Candi-Candi dan Pertirtaan di Cepogo – Boyolali

Suatu hari saya membaca sebuah novel yang mengangkat kisah kerajaan kuno berdasarkan legenda rakyat yang diwarnai perebutan kekuasaan dua kerajaan diberi bumbu percintaan. Dikisahkan ada sebuah kerajaan yang memiliki wilayah dari kaki Gunung Merapi hingga Pantai laut Selatan yang bernama Prambanan. Penguasanya dikenal dengan nama Prabu Baka Geni yang memiliki putri cantik dan pemberani, Roro Jonggrang.

Sedangkan tetangganya, Kerajaan Pengging memiliki wilayah tidak seluas Prambanan, mulai dari kaki Gunung Merbabu ke utara sampai Rawa Pening. Prabu Damar Maya dari Pengging memiliki putra bernama Bandung Bondowoso yang dijodohkan dengan putri dari Prambanan dengan harapan kedua kerajaan bisa bersatu dan menjadi lebih kuat. Saat hendak mempersunting, sang pangeran diperdaya dengan muslihat oleh calon istrinya sendiri. Pada akhirnya pernikahan keduanya tidak pernah terjadi dan kedua kerajaan tidak pernah bersatu. Ingat dengan legenda ini kan?

Tentu novel percintaan yang diangkat dari cerita rakyat sudah banyak ditambahkan bumbu agar menarik dibaca. Tidak dijelaskan angka tahun sejarah apalagi nama tokoh yang sebenarnya. Dari bacaan ringan itu saya jadi tahu dan menaruh rasa penasaran dengan Kerajaan Pengging ( Kuno ) di wilayah Boyolali kini yang benar berkembang di era yang sama dengan Dinasti Sanjaya. Ada yang menyebutkan bahwa Pengging didirikan oleh Prabu Aji Pamasa dari Kediri sekitar tahun 979 M. Namun pernyataan itu dibantah karena Kediri baru berdiri pada abad ke-11. Saat Islam mulai masuk, nama Pengging kembali muncul pada masa akhir kekuasaan Majapahit, di mana muncul tokoh bernama Ki Ageng Pengging yang kelak berperan besar menurunkan Dinasti Pajang yang didirikan oleh Hadiwijaya atau Jaka Tingkir.

Candi-candi Hindu yang tersebar di lereng Gunung Merapi yang masuk dalam wilayah Kabupaten Boyolali menguatkan teori bahwa pernah ada peradaban di sana. Tempat pemujaan dewa dan pertirtaan yang telah dipugar diperkirakan memiliki umur yang sama dengan candi yang pernah dibangun pada masa Mataram Hindu sekitar abad ke-8 sampai ke-9. Ditambah penemuan-penemuan batu candi dan arca sejak masa Hindia Belanda hingga sekarang. Bahkan pencipta motif Batik Indonesia asal Solo, Go Tik Swan pernah memboyong beberapa arca yang tidak sengaja ditemukan saat beliau singgah di Boyolali. Selain itu koleksi beberapa arca dan bagian dari candi yang ditemukan di desa-desa yang masuk administrasi Boyolali bisa dilihat di Rumah Arca Boyolali yang terletak di Taman Hutan Kota Sonokridanggo.

Candi Lawang
Candi Lawang di Cepogo

Sejauh ini nama Candi Lawang yang berlokasi di Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo sudah diketahui oleh beberapa pengunjung yang tertarik dengan wisata candi di Jawa Tengah. Meski sering bermunculan cerita selalu nyasar ketika hendak menuju lokasi. Sebenarnya cara menuju ke sana cukup mudah, hanya perlu mengarahkan kendaraan dari Boyolali menuju Selo. Sebelum Pasar Cepogo ambil belokan kiri ke arah Pesanggrahan Pracimohardjo. Kemudian bertanyalah kepada penduduk setempat di mana letak Candi Lawang. Malu bertanya sesat di jalan lho!  😉

Ditemukan satu candi induk dan empat candi perwara atau candi pendamping di kompleks ini. Candi induknya utuh mulai dari batur, kaki candi dan pintu, namun tanpa atap. Lalu ada sebuah yoni (tanpa lingga) yang mengeluarkan rembesan air dari lubang yoninya. Menurut ahlinya, dari langgam bagian bawah candi bisa diperkirakan bahwa candi ini dibangun antara tahun 750 sampai 800 M.

