Klaster-Klaster Baru SANGIRAN

Temuan demi temuan fosil manusia dan hewan purba yang telah dilakukan oleh para arkeolog sejak akhir abad ke-19 di Sangiran membuahkan situs purbakala yang luasnya mencapai 56 kilometer persegi di dua kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Sragen yang meliputi Kalijambe, Gemolong, dan Plupuh serta Kecamatan Gondangrejo yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar.

Sejauh ini masih banyak wisatawan dari luar kota yang mengetahui bahwa Museum Manusia Purba Sangiran hanya berpusat di Klaster Krikilan, Kalijambe, Sragen saja. Padahal masih ada empat klaster baru yang sudah diresmikan oleh Wakil Presiden RI waktu itu, Boediono pada akhir tahun 2014 lalu. Masing-masing klaster mempunyai koleksi dan tema yang membedakan satu dengan yang lainnya.

Klaster Krikilan masih berfungsi sebagai visitor center yang membeberkan temuan-temuan fosil yang ditemukan di Sangiran. Baca lebih lengkap tentang Museum Manusia Purba Krikilan Sangiran di sini. Sedangkan klaster-klaster baru yang terletak tidak berjauhan dengan Klaster Krikilan di Kalijambe memberikan informasi dan memamerkan koleksi yang berhubungan dengan evolusi, lapisan tanah di Sangiran dan penentu penemuan penting di sana hingga sejarah para peneliti yang terlibat dalam pengalian sejak akhir abad ke-19 sampai sekarang.

Teori evolusi manusia dipaparkan secara gamblang di Klaster Bukuran yang berlokasi di Desa Bukuran, Kalijambe, Sragen, tidak terlalu jauh dengan Museum Krikilan. Dari pertigaan jalan antara Museum Krikilan dan Gardu Pandang ambil jalan lurus dan ikuti petunjuk yang sudah tersedia. Ada sumber yang mengatakan bahwa di situs inilah ditemukan sisa-sisa manusia purba Homo Erectus di Sangiran. Penjabaran sejarah tentang evolusi tidak dituliskan dengan sangat serius ala arkeologi di Klaster Bukuran. Boleh dibilang museum ini sengaja diciptakan ramah terhadap daya tangkap anak-anak mulai sekolah dasar hingga jenjang yang lebih tinggi.

Karikatur-karikatur lucu sengaja digambar di lembar penjelasan tentang kehidupan di muka bumi sampai apa arti kloning. Di ruang depan dipajang pohon kehidupan yang mengategorikan primata, mamalia, reptilia dan mahkluk hidup lain di bumi. Lalu koleksi replika tengkorak-tengkorak manusia purba pun ditata seperti taman bermain sehingga memudahkan anak-anak melihatnya dari dekat.

Sesekali saya melihat mereka bertanya kepada orang tuanya tentang istilah dalam ilmu pengetahuan yang kurang mereka pahami. Kerennya lagi semua koleksi ditempeli barcode! Yang punya gawai canggih bisa langsung scan barcode di sana tanpa susah-susah membaca tulisan kecil yang tertulis di papan. Membaca dari gadget atau gawai membuat mata anak kekinian lebih nyaman tho? Hehehe.

Klaster Bukuran
koleksi replika tengkorak manusia purba
Homo Erectus di Klaster Bukuran
Homo Erectus di Klaster Bukuran

Di Klaster Krikilan pengunjung diperlihatkan patung lilin replika Homo Erectus berjenis kelamin laki-laki dan Homo Floresiensis berjenis kelamin perempuan. Sedangkan di Klaster Bukuran ada sebuah ruang khusus di mana telah diletakkan sepasang patung lilin Homo Erectus berbeda jenis kelamin yang masing-masing diletakkan di dalam tabung kaca. Situs Bukuran sendiri merupakan lokasi ditemukannya tengkorak manusia purba dengan volume otak yang menunjukkan ciri-ciri Homo Erectus dan diperkirakan hidup pada periode Pleistosen Tengah.

Beranjak ke Klaster Dayu yang lokasinya berjarak lebih dekat jika ditempuh dari Kota Solo sebelum menuju Museum Manusia Purba Klaster Krikilan. Petunjuk arahnya bisa diintip saat berada di sekitar Pasar Kalioso. Klaster Dayu, Kecamatan Gondangrejo yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar menyimpan informasi penting terkait dengan lapisan-lapisan tanah purba di Sangiran. Lapisan-lapisan tanah purba sebenarnya diawali dari yang terbawah lalu naik ke atas. Tapi saya dan pengunjung yang lain tentunya akan mengawalinya dengan belajar di Anjungan Notopuro karena berjarak paling dekat dengan pintu masuk museum.

