Basah-Basahan di Ledok Amprong Gubugklakah

Sebagai salah satu desa terdekat menuju kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru melalui jalur Malang, Desa Wisata Gubugklakah telah menonjolkan potensi yang dimiliki oleh alam di sekitarnya. Keindahannya telah diperkenalkan oleh desa wisata yang terbentuk pada tahun 2010 tersebut. Partisipasi warga di sana turut mendukung perkembangan dan kemajuan sektor pariwisata dari Gubugklakah.

Tercatat ada 72 homestay atau rumah penduduk yang bisa disewa dan diinapi oleh para wisatawan di Desa Wisata Gubugklakah yang terletak di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Mereka juga telah menyediakan persewaan mobil jeep serta menawarkan paket mengejar matahari terbit dan keliling lautan pasir di Gunung Bromo.

Pagi itu pak Anshori, pemilik homestay sekaligus ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Gubugklakah bukan mengajak saya dan kawan-kawan yang tergabung dalam trip Eksplor Deswita Malang melihat matahari terbit di Gunung Bromo, melainkan mengenalkan keindahan sebuah air terjun yang berjarak sekitar lima kilometer dari rumahnya. Coban Pelangi, namanya.

Coban Pelangi
Coban Pelangi

Sebelum Desa Wisata Gubugklakah terbentuk, Coban Pelangi telah menjadi primadona di Desa Gubugklakah sejak dibuka sebagai tempat wisata umum tahun 1986. Pengelolanya sudah membuat trek yang rapi dan mudah dilewati oleh pengunjung segala usia. Waktu tempuh menuju ke air terjun kurang lebih lima belas menit disertai jalan setapak yang landai, dan sesekali menurun agak tajam. Harga tiket masuknya pun tidak terlalu mahal, 8 ribu rupiah untuk wisatawan lokal, dan 15 ribu rupiah bagi wisatawan asing.

Jika beruntung, pengunjung akan melihat biasan pelangi di kaki air terjun, itulah sebabnya dinamakan air terjun Pelangi. Namun pagi itu saya belum beruntung untuk melihat pelangi yang menjadi kebanggaan dari Coban Pelangi. Hanya bisa berpuas diri melihat air terjun dengan tinggi lebih dari tiga puluh meter itu dari gardu pandang dan pasrah kacamata basah akibat cipratan embun yang beterbangan.

Selain pesona air terjun, pengelola Desa Wisata Gubugklakah juga mengenalkan taman rekreasi di sebuah bukit yang mereka beri nama Gunung Sari Sunset. Kala akhir pekan datang, banyak anak muda memanfaatkan tempat yang diberdayakan oleh Perhutani itu sebagai tempat berfoto ria untuk dipublikasikan di media sosial. Bentangan bukit hijau yang mengelilingi Gunung Sari Sunset memang memukau mata. Ditambah sudah tersedia fasilitas warung makan yang menjual aneka jajanan dan minuman. Bikin semakin betah nongkrong dan modusin gebetan, kan? πŸ˜€

Usai makan siang, kami beranjak menuju Wana Wisata Ledok Amprong di mana terdapat sebuah sungai yang menawarkan aktivitas river tubing atau susur sungai. Jarak dari penginapan menuju Ledok Amprong sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi mobil jeep yang kami kendarai lumayan memberi ketegangan dan memacu adrenalin. Berdiri di belakang mobil terbuka selama perjalanan naik turun jalan berbukit memang bukan pilihan yang bagus. Sayangnya kami harus melakukan hal tersebut karena kendaraan yang bisa digunakan untuk off-road itulah yang tersedia.

Perjalanan yang seharusnya sekian ratus detik itu berasa perjalanan sekian ribu detik. Teriakan demi teriakan spontan keluar dari mulut ketika pengemudi membanting setir melewati belokan dan turunan yang curam dengan medan belum beraspal mulus. Sementara tangan terus menggengam erat apapun pada bagian mobil supaya tidak menimpa apalagi mengencet teman di sebelah maupun di belakang. Adrenalin langsung memuncak, tapi jadi off-road singkat yang menyenangkan! πŸ˜€

Jika Gunung Sari Sunset mempunyai wahana rafting dengan harga mulai dari Rp200.000/orang, Wana Wisata Ledok Amprong yang dibuka tahun 2015 justru menawarkan aliran sungai berkeloknya sebagai tempat untuk river tubing. Ada dua pilihan jarak susur sungai yang dikelola operatorΒ Ledok Amprong Adventure, 750 meter dengan harga paket mulai dari Rp75.000/orang, dan jarak 1,5 kilometer dengan harga Rp135.000/orang.

