.. ini pas ada event juga, gimana rasanya ya ? belum nyobain kayak gitu.. Itu keretanya nyaman banget ya, sayang kereta daerah saya kebanyakan masih ekonomi dengan interior masih sederhana..

    Like

    1. Even pembagian kopi gratis hanya berlangsung tanggal 30-31 Januari 2018 lalu. Mudah-mudahan ada even serupa diadakan lagi di stasiun kereta api maupun di atas kereta. Domisili di mana, maz Lunar? Kereta ekonomi masih asyik juga suasananya, meskipun penjaja makanan dari stasiun-stasiun kecil sudah tidak boleh sembarang masuk ke dalam kereta. πŸ˜€

      Like

  14. Heriand.com says:

    Lah, ke Jakarta, Mas? Kabarin dong kalo di Jakarta, siapa tau bisa ngopi-ngopi wkwk

    Like

    1. Ntar kalau main ke Jakarta, temeni daku jalan yah. Mau banget deh hunting ke daftar wisata yang direkomendasikan oleh selebgram macam Heri hehehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.