Pamekasan Punya Cerita

Tahun 2015 lalu ketika saya menyeberang ke Pulau Madura untuk kali kedua, Pamekasan menjadi pemberhentian pertama sebelum melanjutkan perjalanan ke Sumenep. Kurang lebih tiga jam perjalanan yang harus ditempuh dari Terminal Bungurasih Surabaya menuju Terminal Pamekasan. Lalu ada apa di Pamekasan? Tidak menyempatkan diri untuk mencari tahu lebih dalam tentang obyek wisata di Pamekasan sehingga saya hanya bergantung pada susunan obyek-obyek kunjungan yang telah dipersiapkan oleh Indra, seorang kawan yang tinggal di sana.

Tiba di Pamekasan malam hari membuat saya tidak perlu membuang banyak waktu untuk melihat sebuah fenomena alam yang terkenal di Pulau Madura. Sepeda motor yang saya tumpangi langsung melaju ke obyek wisata yang terletak sekitar lima kilometer saja dari kota, tepatnya di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan. Istimewanya obyek yang saya kunjungi ini adalah kobaran api yang tidak pernah padam, mengingatkan saya pada Mrapen yang terletak di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Bedanya di sini warga setempat menamai fenomena alam ini dengan sebutan Api Tak Kunjung Padam.

Pastinya masyarakat zaman dulu tidak bisa dengan mudah menerima sebuah fenomena alam yang jauh dari penalaran mereka, sehingga terselip legenda dengan tokoh bernama Ki Moko. Beliau dikisahkan sebagai seorang pengelana yang suatu hari mempersunting seorang putri dari Raja Palembang. Ki Moko risau ketika rombongan raja hendak menuju kediamannya untuk merayakan pesta pernikahan. Kemudian ditancapkan tongkat saktinya agar terwujud sebuah istana megah selama perayaan berlangsung. Ditancapkan lagi tongkatnya agar tercipta sebuah telaga dan sumber api untuk memenuhi kebutuhan. Titik tertancapnya tongkat itulah yang kemudian dipercaya sebagai sumber api yang tersebar di Pamekasan.

Semburan apinya tersebar di beberapa titik dan pengunjung bisa mengorek tanah agar nyalanya semakin besar dan cukup panas untuk membakar jagung. Meski sudah diberi pagar pembatas untuk mengurung titik api yang terus berkobar akibat gesekan gas tersebut, obyek wisata ini masih jauh dari kesan bersih dan terpelihara. Lapak-lapak pedagang liar yang sudah setengah menetap di sekitar pagar api abadi sedikit menganggu pemandangan. Bonggol-bonggol jagung yang dibuang sembarangan oleh pengunjung pun belum terurus.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju titik api abadi lain yang terletak tak jauh dari sana. Sayang waktu itu belum ada petunjuk jalan yang jelas untuk menuju ke sana sehingga sedikit nyasar dan memutuskan untuk bertanya kepada penduduk setempat. Letaknya beneran nyempil di tengah persawahan dan kuburan, jauh dari permukiman warga. Ada dua semburan api yang melebar tanpa pagar pembatas di api abadi mini tersebut. Dengan minimnya pencahayaan di sekelilingnya membuat keduanya menyala lebih terang dibanding api abadi di obyek wisata Api Tak Kunjung Padam.

Tugu Arek Lancor Pamekasan
Tugu Arek Lancor

Keesokan harinya saya keliling kota dan melihat lebih jelas beberapa bangunan-bangunan tua yang masih tersisa di Kota Pamekasan. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah sebuah water toren atau bekas menara air buatan kolonial yang kini justru berhiaskan logo sebuah bank pemerintah dengan warna birunya yang khas. Beberapa rumah berarsitektur indish empire yang masih bertahan turut mempercantik Pamekasan. Waktu itu hanya bekas bangunan Bioskop Irama di depan alun-alun yang sempat kami masuki. Lengkungan khas bangunan ciri art deco masih bertahan di tengah kekosongan gedung hiburan yang sudah berhenti beroperasi sejak puluh tahun silam.

