Jalan Anggun ke Petungkriyono Bersama Anggun Paris

Bukan, bukan, saya tidak akan menuliskan bagaimana serunya jalan bareng penyanyi terkenal Anggun C. Sasmi yang kini menetap di Paris. Tapi kok diberi judul Anggun Paris? Tunggu sebentar, saya juga tidak akan bercerita tentang bisnis atau menaiki produk apapun yang terkait dengan profesi mbak Anggun. Biarlah kisah kasih di antara kami berdua jadi rahasia ilahi saja #eaaak.

Jadi siapa atau apa itu Anggun Paris?

Sebelum berkenalan dengan Anggun Paris, saya ingin bercerita sedikit mengenai Petungkriyono yang telah dianggap sebagai paru-parunya Jawa bagian tengah. Petungkriyono adalah salah satu kecamatan yang terletak di sisi paling selatan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Sebagian besar kontur tanahnya merupakan dataran tinggi yang menjadi perbatasan antara Pekalongan dengan Kabupaten Banjarnegara (sisi Batur – Dieng). Lebih dari tiga perempat wilayah Kecamatan Petungkriyono merupakan kawasan hutan alam yang lebat dengan luas sekitar lima ribu dua ratus hektare.

Dikelilingi perbukitan dan pegunungan yang memiliki ketinggian mulai dari 600 hingga lebih dari 1.600 mdpl di mana hingga sekarang Petungkriyono telah menjadi rumah bagi Owa Jawa, salah satu spesies asli Jawa yang dinyatakan hampir punah. Memiliki karakter hutan jenis tropis dan primer, sehingga di sana juga ditinggali oleh Lutung hitam, Elang Jawa, Surili, serta fauna dan ragam flora yang lain. Itulah sebabnya telah disematkan gelar National Nature Heritage kepada Petungkriyono.

Apa saja yang bisa dikunjungi selama berada di Petungkriyono bisa langsung klik di sini –> Explore Ekowisata Petungkriyono.

Lalu bagaimana menuju ke sana jika calon wisatawan tidak membawa kendaraan pribadi apalagi nggak menyewa mobil maupun sepeda motor dari kota? Pastinya akan ada banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang berjalan seorang diri maupun berdua saja, atau bahkan lebih yang selalu bergantung dengan keberadaan transportasi umum menuju suatu obyek wisata, kan? Nah, ini pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul ketika pesona Petungkriyono kelak dikenal banyak orang.

Kala itu, saya dan rombongan yang tergabung dalam acara Amazing Petung National Explore Kajen Unique yang didukung oleh Pemkab Pekalongan sedikit dimanjakan oleh keberadaan dua buah bus besar yang membawa kami semua dari hotel di Kota Pekalongan menuju Kajen, pusat administrasi Kabupaten Pekalongan.

Setelah singgah sebentar di rumah dinas Bupati Pekalongan, bus kembali melaju dan menurunkan kami di depan kantor Kecamatan Doro. Kami harus turun dari bus dan pindah ke alat transportasi yang lebih kecil agar bisa dengan mudah melewati jalur pegunungan menuju obyek-obyek wisata di Petungkriyono.

Lain cerita jika memutuskan naik kendaraan umum dari Kota Pekalongan. Begini urutannya, ambil angkutan bus 3/4 rute (Kota) Pekalongan – Kajen dengan tarif sekitar Rp10.000 sekali jalan. Jarak tempuhnya kurang lebih 24 kilometer, bisa melalui jalur Desa Wiradesa atau jalur melewati Desa Kedungwuni.

Kemudian dilanjutkan naik angkutan kota rute Kajen – Doro dengan titik perhentian akhir di Terminal Pasar Doro. Dengan jarak tempuh Kajen – Doro sekitar 16 kilometer, salah satu kawan blogger Pekalongan, Inayah menginformasikan bahwa tarif angkot-nya kurang lebih sama dengan ongkos dari kota ke Kajen.

view Petungkriyono
pemandangan sepanjang jalan Petungkriyono

Jalur pegunungan dengan jalan kecil meliuk-liuk tajam menjadi alasan bus besar kami berhenti di tepi jalan Kantor Kecamatan Doro. Angkot-angkot di pasar pun enggan naik sampai ke sana, takut mogok di tengah jalan alasannya. Lah, terus kami atau calon wisatawan harus naik apa menuju ke atas?

