Intip Hysu, Pompa Air Pintar dari Banyumas

Dewasa ini banyak pejalan hanya sempat berkenalan dengan keindahan alam Baturaden, serta terbuai oleh curug-curug atau air terjun ketika singgah di Kabupaten Banyumas, belum melihat lebih dekat keunikan desa-desa di sana. Padahal ada begitu banyak kreativitas warga dan pesona desa yang bisa dipelajari dan menginspirasi. Potensi desa itulah yang selalu diangkat oleh pegiat komunitas Blogger Banyumas dalam setiap acara Juguran Blogger.

Seperti Juguran Blogger tahun sebelumnya yang banyak revisi, Juguran Blogger 3.0 tetap mengandalkan kalimat ajaib, “banyak wisata, sedikit bicara” selama kegiatan berlangsung. Untuk kali kedua saya dan Adi Virmansyah mengikuti acara Juguran Blogger, dan kali pertama bagi kawan-kawan dari beberapa kota di Indonesia yang terpilih untuk mengenal lebih dekat potensi beberapa desa di Kabupaten Banyumas melalui Juguran Blogger ketiga tahun 2017.

Baca keseruan Juguran Blogger tahun lalu –> Tahu-menahu Tahu Kalisari

Desa Kotayasa Banyumas
Desa Kotayasa, Banyumas

Pagi itu bus yang membawa kami dari Hotel Surya di Baturaden menurunkan kami di Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Banyumas. Bukan tanpa sebab kami berkunjung ke desa yang berada di lereng Gunung Slamet tersebut. Malam sebelumnya mas Pradna, panitia Juguran Blogger sempat bercerita singkat bahwa di desa itu terdapat seorang inovator yang telah mengembangkan pompa air tanpa menggunakan tenaga mesin dan bahan bakar minyak untuk mengangkat air dari lembah naik ke desa. Kok bisa?

Rasa penasaran itu sedikit terjawab ketika pak Sudiyanto, sang inovator menuntun rombongan menuju sungai di mana pompa air buatannya diletakkan. Tak terlalu jauh, tapi tak mudah juga melewati jalan setapak yang basah akibat hujan semalam. Nyaris terpeleset di pematang sawah dan rasa takut menuruni undakan alami yang licin menuju sungai di bawah menjadi bumbu perjalanan kali ini.

Puluhan tahun yang lalu, warga desa harus bersusah payah melewati jalan turunan menuju sungai untuk memenuhi kebutuhan air di rumahnya setiap hari. Mandi dan mencuci pakaian pun dilakukan di sana. Hal itu yang akhirnya membuat Pak Sudiyanto bertekad menciptakan alat yang mampu menaikkan air di bawah agar tersalurkan ke rumah-rumah warga di atas. Usaha yang dilakukan sempat mendapatkan sindiran dan ejekan dari warga sekitar. Bahkan Pak Sudiyanto yang pernah menjabat sebagai kepala desa tahun 1999 pernah dianggap sebagai orang yang sudah gila.

Awalnya saya tidak terlalu paham dengan penjelasan Pak Sudiyanto yang diucapkan dengan semangat di depan pompa air bersuara berisik itu. Pompa hydram (hydraulic ram) yang terbuat dari rangkaian pipa galvins itu terus mengenjot air naik ke atas sehingga mengakibatkan kebisingan. Di sampingnya terdapat sebuah aliran sungai berair jernih dan drum-drum yang sengaja diletakkan di atas kerangka beton. Lalu pipa dengan berbagai macam ukuran menghubungkan drum dengan pompa air di bawahnya. Alat-alat yang membuat saya semakin bingung dengan cara kerja dari pompa hydram buatan Pak Sudiyanto.