Percaya nggak percaya, bertambahnya usia seseorang tanpa disadari akan mempengaruhi cara jalan dan pertumbuhan kerempongan-kerempongan baru. Entah sejak kapan saya sepertinya menyimpan rasa takut ketika menatap riak di sebuah sungai. Seolah sungai itu memiliki kedalaman yang tidak bisa saya pijak. Seolah ada makhluk tak terlihat di bawah sana yang sewaktu-waktu akan menyambar kaki saya.

Kenyataannya, arus sungainya tidak terlalu deras. Jika terjatuh pun kaki bisa berdiri tegak karena airnya hanya sebatas tinggi lutut hingga betis orang dewasa saja. Mungkin batu-batu besar yang berserakan di sana yang mendukung keparnoan saya. Agak terdengar konyol, tapi Ledok Amprong merupakan pengalaman body rafting pertama saya menggunakan media ban karet besar.

Saat dihadapkan dengan perahu karet yang diisi lima hingga enam orang sewaktu melakukan arung jeram, saya justru merasa santai. Rasa takut itu tak muncul karena ada unsur kebersamaan di dalam satu wadah selama pengarungan. Sedangkan river tubingΒ yang menggunakan ban bagian dalam truk berwarna hitam itu dinaiki seorang diri. Mengikuti arus yang entah akan membawa ban ke arah mana.

Lamunan itu buyar ketika pemandu yang sudah bersiap diri di bibir sungai mengaba-aba satu-persatu dari kami yang sudah mengenakan life jacket dan helm untuk menaruh pantat ke tengah ban. Tak ada yang mau jadi yang terakhir, masing-masing berlomba untuk menjadi paling depan. Mungkin mereka juga takut jatuh dan ditinggal seorang diri di belakang. πŸ˜€

Selama melakukan pengarungan, saya terus mengingat arahan yang telah diberikan di pos sebelum kami berjalan menuju bibir sungai. Pemandunya mengatakan bahwa paha harus dirapatkan, jangan terkangkang karena bisa berakibat buruk ketika bertemu batu besar di depan maupun di samping. Tangan pun harus diletakkan di atas ban, bukan di sampingnya. Jangan memeluk ban dengan tangan yang menjuntai di sisinya, mending peluk mantan saja #ehh. Lagi, lagi, punya maksud supaya anggota tubuh tidak tergores oleh batu.

Batu sungai di sana merupakan tantangan yang harus dilewati. Kadang tak tahu apa yang harus dilakukan ketika arus sungai tiba-tiba memutar arah ban dengan sendirinya. Teriakan setengah bahagia dan setengah ketakutan langsung keluar dari bibir. Kepala jadi menghadap ke belakang, kaki mengayun tak beraturan berusaha supaya posisi badan kembali seperti semula. Sayangnya itu susah dilakukan, hanya bisa nurut dengan riak sungai.

Dari situlah mulai muncul kepanikan yang agak berlebihan. Gimana kalau kepala terbentur batu besar yang tak terlihat? Gimana kalau bertemu jeram yang bisa menjungkirbalikkan badan? Di tengah kepanikan, ban saya pakai acara nyangkut di antara dua batu besar. Menurut arahan pemandu, pantat harus digoyang kanan dan kiri supaya sedikit bergeser lalu terseret aliran sungai lagi.

Kaki ikut saya ayunkan dan menendang batu cukup keras dengan maksud ban bergeser. Sayangnya tendangan meleset, malah membuat ujung sandal gunung saya tertekuk. Seketika itu saya menyadari bahwa tali sandal gunung saya putus! Suara tawa pun langsung lepas. Tak selang lama, pemandu yang mengawal kami selama pengarungan berlangsung menarik ban saya agar kembali ke jalan yang benar. Kawan lain yang menyalip dan menyadari keadaan sandal gunung saya yang mengayun tak jelas pun mulai menertawakan.

