Kesengsem Rumah Limas

Ada banyak daerah memiliki trademark yang dibanggakan warganya. Seperti muncul anggapan jangan ngaku sudah ke Yogyakarta jika belum foto bareng Tugu Pal Putih atau lebih dikenal dengan nama Tugu Yogya. Ketika berkunjung ke Palembang tentu pikiran akan langsung tertuju pada kemegahan Jembatan Ampera di Sungai Musi dan ingin mengambil gambar dengan latar belakangnya.

Padahal masih ada satu trademark yang nggak kalah menarik di Palembang. Bolehlah saya beranggapan jangan ngaku sudah ke Palembang kalau belum masuk ke Museum Balaputera Dewa. Eh, kok masuk museum? Museum kan identik dengan tempat yang nggak hits. Sabar, masih ada lanjutannya.

Coba keluarkan selembar uang kertas warna ungu di dompet. Itu perintah yang juga saya dengar seusai melihat koleksi di dalam Museum Balaputera Dewa dan memutuskan berjalan ke halaman belakangnya.

Rumah Limas khas Sumatera Selatan
Rumah Limas khas Sumatera Selatan

Siang itu @omnduut meminta saya mengeluarkan selembar uang kertas nominal sepuluh ribu rupiah dari dompet, saya sedikit kebingungan. Tiket masuk sudah dibayar, kok diminta untuk mengeluarkan uang lagi. Apa di belakang museum ada preman yang sering memalak pengunjungnya?

Ternyata oh ternyata. Saat uang kertas yang saya pegang digeser menghadap ke sebuah koleksi yang diletakkan di halaman belakang museum, saya baru sadar bahwa Rumah Limas di Museum Balaputera Dewa itulah model yang dilukis di lembar uang 10.000 rupiah!

Mendekat dan melihat eksterior Rumah Limas yang merupakan rumah tradisional Sumatera Selatan ini saja sudah bikin terkesima. Bayangkan reaksi saya saat petugas museum tiba-tiba membuka pintu dari dalam dan mengizinkan kami berdua masuk. Kami juga diperbolehkan untuk mengambil gambar di dalam. Sudah tentu senang nggak karuan. Kami pun segera naik tangga menuju lantai dua dan beranjak masuk sebelum si petugas mengubah niat baiknya.

Rumah Limas ini bukan replika bohongan layaknya tempat syuting sebuah sinetron kejar tayang. Dinding kayunya asli semua, bahkan interiornya diisi seperti layaknya tempat tinggal seorang bangsawan pada zaman dahulu. Aksesoris tambahan di dalamnya juga diberikan yang terbaik. Almari berukir khas Palembang dengan cat warna emas dan merah dan beberapa peralatan rumah tangga yang diolesi dengan lak merupakan koleksi museum yang diletakkan sesuai fungsinya. Tidak ada perabot yang diletakkan secara asal-asalan.

tingkat pertama rumah limas atau pagar tenggalung
tingkat pertama rumah limas atau pagar tenggalung

Tak lama setelah saya memelototi satu-persatu furniture di dalam rumah, Bu Diah dan rekannya menyapa dan memberi penjelasan lebih jauh tentang rumah tradisional tersebut. Mereka berdua adalah staff Museum Balaputera Dewa yang kebetulan meninjau rumah limas.

Koleksi megah ini terdiri dari dua rumah limas yang dihubungkan oleh jembatan penghubung. Rumah bagian depan merupakan bekas kediaman seorang pangeran dengan perkiraan waktu pembangunan sekitar tahun 1830-an. Berarti umur kayu-kayunya sudah hampir dua abad!

Awalnya rumah itu terletak di belakang Kantor Ledeng atau Kantor Walikota Palembang. Sempat terbengkalai dan diabaikan oleh pemiliknya yang baru. Setelah melalui beberapa proses, rumah berbahan dasar kayu tembesu itu berhasil dipindahtangankan dan diusung ke komplek museum pada tahun 1995.

Tiang-tiang kayu dipancang ke dalam tanah, dinding kayu tembesu disusun kembali mirip dengan kondisi aslinya, pun dengan interior yang tidak menyalahi aturan sebuah rumah tradisional Sumatera Selatan merupakan upaya yang dilakukan oleh pihak museum.