Setelah mendapat penjelasan di titik perhentian yang lain, barulah saya paham bagaimana cara kerjanya. Pompa air yang telah dipatenkan dengan nama Hysu atau Hydram Sudiyanto bekerja melemparkan air yang disedot dari sumber mata air terdekat dengan tenaga dorongan air itu sendiri. Pertama-tama sumber mata air diangkat naik dan ditampung ke dalam bak penampungan yang dibangun lebih tinggi dari posisi pompa Hysu. Kemudian air dalam drum akan diluncurkan ke bawah melalui pipa-pipa dengan sudut kemiringan 45 derajat.

Air yang meluncur akan dibantu oleh sistem kerja pompa Hysu yang di dalamnya terdapat sebuah katup dan klep terbuat dari potongan ban bekas untuk mengatur sirkulasi udara. Tenaga dorongan air dari atas yang diterima oleh Hysu akan mendorong air naik ke atas. Singkatnya, ada lubang input, tekanan pipa hydram, dan lubang output yang didukung sirkulasi udara dengan perhitungan yang pas mampu mendorong naik air hingga setinggi 300 meter dari permukaan.

Hysu yang diletakkan di sana memiliki dua percabangan, satu pipa untuk mengalirkan air ke atas, sementara satunya lagi sebagai pipa penyaringan limbah pasir dan batu kerikil supaya tidak ikut terangkat. Melalui pipa-pipa penyalur, air bersih telah terangkat dan mengalir ke rumah-rumah di desa atas, sehingga warga Desa Kotayasa tidak perlu naik turun perbukitan menuju sungai di bawah untuk memenuhi kebutuhan air di rumah masing-masing.

Kerja keras Pak Sudiyanto pun mendapat perhatian dari luar Banyumas dan menerima apresiasi dari berbagai pihak. Hydram buatannya pernah menjadi pemenang dalam kompetisi karya inovatif Indonesia Daya Masyarakat pada tahun 2005. Lalu setelah dibantu dana untuk mematenkan nama Hysu oleh Bappeda Litbang Banyumas, karyanya juga sempat mendapat penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2015 silam.

Di balik cerita suksesnya, inovasi pompa air yang telah dikembangkan oleh Pak Sudiyanto sejak tahun 1997 tentu tidak langsung berjalan mulus. Selain anggapan tidak menyenangkan dari warga sekitar yang telah saya sebutkan di atas, beliau juga curhat bahwa miniatur hydram yang dipamerkan tahun 2005 pernah terjual dan sempat membuatnya senang. Namun sayangnya oleh si pembeli justru dicuri patennya dan dinamai dengan nama baru tanpa sepengetahuan dan izin dari Pak Sudiyanto.

Kejadian itu tidak mematahkan semangatnya, justru memberinya motivasi agar tidak cepat berpuas diri dan terus berinovasi hingga karyanya bisa memberikan hasil yang lebih berkualitas. Telah dilakukan penambahan komponen dan penggantian katup penghantar dari yang berbentuk silinder jadi katup kupu-kupu supaya aliran air lebih konstan. Perbedaan posisi katup dan bentuk Hysu yang sekarang dinilai sudah lebih menjual dibandingkan bentuk awal yang pernah dibuatnya.

Kesuksesan Hysu pun tak membuat Pak Sudiyanto melupakan tingkat kebutuhan air dan perawatan Hysu di desanya. Dari yang semula tidak ditarik biaya, kini warga setempat berinisiatif membayar biaya perawatan Hysu rata-rata Rp10.000 setiap bulan/rumah. Penambahan beberapa unit Hysu pun dilakukan di beberapa mata air seperti salah satunya sumber dari Air Terjun Poh supaya bisa terangkat ke desa yang letaknya lebih tinggi. Beliau juga menambahkan, telah dibangun pendorong di tiap jarak dua ratus meter supaya air bisa menjangkau naik hingga 500 meter dari permukaan.

