Intip Potensi Desa Ekowisata Boonpring

Bambu ada di mana-mana. Itu kesan pertama saya terhadap Desa Sanankerto yang terletak di Turen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Bagaimana tidak mengidentikkan desa itu dengan tanaman jenis rumput-rumputan itu jika pendopo Kantor Kepala Desa Sanankerto sudah memikat mata dengan ornamen bambunya. Baru kali itu saya melihat uniknya sebuah pendopo desa yang seolah memberitahu secara halus bahwa telah berkembang kerajinan bambu yang siap diperkenalkan kepada pengunjung.

Ketika kawan yang lain istirahat dengan merebahkan diri di kursi, saya dan Sitam saling pandang dan memberi kode betapa kerennya langit pendopo di sana. Selang beberapa menit kami berdua mengabadikan gambar keunikan pendopo Desa Sanankerto dan yang lain selesai menunaikan salat, pegiat Kelompok Sadar Wisata Desa Ekowisata Boonpring pun mengajak kami bersepuluh berjalan dari kantor kepala desa menuju rumah milik Indra Wahyudi.

Baca juga cerita tentang hutan bambu Boonpring Andeman di sini.

Di rumah tersebut, pengurus desa dan anggota Pokdarwis yang lain telah menunggu kedatangan kami yang tergabung dalam tim piknik #EksplorDeswitaMalang. Aneka hidangan yang tersaji di atas meja siap disantap. Nasi putih, nasi jagung yang masih mengepul uapnya ditemani lauk-pauk khas desa dan telur asin. Semuanya menggugah selera. Tak ketinggalan es buah yang segar sebagai pelepas dahaga. Sungguh sambutan dan keramahan yang luar biasa.

Selanjutnya saya baru tahu bahwa telur asin yang sengaja disajikan di atas meja merupakan produksi dari pemilik rumah. Persis di belakang rumahnya terdapat tempat pengolahan telur bebek menjadi telur asin yang nikmat. Di dapur rumahnya yang beralamat di Jalan Kauman RT15, Sanankerto, Turen, Indra Wahyudi (nomor kontak yang bisa dihubungi +62 8533 2674 242) mulai memperkenalkan dua macam telur asin yang telah diproduksinya, yaitu telur asin biasa dan telur asin asap. Telur yang digunakan berasal dari puluhan bebek campbell miliknya yang mampu bertelur 70-80 butir telur per hari.

Untuk telur asin biasa, pembuatannya seperti telur asin pada umumnya, telur bebek dibalut dengan adonan campuran bata merah dan garam. Setelah didiamkan selama satu minggu di dalam ember, selimut bata merah dibersihkan dan telur asin siap dikukus lalu dihidangkan. Sementara untuk telur asin asap, Indra harus mengasapi telur asin-telur asin itu ke dalam sebuah drum selama empat hingga delapan jam. Keuntungan telur asin asap tentu dari ketahanannya, bisa tahan sampai 20 hari, sedangkan telur asin biasa hanya tahan satu minggu saja. Harga jualnya mulai dari Rp3000,-/butir.

Desa Ekowisata Boonpring
Desa Ekowisata Boonpring

Usai diperkenalkan potensi telur asin, kami dibawa menuju Dusun Karanganyar di mana banyak berkumpul para pengrajin bambu asal Desa Sanankerto. Di sela mengerjakan tugas rumah tangga, ibu-ibu di sana bekerja sambilan membuat tusuk sate setiap harinya. Dibantu dengan alat potong yang sederhana hingga alat potong tenaga mesin, mereka mampu menghasilkan ribuan tusuk sate yang akan diambil oleh para tengkulak dari kota. Satu kilo atau sekitar 1.000 tusuk sate dihargai mulai dari Rp6.000,- oleh mereka.

Biasanya mereka akan membeli satu batang bambu petung seharga Rp40.000,- untuk diolah menjadi ribuan tusuk sate. Ternyata bukan perkara mudah dalam membuat tusuk sate dan tusuk sempol yang sekali pakai saja jika sudah sampai di kota. Para pengrajin harus berjuang untuk memotong satu bilah menjadi beberapa bagian dan menghaluskan serabut-serabutnya. Pisau tajam menjadi teman mereka sehari-hari. Jika lalai, jari teriris alat pemotong bisa menjadi ganjarannya.