Notopuro merupakan lapisan tanah purba termuda atau kata lainnya Sangiran 250.000 tahun yang lalu. Oleh ahli geologi disebutkan lapisan ini dulunya merupakan hamparan padang rumput yang dialiri sungai. Bunga-bungaan dan semak khas stepa banyak dijumpai di sini. Terjadinya perubahan iklim disertai letusan gunung berapi selama beberapa dekade membuat Sangiran mengering dan menyisakan ketebalan tanah sekitar 47 meter yang terbentuk dari endapan berbagai material gunung berapi yang menimbun fosil flora dan fauna.

Anjungan Kabuh yang terletak di bawahnya merupakan lapisan yang terbentuk 730.000-250.000 tahun yang lalu. Lapisan ini terkandung banyak fosil termasuk penemuan Homo Erectus. Selanjutnya Anjungan Grenzbank yang terbentuk 900.000-730.000 tahun yang lalu di mana ahli geologi membayangkannya sebagai rawa dan hutan bakau yang dihuni buaya purba. Suhu bumi yang memanas kala itu mengakibatkan air laut naik dan rawa-rawa di Sangiran menjadi laut dangkal.

fosil hewan purba di Klaster Dayu
koleksi fosil hewan purba di Klaster Dayu

Usai melewati anjungan-anjungan, pengunjung akan diarahkan untuk masuk ke dalam ruang diorama dan galeri pameran Museum Dayu yang di dalamnya terdapat penjelasan lebih dalam mengenai lapisan tanah. Dijabarkan apa itu zaman Pleistosen Tengah yang terjadi 900.000-730.000 tahun lalu hingga Pleistosen Bawah. Beberapa LCD tersimpan memori yang berisi sejarah geologi Sangiran, juga film dokumenter ahli geologi turut membantu pengunjung yang ingin tahu lebih banyak tentang lapisan tanah purba. Semua bisa diakses lewat sentuhan alias touch screen.

Seru kan? Ini baru dua klaster baru di Situs Purbakala Sangiran, belum dua yang lainnya. Jadi kalau ke Sangiran jangan lupa singgah keempat museum di sana. 😉

Advertisements

25 Comments Add yours

  1. Seruu…. kereeenn… apalah apalah pokoknya. Seandainya d makassar ada museun purbakala kayak gini….

    Like

    1. Makassar punya museum Fort Rotterdam yang asyik juga, Fauzi. Museum benteng terbaik di Indonesia versiku dan warga Makassar kudu bangga dengan itu hehehe.
      Kalau ada kesempatan mlipir ke Solo dan sekitarnya bolehlah sempetin ke Sangiran. 🙂

      Liked by 1 person

    2. Udah pernah ke makassar kak lim?

      Like

    3. Sudah pernah satu kali, tahun 2009 lalu. Dari Jayapura naik Pelni KM Sinabung sampai Makassar. 😀 Makassar berikutnya tunggu tanggal mainnya hihihi.

      Liked by 1 person

  2. Travelling Addict says:

    Wah baru tau di Sangiran ada museum purbakala sekece ini… *noted*

    Like

    1. Museum-museum ini pemekaran dari museum kubah atau Museum Krikilan yang telah dibangun terlebih dahulu. Klaster baru juga menempati lahan kosong yang berdekatan dengan lokasi penggalian fosil. 🙂

      Like

  3. Sedihnya,padahal dekat dari Jogja tapi aku belum pernah ke Sangiran 😦 😦

    Like

    1. Eng ing eng, buruan ke Sangiran sebelum jarak semakin jauh dan memisahkanmu dengan Yogya #halah. Gowes keliling Sangiran koyoe seru juga, Sitam 😀 😀

      Like

  4. lhoh, kukira museumnya itu cuma ada satu. ya sangiran itu. ternyata ada banyak klasternya toh. dan punya tema beda toh. serius aku belum pernah ke sangiran dan empat museum lainnya. Pengen kesana kalau diajak om Halim. Haha

    Like

    1. Ayokkk InsanWisata bikin trip intip Homeland of Java Man gitu di Sangiran. Ntar daku support jadi petunjuk jalan aja hahaha. Seru kok belajar di klaster-klaster Sangiran, nggak mboseni. 😉

      Like

  5. dwisusantii says:

    Masih suka heran sama mas halim yang bisa nulis kaya begini *entahlah aku takjub 😀

    Semoga semakin banyak yang baca, semakin banyak juga yang tertarik mengunjungi museum *tunjuk diri sendiri*
    Dannn jangan cuma museumin barang barang peninggalan mantan aja :’D

    Like

    1. Tersandung eh tersanjung dakuh… Museum itu asyik kok asalkan nggak baperan pas lihat koleksi museum yang mirip kenangan bareng mantan hahaha.

