Kisah Kue Manis di Penghujung Tahun

Kue yang satu ini terbilang istimewa karena diproduksi dan diedarkan satu tahun sekali. Berbeda dengan jajanan peranakan seperti wajik, kueh ku, kue mangkok, dan lainnya yang sering dijumpai di pasar tradisional atau pusat kuliner di kawasan pecinan. Zaman dulu saja wedang ronde hanya disajikan ketika warga Tionghoa hendak menyambut perayaan musim dingin atau dikenal dengan Festival Dongzi (sembahyang ronde), kini sudah banyak dijual di pinggir jalan sebagai salah satu pilihan minuman penghangat tubuh. Sama halnya dengan bak cang yang semakin mudah dijumpai, tidak hanya dibuat menjelang Perayaan Peh Cun saja.

Kue keranjang Dua Naga Mas Sudiroprajan
Kue keranjang Dua Naga Mas di Balong, Sudiroprajan

Kue berwarna coklat tua dengan bentuk bundar yang memiliki rasa manis ini disebut kue keranjang. Disebut demikian karena dicetak dalam sebuah keranjang. Hingga kini masih ada yang membuatnya dengan cara tradisional menggunakan alas daun pisang maupun dengan cara lebih praktis mengikuti perkembangan zaman. Tak lagi menggunakan pembungkus dari daun pisang, melainkan menggantinya dengan alas plastik. Pun dengan keranjang yang semula terbuat dari bambu sebagai alat cetaknya beberapa sudah menggantinya dengan cetakan khusus terbuat dari bahan logam.

Kota Solo memiliki beberapa tempat pembuatan kue keranjang rumahan, salah satunya adalah kue keranjang dengan merk “Dua Naga Mas” yang terletak di Mijen RT 05/ RW 08, Balong, Kelurahan Sudiroprajan. Tempat produksinya tidak terlalu luas sehingga hasilnya juga tidak begitu banyak seperti buatan pabrik, namun kue keranjang bikinan Bu Susana sudah memiliki pangsa pasar sendiri. Ada banyak pelanggannya dari Solo maupun dari luar kota yang memesan kue keranjang setiap tahunnya. Yang membuat kue keranjangnya disukai banyak orang adalah tekstur lembut dan keawetannya.

Oh ya, kue keranjang diproduksi ketika menjelang perayaan Sincia atau Tahun Baru Imlek yang saban tahunnya sudah dirayakan dengan meriah di beberapa kota besar. Awalnya kue keranjang merupakan salah satu bagian dari ritual sembahyang yang biasanya disusun bertumpuk seperti menara di meja altar. Nantinya kue keranjang akan dibagikan ke tetangga dan kerabat untuk dimakan ramai-ramai sekeluarga usai upacara sembahyang selesai. Setelah pemerintah (Gus Dur) mulai membuka pintu lebar-lebar terhadap budaya Tionghoa yang sempat dilarang pada masa orde baru, masyarakat dari seluruh kalangan tidak lagi ragu dan enggan untuk mencicipi kenikmatan kue keranjang. Bu Susana sendiri baru merintis usaha kue keranjang mulai tahun 1970-an. Dengan berpegang pada resep kue keranjang warisan orang tuanya, beliau memberanikan diri membuka usaha yang saat itu terbilang baru di Kota Solo. Maklum sebelumnya warga Solo selalu membeli kue keranjang dari luar kota seperti Tegal.

Kue Keranjang Balong
para pegawai di Kue Keranjang Dua Naga Mas

Bahan utama yang digunakan sama seperti kue keranjang pada umumnya, yakni tepung beras ketan dan gula putih. Proses pembuatannya diawali dengan mencampur gula putih murni yang sudah dicairkan terlebih dahulu dengan tepung beras ketan. Perbandingan keduanya adalah satu banding satu. Ikut ditambahkan daun pandan dan daun jeruk agar tercipta aroma harum. Berikutnya adonan yang sudah tercampur rata dituangkan melalui mesin khusus yang memiliki lima lubang ke dalam pencetak. Alat pencetak terbuat dari logamnya sudah diberi lapisan plastik kaca sebelumnya. Langkah selanjutnya adalah mengukusnya ke dalam tungku khusus yang proses pemanasannya dibantu oleh tabung gas. Pengukusan yang berlangsung selama 12 jam lamanya harus diawasi setiap dua jam sekali. Air untuk pengukususan tidak boleh habis. Jika lalai bisa mengakibatkan seluruh isinya gosong.

Kue Keranjang “Dua Naga Mas” tidak memakai pengawet sama sekali, tapi masih awet disimpan sampai setahun, tegas Bu Susana. Tanpa pengawet membuat satu kue keranjang dengan berat 200 sampai 250 gram yang berumur satu minggu sudah terlihat diselimuti jamur tipis di pembungkus plastik bagian luarnya. Untuk membuktikan keawetannya, beliau mengiris kue keranjang berumur lebih dari seminggu yang siap dikonsumsi. Setelah pembungkus luarnya dibuka ternyata bagian dalamnya masih bersih tanpa jamur, dan rasanya masih kenyal. Sungguh di luar dugaan.

