Jalan Panjang Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu

Gula itu memaniskan. Tanpanya olahan biji cokelat akan terasa pahit. Limun tanpa gula, ah siapa yang mau minum? Gula itu juga melenakan. Ribuan hektar ladang milik Pribumi dimonopoli oleh tebu setelah Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch mencanangkan peraturan cultuurstelsel guna memulihkan keuangan Hindia Belanda pasca Perang Jawa tahun 1830. Pasokan tebu diolah menjadi gula oleh suikerfabriek atau pabrik gula di bawah pengawasan perusahaan swasta Belanda.

Kerja, kerja dan kerja!

Sebelum peraturan cultuurstelsel atau tanam paksa dihapus pada tahun 1870, penanaman hasil bumi yang dilakukan oleh para saudagar dan pendatang waktu itu masih bergantung pada peraturan-peraturan tertentu dari pemerintah Hindia Belanda. Tidak sembarang firma bisa mengontrol perkebunannya sendiri tanpa pengawasan pemerintah.

Sementara, Praja Mangkunegaran ketika di bawah kepemimpinan KGPAA Mangkunagara IV sudah memiliki perkebunan tebu sendiri di lahan milik praja. Mereka mendirikan Suikerfabriek Tjolomadoe (Colomadu) pada tahun 1861, disusul berdirinya Suikerfabriek Tasikmadoe (Tasikmadu) sepuluh tahun kemudian.

Keduanya dibangun di (bekas) wilayah kekuasaan Praja Mangkunegaran. Colomadu terletak di sisi barat, sedangkan Tasikmadu berada berada di sisi timur praja. Kini keduanya sudah masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah setelah hak-hak istimewa Karesidenan Surakarta dihapus oleh pemerintah Republik Indonesia sejak tahun 1950. Pengelolaan pabriknya sekarang di bawah PT Perkebunan Nusantara IX seperti nasib suikerfabriek lain yang tersebar di Provinsi Jawa Tengah.

sumbu imajiner Colomadu-Mangkunegaran-Tasikmadu
sumbu imajiner Colomadu-Mangkunegaran-Tasikmadu

Kata orang bijak sih jangan sekali-kali melupakan sejarah, jangan lupakan pula sebab dan akibat dari permainan politik yang pernah dilakukan oleh pemerintah negara republik ini. Jadi mari belajar sedikit tentang sejarah Pabrik Gula Colomadu dan Pabrik Gula Tasikmadu dimulai dari kisah pendirinya, KGPAA Mangkunagara IV.

KGPAA Mangkunagara IV
potrait KGPAA Mangkunagara IV

KGPAA Mangkunagara IV (1811-1881) adalah pemimpin Praja Mangkunegaran yang bertahta mulai tahun 1853 hingga 1881. Beliau merupakan cucu dari KGPAA Mangkunagara II, menduduki tahta setelah kakak sepupu sekaligus ayah angkatnya, KGPAA Mangkunagara III mangkat. Selama beliau menjabat tertoreh beberapa kebijakan baru, seperti mengeluarkan larangan suap pejabat kerajaan, mengelola real estate di bilangan Banjarsari. Termasuk mengelola sendiri semua tanah di daerah wilayah kekuasaan Mangkunegaran yang semula disewa oleh para pengusaha.

Hutan penuh semak belukar kemudian ditanami dan dikembangkan menjadi perkebunan kopi yang memberi keuntungan untuk mensubsidi pabrik gula. Upaya tersebut turut meringankan beban rakyatnya dari tanam paksa yang digalakkan oleh pemerintah Hindia Belanda saat itu.

Perjalanan pabrik gula yang didirikan oleh KGPAA Mangkunagara IV diawali dengan terpilihnya Desa Malangjiwan, Karanganyar, barat Surakarta sebagai lahan yang tepat untuk perkebunan tebu. Setelah mendapat persetujuan dari Residen Surakarta, peletakan batu pertama Pabrik Gula Colomadu dilakukan pada tanggal 8 Desember 1861.

Pinjaman dari pemerintah Hindia Belanda dan bantuan dari seorang Mayor Semarang bernama Be Biauw Tjoan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk membangun pabrik dan membeli mesin-mesin uap yang dipesan langsung dari Eropa. Menurut salah satu sumber, pada tahun 1863 Pabrik Gula Colomadu sudah mulai berproduksi dari hasil panen tahun pertamanya. Perkebunan tebu seluas 95 hektar itu mampu menghasilkan 3.700 kuintal gula di tahun yang sama.

