Diterjang Jeram Tsunami Sungai Serayu

“Masih ada jeram yang lain, mas?”

“Di depan ada satu, paling ekstrem, tapi jaraknya masih jauh kok,” jawab mas Dodi

“Jangan diceburin ya, mas. Kasih tahu kalau kami harus siap-siap BOOM,” pinta Idah dengan nada setengah merengek.

Mas Dodi hanya mengangguk pelan. Tapi ada yang aneh dengan ekspresi wajahnya. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Kami pun abai dan melanjutkan canda di atas perahu karet yang sudah lebih dari satu jam mengarungi Sungai Serayu.

Beberapa jam sebelumnya

Cottage Lumbir - The Pikas Resort
ngopi di beranda cottage

17.00 WIB – Angkutan warna biru yang saya naiki dari pertigaan Singamerta, Kabupaten Banjarnegara menurunkan saya di depan gerbang masuk Kawasan Wisata The PIKAS Adventure Resort di Desa Kutayasa, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara.

Penamaan PIKAS sendiri merupakan singkatan dari Pinggir Sungai Serayu yang menjadi satu di antara beberapa penyedia jasa yang menawarkan dan mengembangkan potensi wisata di Sungai Serayu. Kawasan seluas 3,2 hektar yang terletak di pinggir Sungai Serayu tersebut memiliki penginapan berupa cottages dengan nuansa persawahan, juga restoran, arena outbound serta operator rafting yang bernama Bannyu Woong Adventure.

Tak selang lama, saya bertemu dengan blogger asal Banjarnegara, Ganjar dan Jujun lalu memutuskan untuk ngopi di balkon cottage Lumbir 3 yang telah disiapkan oleh pihak The Pikas Resort. Disusul kedatangan Erwin dan Lutfi yang datang dari Wonosobo. Kawan-kawan blogger lain yang melakukan perjalanan dari Purwokerto tiba satu jam kemudian.

Malamnya, Pak Dwi Suryanto selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara dan staff Bidang Pariwisata Dinbudpar Kabupaten Banjarnegara memberi sambutan dan membuka rangkaian trip “Blogger Plesir Maring Banjarnegara” di joglo Pikasto (Pikas Restoran). Kopi panas dan jagung bakar ditemani suara derasnya aliran Sungai Serayu menjadi awal dari perjalanan mengulik Pesona Banjarnegara. Usai beramah tamah, satu-persatu mulai undur diri dan merebahkan badan di cottage guna menghimpun tenaga untuk berarung jeram esok hari.

Sekedar info, cottages di sana punya model rumah panggung terbuat dari kayu seperti konsep yang diusung oleh The Pikas Resort, green adventure. Cottage Lumbir 3 yang saya tempati diisi enam kasur busa dengan satu toilet dilengkapi tiga shower room yang masing-masing diberi sekat tirai. Debur air sungai dan bunyi serangga dari halaman depannya memberi kesan damai seperti tinggal di pedesaan. Tidak dipasang pendingin ruangan di dalam cottage karena suhu udaranya cenderung dingin pada malam hari.

Jika dihitung per orang, harga Cottage Lumbir yang kami tempati termasuk akomodasi dengan harga standar, sekitar Rp100.000 per orang per malam. Tipe Lumbir yang berkapasitas 6 orang punya rate Rp600.000 per malam. Sedangkan tipe lain seperti Sabin yang bisa ditempati 7 orang memiliki harga Rp750.000 per malamnya. Adapun tipe Jawa Mini/ Glugu dan tipe Jatim dengan kapasitas hanya 2 orang (Rp450.000 per malam). Tenang, semua sudah termasuk makan pagi. 🙂

08.20 WIB – Hujan deras belum juga reda meski kami menundanya sekian puluh menit. Kendala cuaca yang tidak kunjung cerah sedikit mencemaskan tim rescue Bannyu Woong Adventure hingga akhirnya mereka mengubah paket rafting BOJA (14 kilometer) yang punya estimasi pengarungan Sungai Serayu selama sekitar tiga jam menjadi paket rafting THE PIKAS (10 kilometer) yang hanya ditempuh sekitar dua setengah jam saja dengan medan yang tidak terlalu berat.

