Terjebak Kesederhanaan Desa Ketetang

Anak-anak perempuan berbusana adat Madura terus mengembangkan senyumnya ketika lensa kamera diarahkan ke wajah mereka. Tersirat sedikit rasa lelah di wajah mereka, namun mereka tetap luwes bergaya di depan juru potret. Maklum, acara penyambutan yang sedianya dilaksanakan dua jam sebelumnya terpaksa molor.

Kendala cuaca dan lamanya waktu tempuh perjalanan rombongan trip Menduniakan Madura dari Pamekasan menuju Bangkalan menjadi alasannya. Sungguh terenyuh dengan kesabaran dan antusias warga Desa Ketetang yang sudah menunggu lama di Kantor Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan.

Tak lama kemudian, penari cilik itu mulai menunjukkan kebolehannya dalam menari. Saya lupa dengan urutan gerakan Tari Nyello Aeng yang mereka bawakan karena saya terlalu terlena dengan baju Marlena yang mereka kenakan. Dibalut kebaya warna merah dilengkapi dengan liontin bundar seperti mata uang dollar dan hiasan menyerupai rentangan biji jagung warna emas di bawahnya.

Sepasang gelang emas di tangan kanan dan kiri, penggel atau hiasan kaki warna emas ikut dipasang di pergelangan kaki kanan dan kiri. Untuk rambutnya ditarik ke belakang, digelung dan diberi jepitan berhias bunga. Kekhasannya lagi terdapat goresan dua garis warna merah di samping alis matanya.

Setelah tarian selesai, kami mendengarkan sambutan dari kepala desa. Satu-persatu gelas plastik berisi air rebusan gula merah dan jahe yang diberi parutan kelapa dan irisan cincau dibagikan ke para tamu. Minuman hangat ini disebut Kobbhu’, salah satu kuliner khas Madura, khususnya Bangkalan.

Selanjutnya dibagikan kudapan bernama Rujak Kotel bumbu petis asin. Rujak Kotel berisi potongan kecil dari kepalan adonan calon kerupuk ikan sebelum diiris tipis (mirip bahan dasar pempek) yang disajikan bersama irisan tahu goreng. Di atasnya diberi guyuran saus bumbu petis yang terasa gurih di lidah.

Dusun Koalas, Desa Ketetang di Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan menjadi tempat kami bermalam pada malam terakhir trip #MenduniakanMadura. Bus tidak bisa masuk ke dalam dusun yang akan kami singgahi sehingga untuk menuju ke sana dibagi beberapa kelompok yang akan diangkut menggunakan mobil pribadi dan mobil colt terbuka.

Malam itu, saya, Fajrin – blogger dari Lampung, mbak Unik dari Semarang, Apri dari Jakarta dan Silvi – blogger dari Jawa Timur termasuk dalam kelompok yang terpaksa duduk manis di belakang mobil pick up tersebut. Pikiran kami senada, ingin cepat sampai di tempat penginapan supaya bisa segera basuh diri dengan air dingin yang diharapkan meredakan rasa lelah.

gerbang Dusun Koalas
gerbang masuk Dusun Koalas pagi hari

Awalnya mengira tempat tujuan tidak terlalu jauh dari kantor kecamatan. Ternyata dugaan kami salah. Kurang lebih lima menit melaju di jalan utama dilanjutkan sekitar lima belas menit masuk ke Dusun Koalas melalui jalan satu jalur yang belum beraspal halus. Sesekali kami melewati tanjakan demi tanjakan, tanda bahwa dusun yang kami tuju terletak di dataran agak tinggi.

Belum ada lampu penerangan jalan sehingga kondisi waktu itu gelap gulita. Hanya lampu sein mobil yang menjadi penerang di jalan. Tidak terlihat pemukiman, hutan belantara di sepanjang jalan yang kami lewati. Kami yang duduk di belakang terus bergantung pada nyala senter dari telepon genggam agar kami bisa saling pandang satu sama lain dan bercanda gurau melepas kesunyian malam Jumat. Serius, malam itu malam Jumat, tapi untung nggak pake Kliwon. 🙂

Sesampainya di Dusun Koalas kami disambut oleh seluruh warga yang sudah menunggu dan kami pun bergegas mandi. Di beranda tempat menginap mendadak diramaikan oleh pembahasan mengenai sambutan tak biasa yang sempat dialami oleh salah satu mobil yang membawa beberapa kawan saat memasuki Dusun Koalas.

