Kisah Bunga Krisan Desa Poncokusumo

Kendaraan beroda empat yang kami naiki mendadak berhenti di depan sebuah rumah yang terbilang cukup mewah di desa. Sempat bertanya-tanya dalam hati, kenapa kami dibawa ke rumah ini, padahal menurut rundown yang saya dengarkan malam sebelumnya di balai desa, pagi ini terjadwal kunjungan ke sebuah kebun bunga. Tak lama kemudian Pak Choirul Anam atau akrab disapa Pak Mbah turun dari sepeda motornya, mengarahkan kami untuk turun dan masuk lewat halaman samping rumah itu. Pegiat Pokdarwis Desa Wisata Poncokusumo tersebut menuntun kami ke sebuah green house, bangunan tertutup jaring net yang dari kejauhan terlihat samar petak-petak dipenuhi bunga bermekaran di dalamnya.

Spanduk bertuliskan “Budidaya Bunga Krisan, Kelompok Tani Kusuma 1, Desa Poncokusumo.” menyambut saya dan kawan-kawan yang tergabung dalam tim piknik #EksplorDeswitaMalang bulan April 2017. Disusul jabatan tangan yang hangat dari Pak Misnan, pengurus kelompok tani sekaligus pemilik kebun bunga di sana. Tidak menunggu lama, Pak Misnan membuka gembok yang terikat di pintu kayu green house beratapkan plastik itu, lalu mempersilakan kami bersepuluh untuk masuk ke dalam. Sinar matahari pagi yang mulai menyorot masuk green house semakin memperjelas hamparan bunga krisan aneka warna di sana. Sungguh pemandangan yang membius mata.

Berada di ketinggian sekitar 1.000 mdpl, Desa Poncokusumo ini diberkahi tanah yang subur serta udara sejuk lereng Gunung Semeru. Meski populer sebagai desa jalur lintas menuju Gunung Bromo melalui pintu masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sisi Kabupaten Malang, buah apel dan jeruk telah menjadi komoditas unggulan di desa yang sekaligus menjadi pusat administrasi dari Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pun semenjak dikukuhkan sebagai sebuah desa wisata, Desa Wisata Poncokusumo mulai mengangkat potensi wisata alam di sana dan mengenalkan edukasi serta paket dengan aktivitas petik apel, petik jeruk di beberapa kebun milik warga. Tak terkecuali mengenalkan budidaya bunga krisan yang sudah dikembangkan oleh beberapa petani di sana. Dengan potensi yang saya sebutkan jadi ada alasan untuk singgah ke Desa Wisata Poncokusumo, kan?

kebun bunga krisan Poncokusumo
Pak Misnan, pemilik kebun bunga krisan

Awalnya Pak Misnan melakoni profesi sebagai petani apel, sama seperti pekerjaan sebagian besar warga yang tinggal di Desa Poncokusumo. Beliau mengawali ceritanya dengan menyebutkan tahun 2011 sebagai permulaan menjalani usaha budidaya bunga krisan. “Dinas Pertanian menyarankan saya untuk memulai budidaya karena ada prospek bagus untuk bunga krisan di Poncokusumo,” jelasnya.

Dari ide dan dana yang cukup, Pak Misnan menyewa lahan kosong milik tetangganya dan membangun sebuah bangunan tidak tetap berpondasi batang bambu yang ditata rapi dengan atap dan dinding tembus cahaya. Dalam istilah pertanian, bangunan pelindung tanaman itu disebut green house.

Jika tertarik untuk mengunjungi salah satu green house budidaya bunga krisan di Desa Wisata Poncokusumo bisa terlebih dahulu menghubungi pegiat Pokdarwis Poncokusumo, Pak Choirul Anam melalui nomornya 085105025770. 🙂

Krisan atau seruni, bunga asal Asia Timur ini disukai pendekor bunga sebagai hiasan untuk pernikahan, karangan bunga, dan tanaman pot yang mempercantik ruangan. Tentu ada banyak tipe dan perbedaan dari jenis tumbuhan yang masuk dalam suku kenikir-kenikiran yang tersebar di benua Asia dan benua lain. Masing-masing telah mengalami perkawinan silang dan beradaptasi terhadap lingkungannya yang baru.