Sedangkan candi-candi perwara di kompleks Candi Lawang hanya menyisakan atap candi saja sehingga sampai sekarang belum dilanjutkan pemugarannya dan tumpukan batunya dibiarkan dalam kelompoknya masing-masing. Melihat satu pintu candi induk di sana bisa diambil kesimpulan kenapa candi ini disebut Candi Lawang yang dalam bahasa Jawa lawang berarti pintu. Belum diberlakukan tiket masuk resmi, pengunjung hanya mengisi buku hadir yang disodorkan oleh penjaga dan membayar donasi sukarela. Mungkin itu sebabnya kali kedua saya ke sana, kompleks ini terlihat lumayan ramai saat akhir pekan. Dimeriahkan oleh pasangan muda-mudi yang tengah kasmaran.

Minimnya papan petunjuk menuju candi-candi di Cepogo menjadi salah satu alasan minimnya kunjungan wisatawan ke sana. Untungnya penduduk setempat ramah dan tak segan membantu mengarahkan pengunjung yang nyasar mencari lokasi Candi Sari. Candi yang satu ini letaknya tidak terlalu jauh dari Candi Lawang, masih di dalam wilayah Desa Gedangan. Agar tidak nyasar dan buang banyak waktu ada baiknya tetap andalkan GPS atau Gunakan Penduduk Setempat, okay? 😉

Keunikan dari Candi Sari adalah pohon beringin yang rimbun berdiri di belakang candi induknya. Apalagi letak candinya di sebuah gundukan yang posisinya lebih tinggi dari jalan. Dengan latar belakang Gunung Merapi dari kejauhan membuat tempat ini sering digunakan sebagai salah satu spot foto pre-wed. Sialnya saya belum banyak mengabadikan pemandangan yang apik itu eh pohonnya keburu tumbang pada akhir bulan Maret 2016 lalu. Terakhir ke sana kondisi batu candi yang berserakan menjadi tambah berantakan karena tertimpa batang pohon berumur puluhan tahun yang rubuh akibat diterjang badai.

Pada dasarnya Candi Sari memang belum tersusun rapi seperti Candi Lawang, hanya terdapat dasar candi tanpa tangga dan dinding. Arca Durga, Ganesha dan Agastya yang pernah ditemukan di sana menjadi dasar bahwa candi ini merupakan candi Hindu. Yang bisa dilihat sekarang adalah kemuncak berbentuk lingga semu ditemani arca Nandi, sapi kendaraan Dewa Shiva dan lingga berukuran tidak terlalu besar serta bagian candi yang belum jelas letaknya.

Situs Pertirtaan Cabean Kunti
Situs Pertirtaan Cabean Kunti

Masih di Kecamatan Cepogo, persisnya di Desa Cabean Kunti yang bisa diakses dari Pasar Cepogo memiliki sumber mata air yang berjumlah tujuh. Nama resmi yang disematkan oleh BPCB Jawa Tengah adalah Pertirtaan Cabean Kunti, warga sekitar fasih menyebutnya Sendang Pitu. Kenyataannya hanya ada lima buah mata air di sana yang sebagian diberi dinding batu andesit seperti candi, sisanya berupa kubangan di bawah pohon tanpa ada penampung dan pembatas. Adapun yang sudah diberi nama oleh warga sebagai Sendang Sidotopo, Sendang Lerep dan Sendang Kunti.

