Belajar Menganyam ( Hati ) di Simo – Boyolali

Entah kenapa desa selalu dianggap tidak semenarik kota oleh beberapa orang. Desa dipandang sebagai tempat yang minim hiburan. Listrik dan sinyal internet yang terbatas di sana menyusahkan pergaulan di dunia maya, takut dianggap kurang update jika tidak mengikuti gossip artis ibu kota, hingga anggapan pola pikir tidak bisa maju jika terus-menerus tinggal di desa. Akibatnya satu-persatu penduduk mulai keluar dari desa, hijrah ke kota metropolitan demi sesuap nasi, katanya.

Lupa bahwa Indonesia itu kaya. Tinggal di tengah hutan, pinggir pantai maupun tengah rawa, semua punya bahan baku yang terlihat sepele namun bernilai tinggi jika bisa mengolahnya dengan baik. Umbi-umbian bisa diolah jadi keripik aneka rasa, batok kelapa bisa dikreasi sebagai peralatan makan hingga tas tangan cantik, enceng gondok dan bambu yang dianyam pun bisa dikembangkan menjadi barang bernilai tinggi.

tangga melingkar dari bambu - salah satu kreasi di event Bamboo Biennale
tangga melingkar dari bambu – salah satu kreasi di event Bamboo Biennale

Berbicara tentang bambu, tahun 2014 lalu Kota Solo mengadakan sebuah event yang mengusung tema bambu dengan ragam bentuk instalasi bambu yang dipamerkan di pelataran Benteng Vastenburg selama lebih dari satu minggu. Menurut saya pamerannya cukup menarik, ada rumah pohon dengan dinding dari besek, payung raksasa dari bambu, ayunan, labirin angklung sampai menara bambu setinggi ratusan meter dengan anak tangga melingkar. Sayangnya pameran boleh dibilang sepi peminat dari dalam negeri, warga lokal hanya sibuk selfie binyong sementara wisatawan asing justru yang berdecak kagum dengan instalasi bambu yang dipamerkan.

hamparan sawah dan hutan bambu di Simo
hamparan sawah dan hutan bambu di Simo

Dari pameran tersebut saya jadi tahu bahwa sebagian besar bahan bambu yang mereka gunakan dipasok dari sebuah desa bernama Walen yang terletak di Boyolali. Jarak tempuhnya hanya sekitar 30 kilometer dari bandara Adi Soemarmo menuju arah Kota Boyolali melalui Waduk Cengklik. Sejauh ini Desa Walen yang terletak di Kecamatan Simo. Kabupaten Boyolali hanya terkenal di kalangan para pedagang kerajinan bambu seperti tampahbesek, keranjang bambu dan lainnya di pasar-pasar tradisional.

Gunung Tugel, Boyolali
Gunung Tugel, Boyolali

Ada beberapa cerita rakyat tentang asal usul penamaan Simo yang berarti harimau dalam bahasa Jawa. Ada yang mengaitkan dengan kisah Wali Songo, bunyi gong yang dibawa Sunan Kudus saat hendak menemui Ki Ageng Pengging di Kerajaan Pengging ( Boyolali ) terdengar seperti suara auman harimau. Ada pula yang mengangkat kisah Ki Ageng Singoprono yang kini makamnya di Gunung Tugel, Desa Nglembu sudah menjadi salah satu tujuan wisata religi yang diramaikan kalangan tertentu setiap Selasa Kliwon dan malam Jumat.

Alkisah desa ini pernah ditinggali seorang kiai yang konon mempunyai kesaktian. Beliau tinggal dan bercocok tanam di tanah leluhurnya di wilayah Boyolali yang kelak disebut Desa Walen. Kebaikan hati dan penyebaran agama Islam yang diajarkan membuat Ki Ageng Singoprono diterima dengan tulus dan disegani oleh penduduk setempat, bahkan desa tempat tinggalnya disebut Walen yang diambil dari kata Wali. Itulah asal usul nama Desa Walen.