Paket rafting yang ditawarkan oleh Bannyu Woong Adventure terdiri dari:
– PRIGI (7 kilometer – 1jam) Rp150.000/orang,
– THE PIKAS (10 kilometer – 2,5jam) Rp 205.000/orang,
– BOJA (14 kilometer – 3jam) Rp220.000/orang,
– RANDENGAN (16 kilometer – 3,5jam) Rp245.000/orang
– RANDENGAN Surya Yudha Park (26 kilometer – 5,5jam) Rp350.000/orang

Derasnya aliran Sungai Serayu jujur sempat membuat nyali saya menciut. Sungai yang melintasi lima kabupaten (Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap) ini berhulu dari lereng Gunung Prau dan bermuara di Samudera Hindia. Bentangan sungainya tercatat sejauh 181 kilometer! Tentu paket rafting yang kami ambil hanya sekian persen saja dari Sungai Serayu yang terbentang di Kabupaten Banjarnegara. Yang jelas ini menjadi sungai terlebar dalam kegiatan rafting yang pernah saya arungi sebelumnya.

Helm sudah dipasang untuk melindungi kepala dari benturan, lifejacket tertempel di badan dan dayung telah dibagikan ke masing-masing peserta. Tak ketinggalan gelang karet yang telah diikatkan gagang kacamata agar saya bisa melihat pemandangan bening sepanjang perjalanan tanpa perlu melepasnya. Setelah tim rescue memberi pengarahan mengenai peraturan dasar arung jeram dan standar keselamatan, satu-persatu perahu karet dilepas dan siap mengarungi Sungai Serayu selama dua setengah jam ke depan.

Arung jeram yang dirancang oleh operator rafting bukanlah aktivitas air yang membahayakan meskipun adrenalin terus memuncak ketika bertemu dengan jeram-jeram yang terlihat akan menelan kita hidup-hidup. Tentunya dalam melakukan kegiatan ini harus didampingi oleh tim rescue yang handal serta seorang skipper yang bertugas mengintruksi penumpang. Masing-masing perahu diisi oleh empat penumpang dan satu skipper.

Mas Dodi menjadi skipper atau instruktur rafting dalam perahu yang saya, Hanif, mas Abi, Idah dan Tiwi naiki. Dia duduk paling belakang, mengarahkan dan mengontrol laju perahu serta memberi instruksi yang harus dilakukan oleh penumpang demi faktor keselamatan. Sementara kelompok yang lain telah terbagi dalam empat perahu dengan didampingi oleh skipper-nya masing-masing.

Awal pengarungan belum terlalu menegangkan. Kami masih bersemangat mendayung sesuai aba-aba yang diberikan oleh Mas Dodi. Dayung maju, dayung mundur,  STOP merupakan perintah yang sering dilontarkannya. Jantung mulai deg deg serr ketika bertemu jeram demi jeram yang mewarnai Sungai Serayu.

Ketika bertemu Jeram Welcome, sekujur badan langsung basah dan beberapa teguk air warna kopi susu ikut tertelan. Anggap saja sebagai welcome drink dari Sungai Serayu. Hehehe. Disusul jeram kecil dan jeram yang lain dengan variasi tingkat kesulitan. Di sinilah baru adrenalin memuncak! Ketika aba-aba BOOM diteriakkan oleh skipper, kami langsung berhenti mendayung dan duduk jongkok ke dalam perahu, tidak lagi duduk di tepinya. Beberapa detik kemudian air mulai masuk dan menumpahi seisi kapal. Tegang!

Selanjutnya, Jeram Trinil dan Jeram Bethur dilewati dengan rasa cemas dengan harapan perahu tidak terbalik. Apalagi Mas Dodi memberikan informasi yang terdengar sedikit menakut-nakuti bahwa Jeram Bethur merupakan pertempuran dua aliran sehingga batu besar di baliknya tertutup. Salah kendali, perahu bisa menabraknya dan terbalik. Huft, untungnya kami berhasil melewati itu semua.