Pada tahun 1871, KGPAA Mangkunagara IV membangun pabrik gula keduanya di Desa Ngijo, Karanganyar yang berjarak sekitar 12 kilometer arah timur dari Surakarta. Lahan seluas 28,364 hektar itu diberi nama Tasikmadu menggantikan nama sebelumnya, Sondokoro. Legenda tentang Sondokoro bisa dibaca di sini. Nama yang baru itu diharapkan KGPAA Mangkunaga IV supaya Tasikmadu menghasilkan gula yang melimpah seperti tasik  atau danau.

Pabrik Gula Tasikmadu menyokong produksi gula di Colomadu dan memakmurkan ekonomi kerajaan. Jika pernah berkunjung ke Pura Mangkunegaran, pasti pemandu museum di sana selalu menyajikan sepenggal cerita bahwa KGPAA Mangkunagara IV sengaja memesan sepasang patung singa terbuat dari tembaga buatan Jerman dan memasang marmer-marmer di pendopo kerajaan yang dikirim langsung dari Itali.

Boleh dibilang arsitektur Pura Mangkunegaran menjadi semakin cantik dan terlihat megah ketika KGPAA Mangkunagara IV bertahta. Dibangun pula sebuah kantor administrasi perkebunan di samping Pura Mangkunegaran (kini berfungsi sebagai kantor pusat PTPN IX). Pun rumah-rumah singgah di kompleks Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu dirancang berlanggam indish dengan perabot mewah di dalamnya.

Beliau juga memindah arena balapan kudanya di Manahan agar lahannya di Balapan bisa digunakan untuk pembangunan Stasiun Balapan yang dilakukan oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS guna memperlancar distribusi gula ke kota-kota pelabuhan. Bahkan saat beliau meninggal dunia, tempat makamnya di Astana Giri Layu berbentuk mausoleum gaya Eropa yang membedakannya dengan makam raja-raja Mangkunegaran yang lain.

Kecakapan KGPAA Mangkunagara IV dalam mengatur manajemen dan keuangan pabrik tidak diikuti oleh putranya yang bernama GRM Sunita (1855-1896) yang menggantikan posisi ayahnya sebagai KGPAA Mangkunagara V. Kendati usianya belum mencapai 40 tahun saat ayahnya meninggal dunia, beliau bergelar KGPAA Prangwedana V tahun 1881-1894.

Baru mulai bertahta sebagai KGPAA Mangkunagara V pada tahun 1894 hingga 1896. Masa jabatannya terhitung paling singkat di antara pemimpin yang lain, ditambah kesalahannya dalam memutuskan beberapa hal terkait dengan aset-aset Praja Mangkunegaran membuat pabrik gula nyaris bangkrut dan meninggalkan banyak hutang pada pemerintah Hindia Belanda hingga ajal menjemputnya dalam sebuah kecelakaan pada tahun 1896.

cerobong PG Colomadu
bekas cerobong PG Colomadu

Puluhan tahun telah berlalu dan kondisi PG Colomadu sekarang sudah tidak sekeren yang digambarkan. Saya termangu melihat jajaran lokomotif uap yang tergeletak di bekas bengkel loko. Bus sekolah yang pernah digunakan sebagai kendaraan untuk mengangkut anak-anak dari pejabat dan para pekerja pabrik diam dalam sepi. Mesin giling terbuat dari besi baja buatan Cebr: Stork Co Hengelo tahun 1918 tergeletak begitu saja bagai barang rongsokan yang tidak punya nilai sejarah lagi.

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, pemerintahan Swapraja Mangkunegaran dihapus tahun 1946, PG Colomadu termasuk salah satu asetnya yang dinasionalisasi oleh pemerintah Republik Indonesia. Pengelolaannya diambil alih oleh Perusahaan Perkebunan Republik Indonesia (PPRI) pada tahun 1947 yang berubah nama menjadi Perusahan Perkebunan Negara (PPN) dan terakhir memakai nama PT Perkebunan Nusantara (PTPN).

Saksi bisu zaman keemasan agroindustri masa kolonial itu berakhir pada tahun 1998 ketika krisis moneter menyerang Indonesia. Maraknya pembangunan kompleks perumahan di pinggiran kota membuat lahan perkebunan tebu di sekitar Colomadu, Karanganyar menyusut drastis dan tidak lagi mampu menyuplai kebutuhan tebu pabrik gula. Pada akhirnya PTPN IX yang saat itu sudah jadi BUMN yang menaunginya hanya bisa memutuskan untuk menghentikan produksi PG Colomadu untuk selama-lamanya. Suplai tebu di Surakarta dan kabupaten sekitarnya kemudian difokuskan ke PG Tasikmadu yang masih aktif hingga sekarang.

