Mengulik Kreativitas Desa Wisata Malangan di Sleman

“Selamat Datang di Desa Wisata Malangan (Wisata Kerajinan)”, sambutan pertama yang saya baca, tertulis di papan besi di depan kantor sekretariat Pokdarwis Malangan setelah saya dan kawan-kawan yang tergabung dalam tim piknik #EksplorDeswitaJogja turun dari mobil. Disusul jabatan tangan dan senyum hangat dari para anggota Pokdarwis atau Kelompok Sadar Wisata Malangan yang diisi pemuda dan warga desa yang rata-rata sudah berusia separuh baya. Mereka mengenakan baju lurik warna biru yang seragam satu sama lain, lalu kepala mereka telah diberi ikat dari kain bermotif batik atau sering disebut udeng.

selamat datang di Desa Wisata Malangan

“Saya ucapkan selamat datang di Desa Wisata Malangan, Moyudan untuk kawan-kawan blogger,” sambut Pak Wiji selaku pengelola pokdarwis mewakili yang lain. Tak lama kemudian mereka mempersilakan kami mengambil suguhan yang telah disediakan berupa wedang uwuh dan jajanan mirip cenil. Bukan hanya itu saja keramahan yang mereka perlihatkan pagi itu, selanjutnya satu-persatu dibagikan kain berbentuk segitiga motif batik untuk kami kenakan sebagai ikat seperti yang dipakai oleh anggota pokdarwis di sana. Rupanya kami diajak merasakan seperti apa budaya lokal yang diterapkan di desa wisata yang terletak di Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut.

Desa Wisata Malangan yang mulai terbentuk sebagai desa wisata mulai tahun 2007 ini tidak hanya menonjolkan kearifan lokalnya saja, melainkan menawarkan kegiatan untuk melihat lebih dekat aktivitas warga terutama kerajinan yang sudah berkembang di sana. Uniknya potensi-potensi kerajinan di Desa Malangan sebagian besar sudah berjalan puluhan tahun, punya nama besar, bahkan gaungnya sudah terkenal sampai mancanegara loh! Keren, kan? Jadi, ada apa di Desa Wisata Malangan?

Kami bersembilan diajak keliling desa bersama para anggota Pokdarwis Malangan menggunakan sepeda onthel, bukan berjalan kaki sebab jarak satu tujuan dengan lainnya lumayan berjauhan. Dari situ saya melihat betapa tenang dan asrinya lingkungan Desa Malangan, padahal jaraknya tidak terlalu jauh dari pusat keramaian Kota Yogyakarta (sekitar 30 kilometer). Rata-rata jalan desa di Desa Malangan, Moyudan ini punya ukuran yang cukup lebar sehingga tidak membahayakan jika di jalanan yang sepi mengayuh pedal lalu jalan berdampingan sambil bergandengan tangan #halah. Eh, beneran banyak spot cantik yang bisa digunakan untuk foto pre-wed! 😀

Informasi tentang paket dan reservasi homestay di Desa Wisata Malangan bisa menghubungi:
Pak Wiji 087839728330, Andri 082137223912, atau Janu 085743300969.
Juga bisa kunjungi mereka di FB: Wisata Malangan dan IG: @desawisata_malangan

Pertama-tama kami diajak melihat proses pembatikan yang dilakukan oleh rumah batik H&S di Dusun Krandon, Malangan. Tak banyak pengrajin batik di sana, hanya terlihat seorang ibu yang dengan sabar dan telaten mengoreskan tetesan malam panas dari lubang cantingnya ke kain mori putih yang diletakkan di pangkuannya. H&S sendiri lebih banyak memproduksi dan menerima pesanan seragam motif batik yang kain batiknya tidak hanya menggunakan batik cap atau kombinasi, melainkan juga menggunakan kain printing motif batik sebagai seragam sekolah, seragam kantor secara partai kecil maupun besar.

