Fenomena Anak Rambut Gimbal

“Tidak ada anak yang terlahir bodoh di dunia ini.”

Kalimat yang pernah saya dengar di suatu tempat itu saya teruskan di sini. Sejatinya semua anak punya kesempatan yang sama untuk menjadi terpelajar dan menjadi orang dewasa kelak. Meski guru atau bahkan orang tuanya sering meragukan kapasitas dan daya tangkapnya. Lupa bahwa mereka punya kemampuan membaca, berhitung dan kreativitas yang tidak sama satu sama lain. Pukulan atau kata-kata kasar pun sengaja atau tak sengaja dilemparkan. Kenakalan seorang anak yang sering disalahartikan. Padahal semua berhak mendapat kasih sayang yang cukup agar kenakalannya tidak melampaui batas.

Pandangan matanya terus menatap lurus ke depan. Tampak kosong. Keceriaan layaknya anak kecil pada umumnya tidak diperlihatkan saat dia duduk di depan orang-orang tak dikenal yang menontonnya seperti halnya melihat barang dagangan. Tujuan utama orang tua dan kepala desanya baik, memperkenalkan sosok anak gimbal, salah satu keunikan di Dataran Tinggi Dieng yang terletak di Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara.

Rambut gimbal anak-anak “terpilih” tidak dibuat dengan sengaja, melainkan faktor tertentu yang hingga kini masih diperdebatkan, fakta ilmiah yang dipaparkan belum ada yang akurat. Yang jelas mereka sudah dimunculkan sebagai salah satu penarik wisatawan di sebuah acara besar yang diadakan rutin setiap tahunnya sejak tahun 2002 bernama Dieng Culture Festival.

Dataran Tinggi Dieng dikenal sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewi saat agama Hindu masuk di Nusantara, khususnya Jawa. Ada sumber mengatakan seorang resi beragama Hindu datang dari India dan membangun candi di sana. Ada pula yang menyebutkan bahwa tempat semedi dan pemujaan Dewa Syiwa di Dieng dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Kalingga pada abad 7 M saat Ratu Sima berkuasa. Yang jelas tempat pemujaan mulai ditinggalkan setelah terjadinya sebuah bencana alam yang mengharuskan mereka bergeser ke arah timur, Gunung Merapi yang menjadi acuan berikutnya pada masa Dinasti Sanjaya dan Syailendra.

Selanjutnya saat pengaruh agama Islam masuk ke Jawa, masyarakat di sana yang masih menganut agama Hindu yang kuat mulai diberi cerita-cerita baru. Pada abad 14 M muncullah legenda tentang Kyai Kolodete, seorang utusan Mataram Kuna yang diperintahkan untuk babat alas di Dieng. Pasangan Kyai Kolodete dan istrinya, Ni Roro Ronce, dikisahkan mendapat wahyu dari Nyi Roro Kidul, penguasa Laut Selatan Jawa yang berkata bahwa akan muncul banyak anak rambut gimbal di sana. ( dikutip dari Kisah Kyai Kolodete dan Rambut Gimbal di Kalangan Masyarakat Dieng Plateau )

Telaga Warga Dieng
Telaga Warga Dieng

Tidak pernah ada atau sudah hilangnya bukti tertulis mengenai sejarah awal membuahkan banyak folklor dan legenda yang diceritakan secara turun-temurun. Sejarah terbentuknya candi dan fenomena alam pun dikaitkan dengan mitos yang sudah beredar di kalangan masyarakat. Seperti kisah anak berambut gimbal, tak ada orang tua yang bisa menolak jika suatu hari anaknya demam tinggi dan keesokan hari rambutnya sudah merekat helai demi helainya menjadi gimbal. Anak-anak berambut gimbal dipercaya sebagai titisan dari Kyai Kolodete yang harus diruwat rambut gimbalnya agar si bocah lepas dari kutukan.

