Rumah Perjuangan ALRI Divisi IV Kandangan

Sore itu setelah didera hujan lebat di tengah perjalanan menyusuri Sungai Amandit, lanting paring yang saya naiki akhirnya sandar di tepian Desa Ni’ih, Loksado. Tak jauh dari tempat sandar terdapat sebuah tugu yang diberi pagar batas terbuat dari besi tidak terlalu tinggi dan sederhana. Tugunya diberi warna dominan biru dengan tulisan tidak rapi bercat kuning. Baju setengah basah dengan jas hujan yang cukup ribet menutupi separuh badan itu membuat saya hilang fokus dan belum menyadari betapa besar arti Tugu Ni’ih bagi warga Kalimantan.

Tulisan di tugu itu berbunyi seperti ini:

PROKLAMASI
MERDEKA! Dengan ini kami rakjat Indonesia di KalSel mempermaklumkan berdirinja PemGub Tentara dari ALRI melindungi seluruh daerah KalSel mendjadi bagian dari Rep. Ind. memenuhi proklamasi 17-8-45 jg ditanda tangani oleh Pres. Soekarno dan Wapres Mohd Hatta. Hal-hal yang bersangkutan dgn pemindahan kekuasaan akan dipertahankan dan kalau perlu diperdjuangkan sampai tetes darah jg penghabisan. Tetap MERDEKA!

Kandangan, 17 Mei
Atas nama rakjat Ind di KalSel
Gubernur Tentara – Hassan Basry

Rumah Perjuangan Desa Karang Jawa
Rumah Perjuangan Desa Karang Jawa

Tugu itu sempat saya abaikan kisahnya hingga akhirnya menemukan keterkaitannya dengan sebuah rumah di Desa Karang Jawa, Padang Batung, Kandangan yang pernah digunakan sebagai rumah perjuangan oleh Hassan Basry. Ternyata keduanya merupakan saksi bisu perjuangan warga Kalimantan Selatan dalam melawan Belanda pasca kemerdekaan Republik Indonesia tertanggal 17-Agustus-1945.

Mungkin belum banyak yang ngeh jika hasil Perundingan Linggarjati pada tahun 1946 menetapkan pasal-pasal yang isinya Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia hanya meliputi Jawa, Madura dan Sumatera saja. Artinya pulau-pulau selain yang disebutkan masih di bawah pendudukan Belanda, termasuk Kalimantan.

Setelah hasil persetujuan Linggarjati diumumkan, sontak membuat hubungan komunikasi Batalyon ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan terputus dengan Republik Indonesia. Bahkan tak selang lama, markas besar ALRI ( Angkatan Laut Republik Indonesia ) Divisi IV yang saat itu bermarkas di Tuban, Jawa Timur ikut dibubarkan. Tokoh-tokoh ALRI di Kalimantan Selatan pun memutuskan untuk melarikan diri ke Pegunungan Meratus sebelum Belanda menangkap dan menyiksa mereka.

Hassan Basry selaku Komandan Batalyon Rahasia Divisi IV mengumpulkan para pejuang dan mendirikan markas rahasia di Desa Ni’ih, Loksado. Sementara itu pada tanggal 7 Januari 1949 H. Aberani Sulaiman membentuk Panitia Persiapan Proklamasi dibantu Gt. Aman sebagai wakilnya dan Hasnan Basuki serta beberapa orang lainnya sebagai anggota. Lokasi rapat berpindah-pindah agar gerakan mereka tidak tercium oleh Belanda.

Kemudian pada tanggal 15 Mei 1949 dilakukan perumusan teks proklamasi di Telaga Langsat yang dipimpin oleh H. Aberani Sulaiman. Ketikan salah seorang anggota yang bernama Romansie sebanyak 10 lembar ditanda tangani oleh Hassan Basry seusai semua anggota yang semua berpencar di tempat aman tiba di Desa Ni’ih. Hingga akhirnya pada tanggal 17 Mei 1949 upacara penaikan bendera merah putih dan pembacaan proklamasi dilaksanakan dengan dihadiri oleh masyarakat dan anggota ALRI Divisi IV ( A ).

Di tempat itulah kini berdiri Tugu Proklamasi 17 Mei 1949 yang sudah ditanda tangani Hassan Basry yang kala itu dianggap sebagai pemimpin Gubernur Tentara atau pemerintahan berbentuk militer sesuai situasi perang. Untuk memublikasikan hasil proklamasi, seorang kurir diberangkatkan secara diam-diam guna menempel teks tersebut di Pasar Kandangan. Teks itu sempat membuat gempar masyarakat Kandangan pada 20 Mei 1949. Dengan cepat berita itu pun tiba di Banjarmasin dan menyebar ke daerah-daerah lain di seluruh Kalimantan.

