Hura Hore Bukit Tranggulasih

Matahari terlanjur tenggelam. Langit pun sudah menggelap kala itu. Saya tidak tahu dengan persis bagaimana ekspresi wajah kawan-kawan yang berada di dalam mobil. Entah raut muka penuh kecemasan, atau malah kegembiraan yang mereka luapkan sepanjang perjalanan. Mobil yang kami naiki bukan mobil dengan atap tertutup, melainkan sebaliknya. Panitia Juguran Blogger justru menyediakan mobil pick up Colt L300 menuju tempat kami bermalam pada malam kedua. 

Saya hanya bisa cengar-cengir dalam kegelapan ketika salah satu kawan mulai berteriak. Setelah sekian detik mobil bak terbuka tersebut menikung tajam, badan akan terlontar dan tak sengaja menabrak sampingnya. Itu alasannya berteriak. Bersyukur jika menabrak kawan bertubuh tambun, sehingga mendapat tumpuan yang empuk. Lain cerita kalau menabrak kawan bertubuh ceking atau malah tiang pembatas mobil, sudah pasti memar ganjarannya. 😀

Bukit Tranggulasih yang terletak di Desa Windujaya, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas sebenarnya punya jarak tidak terlalu jauh dari pusat Kota Purwokerto, sekitar 15 kilometer saja. Namun, berkendara dengan mobil bak terbuka di tengah kegelapan jelang maghrib dan belum ada gambaran seperti apa jalur yang harus dilalui malah memberikan kesan perjalanan yang terasa ekstrem. Semakin ke atas, tak banyak terlihat permukiman warga. Lampu-lampu penerangan jalan juga semakin berjauhan jaraknya. Seolah di atas bukit tak ada kehidupan yang bisa dimintai bantuan ketika terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Baca juga tulisan tentang Desa Dermaji –> Tersihir Sintren Desa Dermaji

Mas sopir sekali lagi membanting setirnya, sehingga secara refleks tangan mengencangkan genggaman agar badan kami tidak doyong kiri dan kanan. Luapan kegembiraan kawan-kawan di atas mobil kembali ditunjukkan melalui teriakan-teriakan kecil. Saya hanya bisa berdoa dalam hati supaya pak supir tidak ngantuk serta punya keberanian tancap gas menaiki tanjakan demi tanjakan dengan lancar. Tidak mau mengulangi insiden supir bus yang ketakutan melewati tanjakan dan memaksa penumpangnya turun lalu jalan kaki sekian ratus meter seperti yang pernah saya alami di perjalanan menuju Desa Dermaji dalam rangkaian Juguran Blogger tahun lalu, batin saya.

Begitu mobil pick up itu berhenti di halaman depan gerbang masuk Bukit Tranggulasih, saya langsung bernafas lega. Satu-persatu mulai turun dan membopong barang bawaannya masing-masing. Tangan tremor akibat terlalu lama mengencangkan pegangan sedari awal perjalanan perlahan bisa dikontrol.  Mata yang sedang beradaptasi dengan kegelapan pun mulai terbiasa meraba trek yang harus dilewati.

Anggapan awal saya tentang sebuah bukit tanpa kehidupan dan jauh dari peradaban itu ternyata salah. Bukit Tranggulasih justru merupakan obyek wisata alam yang boleh dibilang sudah siap dan dikelola dengan baik oleh warga setempat. Di loket sederhana terbuat dari susunan triplek tertera angka Rp5.000 sebagai harga tiket masuk perorang. Mereka juga membuka jasa penitipan kendaraan pribadi dan loket yang buka 24 jam loh!

Nah, perjuangan menuju Bukit Tranggulasih belum usai, kami harus menaiki puluhan anak tangga alami menuju lokasi tenda-tenda tempat kami akan menginap. Tak ada cahaya lampu yang menerangi anak tangga sedikit menyusahkan kami. Sorot layar gawailah yang menjadi alat bantu untuk mencapai tujuan di atas sana. Sesekali terlihat anggota rombongan yang kewalahan mengatur pernafasan dan memutuskan istirahat sejenak, termasuk saya. Namun semua kelelahan itu terbayar oleh pemandangan apik yang terlihat dari atas bukit.

api unggun Bukit Tranggulasih
api unggun di Bukit Tranggulasih

Bintang di atas dan bintang di bawah bukan ucapan berlebihan untuk menggambarkan lukisan alam di sana. Kerlap-kerlip lampu-lampu dari rumah dan gedung bertingkat di Kota Purwokerto yang terlihat dari lapangan di atas bukit menjadi kiasan untuk bintang di bawah. Sedangkan bintang di atas adalah hamparan bintang sesungguhnya yang terlihat semakin cantik jelang tengah malam dalam kondisi langit cerah.