Beruntung bagi pengrajin tusuk sate dari bambu yang hasil kerajinannya masih dibutuhkan banyak orang di kota, sementara Bu Pujiati mengeluhkan karyanya sudah jarang dilirik lagi. Beliau adalah seorang pengrajin tompo atau keranjang bambu untuk mencuci beras. Keranjang plastik yang banyak beredar di pasar mengalahkan kharisma anyaman bambu bikinannya yang dijual dengan harga mulai empat ribu hingga tujuh ribu rupiah. Hanya segelintir orang yang masih percaya dengan kualitas dari anyaman bambu sebagai peralatan rumah tangga.

Dari kerajinan bambu sederhana yang mulai ditinggalkan oleh orang kota itulah tumbuh semangat baru yang dikobarkan oleh anak muda desa. Diprakarsai oleh beberapa pemuda kreatif, salah satunya bernama Rudi Siswanto, mereka membuat kerajinan dari limbah batang bambu. Potongan ruas bambu yang tidak terpakai dan potongan akar bambu petung dan bambu ori yang dibuang oleh warga telah mereka manfaatkan menjadi sebuah karya seni yang bernilai jual tinggi.

“Daripada dibuang dan dibakar, semua sampah bambu dari rumah warga kami kumpulkan dan manfaatkan. Batang ukuran pendek dibuat motif yang pendek, sementara yang panjang akan kami buat motif panjang,” jelas Rudi Siswanto (nomor yang bisa dihubungi +62 838 4882 4802). Awalnya dia dan para pegiat Pokdarwis Desa Ekowisata Boonpring tidak menyangka bahwa pemuda-pemuda desa punya jiwa seni yang tinggi. Semangat dan kreativitas mereka ditampung dalam wadah yang diberi nama Kertomulyo.

Harapan Rudi tak jauh dari keinginannya supaya pemuda desa yang putus sekolah tidak lagi menganggur di rumah tanpa berbuat apa-apa, namun bisa menghasilkan sesuatu yang dihargai oleh masyarakat. Hingga kini terkumpul sekitar dua puluh anak muda Desa Sanankerto yang telah menghasilkan ragam kerajinan sampah bambu yang sempat dipamerkan di Majapahit Travel Fair 17th di Surabaya pada bulan April 2017 lalu. Keren, kan?

Buah karya mereka berupa asbak terbuat dari potongan ruas bambu yang tidak terpakai. Lalu hiasan meja terbuat dari batang bambu kecil yang dirakit dengan bantuat lem perekat sehingga menyerupai pohon bambu asli. Mereka pun memanfaatkan akar bambu ori berumur tua untuk diukir menjadi pajangan meja yang cantik.

Masing-masing memiliki harga mulai dari Rp30.000,- untuk asbak bambu, Rp500.000,- untuk sebuah kerajinan bambu yang pembuatannya rumit dan harus meluangkan banyak waktu. Ide cemerlang yang semakin membuka pandangan penduduk desa bahwa di desa pun mereka bisa berkarya, tidak melulu harus banting tulang di kota besar demi meningkatkan ekonomi keluarga. Betul?

Pada akhirnya pring atau bambu memberi banyak manfaat bagi kehidupan manusia seperti falsafah Ngelmu Pring. Mengutip sepenggal puisi dari “Air Kata-Kata” karya Romo Shindunata, “Pring iku mung suket, nanging gunane akeh banget, yaiku jenenge ngelmu pring. Dadio koyo pring. Prasaja ora duwe apa-apa, ning mergo ora duwe apa-apa, bakal bisa dadi apa-apa, koyo pring.” Bambu itu cuma rumput, tapi manfaatnya banyak sekali, itulah namanya falsafah bambu, jadilah seperti bambu, seperti tidak punya apa-apa, namun karena tidak punya apa-apa bisa menjadi apa saja, seperti bambu. 🙂

Advertisements

41 Comments Add yours

  1. cewealpukat says:

    aku baru ingat, ternyata susah meilah bambu buat tusuknya sempol itu wkwkkw. But, emang boonpring keren, karena SDM nya pun dari warga sendiri

    Like

    1. Kalau kebablasan dorong potongan bambu ke alat pemotong pakai mesin bisa bablas juga jarinya. lau kalau ngelamun pas potong bilah bambu dengan pisau juga bahaya. Perlu konsentrasi tinggi demi membuat ribuan tusuk sate sekali pakai itu. 🙂

      Like

  2. Aslikk. Penutupnya bijak banget. Jadi, aku yang orang kota, suka berwisata ke desa. Hehe.
    Mas Rudi kemarin sempet WA minta beberapa dokumentasi foto kita. Haha.

    Dan kerennya, mereka yg kerja buat kerajinan bambu itu rata2 putus sekolah. Mas yang bikin patung itu cuma lulusan SD lhoh.