Kekosongan tahta dan ekonomi yang carut-marut dibenahi oleh adiknya, KPA Dayaningrat (1857-1928) yang menggantikan posisinya dan bertahta dari tahun 1896 hingga 1916 sebagai KGPAA Mangkunagara VI. Pada periode tersebut keuangan kerajaan berhasil dinormalkan kembali, hutang pemerintah Hindia Belanda dilunasi, dan kedua pabrik gula kembali menggeliat.

Di tengah Perang Dunia I yang berkecambuk, KGPAA Mangkunagara VI memutuskan mengundurkan diri dan pemerintahan Praja Mangunegaran digantikan oleh keponakannya, BRM Suryo Suprapto (1885-1944) yang mulai bertahta dan bergelar KGPAA Mangkunagara VII pada tahun 1916 hingga 1944.

Di bawah pimpinan KGPAA Mangkunagara VII yang terkenal dengan kecerdasannya di bidang teknologi, PG Tasikmadu mengalami pembaharuan dan penambahan mesin-mesin penggiling bertenaga listrik pada 20 Mei 1926 seperti terlihat sekarang. Didirikan pula gudang baru dan bangunan pendukung pabrik agar proses pendistribusian PG Colomadu berjalan lebih lancar.

Ketika Jepang masuk Jawa tahun 1942, pengelolaan pabrik gula mengalami masalah yang cukup serius. Tidak ada produksi pabrik gula selagi masa panen tebu dan beberapa aset yang diambil paksa oleh tentara Jepang memberi tekanan mental bagi KGPAA Mangkunaga VII. Beliau meninggal dunia pada tahun 1944 dan dimakamkan di Astana Giri Layu bersama pendahulunya.

kereta wisata di Agrowisata Sondokoro
kereta wisata di Agrowisata Sondokoro – Tasikmadu

Beruntung nasib Pabrik Gula Tasikmadu jauh lebih baik daripada kakaknya, PG Colomadu. Bangunan-bangunan penting di kompleks pabrik masih terlihat utuh dan terawat meski di sisi lain. Ikut dinasionalisasi dan diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia hingga berakhir di tangan PTPN IX yang kini menaunginya. Bedanya pemerahan tebu untuk mendapatkan nira dari batang-batang tebu yang tidak lagi diangkut oleh kereta uap, melainkan dengan truk-truk angkut itu masih dilakukan oleh mesin giling buatan Cebr:Stork Co Hengelo tahun 1926.

Hingga kini, pihak Praja Mangkunegaran masih berusaha menegakkan keadilan atas apa yang terjadi dengan aset-aset yang telah diambil oleh pemerintah Republik Indonesia puluhan tahun silam. Besar harapan mereka supaya aset yang dulu pernah dimiliki oleh mereka bisa kembali dilestarikan, dan menjadi warisan lelulur Praja Mangkunegaran yang bisa dibanggakan.

staff PTPN IX dan petugas pabrik menerangkan proses pembuatan gula
staff PTPN IX dan petugas pabrik menerangkan proses pembuatan gula

Saya sendiri pernah melihat aktivitas mesin-mesin pengolahan gula bertenaga listrik di PG Tasikmadu secara langsung bersama komunitas Laku Lampah tahun 2015 lalu. Kurang lebih prosesnya seperti ini, pertama-tama batang tebu yang sudah ditimbang dan diatur masuk ke cane carrier akan dipotong-potong oleh pisau tebu dan dipecah-pecah oleh hammer shreeder. Kemudian masuk ke gilingan pertama hingga keempat supaya memperoleh nira sebanyak-banyaknya.

Selanjutnya adalah proses pemurnian untuk memisahkan nira jernih dan nira kotor atau blotong yang kelak digunakan sebagai pupuk organik. Setelah itu nira jernih melewati stasiun penguapan agar menghasilkan nira kental yang akan melewati stasiun masakan dan stasiun pendingin yang dinamai proses kristalisasi. Terakhir kristal gula dipisahkan dengan larutan gula atau stroop melalui talang goyang dan saringan. (Dirangkum dari sini)

Pernah tercatat PG Tasikmadu mampu menggiling 32.000 kuintal tebu perharinya atau menghasilkan total 4,2juta kuintal gula pasir setiap musim giling yang biasa berlangsung mulai bulan Mei. Namun PG Tasikmadu juga tidak cepat berpuas diri dan berdiam saja melihat lahan kosong di kompleks pabrik. Pada tanggal 18 Desember 2005 telah diresmikan Agrowisata Sondokoro oleh Ir. Soehardjo selaku direktur utama PTPN IX waktu itu.