Dari kondisi yang belum sempurna itu tak heran beredar sebuah cerita rakyat yang terdengar mirip kisah Roro Jonggrang. Kolam berjumlah tujuh buah sengaja dibangun oleh Jaka Badung sebagai syarat untuk meminang seorang gadis bernama Kunti. Saat pembangunan kolam yang dilakukan Jaka Badung dibantu makhluk gaib hampir selesai, Kunti berbuat curang dengan cara meminta bantuan para wanita untuk membunyikan bunyi tabuhan. Sontak menyebabkan makhluk gaib buru-buru melarikan diri mengira matahari sudah terbit. Dari situlah Jaka Badung mengutuk Kunti dan membiarkan kolam yang belum selesai itu digunakan oleh warga.

Ada juga yang mengatakan sesungguhnya pertirtaan ini dibangun oleh Dyah Wawa, raja terakhir Kerajaan Medang (Mataram Kuno) yang berkuasa sekitar tahun 928 M. Relief binatang yang diangkat dari cerita Tantri (Jataka dan Avadana) yang masih terlihat jelas di dinding salah satu kolam memang menandakan bahwa situs ini berlatar belakang agama Buddha. Memang sejarah selalu terasa kabur jika tidak disertai dengan prasasti maupun babad yang pernah menyebutkannya. Yang jelas mata air di situs ini sangat melimpah, bening dan sangat menyegarkan saat disiramkan ke muka.

Dua candi dan sebuah situs pertirtaan bukan cabe-cabean di Cepogo, Boyolali ini bisa pakai banget dikunjungi saat hendak menuju Selo – Ketep Pass atau rute sebaliknya. Tak usah ragu untuk menyambanginya dan tak usah malu bertanya ke warga setempat jika insting mengatakan nyasar. Jangan tunda-menunda lagi, mumpung benda cagar budaya berumur ratusan tahun ini masih bisa dilihat lebih dekat, dipelajari dan diajak selfie #ehh. Cheers!

Advertisements

41 Comments Add yours

  1. winnymarlina says:

    aw halim cakep sekaliiii candinyaaa… eh samaan kita lg nulis Candi D;

    Like

    1. Loh iya, sehati ya kitah hahaha. Tapi kamu nulis candi yang udah ramai dikunjungi banyak orang. Winni mesti sempetin ke Boyolali kalau mlipir Jateng lagi. 😉

      Like

    2. winnymarlina says:

      harus ke boyolali ini terus culik dirimu jd guidenya haha

      Like

  2. aqied says:

    Nah kuwi maksudku wingi, sendang pitu

    Like

    1. Seger banget airnya, meski masih heran kenapa disebut “pitu” padahal cuma ada “lima” hehehe

      Like

    2. aqied says:

      Mungkin seperti candi sewu yang udah gak nyampe sewu. Hehehe

      Liked by 1 person

  3. Maturnuwun mas halim, besok lagi kalo ke merapi/merbabu sekalian mampir kesini deh hehehe 😂

    Like

    1. Candi Sari punya view cakep kalau pas langit cerah sehingga puncak Gunung Merapi terlihat sangat jelas. Yuk mampir. 🙂

      Like

  4. ifadilah says:

    merinding.
    apa kuntilanak itu diambil dari legenda ini (bernama kunti)? hehe

    Like

    1. Hahaha kuntilanak asal namanya dari Pontianak. Kalau Kunti yang di Cepogo ini mungkin dikutuk jadi kembang kantil #mulaingaco 😛

      Like

  5. sulis says:

    Cepogo..! Dulu wilayah ini dipke KKN tmn deketku pas kuliah..katanya alamnya cantik bnget. Blm pernah maen, eh..KKN dah kelar ☺

    Like

    1. Brarti ada alasan untuk kembali ke Cepogo, Boyolali lagi nih hehehe. Udara di sana sudah cenderung dingin, masih banyak pohon rimbun, penduduknya juga ramah, bikin betah kan? 🙂

      Like

  6. ali shodiqin says:

    wahhh pengen berkunjung ke situ rasanya, sepertinya bagus tempatnya, alamnya juga cantik banget tuh

    Like

  7. wahhh cerita tentang candi yang menarik.
    harus kesana nih saya.