    Tapi emang keren kok deswita ini. Mudah2an semakin dilirik dan masyarakat di dalamnya makin sejahtera lewat pariwisata ya. Potensinya luar biasa. Sangat disayangkan kalau cuma Pulo Sekar yang laku.

    Like

    1. Selain konservasi bambu di Hutan Andeman, sumber daya manusia di Boonpring menarik untuk diperkenalkan sebagai daya tarik sebuah desa ekowisata. Besar harapan agar bentuk kerajinan di sana berkembang mengikuti permintaan pasar, syukur seperti Tunggak Semi di Malangan yang bisa memasarkan kerajinannya sampai luar negeri. 🙂

      Like

  3. Yang aku kagetkan selain bentuk pendoponya itu adalah perbedaan mencolok antara membuat tusuk sate manual dan pakai mesin. Yaowoh benar-benar dibutuhkan perjuangan kalau manual.

    Like

    1. Yang manual akan menghasilkan tusuk sate yang lebih halus, tapi perlu extra hati-hati. Dan seribu biji diberi harga mulai dari enam ribu rupiah. Kasihan.

      Like

  4. dwisusantii says:

    Kalau maem sate yang diincer daging e tok habis sate tusuk berserakan padahal membuatnya penuhhh perjuangan.
    Bambu selain jadi rumah nyenyak bagi mbak kunti kalau pas malam hari juga menyimpan potensi luar biasa jika berada di tangan yang tepat.

    Kalau Jogja punya Malangan, kalau Malang punya Desa Sanankerto.

    Like

    1. Semakin banyak makan sate yang ditusuk pakai tusuk dari bambu, semakin gundul pula hutan bambu di sana hehehe. Pernah muncul keresahan di Tiongkok yang merupakan negara pengguna sumpit sekali pakai terbesar di dunia. Hutan bambunya jadi menipis dan belum ada konservasi waktu itu.

      Konservasi bambu di Sanankerto jadi salah satu alasan supaya pring di sana bertahan dan terus menampung air tanah untuk kebutuhan warga. 🙂

      Like

  5. Waw pendoponya keren banget itu mas. Keren ya desa sanankerto ini, bambu2 dari hutan yg segitu luasnya juga dimanfaatkan demi perekonomian desa yg harus ttp berputar.

    Like

    1. Bambu yang tertanam di Hutan Andeman sengaja untuk konservasi, sementara kebutuhan untuk membuat kerajinan bambu ada lahan khusus supaya tidak merusak alam Hutan Andeman, Jo. Pastinya kreativitas dari generasi muda diperlukan supaya potensi kerajinan bambu di sana terangkat hingga kancah internasional. 🙂

      Like

  6. Yasir Yafiat says:

    Kreatif ya anak-anak desanya Koh. Keren tuh sudah dipamerkan di acara Majapahit Travel Fair 2017.

    Like

    1. Hampir seluruh bagian dari bambu bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan. Salut dengan pemuda di sana bisa memanfaatkan limbah bambu sebagai kerajinan tangan yang indah. 🙂

      Liked by 1 person

  7. wisnutri says:

    interior pendopo nya cakep!

    penasaran sama telur asin asapnya mas, belum pernaah nyoba hehe
    salut sama kreativitas pemudad desanya. mau memanfaatkan limbah bambu dan diolah jadi barang seni bernilai tinggi

    Like

    1. Tingkat kematangan membedakannya dengan yang rebus biasa, nggak gosong karena sudah diperhatikan waktu pengasapannya. Mesti coba langsung telur asin asap di sana biar nggak penasaran hehe.

      Like

  8. Dulu di sekolah pernah diajarin bikin telor asin..
    Bambu itu sebenarnya banyak manfaatnya, mudah dan cepat tumbuh dan ramah lingkungan.
    sayang ya di kota besar jarang diberdayagunakan nih bambu..

    Like

    1. Loh samaaa, dulu sekolah juga ada mata pelajaran khusus diajarin bikin telur asin sampai pomade. >.<
      Bambu banyak manfaatnya, bikin rumah pakai bambu, peralatan rumah tangga juga banyak menggunakan bambu, sayur rebung pun berasal dari bambu. 🙂

      Like

  9. tyataya says:

    kerajinan bambu sederhana di kampungku masih ada dan semestinya harus dikembangkan seperti di desa ini yaaa. Menjadi bahan penyemangat juga agar potensi desa daerahku bisa berkembang. btw, pendopo Kantor Kepala Desa Sanankerto indah sekaliiii 🙂