Tiang rumah terbuat dari kayu uglen yang tahan air, sedangkan bahan rangkanya dari kayu seru yang sudah terbilang sebagai kayu langka. Dinding, lantai, serta pintu terbuat dari kayu tembesu. Lantai dua rumah ini memiliki tingkat-tingkat yang sering disebut bengkilas oleh masyarakat. Lalu tingkatan yang dimiliki rumah terdiri dari lima ruangan yang diistilahkan sebagai kekijing. Simbol dari lima jenjang di masyarakat yang meliputi usia, jenis, bakat, pangkat, dan martabat.

pintu ( rahasia ) di pagar tenggalung
pintu ( rahasia ) di pagar tenggalung

Tingkat pertama disebut pagar tenggalung dengan fungsi seperti pendopo di sebuah rumah joglo di Jawa. Umumnya area ini tidak bersekat, namun ada tempelan papan kayu yang bisa diturunkan lengkap dengan sebuah pintu kecil seperti yang ditunjukkan oleh petugas museum siang itu. Sungguh unik. Sayangnya untuk keperluan museum, papan tersebut diangkat ke atas dan diberi pagar baru agar tidak mudah dimasuki oleh orang tidak bertanggung jawab.

Tingkat kedua disebut jogan, tempat berkumpul khusus untuk laki-laki. Tingkat berikutnya atau kekijing ketiga berfungsi sebagai ruang untuk menerima tamu undangan saat ada hajatan. Tingkat di atasnya digunakan untuk menyambut tamu yang memiliki hubungan keluarga yang dihormati. Kemudian ruang kelima dengan posisi paling tinggi disebut sebagai gegajah di mana terdapat ruang pangkeng dan amben tetuo atau ruang untuk musyawarah yang juga berfungsi sebagai tempat pelaminan pada acara pernikahan. (Beberapa informasi penting dikutip dari sini.)

Berbeda dengan rumah limas bagian belakang yang tidak memiliki ruang semegah rumah bagian depan. Menandakan bahwa rumah limas kedua dahulu dimiliki oleh orang besar tapi pangkatnya tidak setinggi pertama. Oleh pihak museum keduanya sengaja digabung agar pengunjung bisa mempelajari perbedaan kijing atau tingkat yang menandakan garis keturunan seseorang di Palembang di masa lalu.

Saya pribadi tidak pernah mengenyam pendidikan tentang arsitektur, tapi tata ruang di rumah limas milik Museum Balaputera Dewa ini sanggup bikin saya sumringah, betah duduk lama di sana, yah bilang saja kesengsem. Menikmati dan membayangkan seperti apa kehidupan seorang bangsawan Palembang di istana kecilnya.

Sungguh sebuah upaya yang patut ditiru oleh museum-museum lain di Indonesia. Rasanya belum semua museum memiliki rumah tradisional asli berumur ratusan tahun lengkap dengan isinya dipajang sebagai salah satu koleksinya. Nggak perlu lagi jauh-jauh pergi ke TMII ( Taman Mini Indonesia Indah ) untuk sekedar melihat dan mempelajari rumah-rumah adat dan tradisional tiap provinsi. Cukuplah peran daerah yang memupuk kebanggaan daerah sendiri dengan tetap mempertahankan dan menempatkannya di asalnya.

Cheers and peace!

Advertisements

50 Comments Add yours

  1. Gara says:

    Wah rumahnya itu etalase budaya Palembang banget ya Mas. Mudah-mudahan suatu hari nanti saya bisa ke sana :amin. Mudah-mudahan juga beruntung dan diberi kesempatan melihat-lihat benda-benda yang ada di dalam sana. Saya tertarik dengan ukirannya, ukiran khas Palembang pasti unik. Indonesia kaya akan perkayuan ya, terbukti banyak rumah tradisional dibangun dengan bahan dasar kayu.

    Like

    1. Ukiran Palembang punya khas sendiri, beda dengan ukiran di Jepara atau Kudus atau bahkan Bali. Ditambah warna yang dominan kuning keemasan, elegan banget hehe. Lalu pingin bilang yuk ke sana bareng, Gar…tapi kok banyak tujuan mblusuk bareng yang belum terealisasi hehehe

      Liked by 1 person

    2. Gara says:

      Haha iya nih… mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa terlaksana ya :)).

      Like

  2. Avant Garde says:

    kata pemandu museum, rumah secantik ini bikin helmi yahya (calon gubsumsel) ngiler n pengen beli seharga miliaran rupiah.. untung nggak boleh 🙂

    Like

    1. Wahhh jangan sampe dibeli swasta dan dipindah. Ntar warga Palembang dan wisatawan nggak bisa foto dan masuk ke dalam lagi kalo sudah diambil alih pejabat. Tetap jadi koleksi museum saja paling bagus 🙂

      Like

  3. Entah sudah berapa kali aku nemenin temen dr luar kota ke sini. Dan, lagi-lagi gak diizinin untuk masuk ke dalam rumag Limass. Apakah karena wajahku yg masih kayak anak SMA nakal yang hobi corat-coret? Oh tidak, ternyata aku sudah berprasangka buruk dg petugas museum 😀

    Like

    1. Hee serius nggak diizinin? Atau penyampaian salah dimengerti oleh petugasnya mungkin? Coba hubungi Bu Diah di kantor museum jika di kunjungan yang kesekian masih ditolak karena dikira anak SMA nakal hahaha.