Ada yang bersikukuh melihat mobil lain dari arah berlawanan menyalip mobil mereka, padahal jalan hanya satu ruas yang tidak memungkinkan kendaraan lain untuk lewat. Kaca spion mobil pun sempat terlepas, tapi tidak meninggalkan goresan. Nah loh. Lalu disambung cerita ada yang mendengar suara kikikan dari belakang tembok kamar mandi, kenyataannya tidak ada kamar mandi lain apalagi rumah warga di belakangnya. Yah, anggap saja itu semua sambutan selamat datang yang membuat Desa Ketetang terus dikenang. Hihihi.

Dusun Koalas Kwanyar
warga Dusun Koalas menyambut kedatangan blogger

Sayangnya setelah semua berkumpul dan kepala dusun memberi sambutan serta mulai menerangkan perihal potensi wisata religi di Desa Ketetang, hujan rintik-rintik berubah menjadi guyuran air hujan yang cukup deras. Keramaian itu pun langsung bubar dan para warga berteduh di rumah masing-masing.

Makan malam bersama yang sedianya disajikan di halaman terpaksa dipindah ke beranda rumah tempat kami bermalam. Keinginan Karang Taruna desa yang ingin mendengar pendapat dan masukan para blogger untuk menggiatkan wisata desa pun tertunda. Sejauh ini Desa Ketetang sudah dikenal oleh peziarah dari maupun luar Madura karena keberadaan makam seorang tokoh penyebar agama Islam di Madura bernama Sunan Cendana.

Sunan Cendana yang terlahir dengan nama Syekh Zainal Abidin merupakan keturunan dari Sunan Giri dari pihak ibu dan keturunan Sunan Drajat dari pihak ayah. Menurut salah satu sumber, Sunan Cendana pernah diangkat sebagai penasehat oleh Amangkurat dari Kartasura untuk mengatasi pemberontakan Blambangan (Banyuwangi). Atas keberhasilannya, Amangkurat memberinya gelar Pangeran Purna Jiwa.

Setelah mengundurkan diri dari jabatan penasehat, Sunan Cendana mulai menyebarkan agama Islam di Pulau Madura. Menyeberangi Selat Madura dan mendarat di pesisir selatan, tepatnya di Kwanyar, Bangkalan. Dikisahkan beliau bertapa di bawah pohon cendana, sebab itulah mulai dikenal dengan nama Sunan Cendana. Menetap dan meninggal dunia di Kwanyar. Disemayamkan di belakang Masjid Sunan Cendana yang letaknya seberang Pasar Baru Kwanyar. (Dikutip dari beberapa sumber)

menyangrai kerupuk menggunakan pasir
menyangrai kerupuk ikan

Hujan yang tak kunjung reda akhirnya membatalkan sarasehan antara warga dan peserta #MenduniakanMadura. Sebagai gantinya, ada seorang warga yang mempraktekkan pembuatan kerupuk ikan yang sudah menjadi salah satu produk unggulan di sana. Uniknya proses penggorengan tidak menggunakan media wajan besi dan minyak goreng.

Mereka menyangrainya dengan pasir halus yang sudah dipanaskan terlebih dahulu dalam kuali terbuat dari tanah liat. Hasilnya tetap kriuk dan renyah, tidak berminyak pula. Lebih sehat dibanding kerupuk yang digoreng menggunakan minyak. Kerupuk sangrai yang sudah dikemas harganya mulai dari Rp10.000/bungkus, sedangkan kerupuk ikan mentah dijual dengan harga Rp40.000/kilo.

Keesokan harinya matahari masih malu menampakkan diri. Tak lagi hujan, namun kabut tipis yang menyelimutinya menyisakan kesan misterius. Lepas dari cerita mencekam di malam sebelumnya, Dusun Koalas di Desa Ketetang ini punya suasana pedesaan yang sepi dan tenang, bikin betah tidur lama.

