Intip Kuliner Khas Cirebon

Dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari yang ditulis oleh Pangeran Aria Cirebon tahun 1720, asal mula penamaan Cirebon berasal dari “sarumban” yang mengalami perubahan pengucapan menjadi “Caruban”, “Carbon”, “Cerbon” dan terakhir seperti dikenal sekarang, Cirebon.

Muncul pula anggapan saat para wali yang menganggap Carbon terletak di tengah-tengah Pulau Jawa dan menyebutnya sebagai Pusat Jagat. Lalu muncullah sebutan Negeri Gede yang kemudian disingkat Garage dan menjadi Grage.

Ada pun versi lain yang mengatakan penamaannya diawali saat Pangeran Cakrabuwana ( pendiri Kesultanan Cirebon ) melakukan pembuatan terasi udang dan mengaitkannya dengan penggabungan dua kata, “ci” yang berarti air dan “rebon” udang kecil. ( dikutip dari beberapa sumber )

Lepas dari sejarah penamaannya, selain memiliki bangunan bersejarah baik kesultanan maupun kolonial kota pesisir utara ini memiliki sejarah panjang persebaran agama Islam di Jawa bagian barat yang pernah dilakukan oleh Sunan Gunung Jati. Tak hanya itu saja, Cirebon juga memiliki ragam kuliner yang enak, lezat dan sayang dilewatkan saat berkunjung ke sana.

Pengaruh dari lidah dan cita rasa pendatang dari beragam etnis yang menetap sejak ratusan tahun yang lalu turut serta memberi kekayaan rasa terhadap kuliner yang kini berkembang di kota pesisir Jawa Barat ini.

Are you ready? 😉


Tahu Genjrot
Tahu Genjrot khas Cirebon

Mari mengawali wisata kuliner di Cirebon dengan jajanan bernama Tahu Genjrot. Boleh dibilang Tahu Genjrot yang dipikul penjualnya ada di mana-mana, depan pintu masuk sekolah, sekitar stasiun hingga area obyek wisata tengah Kota Cirebon. Potongan tahu dengan kuah campuran air gula dan cuka yang diberi irisan bawang merah dan cabe rawit ini lumayan bikin megap-megap bagi yang nggak suka makanan pedas.

Keunikannya tentu pada cara penyajian yang diletakkan di piring kecil terbuat dari tanah liat dengan tusuk gigi sebagai alat makannya. Rasa pedas beradu rasa dengan manis masamnya kuah tahu membuat makanan ini digemari dan diburu oleh wisatawan dari luar kota. Meski kudapan khas Cirebon yang satu ini sering dijumpai di beberapa daerah seperti di Jakarta, tak ada salahnya toh cicipi langsung di daerah asalnya. 🙂


Empal Gentong Krucuk yang terletak di Jl. Slamet Riyadi no.5 Cirebon ( sebelah BTN Krucuk ) merupakan salah satu tempat makan yang menawarkan kuliner hits khas Cirebon. Dari Stasiun Prujakan saya hanya perlu naik angkota nomor D6 lalu turun persis di seberangnya. Selanjutnya ditawarkan dua pilihan menu, Empal Gentong atau Empal Asem. Isinya pun bisa pilih daging atau campur (daging dan jerohan seperti usus dan babat) dengan pelengkap nasi atau lontong.

Empal Gentong yang berkuah kekuningan sepintas mirip dengan gulai kambing, bedanya di sini memakai potongan daging sapi yang sudah diolah terlebih dahulu sehingga empuk dan tidak ulet saat digigit. Kemudian diguyur dengan kuah berkaldu santan yang sudah diberi kunyit, lengkuas, daun salam, daun bawang, bawang putih, cengkih dan rempah yang lain. Terakhir diberi irisan kucai untuk penyajiannya. Untuk menambah rasa pedas ditawarkan cabe bubuk, jangan cari saus sambal apalagi irisan cabe yang dihaluskan ya. 🙂

Lain dengan Empal Asem yang berwarna agak bening. Potongan daging dan jerohan sapinya diguyur dengan kuah berbumbu lengkuas, kemiri, ketumbar, bawang putih dan merah. Biasanya diberi tambahan potongan tomat, daun bawang dan belimbing wuluh. Rasa asam yang dikeluarkan sayuran itulah yang menambah kenikmatan Empal Asem khas Cirebon. Harga satu porsinya standar dan tidak mencekik dompet, Rp19.000,- untuk Empal Gentong dan Empal Asem, sedangkan harga sepiring nasi atau lontongnya empat ribu rupiah saja.