Selain memiliki hamparan persawahan yang masih luas, Desa Wisata Malangan juga telah mengembangkan teknik budidaya ikan yang dulu masih terbilang konvensional. Salah satu peternak ikan gurame di sana yang bernama Pak Yatno menjelaskan secara singkat sistem booster yang diadopsi dari kawannya itu. Modal awalnya hanya empat setengah juta rupiah untuk membangun lima petak kolam 1,5 x 1,5 meter dengan kedalaman satu seperempat meter, kini dia bisa mendapat keuntungan berlipat dibandingkan dengan cara beternak dengan kolam besar. “100 ikan gurame di dalam satu petak kolam ini sudah siap dipanen dalam delapan bulan,” jelasnya. Sistem booster dinilai menghemat lahan dan sangat efektif untuk mendapatkan panen yang berlimpah.

Langkahnya kurang lebih seperti ini, telah ditanam sebuah paralon pembuangan berukuran 2″ dan sebuah paralon saringan dengan ukuran 4″ yang dipasang hingga dasar kolam di tengah masing-masing kolam. Setelah terisi penuh oleh air dan disebar benih ikan gurame/ lele/ nila, pemiliknya hanya perlu memberi pakan dua sampai tiga kali sehari serta membersihkan atau mengganti air kolam satu minggu sekali jika diperlukan. Puncaknya adalah ketika kolam dirasa sudah terlalu keruh, paralon saringan akan dicabut untuk membantu mengeluarkan kotoran ikan yang menumpuk di dasar kolam tanpa menghilangkan plankton sebagai makanan alami ikan tersebut.

Terdengar mustahil saat melihat langsung ke dalam petak kolam yang masih kosong pasca panen dan membayangkan kelak seratus benih ikan gurame akan membesar dan hidup di sana. Pak Yatno yang memulai budidaya ikan tahun 2014 tidak pelit berbagi ilmu dan kisah suksesnya di depan kami. Dari penjelasan lanjut yang dituturkan oleh Pak Yatno, saya jadi paham bahwa sistem booster tidak menyiksa ikan-ikan, justru mereka lebih mudah dipantau perkembangannya, lebih sehat dan tidak membuang banyak waktu para peternak untuk membersihkan kotoran ikan di dalam kolam.

Sepeda onthel kembali kami kayuh menuju kediaman seorang empu keris yang namanya sudah dikenal oleh sebagian besar kolektor keris, bahkan Sultan dari Kesultanan Yogyakarta pun sering mempercayakan pembuatan keris sesuai permintaan di sana. Sayang, besalen atau bengkel keris yang kini dikelola oleh Empu Sungkowo Harumbrodjo sepi aktivitas karena semua peralatan pembuatan keris diboyong untuk workshop sebuah pameran kebudayaan selama beberapa hari. Sehingga pagi itu kami hanya bisa berpuas diri mendengarkan Empu Sungkowo Harumbrodjo menjelaskan langkah demi langkah proses pembuatan keris sambil membayangkan seperti apa kesakralan dan percikan api yang dihasilkan dari tempaan si empu keris.

Nama besar Ki Empu Jeno Harumbrodjo, ayah dari Empu Sungkowo Harumbrodjo diteruskan oleh anaknya setelah mendiang Empu Jeno berhenti berkarya tahun 2006. Alm Empu Jeno sendiri merupakan keturunan ke-17 dari Ki Tumenggung Empu Supodriyo yang menurut cerita Mbah Sungkowo berasal dari kerajaan Majapahit yang berkembang pada abad ke-13. Setelah kerajaan Majapahit runtuh, Empu Supo yang termasuk salah satu penggede kerajaan yang ikut lari ke barat dan menetap di Dusun Ngento-ento. Anak cucunya yang mewarisi ilmu spiritualnya terus menempa keris dari waktu ke waktu.

Empu Sungkowo Harumbrodjo
Empu Sungkowo Harumbrodjo

Sejak tahun 1953 hingga 2006, Empu Jeno telah membuat sekitar 235 keris yang sebagian besar merupakan pesanan khusus Sri Sultan Hamengkubuwono IX, pejabat-pejabat, pengusaha, bahkan petani yang ingin hasil panennya melimpah. Pembuatan keris di rumah Seni Tempa Pamor ini masih menggunakan rangkaian spiritual seperti sesaji berupa tumpeng, ingkung, jenang sebelum dimulainya penempaan, lalu pemakaian batu meteor untuk menampilkan pamor dari calon keris. Ada banyak sisi spritual dari sebuah keris yang memerlukan banyak kalimat untuk menjelaskannya. Akan saya jelaskan ketika sudah melihat langsung prosesnya saja kelak. 😉