Perjalanan kami lanjutkan menuju sebuah tempat beribadah bernama Vihara Avalokitesvara yang bersebelahan dengan Pantai Talang Siring (15 kilometer dari Kota Pamekasan). Vihara dengan lahan seluas tiga hektar ini diperkirakan dibangun pada abad ke-18. Sejarahnya berawal dari keberadaan Kerajaan Jamburingin yang pernah mendirikan istananya di daerah Proppo pada awal abad ke-16 dengan rajanya yang paling masyhur bernama Pangeran Suhra. Sayang tidak tersisa banyak data mengenai sisa Kerajaan Jamburingin, warga sekitar hanya mengenalinya dari nama Desa Jamburingin di Kecamatan Proppo saja.

Pernah dilakukan pengiriman patung-patung dan perlengkapan ibadah dari Majapahit untuk membangun sebuah tempat ibadah yang hendak didirikan di Jamburingin. Setibanya di Pelabuhan Talang, paket tersebut tidak bisa diangkat sampai kerajaan sehingga mereka dibiarkan dan terbenam ke dalam tanah selama ratusan tahun. Sekitar tahun 1800, patung-patung itu ditemukan dan pemerintah Hindia Belanda waktu itu memindahkan sebagian patung-patung tersebut ke Kadipaten Pamekasan. Sisa yang tidak terangkut dibiarkan di lokasi semula dan baru ditemukan oleh keluarga Tionghoa yang membeli tanah itu puluhan tahun kemudian. Ditemukan pula sebuah patung Kwan Im Po Sat atau Avalokitesvara pahatan khas Majapahit dengan tinggi tidak sampai lima puluh sentimeter yang kini menjadi bagian dari Vihara Avalokitesvara.

Bangunan Vihara Avalokitesvara Pamekasan ini diramaikan oleh ornamen bola mutiara, liong dan binatang mithologi Tiongkok lain yang bertengger di atapnya. Warna tiang dan dindingnya pun khas, dominan merah dan kuning seperti klenteng yang tersebar di Jawa. Selain memiliki bangunan miniatur candi, di kompleks klenteng juga terdapat bangunan khusus untuk menggelar pertunjukan wayang kulit dengan set gamelan yang terbilang lengkap. Keunikan yang lain, ada musholla dan sebuah pura yang bisa digunakan oleh warga atau pengunjung agama lain yang hendak beribadah. Suatu bukti bahwa antar umat beragama di Madura telah hidup berdampingan dan rukun di sana.

Waktu yang terbatas tidak memungkinkan saya untuk napak tilas bekas keraton-keraton yang pernah ada di sana, seperti Keraton Mandiraras yang dibangun pada masa pemerintahan Pangeran Ronggo Sukowati sekitar tahun 1530 Masehi, kemudian Keraton Jamburingin di daerah Proppo, serta Keraton Lawangan Daya yang dibangun jauh sebelumnya. Saya beranggapan bahwa Pamekasan masih menyimpan banyak cerita dan obyek menarik lainnya yang menunggu untuk ditelusuri lebih dalam lagi. 😉

Advertisements

28 Comments Add yours

  1. menara airnya tidak sebesar yang di Magelang. Eh tau api abadi ini mah dari acara tv di transtv jadul yang masih bagus2 programnya…sekarang mah jelek2

    Like

    1. Water toren di Magelang bisa dibilang punya artitektur menara air paling joss pada zamannya. Rancangan dari arsitek bernama Thomas Karsten yang bisa dibanggakan selain Pasar Johar. 🙂

      Api abadi di Pamekasan sering masuk acara tipi dulu. Dulu sih, entah sekarang yang acara tipi udah memburu rating dengan menampilkan host cantik-ganteng berperut kotak-kotak tanpa menguatkan cerita obyek wisata yang dikunjungi. Hehehe.