Hidup di dalam kesederhanaan, tidak memandang derajat, pangkat ataupun golongan dalam membantu sesamanya membuat iri hati Raga Ranting yang tinggal di Pegunungan Kendeng. Dikisahkan Raga Ranting berusaha membunuh Ki Ageng Singoprono dengan cara mengikatkan seuntas tali di dua puncak pegunungan. Kemudian Raga Ranting mengulirkan sebutir telur dari rumahnya dan membentur puncak pegunungan tempat tinggal Singoprono. Akibatnya puncak pegunungan tugel ( patah dalam bahasa Jawa ) namun Singoprono selamat, rumahnya pun tetap utuh. Singoprono tidak menaruh dendam apalagi marah dengan tindakan Raga Ranting. Justru sebaliknya, kebencian Raga Ranting terus memuncak hingga membuat seluruh tubuhnya hancur.

rumah di Desa Walen
rumah di Desa Walen

Entah bermula dari ajaran Ki Ageng Singoprono atau hal lain, yang jelas dari dulu Desa Walen ditumbuhi hutan bambu yang cukup luas dengan para pengrajin bambu handal di setiap rumah. Keahlian diturunkan dari generasi ke generasi, kerajinannya dijual ke kota setiap harinya dengan keuntungan yang mampu menghidupi mereka selama ini. Hal ini dibuktikan dengan taraf pendidikan di Simo yang hampir semuanya lulusan SMU atau sederajat, tidak ada yang kurang dari itu. Dengan prestasi membanggakan tersebut tak heran Simo juga dikenal dengan sebutan kota kecamatan pelajar.

salah satu rumah warga di Desa Walen
salah satu rumah warga di Desa Walen

Masih ada wujud kesederhanaan yang nyata di sana. Suguhan berupa teh panas, tape ketan, kacang godhog, renginan dikeluarkan oleh tuan rumah saat saya dan kawan-kawan hendak mengikuti workshop di salah satu rumah warga. Ikut disediakan pula piranti untuk membuat tampah dan besek agar kami bisa melihat langsung langkah demi langkah cara membuat keduanya.

Pada dasarnya tampah terdiri dari dua komponen, anyaman dan wengku (lapisan irisan bambu melingkar). Oh iya, sebelumnya bambu mentah yang akan digunakan sudah direndam air terlebih dahulu agar strukturnya melunak dan tidak gampang patah. Saat bapak-bapak disibukkan membuat tampah dengan cara menjepit anyaman di tengah wengku, ibu-ibu justru menunjukkan kebolehannya membuat besek. Besek sendiri merupakan gabungan dua buah kubus tanpa alas yang biasa digunakan sebagai wadah lauk-pauk seperti gudeg atau olahan ayam utuh di beberapa rumah makan.

Sayang baru-baru ini muncul kabar jumlah pengrajin bambu di Simo khususnya Desa Walen mulai menurun. Semangat generasi penerus para pengrajin mulai memudar. Harga jual besek dan tampah yang murah dianggap tak sebanding dengan tenaga yang harus dikeluarkan saat memotong pohon bambu, mengupas tipis lapisan bambu hingga layak dianyam. Yang tua hanya bisa pasrah menghabiskan sisa waktu dengan terus memotong bambu dan terus menganyam, sedangkan yang muda galau menghadapi pilihan antara mengembangkan keterampilan warisan orang tua atau hidup penuh tantangan di kota besar yang dirasa memberikan nafkah lebih banyak.

suasana Desa Walen, Simo, Boyolali
suasana Desa Walen, Simo, Boyolali

Pembeli pun mulai menganggap tampah bambu tidak semenarik yang terbuat dari plastik buatan pabrik. Besek yang sejak dulu sudah mengajarkan hidup go green semakin jauh dari hati masyarakat. Lupa jika besek dianyam dengan hati dan membuahkan tangan kasar yang setiap hari tergores serat dari bambu demi mencukupi kebutuhan keluarga mereka di sana. Simo hanyalah secuil kisah tentang modernisasi yang semakin menekan laju ketradisionalan di negeri kita tercinta.

Cheers and peace.