Nasi Jamblang Cirebon
Nasi Jamblang – Bu Nur

Kuliner khas Cirebon selanjutnya adalah Nasi Jamblang. Porsi kecil nasi putih yang dijual di warung Nasi Jamblang Bu Nur Jl. Cangkring II no. 45 mengingatkan saya pada nasi bungkus di wedangan atau HIK. Istimewanya Nasi Jamblang dibungkus dengan daun dari pohon jati sehingga meninggalkan bau harum. Ada banyak pilihan lauk pauk yang ditawarkan dan pelanggan bisa mengambil sesuai porsi perutnya masing-masing. Namun saya harap hati-hati dalam memilih lauk jika merasa tidak membawa uang yang cukup. #kode

Nasi bungkusnya dihargai dua ribu rupiah, sedangkan menu yang lain bervariasi harganya. Pepes jamur Rp4.500, semur telor ceplok Rp6.000, sate kerang Rp2.000, sate usus Rp1.500, oseng kedelai hitam ( tauco ) Rp2.500. Sabarrr jangan khilaf… Harga seporsi otak sapi Rp5.000, paru goreng Rp9.000, cumi hitam saus tiram Rp18.000 dan pilihan yang lain. Bayangkan saja kalau khilaf mengambil banyak menu, bisa jadi sekali makan kudu bayar lebih dari lima puluh ribu rupiah. Rentetan harga yang sengaja ditempel di belakang meja saji membantu pelanggan yang membawa duit mepet. Jangan niatnya ngirit makan yang merakyat, tapi malah keciprit. 😛


Warung Kopi Luwak Bang JT
Warung Kopi Bang JT

Warung Bang JT di Jl. Dr Cipto Mangunkusumo no.3 yang saya dan kawan lain kunjungi malam itu diramaikan oleh penikmat kopi. Sayangnya kami malah gagal fokus dengan kopi arabica asal Gayo, Aceh racikan Jerry Chen, warga negara Taiwan yang menetap lama di Cirebon. Beliau lebih akrab dikenal dengan panggilan Bang JT atau Bang Jerry Taiwan. Saya sendiri telat sadar saat selesai santap Nasi Lengko yang dijual di warungnya, padahal nama Bang JT sudah banyak beredar di media online.

Sekilas tentang Nasi Lengko, kuliner mirip nasi pecel ini diberi potongan tahu dan tempe yang dilengkapi irisan mentimun dan taoge. Saus kacang yang disiram di atasnya berbeda dengan sambal pecel Jawa Timuran. Lebih lembut dan tidak terlalu manis. Harganya sekitar Rp9.000,00 saja. Di warung yang lain ditawarkan juga kerupuk pedas, sepiring kerupuk yang diberi saus gula merah dengan campuran irisan cabai.


Nasi Bogana
Nasi Bogana khas Keraton Kacirebonan

Kuliner berikutnya adalah Nasi Bogana yang saya temukan secara tidak sengaja saat berkunjung ke Keraton Kacirebonan. Tampilannya sepintas mirip dengan nasi kuning, tapi bukan. Dikisahkan kuliner ini merupakan resep dari dapur keraton yang dulu hanya dikeluarkan saat jamuan dan upacara tertentu saja. Kabar baiknya kini sudah bisa dinikmati oleh pengunjung dari luar yang tertarik mencicipi kuliner khas keraton di Pawon Bogana, Keraton Kacirebonan.