      Liked by 1 person

    2. Jadi toren itu bahasa belanda atau inggris sih?
      Dulu mah lihat Acara Dorce Show Jalan-Jalan udah senang aja karena unik tiap berkunjung ke daerah pasti berinteraksi dengan warga lokalnya.

      Like

    3. Toren bahasa Belanda yang artinya menara, Hen. Begitu sih menurut google translate hehehe. Weks, acara Dorce tahun berapa itu? Koyoe wes suwiii banget bubar tayang acaranya dari transtipi hahaha.

      Liked by 1 person

    4. oohh pantesan orang-orang banyak yang nyebut toren kirain toren bahasa inggris eh malah warisan kolonial belanda

      Liked by 1 person

  2. api abadinya lebih terlihat menarik pada malam hari, trus bakar singkong lengkap deh XD

    Like

    1. Lupa ada yang jual singkong nggak ya di sana, hahaha. Yang pasti dijual jagung buat dibakar dan telur buat direbus. 😀

      Like

  3. Iya jadi ingat Api Mrapen hehehehhe. Dan baru tahu aku ada Vihara di sana.

    Like

    1. Vihara di Pamekasan termasuk salah satu yang terkenal di Jawa Timur apalagi dengan adanya patung Dewi Kwan Im peninggalan zaman Majapahit tersebut. 🙂

      Like

  4. Awesome 😊 aku malah belum pernah ke viharanya..jadi cuma lewat2 aja 😊 ditunggu kunjungannya ke sumenep lagi…😊

    Like

    1. Yang masih bikin penasaran adalah pertunjukan wayangnya. Dulu nggak sempat nanya kapan digelarnya, jelang hari raya atau hari khusus lainnya. Ayo mbak Dian mesti mampir, pengurus viharanya welcome banget kok. 🙂

      Liked by 1 person

  5. Rudi Chandra says:

    Unik dan menarik objek-objek wisatanya.

    Like

    1. Kabupaten yang lain di Madura juga nggak kalah seru cerita sejarah dan obyek wisatanya. Ntar akan saya ceritakan satu-persatu. 😉

      Like

  6. Gara says:

    Sepertinya vasal Majapahit dulu ada beberapa ya di Pulau Madura ini Mas. Nama-nama keratonnya seperti cenderung berskala lokal–atau apakah memang belum banyak yang mengangkat Madura, tidak sebanyak bawahan-bawahan Majapahit di Jawa daratan? Namun bagaimanapun memang banyak sisi dari Madura yang patut untuk dieksplor lebih dalam, hehe. Saya suka wiharanya, penuh dengan warna, kesannya jadi semangat. Bangunan museumnya pun art deco banget, semoga ada perhatian lebih untuk dilestarikan, soalnya sayang, bangunan art deco sudah mulai langka. Kalau bagus dan syukur-syukur bisa difungsikan lagi sebagai gedung pertunjukan pasti bagus sekali.

    Liked by 1 person

    1. Keterkaitan raja yang satu dengan raja yang lain di Pulau Madura menarik dipelajari, sayang saya belum dapat buku yang pas untuk menurutnya. Kisah kerajaan di Madura yang mudah dicari datanya baru Sumenep saja yang keratonnya masih berdiri tegak sampai sekarang. Sepertinya kaitannya langsung dengan keturunan Majapahit benar adanya. Makam-makam tua di sana juga layak disinggahi nih buat cari data sejarah lebih banyak lagi hehehe. #kedippenuhkode

      Bekas bioskop Irama mumpuni banget jadi sebuah museum atau sebuah hotel, apalagi sudah didukung dengan arsitektur yang sudah terbilang kuno dan bernilai tinggi di masa sekarang, kan? 😀

      Like

  7. whizisme says:

    Toren itu kan yang buat donlot yak… HAHA
    Ternyata Halim sudah melangkang buana duluan di Madura…
    Jadi kamu pasti sudah jago Basa Medhure

    Like

    1. Buahaha anak desain pasti langsung nangkep toren buat mengunduh file. LOL. Belum sempat belajar bahasa Madura nih. Sepertinya perlu les bahasa Madura secara kilat ama anak Plat-M. 😀

      Like

  8. Fakhruddin says:

    Wah keren banget, ya. Sy ke Pamekasan utk ziarah biasanya ke Batu Ampar. Nanti mampir, ah.

