Ayo Wisata Museum di Palembang

Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya kematangan usia #uhuk, saya lebih senang menikmati perjalanan tanpa planning yang muluk. Tak ada lagi rentetan daftar obyek-obyek yang harus dikunjungi selama di kota tersebut. Hanya mengantungkan obrolan dari penduduk lokal di sekitar tempat menginap. Percaya dengan cerita keindahan suatu tempat yang dilanturkan oleh mereka.

Tak ketinggalan meluangkan waktu untuk masuk ke satu museum atau lebih di sana. Karena saya percaya bahwa museum merupakan tempat yang menampung ragam sejarah yang menarik, berbeda dengan obyek wisata alam. Museum adalah tempat di mana wisatawan bisa belajar dengan singkat tentang budaya daerah juga sejarah bersih maupun kelam di sana.

Di sela kesibukannya, Yayan selaku tuan rumah di Palembang berbaik hati mau meluangkan waktu untuk mengantar teman yang datang tanpa rencana matang ini. Sabar menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang saya lontarkan, padahal gugel sudah menebarkan banyak info. Tapi jujur lebih afdol mendengar langsung dari mulut seorang teman yang lahir atau lama tinggal di sana. Jelek dibilang jelek, bagus dibilang bagus. 🙂


susunan horizontal bait Al Quran di Palembang
susunan horizontal bait Al Quran di Palembang

Papan demi papan dijajarkan bertingkat di sebuah bangunan komplek Pesantren Modern IGM Al Ihsaniyah yang terletak di Jl. M. Amin Fauzi Suak Bujang, Kecamatan Gandus, Palembang. Terukir indah ayat-ayat Al-Quran di atas lembaran kayu tembesu dengan ukuran 177 x 144 sentimeter. Kayu tembesu menjadi bahan utamanya, sama seperti bahan untuk pembuatan lemari ukir khas Palembang.

Galeri Bait Al Quran Al Akbar ini terdiri dari dua sampul yang bisa dibolak-balik dengan bantuan alat putar. Halaman 1-604 sebanyak 306 lembar terdiri dari juz 1-30, sedangkan halaman 605-630 berisi 17 lembar berupa hiasan Al-Quran, daftar isi dan lainnya. Museum Al-Quran Raksasa ini mulai dikerjakan tahun 2002 hingga tahun 2009 dinyatakan siap untuk diresmikan. Saat berkunjung ke sana ada beberapa papan yang sedang diwarna ulang oleh para pelukis. Tidak ada tiket masuk resmi, beberapa pengunjung terlihat mengisi kotak amal sebagai gantinya.


Ditemukannya kanal, parit dan kolam yang tersusun rapi menjadikan Situs Karanganyar diperkenalkan sebagai pusat kerajaan Sriwijaya yang pernah berkembang pada abad ke-6. Penemuan Prasasti Kedukan Bukit seolah mengukuhkan anggapan tersebut. Replikanya kini diletakkan di sebuah pendopo di komplek Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya. Di komplek Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya terdapat beberapa bangunan, termasuk Museum Sriwijaya.

Selain replika Prasasti Kedukan Bukit yang dibuat semirip mungkin dengan aslinya, masih ada beberapa replika prasasti dan arca bercorak agama Hindu dan Buddha yang dipamerkan di dalam Museum Sriwijaya yang terletak di Jl. Syakyakirti, Karanganyar, Kecamatan Gandus, Palembang. Replika Prasasti Telaga Batu yang memiliki bentuk kepala ular berkepala tujuh termasuk salah satu koleksi di museum. Prasasti yang ditemukan di 3 Ilir Palembang tersebut isinya kurang lebih tertulis sumpah setia pejabat kerajaan kepada raja Sriwijaya.

Museum Sriwijaya - manik kuno
koleksi manik kuno di Museum Sriwijaya

Kemudian ada replika Prasasti Bungkuk yang ditemukan di Lampung diperkirakan sekitar abad ke-7 Masehi. Masih ada replika Arca Buddha Bukit Siguntang yang berukuran lumayan besar dan koleksi arca yang lain. Begitu banyak catatan sejarah yang disuguhkan oleh Museum Sriwijaya, termasuk catatan penjelajahan Cheng Ho di Palembang. Kekurangan museum ini hanya satu, terlalu banyak menampilkan replika arca dan prasasti dengan alasan yang asli sudah diungsikan semua ke Museum Nasional, Jakarta.