      Like

    2. Atau mungkin karena wajahku yg masih belia kak 😀

      Ok ntra hub Bu Diah jikalau ke Museum Bala Putra Dewa (lagi)

      Like

  4. momtraveler says:

    Cantik banget mas khas rumah panggung Sumatera ya. Ukiran dan kayu2nya masih bagus banget. Ventilasinya jg bagus banget adem tuh kayanya duduk2 disitu ya

    Like

    1. Betah duduk lama di ruang tamunya, ngarepnya sih ada yang anterin kopi tapi cuma ngarep hahaha. Rumah yang mahal banget dan susah cari bahan bakunya kalo dibangun di masa sekarang. Pelestarian yang sepatutnya ditiru ahli waris yang mungkin masih tinggal di rumah panggung semacam ini. 🙂

      Like

  5. Aku lagi sadar kalau itu rumah di uang 10,000 hahahahaha, ingetnya yang sering diabadikan itu ang 1000, mas 😀

    Like

    1. Hahaha uang 1000 itu Pattimura, kalau 10.000 ada gambar salah satu sultan Palembang, Sultan Mahmud Baddarudin II yang namanya juga diabadikan jadi nama lapangan udara di sana. 🙂

      Like

  6. IndahJuli says:

    Baru ngeh pas lihat image uang sepuluh ribuan 🙂
    Aku juga pahamnya Palembang tuh iconnya Jembatan Ampera.
    Sepakat sama Halim, kalau tiap daerah mempertahankan atau merawat dengan baik ciri khas daerahnya, nggak perlu pergi jauh ke Jakarta buat berkunjung ke TMII ya.

    Like

    1. Mumpung uang kertas gambar rumah limas masih berlaku mari ramaikan Museum Balaputera Dewa hehehe. Pengalaman melihat kondisi beberapa joglo tua di Solo yang belum dirawat dan dilestarikan oleh pemiliknya yang baru. Miris tapi tak bisa berbuat banyak. Maka dari itu senang banget lihat rumah limas tua justru diperhatikan oleh salah satu museum di Palembang. 🙂

      Like

  7. ndop says:

    kenapa ya adat pembagian letak rumah seperti ini di zaman sekarang sudah pupus hilang entah kemana. Paling yg tersisa cuma ruang tamu dan ruang keluarga. Sisanya bebaaas sak karepmu. Padahal jaman dulu ada ruangan khusus lelaki, dsb yg menurutku sangat menjunjung tinggi strata tertentu.

    Like

    1. Mungkin setelah ibu kita Kartini dijadiin lirik lagu, adat setempat yang tidak menyamaratakan derajat wanita perlahan mulai luntur #ngaco hahaha.

      Like

    2. ndop says:

      Hahah bisa jadi. Kartini membuat budaya jadi berantakan hahahaha ups

      Like

  8. dwisusantii says:

    Kalau rumahku juga ada amben tetuo: juga biasa digunakan sebagai tempat pelaminan pernikahan, tiap liat sudut itu di rumah aku jadi baperan terus dong yaa haha.
    Angle potonya bagus pas dijejerin sama uang 10.000,- menarik jadi pingin bacaa

    Like

    1. Loh baru tahu kalo mbak Dwi asal Palembang hehehe. Amben tetuo kalau di rumah joglo Jawa sama seperti krobongan yang biasa diberi bantal dan guling dominan warna merah di ruangannya. 🙂

      Like

    2. dwisusantii says:

      Aku asli jogja mas… misalnya nih aku membayangkan rumahku ada kaya gitu kan mesti baperan haaa…

      Like

  9. Peran pemerintah daerah sangat penting ya. Bila tiap provinsi bergerak dalam pemahaman yang sama soal ini. Wow banget Indonesia!

    Like

    1. Di saat masyarakat sudah tidak mampu memelihara dan melestarikan rumah warisan atau bangunan bersejarah, sudah sepantasnya pemerintah daerah mau ikut campur. Semoga bangunan tua di Indonesia tetap lestari. 🙂

      Like

  10. wah saya baru tahu kalau rumah limas di uang itu memang benar-benar ada. makasih infonya gan, kayaknya jadi destinasi liburan nih..

    Like

    1. Selain jembatan Ampera yang sudah terkenal, Palembang masih punya rumah limas yang sudah seharusnya dibanggakan dan diperkenalkan. 😉

      Like

  11. wah mirip banget yaa sama gambar yang di uang itu 🙂
    baru tahu kalau itu rumah limas. Jarang perhatikan soalnya.

