Tersihir Sintren Desa Dermaji

Desa berikutnya merupakan sebuah tempat di tengah antah berantah, melewati hutan belantara ujung paling barat Kabupaten Banyumas. Candaan yang sempat dilontarkan oleh Mas Pradna, panitia Juguran Blogger. Ternyata ucapannya bukan asal-asalan. Dari Ajibarang menuju Lumbir, bus sewaan yang kami tumpangi memang melewati hutan belantara yang minim permukiman. Ada pun hanya rumah-rumah pemilik tambang batu kapur yang jaraknya berjauhan satu sama lain.

Sekitar pukul lima sore bus yang kami naiki tiba di persimpangan jalan masuk ke Desa Dermaji, Kecamatan Lumbir. Bus yang hendak melaju di turunan lumayan tajam mendadak ragu, takut dengan kecuraman jalan desa. Akibatnya semua penumpang memutuskan untuk turun dan jalan kaki menuju titik yang sekiranya aman. Langit sudah mulai menggelap. Hampir setengah jam lamanya kaki dipaksa melangkah menuju Balai Desa Dermaji, tempat di mana bus sudah terparkir lengkap dengan pak supir yang masih pucat dan mengucurkan banyak keringat.

Suasana Desa Dermaji sore hari
Suasana Desa Dermaji sore hari

Sampai hari ini saya terus mengingat koaran Mas Ndop yang mengatakan rumah-rumah di Desa Dermaji terbilang memiliki pondasi bangunan besar dan megah saat kami turun dari bus dan jalan kaki jelang maghrib. Anehnya saya juga merasakan aura kemewahan itu. Kelak kami baru menyadarinya setelah melihat suasana desa pagi hari, rumah-rumah di sana sama seperti permukiman desa pada umumnya, kondisi rumah disesuaikan dengan ekonomi. Entahlah, seolah aura yang saya rasakan malam itu merupakan sambutan dari Desa Dermaji. 🙂

Kediaman Pak Bayu Setyo Nugroho yang menjabat sebagai Kepala Desa Dermaji menjadi rumah singgah kami selama satu malam. Setelah merebahkan badan sejenak dan membasuh diri, rombongan diajak menuju Pendopo Darmokusumo di Balai Desa Dermaji. Awalnya saya tidak tahu pertunjukan seni apa yang akan dipertontonkan malam itu. Hanya mengira ada tarian sambutan yang akan dibawakan oleh penari cilik yang sempat saya lihat di ruang ganti di belakang pendopo.

Usai Kepala Desa memberikan sambutan di hadapan tamu undangan dan warga desa, muncullah seorang anak perempuan berjaket merah muda dengan riasan ala kadarnya. Lalu terdengar alunan lagu yang menghanyutkan…

Turun sintren, sintrene widadari
Nemu kembang yun ayunan
Kembange si Jaya Indra
Widadari temurunan

Berulang kali lirik itu dinyanyikan oleh pesinden diiringi tabuhan gamelan. Perlahan-lahan si anak ditutup dengan tutupan mirip kurungan ayam yang sudah diselubungi kain. Akhirnya saya sadar bahwa bocah yang saya lihat tadi adalah penari Sintren! Lagu terus dinyanyikan di depan kurungan itu selama lima belas menitan. Lagu sekaligus mantera pemanggil Dewi Lanjar, katanya.

Sintren - tahap awal
penari Sintren sebelum dikurung

Selagi menunggu kurungan dibuka, perlu diketahui bahwa Sintren merupakan kesenian yang berkembang di pesisir pantai utara Jawa Barat khususnya Cirebon. Ada sumber mengatakan kesenian tersebut bermula dari permainan rakyat di mana istri dan anak perempuan melatih keterampilan menari dan menyanyi selagi menunggu suaminya pulang melaut. Selain itu muncul folklor yang mengisahkan tentang kisah cinta seorang gadis bernama Sulasih dengan Raden Sulandono, putra dari seorang bupati Mataram. Konon kisah cinta mereka tidak mendapat restu. Sulasih pun diperintahkan untuk menjadi penari supaya bisa bertemu dengan Sulandono setiap acara bersih desa.

Lepas dari cerita yang disampaikan turun-temurun, Sintren telah menjadi tradisi yang luhur. Digelar saat nyadran, upacara kelautan, hajatan hingga dianggap sebagai tari pemanggil hujan. Kesenian ini berkembang dan meluas sampai pesisir utara Jawa Tengah seperti Tegal, Brebes, dan daerah yang lain seperti Banyumas. Sintren Reksa Budaya dari Grumbul Karanggedang, Desa Dermaji merupakan salah satu yang melestarikan kesenian Sintren di daerah Banyumas.