Memang betul terdapat hamparan tanah kosong yang luas dengan pohon-pohonan lebat di jalan keluar dusun. Seperti itulah kondisi jalan gelap yang kami lewati di malam hari. Rumah-rumah warga dusun berpusat di satu titik saja. Dusun yang lain letaknya berjauhan, dipisahkan oleh ladang-ladang.

Di sini terlihat dengan sangat jelas bagaimana pemukiman adat Madura pada umumnya. Mas Wahyu Alam (founder Plat-M) lalu menjelaskan bahwa susunan rumah di Ketetang dinamakan tanean lanjeng. Pada umumnya tanean lanjeng terdiri dari beberapa rumah yang dibangun berdekatan dan hanya memiliki satu halaman memanjang. Dihuni oleh sebuah keluarga besar yang rumah-rumahnya pun tersusun menurut usia tua-muda mulai dari kakek sampai cicit yang memanjang dari barat ke timur.

Rumah mereka akan saling berhadapan utara dan selatan jika susunan sudah terlalu panjang. Rumah paling barat akan dihuni oleh yang paling tua dengan lokasi paling dekat dengan langgar. Sebelah kanan langgar terdapat dapur di mana memiliki maksud agar istri bisa dengan mudah mengantar makanan untuk kepala keluarga setelah menyelesaikan ibadahnya.

Kemudian kandang ternak dibangun di samping dapur. Halaman dari tanean lanjeng sendiri dimanfaatkan sebagai tempat untuk menjemur hasil panen, tempat bermain anak-anak hingga tempat hajatan pernikahan sampai upacara kematian.

Segala aktivitas warga di sana seolah berjalan lambat. Tak ada yang terlihat tergesa-gesa apalagi lari kecil mengejar keterlambatan menjalani rutinitas sehari-hari. Laki-laki bersiap ke ladang dengan membawa peralatan bertani, sedangkan istrinya memandikan anaknya yang masih balita.

Di rumah yang lain ada yang masih goleran di beranda, ada pula yang sudah mulai memasak lauk sebagai sarapan untuk para tamu yang semalam datang meramaikan dusun. Memang bahasa daerah yang mereka gunakan sering menjadi penghalang dalam berkomunikasi, tapi tetap tersirat kebaikan dan keramahan orang Madura yang tidak seperti kabar miring di luar sana.

sarapan pagi Desa Ketetang
sarapan pagi yang lezat dari Desa Ketetang

Kunjungan ke Desa Ketetang bagi saya jadi satu pengalaman berharga yang tak terlupakan dari trip #MenduniakanMadura. Tanpa peran Plat-M mungkin saya dan kawan yang lain tidak akan singgah ke sana, hanya akan terus terpaku dengan obyek-obyek wisata andalan Madura yang gambarnya sering wara-wiri di dunia maya saja.

Belajar tentang kesederhanaan hidup itu perlu.

Terus mencari cara untuk menyederhanakan hidup itu harus. Cheers. 😉

Advertisements

38 Comments Add yours

  1. Fajrin Herris says:

    Ah anak” di desa itu klo dajak selfie langsung berpose kekinian lho mas.. Hahaha.. malam jum”at lewat jalan gelap dan sepi

    Like

    1. Malah ketemu ibu-ibu di sana. Anaknya sembunyi malu-malu hahaha. Sebenarnya kurang lama tinggal di Desa Ketetang jadi belum maksimal explore alam dan mengakrabkan diri dengan warga di sana. Ngarep diajak ama panitia Plat M lagi buat ke sana. 😛

      Liked by 1 person

    2. Fajrin Herris says:

      Hahaha.. desa yg masih perawan itu mas jd pada malu” orang nya. *LhoKok 😂😂

      Tapi dari desa” yg dkunjungin desa ketetang yg paling ramai.. Yuk lah siapa tahu kan di undang lg tahun depan..