Dari penjelasan Mbah Naryono yang pernah saya dengarkan beberapa tahun lalu bisa disimpulkan bahwa seorang anak berambut gimbal memiliki sebuah permintaan yang harus dituruti oleh orang tuanya agar kenakalannya berkurang dan kutukannya hilang. Sesepuh yang dituakan di kalangan masyarakat Dieng itu juga menambahkan bahwa pertanyaan mengenai permintaan akan terus diulang-ulang setiap pagi oleh orang tuanya. Anehnya jawaban si anak selalu sama. Dan barang yang diminta sudah harus tersedia saat upacara ruwatan berlangsung agar proses pemotongan rambut gimbal berjalan dengan lancar. Nggak bisa membayangkan sekeras apa usaha orang tuanya jika si anak suatu hari nyeletuk minta tas merk Hermes atau mungkin mobil BMW?!

Mbah Naryono Dieng
anak rambut gimbal dan Mbah Naryono (dua dari kiri)

Anak-anak berambut gimbal yang sudah siap diruwat akan dikumpulkan, jelas salah satu pemuda yang terlibat di Dieng Culture Festival siang itu. Diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk bisa menyelenggarakan upacara ruwatan gimbal massal itu. Maka dari itu festival yang dihadiri oleh ribuan wisatawan dari dalam negeri maupun mancanegara diharapkan bisa memberi pemasukan tambahan dan berimbas langsung ke masyarakat setempat. Penginapan bisa dikatakan full-booked jauh hari sebelum acara berlangsung. Akses masuk Dieng pun sering ditutup karena macet berkepanjangan ketika acara berlangsung.

Pihak penyelenggara mengatakan tidak pernah kekurangan anak berambut gimbal agar festival tahunan tetap berlangsung. Bahkan mereka menambahkan sudah membuka semacam lowongan yang menerima anak berambut gimbal dari luar Dieng untuk ikut berpatisipasi di Dieng Culture Festival. Sekali lagi fakta ilmiah fenomena rambut gimbal yang dipaparkan para ahli belum ada yang akurat, ada yang mengatakan akibat faktor genetik, ada juga yang berpendapat bahwa anak berambut gimbal merupakan salah satu akibat anak kekurangan gizi. Tak heran seiring dengan waktu presentase mereka berkurang karena gizi anak-anak sudah tercukupi.

anak rambut gimbal Dieng Wonosobo
keep smile please…

Hingga kini saya masih menyimpan ganjalan di hati, mungkinkah demi kesuksesan sebuah festival ada anak yang sengaja tidak dikeluarkan dan diruwat tahun ini karena disimpan untuk tahun berikutnya? Lalu bagaimana dampak dari lonjakan ribuan penonton yang menghujani festival dengan masing-masing sorot kameranya terhadap psikologis anak-anak yang sedang diupacarakan?

Ahh wajahnya masih tanpa ekspresi. Diam seribu kata. Sudah digendong sana kemari oleh beberapa orang selain ibunya, masih saja belum ada senyum mekar dari bibirnya. Mungkin senyumnya akan merekah setelah beban hidupnya dibuang, kembali makan makanan bergizi dan mendapat kepercayaan dan kasih sayang yang cukup dari lingkungannya. Menunggu masa kanak-kanaknya yang cuma sekali dalam hidupnya dikembalikan untuk dinikmati.

Cheers and peace.

Advertisements

14 Comments Add yours

  1. dwisusantii says:

    “Keceriaan layaknya anak kecil pada umumnya tidak diperlihatkan saat dia duduk di depan orang-orang tak dikenal yang menontonnya seperti halnya melihat barang dagangan”

    Nyezegg kalau baca ini mak jleb banget mas..
    Seperti malah jadi komoditas ya? sedih.
    Siapa juga yang minta dia lahir berambut gimbal? kenapa begitu amat. Tapi temenku juga malah mengangkat ini kadi judul skripsinya dulu..