Mbah Sungkowo sempat menjelaskan bagaimana leburan besi berkualitas yang didapat dari bantalan rel kereta api peninggalan Belanda dicampur dengan nikel dan potongan batu meteor yang semula memiliki berat lima belas kilogram menyusut menjadi delapan kilogram saja. Beliau juga menerangkan perbedaan jumlah luk atau lekukan yang diberikan untuk keris. “Lekukan berjumlah 11 sering digunakan oleh seniman yang memesan khusus,” terang Mbah Sungkowo sambil memegang calon keris di depan besalen miliknya yang sedang tidak ada aktivitas. Adapun penggunaan perasan jeruk nipis sebagai tahap akhir pembuatan keris supaya guratan pamornya terlihat lebih jelas usai direndam selama 24 jam.

asrinya Desa Wisata Malangan, Moyudan, Sleman

Sungguh terlalu banyak pengetahuan baru yang didapat ketika berkeliling di Desa Wisata Malangan. Rasanya saya enggan cepat beranjak dari satu tempat ke tempat yang lain supaya bisa mendengarkan lebih detail atau malah diajak ikut serta dalam sebuah workshop yang diadakan oleh mereka. Sungguh tidak cukup seharian melihat dan mempelajari potensi-potensi di Desa Malangan, apalagi saat saya mengetahui bahwa di desa wisata tersebut memiliki sebuah perusahaan kerajinan bambu yang sudah mendunia!

to be continued …

Advertisements

40 Comments Add yours

  1. dwisusantii says:

    Pas dijelaskan tentang booster aku malah asyik poto-poto di kerajinan bambu :p tak apalah masih bisa menyimak di sini.
    Request mas, pembuatan kerisnya dibuat tulisanmu sendiri suatu saat nanti :p pas ada cipratan” bara apinya gitu.
    Syukur-syukur aku dijawil lagi kalau mau ke sanaa

    Like

    1. Yukk ke Malangan lagi, mbak Dwi. Pingin liput proses pembuatan keris dari awal sampai akhir nih. Eh tapi kalau pembuatannya memakan waktu lebih dari satu bulan bisa kost di sana donk hahaha.

      Like

  2. Itu kenapa hrs ada fotoku yanggg….. 😥

    Like

    1. Fotomu tampak dari belakang itu fotogenik banget loh. Lekukannya dapet banget! Hahaha.

      Like

  3. Hidup pak Wiji *eh
    hahahahhha.
    Pokoknya nggak bosan di sini. Itu yang foto paling bawah keren bagus (ada aku). Kudu ke sana lagi pas pembuatan keris mas 😀

    Like

    1. Jajaran pohon kelapa yang kita lewati instagrammable banget. Sayang kita nggak berhenti sejenak dan foto bareng di jalan sepi itu. Kode disuruh balik ke Malangan lagi kayaknya. Pakai nginep dua malam kalau bisa. 😛

      Like

  4. Alid Abdul says:

    Salam sama Pak Wiji 😊
    Aku nggak ngeh sama sistem booster, aku tahunya ikan gurame yang uda dibakar ditambah sambel dan nasi punel hangat hehe

    Liked by 1 person

    1. Hahaha ikan lele bakar di Rumah Makan Gubug Jowo-nya enak kan? Duh jadi ngebayangin makan gurame bakar di Malangan, dicocol sambel, slurppp…

      Like

  5. itu mbak dwi sama mbak aya apa nggak kesulitan pas naik onthel? wkwk
    oh salah satu bahan yang bagus buat bikin keris itu rel belanda? waa asal jangan diambilin aja rel di jalur yang udah mati. itu larangan 😦

    Like

    1. Besi yang menurut si empu punya kualitas bagus bukan rel yang dilewati roda kereta, tapi bantalannya yang biasa ada kayu-kayu jatinya itu. 🙂 Nahh kemarin blom sempet nanya si empu beli besi itu dari mana. Penasaran juga kih hahaha.