Tidak hanya sebagai penghias saja, negara Jepang dan Tiongkok telah memanfaatkan bunga bernama latin Chrysanthemum sebagai campuran untuk teh. Jika pernah masuk ke shinse atau toko obat khusus ramuan dari Tiongkok, racikan dari bunga krisan dipercaya bisa membantu mendinginkan dan meredakan sariawan hingga radang tenggorokan.

Budidaya bunga krisan memerlukan tempat lindung dengan atap plastik UV 70% dengan harapan setiap harinya mereka menyerap 30% cahaya matahari. Supaya bibit bisa tumbuh dengan baik, angin kencang dan air hujan yang berlebihan juga harus dihindari. Paranet yang berbentuk anyaman jaring terbuat dari nylon menjadi bahan dinding green house milik Pak Misnan.

Upaya itu dilakukan supaya kondisi kelembaban di dalam ruangan terjaga serta ada sirkulasi udara dari luar. Tanpa saya sadari, keringat mulai membasahi kening saya selama melakukan sesi tanya jawab dengan Pak Misnan. Nggak kebayang bagaimana dua pekerja di sana yang harus menahan panas untuk menyirami kebun selama dua kali sehari setiap harinya.

Beberapa lampu bohlam terlihat sengaja digantung di atas petak-petak bunga. Matahari yang bersinar kurang lebih sepuluh jam di negeri tropis ternyata dianggap kurang cukup sebagai syarat pertumbuhan bunga krisan. Belum jika musim penghujan datang, di mana matahari bersinar lebih singkat. Maka dari itu diperlukan penyinaran lebih lama dengan bantuan lampu pijar pada malam hari supaya lebih cepat merangsang pembentukan bunga. Setelah pemeliharaan dan pengairan yang rutin, bunga krisan siap dipanen dalam waktu kurang lebih tiga setengah bulan.

Dari cerita Pak Misnan saya jadi tahu bahwa bunga krisan termasuk tumbuhan yang satu kali panen. Usai menghasilkan bunga yang lebat, batang bagian bawah akan dicabut seakar-akarnya. Tanah kembali diolah dan diberi pengapuran supaya siap untuk penanaman selanjutnya.

“Bunga Krisan warna kuning, putih dan merah muda menjadi tipe krisan yang disukai oleh banyak orang,” paparnya. Beliau pun menjelaskan bahwa bunga dengan satu tangkai memiliki harga lebih mahal dari bunga yang tumbuh serumpun. Bunga Krisan hasil panennya akan dijual ke pengepul mulai dari harga Rp900,- per tangkai.

Usaha yang dirintisnya boleh dibilang berjalan mulus. Bibit krisan yang dibeli dari petani khusus bibit bunga tersebut berhasil membuahkan panen melimpah yang kemudian dipasarkan ke Kota Batu hingga dikirim ke luar Kabupaten Malang, seperti Pulau Bali salah satunya. Krisan termasuk bunga yang terbilang tahan lama, bisa awet hingga 10 hari. Pengemasan dengan kertas khusus untuk melindungi bunga dari kerontokan dan kardus tebal menjadi langkah selanjutnya sebelum proses pengiriman berjalan. Omsetnya sekali panen bisa mencapai dua puluh juta rupiah loh! Keren, kan?

Meskipun terdengar bercerita tanpa kendala, beliau juga punya masalah tentang hama yang menyerang pertumbuhan bunga krisan. Tungau yang menyerang daun hingga menimbulkan bercak-bercak kuning merupakan salah satunya. Pun penyakit yang disebabkan oleh jamur yang menyebabkan munculnya bintil-bintil. Penyemprotan insektisida tiga hari sekali dan pemotongan terhadap daun yang terjangkit menjadi pengendalian yang terus dilakukan oleh pekerja di sana agar tidak mengalami gagal panen.