Malam itu ada lima buah tenda yang sudah disiapkan oleh panitia Juguran Blogger didukung oleh Fourteen Adventure. Masing-masing tenda yang bisa diisi oleh empat sampai lima orang telah dilengkapi dengan matras dan sleeping bag sebagai penghangat badan. Selain makan malam dan mengelilingi nyala api unggun, tak banyak aktivitas yang kami lakukan.

Ada kelompok yang asyik ngobrol di warung makan, ada pula yang asyik mengabadikan gambar pemandangan malam di tengah terpaan angin gunung yang lumayan dingin. Saya sendiri termasuk kelompok yang memilih tidur cepat usai api unggun padam. Rasanya badan sudah terlalu lelah sehingga kurang bergairah dengan apa yang disuguhkan di luar sana.

Tak perlu cemas mengenai urusan perut karena di sekitar lapangan terdapat warung-warung yang buka 24 jam. Tersedia aneka minuman serta makanan mulai dari yang berat hingga ringan. Salutnya dengan kawasan ini, ditempatkan beberapa karung sebagai tempat sampah di sekitar warung dan beberapa titik. Jika nggak buang sampah di tempat yang telah disediakan tentu mereka jadi golongan pengunjung yang keterlaluan banget!

Lalu untuk urusan sanitasi, pengelola Bukit Tranggulasih sudah membangun beberapa MCK yang memadai didukung alat penerangan yang cukup. Sehingga nggak usah bingung cari galian tanah atau pohon untuk mojok. Tak lagi ada rasa khawatir jika mendadak perut mules dan ingin buang air kecil pada malam hari.

Keesokan harinya saya baru menyadari bahwa selain lapangan tempat rombongan Juguran Blogger buka tenda, masih ada lapangan-lapangan lain di atasnya. Ada beberapa rombongan lain yang juga membuka tenda di sana. Pun banyak pengunjung yang baru datang mulai subuh untuk sekedar mengejar matahari terbit, tanpa menginap di atas bukit. Mereka mulai mengantre di titik yang menurut mereka menarik untuk mengambil gambar swafoto, mengabaikan penghuni tenda yang terbangun dalam keadaan setengah sadar.

Rupanya bukan hanya bentangan perbukitan lereng Gunung Slamet yang menjadi daya tarik dari Bukit Tranggulasih, masih ada spot-spot menarik lainnya. Terdapat empat bukit utama di kawasan ini yang masing-masing diberi nama Bukit Datar, Bukit Cinta, Bukit Tinggi, dan Bukit Tranggulasih sendiri. Di setiap bukit dibangun panggung terbuat dari bambu yang bisa digunakan sebagai tempat foto berlatar belakang pemandangan alam. Kurang tahu dengan pasti sejak kapan panggung-panggung itu dibangun.

Dengan adanya tempat foto ala ala yang sengaja dibangun di sana tentu berhasil menjadikan Bukit Tranggulasih sebagai salah satu tempat favorit yang memikat perhatian anak muda Banyumas. Bisa diperkirakan akhir pekan menjadi puncak keramaiannya. Untungnya ada beberapa panggung di sana, sehingga mereka tidak perlu mengantre seperti ular di satu titik. Saya pun ikut  terbawa suasana, nggak mau kalah dengan mereka. Menyebar dan menaiki semua panggung yang ada di sana untuk jadi tukang foto, bukan difoto. Hahaha.

Pagi yang damai itu segera berakhir. Kami diminta panitia bersiap meninggalkan Bukit Tranggulasih untuk melanjutkan ke tujuan selanjutnya. Kembali membayangkan guyonan yang memberi kedekatan satu sama lain, cerita hati yang dibumbui suara denguran sepanjang malam, hingga jepretan gambar-gambar indah tentang kebersamaan di Bukit Tranggulasih. Saya percaya semua itu akan terus terkenang.

Tak selang lama, kedua kaki sudah mengambil ancang-ancang mencari posisi yang pas. Bersiap menerima guncangan dari mobil pick up yang hendak membawa kami semua turun. 🙂

Advertisements

25 Comments Add yours

  1. Harusnya bawa tripod kalo ke sini lagi mas. Bagus kayaknya foto pas masih gelap. Oya secara tidak langsung naik mobil bak terbuka seperti ini lebih mendekatkan kita dengan peserta lain. Jika di mobil bagus, rata-rata akan tidur atau sibuk pegang gawai. Di mobil bak terbuka, kita pasti berinteraksi satu dengan lainnya. Itu yang membuat kita bisa menjadi lebih akrab.