      Liked by 1 person

  6. pertama kali disebut kata ikan booster, aku langsung mikir ikan glonggongan. Ikan muda tapi sudah gemuk2 dan siap panen kaya ayam2 gt. ternyata booster itu sistem pengurasanny. haha. Sumpah, aku belajar banyak di sini. Malangan emang tempat yang kaya potensi, sayang banget g bisa ngeliat proses pembuatan kerisnya. padahal pengen mengulas lebih dalam lagi.

    Yg aku salut dari Malangan, mereka secara pokdarwis siap menyambut. Mulai dari hidangan, sepeda, sampai pakaian kompak banget. haha. Aku tunggu part 2 nya.

    Like

    1. Sistem booster di perikanan ini terobosan baru budidaya ikan tanpa bikin ikan-ikan stres. Makanannya pun nggak dikasih berlebihan, tapi kok yo iso lemu-lemu hahaha.

      Omong-omong goa Jepang ama kerajinan tenun di Malangan bolehlah jadi tujuan kita berikutnya. 😀

      Like

  7. Ma’af kak..kalau boleh tahu desa wisata malangan daerah mana ya kak??
    Budidaya Ikan Lele

    Like

    1. Sudh saya tulis di atas Desa Malangan yang terletak di Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Sleman, D.I.Yogyakarta 🙂

      Like

  8. Rizka Nidy says:

    Aku kelewatan informasi yang di tempat budidaya ikan teknik booster. Keasyikan lihat-lihat anyaman. Memang waktunya kurang lama sih ya. Semoga bisa kembali ke sana lagi kapan-kapan. 😀

    Like

    1. Desa wisata-desa wisata yang dikunjungi kemain punya keunikan masing-masing dan seru semua yah. Mesti menyiapkan waktu cuti yang lama buat anak kantoran supaya puas eksplorasi Malangan hahaha.

      Like

  9. Kalo ke sleman mampir ke sana akh, ada akses angkutan umumnya?

    Like

    1. Menuju ke Desa Malangan, Moyudan ada baiknya sih menggunakan kendaraan pribadi atau kalau kepepet bisa loh meminta bantuan jasa mas ojek online seperti Gojek, Uber, hehehe.

      Like

  10. Dian says:

    Eh sekolah-sekolah di Tuban juga banyak yang pake batik printing buat seragamnya. Kirain pada pake batik tulis #Duh #MahalLhoMbaknya

    Ditunggu postingan selanjutnya yaa Lim

    Like

    1. Nganuuu yen seragam sekolah pakai batik tulis itu mungkin sekolah khusus pengusaha turah duit atau mungkin anak pejabat (mbuh korupsi opo ora) yang mampu bayar mahal hanya untuk beli kain seragamnya hahahaha. Ditunggu yah cerita tentang Malangan ini, banyak kisah menarik sebenernya, tapi pilh yang spesial biar bisa merasuk ke hati pembaca. 😀

      Like

    2. Dian says:

      etdaaaahhhhh… merasuk ke hati pembaca 😆

      Temenan ya Lim. Tak enteni

      Like

  11. Gara says:

    Wah di sana ikat kepala juga disebut udeng ya, Mas? Seperti di Bali. Berkas-berkas budayanya menarik sekali untuk ditelisik lebih dalam. Di sana kehidupan berjalan pelan tapi pasti, seperti kayuhan sepeda ontel, hihi. Meski judulnya desa wisata namun saya bersyukur bahwa dari pandangan saya melalui postingan ini tidak banyak aspek kehidupan yang berubah, dalam artian tiba-tiba menjadi modern atau meninggalkan pakem lama. Bukan berarti penyesuaian tidak diperlukan, tapi pasti bisa sejalan dengan apa yang telah diyakini sejak dulu.
    Cerita selanjutnya ditunggu!

    Like

    1. Waktu disambut dengan ramah oleh warga Desa Malangan di Sleman dan diberi udeng juga terenyuh melihat cara mereka mempertahankan budaya di desa itu. Jaraknya nggak jauh dari pusat pemerintahan provinsi, tapi gaya hidup di sana masih jauh dari polusi kota. Mudah-mudahan sih seperti itu agar pengunjungnya tetap merasakan suasana desa dan keramahan yang berbeda dengan kota besar. 🙂

      Kampung halaman Gara masih tenang seperti ini nggak? Ditunggu open house-nya. #loh #malah 😀

      Liked by 1 person

    2. Gara says:

      Semoga ya Mas, hehe.
      Haha, kampung halaman di Lombok sudah kota kok, jadi saya juga harus menelusuri kalau ingin tahu hal-hal uniknya. Hayuk atuh datang ke Mataram, hehe.