Dari kunjungan ke salah satu tempat budidaya bunga krisan di Desa Wisata Poncokusumo ada banyak ilmu baru yang didapatkan. Tidak berbau wangi bukan berarti kisah perjalanan hidupnya kurang menarik didengarkan. Mendengar dari proses awal penanaman bibit bunga hingga perjuangan petani di sana dalam pemeliharaan bunga-bunga yang kelak menghiasi gedung pernikahan itu sangat menginspirasi. Yah siapa tahu bisa mencoba budidaya serupa di lahan sewaan di kota. Siapa tahu juga kalau suatu hari nanti kekurangan stok bunga untuk menghiasi pelaminan bisa langsung pesan di Desa Poncokusumo. 😉

Advertisements

49 Comments Add yours

  1. winnymarlina says:

    besar juga omset bunga krisan ya halim bagus untuk ditiru selain cantik bunganya bisa mengahasilkan uang lagi

    Like

    1. Bunga krisan semakin laris manis sebagai karangan bunga ketika banyak hajatan di bulan-bulan yang dianggap baik untuk menikah. 😀

      Like

  2. Sebelum melihat bunga krisan ini, aku pernah mengunjungi bunga krisan di Bandungan, dan di sana banyak pengunjungnya. Masuk bayar 7.500 atau berapa aku lupa untuk satu orang. Pas di sini sayangnya kita tidak bisa melihat proses menanam bibitnya mas, kalau bisa bakalan lebih seru. Potensi besar untuk bapaknya mengembangkan, karena banyak permintaan bunga terlebih asat musim nikahan kakakak. Bikin dekorasinya kan juga dari bunga Krisan 😀

    Liked by 1 person

    1. Tadi sempat riset data, ternyata bunga krisan juga bisa dibudidayakan di lahan dengan ketinggian 800 mdpl. Sepertinya menarik buat dicoba di deket rumah nih hehehe. Nahh iya, makin banyak orang kawinan, bunga krisan akan semakin laris. 😛

      Like

  3. Baru tahu krisan cuma sekali panen doang, lalu dicabut. Hmm sepertinya bisnis yg cukup menggiurkan ini, terlebih bunga krisan bisa dipakai untuk berbagai macam keperluan, ga cuma untuk pelaminan

    Like

    1. Arisan eksklusif bisa pake bunga krisan sebagai bucket hiasan di meja makan. Belum acara-acara penting di kantor dan hotel. Lebih murah dari bunga mawar sering jadi alasan pembeli memilih bung krisan. Tapi kembali ke selera masing-masing juga sih.

      Like

  4. kunudhani says:

    Aku baru tau loh ada gini d poncokusumo, itu bsa kitta beli ga sih? Attau d sktr sna ada yg jual? Klo yg petik mawar kn kta blh ptik ntar d itung 😆

    Like

    1. Sementara masih belum bisa dibeli, boleh mengunjungi setelah mendapat izin pemiliknya. Ada baiknya sih pakai sistem seperti itu, mengunjungi dan bisa beli bunganya juga di sana sebagai oleh-oleh. Ntar diusulkan ke pokdarwisnya Poncokusumo ya. 😀

      Liked by 1 person

    2. kunudhani says:

      Jadi pengen main 😃 iya mas, semoga tambaah sukses petaninya 😆

      Like

  5. dwisusantii says:

    Salut sama Pak Misnan, telaten banget :))

    Aku pernah dengar, daerah jakal juga ada budidaya bunga krisan dan anggrek. Karena telah berada di zaman punya stok foto banyak dianggap tentram hatinya, jadi tiap yang mau selfie di sana dipungut 20-25k :p

    Kan kembang enceng gondok sampai kembang tebu saja jadi spot foto kalau di jogja ki :’D

    Mas halim ga ada niat nyicil nanemin bunga ini buat dekor nikahan? calonnya dipikir ntar lagi.

    Like

    1. Kebutuhan bunga termasuk buat dekor nikahan jadi alasan kuat petani mulai membudidayakan bunga krisan. Dulu pernah mlipir di salah satu budidaya krisan di Kaliurang, bayar 15ribu kalau nggak salah ingat. Bisa foto sepuasnya dan nanya-nanya ke petaninya. 🙂

      Sik, iki lagi cari lahan buat nandur dewe bunga hias dekor nikahanku. Kalau kurang baru beli di luar. Hahahaha

      Like

  6. Ko itu cantik-cantik semua bunganya ya. Gak nyangka lho kalau di daerah Malang coret alias kabupaten ada budidaya Krisan juga. Selama ini kupikir hanya di Batu. Omzetnya juga bikin ngiler, kerja ngantor 3 bulan aja gak sampai segitu. ahahaha

    Like

    1. Lereng Gunung Kelud sepertinya bisa jadi lahan subur buat bikin green house, Sil. Siapa tahu aja selain budidaya bunga krisan bisa kembangin bunga yang lain di sana, tapi jangan budidayain bunga-bunga yang namanya disamarkan di televisi ya. Hahahaha.

