Telusur Jejak Thomas Karsten di Semarang

Siapa Thomas Karsten? Namanya masih terdengar asing bagi kebanyakan orang. Bukan nama seorang pahlawan nasional apalagi nama pejabat penting yang banyak dikoar-koarkan media. Padahal jasanya bagi perencanaan permukiman di beberapa kota pada masa Hindia Belanda patut diacungi jempol. Sebut saja Kwarasan di Magelang, Jalan Ijen di Malang, Museum Sonobudoyo di Yogyakarta, kemudian Pasar Gede Hardjonagoro di Solo, Balai Kota Padang dan banyak bangunan lain yang tersebar di Indonesia.

Jiwa Sraya Semarang
bekas kantor Nederlandsch-Indische Levensverzekering en Lijfrente Maatshappij

Taman Srigunting yang diapit oleh Spiegel Bar & Bistro dan Gereja Blenduk menjadi titik awal dari kegiatan bertajuk “Jejak Thomas Karsten #2” yang diadakan oleh Laku Lampah ( nama baru dari Blusukan Solo ) dan Lopen Semarang. Di minggu pagi yang cerah itu, saya dan kawan yang lain diajak melihat lebih dekat hasil karya dari seorang Thomas Karsten yang tersebar di Kota Semarang.

Setelah semua terkumpul, Yogi dari Lopen Semarang selaku pemandu kegiatan langsung menjelaskan dengan singkat siapa Thomas Karsten dan bercerita mengenai bangunan megah Jiwasraya yang terletak persis di seberang Gereja Blenduk atau GPIB Immanuel Semarang. Dikisahkan bahwa gedung Asuransi Jiwasraya Semarang dulu merupakan perusahaan asuransi milik Belanda yang bernama Nederlandsch-Indische Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij.

Gedung tersebut merupakan gedung pertama di kawasan Kota Lama yang menggunakan pondasi beton, bukan tumpukan bata tebal seperti gedung perkantoran yang lain di sana. Rancangan Thomas Karsten yang selesai dibangun tahun 1916 ini juga merupakan bangunan yang memiliki lift pengangkut manusia pertama kali di Hindia Belanda! Wow!

Terlahir dengan nama Herman Thomas Karsten di Amsterdam, Belanda pada tanggal 22 April 1884. Ayahnya seorang profesor filsafat di Universitas Amsterdam, sedangkan ibunya berasal dari Jawa Tengah. Setelah menamatkan pendidikan Technische Hoogeschool – Sekolah Tinggi Teknik di Delft, Belanda, beliau sempat terlibat dalam proyek pembangunan rumah rakyat di Amsterdam dan tahun 1914 diundang oleh Henri Maclaine-Port ke Semarang untuk membantu biro miliknya. Seiring dengan waktu, Karsten memiliki biro arsitek sendiri dan dipercaya beberapa pihak untuk merancang pemukiman dan membangunnya.

Thomas Karsten dikenal sebagai seorang arsitek yang idealis. Berusaha memberikan kesempatan yang sama pada semua penduduk tanpa melihat latar belakang etnis dan golongan. Tak heran desain bangunan yang dirancangnya tidak terlalu Eropa, selalu ada unsur daerahnya. Kecintaannya terhadap Hindia Belanda semakin menguat setelah beliau menikah dengan istrinya yang bernama Soembinah Mangunredjo. Soembinah sendiri adalah cucu dari seorang mantan tentara Swiss yang menetap di Wonosobo ( dari pihak ibu ), anak dari Mangunredjo, seorang lurah di Dieng. Perkawinan yang berlangsung pada tahun 1921 memberikan mereka empat orang anak, yang masing-masing bernama Regina, Simon, Joris dan Barta.