Jika masih bingung dan penasaran dengan penjelasan cara kerja Hysu atau malah ingin membelinya, boleh loh mampir ke rumah Pak Sudiyanto yang sekaligus sudah berfungsi sebagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Harmoni di Desa Kotayasa, Banyumas. Senyum ramah dari pemilik rumah dan kerendahhatian akan jadi sambutan bagi tiap tamu yang berkunjung ke sana. πŸ˜‰

Advertisements

26 Comments Add yours

  1. jadi ingat mesin Alkon ya, pompa air yang besar.
    Setiap orang yang bersaha mati-matian dari awal merintis kok rata-rata sama ya, banyak disebut sebagai orang gila. Sekarang mereka menikmati jerih paya yang dulu sempat dicibir.

    Like

    1. Pompa Alkon yang buat persawahan ya? Tahu bentuknya, tapi baru ngeh nama bekennya setelah gugling hehehe. Sebutan orang gila ibarat ujian yang harus dilewati para inovator yang kelak justru akan memperkuat mental mereka. πŸ˜€

      Like

  2. awansan says:

    Wah saluuut buat inovator inovator spt ini

    Like

    1. Karyanya perlu mendapat apresiasi dan diketahui secara umum dari masyarakat Indonesia. πŸ™‚

      Like

  3. dwisusantii says:

    Yang jepretan fotonya masih suka dicomot aja suka kzl lho… Apalagi ini karya dicuri hak patennya tanpa sepengetahuan dari penemu.

    Mas lha terus warga yang dulunya pernah mencibir apa tetep pake karyanya Pak Sudiyanto?
    Haaa iya kadang biarkan orang lain menyebut gila. Kita jawab dengan karya. *brbrb kataΒ²nya siapaa ituu

    Like

    1. Mbak Dwi tjurhat tentang foto dan tulisan yang pernah dicomot penulis tak tanggung jawab ya? Hihihi.

      Sik sik itu kata-katanya siapa, kita jawab dengan karya? bukan founder tahu krezz kan? πŸ˜›

      Setelah penemuannya dinyatakan lulus uji coba, Pak Sudiyanto membagikan Hysu kepada tetangganya. Bisa dibayangin betapa kaget ekspresi mereka yang pernah mencemoohnya. πŸ˜€

      Like

  4. Ini udah lama kayaknya, aku pernah lihat pak Sudiyanto di kick andy kalo ga salah 2006-2007.Hmm pompa air bertenaga air, masih mumet membayangkannya πŸ˜‚

    Like

    1. Wahh pas ora nonton episode Kick Andy yang ada Pak Sudiyanto. Beliau masuk kategori Kick Andy Heroes kah?

      Wes ojo mumet mbayangke cara kerja Hysu, ndang mrono dewe ning Banyumas bae ben paham hahaha.

      Like

  5. Charis Fuadi says:

    ditempatku ada kayak gt, mirip tp gak ngertinamanya, airnya juga dari mata air yg besar, deket sama candi pringapus

    bisa bermanfaat untuk orang lain itu, sungguh yg utama di hidup ini, kaya Sudiyanto, keren ya

    Like

    1. Karyanya yang semula dicemooh kini bisa jadi benda yang bermanfaat bagi orang banyak. πŸ™‚

      Like

  6. Gara says:

    Saya masih kurang begitu paham teknisnya. Mengangkat air ke ketinggiannya dengan apa? Kalau menurunkan air setelah diangkat dari ketinggian itu, bisa dibayangkan. Ini artinya saya mesti datang ke sana ya buat tanya-tanya, haha. Inspiratif banget ya untuk penduduk di tempat lain di Indonesia yang kebetulan mengalami kondisi serupa. Mudah-mudahan dengan berbagai tulisan dari teman-teman yang ikut kegiatan ini, informasi soal beliau makin terdiseminasikan ke seluruh penjuru Nusantara ya, amin.

    Liked by 1 person

    1. Ada input, penghantar, dan ada output. Ku juga bingung menjelaskannya secara detail lewat tulisan secara sudah agak lupa pelajaran fisika semasa sekolah, Gar. πŸ˜›
      Baiknya sih memang kudu ke sana dan lihat proses kerjanya Hysu langsung hihihi.