Perjalanan kami lanjutkan menuju museum berikutnya, yaitu Museum Negeri Sumatera Selatan atau lebih dikenal dengan nama Museum Balaputera Dewa. Di museum ini terdapat tiga ruang utama sesuai dengan penggolongan koleksinya. Ada ruang yang memamerkan koleksi peninggalan megalith, replika arca hingga replika galian dan bekas tempayan kubur yang pernah ditemukan di Ulu Musi, Kabupaten Empat Lawang.

Ruang yang lain berisi informasi umum tentang kejayaan Kerajaan Sriwijaya di masa lampau. Replika arca dan beberapa prasasti yang sudah saya lihat di Museum Sriwijaya kembali dipamerkan di sini. Untungnya alur koleksi museum disesuaikan dengan terjadinya peristiwa sehingga tidak terlalu membosankan. Dipamerkan pula peninggalan Kesultanan Palembang seperti perhiasan, senjata serta naskah kuno dengan aksara Ulu, Jawa dan Arab.

Perjuangan pahlawan pasca kemerdekaan saat terjadinya Perang Lima Hari Lima Malam juga dijabarkan dengan jelas. Perang yang terhitung tanggal 1 hingga 5 Januari 1947 tersebut sebagai bentuk perlawanan warga Sumatera Selatan terhadap tentara Belanda yang hendak menduduki Hindia Belanda lagi.

Keunikan di museum ini adanya sebuah ruang yang diberi nama Galery Melaka. Di dalamnya bercerita tentang keterikatan antara Kesultanan Palembang dengan Kesultanan Melaka. Ternyata pendiri Kesultanan Melaka, Parameswara atau Iskandar Syah yang bertahta pada tahun 1403-1424 merupakan salah satu anak dari Raja Palembang.

Lalu Museum Balaputera Dewa juga menjadi museum yang menampung rumah adat-rumah adat yang ada di Sumatera Selatan. Salah satunya adalah rumah limasan yang terpampang nyata di selembar uang kertas nominal sepuluh ribu rupiah. Rumah tradisional yang masih terjaga keasliannya itu berhasil bikin saya kesengsem dan betah tinggal lama di sana. 🙂

Museum Balaputera Dewa – Jalan Srijaya no. 288 KM 5,5 Palembang
Buka: Selasa – Minggu pukul 08.30-15.00 dengan harga tiket 2.000,-.


Usai mendatangi museum-museum yang terletak di pinggiran kota bersama Yayan atau @omnduut, saya melanjutkan sendiri perburuan museum di Kota Palembang. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II menjadi tujuan pertama dan hasilnya tidak mengecewakan. Koleksinya lebih fokus dengan sejarah Kesultanan Palembang dan kebudayaan yang berkembang di Palembang. Silsilah kesultanan dijabarkan secara rinci, pun dengan sejarah penangkapan Sultan Mahmud Badaruddin II dan keluarganya oleh Jenderal De Kock tahun 1821.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah koleksi kerajinan LAK yang penamaannya berasal dari bahasa Inggris “lacquer“. Teknik pembuatan kerajinan ini konon terinspirasi dari negeri Siam (Thailand). Wadah untuk peralatan rumah tangga yang terbuat dari rotan, kayu, bambu dilapisi dengan bahan damar yang dihasilkan sejenis serangga bernama Laccifer lacca sebagai pengawet sekaligus memperindah warna.

Koleksi yang tidak kalah menarik lainnya adalah ragam kain tenun khas Sumatera Selatan seperti Songket dan Sewet Tajung. Kain tenun untuk laki-laki disebut Tajung Rumpak, sedangkan untuk perempuan diberi nama Tajung Blongsong yang berbahan sutra. ( Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, tiket masuk untuk umum 5.000,- )


tangga menuju lantai 8 Monpera
tangga menuju lantai 8 Monpera

Monumen Perjuangan Rakyat Sumatera Bagian Selatan ( Monpera Sumbagsel ) yang letaknya berdekatan dengan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II ini memiliki bentuk bangunan yang unik. Monumen setinggi 17 meter, 8 lantai dengan 45 bidang tersebut dibangun dengan simbol-simbol yang melambangkan perjuangan Indonesia dan perjuangan rakyat Sumatera Selatan sendiri. Simbol Pancasila tergantung gagah di depan bangunan museum.