Tidak berkesempatan masuk ke dalam kantor Jiwasraya karena hari libur membuat kami bergerak menuju tujuan selanjutnya, yakni Pasar Johar. Dalam perjalanan menuju Pasar Johar kami melewati sebuah bekas pabrik air kemasan yang masih menyisakan tulisan PABERIK HYGEIA. Bangunan berpondasi beton ini bukan karya Karsten, namun punya sejarah yang membanggakan Semarang. Pabrik yang didirikan oleh Henrik Freerk Tillema pada tahun 1901 tersebut memproduksi air mineral dan minuman bersoda merk Hygeia.

Boleh dibilang beliau perintis pabrik air dalam kemasan di Hindia Belanda. Di awal tahun berdirinya Pabrik Hygeia, beliau sukses menjual sebanyak 500.000 botol Hygeia di tahun yang sama. Kesuksesannya berimbas dengan diangkatnya menjadi Het Gemeenteraad atau anggota Dewan KotaPraja Semarang di tahun 1910, bahkan namanya sempat diabadikan menjadi nama sebuah taman, Tillema Plein di komplek Candi Baru ( kini tamannya diganti nama jadi Taman Gajahmungkur ). Lengkapnya bisa baca di sini.

Dugderan Johar
menembus Dugderan Johar
Dugderan Johar
suasana Dugderan Johar

Selain bertemu dan belajar sejarah Pabrik Hygeia di tengah perjalanan menuju Pasar Johar, saya dan kawan yang lain juga diajak menerobos kerumunan dari pasar rakyat tahunan Dugderan yang diadakan warga Semarang untuk menyambut bulan Ramadan. Tradisi Dugderan yang penamaannya diambil dari pengabungan suara bedug “dug…dug…” dan suara meriam “der…der…” biasanya diramaikan oleh arak-arakan Warag Ngendog. Sayang festivalnya sudah berlalu sejak lama karena menyesuaikan kepentingan tertentu. Saat melintas di sana hanya tersisa lapak-lapak pedagang kaki lima yang menjual celengan tanah liat, peralatan rumah tangga dan lain-lain mirip perayaan Sekaten di Solo.

Pasar Johar
lubang angin di Pasar Johar

Tak lama kemudian kami tiba di pelataran Pasar Johar yang terkenal sebagai pasar termodern, terindah dan terbesar di masanya, masterpiece seorang Thomas Karsten. Pasar yang dibangun tahun 1936 ini kombinasi dan penyempurnaan dari pasar-pasar yang pernah dirancang Karsten sebelumnya, jelas Yogi. Sirkulasi udara, peletakan dan pembagian los-los pedagang kebutuhan pokok daging dan sayur serta lapak sandang ikut dipikirkan oleh beliau. Rancangan yang dibuat tahun 1933 baru disetujui oleh pemerintah Belanda setelah melalui perdebatan demi perdebatan, salah satunya adalah berhasil mengganti rencana pondasi kayu sesuai permintaan awal Belanda menjadi bangunan berpondasi beton.

Hasilnya adalah sebuah bangunan berlantai dua dengan empat blok yang disatukan oleh masing-masing gang lebar, pilar-pilar beton dengan penampang berbentuk segi delapan yang disebut konstruksi jamur. Oh iya, tulang betonnya telah tertanam pipa air di dalam guna meresap air hujan. Atapnya juga berbeton datar dengan tambahan satu tingkat untuk lubang angin. Kurang keren apalagi coba? Ironisnya saya baru menyadari kemegahan Pasar Johar saat pasar ini dalam kondisi kosong melompong tanpa satu pedagang di dalamnya.

Perlu diketahui bahwa Pasar Johar mengalami kebakaran hebat pada tanggal 9 Mei 2015 lalu. Bencana yang meluluhkan seluruh kios dan barang para pedagang pasar yang menggantungkan hidupnya dari Pasar Johar. Disusul kebakaran Pasar Yaik Baru yang terletak di sisi barat Pasar Johar pada bulan Februari 2016. Hingga kini belum ada tindakan nyata tentang pembangunan kembali Pasar Johar. Baru ada usaha perataan tanah di bekas Pasar Yaik Baru yang menurut kabar akan dikembalikan menjadi wujud alun-alun Kota Semarang yang sempat hilang selama puluhan tahun. Miris memang jika mendengar nasib belum berujung dari Pasar Johar yang memiliki ciri tiang cendawan Thomas Karsten yang kemudian ditiru oleh arsitek Pasar Cinde di Palembang, Sumatera Selatan.

