Wonopringgo Punya Cerita

Tanpa kita sadari, terbentuknya suatu desa tak terlepas dari sejarah yang pernah terjadi di sana. Penamaan kampung dan tata ruang, jalur penghubung antar desa dan sistem irigasi, pun dibangunnya permukiman beserta fasilitasnya. Semua diatur sedemikian rupa oleh hal-hal kuat yang pernah menjadi tonggaknya di masa lampau. Begitu pula dengan kota, himpunan desa-desa yang telah berkembang dan maju pesat dari segi ekonomi itulah yang menjadi faktor berdirinya sebuah kota.

Saya terkesiap memandang deretan rumah-rumah tua setelah sepeda motor menyeberangi Jembatan Pringgodani. Tangan saya secara spontan menepuk-nepuk pundak teman di depan. “Bay, Bay, kok dirimu baru kasih tahu sekarang sih kalau desamu punya banyak bangunan kuno begini?” tanya saya kepada Bayu. Dia hanya tertawa kecil. Laju sepeda motor dipelankannya. Sepertinya dia menyadari tingkah konyol saya yang begitu berlebihan ketika bertemu dengan apa saja yang berbau heritage.

“Bay, serius nih desamu nggak punya cerita?”

Entah kenapa perjalanan kali ini terasa begitu santai, tidak ada yang membebani apalagi membuat saya terburu-buru dalam melakukan apapun. Padahal, saya melakukan perjalanan lumayan panjang menuju Wonopringgo yang terletak di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Pagi buta saya harus naik kereta api dari Solo menuju Semarang. Melanjutkannya dengan kereta api Kaligung 407 rute Stasiun Semarang Poncol – Stasiun Pekalongan. Dari sana, saya kembali merebahkan pantat di atas jok sepeda motor Bayu menuju Wonopringgo yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Stasiun Pekalongan.

Wonopringgo adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Pekalongan. Wonopringgo juga menjadi nama salah satu desa dari total empat belas desa/kelurahan di sana. Wilayah Kecamatan Wonopringgo meliputi Desa Galang, Desa Getas, Desa Gondang, Desa Jetak Kidul, Desa Jetak Lengkong, Desa Kwagean, Desa Legok Gunung, Desa Pegaden Tengah, Desa Sampih, Desa Sastrodirjan, Desa Surabayan, Desa Wonorejo, Desa Rowokembu, dan Desa Wonopringgo.

Secara administratif, wilayah Kecamatan Wonopringgo berbatasan dengan Kecamatan Kedungwuni di sebelah utara, dan Kecamatan Karanganyar di selatannya. Mereka memiliki desa-desa yang menjadi penghubung antara Kota Pekalongan dan Kajen, pusat pemerintahan Kabupaten Pekalongan. Desa-desa yang berperan besar terhadap perkembangan dan kemajuan ekonomi Pekalongan.

peta suikerfabrieken 1914
peta suikerfabriek 1914
sumber: kitlv.nl

Pertama-tama saya ingin bercerita bahwa nama Wonopringgo tercatat sebagai nama salah satu pabrik gula yang berdiri pada masa Hindia Belanda (nama sebelum Indonesia merdeka). Rasa penasaran tentang bagaimana bisa Wonopringgo mempunyai rumah-rumah tua yang keren didukung oleh jawaban Pak Slamet Haryanto, kepala Desa Wonopringgo yang membenarkan bahwa dulu pernah ada pabrik gula di Wonopringgo. Lokasinya kini sudah menjadi bagian dari Batalyon Infanteri 407/Kompi Senapan C.

Peta Suikerfabrieken op Java terbitan tahun 1914 pun menjadi bukti yang menguatkannya. Di sana digambarkan Pekalongan memiliki beberapa pabrik gula yang tersebar di jalur pantura (pantai utara) dan pedalaman. Lokasi Suiker Fabriek Kalimati di angka 14, Suiker Fabriek atau Pabrik Gula Wonopringgo dibubuhi angka 15, lalu Pabrik Gula Sragi berada di nomor 16, dan Suiker Fabriek Tirto di nomor 17. Saat ini hanya Pabrik Gula Sragi yang masih aktif berproduksi, lainnya sudah hilang, rata dengan tanah, dilupakan.

Sisa Pabrik Gula Wonopringgo meninggalkan jejak permukiman dan rumah-rumah dinas pegawai pabrik gula seperti terlihat sekarang. PT KAI juga sudah rajin memasang tugu patok sebagai tanda bahwa di sana pernah dibangun jalur-jalur lori pengangkutan tebu menuju pabrik dan jalur dari pabrik menuju stasiun hingga terhubung dengan pelabuhan. Menariknya, di Wonopringgo juga berkembang permukiman yang terletak di seberang Pasar Wonopringgo di mana bermunculan saudagar-saudagar batik pada masanya.