Kurungan dibuka perlahan-lahan. Ajaib, anak perempuan itu sudah mengganti pakaian kasualnya dengan kebaya warna merah lengkap dengan selendang untuk menari. Tak lupa digantungkan kacamata hitam untuk menutupi kedua matanya. Pada umumnya mata penari Sintren yang diharuskan masih suci atau perawan itu terpejam, tanda sudah dirasuki oleh roh yang dipanggil lewat mantera.

penonton menari bersama Sintren
penonton menari bersama Sintren

Bocah yang semula tertawa lepas layaknya anak kecil mendadak berubah menjadi pendiam. Hening menunggu alunan lagu yang akan menggerakkan tubuhnya, membebaskannya untuk menari lepas. Dia sudah berubah menjadi Sintren! Gerakan tangannya luwes, melambai seakan-akan mengajak penontonnya mengikuti tariannya.

Mimik mukanya juga datar tanpa ekspresi, tak ada satu pun suara keluar dari mulutnya. Hanya sebuah bisikan sebagai kode untuk meminta sesuatu kepada sinden yang tengah menyanyi. Tak selang lama satu-persatu penonton mulai berani maju dan menari bersama Sintren. Sesekali Sintren menunjukkan kebolehannya dengan goyang khayang seperti yang sering dilakukan oleh seorang penyanyi dangdut.

Saweran berupa uang diberikan dengan cara mengikatnya ke dalam selendang yang dikalungkan Sintren. Selendang yang usai diambil sawerannya dikembalikan kepada si empunya. Bahkan ada penonton yang mencium selendang Sintren seusai menyawer. Harapannya tentu tak jauh dari alasan mendapat balasan rejeki dari langit.

Malam makin larut, Sintren menarik tangan seorang penari yang sudah berpakaian dan diritual sebelumnya di ruang ganti. Penari ini memakai busana laki-laki meski penarinya adalah seorang anak perempuan. Keduanya lantas menari berbarengan dengan gayanya masing-masing. Saya tidak bisa berkata apa-apa saat menyadari bahwa tidak ada keringat membasahi jidat dan pakaian mereka. Mereka juga hafal urutan gerakan tarinya di luar kepala, tahu kapan lagu akan berakhir dan bersiap untuk menutupnya. Yang pasti wajah tanpa ekspresi mereka sukses membuat saya tersihir.

Ada yang menganggap penari Sintren dirasuki sesuatu yang tidak terlihat itu sebagai hiburan pelepas penat saja. Namun ada juga yang berpendapat kesenian ini tak lebih seperti pengamen yang menjual kemolekan penari gadisnya yang masih perawan. Tak jarang ada yang berusaha menghentikan warisan budaya Indonesia tersebut dengan dalih menolak kesakralan yang tak terbantahkan. Setelah menyaksikannya langsung saya pribadi menyayangkan jika kesenian Sintren kelak hilang ditelan zaman. Kesenian ini seharusnya tetap dilestarikan sebagai salah satu keunikan budaya yang tumbuh di Indonesia.

Cheers and peace! 😉

Advertisements

21 Comments Add yours

  1. Sintren ini termasuk tarian sakral nampaknya ya Lim. Apa penari ini syaratnya harus perawan atau boleh dibawakan oleh wanita segala usia?

    Like

    1. Syarat utama penari Sintren haruslah gadis yang masih perawan. Mungkin kalau sudah nggak suci, Dewi Lanjar-nya nggak mau mampir hehehe.

      Like

  2. Pradna says:

    wah… cuma baca aja jadi ikut tersihir Sintren nih

    keren penjelasannya… #worship

    Like

    1. Jangan terSintren lalu menari sendiri di kantor lo mas hehehe. Oh ya daku menunggu info Festival Dermaji dirilis, mas Pradna 🙂

      Like

    2. Pradna says:

      siap…ditunggu aja… tahunnya pokokmen 😀

      Liked by 1 person

  3. Goiq says:

    sayang banget aku ngga bisa ikutan Juguran kali ini… huhuhuh kangen Banyumas banget

    Like

    1. Acaranya kemarin seru dan banyak meninggalkan kesan tak terlupakan. Mudah-mudahan tahun depan dirimu bisa ikut ramein. 😀