Dengan adanya Agrowisata Sondokoro, suasana kompleks pabrik ketika musim giling selesai tidak sepi aktivitas. Setidaknya pemasukan dari agrowisata turut membantu ekonomi ratusan karyawan di sana. Halaman kosong diisi komidi putar, wahana air, dan arena bermain yang lain. Rumah-rumah dinas yang tidak terpakai pun difungsikan sebagai tempat kuliner, ruang pertemuan hingga homestay untuk pengunjung yang ingin bermalam di sana.

Lokomotif uap “Doon” buatan tahun 1850 yang pernah digunakan oleh KGPAA Mangkunagara IV saat meninjau perkebunan, kremoon atau gerbong kereta buatan E. Chevalier Constructeur Paris merupakan beberapa koleksi bersejarah dari PG Tasikmadu yang dipamerkan di dalam Agrowisata Sondokoro. Sungguh memberi warna bagi kompleks pabrik tua yang selalu diidentikkan dengan kesan suram dan membosankan.

Tiket masuk Agrowisata Sondokoro termasuk terjangkau, hanya Rp5.000,- per orang saja. Jika ingin memasuki arena bermain harus membayar tiket lagi dengan harga yang berbeda. Kereta uap dengan rute mengelilingi pabrik dikenai tiket Rp10.000,- per orang. Daya tarik utama dari kereta wisata Agrowisata Sondokoro ini melewati terowongan, melihat bagian belakang pabrik yang dipenuhi lori-lori pengangkut tebu, juga melintasi bekas rumah singgah Sri Mangkunagara yang sudah tidak difungsikan sebagai rumah dinas pejabat pabrik lagi. Asyik, bukan? 🙂

Perjalanan panjang ini belum ada akhir. Entah mau dibawa ke mana nasib PG Colomadu yang terbengkalai, belum ada yang berani memastikan. Mungkinkah PG Tasikmadu akan menemui happily ever after, atau sebaliknya. Tak ada yang tahu bagaimana takdir mereka berdua. Barang tua itu masih menunggu keadilan. Barang tua itu selalu menunggu semangat muda untuk terus menyemangati kerentaannya.

“Pabrik iki openana. Nadyan ora nyugihi nanging nguripi.” – KGPAA Mangkunagara IV

Advertisements

24 Comments Add yours

  1. Serasa baca sejarah mas hahahhaha.
    Aku sampe sekarang masih penasaran, dari mana mas dapat info sedetail itu hahhhaha. Gek janga-jangan mas guru sejarah *kaburrrr

    Like

    1. Hanya penyuka sejarah aja yang dituangkan ke tulisan guna membantu yang ngaku amnesia dan gagap sejarah Indonesia hihihi. Kalau pelajarannya membosankan tolong ingatkan dan japri pak guru lewat wasapp ya. #baladagurukekinian 😛

      Like

  2. saya gak suka gula nanti diabetes #loh #korbaniklan

    Budy | Travelling Addict
    Blogger abal-abal
    http://www.travellingaddict.com

    Like

    1. Yakin nggak suka dengan gula tebu? Yakin kalo gula jagung lebih menyehatkan seperti tipuan iklan di tipi? Hahaha.

      Like

  3. yogisaputro says:

    SIngkatnya, PG Tasikmadu dan Colomadu adalah bisnis dinasti. Kesuksesan bisnis mengikuti kesuksesan pemerintahan. Kedua pabrik tersebut adalah saksi bagaimana gula menjadi tulang punggung perekonomian.

    Ngomong sisi bisnis, yang saya sayangkan adalah ketiadaan usaha PTPN untuk revitalisasi aset produksi. Masih doyan saja pakai mesin berumur seabad. Akibatnya produksi tidak efisien. Laba tebu jadi tak semanis rasanya. Harusnya belajar dari para KGPAA Mangkunagara yang maju pandangannya.

    Liked by 1 person

    1. Waktu masuk ke dalam pabrik juga heran kenapa mereka masih menggunakan mesin giling tahun 1926 itu. Memang sih kualitas bajanya nggak rapuh, tapi kerjanya selamban umurnya hehehe. Sementara itu di Tiongkok sudah berani bikin alat yang lebih canggih agar produksi gula bisa dimaksimalkan dalam peniraan sehingga bisa mengekspor ke Indonesia! Yah meski kualitas nggak sebagus gula lokal hasil produksi PG di Indonesia. Entah akan dibawa ke mana jalan PG Tasikmadu jika kondisi kerja mereka tetap seperti itu terus. 🙂