Pawon Bogana
Pawon Bogana di Keraton Kacirebonan

Nasinya dibumbui aneka rempah terutama kunyit yang membuat warnanya kekuningan. Lauknya berupa potongan daging ayam yang sudah dilumuri bumbu kuning yang gurih karena ada campuran parutan kelapa yang sudah disangrai. Ditambah potongan tempe dan irisan telur menambah kenikmatan kuliner langka ini. Apalagi rumah makannya terletak di pendopo Pancaratna dengan pemandangan halaman depan Keraton Kacirebonan yang asri, syahdu betul. ( Harga perporsi Nasi Bogana Rp18.000 – 25.000,- dengan jam buka mulai siang hingga sore hari. )


Untuk urusan oleh-oleh khas Cirebon bisa mencarinya di Jalan Lemahwungkuk yang lokasinya tak jauh dari Pasar Kanoman. Deretan toko oleh-oleh di sana menawarkan manisan mangga aneka jenis dengan harga mulai dari Rp6.000 untuk yang basah dan Rp12.000,- untuk manisan mangga kering. Sirop Cap Buah Campolay rasa Pisang Susu juga tersedia dengan harga mulai dari dua puluh lima ribu rupiah. Kerupuk melarat, bumbu jamblang yang sudah dikemas, teh kemasan hingga gula batu rasa lemon, semua tersedia di toko pusat oleh-oleh Lemahwungkuk.

Mari lanjut kulineran…


Sate Kalong
lapak Sate Kalong

Saat pertokoan Jalan Lemahwungkuk, Cirebon tutup pada sore hari, jalan yang mulai lenggang dimanfaatkan oleh para penjaja makanan kaki lima berjualan di sana. Mulai didirikan lapak-lapak yang menjual macam jenis makanan, salah satunya adalah warung Sate Kalong.

Tusukan daging kerbau ini awalnya dijual saat malam hari, sebab itulah warga sekitar menyebutnya “kalong” yang hanya keluar malam hari. Zaman sudah berubah, mereka sudah menjualnya mulai sore hari sampai persediaan habis. Daging kerbau yang dipotong kecil-kecil itu dicelupkan ke dalam bumbu berempah sebelum dibakar hingga matang. Yang membuatnya spesial adalah bumbu kacangnya yang diberi oncom, lalu diguyur dengan kuah kaldu.


Mie Koclok Cirebon
gerobak Mie Koclok

Ada yang mengatakan Mie Koclok merupakan singkatan dari Mie Khasnya Orang Cirebon yang Lebih OKey. Baeklah. Pada dasarnya Mie Koclok adalah mie basah yang diberi kaldu ayam yang sudah diberi tepung maizena dan santan kental sehingga kuahnya berwarna putih susu. Dilengkapi daun bawang, taoge, daun kubis, dan irisan telur rebus. Ditambahkan pula suwiran daging ayam dan taburan bawang goreng. Rasa kuahnya ringan, tidak terlalu berat seperti kuah kaldu udang Mie Celor Palembang.

Mie Koclok
Mie Koclok – Jalan pekiringan

Kuliner maknyus Cirebon ini bisa ditemui di Panjunan dekat Masjid Merah yang mulai buka jam 3 sore. Atau menunggu gerobak Mie Koclok lewat di Jalan Pekiringan seperti yang pernah saya lakukan. Kuliner penutup malam di Cirebon ini semacam menang lotere setelah saya gagal makan Mie Koclok Panjunan sebelumnya. 🙂

Rasanya beneran lezat, apalagi dimakan di pinggir jalan dengan kuah kentalnya yang masih mengepul. Kaki lima rasa internasyonel #halahh. Dengan harga Rp11.000,- Mie Koclok cukup mengenyangkan perut dan bikin ketagihan. Slurppp.


Docang Cirebon
Docang “Pak Kumis”

Ketika mencari lokasi warung Docang Pak Kumis lewat bantuan mbah gugel, ditunjukkan lokasi Toko Roti Rubi di Jalan Tentara Pelajar, anehnya pagi itu sudah tidak tampak lagi lapaknya. Ternyata sejak beberapa bulan lalu lapaknya terpaksa dipindah karena Toko Roti Rubi akan direnovasi. Untungnya saya berhasil menemukan lokasinya yang baru. Lapak Docang Pak Kumis yang kini dijalankan oleh istri alm. Pak Kumis tetap buka mulai pagi hingga siang hari di Jalan Tentara Pelajar 41, Cirebon.

Warung Docang Pak Kumis
Warung Docang Pak Kumis di Jl Tentara Pelajar

Kecapan lidah ndeso saya bilang kuliner khas Cirebon ini nendang banget! Menurut cerita baheula, bahan baku Docang merupakan sisa makanan yang disantap para wali. Cuma cerita jadul saja. Kenyataannya bahan baku yang digunakan memang terkesan “buangan”, murah meriah.