Apa harus menunggu belas kasihan dari warga Petungkriyono yang kebetulan turun ke Desa Doro dan hendak kembali ke atas? Atau malah bergantung dengan acungan jari ala hitchhiking supaya dapat tumpangan? Pastinya akan membuang banyak waktu dan tidak bisa keliling obyek-obyek di Petungkriyono sesuai estimasi waktu yang ditentukan, kan?

Dari kebingungan-kebingungan mengenai moda transportasi menuju Petungkriyono itulah muncul nama Anggun Paris. Moda transportasi yang sengaja diciptakan untuk memperlancar perjalanan para wisatawan dari Desa Doro menuju kawasan Ekowisata Petungkriyono. Anggun Paris sendiri merupakan singkatan dari Angkutan Pegunungan Pariwisata. Jadi, sekarang sudah jelas dan tahu bahwa Anggun Paris nggak ada hubungannya dengan mbak Anggun C. Sasmi, toh? 😀

Wajah elok Anggun Paris boleh dibilang merupakan jenis kendaraan yang biasa digunakan untuk mengangkut sayur mayur, buah-buahan, bahkan hewan ternak. Biasanya atap dibiarkan terbuka, angin sepoi berhembus masuk dengan bebas. Ketika mengintip isinya saat mereka masih terparkir di halaman Kantor Kecamatan Doro, saya tidak melihat serakan sisa sayuran, apalagi bau kotoran hewan. Justru memberi kesan pertama bersih layaknya angkutan umum di kota.

Mobil jenis L300 tanpa atap di bagian belakang itu sengaja disulap menjadi alat transportasi pariwisata oleh sebuah paguyuban yang menjadi wadah para pemuda karang taruna di desa-desa Petungkriyono. Ditambahkan dua buah kursi panjang yang disusun kanan kiri saling berhadapan. Tenang, kursinya sudah diberi bantalan sehingga nggak bikin pantat pegal. Bak mobil bagian belakang Anggun Paris yang semula terbuka juga telah diberi penutup berupa plastik terpal sebagai pelindung dari terik matahari dan hujan.

Sudah kebayang anggunnya naik Anggun Paris, belum?

Perjalanan dari Desa Doro menuju gerbang selamat datang Petungkriyono berjarak sekitar 5,6 kilometer saja. Setelah itu kami harus melewati beberapa desa di antaranya, Desa Kayupuring, Desa Tinalum, Desa Kasimpar, dan Desa Tlogopakis. Jangan keburu senang dulu karena jarak antara satu obyek dengan obyek wisata alam yang lain di kawasan Petungkriyono rata-rata enam sampai tujuh kilometer melewati jalur pegunungan. Artinya satu sama lain punya letak saling berjauhan, kawan!

Kebetulan pagi itu saya dan beberapa kawan naik ke salah satu dari sembilan Anggun Paris yang disediakan oleh panitia dengan kapasitas penumpang tidak penuh. Mas Aris sebagai pengemudi, sementara mas Nurhayat selaku guide menemani kami di bak belakang. Dari obrolan panjang saya dengan mas Nurhayat, saya jadi tahu bahwa Anggun Paris awalnya disebut Doplak oleh warga Pekalongan sebagai alat angkut hasil bumi. Baru berfungsi sebagai alat angkut pariwisata mulai dua tahun yang lalu.

Untuk keperluan pariwisata, mereka mematok biaya sewa sebesar Rp500.000 pergi pulang per-Anggun Paris. Jika ada tujuan mengunjungi beberapa obyek yang jaraknya terlampau jauh, harga bisa berubah sesuai kesepakatan di awal. Anggun Paris mampu mengangkut penumpang maksimal 15 orang saja. Ketentuan itu dibuat agar wisatawan merasa nyaman, tidak duduk berhimpitan apalagi berdiri sepanjang perjalanan.

jjalan menuju Petungkriyono
jalan beraspal menuju Desa Kayupuring, Petungkriyono

“Jika tidak ada orderan, Anggun Paris akan digunakan oleh para petani untuk mengangkut hasil buminya dari desa ke kota,” terang mas Nurhayat ketika saya menanyakan bagaimana nasib si Anggun Paris kala tak ada wisatawan yang hendak menyewanya. Untuk petani atau warga setempat, mereka ditarik ongkos sebesar Rp15.000 perorang satu kali jalan. Jika petani membawa barang berat seperti berkarung-karung beras dan gula, nominal sebesar Rp25.000 sekali jalan harus mereka bayar ke mas pengemudi.

