Harapan-Harapan Untuk Bamboo Biennale

Dug! “Aduhhh,” erang salah satu pengunjung yang kakinya tersandung bongkahan batu cukup besar. Halaman berumput, calon taman kota yang gagal itu belum punya kontur yang semulus lapangan sepak bola. Padahal event tahunan bikinan pemerintah kota berskala besar cukup sering diadakan di sana.

Rintihan itu perlahan memudar. Tertelan suara riuh pengunjung lain yang memadati halaman sisi barat Benteng Vastenburg. Satu-persatu mulai melancarkan aksi binyong dengan uluran tangan memegang gawai yang sudah dilekatkan dengan tongsis. Adapun yang sudah duduk dan memasang senyum manis menunggu pasangannya mengarahkan gaya.

pre-event Bamboo Biennale 2016
pre-event Bamboo Biennale 2016

Ini kali kedua Kota Solo atau Surakarta punya gawe terkait dengan pameran instalasi bambu bernama Bamboo Biennale. Rangkaian event dua tahunan ini masih digelar di tempat yang sama seperti tahun 2014, Benteng Vastenburg. Mereka diberi lahan cukup luas di halaman depan sisi barat benteng untuk memasang karya-karya para aristek yang dihadirkan dari beberapa kota di Indonesia. Pengunjung bebas masuk ke lokasi pameran instalasi bambu mulai dari tanggal 8 – 30 October 2016 tanpa dipungut biaya.

Ada perkembangan berupa pameran kerajinan produk bambu yang digelar di Pasar Gede Hardjonagoro gedung barat dan pameran jembatan bambu di Taman Lojiwetan. Untuk yang pertama masih jauh dari kata ramai, malah pedagang Pasar Gede sendiri tidak tahu ada pameran tersebut. Untuk yang terakhir hanya wacana saja, tidak terealisasi hingga tulisan ini dipublikasikan. Sepertinya pihak penyelenggara belum belajar dari kesalahan promosi dua tahun yang lalu. Promosi Bamboo Biennale 2016 masih dinilai kurang menggaet perhatian masyarakat Solo apalagi wisatawan dari luar kota. Padahal rancangan-rancangan bambu di sana unik, membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa heran. Kok bisa ya bambu dibuat jadi bangunan seperti itu?

Dewasa ini produk bambu semakin jauh dari hati masyarakat. Salah satu contohnya adalah mulai berkurangnya penggunaan besek, tampah bambu yang semuanya tergeser oleh produksi serupa berbahan plastik. Hal itu saya rasakan saat pertama kali mengunjungi Simo, Boyolali dua tahun lalu. Lengkapnya bisa dibaca di sini. Pameran Bamboo Biennale yang diadakan tahun ini berusaha menumbuhkan kembali kepercayaan manusia terhadap bambu. Harapan demi harapan dikoarkan oleh para arsitek atau lebih keren jika disebut sebagai seniman bambu yang ikut meramaikan Bamboo Biennale 2016.

Rumah Oksigen karya Akademi Bambu Nusantara dari Tangerang termasuk karya yang dikagumi pengunjung. Undakan demi undakan dibuat sedemikian rupa mirip dengan sebuah tempat tinggal yang memiliki beberapa tingkat. Bangunan ini kuat dipijak oleh lebih dari sepuluh pengunjung. Di lantai atasnya dipasang susunan botol mineral bekas yang sudah diisi cairan berwarna-warni. Ketika malam hari botol-botol itu berpendar akibat sorotan dari lampu di dekatnya.

Lalu ada Bamboo Bawana karya Jajang Agus Sonjaya dan Rony Arsyad dari Bambubos, Yogyakarta yang mengusung tema “Dari Kampung Untuk Dunia”. Karya ini juga termasuk salah satu yang selalu diantre oleh pengunjung yang hendak mengambil gambar diri sendiri. Potongan-potongan bambu dibentuk melingkar hingga bentuk akhirnya menyerupai bola dunia. Si perancang memiliki harapan agar dunia melihat potensi bambu dan produk lokal penduduk desa.

Antonius Tan Architecture yang digawangi oleh Antonius Tan, Klara Puspa, dan Edmund Santos dari Jakarta menciptakan Rite of Passage. Sebuah shelter yang bisa berfungsi sebagai koridor penyambutan, ruang tunggu, area parkir sepeda atau sebagai tempat singgah saja. Batang-batang bambu yang elastis dilengkungkan dan diberi anyaman dari beberapa pengrajin sebagi bentuk apresiasi terhadap eksistensi bambu.