Lontong dijajar rapi di atas piring. Diberi pelengkap daun singkong, taoge dan dage atau oncom lalu dibubuhi parutan kelapa dan remasan kerupuk. Terakhir, diguyur kuah kaldu sedikit pedas yang lezat. Jika suka pedas bisa minta tambahan sambal. Harganya cuma 6.000 rupiah!


Note: Buanyakkkk juga ya kuliner khas Cirebon. Bagi saya pribadi, semua makanan di sana cocok di lidah dan nendang. Tentu selera tiap orang berbeda satu sama lain, ada yang mengatakan Empal Gentong si A lebih enak daripada Empal Asem si C. Semua kembali ke lidah masing-masing individu. Rujukan kuliner Cirebon ini dibuat agar wisatawan yang berlibur tidak bingung lagi dengan pilihan kuliner tradisional yang sudah sepantasnya dipertahankan.

Selamat berwisata kuliner di Cirebon! 😉

Advertisements

56 Comments Add yours

  1. Halim, kamu teliti sekali mendokumentasikan jajajan selama di Cirebon. Lah aku kayaknya makan doang banyak. List kulinernya tidak selengkap yang di sini hehehe

    Like

    1. Hahaha karena di Cirebon surga kuliner tradisional jadi kemarin excited banget berburu banyak makanan di sana. Beda niat kalau terlanjur masuk ke daerah yang banyak kuliner bawaan dari tetangganya. 😀

      Like

  2. V Herry says:

    Duh jadi laper *ngences*

    Like

    1. Tahan dulu ya… Jadi pilih kuliner yang mana duluan nih? hahaha

      Like

    2. V Herry says:

      Teaser dulu, tahu gejrot hahaa

      Liked by 1 person

  3. Sebanyak itu baru merasakan Tahu Genjrot saja 😦

    Like

    1. Apahhh?! Tak apa, ada banyak waktu buat kulineran di Cirebon. Kalau gagal lagi ya dicoba lain waktu lagi, dst *macam ikut kuis aja 😛

      Like

  4. yeveye21 says:

    mantap nih informasinya, disertai poto yang bikin ngileer abiss bro

    Like

    1. Mari mari dipilih yang cocok hehehe. Semoga bermanfaat yah.
      Kalau ada tambahan kuliner bisa ditambah infonya.:-)

      Liked by 1 person

  5. Wah! boleh nih jadi reverensi kalo mampir di Cirebon.

    Like

    1. Mungkin ada kuliner lain yang belum masuk daftar di atas. Barangkali aja kelak Aza menemukan kuliner khas Cirebon yang lebih unik dan maknyus 😉

      Liked by 1 person

  6. Baru lihat tahu genjrotnya aja uda bikin perut krucut-krucuk. Apalagi lihat ke bawahnya. Weeerrrrr

    Like

    1. Jangan sampai khilaf lihat sampai bawah daftar kuliner Cirebon-nya trus layarnya dijilatin, Ron. Hahaha

      Like

  7. Avant Garde says:

    perutmu muat banyak banget mas, aku gak sempat icip semua waktu di cirebon hahaha…
    berapa lama disana kemaren ?

    Like

    1. Kalau urusan kuliner tradisional yang enak-enak begini perutku selalu dimuat-muatkan hahaha. Lebih dari dua hari di Cirebon jadi lumayanlah jeda waktu hunting makanan dan waktu untuk ngelonggarin perutnya 😀

      Like

  8. enakkk, beberpaa kuliner yang sudah akrab di telinga kayak tahu genjrot, mie ongklok. yang lain belum merasakanya hehe..

    Like

    1. Mie Koclok untuk Cirebon, kalau Mie Ongklok itu khas Wonosobo hehe. Rasa keduanya beda 🙂
      Asyikk brarti referensi kuliner di atas bisa berguna saat Sandi mlipir ke Cirebon 😀

      Like

    2. Wah beda ya mas. Kalau mas merasakan keduanya udah? Gimana rasanya?

      Like

    3. Saya sudah pernah merasakan keduanya di daerahnya masing-masing. Cuma tulisan Mie Ongklok dan kuliner Wonosobo yang lain belum sempat diposting hehehe.