Mas Nurhayat yang sedari lahir tinggal di Desa Kayupuring kembali bercerita bahwa sayuran seperti kembang kol, kubis, tomat, wortel, dan cabai keriting telah menjadi komoditi utama dari desa-desa di Petungkriyono. Petani hilir mudik membawa hasil buminya dari atas turun ke Pasar Doro atau langsung turun ke pasar di Kajen. Mereka juga selalu menggunakan Doplak sebagai alat angkut hewan ternak sapi dan kambing setiap hari Rabu untuk dijual ke Kajen. Sementara setiap hari Senin, Doplak ramai disewa menuju Banjarnegara, tempat di mana mereka akan membeli bibit sapi baru.

Jika naik ke desa Petungkriyono lebih atas lagi akan menjumpai perkebunan kopi yang sebagian besar sudah diolah dengan baik dan dijual ke kota, crita lanjut mas Nurhayat. Setelah mencicipinya langsung di Petungkriyono, saya pun setuju mengatakan Kopi Owa, sebutan warga terhadap kopi lokal Petungkriyono, merupakan salah satu kopi jenis arabika di Pekalongan yang sudah sepatutnya diangkat ke dunia perkopian Indonesia.

Hamparan hutan pinus dan persawahan hijau yang terbentang di kanan kiri jalan dari Desa Kayupuring menuju Desa Tinalum sejenak mengalihkan perhatian saya. Sesekali mas pengemudi membelokkan setirnya secara tiba-tiba untuk menghindari lubang-lubang di tengah tanjakan.

Badan pun oleng kanan kiri, pantat naik turun dari kursi, itulah sensasi naik Anggun Paris yang sedari awal saya tunggu. Beruntung telah ditempel bantalan busa empuk di kursi penumpang, sehingga pantat selalu mendarat dengan aman tiap menghadapi guncangan keras. 😛

Memasuki Desa Kasimpar, Anggun Paris mulai menerobos jalan perkampungan sempit. Dengan gesit menekan gas dan rem kaki menahan laju ketika bersisipan dengan mobil lain di jalan satu ruas. Mobilnya berhasil meliuk-liuk tanpa membuat kami celaka. Sungguh salut dengan keahlian menyetir mas Aris, pengemudi Anggun Paris kami.

Ketegangan perlahan tergantikan oleh tatapan ramah yang dilemparkan oleh warga di sepanjang jalan melewati desa-desa di Kecamatan Petungkriyono, membuat adrenalin yang sempat memuncak langsung adem, relaks. Lupa dengan kepenatan, hiruk pikuk, dan tekanan-tekanan selama hidup di perkotaan.

Saya kembali termangu oleh suara gemericik aliran air setiap kali Anggun Paris melewati pinggir sungai. Lalu teringat sebuah video yang pernah dibuat oleh teman saya di Pekalongan, Bayu Taufani. Alunan sura merdu dari Ebiet G. Ade dengan judul “Lolong” mengiringi gambar-gambar indah yang mampu meyakinkan betapa indahnya pesona alam di Kabupaten Pekalongan.

Pucuk-pucuk cemara bergoyang-goyang diterpa angin dingin bukit ini. Seperti mengisyaratkan doa. Rahasia alam diam di sekitarnya. Di sini pun aku mencari Engkau. Setiap kali kupanggil nama-Mu. Namun selalu saja hanya gema suaraku yang terdengar rindu …

Perjalanan dengan total empat puluh kilometer dari Desa Doro menuju titik terjauh Curug Bajing tidak terasa jauh lagi. Semua diimbangi dengan pemandangan indah sepanjang perjalanan dan kabar baik seputar Anggun Paris serta potensi desa-desa di Petungkriyono yang dilontarkan oleh mas Nurhayat. Di akhir rangkaian acara, tak lupa dia menyodorkan nomor telepon genggamnya (085229097093) jikalau saya membutuhkan bantuannya dan ingin merasakan jalan anggun bersama Anggun Paris lagi.