Adalah Kiai Abu Bakar yang pertama membagi cerita mengenai sejarah rumah milik keluarganya. Tidak tahu dengan pasti kapan rumah itu berdiri, bukan berarti beliau tidak peduli dengan pelestarian rumah tuanya. Dari bentuk arsitekturnya, saya hanya bisa menebak bahwa rumah yang kini difungsikan sebagai kompleks Pondok Pesantren Tarbiyah Qiro’atil Qur’an di Desa Rowokembu tersebut dibangun pada awal tahun 1900-an, atau bisa jadi sudah ada sejak akhir tahun 1800-an.

Pintu dan daun jendela berbahan kayu jatinya masih utuh. Teralis jendela berulirnya masih meninggalkan kesan megah sebuah rumah juragan batik. Tegel, ruang tamu, serta dua kamar di dalamnya tidak mengalami perubahan. Semua dirawat dan dibiarkan seperti apa adanya oleh Kiai Abu Bakar sebagai pemilik rumah yang mewarisi peninggalan ayahnya, Abdul Rochim. Beliau juga menambahkan bahwa rumahnya baru difungsikan sebagai pondok pesantren pada tahun 1991.

Sama hal dengan mas Arif, pemilik salah satu rumah di Desa Rowokembu yang menghuni bekas rumah saudagar batik. Rumah tua dengan tiga pintu utama itu dibelinya dari keturunan Haji Norman pada tahun 2008. Memerlukan waktu sekitar dua tahun untuk memperbaiki kerusakan di dalamnya. Diakuinya bangunan bagian tengah dan samping sudah dirombak total. Penghuni yang baru hanya mempertahankan keaslian beranda dan ruang tamu depan dari rumah yang diperkirakan dibangun sekitar 1900-an awal tersebut.

Bagi saya, rumah-rumah berusia puluhan tahun dan lebih dari seratus tahun itu memiliki daya pikat sendiri. Tak terelakkan ketika ego dan gengsi sering mengalahkan kecintaan dan kepedulian para pemilik rumah terhadap warisan leluhur. Merubuhkan dan membangunnya dengan wujud baru berupa bangunan kotak kaku tanpa nilai artistik adalah kesalahan fatal yang kelak menghilangkan identitas keluarga dan sejarah kampungnya. Salut dengan mereka yang mau merawat dan mempertahankan bentuk asli dari bagian sejarah Wonopringgo.

Puas mengintip bangunan-bangunan tua di Wonopringgo, mari berkenalan dengan makanan yang sempat saya cicipi di sana. Harus saya akui tak salah jika Nasi Goreng menjadi andalan di Wonopringgo. Pasca Festival 1000 Piring Nasi Goreng yang digelar di Desa Wonopringgo, penjual nasi goreng kembali beraktivitas seperti biasa. Depan Balai Desa Wonopringgo, sepanjang Jalan Raya Wonopringgo sampai Kajen, adalah titik-titik yang selalu diramaikan oleh penjual nasi goreng sedari petang hingga larut malam.

Selain nasi goreng lezat yang diracik warga Desa Wonopringgo, persis di Jalan Raya Wonopringgo no 560 berdiri sebuah warung Tauto Kloso. Tidak sulit menemukan lokasinya karena sudah ada spanduk jelas yang menuliskan nama dan gambar penjual dari Tauto legendaris di Wonopringgo tersebut. Jangan lewatkan juga makanan khas yang bernama Kluban Bothok dan Kluban Pindang Tetel yang dijual di Wonopringgo dan Rowokembu.

Nyum, nyum. – Ulasan kuliner di Wonopringgo akan saya tulis terpisah agar bisa mendeskripsikan dengan sejelas-jelasnya dan mampu bikin mupeng. 😛

Puncak dari perkenalan saya dengan desa-desa yang pernah bergantung hidup terhadap industri gula di Pabrik Gula Wonopringgo adalah pesta rakyat Wonopringgo Carnival. Beruntung pekan kemarin usai menyaksikan kemeriahan Festival 1000 Piring Nasi Goreng, saya masih tinggal di Desa Wonopringgo. Pada tanggal 21 Agustus 2017, saya menyaksikan karnaval yang melibatkan perwakilan seluruh desa di Kecamatan Wonopringgo.

Siang itu mulai dari lapangan Batalyon Infanteri 407 sampai ujung Jalan Raya Wonopringgo ditutup selama setengah hari. Lebih dari 150 kelompok partisipan keluar di jalan mulai dari siang hingga sore hari. Karnaval yang dimeriahkan oleh anak-anak TK hingga orang dewasa itu menjadi pesta rakyat termeriah yang pernah saya saksikan.