      Like

    2. Gara says:

      Oke Mas, terima kasih informasinya, semoga ada kesempatan mampir. Nanti saya kontak orangnya, hehe.

      Liked by 1 person

  7. kreatif banget, saya jadi penasaran banget pengin tahu. kapan kapan bisa dicoba nih kalau lagi mudik main ke sini

    Like

    1. Monggo kalau pas mudik bisa mampir ke lokasi pompa Hysu berada. Warga di sana akan dengan senang hati memberitahu lokasi rumah Pak Sudiyanto dan sungai yang disedot lewat Hysu di Desa Kotayasa. πŸ™‚

      Like

  8. Membaca ini, saya jadi teringat waktu mudik ke Pacitan lebaran kemarin. Saya sempat singgah ke Mundu, desa di Kecamatan Gemarang, Madiun, ada di tengah hutan jati. Daerah yang hanya mengandalkan pasokan air dari satu mata air di kaki Gunung Wilis. Ada satu-dua tandon air bantuan pemda setempat tapi malah tidak berfungsi. Akhirnya warga berinisiatif bikin pompa air tradisional mirip seperti ini. Bentuk fisiknya sederhana, tapi malah berhasil. Lebih mandiri, iuran per bulannya pun juga sangaaat murah.

    Like

    1. Wahh satu lagi kisah inspiratif di desa. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat secara mandiri memang lebih efisien ketimbang menunggu tindakan instan dari pihak berwajib. Sudah dituangkan di blog, Qy? Biar semua orang tahu dan pihak pemerintah ikut melek bahwa bantuan mereka masih dibutuhkan oleh daerah-daerah pelosok. πŸ™‚

      Like

  9. Evi says:

    Waktu Pak Sudiyanto dikata-katai orang gila, mungkin dalam hati ia ngomong begini:” Ntar lo lihat deh..Situ pasti akan pakai jasa ane” πŸ™‚

    Liked by 1 person

    1. Mungkin tetangganya yang dulu sempat meragukan “kegilaan”-nya pasti merasa malu banget tatap muka dengan pak Sudiyanto ketika Hysu sudah paten dan memenangkan penghargaan dari presiden. πŸ˜€

      Like

  10. Kyaaaaa,, gak cuman jago motret, tapi juga jago nulis. Perfect!
    Btw, saat diceritain Pak Sudi kalo dia dikatain Gila, gue berdehem, biasanya orang inovatif sering disebut gila, dan emang sih, beliau gila lah! Belajar dari buku Belanda dan membuka mata orang yang ngatain beliau gila πŸ˜€

    Like

    1. Terima kasih, kak Ria. Rajin mampir blog ini boleh banget lah hehehe. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari pertemuan dengan pak Sudiyanto, salah satunya tidak boleh menyerah dengan pekerjaan yang kita yakini akan berhasil. πŸ™‚

      Like

  11. omnduut says:

    Wuiih blognya makin cakep ajaaaaa. Trus ini si kakak Halim jalan-jalan muluuuk. Gak bosen? hahahaha

    Like

    1. Hahaha makasih ya, om Yan. Nggak bosen jalan donk, mumpung jiwa dan raga masih sehat di dunia nyata. *brb senam SKJ* πŸ˜‰

      Like

  12. Pritahw says:

    aku kok kangen tempe mendoan sama salak ya, wkwkwk. Pak Sudiyanto semangatnya luar biasa, dan bener, hasil takkan mengkhianati usaha yaa

    Like

    1. Mendoan setelah trekking kecil turun-naik bukit itu sesuatu banget hahaha. Perjalanan Banyumas yang tak hanya melihat indah indah saja, tapi juga mendapat kisah inspiratif yang kelak bisa diterapkan. πŸ˜€

      Like

  13. fauziqbal says:

    ini kalau diterapkan di kawasan terpencil gitu, akan sangat bermanfaat. Indonesia butuh orang-orang seperti Pak Sudiyanto. Salam kenal mas πŸ™‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s