Dari situlah baru ketahuan apa yang membuat kue keranjang buatan Bu Susana terasa istimewa. Pembungkusnya tidak menggunakan plastik biasa melainkan plastik kaca dengan alasan plastik yang tipis ada kemungkinan akan meleleh saat pengukusan dan mengakibatkan adonan bisa meluber. Pengukusan yang lama turut membantu adonan matang secara sempurna, resep sederhana yang justru mengawetkan kue keranjang secara alami. Dengan proses pengukusan yang memakan waktu cukup lama itulah Bu Susana mengakui tidak menutup kemungkinan harga kue keranjang yang dijual bisa naik setiap tahunnya seiring dengan harga bahan pokok dan gas yang semakin melambung. Harga terakhir kue keranjang untuk kebutuhan Imlek tahun 2016 dipatok Rp27.000/ kilo.

Dua minggu menjelang Imlek, dapurnya mampu memproduksi sekitar 500 kilogram kue keranjang per harinya. Proses pembuatan baru berhenti tiga hari jelang Imlek, dapur akan ditutup dan pekerja di sana diliburkan. Meski banyak bermunculan rumah produksi kue keranjang yang lain di Solo, Bu Susana mengatakan bahwa beliau tetap percaya diri dengan kue keranjang produksinya dan akan terus mempertahankan rejeki tahunan selagi mampu berkerja. Sama seperti filosofi bentuk kue keranjang yang bulat diartikan sebagai rejeki yang selalu berputar. Manis dan legitnya kue keranjang diharapkan membawa kerukunan dan menuai kehidupan manis di tahun mendatang. (Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Candi edisi 62 Januari-Maret 2016)

Happy New Year. 😉

Advertisements

32 Comments Add yours

  1. Nurul Lubis says:

    Ini kue favorite saya saat tahun baru imlek, yang biasanya saya selalu dikirimi oleh sahabat saya. Di Medan, Kami menyebutnya Kue Bakul.

    Liked by 1 person

    1. Baru tahu di Medan ada nama lain dari kue keranjang, kukira penamaan itu sama. Ada cerita tentang kue bakul-nya, kak? Asyik nih kalau ada, bisa menambah referensi tentang kue manis Imlek ini. 🙂

      Liked by 1 person

  2. Ah iya, bentar lg imlek ya. Solo juga semakin semarak😉

    Liked by 1 person

    1. Kalau ada waktu senggang wajiblah ikutan demam foto ala ala di bawah gemerlap ratusan lampion di Pasar Gede, Jo. Hihihi.

      Like

    2. Udah pernah, menjelang imlek, dan tak berminat foto ala ala kaya gitu😝
      Sebenarnya pengen motret pas sepi dan lampionnya pas nyala, tapi ya gitu deh😅

      Like

    3. Harus ada tekad yang kuat untuk berburu foto lampion jelang Imlek di Solo. Kudu belain melek subuh dan sabarrrr, itu koentji-nya. 😀 😀

      Like

  3. weh meh imlek juga iki, dapat berapa kue keranjangnya habis dari tempat ini?

    Like

    1. Cepet banget waktu berlalu, akhir bulan Januari 2017 sudah Imlek, Hen. Hehehe di Banjarnegara ada rumah pembuatan kue keranjang nggak? atau mereka langsung ambil dari Tegal?

      Liked by 1 person

    2. Malah aku kurang tau, mungkin pada beli dari luar daerah mungkin

      Liked by 1 person

  4. Mas, kayaknya Kue Keranjang ini pas Imlek banyak ditemukan ya.
    Aku ingat pas Imlek di Jepara 🙂

    Like

    1. Kue keranjang rata-rata diproduksi jelang Imlek dan sampai Imlek berakhir karena proses pembuatannya yang terbilang nggak mudah seperti bikin jenang dodol. 🙂
      Pernah makan kue keranjang di Jepara? Enak, kan? 😀

      Like

  5. iyoskusuma says:

    Wah, udah mau Imlek lagi ya?

    Kue ini identik banget banget banget sama Imlek. Beberapa orang lebih suka makan kue keranjang yang digoreng, tapi saya lebih suka yang masih basah dan lengket. Hehe.. Mau ikutan Grebeg Sudiro, Mas?

    Like

    1. Di rumah sering dibikin jadi kukusan potongan kue keranjang yang sudah diberi santan. 😀
      Pastinya saya nonton Grebeg Sudiro tahun ini karena tahun kemarin absen nonton hahaha. Mas Yos akan liputan Grebeg Sudiro juga?

      Liked by 1 person

    2. iyoskusuma says:

      Hmmm.. Kecil kemungkinan bisa ikutan Grebeg Sudiro. Pengen banget. Apa minta cuti lagi ya? Dipecat ga ya? Hahaha..