Bayangkan saja, satu kecamatan memiliki empat belas kelurahan, lalu tiap kelurahan punya sekian desa. Partisipan dari tiap desa mengerahkan sepuluh hingga lima puluh warganya untuk turun ke jalan dengan atribut karnaval. Jadi ada ratusan atau malah ribuan warga desa-desa Kecamatan Wonopringgo turun di jalan guna meramaikan Wonopringgo Carnival 2017!

Meskipun karnaval diselenggarakan bukan pada akhir pekan, penonton membludak, bersorak-sorai di pinggir jalan sebagai tanda dukungan terhadap kampungnya sendiri. Ada juga yang sibuk memuji kreativitas atribut dan kostum yang diusung oleh desa sebelah. Plastik dan koran bekas, batik Pekalongan, daun-daunan, kreasi seragam sekolah merupakan bahan dari kostum dan kendaraan hias yang mereka gunakan.

Bukan tanpa sebab mereka bersusah payah merancang semuanya. Masing-masing desa berlomba-lomba agar piala kostum hias dan atribut terbaik yang diberikan oleh pihak kecamatan bisa jatuh ke tangan desa mereka. Menumbuhkan rasa bangga tersendiri ketika mereka berhasil membawa pulang penghargaan bergengsi tahunan Kecamatan Wonopringgo tersebut.

Karang Taruna Pringgodani dari Desa Wonopringgo termasuk sekelompok anak muda desa yang bekerja keras dan gotong royong mewujudkan kemenangan. Selama dua tahun berturut-turut, mereka berhasil memboyong penghargaan tersebut. Tak hanya kreasi kostum yang unik saja, ada tim khusus dari Karang Taruna Pringgodani mengarak liong, budaya Tionghoa yang sudah jadi bagian dari budaya Indonesia.

Mau mengenalkan budaya suku lain dan kreativitas muda-mudi karang taruna adalah nilai plus yang selalu jadi unggulan. Kabar gembiranya, tahun 2017 ini, Desa Wonopringgo kembali menjadi juara satu Wonopringgo Carnival untuk kali ketiga dan membawa pulang Piala Karnaval! Yayyy! 😀

Memang masa keemasan pabrik gula di Wonopringgo sudah lewat masanya. Bahkan generasi muda di sana pun tidak lagi tahu-menahu bagaimana desa mereka terbentuk. Namun, saya percaya semangat dan dedikasi tinggi terhadap desa mereka kelak akan memberi pengaruh dan kekuatan yang mengangkat nama Wonopringgo. Mungkin tak lagi dikenal sebagai bekas pabrik gula lagi, tapi Wonopringgo yang besar dari kepedulian warganya terhadap heritage, dan kreativitas.

Cheers and peace. 😉

Advertisements

20 Comments Add yours

  1. Kayaknya waktu kita ikut heritage di Stasiun Lama Maguwo ada orang yang nyeletuk kalau di Pekalongan dulu ada pabrik gula, dan dia tinggal di rumah dinas sana.

    Like

    1. Lupa lupa inget peserta yang mana pernah bilang tinggal di rumah dinas bekas pabrik gula. Semoga orang yang dimaksud suatu hari baca ini dan ikut komentar deh. 😀

      Like

  2. Gara says:

    Aslilah dulu banyak banget pabrik gula di sepanjang Pantura ya, Mas. Dari bangunan-bangunan yang sempat saya lirik-lirik kalau lewat di jalan-jalan, satu pabrik saja megahnya kebangetan, apalagi yang sentra suikerfabriek (ciye) kayak Kabupaten Pekalongan ini ya, Mas. Di masa itu agaknya pabrikan gula mendatangkan pundi-pundi yang bagai tak terhingga. Keren euy ulasannya. Mudah-mudahan suatu hari bisa jelajah-jelajah juga, syukur-syukur bisa melihat bangunan-bangunan tuanya secara langsung. Amin.
    Ngomong-ngomong, di Pekalongan ada candi nggak, sih?

    Liked by 1 person

    1. Pabrik gula berkembang pada era cultuurstelsel setelah Belanda kehabisan uang gegara Perang Jawa. Hikmahnya sih di sekitar kompleks pabrik gula hampur semuanya meninggalkan permukiman dengan bangunan-bangunan yang indah kini. Yah meski ada juga yang mengutuki kerja paksa tersebut hehehe.