    Like

    1. Jika suka dengan percandian, candi-candi di Cepogo ini menambah wawasan baru mengenai peradaban di sana. Selain peradaban Mataram Kuno di Sleman – DIY, ternyata Boyolali di Jawa Tengah pun punya candi-candi yang nggak kalah menarik. 🙂

      Like

  8. Masuk kesini htmnya brp maz?

    Like

    1. Belum ada tiket resmi dari pihak setempat, jadi perlakuannya sama seperti masuk ke beberapa candi di Jawa Tengah, cukup isi buku tamu dan beri donasi sukarela. 🙂

      Like

  9. Avant Garde says:

    aku malu belum ke sini mas wkwkwkwk 😀

    Liked by 1 person

    1. Apahhh?? Apa kata duniaaa… >.<
      Padahal deket dari Ambarawa, padahal ngaku besar di Boyolali 😛

      Liked by 1 person

  10. Avant Garde says:

    hahaha… kan orang tuaku campur2 mas

    Like

  11. weh. pohonnya tumbang kenapa mas? lha menimpa candi2nya terus sampai berserakan gt g ada yg merbaiki po?

    Kok membangun candi ki mesti ono bantuan makhluk gaib yo. kaya candi sewu. tiba2 ada kecurangan wanita yg akan dipinang. haha. selalu ada begitu

    Like

    1. Hahaha karena bubrah atau belum selesai dipugar saat ditemukan Belanda atau petani yang nggak sengaja macul makanya orang zaman dulu suka bikin legenda, folklore, cerita rakyat yang mengisahkan kondisi saat ditemukan sesuai dengan imajinasi pencerita. Jadi zaman dulu pun udah banyak hoax beredar, pantesan masyarakat sekarang demen dikasih hoax-hoax an. 😛

      Pohonnya tumbang kena badai gede lalu bikin beberapa arca mblesek atau setengah terbenam, ada yang pecah juga. Terakhir ke sana masih proses menebang pohon yang tumbang, pihak BPCB belum mengamankan beberapa arca yang tersebar. Semoga sekarang sudah ada penanganan yang serius. 🙂

      Like

  12. wah candinya banyak peninggalan jaman dulu ya, … engga satu lagi… buat wisata edukatif cocok nih…

    Like

    1. Wisata candi di Boyolali ini bisa jadi pembelajaran anak sekolah agar tahu tentang persebaran candi Hindu-Buddha ratusan tahun yang lalu di Jawa Tengah. 🙂

      Like

  13. annosmile says:

    perlu diagendakan kalau mau blusukan jalur ssb ini..
    suwun info candine mas..baru tau aku..
    ngertiku muk pesanggrahan pracimoharjo tok je

    Like

    1. Padahal candi-candine ra adoh seko Pesanggrahan Pracimoharjo lo. 😀
      Deket sana juga ada Susuh Angin ama situs e Pakubuwono X, belum kutulis kalau yang ini, antri sik. 😛

      Like

    2. annosmile says:

      plange sekarang udah ada belum mas?

      Like

    3. Terakhir masih belum jelas, jadi amannya dari Pesanggrahan Pracimoharjo langsung nanya warga di mana letak Candi Lawang atau Candi Sari hehe.