Usai melewati tantangan jeram kami kembali berteriak, tertawa-tawa dan berambisi terus mendayung agar menjadi yang terdepan. Sesekali perahu merapat di bebatuan yang aman untuk dipijak, juga air terjun kecil yang terdapat di sepanjang sungai. Setelah perahu melintasi sebuah jembatan, aliran sungai tidak terasa begitu deras, bahkan jarak antar satu jeram dengan berikutnya berjauhan.

rafting Sungai Serayu
serunya rafting (pic by Bannyu Woong Adventure)

Rupanya keceriaan yang terlalu berlebihan terbaca oleh tim rescue yang berada di perahu terdepan dan skipper kami, Mas Dodi. Mungkin dalam hati mereka berkata, ini tim paling semangat harus diberi kejutan yang tak terlupakan dari Sungai Serayu. Mas Dodi berkata jika masih ada jeram paling ekstrem dengan grade tertinggi di depan sana, sebelum tiba di tempat pemberhentian terakhir di Surya Yudha Park. “Jangan diceburin ya, mas. Kasih tahu kalau kami harus siap-siap BOOM,” pinta Idah dengan nada setengah merengek.

Mas Dodi hanya mengangguk pelan, namun ekspresinya terlihat janggal. Senyumnya seperti ditahan. Saya pun mengabaikannya dan melanjutkan canda dengan yang lain. Semenit kemudian terlihat jeram yang kami anggap biasa-biasa saja karena tidak ada aba-aba BOOM dari sang skipper. Dan beberapa detik kemudian Hanif terjungkal dari posisi duduknya yang paling depan, saya menyusul kemudian, diikuti yang lain. Pemandangan yang saya lihat hanyalah guyuran air warna kopi susu yang terus menyeret saya ke depan. Pikiran langsung kosong. Ada apa ini?

menerjang jeram (pic by Bannyu Woong Adventure)
menerjang jeram (pic by Bannyu Woong Adventure)

Sedetik kemudian saya baru ngeh kalau seisi perahu mendapat kejutan dari Jeram Tsunami! Semua berlangsung dengan sangat cepat. Kami diterjang Jeram Tsunami tanpa menyadarinya. Masing-masing terjatuh dari atas perahu, panik namun berusaha tenang agar tidak tenggelam. Untungnya jaket pelampung terikat dengan kencang sehingga membuat saya dan kawan yang lain terus mengapung di permukaan sungai.

Saya mencemaskan sandal yang sudah mengantung nyaris lepas dari ujung jari, sementara Hanif khawatir kamera GoPro yang dikaitkan di depan perahu jatuh dan hilang ke dasar sungai. Hujan deras dari pagi yang membuat aliran sungai semakin deras, sehingga memudahkan saya terseret paling depan, menuju perahu tim rescue yang sudah menunggu dengan tatapan manis di depan sana.

Mas Abi yang terus terseret ke depan dan mulai terlihat panik langsung saya raih pelampungnya. Diikuti yang lain menarik pelampung Tiwi dan Idah. Sementara Hanif sudah diselamatkan oleh perahu di belakang. Setelah satu-persatu ditarik oleh tim rescue ke atas kapalnya, kami saling berpelukan dan bersyukur tidak tenggelam.

Sungguh terlihat seperti drama penyelamatan korban banjir badang. Anehnya hanya perahu kami yang mendadak terjungkal dan menjatuhkan semua penumpangnya. Anehnya lagi skipper perahu kami tetap duduk manis di belakang, tidak ikut terjatuh. Kamera GoPro-nya Hanif pun tidak terjatuh, sudah diamankannya. Rupanya … rupanya kami jadi korban kejahilan mereka!