      Bekas pabrik gula di Jawa Timur juga banyak yang punya tata ruang keren, Gar. Yuklah kapan hunting suikerfabriek bareng. 😀

      Mengenai candi di Pekalongan, kemarin sempet dengar kalau di daerah Doro ada beberapa situs baru. Doro merupakan dataran tinggi, bablas lagi bisa nyampe Dieng. Rada nyambung,kan? *kedip penuh kode* 😀

      Like

  3. baru tahu nih mas ternyata ada pabrik gula di Wonopringgo di jaman hindia belanda, dengan kultur budaya kedaerahan yang masih terjaga kok saya jadi pengen kesana ya,. jalan-jalan gitu kayaknya seru. Tapi kalau misal Wonopringgo dijadikan wisata desa gitu mungkin bisa banget mas, apalagi kalau ditambah dengan kuliner nasi gorengnya itu , behhh yakin deh bakalan keren itu

    Liked by 1 person

    1. Wonopringgo punya heritage, alam, budaya yang menarik, dan kuliner yang maknyus. Tinggal menunggu anak muda di sana untuk bergerak bersama supaya desa mereka siap untuk diperkenalkan sebagai obyek wisata desa. Yuk main ke Wonopringgo, mas Anjar. 🙂

      Like

  4. aku malah baru ngeh kalau pusat pemerintahan kab.pekalongan justru di kajen ya? agak menjorok ke dataran tinggi. aku pun jika diajak melihat bangunan2 tua akan terbelakak hahaha, penasaran sih..

    Like

    1. Hahaha iyo, Hen. Pusat pemerintahan kabupaten diletakkan di Kajen. Kadang kasihan juga desa di pesisir utata yang masuk wilayah kabupaten, jauh banget kalau urus ini itu yang berhubungan dengan administratif kabupaten.

      Ayoo jelajah mrono bareng. Ada Kedungwuni dan desa menarik lagi di dekat Wonopringgo. Rencana meh balik mrono maneh hahaha. Betah urip nde sana. 😛

      Liked by 1 person

    2. wes pindah bae hahaha

      Like

  5. Kok nemu aja sih Koh tempat kayak gini😂
    Selain nasi goreng ternyata Wonopringgo menyimpan cerita seperti ini.

    Like

    1. Desa Wonopringgo sendiri ada sejarah menarik loh dan potensi yang lain. Tulisan selanjutnya akan bahas khusus Desa Wonopringgo yang terkenal dengan sebutan kampung nasi goreng itu. Coming soon… hahaha promosi sisan. 😀

      Like

  6. Pekalonganku says:

    Jalur keretanya lewatin jalur yg bus kita naikin arah kajen itu. Udah gda bekasnya

    Like

    1. Penasaran dengan sisa jembatan-jembatan yang pernah dilintasi lori pabrik tebunya nih. Kalau ada info bekas pabrik gula Kalimati di Kab Pekalongan boleh banget dibagi, Nay. 😀

      Like

  7. raynorkayla says:

    Seru juga desanya, mas. Tapi bothok sama Pindang tetelnya kok ngga ada fotonya, kepengin lihat hehe…. Salam kenal yaa

    Like

    1. Ulasan kulinernya ditulis di artikel terpisah biar lebih detail. Di sini dibikin penasaran dulu hahaha. Salam kenal juga. 🙂

      Like

  8. Deddy Huang says:

    beberapa kota, menurutku mereka memiliki usaha pabrik sendiri yang berdiri sejak lama. seperti kalau di wonopringgo ini pabrik gulanya ya..

    aku menikmati foto rumah lama dengan jendela tinggi dan ubin masih tempo dulu.

    Like

    1. Pada masa kolonial, rata-rata kota pantura dan pedalaman di Pulau Jawa sengaja ditanami tebu masa cultuurstelsel atau tanam paksa, koh Deddy.

      Lambat laun bergeser ke perluasan kebun kopi, teh, tembakau, dan hasil bumi bernilai tinggi zaman dulu. Biasanya di sekelilingnya dibangun permukiman sebagai tempat tinggal para pejabat dan pegawainya. Dari situlah kemudian desa tersebut jadi ramai dan dipenuhi bangunan-bangunan bersejarah kini. 🙂

      Like

  9. Kalau di Wonopringgo dulu banyak pabrik gula, berarti banyak rel kereta buat lori pengangkut tebu ya mas… Sepertinya nggak beda jauh dengan daerah Klaten dan Solo yang juga banyak pabrik tebu

    Menarik sepertinya jelajah rel kereta lori tempo dulu ini

    Like

    1. Jelajah jalur mati kereta nggak membosankan. Hanya kurang data lama tentang jalur keretanya, sehingga harus menerka arah dan posisi penghubung antara bekas pabrik gula, halte penghubung, dan jalur ke arah stasiun di Pekalongan. 🙂

      Rel kereta untuk pengangkutan tebu ada yang terpendam di jalan raya, ada pun yang tertutup area persawahan. Namun, beberapa juga ada yang sudah dicabut dan berfungsi lain seperti pagar halaman warga hehehe.

      Like

  10. Ulasan yang menarik. Karena belum pernah ke sana, tulisan ini memberi wawasan yang benar-benar baru. Dan cukup menyesal ketika tidak ikut, padahal nasi goreng itu favorit 😦

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s