Advertisements

39 Comments Add yours

  1. Gara says:

    Pada akhirnya, semua selalu kembali pada urusan perut ya, Mas, ketika orang harus realistis apakah akan mempertahankan tradisi dibanding memenuhi urusan perut, maka saya pikir jawabannya akan sangat jelas bagi penduduk di desa sana. Hm… pasti ada jalan supaya roda ekonomi di sana tetap berputar tapi dengan tidak mengorbankan identitas yang sudah diperoleh selama ratusan tahun berlalu. Saya suka dengan tulisanmu yang selalu menggugah dan membuat saya merenung :hehe. Top!

    Like

    1. Entah kenapa kalau nemu desa macam Simo bawaannya selalu pingin ajari mereka bikin sesuatu berbau etnik yang dihargai sangat tinggi di luar negeri #youknowlah. Tapi masih ada keterbatasan ilmu, jadi saya masih perlu banyak belajar dari yang lebih ahli hehe. Mari menganyam hati kita masing-masing dulu hehehe.
      Matur nuwun Gara 😉

      Liked by 1 person

    2. Gara says:

      *manggut2*.
      Baiklah, anyaman hati sendiri agaknya belum tuntas juga. Sip, sama-sama!

      Liked by 1 person

  2. Evi says:

    Besek bambu biasanya juga digunakan untuk tempat nasi sedekahan kalau ada acara syukuran di kampung. Sekarang sdh berganti besek plastik. Yah segala sesuatu nemang berubah mengikuti jaman. Jika tak bisa lagi digunakan sebagai perabot rumah tangga, sekarat serat bambu sdh digunakan sbg bahan tekstil. Cuman yah menggunakan teknologi canggih meninggalkan teknologi tradisional.

    Liked by 1 person

    1. Makin ke sini entah kenapa sukaaa banget kalau nemu sesuatu yang masih memakai bungkus besek. Terus jadi kepikiran untuk mengoleksi besek, tampah, dan keranjang bambu berbagai ukuran, biar suatu saat bisa bikin museum “tradisional yang terlupakan” hehehe

      Like

  3. yogisaputro says:

    Ada beberapa hal yang bikin saya concern dari desa perajin yang mengandalkan pasokan bambu dari lingkungan mereka. Di zaman sekarang, meningkatnya permintaan sulit dihindari karena meningkatnya jumlah manusia. Apakah mereka sudah menjamin pasokan bambunya aman dengan permintaan yang semakin banyak itu? Bagaimana kalau nanti kehabisan?

    Like

    1. Eksploitasi besar-besaran memang dilema bagi alam negeri kita. Serakah akan kebutuhan duniawi mengubah nurani manusia. Hanya bisa berharap penduduk lokal bisa mengendalikan sifat serakah yang bisa berakibat fatal bagi lingkungannya sendiri. Sejauh ini Simo masih seimbang antara bahan baku dan order yang diterimanya, yah mudah-mudahan bisa seperti itu terus. 😀

      Liked by 1 person

    2. yogisaputro says:

      Kalo saya ada pendapat tambahan. Jadi kalau mereka sadar dengan bambu sebagai tumpuan ekonomi, ada baiknya mulai membudidayakan bambu supaya stok tetap terjaga. Ini seperti pabrik kertas yang menanam di hutan khusus untuk produksi kertas mereka gitu mas.

      Istilahnya ekonomi berkelanjutan/sustainable 🙂

      Liked by 1 person

    3. Ahh betul harus berkelanjutan, pendapat yang bagus, Yogi. Totally agree! 🙂

      Liked by 1 person

  4. mysukmana says:

    Akan tetapi desa skg dijadikan tempat hiburan orang orang kota:-)

    Like

    1. Orang kota terbuai dengan acara jalan-jalan di tipi, baru kemudian eksplore desa yang dinilai selfiable dan layak dipamerkan di medsoc atau tempat tsb dianggap “surga baru” ya mas? Hehehe

      Like

    2. mysukmana says:

      iya itu pasti gara gara acara acara di trans grup dkk haha kayak MTMA misalnya

      Liked by 1 person

  5. Avant Garde says:

    kalo ke simo cuma ke blagung aja mas, rumah bude (kakak dr ayah) yg asli simo.. baru tau malah ada desa walen yang ijo royo2 banyak sawah.. simo di kepalaku daerah panas nan gersang hehehe.. beda sama ampel, selo, cepogo (boyolali bagian barat) yang dingin dan sejuk …

    sempat motret patung harimau gak mas, icon kota simo juga tuh 🙂
    yups..setuju kalo simo relatif terpelajar, mungkin juga karena lebih dekat ke solo shingga kesadaran akan pendidikan lebih berasa…

    yang mas halim bilang jenang simo kalo aku liat warna dan teksturnya kayaknya itu di ampel disebut sengkulun, kue manis dari ketan dan kelapa..