Bannyu Woong Adventure
tim bersama mas Dodi (pic by insanwisata.com)

Menegangkan, tapi ini jadi pengalaman rafting di Sungai Serayu yang tak terlupakan. Tentu saja para skipper tidak akan sengaja melakukan hal tersebut jika medan yang akan dilewati membahayakan. Penuh perhitungan bahkan mental kami sudah dibikin santai sehingga tidak terlalu panik ketika semua terjungkal dari perahu. Sungguh usaha yang patut diacungi empat jempol!

Sekali lagi kegiatan berarung jeram itu kegiatan yang menyenangkan, bukan olahraga yang mempertaruhkan nyawa asalkan didampingi oleh petugas yang profesional dan sudah berpengalaman mengarungi sungai tersebut seperti crew Bannyu Woong Adventure. Bahkan saya ingin merasakan aktivitas rafting di sungai-sungai lain mumpung faktor U masih belum terlalu merepotkan.

Setelah baca ini, masih nggak mau mencobanya langsung? Buruan rasakan sendiri keseruan rafting di Sungai Serayu. Dijamin ikut ketagihan berarung jeram deh! 😉

Advertisements

43 Comments Add yours

  1. Biasanya kalau pas di air tenang sengaja nggaet salah satu peserta biar terjun bebas ke air hahahhaha. Seru banget kalau rafting, lupa minumair berapa liter akakkakakak

    Like

    1. Niatnya kemarin begitu, tapi hujan deras dari pagi sehingga tidak memungkinkan nyebur dengan santai, takut terseret jauh. Beruntungnya kelompokku yang dikasih permainan pakai dijungkalkan dari perahu pas Jeram Tsunami. Hahahaha

      Like

  2. Lidya says:

    Bacanya aja seru pengalaman dapet tsunami, eh tapi pasti panik juga ya waktu nyebur hehehe. Pointnya kalau rafting jgn terlalu gembira nanti terbaca ya

    Like

    1. Panik pake banget, tapi setelah di dalam air cuma bisa pasrah. Mas skipper-nya penuh perhitungan banget pas menjungkalkan kami dari perahu, nggak ada batu besar di sekitar sana jadi beneran seperti nyebur di kolam renang hahaha. Seruuuu. 😀

      Like

  3. idahceris18 says:

    Faktor U ya, Mas? Mari berhitung! HAHAHAAHA

    Selama arung jeram, ini pengalamanku paling WOOOW. Bersama kaliaan. 😀

    Like

    1. Padahal ada beberapa sungai buat rafting yang udah lama kumasukin dalam daftar buat dikunjungi. Sungai Serayu aja baru kesampaian setelah sekian tahun berencana dan kebetulan ada trip kemarin. Mari berhitung sebelum faktor U semakin bikin rempong. 😀

      Like

  4. ghozaliq says:

    Wahwhawa yang di depan itu bingung pas nglewatin jeram. Mau teriak kena terjangan air masuk ke mulut, mau mingkem ya kurang greget…wahwha

    Like

    1. Maka dari itu ekspresi mukaku di foto banyak mingkemnya. Tanpa disadari pas lewat jeram otomatis tutup mulut meski tak lama kemudian buka dan teriak keras hahaha

      Like

  5. wkwkwkwkw…lucu ya ekspresinya si Halim San…

    Like

    1. Jarang-jarang loh pasang foto diri sendiri di blog. Mumpung dijepret dengan mimik muka nggak biasa jadilah dipasang. Biar nggak dikira hoax juga. 😛

      Liked by 1 person

    2. hahaha tull…karena kadang kita pas tidak sadar ada kamera jadi ga bisa jaim gitu…lagi teriak ya ekspresinya teriak atau pas lagi ketakutan sambil mangap

      Liked by 1 person

  6. Dian says:

    Waaaaaahhhhh seruuuuu serruuuuu seerruuu dan lutjuk!
    Penginapan dan program raftingnya ini menarik banget Lim.