      Liked by 1 person

  2. Kalau aku ikut bisa mengasah kemapuan berbahasa Maduraku hahahhahaha.
    Enak hidup di sana mas, seakan-akan tak ada yang memburu 🙂

    Like

    1. Siapa tahu di sana bisa bahasa Bugis juga, Sitam hihihi. Selow banget kehidupan di sana. Ditambah budaya yang sebenarnya bisa dikembangkan lagi seperti adanya sanggar tari yang bisa dikunjungi wisatawan saat piknik ke Desa Ketetang. 😉

      Like

    1. Nasinya bukan pakai nasi putih, tapi nasi jagung. Lebih sehat buat yang lagi diet. 😀

      Like

  3. V Herry says:

    Fotonya baguuuus misty cantik gitu yaa

    Liked by 1 person

    1. Sebenarnya nggak nyangka di Madura ada desa berkabut begini karena selama ini beranggapan pulaunya kering dan tidak punya gunung tinggi. Ternyata Desa Ketetang yang berada di atas bukit hijau subur ini berhawa sejuk dan berkabut pagi hari setelah hujan.🙂

      Like

  4. aku juga tinggal di desa tapi sudah tidak “sedesa” seperti di desa Ketetang, entahlah ini berita baik atau malah sebaliknya. Kadang kangen juga dengan suasana desa dimana halaman rumah banyak ditumbuhi pohon jambu yang saat sepulang sekolah sering dijadikan tempat bermain. Kini semuanya hilang digantikan ruko-ruko dan jalan raya yang lebar dengan trotoarnya. Halaman rumahku sekarang pun sudah tidak ada karena sudah jadi ruko semua, sempat protes pada bapak kenapa halaman dihabiskan semuanya tapi kan aku cuma numpang hehehe

    Like

    1. Memang modernisasi nggak bisa dihindari juga, Hen. Semua mengalami proses supaya daerah itu dikatakan lebih maju dari sebelumnya ditandai dengan maraknya ruko-rukan di daerah tersebut. Pada akhirnya yang bosan di kota pilih tinggal di desa, lalu yang semula desa karena dipenuhi pendatang jadilah kota kecil baru hehehe. Dilema yah. 🙂

      Liked by 1 person

    2. tapi…tapi rumahku sekarang jadi ruko wkwkwk agak kurang setuju juga karena jadi sempit

      Liked by 1 person

    3. Hahaha keluargaku pun demikian. Dulu rumah yang kutempati adalah bangunan tua dengan arsitektur khas pecinaan. Ketika SD, rumah dibongkar dan dibentuk ruko. Sekarang sudah besar dan tahu nilai tinggi bangunan kuno, nyesel deh kenapa dulu dibongkar. 🙂

      Liked by 1 person

    4. Ah…bahkan rumah pun terkadang harus ikut perkembangan jaman…pdhl yg jadul2 nantinya jd hal yg unik

      Like

  5. foto jalan masuk dusun itu siang aja keliatan seremnya mas halim hehehe

    Like

    1. Hahaha kalau lihat di gugelmap jalan penghubung dusun ke dusunnya melingkar tapi saling berjauhan dan di tengahnya kosong, mungkin ladang yang berhektar-hektar. Menyenangkan bagiku bisa singgah di desa yang jauh dari keramaian gini. 😀

      Like

  6. Pernah ke Bangkalan tapi cuma buat belanja batik, makan bebek, sama tinggal di Desa Geger. Ada desa seru ini to? Salam kenal kembali. Aku lama banget ga mampir ke blog ini

    Liked by 1 person

    1. Desa Ketetang baru dikenal wisata religinya, semoga ada tempat menarik lain yang bisa diangkat. Dengar dari warga setempat ada goa lumayan besar di dekat dusun yang saya inapi. 🙂
      Terima kasih sudah mampir lagi ke blog ini, mbak Retno. 🙂

      Like

  7. berrianam says:

    Tulisan yang keren sekali.
    terima kasih mas halim sudah sudi menginjakkan kaki dan goresan pena di tanah kelahiranku, Madura.
    semoga jumpa kembali

    Like

    1. Terima kasih, Berri. Pastinya akan berkunjung ke Madura lagi suatu saat nanti. Banyak obyek menarik di sana yang ingin saya kunjungi. Semoga kita bisa jumpa lagi di sana. 🙂

      Like

  8. whizisme says:

    wuah… Halim ini kalao nyari tempat mandi pasti nomor satu.
    Btw gimana asiknya hidup di pedesaan Lim? asik kan?
    Makanya janagn jadi orang kota ….Hahah

    Like

  9. whizisme says:

    wuah… Halim ini kalao nyari tempat mandi pasti nomor satu.
    Btw gimana asiknya hidup di pedesaan Lim? asik kan?
    Makanya janagn jadi orang kota ….Hahaha