Kedelapan lantainya dihubungkan oleh tangga dengan lingkup ruang yang semakin ke atas semakin menyempit. Dijabarkan peristiwa, potret pelaku sejarah, dan peralatan perang yang pernah digunakan oleh para pejuang kemerdekaan di Sumatera Bagian Selatan. Ikut dipajang pula beberapa gambar salah satu pahlawan nasional yang bernama Dr. Adnan Kapau Gani ( 1905-1968 ). Dokter dan politisi ini pernah ditunjuk Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno untuk membentuk Kabinet Nasional bersama Amir Syarifuddin dengan jabatan sebagai Wakil Perdana Menteri.

Di lantai yang sama terdapat patung seorang pahlawan nasional yang berjuang dan bergerilya melawan Belanda saat beliau masih menjadi asisten Demang di Karesiden Palembang. H. Abdul Rozak ( 1891-1982 ), seorang anak bangsawan Suku Komering yang pernah menjabat sebagai Demang di beberapa daerah di Residen Palembang kala itu.

Beliau menjadi Demang di Talang Pangeran tahun 1925, lalu 1925-1929 menjabat demang di Tanjung Raja, menyusul jabatan Demang di Pagaralam ( 1929-1931 ) dan Demang di Lahat ( 1931-1934 ). Perlawanannya berlanjut pasca kemerdekaan hingga diberi penghargaan Panglima Tertinggi Angkatan Perang yang diserahkan oleh Presiden Ir. Soekarno pada 17 Agustus 1958. ( Monpera Sumbagsel buka setiap hari 08.00-16.00, tiket masuk umum 5.000,- )


Note: Mungkin banyak yang beranggapan museum itu membosankan. Betul kalau tidak menemukan kesenangan di sana. Tidak membosankan jika mau merendahkan diri dan meluangkan waktu untuk belajar ilmu baru yang kelak berguna di masa depan.

Jadi tunggu apa lagi? Yuk ke museum-museum Palembang! 😉

Advertisements

39 Comments Add yours

  1. Jadi benar ya pusat Kerajaan Sriwijaya dulunya di Palembang….Pernah baca soalnya agak diragukan jika lokasinya di sana..

    Saya kira perjalanan yang sangat menarik bila menemui penduduk suatu daerah dan mendengar cerita mereka tentang daerah sendiri

    Like

    1. Pusat Sriwijaya memang belum dibenarkan, bisa saja di Muara Takus atau mungkin di Muaro Jambi hehehe. Missing link yang perlu ditelusuri. 🙂
      Jadi kangen masuk ke desa adat seperti mengunjungi Suku Dayak Meratus tahun lalu. Banyak ilmu tentang alam yang mereka berikan, alam yang memberi kehidupan untuk manusia. 🙂

      Like

  2. Fakhruddin says:

    Wow seru banget jalan-jalannya, saya juga seneng sama sejarah dan museum.

    Like

    1. Toss dulu hehehe. Banyak belajar hal baru saat masuk ke museum-museum di sana. Apalagi mencari tahu sejarah kebesaran bekas kekuasaan Sriwijaya di masa lalu. 🙂

      Like

  3. Kayaknya propinsi sebelah (Jambi) juga kudu ditelusuri mas, biar lengkap rasanya 😀

    Like

    1. Jejak Sriwijaya di Jambi dan Riau sudah masuk wishlist ekspedisi, Sitam. Tinggal tunggu tanggal mainnya hahaha

      Like

    2. Semoga secepatnya, mas hehehheheh. Biar aku ikut baca aja dari sini 😀 😀

      Liked by 1 person

  4. omnduut says:

    Semoga museum-museum ini makin berbenah dan terus terjaga hal-hal positifnya. Intinya nggak malu-maluin ngajak tamu ke museum, tapi kalau museum dibikin jauuuuh lebih nyaman dan keren, bukan hanya nggak malu, tapi membanggakan 🙂

    Liked by 1 person

    1. Pastinya berharap kenyamanan di museum yang terus dikembangkan, jangan malah mengecewakan. Lahan dan koleksi sudah dimiliki, tinggal penggemasan yang lebih menarik minat anak muda agar mereka mau mampir dan mau membaca keterangan padat dan jelas di tiap lemari kaca.
      Dukung Yayan jadi duta museum Palembang! 😀

      Like

  5. Palembang lebih dikenal dengan wisata kuliner, sejarah dan budaya 🙂
    terima kasih sudah mampir ke kota kelahiranku yaaah mas.