    di sumatra bambu buat tempat makan udah agak jarang, paling buat alat2 masaknya doang sih kayak niru (tampah). ada sih yg jual, tapi yg bikin juga orang jawa/sunda.. 🙂

    Liked by 1 person

  6. Avant Garde says:

    mo nanya lagi mas, ini acaranya yg bikin LL (laku lampah) ?

    Like

    1. Kegiatan telusur Simo ini salah satu dari kegiatan BlusukanSolo ( sekarang Laku Lampah ) yg diadakan tahun lalu 😉 Patung harimau di dekat Pasar Simo sempat kufoto, cuma sengaja nggak kuposting di sini, biar pembaca yg mlipir ke sana lihat sendiri hehehe.

      Ttg jenang… sepertinya betul yang mas Isna info bahwa yang jenang itu kue manis, karena spesifik yang disebutin kok sama, kuralat dulu. 😛

      Like

  7. HP Yitno says:

    alhamdulillah bambu disana masih banyak. di desaku sudah hampir habis.

    Like

  8. Rifqy Faiza Rahman says:

    Passion, passion… Alam sudah memberikan segalanya, tinggal manusianya mau atau tidak memanfaatkan-memberdayakannya. Selalu ada kecemasan (menyusutnya generasi pengrajin, budaya selfie tanpa mencari tahu lebih jauh tempat yang dikunjungi), selalu ada harapan (filosofi yang tinggi, decak kagum bule melihat instalasi bambu).

    Sudah saatnya, desa harus lebih berdaya. Orang desa yang kesusahan dan telanjur atau sukses merantau ke kota, harus pulang membangun desa. 🙂

    Like

    1. Ayo mbangun deso… eh ini slogan kampanye salah satu mantan gubernur Jateng beberapa tahun lalu hehehe. Sayang slogan itu nggak teralisasi selama masa jabatannya karena si bapak cuma koar tanpa aksi setelah kepilih. 🙂

      Like

    2. Rifqy Faiza Rahman says:

      Kalau yang sekarang ada guyonan gini Mas: Mboten ngapusi, mboten korupsi, trus ditambahi “Mboten janji” hahahaha 😀

      Like

  9. Ceritanya sama kayak batik di desa ku mas. Sekarang warganya lebih milih kerja di pabrik dari pada bikin batik. Berbanding terbalik dengan saya yang biasa hidup di kota yang malah pengen kampung saya ini jadi kampung yang bikin batik lagi, eh sekarang malah ketika pulang ke desa cuman bisa denger cerita, “Itu dulunya juragan batik, sekarang anaknya jadi orang bea cukai, udah nggak mau bikin batik deh orang tuanya” yaah sama mungkin ya sama Desa Simo ini nasibnys ntar hehehe

    Like

    1. Mempertahankan dan mengajarkan ilmu yang sudah katam ke generasi penerus memang begitulah hehe. Orang tua sudah tidak bisa lagi memaksa anaknya untuk meneruskan sesuatu yang tidak disukai si anak. Sebaliknya si anak juga nggak menyadari bahwa ilmu yang diwariskan orang taunya kelak akan berguna dalam bentuk yang telah diperbarukan. 😀

      Like

  10. bersapedahan says:

    sayang kalau generasi penerus tidak mau melanjutkan lagi …
    tapi mudah2-an dengan adanya dana desa yang katanya 1 M per desa dapat dimanfaatkan dengan benar dan membuat desa lebih sejahtera, para penduduknya mau stay dan berkarya memajukan desanya

    Like

  11. noerazhka says:

    Ngga banyak yang ngeh, kalo di desa kecil, yang (seringkali) terpinggirkan, justru punya potensi ekonomi yang bersumber langsung dari kearifan lokal. Simo menarik banget ya, Lim. Kapan-kapan mbok anterin melipir ke tepian Solo, biar aku ngga cuma tau Gudeg Margoyudan aja. Hehehe .. 😀