      Like

  7. Evi says:

    Wuiiih… Aku senang banget kalau diajak ke sini. Bisa-bisa nggak pulang karena betah berdiri berlama-lama di area yang dikelilingi bunga. Bisa motret juga nggak habis-habis 🙂

    Like

    1. Beneran asyik lihat bunga-bunga di sana. Bakalan betah foto bunga dan betah foto ala-ala. Hehehe. Oh iya kusarankan datang ke green house jelang sore agar tidak kepanasan di dalam, tante Ev. 🙂

      Like

  8. jadi pas pulang, dapat berapa tangkai bunga krisan?

    Like

    1. Bunganya sementara itu dipetik untuk dijual ke tengkulak aja, jadi kemarin cuma bawa pulang foto bunganya aja hahaha.

      Liked by 1 person

  9. mysukmana says:

    bunga krisan juga digunakan sebagai campiran makanan di alila itu ya kak halim hahaha

    Like

    1. Kok lali ya. Sepertinya sih begitu, enak dikeramusi sih bunganya. Hahaha.

      Like

  10. momtraveler says:

    Sukak banget bunga krisan terutama yg putih

    Like

    1. Warna semburat juga mulai dikembangkan, jadi banyak pilihan kalau mau rangkai buket bunga pakai krisan. Mbak Muna mesti mampir ke sini biar bisa ganti foto baru buat display picture-nya. Hihihi.

      Like

  11. berarti krisan nggak boleh kena matahari langsung ya, koh?
    tapi panasnya itu karena “efek rumah kaca” yang dihasilkan atap plastiknya, ya

    Like

    1. Sinar matahari yang terlalu terik akan merusak daun dan bunga. Rawan penyakit juga jika diletakkan di area terbuka. Yup efek rumah kaca yang menahan panas di dalam sehingga kelembaban di dalam ruang terjaga. Makanya green house jadi solusi untuk petani yang serius ingin membudidayakan bunga hias dan tanaman lain sistem hidroponik. 😉

      Like

    2. kalo di harvest moon, upgrade terakhir rumah petani ya ada kebun yang pake kaca semua, koh. hahaha

      Like

    3. Iki malah bahas game. LOL. Game harvest moon menginspirasi buat tandur-menandur ya. Hahaha.

      Like

  12. Charis Fuadi says:

    pingin punya didepan rumah..sama-sama hidup di pegunungan cocok kayaknya sampingan ini saya

    Like

    1. Yes green house di depan rumahmu wes jadi, aku diweruhi ya, bro. Nti tak ramaikan pakai beli buat bikin buket-buket bunga di Solo. 😀

      Like

  13. ghozaliq says:

    Aku kok kemarin pas di situ lupa gak nanya, kok gak ada lebah sama kupu-kupu di dalamnya,, apakah gak ngaruh sama perkembangna bunganya ya…

    Yang gak betah lama-lama di dalamnya ya itu, terasa “hangat” yang kalau dibiarin bisa jadi keringat, ahahaha

    memang cocoklah buat foto-foto, terlebih sudah ada jalurnya untuk berjalan kaki,,

    Like

    1. Kalau nggak salah baca di salahs atu sumber, bunga krisan bisa dilakukan penyilangan yang kelak memberi buah atau bunga yang bergantung pada kelembaban dan pencahayaan di green house saja. Bener, tempat ini seharusnya bisa menarik perhatian para pengunjung supaya bisa singgah lama di Desa Wisata Poncokusumo. 🙂

      Like

  14. Yasir Yafiat says:

    Omsetnya menarik banget. Perawatannya agak jlimet ya koh untuk masalah hama.

    Like

    1. Hama dan penyakit jadi musuh besar para petani, jadi kudu telaten biar dapat hasil panen sesuai yang mereka harapkan. Yasir mau coba berkebun juga? Yukk. Hehehe.