      Wah, belum coba tuh kalo dikasih santan! Nampak gurih.

      Liked by 1 person

    3. Hahaha kalau mendadak bisa ke Solo kabari ya, mas. Ntar kita kopdar atau susdar juga boleh. 😀

      Like

  6. yusmei says:

    Iki Sudiroprajane karo kelurahan adoh gak Lim? Kapan-kapan pas mulih pengin mrono…

    Like

    1. Kue keranjang Dua Naga Mas adoh karo kelurahan Sudiroprajan, mbak. Tempate masuk dari gang cedhak Bakpia Balong atau deretane RM Mien Satu. 🙂

      Like

  7. Avant Garde says:

    aku seumur hidup belum pernah nyicip kue keranjang #kode

    yg suka makan justru ayahku, ayah suka cerita waktu ayah kecil suka dikasih tetangga yg ngerayain imlek 🙂

    Like

    1. Tradisi di rumahku dulu juga bagi-bagi kue keranjang ke tetangga atau orang yang dekat dengan keluarga yang nggak ngerayain. Sayang sekarang sudah nggak bagi-bagi lagi karena sudah sembahyang dipindah di rumah saudara yang lain hehehe. Beli cuma sekedar dikonsumsi sendiri. 😀
      Kue keranjang banyak dijual di pasar tradisional yang berdekatan dengan pecinan. Bolehlah dibeli (sendiri) hahaha.

      Liked by 1 person

  8. Aku suka banget sama kue keranjang ini Mas, setiap Imlek selalu dapat kiriman dari teman-teman bapak dan mama. 🙂

    Like

    1. Asikkk banget Riska selalu dapat kiriman kue keranjang, bagi donk #lohh. 😀
      Manis dan legitnya kue keranjang mudah disukai banyak orang. 🙂

      Like

  9. Waaaah kue ajaib ini. Tanpa pengawet tapi bisa tahan lama banget hehehe
    Btw, di Pekalongan juga banyak nih mas kue keranjang, apalagi kalau mau Imlek gini hehehe Aku juga udah nyicipin dooong, tapi yang warna hijau…

    Liked by 1 person

    1. Proses pengukusan yang lama pake banget yang bikin awet tanpa pengawet, Bay *ini bukan iklan* hahaha. Pekalongan ada merk kue keranjang lokal atau transferan dari luar kota? Jadi ingin cicip satu-persatu kue keranjang di beberapa kota pembuatnya. 😀

      Like

  10. Ina Wahyu says:

    Produksinya tiap hari atau hanya moment tahun baru saja ya?
    terima kasih

    Like

    1. Biasanya sudah mulai produksi sebulan sebelum Tahun Baru Imlek. Ketika Imlek tiba, aktivitas mereka di dalam pabrik sudah berhenti. 🙂

      Like

  11. Gara says:

    Kue keranjang itu memang enak banget. Cuma nggak boleh makan banyak-banyak kalau saya, soalnya nanti bisa radang lagi radang lagi (ya saya memang orangnya peka banget haha). Tapi memang unik ya yang meski bagian luarnya berjamur tapi bagian dalamnya masih segar, sebabnya apa ya Mas? Mesti membuktikan sendiri nih dengan beli kue keranjang, yah mana tahu dalam waktu dekat main ke Solo lalu sama Mas Halim dibelikan kue keranjang ini, hihi #kodebanget #dasarnggaktahumalu

    Liked by 1 person

    1. Waktu ditunjukin bagian dalam kue keranjang stok lama ama tante pembuatnya syok juga sih, kok bisa ya? Terjawab proses pengukusan yang 12 jam dan plastik pembungkusnya yang bikin jamur enggan masuk sampai dalam. Ini nadanya macam promosi banget yah hahaha. Serunya justru lihat proses pembuatan kue keranjang yang masih tradisional, belum pakai alat modern. Jadi kapan Gara akan ke Solo? *stok persediaan kue keranjang* 😀

      Like

    2. Gara says:

      Hoo, pengukusannya sampai “lepah” kalau istilah orang tua. Iya, bisa belajar banyak juga, apalagi kaya filosofi.
      Pasti akan saya kabari Mas, hehe.

      Liked by 1 person

  12. Ahmad says:

    kalau ditempat saya ini namanya kue bakul

    Like

    1. Berarti ada beberapa tempat yang memberi nama lain pada kue keranjang yah. Menarik nih. Jadi ingin lihat proses pembuatan kue bakul di sana juga. 🙂

      Like

  13. Ilham says:

    biasanya kue ini banyak dibeli pada saat imlekan ya kan Mas Halim ?? 🙂

    Like

    1. Rata-rata rumah produksi kue keranjang baru memproduksinya jelang Imlek saja. Namun ada pula yang membuatnya di luar itu karena permintaan khusus dari pelanggan, tapi jarang sih. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s