Pasar Johar Semarang
Pasar Johar pasca kebakaran

Usai mendengar dan melihat bukti kejayaan Pasar Johar, perjalanan dilanjutkan menuju ke sebuah gedung kesenian yang terletak di Jalan Dr. Cipto no 31, Semarang. Jarak tempuhnya sekitar lima belas menit menggunakan angkota dari Johar. Gedung kesenian yang digagas oleh burgemeester Semarang Ir de Jonghe, Bupati Semarang RM Purbaningrat dan GPH Kusumayuda (putera Sri Susuhunan Paku Buwono X) dari Surakarta tersebut diberi nama Sobokartti yang mempunyai arti “tempat berkarya”.

Sobokartti
Sobokartti – bangunan depan
Pak Tjahjono dan Yogi LopenSMG
Pak Tjahjono dan Yogi LopenSMG

Sesampainya di sana, kami langsung disambut oleh Pak Tjahjono Rahardjo selaku Ketua Perkumpulan Sobokartti. Beliau bercerita cukup banyak sejarah volkstheater atau gedung pertunjukan rancangan Thomas Karsten yang selesai dibangun tahun 1930 ini. Bangunan Sobokartti memadukan konsep pertunjukan Jawa yang biasa digelar di tempat lapang pendopo dengan konsep teater ala barat. Terciptalah ruang lapang di tengah dengan pencahayaan yang cukup dan sirkulasi udara yang lancar. Ditambahkan tempat duduk khusus untuk tamu kehormatan di dekat pintu masuk. Lalu lantai dua difungsikan sebagai tempat duduk penonton mirip balkon pertunjukan opera di Eropa. Juga terdapat sebuah lubang untuk proyektor yang anak tangganya bisa diakses dari ruang loket.

Tidak hanya interior dan eksterior bangunan Sobokartti saja yang diceritakan oleh Pak Tjahjono, tapi juga kisah persahabatan antara pemimpin Praja Mangkunegaran, KGPAA Mangkunagara VII dan Thomas Karsten. Yang satu adalah seorang priyayi terpandang dari Surakarta, lalu satunya lagi adalah arsitek pintar yang rancangannya disukai pemerintah Hindia Belanda meski sesekali pandangan idealis dan ideologinya merepotkan mereka. Kisah itu baru dijabarkan Pak Tjahjono di tujuan kami selanjutnya, sebuah bekas kediaman saudagar Tionghoa di kawasan Candi Baru.

Dari Sobokartti kami beranjak menuju Taman Diponegoro yang terletak di Gajahmungkur menggunakan bus Trans Semarang. Nama taman yang terletak di Jalan Diponegoro sengaja disematkan pemerintah kota untuk mengganti nama lamanya di masa Hindia Belanda, Raads Plein. Taman memanjang dari utara ke selatan dengan plaza di tengah-tengahnya ini merupakan salah satu proyek Thomas Karsten tahun 1916.

Ketika permukiman di Semarang bagian utara dirasa terlalu padat, pemerintah Kotapraja Semarang melakukan pemekaran dan mengembangkan pemukiman baru yang dibangun di bagian selatan dengan kontur tanah berbukit yang diberi nama Candi Baru. Permukiman itu juga dilengkapi dengan fasilitas kesehatan, Elizabeth Ziekenhuis (kini Rumah Sakit Elizabeth) dan Ooglijdershospital atau Rumah Sakit Mata “William Both”, tempat beribadah warga Eropa, hingga fasilitas pendidikan seperti Van Deventer School.