      Liked by 1 person

    2. Yasir Yafiat says:

      Suka, dulu sering nanem bubga dalam pot di pekarangan rumah. Tapi karena aku orange cpt bosen jadi ya embuh saiki bungane hehehe

      Like

  15. Wah cantik banget! Untuk masuk ke lokasi budidaya apakah harus membayar tiket masuk?

    Like

    1. Jika ingin masuk ke sana bisa minta izin terlebih dahulu ke pemiliknya. Atau melalui sekretariat pokdarwis Poncokusumo dan memilih paket wisata yang mereka tawarkan. 🙂

      Like

  16. nur rochma says:

    Saya pernah ke Bandungan, ramai banget pengunjungnya. Btw untuk kesini apakah bisa langsung ke tempatnya? Atau harus reservasi dulu?

    Like

    1. Mengingat green house di Desa Poncokusumo baru saja diperkenalkan, ada baiknya reservasi dulu melakui sekretariat Pokdarwis Poncokusumo atau menghubungi Pak Choirul Anam lewat nomornya di 085105025770. 🙂

      Like

  17. Mesra Berkelana says:

    Yang ku ingat masuk kesini cuma rasanya panas kayak di oven hahaha

    Bapak-bapak yg kerja ini pasti udah panas-panassan didalam ya, kalo kata pak misnan ” sauna alami ” 😂

    Yg aku tahu ngerawat bunga gini gampang2 susah, sirkulasi udara, pencahayaan betul2 di perhatikan.

    Yg serem ya kalo keserang hama, bunganya jadi ada bercak2 hitam gt

    Like

    1. Setelah keluar dari green house badan jadi enteng yah. Terasa ringan karena keringat keluar terlalu banyak dan perlu banyak asupan air hahaha. Budidaya bunga Krisan sungguh menjanjikan di masa depan. Perlu ketelatenan dan kecintaan supaya panen bunga krisan berhasil. 🙂

      Like

  18. wah taman bunga yang punya kasihatnya yak. seru banget bisa trip kesana. semoga kesampaian

    Like

    1. Tempatnya sangat menarik sebagai tempat edukasi maupun inspirasi. Di sisi lain, budidaya bunga krisan juga mudah dilalukan di Jawa mengingat tanaman ini memang tanaman subtropis.

      Like

  19. Dita says:

    aku merasa gagal jadi orang Malang, gatau ada tempat kayak gini 😦

    Like

    1. Dari Kota Malang ke Turen deket kan, kak Dita? Jadi kapan mudik ke Malang dan kapan mau mlipir ke Desa Poncokusumo buat lari-lari kecil ala Syahrini di taman bunga? Hihihi.

      Like

    2. Dita says:

      hiks hiks deket sih kaaak, masalahnya kalo lagi di Malang statusnya jadi “buronan mertua” hahahaha

      Like

  20. Krisan adalah salah satu komoditas flora yang pengen aku usahain kelak wkwkwkw, amiiiiinnnn :’))))

    Like

    1. Waiki lulusan pertanian pingin bikin budidaya bunga. Suk ajari teknik dasare ya, Qy. Awakku yo punya mimpi punya kebun bunga luas dengan aneka ragam bunga di depan rumah, belakang rumah, halaman samping. Intine mau bikin rumah bungaaaa. 😀 😀

      Like

  21. cewealpukat says:

    dulu, hampir setiap minggu aku ke toko bunga dan pesan bunga krisan buat dekor, ehehehe. Padahal ndak wangi, tapi warnanya yang bagus. Dan sekarang kini ku baru tahu, panen krisan ini cukup lama

    Like

    1. Bunga Krisan buat dekor rumahmu, Ay? Duhh kok nggak undang-undang kalau ada pesta di rumahmu hahaha. Bunga krisan nggak harum, tapi warna-warninya memikat dan bikin ruang jadi berwarna.

      Like

  22. trisa says:

    kak boleh saya minta email atau instagram atau contact kakak yang lain saya mau tanya soal desa poncokusumo kak

    Like

    1. Halo Trisa, jika tertarik dan ingin mengetahui lebih banyak informasi tentang Desa Wisata Poncokusumo bisa menghubungi pegiat pokdarwis Poncokusumo, Pak Choirul Anam di nomor whatsapp-nya 085105025770. Semoga membantu. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s