    Like

    1. Loh ehh baru tahu kalo mbak Raisa kelahiran Palembang. Brarti kenal dengan blogger lain seperti Omnddut dan Deddy Huang? Ahh kapan-kapan anterin ke tempat yang keren menurut mbak Tari di Palembang dunk *kedip manja* 😀

      Like

  6. aqied says:

    Sukak banget sama museum museum yang ngebolehin foto. Liat suasana museum balaputera dewa itu kok ngerasa kaya mirip museum majapahit ya.

    Like

    1. Luas museumnya hampir sama, Qid. Tapi koleksi asrca aslinya masih banyak dan variatif milik Museum Trowulan hehehe.
      Hee-mmm museum yang nggak foto di dalamnya itu juhuuud seperti kata Cinta ke Rangga.

      Like

  7. Hastira says:

    wah yang belum itu ke tempat Al Quran itu, jadi pingin ke sana lagi

    Like

    1. Letaknya di pinggir kota tapi masih gampang ditemukan lewat GPS dunia maya dan GPS dunia nyata alias gunakan penduduk setempat hehehe. Yuk mari, mbak Tira 🙂

      Like

  8. ekahei says:

    Aku sebenarnya nggak suka wisata museum dan entah kenapa selalu melangkahkan kaki ke museum. Sebab, aku percaya museum memberi sesuatu yang beda selain menambahkan wawasan bagi pikiran dan selalu menemukan cerita yang mengasyikan.

    nice info mas… tulisannya bisa sbg referensi klo suatu hari nanti ke Palembang.

    Like

    1. Tiap museum punya ciri sendiri yang mengajarkan secara kilat sejarah terkait dengan peristiwa masa lampau di daerah tersebut. Semoga tulisan ini bisa membantu. Kalau sudah berkesempatan mlipir ke museum di Palembang share kisah serunya juga ya. 🙂

      Like

  9. ali shodiqin says:

    rasanya pengen banget ke museum palembang itu. sayangnya jauh banget.hehe..

    Like

  10. saya juga seneng ke museum mas, setiap ke kota tertentu psti yg saya tanyakan museum ada dimN. tapi begitu masuk museumnya gak tahu mau ngapain wkwk

    Like

    1. Loh kok nggak tahu mau apa di dalam museum? Pastinya lihat koleksinya kan? Hehehe. Koleksinya ada yang unik dan punya cerita yang bisa ditarik ke belakang hingga penasaran dengan sejarah terkait di masa lampau. Itu berdasarkan pengalaman saya, tentu mas Johanes punya cara asyik sendiri untuk menikmatinya. 😉

      Like

    2. saya sendiri juga suka dengan hal yg berbau kekunoan kok mas, tentunya sejarah juga. dan betul ada cara menikmatinya berbeda2 🙂

      Liked by 1 person

  11. BaRTZap says:

    Selama ini aku masih kurang ide mau ngapain aja seandainya main ke Palembang, tapi dengan tulisan ini aku jadi punya modal buat jalan-jalan. Karena aku suka banget sama museum. Makasih ya Lim 😊

    Like

    1. Palembang punya museum-museum layak dikunjungi, Bart. Obyek lain di kota juga lumayan banyak, terutama ya kulinernya hehehe. Lengkap deh punya museum, kuliner dan heritage kesultanan 🙂

      Liked by 1 person

  12. dwisusantii says:

    Pernah mempelajarinya di bangku SMP-SMA dengan segepok buku tebel gambar hitam putih gitu tentang kejayaan sriwijaya…
    Gurunya perlu deh minjem dokumentasinya mas halim biar semakin menarik belajar sejarah 🙂