See you again Petungkriyono. 😉

Advertisements

30 Comments Add yours

  1. Ide menarik ini mas. Jadi terpikirkan kalau seumpama di Jepara yang tempatnya sulit terjangkau ada seperti ini. Mbok yakin pasti banyak yang datang ke destinasi tersebut, sekalian menginap.
    Seru loh naik mobil bak terbuka, jadi ingat waktu SMP Buahahahahahha

    Liked by 1 person

    1. Sempet bertanya dalam hati naik mobil bak terbuka gitu legal atau masih ilegal. Ternyata ada alasannya, belum ada alat angkut sekuat Colt L300 mampu tancap gas tanpa kendala di jalur pegunungan. Jadi mau nggak mau ya hukum ngalah, kebutuhan petani dan penumpang jadi number one hihihi.

      Like

  2. Pengalaman yang mengesankan banget, Mas. Tak menyangka di Pekalongan masih Ada hutan tropis yang eksotis. Kopinya sedaaaap

    Like

    1. Nahh kopinya itu loh bikin nggak bisa move on dari Petungkriyono. Masih menyimpan rasa penasaran dengan keberadaan perkebunan kopinya. Kemarin bahkan sampai beli kopi bijian biar lebih awet dibandingkan yang sudah digiling. Hehehe.

      Like

  3. Alfianwidi says:

    PR terbesar ada di infrastruktur jalan

    Like

    1. Jalan berlubang menghambat perjalanan banget. Yang semula bisa dilalui satu jam, jadi molot sampai dua jam karena perlu kehati-hatian menghindari lubang yang bikin rawan kecelakaan. Semoga wae cepet diperbaiki biar Petungkriyono semakin mudah dijangkau. 🙂

      Like

  4. dwisusantii says:

    Ternyata oh ternyata, kirain Anggun Paris itu nama mantan yang berhasil diajakin balikan terus udah go publik lha jebule :p
    Btw kok ya bisa kebetulan banget nama supirnya juga Aris, bisa ris, ris begitu. Eh jenis kendaraan begitu malah kuat ya mas bisa naik-naik di medan sempit meliuk menanjak? dan jendelanya luas, langsung ditemani belaian angin 🙂

    Like

    1. Sabar, mantan atau samwan yang namanya nggak mau disebut akan kupublikasikan di hadapan khalayak jika waktunya sudah tepat. Buahaha. Semoga bukan batu candi… *mbatin dalam hati* 😀 😀

      Pas naik Anggun Paris entah kenapa langsung kebayang piyen yen itu jadi trek mobil off-road, koyone seruuuu… bakal banyak guncangan nerobos hutan dan membelah aliran hahaha.

      Like

  5. Dita says:

    owalaaah itu tooh Anggun Paris wkwkwk 😀
    belom pernah naik….kayaknya seru yaaa

    Like

    1. Setidaknya nggak berdiri himpit-himpitan di bak belakang yang terbuka kek rombongan yang habis tubing atau rafting gitu, kak Dita. Kursinya boleh diduduki selama mungkin, eh tapi jangan duduk bareng mas drivernya, ntar dia nggak konsen nyetir lagi hahaha. Mesti cobain Anggun Paris lah… 😀

      Like

  6. Gara says:

    Kalau ternyata saya wisatawan datang sendiri, berarti ongkosnya itu ongkos wisatawan ya Mas? Hehe… sepertinya harus mencari persewaan kendaraan dulu dari Pekalongan kota, itu pun jika ada… tapi bolehlah rekomendasi ini jikalau pergi berombongan. Naik bergeguncangan memang seru, apalagi kalau beramai-ramai, hehe. Di sana berarti daerah dataran tingginya lebih dari yang saya perkirakan, jika sampai ada perkebunan kopi serta sayur-mayur… butuh banget bantuan kalian nih Mas buat mengenalkannya ke penghuni dataran rendah seperti saya, hehe. Ditunggu cerita-cerita selanjutnya.