Menggapai Asa karya Linda Octavia dan Eko Prawoto dari UKDW Yogyakarta turut meramaikan pameran. Rancangan menyerupai benteng dengan dinding meliuk dengan menara di atasnya termasuk bangunan non permanen yang ramai didatangi pengunjung. Mereka berharap supaya pengunjung bisa merasakan aura benteng yang berbeda, tidak kaku seperti benteng pada umumnya.

Sungguh semuanya keren. Lebih keren lagi jika dilihat langsung.

Masih ada banyak lagi karya dari arsitek pendukung Bamboo Biennale 2016 yang sengaja tidak saya jabarkan satu-persatu. Yang jelas pameran ini membuka pola pikir baru tentang kegunaan bambu yang masih dipandang rendah oleh kebanyakan orang kota. Sepulang dari sana, saya jadi kepingin membuat rumah berbahan bambu! Bikin homestay dengan bangunan terbuat dari bambu sepertinya ide yang bagus juga. 😀

Advertisements

35 Comments Add yours

  1. Ayo Lim, ide bagus bikin homestay berbahan bambu. Nanti kalau ke Solo saya jadi punya tempat singgah 🙂

    Like

    1. Doakan mimpi nyeleneh saya tercapai hehehe. Ini baru tahap akan riset desa yang sudah membangun homestay dengan bangunan permanen terbuat dari bambu. Selanjutnya, tunggu tanggal tayangnya. 😀

      Like

  2. Gara says:

    Saya mau menginap di homestay bambunya, Mas, hehe.
    Bagus-bagus dan spektakuler desainnya… pertamanya saya kira ini hanya pajangan semata, namun ternyata sisi fungsionalnya bisa dieksplor ya, jadi sangat memungkinkan untuk dijadikan komponen bangunan. Sayang banget kalau pemerintah kota kurang pol dalam promosinya, namun saya pikir melalui tulisan di blog ini sudah ada upaya untuk mengenalkan potensi bangunan bambu ke masyarakat luas, hehe. Semoga suatu hari bisa tandang ke pameran ini, jika kesempatan memungkinkan, amin.

    Like

    1. Asyikkk ada peminat homestay bambu lagi hahaha. Instalasi bambu yang dipamerkan di Bamboo Biennale sungguh bikin terpukau, membatin kok bisa ya bambu sekuat ini, kok bisa ya bambu dibikin seindah ini dan kok bisa yang lain. 😀
      Kalau Gara nggak sempat tandang Bamboo Biennale tahun ini brarti mesti nunggu dua tahun lagi donk. 😛

      Like

    2. Gara says:

      Iya, bambu ternyata tidak cuma tumbuh merumpun dan ditakuti sebagai sarang makhluk halus ya. Tapi bisa dibikin jadi bangunan-bangunan bermanfaat.
      Oh iya ya, biennale. Ya sudah berarti ke Solonya buat melihat yang lain. Kan masih banyak yang belum dilihat, haha.

      Like

  3. Aku gak sempat ke sini mas 😦
    Insyaallah kalau tahun depan ada event ini pasti datang, hehehhehe

    Like

    1. Wah sayang banget, Sitam. Pameran masih berlangsung sampai tanggal 30 October 2016, ada waktu. Kalo menunggu Bamboo Biennale berikutnya berarti tunggu dua tahun lagi loh hehe

      Like

  4. teringat kembali sama almarhum suami dari mbok pengasuhku waktu kecil yang merupakan seorang pengrajin semacam wadah tempat penjual ikan dalam pikulan yang dilapisi “tir” atau aspal yang dicairkan, beliau sudah meninggal dan kini sangat jarang penjual ikan memakai wadah ini. Saat masih hidup, hidup beliau didedikasikan untuk membuat wadah ini dan menjualnya langsung dari rumah ke rumah hingga puluhan kilometer, kadang kasihan kalau tidak laku karena sangat jarang sekali orang membeli wadah seperti ini (bentuknya mirip pikulan dawet jaman dahulu namun tidak terlalu tinggi).

    Like

    1. Baca deskripsi wadah yang dimaksud Hendi jadi penasaran penampakannya. Itu bikin ikan yang dibawa oleh penjualnya lebih tahan panas ya? Sayang banget wadah tersebut sudah tidak ada yang menggunakannya lagi dan tidak ada generasi yang meneruskan membuatnya.

      Liked by 1 person

    2. Jd kranjang buat ikan hidup, Lim..mknya dilapisi sama cairan aspal untuk kmdian dipikul

      Liked by 1 person

    3. Ohh tir-nya bikin air nggak rembes ya. Alat tampung tradisional yang menarik banget. Cuma bisa prihatin sudah nggak ada yang produksi itu lagi.