    Like

    1. Hehehe mbak Dwi bisa aja. Sebenarnya sejarah nggak susah dipelajari. Apalagi bisa datang langsung ke tempat peristiwa terjadinya, mudah membayangkan sambil ditambahi khayalan roman versi pribadi juga boleh hahaha

      Like

  13. Entah sudah berapa kali aku nemenin teman2 dari luar kota ke museum2 di atas.

    Btw, kk gak ke museum songket kak? Cie yg penasaran lg 😀

    Like

    1. Dulu sempat lewat aja, dengar-dengar banyak yang nggak disambut dengan baik di sana jadi urung niat untuk masuk Museum Songket hehehe. Sedihnya pas mo masuk Museum Textile di deket Iwak Kambang ternyata udah ditutup lama hiks.

      Like

    2. Haha, iya kak ditutup

      Like

  14. mawi wijna says:

    Lha, dirimu kok malah protes di Museum Sriwijaya banyak replika prasasti dan arcanya? Menurutku itu salah satu win-win solution untuk mengenalkan benda-benda purbakala ke masyarakat umum. Toh, kualitas replikanya menurutku sih bagus. Biarlah benda purbakala asli disimpan, sementara replikanya dipamerkan. Kan bisa juga untuk mengantisipasi ulah pengunjung yang tidak bertanggung-jawab. 😀

    Like

    1. Hehehe ngarepnya setidake ada arca dan prasasti asli yang bisa dibanggakan di museum tersebut, Wi. Soale pas lihat kondisi prasasti aslinya lngsung di Museum Nasional dalam kondisi ditempel di lantai pake perekat semacam semen biar nggak geser. Berdebu, diacuhkan pengunjung yg nggak niat lihat, munkin jg udah diusapin upil ama pengunjung. 😛

      Like

    2. mawi wijna says:

      Lha yang Prasasti Kedukan Bukit yang di tengah pendopo gede itu bukannya asli Lim?

      Kalau melihat kondisi penyimpanan prasasti di Museum Nasional sih ya… ngelus dada wae lah… :p

      Like

    3. Prasasti Kedukan Bukit di tengah pendopo kae bukan asli. Aslinya diletakkan di Museum Nasional, di antara jajaran prasasti lain di lorong sempit yang rawan disenggol pantat pengunjung museum. Juga rawan aus tulisannya karena disentuh buanyak orang tanpa pengawasan hehehe.

      Like

  15. Avant Garde says:

    aku pikir ibukota sriwijaya di palembang, tapi lihat candi muaro jambi imanku goyah #kodekeras

    Like

    1. Roger, paham dengan kode yang disampaikan hahaha. Itulah pergeseran fatal sejarah Nusantara yang diciptakan pihak tertentu. Jika dibiarkan terus tanpa ada pelurusan dan penyelesaian, akan berdampak buruk bagi sejarah yang akan dipelajari anak-cucu di masa depan, juga sejarah dunia yang dipelajari ratusan tahun kelak.

      Like

    2. Avant Garde says:

      saran aja mas, kalo jadi ke candi muaro jambi, sekalian ke kantor balai pelestarian cagar budaya jambi. aku pernah ngobrol sama seorang pegawai yg kebetulan peneliti disana dan katanya ada kemungkinan ibukota sriwijaya di jambi, kalo ke museum yang di situs muaro jambi, petugasnya kurang begitu menguasai sejarah haha

      Liked by 1 person

    3. Avant Garde says:

      sayangnya galeri di balai cagar budaya cuma buka jam kerja dan hari kerja 😦

      Like

  16. aanyelier says:

    *brb bookmark blog kak halim buat panduan pas di palembang, trutama halaman ini*

    jangan pernah ragu untuk mengunjungi museum, kalau bukan kita, siapa lagi yg akan mencintai museum ^_^

    Like

  17. belajar sejarah dari buku ternyata membosankan. coba belajar sejarah melalui traveling pasti menyenangkan. Cuma menghabisakan banyak uang hahahaha… semoga pemerintah bisa subsidi untuk anak2x belajar sejarah langsung kelapangan…

    Like

    1. Setuju dengan masukannya 😀
      Semoga pemerintah bisa subsidi untuk hal bermanfaat bagi generasi muda semacam itu 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s