    Like

    1. Dulu pertama kali lihat anak-anak gimbal di pelataran Kawah Sikidang, lalu kali kedua pas ada Mbah Naryono ini. Rasanya sedih pas lihat tatapan mata kosongnya. Katanya kenakalan mereka juga nakal yang dinilai nggak wajar. Padahal kalau dipikir nalar, mungkin itu nakal wajar anak kecil yang selalu cari perhatian orang tuanya. Kalau orang tuanya sibuk terus kan anak jadi stres sendiri kan? Eh malah panjang gini balesannya 🙂

      Like

  2. winnymarlina says:

    pengen nonton juga tapi takut keramaian

    Like

    1. Kalau malas berdiri di tengah keramaian suatu festival ya nonton tayangan Dieng Culture Festival lewat Youtube aja. Kualitas bagus,GRATIS dan nggak pake antre, Win. 😀

      Like

    2. winnymarlina says:

      Hahahah iya juga ya hihi gokil ah

      Like

  3. Kalau kak Seto tau, kayanya ini masuk dalam exploitasi anak untuk kepentingan ekonomi dech. Bisa kecewa beliau. Bukannya di obati malah menjadi konsumsi publik .

    Like

    1. Antara ruwatan rambut gimbal yang sudah budaya Dieng dan ada kepentingan yang semakin besar di balik itu. Mas Ginting bisa kasih solusi sembari nunggu si Komo lewat? Hehehe

      Like

  4. Yugo says:

    Waini, picture style-nya retro semua haha

    Like

    1. Hahaha. Biar yang sering lihat gambar-gambar indah dan kawan-kawannya nggak bosen kaka 😀

      Like

  5. Citra Rahman says:

    Dulu sempat ngobrol sama ibu yang punya anak gimbal juga. keinginan untuk potong rambut itu datang dari anaknya sendiri. Jadi kapan dia ‘punya keinginan’ itu, segera upacara dilakukan. Jadi nggak bisa dipaksa-paksa atau ditentukan kapan diupacarakan. Tapi ga tau juga sih ya kalau sekarang. Masalah anak dengan tatapan kekgitu, ya wajar lah ya. Namanya juga anak-anak, melihat orang asing pasti merasa asing juga. Apalagi difoto sama kokoh ganteng seperti kamu, koh. Pasti makin salting dianya. Hahahaha

    Liked by 1 person

    1. Hahaha makasih loh dibilang ganteng padahal kita aja belum pernah ketemuan, kak Cicit 😀
      Tulisan ini bukan untuk mencela kok, agar pembaca merenung aja dan membaca dari sudut lain yang tidak mengatakan bahwa itu selalu baik. 😉

      Like

    2. Citra Rahman says:

      Iya. Aku juga ga bilang kalau tulisanmu ini untuk mencela kok. Hanya saja agak kontradiktif dengan isi tulisannya dengan apa yang aku lihat di foto-fotonya. Hehe… Peace Koh Lim… :-* (y)

      Like

  6. Menarik mas. hehe. sedikit ada kajian. Ruwatan sudah ada sejak sebemum DCF diperkenalkan. dan ketika datang KKN UGM, DCF dibuat. Begitu pula desa wisata yg berdiri di sana, inisiatifnya dari KKN UGM.
    Jadi semacam memang pro dan kontra. Kasus sosial dan keunikan obyek (manusia) dipertontonkan. Tapi ini bukan diada2kan/ budaya yg dibuat2 utk mendatangkan uang. Contohnya karena orang itu punya keunikan, misal rambut gimbal, terus dipajang, terus datang uang. Tapi ini tradisi yang turun temurun, dan itu ingin diperkenalkan, diselenggarakan hanya setiap tahun, ada momennya, datanglah uang. Semoga ga salah komentar. wkwk.
    Tapi emang ketika kita menjual obyek berupa penderitaan sosial selalu mengundang pro dan kontra sih.

    Suka sama artikelmu. hehe. aku pun masih penasaran. Kok g habis2 ya rambut gimbal. Sengaja dibuat gimbal, faktor genetik, atau itu tadi, misal ada 10 orang, tahun ini dikeluarkan 2 orang saja. haha

    Like

    1. Bener anak gimbal itu keunikan dan daya tarik Dieng selain situs candi-candinya. Tulisan ini dibuat buakn untuk mencela kok tapi agar pembaca merenung dan nggak bosen baca yang bagus-bagus terus tentang anak gimbal hehehe. Kadang kasian ama si anak yang akan diruwat juga meski di sisi lain setahun sekali desa-desa di sana diuntungkan karena lonjakan wisatawan yang begitu dahsyat. 😉

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s