      Like

  12. wah, jadi pangen kesana..
    btw, foto2nya bagus..

    Like

    1. Asikkk ada yang pingin ke sana setelah baca ini. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat. Kalau memerlukan informasi yang tidak ditulis di sini termasuk penginapan jika ingin menginap bisa menghubungi nomor yang sudah saya sebutkan di atas. Terima kasih, Afsok. 😉

      Like

  13. Duh itu keris bikin pengen, pengen beli dan pengen lihat proses pembuatannya.

    Like

    1. Mari, silakan dipilih hahaha. Lokasi Desa Wisata Malangan nggak jauh dari pusat kota Yogyakarta, bisa disempetin ke sana kalau mudik dan sedang mlipir Yogyakarta, mbak. 😉

      Like

  14. Deddy Huang says:

    Ini desa yang kamu dateng sama Alid bukan yang pose dia dari sepeda ontel kek pejabat hehe..

    Oh ya pakan lele dikasih apa sih kalau di sana

    Like

    1. Hahaha iya betul, ini trip bareng seleb Jombang yang itu. 😛
      Pakan lele biasanya sih pakai pakan pelet (campuran dedak dan bahan lain) yang terkandung nutrisi buat si ikan. Kadang ada peternak yang mencampur pakan bikinan sendiri dengan campuran sayuran. Koh Deddy mau ternak lele? 😀

      Liked by 1 person

    2. Deddy Huang says:

      Seleb Jombang itu emang cetar ya.. iya aku penasaran sama pakan lele di jawa kasih apa. Kalo ada dan nganggur buat investasi mayan tuh Halim buat jualan warung pecel lele

      Like

  15. Membaca kutipan Pak Wiji saat menyambut tamu begitu enak didengar, bak penyiar radio *tiba2 ingat mas Aji 😀

    Aku takjub sama Empu Sungkowo, segan dengan kewibawaannya 🙂

    Like

    1. Jangan-jangan dulu mas penyiar asal Boyolali itu berguru pada Pak Wiji ya? Hahaha. Omong-omong, daku masih pingin ketemu dan ngobrol banyak dengan Mpu Sungkowo mengenai keris nih. Mudah-mudahan terlaksana dalam waktu dekat. 🙂

      Liked by 1 person

    2. Tapi sampean enak deket ke jogja hahaha. Sama ke Banjaroya juga pengene hiks

      Like

  16. kayaknya setiap buat Keris-keris gt ada ritualnya mas entah mengapa kok gt ya, aku sampw skrg masi penasaran ?

    Setelah dibuat gt apa pake di cuci lagi ya ?

    Like

    1. Banyak yang percaya keris sebagai benda pusaka yang punya roh. Tidak sembarang orang bisa memilikinya jika pemilik sebelumnya meninggal dunia. Yah percaya nggak percaya hehehe. Kalo jelang ramadhan atau suro biasanya dijamas biar penunggunya bersih kembali. 😀

      Like

  17. Terus apanya yang mendunia mas? Kok aku nggak ngeh dan nggak konek yaaa hehehehe

    Like

    1. Industri kerajinan bambu di Malangan yang mendunia, Bay. Artikel tentang kerajinan bambu di sana sengaja kupisah biar tidak terlalu panjang hehehe. Sekarang sudah bisa dibaca loh, sudah saya terbitkan tulisan mengenai kerajinan bambu di Moyudan. 😉

      Like

  18. rynari says:

    Desa Wisata Malangan yang memiliki keunikan khas ya Mas Halim. Perpaduan anyaman bambu dan pembuatan keris. Ikutan menyimak liputan ini.

    Like

    1. Boleh saya bilang Desa Wisata Malangan ini bagai kotak pandora yang harus dibanggakan khususnya oleh warga Yogyakarta sendiri. Jarang banget satu desa punya kreativitas yang beragam mulai dari pembuatan keris, kerajinan bambu kelas dunia hingga potensi lain yang menunggu diangkat. Yuk main ke Malangan. 😉

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s