      Liked by 1 person

  4. Gara says:

    Mungkin kalau permintaan gula kembali seperti tahun-tahun di masa lalu itu, dan produksi pabrik-pabrik gula kita bisa dimodernisasi dan diefisienkan, kejayaan Indonesia sebagai penghasil gula bisa kita capai lagi (setelah sebelumnya penghasil rempah, yang ini juga susah kembali). Tapi di satu sisi kita memang agak “terlena” dengan apa-apa yang dibuat pemerintah kolonial ya, makanya perkembangannya agak ketinggalan zaman. Sudah begitu agak susah buat mengadopsi sesuatu yang baru sejalan dengan yang lama. Kalau sudah ketemu pabrik gula baru, umumnya yang lama-lama ini ditinggalkan, huhu.
    Gedungnya bagus… sepertinya dalam perjalanan ke (atau dari?) bandara dulu saya sempat lewat satu di antara dua pabrik gula ini. Cuma tak ingat yang mana, haha.

    Liked by 1 person

    1. Dari atau perjalanan ke bandara akan melewati kompleks PG Colomadu yang sudah tidak aktif. Cerobongnya masih mencolok dilihat dari jalan raya. 🙂 Bener Gar, bangsa kita terlalu terlena dengan apa-apa yang dibangun oleh kolonial. Tanpa si kolonial, Indonesia nggak akan pernah punya jalur rel kereta api dari ujung barat sampai ujung timur Jawa, dari Aceh sampai ke Lampung. Mo bikin penambahan jalur kereta api ya cuma rumpik, baru belakangan ini aja menghidupkan kembali beberapa jalur mati yang sempat dimatikan pas zaman orba dan gencar-gencarnya ama proyek MRT. Lah ke mana aja selama ini? Hehehe.

      Liked by 1 person

    2. Gara says:

      Hoo, ternyata Colomadu… sip Mas… iya mudah-mudahan inovasi baru deh minimal ya, bisa lahir, sehingga Indonesia punya sesuatu yang bisa dibanggakan hasil karya sendiri.

      Liked by 1 person

  5. Gamis Qirani says:

    salam kenal kak, review-nya keren banget sangat detail sekali

    Like

    1. Terima kasih, mbak Gamis. semoga bermanfaat 🙂

      Like

  6. Fauzi says:

    wahhhh bangunan pabriknya seperti udah lama banget ya,.. tapi tetep bagus….

    Like

    1. Bangunan masih dirawat dengan baik sebagian. Sisa yang tidak dihuni masih dalam keadaan setengah terabaikan di kompleks PG Tasikmadu maupun PG Colomadu. Kekunoan yang sebetulnya sangat sangat cantik jika dilihat dari sudut pandang penyuka sejarah. 🙂

      Like

  7. Duuh kalau perusahaan-perusahaan peninggalan jaman dulu itu sayang kalau terbengkalai karena kaya akan histori.

    Like

    1. Mudah-mudahan pengelola pabrik yang baru tidak terlena dengan kekinian yang kelak bisa mengubah apa yang telah diperjuangkan dan dipertahankan oleh para pendahulunya. 🙂

      Like

  8. Aji Sukma says:

    Detail bgtttt cari tau info & sejarahnya… Keren mas 🙂

    Like

    1. Matur nuwun, mas Aji. 🙂
      Sejarah para pemimpin Praja Mangkunegaran masih kurang diangkat dan dikenalkan ke publik, maka dari itu ingin menyebarkan cerita sejarah mereka agar banyak yang nggak tahu jadi tahu. 🙂

      Like

  9. angker ga ya? hahahaha ga ada hubungannya komennya

    Like

    1. Angker atau nggaknya bangunan tua itu tergantung tingkat kesensitifan masing-masing indera tiap pengunjung. Untuk membuktikannya bisa cek pake “sensitif”. 😛

      Liked by 1 person

    2. njirrr…test pack gitu ya? tapi pas kamu ke sana gimana sensitifnya?

      Liked by 1 person

    3. Aman aman donk karena sudah akrab sama mereka *bakar menyan* 😛

      Liked by 1 person

    4. Aku sebenarnya penasaran dengan mereka2, ya minimal tau kalau mereka hadir di sekitar tanpa harus menunjukan rupanya hihihi

      Like

    5. Ya suk tak ajak masuk bangunan-bangunan tua di Solo yes. Di sini masih banyak rumah kosong milik keraton yang mudah dirasakan. #dibahas 😀

      Liked by 1 person

  10. suparmin says:

    Membaca sejarah pasang surut perusahaan ternyata tergantung pada manajemen pengelolanya peralatan bisa mengikuti perkembangan teknologi sejak jaman kerajaan sampai republik yg hampir seabat
    Semoga tetap jaya dan berjaya utk memenuhi bangsa indonesia tercinta

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s