    Like

    1. Dulu saya hanya melintasi Batu Ampar, belum sempat berkunjung. Kalau sudah mampir ke tempat-tempat ini di Pamekasan cerita keseruannya ya, kang. 🙂

      Like

  9. Pesona Alam says:

    Ini hal yang nggak disangka dari Madura. memang benar kalau Madura punya banyak pesona. Saya penasaran dengan kawah di Pamekasan. 🙂

    Like

    1. Api abadi di Pamekasan menarik untuk dikunjungi, nggak rugi jauh-jauh datang ke sana. Di sisi lain, Pamekasan juga punya kuliner yang unik dan enak seperti salah satunya Soto Keppo. 😉

      Like

  10. veera says:

    Bingung juga kalo mau bersihin “kotoran-kotoran” di sekitar api tak kunjung padam, ya. Panas tuh mau bersihin daerah sekitar situ 😀

    Like

    1. Bisa disapu atau pakai japitan sebenarnya, cuma belum ada petugas khusus yang selalu mengontrol kebersihan di sana terutama di dalam bakar. Seringnya pengunjung bakas jagung dan makan di dalam pagar lalu meninggalkan kenang-kenangan di pijakannya. Hehehe.

      Liked by 1 person

  11. Di Bandung ada yang namanya Bukit Moko, mas. Hehehe 😀

    Aku nggak nyangka di Pamekasan ada bangunan peninggalan Belanda kayak gitu. Berarti udah jadi peradaban sejak lama ya. Aku kira cuma kota kecil yang baru tumbuh.

    Like

    1. Hahaha jangan katakan awal Bukit Moko juga ada tokoh bernama Ki Moko. Makin rumit ntar ada folklor naga tebang dari Magelang ke Bandung. LOL
      Kota-kota besar di tiap kabupaten di Madura pernah punya kerajaan-kerajaan cukup besar dan tentunya Belanda akan menancapkan kukunya di sana untuk perluasan kekuasaannya di Nusantara, Nugi. Ditambah potensi ladang garam yang melimpah di seluruh pulau. 🙂

      Like

    2. Oh i see, jadi ternyata di Madura juga ada kerajaan-kerajaan besar ya. Tulisannya bermanfaat banget, mas 🙂

      Liked by 1 person

  12. sarah says:

    Ternyata Indonesia ini banyak kerajaan kerajaan kecil yang belum terungkap sejarah seluruhnya ya. Api abadi canggih ya, bisa buat dagang jagung bakar,telur rebus, ubi bakar tapi kok ya kebersihan tidak dijaga ya. Sangat disayangkan. Btw, aku jadi penasaran sama viharanya, masuk bayar nggak? Pertunjukan2 gratis juga nggak? #akusukagratisan

    Like

    1. Banyak kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Pamekasan, pun dengan Bangkalan, Sampang dan Sumenep di Pulau Madura. Kelak akan saya tulis satu-persatu kalau pencarian data tentang kerajaan di sana sudah lengkap. 🙂

      Masuk ke Vihara Avalokitesvara Pamekasan nggak dipungut biaya kok. Hanya diharapkan kesadaran menjaga ketenangan saja karena ada pengunjung yang masih beribadah di sana. Kalau untuk pertunjukan semacam wayang kulit setahu saja dibuka untuk masyarakat umum yang ingin melihatnya agar toleransi tetap tumbuh di lingkungan mereka. 😉

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s