      Liked by 1 person

  5. dwisusantii says:

    Bambu itu bayang-bayangku ketika kecil adalah tempat persembunyian wewe gombel. Haha.
    Baru dengar ini sih mas ada nama-nama seniman bambu yang ternyata karyanya waww sekalii. Jogja punya juga ya itu?
    Oke,
    Kalau saung-saung bambu sering kulihat jika ada liputan tentang jawa barat atau sunda. Kalau home stay bambu baru mau aku dengar ceritanya besok kalau udah jadi 🙂 semoga lancar mas….

    Like

    1. Padahal hutan bambu fungsinya sama seperti menanam pohon beringin, jadi banyak resapan air dan timbul mata air akibat hutan bambu. Orang zaman dulu takut bambu ditebang habis yang bisa berakibat mata air mengering, makanya disebar mitos yang nakut-nakutin anak kecil hahaha.

      Banyak seniman bambu asal Yogya, jadi ingin kunjungi showroom mereka kalau ada. Ntar ramean belajar dari mereka di sana. 😀

      Like

  6. Dita says:

    liat ini IG-nya Dansapar….trus makin mupeng liat di sini huhuhu, mau ke sanaaaa T_T

    Like

    1. Jadi kamuh nggak lihat IG-ku, kak? Ada beberapa foto Bamboo Biennale di IG-ku loh. Tegaaa, tegaaa, cedih hati Rangga yang rapuh ini. #dramah >.<

      Like

  7. OYONG ILHAM says:

    memang bambu banyak mempunyai manfaat

    Like

    1. Bambu material bangunan yang murah dan ramah. 🙂

      Like

  8. yofangga says:

    Woooohh..
    yang bikin instalasinya arsitek-arsitek top semua 😦
    beberapa arsitek memang sekarang sudah mulai beralih ke bambu ko
    selain ketersediaan bahannya masih banyak, masa tanamnya juga cepat
    ada yang bilang kalau bambu itu material bangunan masa depan
    yaah, semoga dengan berkembangnya teknologi, engineered bamboo juga makin berkembang

    Like

    1. Komentar dari arsitek jadi dalem banget bgini hahaha. Kutunggu rancangan rumah minimalis dari bambu bikinanmu, Yof. 😀

      Like

  9. Aji Sukma says:

    Waaa blm sempet kesini, pdhal foto2 uda bersliweran di TL. Keren ya. 😀

    Like

    1. Padahal deket, padahal event ini jarang jarang loh. Ayo buruan ke sini sebelum semua rusak karena sering diganduli alayers, kak … #sebarratjun 😀

      Like

  10. Duhhh.. kerennya itu bamboo biennale..
    kapan saya bisa kesini??
    *tanyakan pada rumput yang bergoyang*

    Like

    1. Tenang, Solo nggak pindah tempat kok. Solo selalu di Solo. Ditunggu kedatangannya di Solo, mbak Endah hahaha.

      Like

  11. acara Bamboo Biennale 2016 ada setiap tahun atau baru tahun ini aja?

    Like

    1. Bamboo Biennale 2016 sudah sekian kalinya dan event biennale ini diadakan dua tahun sekali. Yukk, Bud. 😀

      Like

  12. Fubuki Aida says:

    kemarin-kemarin agak malas. Habis baca ini, baiklah, saya mau ke sana 😀

    Like

    1. Ayok buruan ke sana, sudah minggu terakhir Bamboo Biennale nih. Mumpung sebagian instalasi masih utuh, tapi jangan kaget kalau ketemu instalasi yang sudah rusak ya hehehe.

      Like

  13. sarah says:

    Bagus banget, its an art. Waiting for the homestay bambunya ya.

    Like

  14. sarah says:

    Semoga bisa liat di tahun berikutnya..

    Like

    1. Bamboo Biennale akan hadir dua tahun lagi atau tahun 2018. Semoga kesampaian melihat pameran yang akan datang, Sarah. 🙂

      Like

  15. Sayang sungguh disayang sewaktu aku kesini tak sempat memotret suasana Bamboo Biennale di senja hari, pasti dramatis banget dengan latar langit jingga dan tata cahaya dari masing-masing instalasi..

    *duduk di balai-balai bambu sambil ngunyah sate buntal pake nasi yang banyak*

    Like

    1. Puk puk dari jauh. Kurang lama nYolo-nya. Kurang banyak juga cicip hidangan serba kambingnya, Sate Bunthel enak tapi awas tensi naik setelah makan dua tusuk hahaha.

      Like

  16. Deddy Huang says:

    apa lagi yang kamu sembunyiin gak ditulis :p

    Like

    1. Anuh, anuh itu yang masih sembunyi di dalam lubuk hati yang terdalam. #halah

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s