    Like

    1. Hahaha takut antre lama jadi buru-buru cari tempat mandi dulu 😀
      Bener loh suasana di desa bikin hidup jadi tambah bersemangat. Mas Wij buka homestay di Rembang nggak? Nunut ngadem di desa seminggu boleh? 😛

      Like

  10. Mydaypack says:

    sederhana itu indah. Jadi ngiler makanan2 nya kelihatan enak dan segar….. heheee

    Like

    1. Ikan goreng, serundeng, sambel, ini makanan yang sederhana, tapi menggugah selera apalagi nasi jagungnya masih hangat. Jadi laper kan bayangin sekarang hehehe

      Like

    2. Mydaypack says:

      hahaaaa iyaa tiba2 laper dan pengen makan, tanggung jawab lho ya…

      Like

  11. Gara says:

    Desanya masih asli. Kesederhanaan dan kebersahajaannya menjebak banget, termasuk kuliner yang menggugah selera itu. Itu buat sarapan? Sambelnya tampak sangat lumayan tuh kalau untuk pagi-pagi, haha. Lumayan buat membersihkan pencernaan #eh.

    Like

    1. Sarapannya menyesuaikan warga di sana. Awalnya heran jg makan paginya berat, tapi terbiasa juga. Apalagi ikannya langsung dari laut, belum mati berkali-kali seperti yang sudah dibawa ke kota. Untungnya nggak mules setelah makan sambel di pagi hari. 😀

      Like

    2. Gara says:

      Iya Mas, kalau segar mah asyik banget… semua jadi sehat karena bahan-bahannya segar terus lautnya juga masih bersih. Coba bandingkan dengan megapolitan, haha. Biar nggak tiren pun sumbernya sudah nggak jelas #ehgimana.

      Liked by 1 person

  12. Avant Garde says:

    tulisanmu panjang dan lengkap banget mas, baca yg soal baju marlena jadi ingat si Indra lagi, kami pernah seru2an pake baju madura yg belang2 merah putih itu hehehe …btw, boleh request dong satu postingan full yg soal pengalaman2 mistis selama traveling mas hehe..

    Like

    1. Postingan full pengalaman mistis, masukan bagus nih hehehe. Nggak kepikiran sebelumnya. Kukumpulkan dulu trus kurangkai jadi satu postingan. Ditunggu tanggal publish-nya yah. 😀

      Liked by 1 person

  13. lost in science says:

    Madura emang istimewa sih cuman kita nggak pernah tau aja.. Sekali ke Sumenep dan langsung jatuh hati. Harusnya jalur kereta apinya dihidupkan lagi ya, mungkin bakalan lebih seru traveling di Madura pakai kereta api..

    Like

    1. Ahh iya, sedih rasanya lihat rel yang ditutup aspal di sepanjang jalan menuju Sampang, lalu bekas stasiun juga sudah beralih fungsi semua. Padahal kalau diaktifkan lagi bisa jadi kereta wisata yang mengundang minat wisatawan yah. 🙂

      Setuju, Sumenep itu kota yang bikin jatuh hati. Sisa dari kerajaan Sumenep menarik banget dipelajari, apalagi sudah jadi museum dan dibuka untuk umum. Arsitektur masjidnya juga beda dari lainnya. 🙂

      Like

  14. Avant Garde says:

    sip mas, dijawil aja nanti di postingannya hehe.. makasih 🙂

    Liked by 1 person

  15. Rudi Chandra says:

    Syahdu banget suasana paginya.

    Like

    1. Desanya masih dikelilingi ladang dan jauh dari keramaian. Beneran tempat yang cocok untuk menyepi rutinitas sejenak. 🙂

      Like

  16. Mistis tapi seru ya…😊 ntar klo ngetrip pake antri mandi ..ngantri di belakang Halim aja…hahaha.. Ayo kapan ke sumenep lagi….

    Liked by 1 person

    1. Hahaha urusan mandi selalu jadi nomer satu kalo ke luar kota. 😀 Tahun depan ada rencana ke Sumenep lagi lanjut Gili Labak, tapi nunggu hujan mereda dulu, mbak Dian. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s