      Kalo masalah barang pemberian mantan yang nggak diminta balik, langsung diloakin aja, mayan dapet duit tambahan. Mantan rese digadaikan di onlineshop jg bisa kok, sis #yakale 😛

      Like

    2. dwisusantii says:

      *ketawa gulings-gulings* ini tadi habis baca balesan komen apa lagi mode syurhat?
      maaf banget malah jadi melenceng dari pembahasan museum.
      aku kalau ke museum kadang cuma bisa baca tulisan yang ada di sekitar “benda” yang terkadang tulisannya sudah nggak jelas dibaca, atau aku mulai kesulitan mengartikan kode-kode, entahlah 😮

      Liked by 1 person

  6. Aku ke sini masih yang di klaster Sangiran. Untuk Sebuah museum yang letaknya relatif terpencil dari lokasi wisata yang keren-keren di Jawa Tengah, siapapun yang terlibat dalam mengelola museum ini pantas mendapat acungan jempol. Museum nya keren banget

    Liked by 1 person

    1. Sekarang Museum Sangiran yang pertama dibangun sering diistilahkan dengan Klaster Krikilan untuk membedakannya dengan klaster-klaster lain di Sangiran. 🙂
      Betul banget, Sragen ini kabupaten yang jauh dari potensi wisata di mata wisatawan, padahal Sragen punya buanyak situs dan tempat menarik. Saatnya Up and Up obyek-obyek di sana biar banyak orang tahu tentang Sragen, Jawa Tengah. 😀

      Like

  7. ternyata museumnya keren!!
    sayangnya pas abis lebaran kemaren dari Pati ke Solo via Purwodadi udah kesorean pas melintasi sragen, sekitar pukul 5 sore.. Jadi gak bisa mampir deh..

    Like

    1. Setelah ditangani Kemendikbud, museum jadi lebih berwarna dan ramah terhadap anak-anak sekolah. Yuk sempetin lihat Situs Sangiran yang sudah masuk dalam World Heritage Site UNESCO. 🙂

      Like

  8. Avant Garde says:

    BARU TAU MAS ADA EMPAT MUSEUM !! #CAPSLOCK JEBOL

    Like

    1. Padahal sudah buka semua sejak tahun lalu, tapi belum banyak yang ngeh dan share. Mari diramaikan dan ajak anak biar tahu sejarah nenek moyangnya hehehe.

      Liked by 1 person

  9. Promo Dieng says:

    Saya malah belum pernah ke Museum Sangiran kak Halim. Dulu waktu SMP pelajaran sejarah hafal semua sama Homo sapien dan kawan-kawan tapi pas pelajaran sejarah tidak ada kunjungan piknik kesini..hehe

    Like

    1. Kunjungan ke museum yang kadang disepelekan oleh kebanyakan sekolah. Kadang mereka lupa bahwa sejarah lebih mudah dipahami jika melihat dan belajar di tempatnya langsung. 🙂

      Like

  10. Hastira says:

    woow keren sekali, aku mau deh ke sana bsia belajar tenatng perkembangan amnusia dari jadul sampai sekarang ya

    Like

    1. Sejarah nenek moyang yang mengawali peradaban besar Nusantara di pesisir sungai. 😀

      Like

  11. ini beda yang di solo kah mas? aku dulu pas sd pernah yang di sangiran tapi kayaknya solo apa ya? uda lama banget ga ke sana
    yang di sini kok lebih canggih ya, penataannya juga lebih rapi

    Like

    1. Sangiran lokasinya di Kabupaten Sragen. Mungkin dulu lewat daerah Nusukan lalu ambil jalan arah Purwodadi, bukan? Jalan Solo-Purwodadi termasuk akses tercepat menuju Sangiran, saya juga selalu lewat sana. Maka dari itu banyak yang salah kaprah Sangiran masuk Solo, padahal sudah di kabupaten lain, Karanganyar dan Sragen hehehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s