    Btw, suka sekali dengan paragraf pembukamu yang mancing rasa penasaran buat mbaca sampai kalimat terakhir 😆

    Like

    1. Ayo mbak D yo sesekali kudu ngerasain rafting di sungai koyo gini. Jawa Timur duwe beberapa sungai yang asyik buat arung jeram lho. Rafting nde Kediri yok. 😀

      Like

  7. ahahahaha jadi ikutan tegang bacanya, mas. seruuuu
    selamat ya dapat hadiah yang tak terlupakan dari pikas wkwkwk

    Like

    1. Sungguh jadi moment tak terlupakan di Sungai Serayu karena cuma perahu kami yang dijungkalin ama mas skipper. 😀 😀

      Like

  8. andinormas says:

    Wah.. seru bgt kayaknya…

    Like

    1. Ayok, mas Andi cobain juga keseruan rafting di Sungai Serayu. 🙂

      Like

    2. andinormas says:

      Yup.. next time deh insya Allah..

      Liked by 1 person

  9. Fubuki Aida says:

    Hujan-hujan gini arusnya apa nggak deres bgt? Seru sekali kelihatannya

    Like

    1. Awalnya juga sangsi lihat hujan deras yang otomatis menambah debit air sungai. Tapi musim hujan gini justru mempermudah perjalanan, nggak capek mendayung seperti ketika rafting pada musim kering hehehe. Crew Bannyu Woong selalu memperkirakan waktu yang tepat untuk mengawali dan mengakhiri, jadi jangan khawatir akan keselamatan berarung jeram. Tim berangkat sekitar pukul 9 pagi, waktu yang pas untuk ber-rafting. Siang hari ada rombongan lain terlihat kecewa, mereka tidak menyelesaikan rutenya karena debit air sungai sudah meningkat dan membahayakan. 🙂

      Like

  10. kunudhani says:

    seru bangettt kelihatnnya, apalgi penginapanya nyamanin gtu 😀

    Like

    1. Penginapannya dibikin seperti suasana rumah desa, asri banget dengan letak sungai tak jauh dari cottage. Selain jadi akomodasi mumpuni untuk berafting esok harinya, The Pikas Resort cocok buat honeymoon juga hihihi.

      Like

  11. Kayaknya seru banget rafting di serayu
    eeh, itu penginapannya juga asyik 😀

    Like

    1. Sungai Serayu di Banjarnegara lebih lebar dari pada Sungai Elo dan Progo di Magelang jadi … lebih seru! Hahaha. Mesti cobain sendiri, Vay. 🙂

      Like

  12. dwisusantii says:

    Aku belum pernah rafting — haa takut geblebek.
    Pernah e malah cave tubing tok. Kayanya seruu eh kui sungainya meyakinkan… alirannya bisa buat sekalian mengalirkan kenangan wkwk biar bablass
    Jejeranmu kok hanif e mas? bikin ga konsen kan?

    Like

    1. Sungai Serayu lebar dan panjang byanget, pas byanget buat mengalirkan kenangan, mbak Dwi. Hahaha. Hanif bikin nggak konsen di sebelah mana? Kalo ngepet Hanif di rafting kek gini pasti dapat frame bagus di foto-foto dari gopro-ne. 😛

      Like

  13. gariswarnafoto says:

    wah saya coba rafting itu waktu di Sukabumi. Saya nyobain Citarik, tapi rute yang digunakan rute untuk pemula loh. maklum acara kantor, amatir semua yang ikut hahaha,
    tapi lihat medan boleh juga tuh.
    oh iya mas kalau kebetulan cari tips fotografi mampir juga dong ke blog saya di
    gariswarnafoto[dot]com
    yah kali aja bisa bermanfaat.
    terima kasih buat tulisannya yuk mariii

    Like

    1. Sungai Citarik terdengar menyenangkan, belum pernah mencobanya. Mungkin suatu saat mesti saya sempatkan jajal berarung jeram di sana. Terima kasih sudah mampir di blog ini, mas. 🙂

      Like

  14. Susindra says:

    Keren banget ya kalau bisa main arung jeram begitu. STamina juga harus kuat.