Mulai berbelok masuk ke pemukiman, saya baru menyadari bahwa Thomas Karsten tidak hanya membangun satu taman Raadsplein di jalan besar saja, melainkan ada taman kecil lain yang dibangun di dalam komplek. Beliau menerapkan konsep garden city dengan penyesuaian kontur perbukitan dan cuaca tropis Hindia Belanda. Pohon-pohon rindang sengaja ditanam di pinggir jalan yang memberi kesejukan beberapa hunian berumur seratus tahun dengan gaya arsitektur art deco.

Sinar matahari sudah berada di atas ubun kepala saat kami tiba di Taman Gajahmungkur atau Tillema Plein. Kaki kembali diseret menuju titik akhir kegiatan, sebuah rumah tua yang kini sudah berfungsi menjadi sebuah kafe. Sebelum itu saya ingin memberitahu keanehan saat masuk komplek Candi Baru. Bukan kesan horor kok meski ada bangunan-bangunan tak berpenghuni yang mengundang hati minta disamperin sih hehehe. Aneh yang pertama, saat melangkahkan kaki masuk ke gang-gang perumahan tidak ada lagi suara bising kendaraan yang lalu lalang dari jalan utama padahal baru berjalan sekitar dua meter!

Aneh yang kedua, di tengah-tengah pemukiman Candi Baru terdapat sebuah komplek makam tentara Belanda yang sebagian besar tewas di medan perang Agresi Militer II yang disebut Ereveld Candi. Terdengar nggak biasa, tapi jangan berharap bisa melangkah masuk apalagi mengambil gambar secara sembarang di Ereveld Candi. Perlu izin khusus dari perwakilan di negara Belanda terlebih dahulu untuk memasuki satu dari dua komplek ereveld yang ada di Semarang tersebut. Kami tidak dibawa masuk ke sana, hanya bisa melihat kejauhan dari Taman Gajahmungkur saja. Mungkin serupa dengan Ereveld Kalibanteng di daerah Kalibanteng yang pernah saya masuki dua tahun silam.

Thio Thiam Tjong - Good Fellas
bekas kediaman Thio Thiam Tjong

Sesampainya di halaman depan GoodFellas yang sudah menjadi salah satu tempat makan hits di Semarang, saya cuma bisa melongo. Tidak pernah menyangka bahwa rumah tua ini merupakan salah satu rancangan Thomas Karsten juga. Bekas kediaman Thio Thiam Tjong ini sempat dikabarkan kosong tak berpenghuni selama bertahun-tahun hingga akhirnya difungsikan sebagai restoran, kafe sekaligus bar yang tentu saja bebas dimasuki siapa saja yang tertarik makan dan minum di sana.

Thio Thiam Tjong yang dilahirkan pada tahun 1896 adalah anak dari Thio Siong Liong, pemilik perusahaan ekspor impor ternama di Semarang. Setelah lulus dari sekolah teknik di Delft, Amsterdam, beliau kembali ke Jawa dan mewarisi perusahaan milik ayahnya. Dikenal sebagai sosok yang peduli dengan masalah sosial dan pendidikan, bahkan menjadi anggota aktif di Chung Hwa Hui, perkumpulan Tionghoa di Hindia Belanda yang didirikan tahun 1928. Lengkapnya bisa baca di sini.

Masuk ke dalam bangunan GoodFellas saya semakin sumringah melihat kemegahan arsitektur khas Thomas Karsten. Lubang ventilasi yang dilengkapi dengan ukiran, langitan tinggi, kaca patri yang indah merupakan interior bangunan yang bikin betah dilihat lama-lama. Nggak ada bosennya mengamati detailnya di sela mendengarkan Pak Tjahjono dan Yogi berbagi cerita lebih banyak tentang Sobokartti dan Thomas Karsten.