    Like

    1. Must visit Bekonang, trus visit Simo, trus visit Delanggu ya belom kan? 😉

      Like

  12. aku sih tetep suka kok sama anyaman kayak gitu, terlebih dulu waktu SMP pernah dapat kelas belajar ginian, kebayangd eh tuh gimana jerih payah bikinnya sampe jadi-jadi pada sakit 😀 kalo bahannya bagus, jelas lebih baik dari anyaman plastik kok

    Like

    1. iya sama, sampai sekarang gue masih koleksi besek anyaman bambu di kamar, tapi jadinya buat naruh kosmetik, kalung-kalung, dan lain-lain.

      makasih mas halim jadi tau kalau sumber anyaman bambu dll dari desa ini, mudah-mudahan bisa nyobain bikinnya juga. :)))

      Like

    2. Desa Simo salah satu desa penghasil kerajinan besek tersebut, tentu masih ada desa-desa lain yang menghasilkan kerajinan serupa. Tapi kalo Yuki pas mlipir ke Solo bolehlah mampir ke Desa Walen dan Desa Simo biar bisa melihat prosesnya secara langsung 🙂

      Like

    3. Apalagi menganyam irisan bambu, kadang tangan nggak sengaja kebeler atau kegores akibat serat halus bambu. Cintai dan beli product lokal di tempat produksinya langsung yuk biar mereka diuntungkan tanpa embel-embel barang jd mahal gegara setelah jatuh ke beberapa tangan *berasa jd om Markus Salim* 😛

      Like

  13. lindaleenk says:

    Aku suka sih sama anyaman-anyaman kayak gitu..

    Like

  14. Info yang menarik tentang Desa Simo di Boyolali ..

    Like

  15. Salman Faris says:

    bambu di kampungku populer banget, apalagi kursi malas juga terbuat dari bambu sam kipas buat ngipasin juga pakai bambu hahaha

    Like

    1. Di rumahku kipas bambu yang kudunya dibikin buat ngipasin sate juga alih fungsi sebagai kipas penghalau panas hehe

      Like

  16. winnymarlina says:

    aku suka Desa Halim karena aku orang Desa 😀

    Like

    1. Suasana di Simo masih desa khas Jawa banget, Win. Mesti mampir ke sini nih 🙂

      Like

  17. Ristyanto says:

    Simo emang mantap, teringat dari kecil saya dibesarkan disitu, suasana tenang penuh dengan kesederhanaan..predikat kota pelajar emang pantas disematkan liat aja kl pagi atau menjelang bubaran sekolah disemua sisi jalan isinya anak sekolah..kota kecamatan dengan sekolah baik negeri dan swasta yg banyak tp bermutu…

    Like

    1. Senang dan ucapkan terima kasih telah mendapat kunjungan dari mas Ristyanto yang pernah tinggal dan besar di Simo. Semoga Simo menjadi contoh bagi desa-desa yang lain agar memahami pentingnya pendidikan untuk anak. 🙂

      Like

  18. Betewe suamiku ikutan bamboo biennale loh Mas, sama kantornya, Akanoma. Tahun 2014 bikin rumah Kowangan. Tahun ini bikin bbuled.

    Bambu ini kan termasuk produk ramah lingkungan yaa.. Suamiku pengen bikin rumah bambu juga. Cm ya mesti nunggu rezeki, hihihi…

    Kalo dulu di tempat saya, kalo ada punjungan berkat, biasanya pake besek bambu. Skrg dianggap ketinggalan jaman dan orang2 lebih suka yg praktis pakai ceting plastik. Sayang yaa.. 😦

    Like

    1. Ahhh Akanoma itu kantor suami mbak Rinta? Waaa waaa aku kemarin juga tulis tentang Bamboo Biennale 2016, dan salah satu favoritku itu ya naik di atas bale yang sepintas atapnya mirip rumah adat Lombok itu hehehe. Keren banget kalau kesampaian bikin rumah bambu, jangan lupa undang saya kalau sudah jadi. 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s