    Like

    1. Tidak disarankan berarung jeram dalam kondisi kurang sehat, apalagi belum sarapan sebelumnya. Kalau badan sedang nggak fit dan lemas ntar nggak kuat dayung dan nggak konsentrasi selama pengarungan sungai malah bikin repot petugas dan celaka diri sendiri. 🙂

      Like

  15. Rudi Chandra says:

    Seru banget tuh…
    Tapi belum pernah ikut rafting.
    #pengen

    Like

    1. Rafting seruuu pake banget, sekaligus test tingkat keberanian juga sih hehehe. Tapi disarankan melihat kondisi cuaca juga, jangan nekad berarung jeram ketika operator terpercaya bilang kurang aman untuk beraktivitas di sungai. 😉

      Like

  16. Aku masi membayangkan rasanya rafting durasi 5.5 jam. Lama sekali, pasti selesai rafting dipastikan suara habis efek teriak-teriak digoyang arus wkwkw

    Like

    1. Dengan durasi waktu selama itu mungkin diselingi dengan acara mancing ikan dulu kali ya? Hahaha. Untuk pemula, dua jam berarung jeram sudah cukup banget merasakan sensasi jeram-jeram di sungai dan menikmati adrenalin yang memuncak. 🙂

      Like

  17. jadi inget aku terjatuh terjungkal di serayu ini ihik ihik

    Like

    1. Seruuu ituh hehehe. Minum berapa liter air dari Sungai Serayu, om Cum? 😀

      Like

  18. dikaamfa says:

    Bicara rafting jadi inget kejadian “sengaja nyebur” temen kampus saya yg ga beruntung mas. Kepala kebentur karang dan ga selamat. Tapi ini banana boat sih. Saran aja mas hati hati selalu

    Like

    1. Waduhh… iya tetap harus jaga faktor keselamatan kalau melakukan aktivitas semacam arung jeram. Batu-batu besar di sungai yang sering jadi sumber ketakutan sendiri. Terima kasih. 🙂

      Like

  19. aku belum pernah merasakan rafting, mas. Bapakku yang sudah sepuh, sekarang malah sering rafting di Banjar negara. Mungkin di daerah Lumbir ini, kali y

    Like

    1. Sudah sepuh tapi bapaknya masih semangat untuk rafting ya? Salut dan dua jempol untuk bapaknya mbak Astin. 🙂

      Like

  20. Gara says:

    Ampun, saya bisa teriak-teriak lebay kalau sampai ikutan rafting yang sedahsyat itu Mas, hehe. Seru banget kelihatannya, jeram-jeramnya memang betulan menantang. Apalagi saat hujan jadi debit air memang maksimal. Wisatanya bagus banget buat dijajal buat menderaskan adrenalin. Mudah-mudahan kalau Mas Halim mau rafting lagi ngajak-ngajak saya juga, soalnya kalau saya rafting sendirian kan nggak seru, takut hilang, haha.
    Disbudpar Banjarnegara ramah dengan para blogger, ya. Bagus banget kalau pemerintah daerah sadar dengan kekuatan dunia maya. Saya menunggu ulasan soal cagar budayanya, hehe.

    Liked by 1 person

    1. Rafting di Sungai Serayu kemarin beneran bikin sedikit parno, Gar. Entah faktor U atau memang debit air akibat hujan ditambah lebarnya sungai yang bikin demikian hehehe. Tapi perlulah gara coba rafting di Jawa. Sungai Progo di Magelang nggak terlalu lebar jadi lumayan menyenangkan untuk pemula.

      Disbudpar Banjarnegara sudah melirik blogger. Kerennya lagi mereka sudah bikin brosur dan peta wisata terbagus se-Jateng yang pernah aku lihat. Mudah-mudahan aksi mereka nggak terhenti sampai di sini yah. Mudah-mudahan juga Gara bisa ikut diajak untuk memperkenalkan potensi wisata Banjarnegara oleh mereka suatu hari nanti. 😀

      Like

    2. Gara says:

      Amin, semoga doa-doa baiknya tercapai ya, Mas. Ekspedisi Dieng gitu…

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s