Ketegangan yang semula mengendap di ubun kepala itu perlahan menguar. Pada intinya susur sungai menggunakan ban itu seru kok.Β River tubing nggak membahayakan asal menuruti aturan dasar selama beraktivitas. Hanya saya saja yang terkena efek faktor U! Hahaha.

Sandal putus ini biarlah jadi kenang-kenangan antara saya dan Ledok Amprong. πŸ˜€

Advertisements

36 Comments Add yours

  1. Terlepas dari keseruan di sini sampai aku kedinginan, kayaknya kamu kalau main-main kudu bawa 2 sandal mas. Ini beneran loh buahahahahha. Ledok Amprong yang bikin seru itu sungainya banyak bebatuan, jadi adrenalinnya terasa. Kalau di tempat yang jarang ada bebatuan bakal tertidur *eh

    Like

    1. Tanpa batu kali yang segede gaban itu, river tubing di Ledok Amprong akan terasa hampa. πŸ˜€

      Hahaha besok kalo piknik ke luar kota dalam waktu lama akan bawa satu sandal jepit satu ama satu sandal lagi (yg dikorbankan putus) πŸ˜€

      Like

  2. ardiantoyugo says:

    tapi seru tuh beroff road ria…
    kalau rafting takutnya cuman ketemu ular… πŸ˜†

    Like

    1. Ularnya nggak main air, tapi entah kalo ban atau perahunya nyangkut di pinggir sungai trus disamperin ular. πŸ˜›

      Like

  3. awansan says:

    Behh seger banget itu 😎😁😁

    Like

    1. Keguyur air berkali-kali waktu river tubing, dan kabar gembiranya Gubugklakah punya ketinggian lebih dari 1000 mdpl. Mengigil… Hahaha.

      Like

    2. awansan says:

      Hahaha sampe mengkeret tuh kedinginan

      Like

  4. winnymarlina says:

    wuiih enak banget river tubing ramai-ramai lagi., dlu waktu ke malang gk sempat ke coban pelangi ini padahal paling hits ya

    Like

    1. Coban Pelangi salah satu air terjun keren di Malang. Ada baiknya ke sana agak siangan biar bisa ketemu pelangi. Nah, artinya Winny disuruh balik lagi ke Malang. πŸ˜€

      Like

  5. Iki ndak trauma gegara dijungkelke pas rafting ndek Pikas kae mas😁

    Like

    1. Yen dipikir-pikir ora juga sih. Tiap rafting di beberapa tempat mesti awakku diceburno, atau jungkal karena perahu terbentur batu, trus tragedi jatuh yang lain hahaha. Mungkin gara-gara faktor U yang udah nggak bisa boong lagi. Hiks.

      Like

    2. Wakakaka eling umur mas ga usah dolanan ngononanπŸ˜…πŸ˜

      Like

    3. yen bisa memilih di umur sekarang memang mending masuk ke bangunan tua kosong sih ketimbang uji adrenalin kek anak muda gini. πŸ˜›

      Like

  6. river tubing itu ujung2nya bikin encok alias boyok jadi pegal hahahaha, itu berdasar pengalamnku

    Like

    1. Kemarin malah mengigil di sepanjang pengarungan. Lah banyune uadem banget, gawe awak setengah mati rasa. Gubugklakah masuk dataran tinggi kaki Gunung Semeru dengan ketinggian di atas 1000 mdpl e. πŸ˜€ πŸ˜€

      Liked by 1 person

    2. ceritavakansicom says:

      Hahaha bener mas, leher pegel paling sering

      Liked by 1 person

  7. mekangkang ki bahasa indonesiane opo mas? haha
    profil deswitanya lengkap.Bisa buat contekan nulis. Tapi kapan ya?

    Like

    1. Hahaha rodo salah ketik, sing bener terkangkang koyo gambarmu nde ngisor dewe kae. πŸ˜€
      Ayok ndang dirampungke tulisane ben iso ngelencer maneh. πŸ™‚

      Like

  8. dwisusantii says:

    Dan kenapa di artikel ini banyak diaebut faktor u terus yaaaa? :p
    Itu tali sendal sampai putus jangan-jangan karena pernah nertawain miss Nidy pas sendalnya putus di Nglinggo… Wkwk

    Jadi Desa Wisata Gubugklakah itu didominasi sama wisata air ya mas? Adem2an ngono ga cocok ke sana sebagai jomlo wkwk ono spot sunset/sunrise meneh :))

    Like

    1. Dulu pas jalan rame-rame di Madura juga pake acara sandal putus. Untungnya pas di desa wisata Yogya, sandalku nggak putus. Atau jangan-jangan tragedi sandal putus pas di Nglinggo malah tak sengaja tergeser buat miss Nidy ya? Hahaha.