Penggalan-penggalan cerita yang disampaikan oleh Pak Tjahjono di GoodFellas menarik untuk dijabarkan. Sayang jika keterkaitan Thomas Karsten dengan KGPAA Mangkunagara VII tidak saya ceritakan secara mendalam. Maka dari itu akan saya tulis di artikel terpisah. Cheers and peace! 😉

Advertisements

27 Comments Add yours

  1. Prihatin sama pasar johar itu…. 😦

    Like

    1. Pasar yang terletak persis di depan bekas alun-alun Semarang dengan posisi menghadap Masjid Agung ini masih tegar dan sabar menunggu nasibnya menjadi lebih baik. 🙂

      Liked by 1 person

  2. awansan says:

    terima kasih artikelnya, sarat pengetahuan 😆

    btw saya baru tahu kalo thomas karsten ternyata merancang bnyk bangunan, selama saya ini hanya tahu pasar johar saja, dan masih selalu terkagum pada desain + fungsionalitas pasar itu,, sayang pasar johar sekarang mangkrak karena kebakaran 😐

    Like

    1. Jasa konsultan perencanaan dan rancangan Thomas Karsten disukai oleh pemerintah dan saudagar kaya raya pada masa itu. Gaya arsitektur yang tidak terlalu Eropa dengan mengutamakan sirkulasi udara dan memanfaatkan pencahayaan cukup dari negeri tropis menjadi ciri khas Karsten. 🙂

      Liked by 1 person

  3. Kereeeen mas! Selalu suka dengan jalan2 ke tempat yang banyak bangunan tua, berasa naik mesin waktu.. anyway,baca tentang thomas karsten jadi inget charles wolf schoemaker yang merancang banyak bangunan tua yang ga kalah cantik di daerah bandung..thanks sharingnya, pas ke semarang bakalan mampir ke tempat2 ini! Btw ga ada niat bikin walking tour ya? Huahaha

    Like

    1. Ahh iya Schoemaker banyak menorehkan karya besarnya di Bandung. Paling suka desainnya Bioskop Majestic yang masih berdiri gagah di kawasan Braga. 🙂
      Mungkin dulu Schoemaker dan Karsten saingan atau malah sahabat dekat ya? Hahaha. Sayangnya Karsten nggak pernah diangkat jadi rektor Technische Hoogeschool te Bandoeng ( ITB ) karena alasan politik tertentu, beda dengan nasib Schoemaker yang pernah jadi rektor tahun 1934. 🙂

      Like

  4. Aku orang Semarang, malah belum ke sana-sana mas.
    Kasihan yaaaaa hehehehe

    Like

    1. Pastinya sudah berulang kali melintasi Kota Lama to? Ayo sempetin keluar rumah kalo mudik Semarang hehehe. Yang rada bikin nyesel baru sekali masuk ke dalam Pasar Johar sebelum bencana kebakaran terjadi, jadi nggak banyak mengabadikan aktivitas di sana.

      Like

    2. Berkali-kali mas hehehe
      Itu dia mas, cerita sejarah yang saya baca selalu kurang menarik, bahkan nggak ada siai menariknya hehehe. Kenapa Mas Halim nggak bikin buku deh ya? Hehehe
      Biar belajar sejarah lebih menarik tuh 😀
      Aku yang lama tinggal di Semarang aja, cuman sedikit tau tentang sejarah Semarang mas. Ya itu tadi kendalanya, cerita sejarah yang selama ini ada enggak semenarik yang Mas Halim bikin hehehe

      Liked by 1 person

    3. Asekkk ada yang nodong bikin buku. Terima kasih, Bayu. Masih rencana dan digodog matang dulu impian tersebut. Semoga bisa cepat kelar proyek bikin buku. Amin. 😀

      Like

  5. dwisusantii says:

    Makam tentara Belandanya kaya di film film ya mas?
    Beberapa bulan terakhir ini aku kaya punya angan angan ke Semarang. Terus ini malah nonton potomu, ceritamu ttg karyanya Thomas Karsten bangunannya, tamannya waww semua yaa… suka macam beginii 🙂