    Like

    1. Nahhh buat yang datang sendiri bisa nebeng Doplak, Gar, Ongkosnya 15ribu satu kali jalan, turun di titik tertentu, Pastinya nggak bisa bebas pindah-pindah dari satu obyek ke obyek yang lain. Aman memang sewa kendaraan dari kota, atau nebeng kendaraan teman asli sana sih. Asalkan kendaraan dalam kondisi fit karena medan tempurnya lumayan ekstrem, masih banyak lobang jalan yang belum diperbaiki. 😀

      Like

    2. Gara says:

      Iya Mas, saya bisa menduga bagaimana medannya, tidak bisa terlalu dibayangkan semulus jalanan protokol Pantura, hehe…

      Liked by 1 person

  7. tipscantiks says:

    seru banget naik anggun paris. tapi lagi mikir kalau bawa anak-anak gimana ya? kalau bis apakah kuat naik ke atas? atau mungkin sebaiknya ada alternatif mobil tertutup juga dari pengelola wisata. kalau saya sendiri sih jelas lebih milih anggun Paris, seru!

    Like

    1. Meliha medannya sih bus nggak kuat naik, apalagi melaju kencang di jalan dua rua yang sempit dan banyak lubang di sepanjang perjalanan di Petungkriyono. Tetap alat angkut Colt L300 yang bisa jadi andalan sih untuk medan pegunungan seperti Petungkriyono. 😉

      Like

  8. Charis Fuadi says:

    dah lama gak naik mobil terbuka…selalu bahagia kalau mobil gt, bisa liat pemandangan liar dan bisa saling ngobrol enak

    Like

    1. Yang awalnya mabuk kendaraan, kalau naik yang model terbuka gini dijamin nggak eneg banget perutnya. Udara segar pegunungan mana lagi yang akan didustakan? Hahaha.

      Like

  9. Inayah says:

    suka foto-fotonyaa,,,ga kebanyakan selfi hehehhe

    Like

    1. Hahaha terima kasih, kak Nayah. Oh iya informasi mengenai transportasi umum menuju Desa Doro semoga bisa bermanfaat juga. 😀

      Like

  10. Ga kebayang kalo ga di kasih busa doh bagaimana nasib pantat ane yg tinggal tulang belulang😂😂

    Sistemnya sewa rombongan ya? Ga bs sendiri gitu kayak angkot biasa.

    Like

    1. Kalo ke sana sendiri tanpa sewa Anggun Paris bisa, tapi bergantung ama Doplak di jam-jam tertentu yang akan bawa penumpang naik ke desa atas. Udah, si Anggun Paris disewa borongan aja seorang diri biar nyaman. Ojo koyo wong susah toh. 😛

      Like

  11. aku ngeliatin postingan rame tentang tempat ini dari beberapa temen blogger ang diundang kesono. sepertinya seru banget bisa menikmati alam. duhhhh seru dan menyenangkan

    Like

    1. Ditambah naik si Anggun Paris, bikin adrenalin memuncak pas lewat tepi jurang ketemu jalan seruas yang berlubang di tengah perjalanan. Hahaha. Monggo cari waktu yang pas buat mengeksplorasi Petungkriyono. 😉

      Like

  12. Tuan Wijaya says:

    Ayoo dolan lagi ke Pekalongan bro ^^

    Like

    1. Pastinya akan main ke Pekalongan lagi. Banyak heritage yang ingin dikunjungi nih. Suk kancani ya, Angga. 😀

      Like

    2. Tuan Wijaya says:

      Siaappp… kontak2 aja nanti kalo mau kesini ^^

      Like

  13. Adi Pradana says:

    Selalu suka melihat suasana hijau pegunungan yg msh asri. Adem gitu kayaknya…

    Like

    1. Pikiran jadi seger setelah lihat yang ijo-ijo. Udara sejuknya juga mendukung untuk leyeh-leyeh seharian.
      Mari piknik ke desa. *berasa duta desa* Hahaha 😀

      Like

  14. Endah Kurnia Wirawati says:

    Beihh kangen pengen ke sini lagi.. bentang alamnya cantik dengan liukan jalannya yang yahud!!
    TOP BGT!!

    Like

    1. Guncangan selama di jalan nggak terasa berat setelah disuguhi pemandangan indah selama di atas Anggun Paris. Samaaa, kangen pengen ke sana lagi… Kalau mau ke Petungkriyono lagi kabar-kabari ya, kak. 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s