      Gubugklakah adem hawane, cocok buat ngadem, mellow yellow, ama jomlo mbayangne calon. πŸ˜€ πŸ˜€

      Like

  9. ceritavakansicom says:

    Seru ya keliatannya

    Like

    1. Seruuu banget, pacu adrenalin yang aman dan menyenangkan. Mesti merasakan langsung di Ledok Amprong, kawan. πŸ˜€

      Like

  10. Hastira says:

    keren nih, itua ir terjunnya asyik banget

    Like

    1. Coban Pelangi salah satu tempat wisata favorit di Kabupaten Malang. Ada yang kurang kalau sudah ke Malang nggak mampir ke Coban Pelangi. πŸ˜‰

      Like

  11. Ikrom Zain says:

    1. coban pelanginya pas banget motonya,
    2. tuh kan asyik buat arung jeram
    3. kenapa klo lewat gubuk klakah aku tidur
    4. wassalamualaikum

    Like

    1. Arung jeram starting pointnya dari Gunung Sari Sunset di mana ada operator khusus di sana. kalau Ledok Amprong dikhususkan untuk river tubing menggunakan ban besar saja. Seruu banget Gubugklakah, next time sempatkan saja singgah biar bisa menikmati suasana. πŸ™‚

      Like

  12. duh, cakep banget ijo-ijo nyegerin mata. jadi teringat kalau udah lama gak main ke sekitaran TNBTS, semoga bisa segera menjejak ke sana. makasih, Halim, rekomendasinya! πŸ™‚

    Like

    1. Seger banget. Kalau ke TNBTS atau ke Malang lagi, monggo mlipir ke Coban Pelangi ama Ledok Amprong. Dijamin liburan jadi makin fresh. Oh ya, pastikan bawa sandal yang kuat biar nggak putus seperti punyaku. πŸ˜€ πŸ˜€

      Like

    2. naah, makasih infonya. mesti bawa sendal cadangan kalau gitu. hehe…

      Liked by 1 person

  13. iyoskusuma says:

    Empat kali ke Malang dan belum ke sini. Dua kali ke Bromo, dua kali ke Semeru. Nampak seru. Aksesnya gimana kalo naik kendaraan umum dari Malang, Mas?

    Like

    1. Menurut penjelasan dari teman saya, Rifqy (papanpelangi), berikut akses dari Malang menuju Gubugklakah. Bisa menggunakan transportasi umum dari Terminal Arjosari, lalu ganti naik angkot putih turun ke Tumpang. Dari Pasar Tumpang ganti angkot warna hijau yang langsung menuju Gubugklakah. Semoga membantu, maz Iyos. πŸ˜€

      Like

  14. Gara says:

    eh saya ketawa mas, mohon maaf ya, haha. tapi pas bangetlah itu foto, sandalnya putus terus wajahmu sumringah begitu, haha.
    tapi seru banget petualangannya. kalau rame-rame memang berasa kebersamaan dan ketakutan. mudah-mudahan suatu hari nanti saya bisa mencoba, selagi umur belum terlalu tua, eh, dijitak ramai-ramai dah karena ngomong seperti itu, haha…

    Like

    1. Boleh ketawa, tapi jangan keterusan yah ntar bikin bingung sekitar kalau ketawa terus hahaha. Pas banget mas Ghozali yang fotoin ekspresiku pake sandal putus di tengah pengarungan. Nah, mulai dari sekarang mari memacu adrenalin, Gar. Bungee jumping kalau perlu, mumpung masih muda! πŸ˜€ πŸ˜›

      Liked by 1 person

    2. Gara says:

      Sip Mas, mudah-mudahan bisa tetep tualang di tengah kesibukan. Jangan sampai terlalu sibuk, tahu-tahu sudah tua, hehe…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s