      Kuah Mie Koclok di Cirebon pakai kaldu ayam yang diberi santan dan tepung maizena agar kental. Sedangkan Mie Ongklok di Wonosobo kuahnya sama kental karena diberi tepung maizena, tapi kaldunya pakai bahan udang dan tanpa santan. Rasanya lebih gurih Mie Ongklok karena udang yang dipakai. 🙂

      Like

    4. Hem…. mantap, jadi pengen merasakan mie ayam hehe. Makasih infonya mas.

      Liked by 1 person

  9. Dan saya baru tahu kalau tahu gejrot dan mie ngklok aslinya dari Cirebon. Padahal sudah sering makan ini :p

    Like

    1. Tahu Genjrot sudah melebarkan sayap sama halnya penjual kerak telor, kuliner asli Betawi yang kini mudah ditemukan di mana-mana 😀
      Oh iya Mie Koclok Cirebon beda dengan Mie Ongklok di Wonosobo, bro 🙂

      Like

  10. Sadam says:

    Kangen empal gentong sama jamblang nya, krucuk krucuk

    Like

    1. Ibukota gak ono sing jualan nasi jamblang enak? Yen gak ono brarti pertanda disuruh piknik lagi ke Cirebon 😛

      Like

    2. Sadam says:

      Gurung nemu bro, haha… eh tp aku ke cirebon makannya di warung2 biasa sih, gk sempet ke tmpt2 hits itu, gk bawa kamera, dan memang kyke hrs balik sana lagi. Merasakan naik becak 5ribu, haha

      Like

    3. Aslii becak di Cirebon murah buka regane. Solo ae minim 10rebu. Jadi kasian dewe yen lihat mereka dibayar segitu mau. Ndang bro, mumpung saiki jarakmu Jkt-Cirebon cedhak hihihi

      Like

    4. Sadam says:

      Ide brilian, hhaaa, sok ah mari lebaran

      Like

  11. Yasir Yafiat says:

    Puasa-puasa baca yang beginian, nikin baper dan laper. Aduh salah besar ini. Mak nyus smuaaaa

    Like

    1. Hahaha sabar yah, semoga tetep stronggg sampe nanti sore. Buka puasa tinggal menghitung (puluhan) menit lagi kok. Monggo dipilih-pilih sambil ngabuburit. 😛

      Like

    2. Yasir Yafiat says:

      Pasti dan harus setrongg. Ya Allah hindarkan hamba dari godaan makan-makanan yang menggiurkan saat puasa. Amiiiin

      Like

  12. Meidi says:

    Nasi Bogaaanaaaa, favorit aku bangeett, duh jadi kangen ke Cirebon.
    Eh tapi kalo ke sini pasti mainnya malah ke Kuningan ke desa wisata sangkanhurip hahahaha lumayan kan main di pemandian air panas sama ke museum linggarjati

    Like

    1. Nasi Bogana khas banget ya, Mei. Makan sambil mikir ini makanan sultan loh, mendadak merasa jadi tamu kehormatan keraton hahaha.

      Ahh kemarin nggak sempat mampir ke Kuningan, padahal sudah ngiler baca dan lihat foto Museum Linggarjati di mbah gugel >.<

      Like

  13. Avant Garde says:

    sip sip mas.. perutmu tahan banting yah, masakan cirebon kan pedes-asin, nah aku tu gak bisa makan pedes soalnya -_-

    Like

  14. dwisusantii says:

    Itu beneran mas kepanjangannya mie koclok kaya gitu? Kok gaul amat 😀
    Aku suka mie…jadi tergodaa tapi timing bacanya salah, adzan masih 2 jam an lagii

    Like

    1. Biar beda ama penamaan Mie Kocok Bandung jd diberi kepanjangan agak gaul haha. Sabar ya, jangan khilaf setelah baca ini 😀

      Like

  15. evylia hardy says:

    Yeayy aku pernah nyicip tahu gejrotnya, enakk bener! Nasi jamblang juga udah, tapi aku lebih suka tahu gejrotnya.
    Trus oleh2nya kerupuk melarat 🙂

    Like

    1. Lengkap sudah bisa mengaku sudah pernah ke Cirebon kalau sempat cicip Tahu Genjrot di sana. 😀 Kalau ada tambahan kuliner khas Cirebon yang belum ditulis di sini boleh lah ditambahkan 🙂

