Berbagi Aksi Untuk Borobudur

Siapa sih yang nggak kenal Candi Borobudur? Sudah ada banyak data dan tulisan segar tentang monumen Buddha terbesar di dunia yang terletak di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah tersebut. Bangunan monumental peninggalan dinasti Syailendra yang didirikan bertahap mulai tahun 740 M hingga 840 M juga sudah menjadi warisan bangsa Indonesia yang bernilai tinggi. Bahkan UNESCO sudah menobatkan Candi Borobudur sebagai salah satu World Heritage Site atau situs warisan dunia sejak tahun 1991.

Menurut Klokke, arkeolog dari Leiden – Belanda, Borobudur dibangun dalam empat tahapan dengan enam tingkat yang dipahatkan 1460 relief cerita. Mulai dari cerita Karmawibhangga, Lalitavistara Suttra, Jataka ( Jataka Sutra dan Panca Tatra ) fabel yang terdiri dari 500-an relief, lalu Avadana, Gandawyuha ( naskah Buddha aliran Yogacara ), dan Sang Hyang Kamahayanikan, jelas Pak Dwi Pradnyawan, dosen arkeolog UGM di depan peserta talk show bertajuk “Membangun Kebersamaan Dalam Pelestarian Borobudur” Jumat, 27 Mei 2016.

pameran Foto Borobudur di Benteng Vredeburg
pameran Foto Borobudur di Benteng Vredeburg

Talk show yang diadakan di Benteng Vredeburg, Yogyakarta merupakan serangkaian acara untuk memperingati 25 tahun diresmikannya Candi Borobudur sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. Ada pun pemutaran film “Access 360′ World Heritage: Borobodur” malam harinya jam 19.00-21.00 WIB. Sabtu, 28 Mei 2016 diadakan kampanye Aksi Untuk Borobudur mulai pukul 15.00 WIB di Titik Nol KM Yogyakarta. Puncaknya adalah #KelasHeritage yang akan diselenggarakan oleh Yogyakarta Night at The Museum pada hari Minggu 29 Mei 2016 di Candi Borobudur.

Jalur Buddhisme diawali oleh Ashoka dari Dinasti Maurya di India pada abad ke-3 SM dan berlanjut hingga Dinasti Gupta abad ke-6 M. Pun dengan berkembangnya universitas Buddhis di Nalanda, India bagian barat. Dari penjelasan Pak Dwi saya baru tahu bahwa Sumatera dan Jawa merupakan jalur yang dilewati para penyebar agama Buddha dari India maupun Srilanka ( Abhayagiri ) pada abad ke-8 hingga abad ke-10. Apalagi di masa-masa itu muncul kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya di Sumatera, Syailendra dan Medang ( Mataram Kuno ) di Jawa.

gambar Kesariya di India
gambar Kesariya di India

Keduanya dianggap tempat persinggahan yang tepat untuk sastrawan menerjemahkan kitab-kitab dari bahasa Sansekerta ke Jawa Kuno, China dan Jepang. Alasannya jalur laut dari Srilanka menuju Pulau Sumatera lebih mudah dilalui ketimbang melewati jalur sutra di daratan Tiongkok. Dari pengaruh itulah terbukti masyarakat Jawa Kuno memiliki keterikatan dan sudah terhubung jaringan Buddhis yang dibawa oleh mereka. Diperlihatkan gambar Nandangarh di Bihar yang dibangun Dinasti Gupta dan komplek Kesariya yang bentuknya menginspirasi pembangunan Candi Borobudur. Mereka berundak dengan tingkatan yang diberi stupa-stupa Buddha. Bedanya di Kesariya stupa-stupa tidak ditutup relung seperti Borobudur, hanya diletakkan di bilik-bilik saja.

Sesi berikutnya kami diperlihatkan oleh Pak Nahar Cahyandaru, konservator senior dari Balai Konservasi Borobudur kemiripan Bakong Temple di Kamboja dengan Candi Borobudur. Ternyata oh ternyata seorang pangeran bernama Jayawarman II yang kelak menjadi pendiri Kerajaan Khmer di Kamboja pernah diasingkan dan menetap lama di Pulau Jawa. Bentuk Borobudur dianggap menginspirasi pembangunan komplek candi yang salah satunya dikenal dengan nama Angkor Wat yang dibangun abad ke-12 M.

Beliau juga mengungkapkan permasalahan Borobudur yang kini ditakutkan oleh balai konservasi. Setelah Borobudur dianggap sebagai tempat wisata yang mendunia, muncul dilema lonjakan pengunjung yang akan membahayakan hidup batu candi. Mulai dari terkikisnya batu candi yang diinjak puluh ribuan wisatawan setiap harinya. Juga pengadaan fasilitas penunjang demi memuaskan sektor pariwisata yang di sisi lain menghimpit ruang Borobudur sebagai warisan dunia yang perlu dilestarikan.

foto pemugaran di pameran Foto Borobudur
foto pemugaran di pameran Foto Borobudur

Melakukan tindakan pelestarian jangan menggunakan kacamata kuda, tambahnya. Muncul harapan agar beberapa pihak terkait termasuk akademisi, pihak konservasi dan juga pengunjung bisa saling mengisi demi kelangsungan Borobudur agar warisan ini bisa dinikmati anak cucu kelak. Mungkin saja dengan pelestarian dan kepedulian yang mumpuni, candi ini masih berdiri dengan tegak ribuan tahun lagi.

Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi?

Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi?

Beraksi Untuk Borobudur
Beraksi Untuk Borobudur

Sebelum semua terlambat untuk diatasi yuk ikut belajar bareng dan melakukan aksi bersih batu candi di Candi Borobudur pada Hari Minggu, 29 Mei 2016 ( selama kuota masih tersedia ). Keterangan dan cara mendaftar bisa dilihat di gambar di atas. Atau boleh banget melihat Pameran “Wajah dan Cerita Borobudur” yang berlangsung mulai 27 sampai 29 Mei 2016 di Benteng Vrederburg, Yogyakarta. #ForBorobudur we can! 😉


Note: #KelasHeritage tanggal 29 Mei 2016 berlokasi di Candi Borobudur dengan tempat keberangkatan dari Yogyakarta pada pukul 08.00 WIB. Hanya perlu membayar donasi 50.000 rupiah dengan fasilitas bus, tiket masuk Borobudur, makan siang, alat bersih candi, ilmu dan pengalaman.
Cara mendaftar #KelasHeritage kirim Nama_KelasHeritage_jumlahPerson kirim whatsapp ke 08995007066.

Advertisements

25 Comments Add yours

  1. winnymarlina says:

    ini salah satu candi favorite dah

    Liked by 1 person

    1. candi favorit sejuta umat hehehe

      Like

  2. dwisusantii says:

    Aku belum pernah ke borobudur, makanya pingin ikutan yang hari minggu besok :’) aa pingin ikutan

    Like

    1. Padahal Yogya-Magelang deket loh hahaha. Ayok buruan daftar, mbak Dwi. Semoga quota belum penuh 😀

      Like

  3. Seru banget ada acara bersih candi!
    Selalu suka sama cerita2 reliefnya borobudur..tapi ya itu, orang kalo mau selfi suka maksimal kebangetan, sampe naik2 ke stupa2 kecil demi selfie, padahal jelas2 ketulis dilarang naik 😦

    Like

    1. Acara bersih-bersih batu candinya akan dilaksanakan hari minggu besok. Akan ku-update di blog setelah merasakan dan mengalami sendiri proses pembersihan candi dibantu balai konservasi. 🙂

      Iya betul masalah selfie yang semakin marak memang bikin resah. Apalagi kasus foto nggak pakai etika saat perayaan Waisak beberapa tahun lalu yang sempat heboh. Heran banget dengan trend sekarang yang lebih mengutamakan ambil gambar wajah sebesar-besarnya ketimbang obyek keren sebagai latar belakangnya. 😉

      Like

  4. Baktiar says:

    Asyik ya ikut kegiatan-kegiatan kek gini, acara yang bener2 mengajak kita mencintai budaya yang kita miliki tanpa perlu bertanya identitas hanya untuk membedakan

    Like

    1. Betul, seru acara ini. Sekalian memperingati 25 tahun penobatannya sebagai World Heritage Site. Mudah-mudahan semakin meningkat pelestariannya, jangan malah memperburuk 🙂

      Like

  5. mawi wijna says:

    Sampai malam ini aku mikir yg kelakuan pengunjung selfie itu kok belum ketemu solusinya ya? hahaha

    Like

    1. Hak setiap orang yang susah direm keliarannya hahaha. Mungkin harus diwejangi lebih baik beli drone biar foto candinya keliatan semua, nggak usah selfi binyong sampai naik stupa hahaha

      Like

  6. Fajar ro'is says:

    wah kemarin katanya ada acara 5000 lampion ya?…peringatan waisak? 😀
    betul ndak ya ? 😀 hehe

    Like

    1. Kalau itu festival yang di luar wewenang Balai Konservasi, mas Fajar hehehe.
      Barangkali ada pendapat tentang lampion tersebut, besok saya sampaikan kalau ada keluhan terhadap hal tersebut ke Balai Konservasi 🙂

      Like

  7. Hastira says:

    betul , kitalah yang harus memelihara cagar budaya yang sudha mendunia ini

    Like

    1. Kalau bukan kita sebagai warga Indonesia, siapa lagi yang harus memulainya? 🙂
      Kunjungi, lindungi dan lestarikan 😀

      Like

  8. Wahib says:

    Salah satu ciri khas kebanggan negeri, candi borobudur

    Like

    1. Mengutip salam konservasi – kunjungi, lindungi dan lestarikan 🙂

      Like

  9. Sebenarnya pengen banget ikut acara konservasi di Borobudurnya, tapi anak bayik masih nempel kemana-mana. Semoga di lain kesempatan bisa gabung. Saya hari sabtu datang ke Vredeburg, lumayan dapat buku di pamerannya, bisa jadi informasi tambahan.

    Like

    1. Lumayankah sudah sempat mampir ke pameran di Benteng Vredeburg di sela momong bayi hehehe. Next acara konservasi Borobudur kudu sempatin ikut ya, mbak 🙂

      Like

  10. Jadi ingat kejadian memalukan dimarahi petugas candi borobudur 😛

    Like

    1. Wah kejadian apa nih? Jadi kepo hehehe. Semoga nggak terulang lagi 🙂

      Like

  11. Duh, sakjane aku sueneng banget acara-acara kayak gini, 😦

    Like

    1. Acara Aksi Untuk Borobudur wingi diramein ama Mawi master e air terjun Indonesia juga loh. 🙂

      Liked by 1 person

    2. La aku lagi ngerti pas sampean posting Mas :3

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s