    Like

    1. Kerajinan bambu nggak ada kadaluarsanya. Jika diberi polesan dan bisa dipasarkan secara luas, kerajinan bambu akan jadi barang bernilai tinggi, bahkan bisa dilirik konsumen luar negeri. 🙂

      Like

  10. Charis Fuadi says:

    menik hiasan dari pring e,,,,pingin, bagus e..pingin buat sendiri tapi…kapan2 bisa belajar kesana ya

    Like

    1. Temanggung banyak tumbuh pohon bambu yang bisa diolah kah? Ayo maree berkarya, bro. 😀

      Like

  11. Evi says:

    Betapa kaya potensi sebuah desa ya. Banyak yang bisa diusahakan seperti membuat telur asin, yang jelas bahan bakunya lebih mudah di dapat di Boonpring. Ngomong-ngomong mengenai teluar asin asap, seperti apa pulak rasanya, Lim? Mirip ayam bakar atau ikan asap?

    Like

    1. Rasa dari telur asin asap masih seperti telur asin, tapi menurut lidahku gurihnya agak berkurang. Jadi aman bagi yang nggak suka makanan terlalu asin hehehe. Pengolahan telur asin dengan asap ini supaya lebih tahan lama sekitar 20 hari jika disimpan dalam suhu ruang.

      Like

  12. rainhanifa says:

    Saya yang orang Turen malah belum pernah ke sini 😐
    Sudah ada rencana sih, tapi selalu batal karena lain hal. Ternyata menarik banget ya!

    Like

    1. Hutan Andeman Boonpring sudah menjadi obyek wisata di sana. Nah lokasi sentra kerajinan bambunya tidak jauh dari Hutan Andeman. Yuk main ke Boonpring. 🙂

      Like

  13. @nurulrahma says:

    aku juga mau main2 ke siniiii 🙂 🙂
    Seruu ya, banyak pengalaman dan ilmu kehidupan yang bisa tergali

    Like

    1. Seru banget mengekplorasi desanya. Pesona hutan bambunya memikat, pun kerajinan tangan karya warga desa di Sanankerto. Yuk main ke Boonpring Sanankerto, mbak Nurul. 🙂

      Like

  14. Pengalaman yang menarik. Senang melihat anak2 muda kreatif dengan kegiatan yang positif seperti Ini..

    Liked by 1 person

    1. Meski putus sekolah, tidak menghalangi mereka untuk berkarya. Karya yang akan membantu mereka mandiri dan semakin percaya diri dengan kemampuannya. 🙂

      Liked by 1 person

  15. wiihh kreatif yaaa. keren

    Like

    1. Mencerahkan banget lihat kerajinan tangan dari bambu seperti Boonpring Sanankerto ini. Jadi ingin mengolah limbah serupa agar bisa bermanfaat. 🙂

      Liked by 1 person

    2. lha iya koh. kerajinan A ada limbah X diolah jadi kerajinan B gitu. jadi sampe ngga ada sisa. cakep!

      Like

  16. Hadi Prayitno says:

    Kerajinan bambunya keren juga

    Like

    1. Hutan bambunya juga rimbun dan sudah jadi obyek wisata andalan di Boonpring. Monggo mampir Boonpring Sanankerto. 🙂

      Like

  17. Deddy Huang says:

    potensi ekonomi di desa ini kayaknya bisa dikembangin lagi ya.

    Like

    1. Betul, koh Deddy. Kerajinan bambu bisa ditingkatkan lagi oleh pemuda-pemudi di sana. Syukur karya mereka jadi khas dan bisa tembus kelas nasional.

      Liked by 1 person

    2. Deddy Huang says:

      Semoga kita pun bisa tembus kelas nasional dan internesyenel *eh 😗😁

      Liked by 1 person

  18. Mirwan Choky says:

    Kalau di tempat ku, telur asin nya dikasi warna hitam, gak tau deh dari bahan apaan. Kalau yang ini coklat yah….

    Like

    1. Brebes juga punya telur asin yang kehitaman, sepertinya pakai tambahan bahan arang untuk pewarnaannya. Kalau di Sanankerto proses pemanggangan telur asinnya dimasukkan ke dalam drum jadi warna cangkangnya jadi kecoklatan.

      Like

    2. Mirwan Choky says:

      Oooohh…. gitu ya…

      Like

  19. Akuuu masih nol tentang tempat ini, baru tahu ya setelah baca tulisan ini hehehe. Pendoponya asik ya, nyeni gitu. 🙂

    Like

    1. Hutan bambunya keren banget dan woww bagi pemburu ray of light. Yokk main ke Sanankerto, Qy.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s