Perjuangan Hassan Basry belum selesai sampai di situ saja. Prasasti Karang Jawa yang terletak di Rumah Perjuangan Karang Jawa menorehkan jasa lain dari pahlawan nasional kelahiran Kandangan, 17 Juni 1923 tersebut. Rumah beratap sirap ini pada tanggal 2 September 1949 pernah digunakan sebagai tempat pertemuan antara delegasi pemerintah Republik Indonesia yang diwakili oleh Mayor Soehardjo Hardjowardojo, Kapten Zainal Abidin ( Angkatan Darat ), Boediardjo ( Angkatan Udara ), delegasi pemerintah Belanda diwakili Resident A.G. Deelman dan Overste Veenendal, lalu delegasi Tiga Negara ( PBB ) Colonel Neals dengan tokoh-tokoh ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di bawah pimpinan Letnan Kolonel Hassan Basry.

Enam puluh tujuh tahun berlalu, jangan sampai Proklamasi Kalimantan 17 Mei 1949 hanya dianggap isapan belaka. Jangan biarkan nama besar Hassan Basry dan pejuang lain yang tergabung dalam ALRI Divisi IV ( A ) tenggelam di tengah nama pahlawan-pahlawan instant yang lain. Tanpa jasa mereka mungkin Kalimantan perlu waktu lebih lama untuk bergabung kembali dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mudah-mudahan dengan tulisan ini jasa Hasan Basry yang wafat pada 15 Juli 1984 silam semakin dikenal oleh warga Kalimantan Selatan khususnya Kandangan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. 🙂

17 Mei 2016

Advertisements

14 Comments Add yours

  1. Agung Han says:

    Sayang banget, situs bersejarah sepertinya diabaiakn begitu

    Like

    1. Terakhir ke sana bangunan belum difungsikan sebagai museum atau fungsi lain yang menunjukkan keterkaitannya dengan perjuangan pra-proklamasi Kalimantan 17 Mei 1949. Mudah-mudahan ada tanggapan cepat agar bangunan bersejarah itu semakin dikenal banyak orang yang melintasinya. 🙂

      Like

  2. Setahu saya, mereka yang ada diluar Jawa dan Sumatera kala itu memang seperti tak dihargai, entahlah. Bahkan orang seperti Kahar Muzakar (di Sulsel) yg dulu ikut bela Negara pun terpaksa menjadi pemberontak pada masanya.

    Like

    1. Muncul kesalah pahaman karena putus hubungan terlalu lama dengan pusat. Perbedaan ideologi yang akhirnya melahirkan ideologi baru. Masa-masa di mana Belanda memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali memecah belah kesatuan NKRI. Ahh iya termasuk sosok Kahar Muzakkar di Sulawesi dengan DI/TII-nya. Jadi pingin napak tilas jejaknya juga kalo mlipir ke Sulawesi. 😉

      Like

    2. Aku juga pengen napak tilas ke Sulawesi Selatan, mas. Sekalian mau nyekar ke makam kakekku di sana. Beliau pernah berjuang bareng Kahar Muzakkar waktu melwan belanda. Tapi pas Kahar memberontak, kakekku pindah ke Karimunjawa. Lanjut tahun 1994 beliau meninggal dan dimakamkan di makamkan pahlawan Sulsel.

      Like

  3. Adiitoo says:

    Belum pernah sampai ke Sulses 😦

    tulisanmu bagus, Mas

    Like

    1. Terima kasih, mas Dito. Oh ya rumah perjuangan ini lokasinya di Kalimantan Selatan, bukan SulSel 🙂

      Like

  4. Alid Abdul says:

    Wis biyasah sih rumah bersejarah beginian ditelantarkan, rumah Tan Malak malah bolong-bolong dindingnya karena cuma pake bambu ato sesek 😦

    Like

    1. Ngenes ya, padahal Tan Malaka salah satu pejuang kemerdekaan Republik Indonesia asal Sumatera Barat. Meski ideologinya sempat tidak diterima banyak kalangan, beliau tetap pahlawan negara toh? 🙂

      Like

  5. Gara says:

    Agak prihatin dengan kondisi rumahnya. Padahal ini juga tonggak sejarah kemerdekaan yang menjadi pemersatu Indonesia, ya. Sayang sekali rumah ini tidak begitu dirawat :huhu.
    Terima kasih sudah menulis ini, Mas. Saya jadi tahu sedikit soal dinamika yang terjadi pasca-Proklamasi. Jadi kejadian 17 Agustus 1945 bukanlah akhir perjuangan, tapi justru menjadi awal mempertahankan kemerdekaan yang skalanya bukan lagi terbatas pada Jakarta, melainkan naik ke level nasional.

    Liked by 1 person

    1. Di luar wilayah yang diakui secara de facto oleh Belanda pasti menorehkan catatan sejarah yang lumayan panjang dalam memperjuangkan persatuan NKRI. Seperti Perang Puputan Margarana yang pernah terjadi di Bali pada tahun 1946 juga, Gar. 🙂

      Liked by 1 person

    2. Gara says:

      Iya Mas, nama pun klaim sepihak yak :hehe.

      Liked by 1 person

  6. Vika says:

    Jadi semacam belajar sejarah.. rumahnya masih ada yg tinggalin ?

    Like

    1. Rumahnya tidak ditempati, kosong dan kurang terawat saat saya menengoknya tahun lalu. Mudah-mudahan tahun ini kondisinya sudah jauh lebih bagus. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s