    Like

    1. Wingi meh bawa gorillapod gak jadi, malah akhire nyesel nggak bisa jepret malam hari tanpa pake goyang. Padahal pemandangan bintang di sana apik.

      Tiap naik mobil terbuka gitu langsung inget teriakan keguguran dari seleb Jombang pas off-road di Dlinggo itu. 😀 😀

      Like

  2. Charis Fuadi says:

    dalan munggah nikung numpak pickup eh manteb bgt itu, milih berdiri didepan itu, pegangan kepala mobilnya sambil kena angin ha ha kaya tetanik versi gunung ini,

    pemandangannya keren ya

    Like

    1. Boleh juga tuh gegayaan tetanik versi gunung pake mobil pick up gitu, bisa bisa bisa… Hahahaha. Perbukitannya yen pas cerah apik banget. Lapisan kabut kelihatan diimbangi dengan pemandangan kota. 🙂

      Like

  3. wah, kebetulan wiken ini mau ke Purwokerto lagi, bolehlah mampir ke sini kalau sempat. makasih Halim rekomendasinya. 🙂

    Like

    1. Kok ya pas banget hahaha. Sekalian camping berdua ama Tama di atas bukit, Yuki. Di warungnya ada persewaan tenda, jadi nggak perlu repot bawa tenda sendiri dari rumah. Sampaikan salamku buat mendoan Puerto Rico ya. 😀

      Like

    2. nah, aku jg udah kangen mendoan, haha. siap-siap disampaikan salamnya. 😁👌🏻

      Liked by 1 person

  4. Bisa buat camping ya? Asik nih memandang kerlip lampu kota purwokerto dr ketinggian😁

    Like

    1. Sayang wingi awakku nggak bawa tripod jadi nggak dapat foto pemandangan malam yang bagus. Tempat ini cocok banget buat piknik keluarga, atau malah meh honeymoon yo keno, Jo. Tapi ojo goyang en berisik berlebihan di dalam tenda, nko direkam karo tetanggane hahaha.

      Like

  5. Tempatnya bagus. Seru ya naik pick up. Hehe.

    Like

    1. Tempat liburan untuk menyendiri ataupun piknik keluarga, bisa semua deh di Bukit Tranggulasih. 😀

      Like

  6. Maya says:

    wow serunya para blogger ini bertualang saya seakan terbawa dengan petualangan ini hehe .. efek membacanya terlalu khusyuk ya
    Dengan mobil bak terbuka ternyata asyik banget

    Like

    1. Naik open cup atau mobil pick up di sana jadi pengalaman tak terlupakan banget. Mesti dicoba sendiri, mbak Maya. 🙂

      Like

  7. karena aku orangnya mulesan, keberadaan toilet itu penting banget….aku pun seringnya kebagian jadi tukang foto haahah

    Like

    1. Jadi tenang kalau di tempat menginap di tengah hutan atau di atas bukit ada toilet, kan? Hahaha. Nggak apa, tukang foto itu biasanya mendapat banyak pujian dan pahala ketimbang obyek foto yang sekali jepret tukang foto malah ancur, trus tukang fotonya cuma bisa elus paha. 😛

      Liked by 1 person

    2. banyak mendapat pujian dan ujian hahaha, sampai2 ada yang heran, “lha kok kamu jauh2 ke sini, fotonya malah dikit, kalau banyak kan bisa buat pamer di IG”, gitu kata teman…

      Liked by 1 person

  8. wah seru ini koh. bisa camping sama peserta trip gitu. jadi bisa lebih deket. kangen camping juga jadinya

    Like

    1. Babat ono nggon apik buat camping gak? Yuk cus rame-rame yen ono hehehe.

      Like

  9. Adi Pradana says:

    Viewnya apik pisan euy…. Mantap bgt. Memanjakan utk berselfie ria.

    Like

    1. Ayok ke Bukit Tranggulasih, mas Adi. Pasti seneng deh. 😀

      Like

  10. Keren mas, alternatif kalo rindu sama Slamet nih….

    Like

    1. Kalau langit cerah, sunrise-nya bagus dan kelihatan lapisan perbukitan di sekeliling Gunung Slamet. 🙂

      Like

  11. Jadi pengin ke bukit tranggulasih lagi ih,,,

    kayaknya lebih kereeeenn,,

    makasih ya om 😀

    Like

    1. Hayuk laksanaken pas pulang ke Banyumas, bawa tenda trus bermalam di sana tambah asyik lagi. 😀

      Like

  12. Seru juga tampaknya ya… Yang paling “menyebalkan” sepertinya signage ala ala Hollywood gitu ya hahahaha…

    Demam signage sepertinya melanda atau bisa dikatakan latah di banyak lokasi wisata

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s