    Like

    1. Rumah Limas yang sudah ada sejak tahun 1995 di Museum Balaputera Dewa hehehe.

      Like

  12. Fubuki Aida says:

    baru tau saya. ternyata uang 10.000 itu di museum ini inspirasinya

    Like

    1. Rumah Limas di museum jadi model uang 10.000 rupiah, lalu gambar orang di baliknya adalah Sultan Mahmud Badaruddin II, sultan Palembang sekaligus pahlawan nasional di Sumatera Selatan 🙂

      Like

  13. turiscantik says:

    Nambah pengetahuan baru rmh adat palembang. Keren juga ya dalemnya

    Like

    1. Interior rumahnya keren banget, disesuaikan dengan kondisi kayu ratusan tahun. Rumah tradisional Palembang yang bikin kesengsem hehehe.

      Like

  14. Alid Abdul says:

    AKU NGEHITS DONG UDA MASUK KE BALAPUTRA… Dan nangis sejadi-jadinya aku nggak ngeh klo Limas ada di bagian belakang… JADIIIIIIIIIIIII AKU KELEWATAN T____T

    Like

    1. Super NGEHITS tenan sampe gak ngerti ada Limas model 10.000 rupiah di belakang museum. Ojo ngaku wes tekan Palembang, Lid 😛

      Like

  15. omnduut says:

    Cakep bener tulisannya 🙂 *panggil bu Diah

    Like

    1. Terima kasih. Kalo daku mlipir ke Palembang lagi, rikues anter ke museum lagi ya, om Yan 😀

      Like

    2. omnduut says:

      Siyaaap 🙂

      Like

  16. endahkwira says:

    Pernah ke Sumsel tapi belum pernah ke Palembang..
    mungkin harus meluangkan waktu untuk main kesana.

    Like

    1. Yuk main ke Palembang, mbak Endah. Sudah ada rekomendasi kuliner dan museum di tulisan-tulisan sebelumnya. Semoga bisa bermanfaat 🙂

      Like

  17. Deddy Huang says:

    Yakin gak kesemsem sama orang palembang juga halim.

    Like

    1. Huahahaha kasih tau nggak eahhh. Biarlah jadi rahasia antara saya dan dia #halah 😛

      Like

  18. Kadek says:

    ohh ternyata darisana asal muasal gambar uang kertas 10.000. tempat saya juga ada nih di bali. uang kertas 50.000 gambarnya dari pura ulun danu bali.

    Like

    1. Rumah Limas di Museum Balaputeradewa jadi model uang kertas 10.000 rupiah. Ah iya Pura Ulun Danu di Bali jadi model uang kertas 50.000 rupiah. Bangga pastinya 🙂

      Like

  19. Zulfan Helmi says:

    Semoga rumah tradisional selalu terawat, jadi anak muda bisa belajar tentang daerahnya. Ternyata banyak juga ya ruangan di rumah limas ini 🙂

    Like

    1. Ada beberapa ruang sesuai fungsi masing-masing. Di tulisan ini ada dua ruang yang tidak sempat terambil gambarnya. Kalau ingin melihat langsung boleh banget langsung datang ke Museum Balaputeradewa. Petugas museum sangat welcome menyambut pengunjung yang tertarik untuk mempelajari Rumah Limas. 🙂

      Like

  20. wah baru tau kalo rumah yg ada di uang sepuluhribuan itu ternyata rumah limasan di palembang, kereen mas!! jadi tau tempat2 yg harus dikunjungi di palembang salah satunya rumah limasan ini..thanks tulisannya dan salam kenal 🙂

    Like

    1. Salam kenal, mas Indra. Banyak yang ngeh kalau model rumah Limas di uang kertas 10.000 ada beneran ya? Hehehe. Yuk berkunjung ke Museum Balaputeradewa di Palembang 😉

      Like

  21. wooclipmovie says:

    wah ini rumah adat yang ada di foto uang 10rb toh

    Like

    1. Ayoo disandingkan langsung uang 10.000 rupiahnya dengan Rumah Limas di Palembang hehehe

      Like

  22. Totoraharjo says:

    aku asli anak trenggalek…
    baru tahu sejarah foto gambar rumah di uang 10 ribuu… asli rumahnya adem gitu ya kang?.

    ttd
    https://notedcupu.com/

    Liked by 1 person

    1. Dari luar seperti rumah settingan buat sinetron, setelah masuk ke dalam barulah kelihatan kemegahannya. Asli semua kayunya. Wajiblah main ke sana kalau liburan ke Palembang. 😀

      Asik nih ada anak Trenggalek. Kapan-kapan main ke Trenggalek ah. 😉

      Like

    2. Totoraharjo says:

      sana baca blogg aku dlu sebelum main ke trenggalek hahaha

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s