      Like

  4. Aku bacanya kok langsung sunyi rasanya..

    Like

    1. Sunyi karena nggak ada yang nemeni di samping? Untung bacanya bukan tengah malam jumat Hehehe

      Like

  5. BaRTZap says:

    Lim ini kalau ditambahi video pasti makin asik deh, jadi kita-kita yang penasaran sama tariannya bisa melihat langsung. Apalagi dengan adanya cerita yang mengatakan jika penari sintren biasanya menari di luar batas kesadarannya. Dan aku termasuk yang penasaran 😀

    Like

    1. Sebenarnya sempat rekam Sintren yang sedang menari, tapi nggak kuposting, sementara hanya jadi koleksi pribadi saja. 😀
      Belum pede juga sih mo posting video hahaha. Ngelesnya sih eman quota kalo upload di youtube, takut jatah internet sebulan langsung ludes dalam sekejap setelah upload video.

      Liked by 1 person

  6. Iyan Pcb says:

    walaupun saya warga desa dermaji, tetapi baru kali ini saya di kasih tau. Asal mu asal sintren loh. Terima kasih mas admin atas informasi yang sudah di berikan.

    Like

    1. Sintren termasuk salah satu kesenian yang harus dilestarikan mengingat sudah berkurangnya perhatian publik terhadap mereka. Semoga dengan tulisan ini semakin membuat Desa Dermaji bangga dengan Tari Sintren-nya yang masih lestari. Terima kasih sudah berkunjung dan salam kenal ya, kak Iyan 🙂

      Like

  7. Sintren dalam aneka wujud tampaknya dimiliki oleh daerah2 Panginyongan ya. Wah menarik ya klo ditarik benang merah..

    Tulisan yg sgt menarik mas Halim.. 😀

    Like

    1. Cirebon sebagai daerah asalnya Sintren sudah jarang ditemui pertunjukannya. Perkembangan zaman turut memberi dampak besar terhadap kesenian yang semula dianggap hiburan ini. Kebumen ada kesenian Sintren juga nggak ya? Bisa nih ikut ditelusuri hehehe.

      Like

  8. Gara says:

    Saya bisa membayangkan bagaimana susunan nada-nada di kidung Sintren itu. Pasti yang harus didengarkan dengan fokus karena kalau salah-salah mendengar sambil pikiran kosong bisa membuat melayang dan kita jadi korban selanjutnya dari kesurupan, hehe. Apalagi kalau gamelan pengiringnya punya nada semangat, cepat, tapi menghanyutkan dengan ritme berulang, lengkap deh. Satu yang paling saya hindari kalau mendengar musik tradisional. Meski kadang penasaran juga, haha.
    Dan, Dewi Lanjar! Salah satu kitab kuno (Kutara Manawa) pernah memberi petunjuk bahwa kata lanjar asalnya dari “wulanjar”, atau, arti dulunya, gadis yang batal menikah meski telah dipertunangkan. Koneksi antara nama lanjar dan legendanya dan keharusan penari sintren ini perawan agaknya memang menarik untuk diselidiki, ya. Tapi bagaimanapun tarian yang hanya ditarikan oleh perawan memang sering muncul dalam budaya Indonesia. Entah ini bawaan dari India atau memang sudah ada asal mulanya dalam budaya asli kita. Saya lebih memilih opsi kedua.

    Maaf kalau komentarnya kepanjangan! Artikel ini sangat menarik.

    Liked by 1 person

    1. Hahaha waktu dengerin musik pengiring di sana kudu konsentrasi jangan sampai terlena lalu hilang kesadaran. Sejauh ini masih penasaran dengan penampilan sintren di Cirebon yang merupakan awal dari Tari Sintren yang jadi cikal berkembangnya di pantura Jawa Tengah dan Banyumasan. Legenda Dewi Lanjar bisa jadi kisah menarik kalau difilmkan ya hehehe.

      Kalau ditarik panjang lagi, penari yang masih perawan itu konon zaman dulu dilelang ketika si penari mencapai puncaknya. Terdengar seperti geisha di Jepang, Kisaeng di Korea. 🙂

      Like

    2. Gara says:

      Iya, kan. Pasti ada, mohon maaf, “eksploitasi” kaum perempuan. Di mana-mana ternyata selalu seperti itu. (Jadi ingat punya draf soal ini yang belum rilis, haha :p).

      Like

    3. Buru diselesaikan biar bisa baca dari sudut pandang Gara tentang itu hehehe.

      Like

    4. Gara says:

      Sudah selesai Mas.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s