      Like

  16. Kayaknya puas banget ya mas Halim kulineran di CIrebon..
    Cirebon tak cuma Tahu Gejrot n Nasi Jamblang ternyata ya,

    Tulisan mas Halim sukses bikin ngencees.. 😀

    Like

    1. Puas banget kulineran di Cirebon kemarin. Nyaris semua kuliner tradisional di sana sempet dicobain. Yuklah disempetin ke Cirebon sebelum terbang ke Ozi 😀

      Like

  17. lumayan salah, siang2 begini mampir ke tulisan ini apalagi mbahas kuliner khas Cirebon hahaha

    Like

    1. Kuliner Cirebon uenak semua, cocok ama lidah Jawa Tengah hihihi. Kalo mlipir Cirebon boleh banget diluangkan waktu untuk cicip beberapa atau malah semuanya 😉

      Like

  18. Sharon Loh says:

    Wah Empal Gentong aku suka banget!!! Waktu itu cuma pernah coba sekali waktu lagi transit (eaaa, transit) di Cirebon gara2 mau lewat pantura.

    Katanya di Cirebon ada kuliner apa tuh, serabi dimakan pake gorengan tempe. Wkwk. Penasaran rasanya kyk apa. Kalo dibayangin agak aneh gitu.

    Like

    1. Ahaa itu Serabi di Prujakan, semacam surabi di Bandung, uniknya biasa dimakan pakai tempe goreng. Rada sound weird tapi jadi penasaran juga hahaha. Kemarin nggak sempat berburu jajanan tersebut karena waktu sudah mepet. PR kalau balik ke sana lagi atau bolehlah Sharon bantu ulas hahaha.

      Like

  19. Wah tahu gejrot, udah lama ga makan yang satu ini, jd pengen

    Like

    1. Nggak nyesel kulineran di Cirebon sampai perut buncit kekenyangan. 😉

      Like

  20. wisata jambi says:

    jadi ngiler, jadi referensi buat ke cirebon

    Like

    1. Semoga ulasan kuliner Cirebon di atas bisa bermanfaat. 🙂

      Like

  21. journeysn says:

    Saya jadi penasaran banget sama Cirebon.. cuma pernah cicip tahu gejrot, itupun di Jakarta

    Like

    1. Siapkan perut kalau wisata kuliner di Cirebon karena dari pagi sampai malam selalu ada kuliner khas yang bisa dinikmati. Jangan kaget kalau pulang dari sana berat badan naik loh. Like me 😛

      Like

    2. journeysn says:

      Kebetulan lgi pengen naikin berat bdn, ssh banget. Memng ke cirebon kali ya solusinya? Haha

      Liked by 1 person

  22. saya pecinta tahu gejrot, untung sekarang di foodcourt mall di bandung banyak yang jual

    Budy | Travelling Addict
    Blogger abal-abal
    http://www.travellingaddict.com

    Like

    1. Yahh jadi tahu genjrot itu asli Cirebon atau Jabodetabek sih? Hahahaha. Macam Serabi Notosuman yang sudah bukan aseli Solo lagi saking banyaknya cabang maupun non cabang tersebar di luar kota. 😀

      Like

  23. Gara says:

    Wah kuliner Cirebon banyak banget ya Mas. Sepertinya mesti dicicil nih kunjungan ke sana jika ingin mencoba semua. Agak menyayangkan diri sendiri juga padahal Cirebon sangat dekat tapi jarang ke sana, berhubung kadang masih terkendala transportasi, haha *masih malas juga cari rental motor. Beberapa kuliner memang sudah bisa ditemui di Jakarta, tapi saya setuju, pasti lebih otentik, dari segi rasa dan suasana, ketika seseorang mencoba kuliner daerah langsung di daerahnya. Rasa mungkin ada yang sama, tapi pengalaman dan nuansa pasti beda, hehe.

    Like

    1. Langsung tancap naik Cirebon Express jurusan Jakarta-Cirebon , Gar! Hahaha. Kuliner di Cirebon unik karena perpaduan berbagai kultur bangsa yang pernah mendiami kota itu sejak ratusan tahun lalu. Omong-omong kuliner, kuliner Solo juga belom kelar dicoba semuanya loh. 😛

      Liked by 1 person

    2. Gara says:

      Oh iya, belum semua ya Mas. Sip deh nanti ke Solo lagi, haha.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s