      Like

  14. Gara says:

    Lebih jauh (dan lebih susah) mana dengan kompleks Cetho, Mas? Jika ini tak sejauh (dan semenantang) Cetho, boleh jadi saya ke Solo lagi dalam waktu dekat untuk berkunjung ke sana. Reliefnya bikin penasaran, jika benar Relief Tantri maka ada yang akan menghubungkan Tantri di Sojiwan dengan Tantri di Jago. Rumah arcanya juga bikin bertanya-tanya, kok ya di yoni yang Siwa banget ada relief sangkha yang Wisnu/Buddha banget :haha. Jangan-jangan apa yang ditemukan di Boyolali bisa jadi petunjuk kenapa aliran Siwa yang berjaya di masa Mataram Kuno tiba-tiba berubah jadi aliran Wisnu di masa Wawa, Sindok, dan Airlangga. Sebuah benang merah antara Jateng dan Jatim :)).

    Like

    1. Cihuyyy akhirnya blog Gara aktif lagi, meski jadi fresh pake banget, mulai dari nol artikelnya hehehe. Medannya candi-candi Boyolali nggak sesusah menuju Cetho kok, kendala hanya minim petunjuk padahal candinya masuk kampung desa hehehe. Rumah arca Boyolali isinya menarik, Gar. Mesti sempetin masuk ke sana biar tahu bentuk arca yang menurutku ada sesuatu yang lain dengan yang ada di area Prambanan. Bisa jadi ya dulu Pengging atau kerajaan yang belum dikenal di sana adalah sebuah benang merah antara peradaban di Jawa Tengah dan Timur. 😀

      Liked by 1 person

    2. Gara says:

      Iya Mas, habisnya kalau menunggu selesai perbaikan dalam kondisi seperti ini bakal lama, dan saya sudah nggak sabar lagi karena draft sudah menumpuk. Tapi artikel lama beruntungnya masih ada yang bisa saya selamatkan.
      Wah lebih mudah? Sip nanti kita cari tanggal buat ke Solo lagi :hehe, sudah tahu apa yang mesti dilakukan. Terima kasih buat informasinya ya Mas :hehe.

      Like

  15. dwisusantii says:

    Mas halim juaraa kalau nulis candi-candian sama silsilah sejarah-sejarahan mah :p
    Tiap baca nambah ilmu 🙂 soalnya aku “enol” kalau tentang kaya begini. Wkwk.
    Jadi kapan mas halim prewed ke candi sari?
    *nah kan nyambungnya ke sana*

    Like

    1. Benere masalah candi aku masih jauh dari bloger Yogya yang suka dengan percandian lo hehehe. Masih belajar. 😉
      Ohh mbak Dwi kode mau prewed ke sana ya? Yaw dah suk kukancani biar mbak Dwi dan si masnya nggak nyasar hahaha.

      Like

  16. Jujur, saya baru tahu ada candi di Boyolali 😦

    Like

    1. Boleh disimpulkan Boyolali ada banyak candi yang belum ditemukan mengingat lokasinya berada di kaki Gunung Merapi, sama seperti Klaten, Magelang, Sleman yang juga menyimpan sisa masa kejayaan kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. 🙂

      Liked by 1 person

  17. Kalo baca kisah roro jongrang dan bandung bondowoso ini jadi inget zaman SD dulu, pernah bikin drama teorikal buat perpisahan sekolah

    Like

    1. Om Cumi dapat peran apa di drama teatrikal itu? 😀

      Like

  18. Aji Sukma says:

    Wah, aku baru tau detail2 dr candi2 ini mas. Hahaha 😀

    Like

    1. Setelah baca ini buruan main ke candi-candi di Boyolali yuk. Hehehe.

      Like

  19. Aku pikir yang namnaya candi bentuknya besar dan tinggi dan biasa digunakan buat acara ritual git…

    ternyata da candi yang pendek ya…

    Like

    1. Pembangunan candi-candi sesuai fungsi masing-masing. Di Kabupaten Sleman bisa dilihat perbedaan satu sama lain mulai dari Candi Prambanan sampai Candi Ijo. Kalau di Boyolali sendiri masih banyak yang terpendam di dalam tanah sehingga belum maksimal jika ingin menelaah sambungan benang merahnya. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s