    Like

    1. Pas masuk ke ereveld di Kalibanteng, rumputnya hijau mulus macam karpet, beda kondisi ama taman makam pahlawan di sini hehehe. Banyak bangunan Karsten yang memukau, di Yogya ada bagian di dalam keraton yang merupakan rancangan Karsten juga loh. Kalau Solo sendiri punya Pasar Gede yang paling menarik perhatian. 🙂

      Like

  6. Travelling Addict says:

    Oh ini di Semarang ya? Saya baru tau, thanks infonya maz

    Like

    1. Wisata sejarah selain Kota Lama Semarang yang sudah terkenal, masih ada bangunan bersejarah yang menarik ditelusuri. Same same, Budi 🙂

      Like

  7. Aku sedih Pasar Johar terbakar. Pasar Johar itu wujud arsitektur tropis, tetap sejuk dan nyaman tanpa AC berkat sistem sirkulasi udaranya.

    Ternyata Semarang punya banyak potensi wisata heritage ya, tinggal dikemas dan dipromosikan 🙂

    Like

    1. Setelah kios-kios di dalam pasar lenyap dimakan api baru kelihatan betapa tingginya puluhan tiang penyangga masterpiece Karsten tersebut. Semoga nasibnya bisa serupa dengan Pasar Gede di Solo, nggak dihancurkan tapi dikembalikan seperti bentuk awal. 🙂

      Like

  8. evylia hardy says:

    Kabarnya ke depannya pasar jo akan dikelola pihak swasta. Cuma bisa wait n see gimana jadinya nanti ….

    Like

    1. Mengembalikan lahan pedagang pasar yang sudah mengantungkan hidup selama puluhan tahun di Pasar Johar itu sudah baik sekali. Benar, hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. 🙂

      Like

  9. Arsitek pasar johar ini kok kaya mirip dengan yang ada di palembang ya? sekilas pernah lihat gambar dimana gitu.
    Kuburan Thomas Karsten apakah di semarang juga? btw itu pemakamannya sangat rapi dan terawat dengan rumput yang terlihat hijau

    Like

    1. Betul banget Pasar Cinde di Palembang merupakans alah satu karya Karsten, Hendi. Pasar Johar sendiri memadukan pilar-pilar yang sukses dibuatnya di Palembang dan arsitektur pasar lainnya sehingga membuat Pasar Johar sebagai yang paling perfect di antara karya Karsten lainnya. Thomas Karsten meninggal di Ciamis, oh iya kematiannya sengaja belum kuceritain. Akan kutulis di episode selanjutnya hehehe.

      Ereveld merupakan komplek kuburan tentara Belanda yang tewas saat perang di Hindia Belanda. Biaya perawatan dari Belanda dan cuma dikibarkan bendera bangsa Belanda di halaman tersebut. 😉

      Liked by 1 person

  10. pinombeler (Roys Gateng) says:

    halo mas Halim gimana kabar? sepertinya syehat terus nih tetep traveling terus 😀
    Thomas Karsten msih ada hubungan sodarakah dengan Matthew Karsten? 😀
    Just kidding mas halim, it’s my way to say hello 🙂

    Like

    1. Holaaaa, Roy! Roy yang di Probolinggo ya? Masih di sana atau sudah merantau? Hehehe. Yuklah main ke Solo, kutunggu 🙂

      Like

  11. lost in science says:

    keren keren…Thomas Karsten ini sepertinya saingannya Arsitek Schoemaker yah yang karyanya bertebaran di Bandung.. Sayang banget banyak orang-orang Belanda baik yang mati di kamp interniran Jepang..

    Like

  12. omnduut says:

    Pasar yang tiangnya sama kayak pasar Cinde Palembang, riwayatmu kini….

    Like

    1. Masih belum direstorasi sampai detik ini, ntah mau dibongkar total atau tetap mempertahankan pilar masterpiece Thomas Karsten tersebut.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s