Benteng Speelwijk

Pernah dibangun sebuah benteng dengan tembok setinggi tiga meter sebagai benteng pertahanan Belanda di pantai utara Provinsi Banten. Benteng tersebut terletak di Kampung Pamarican, sekitar enam ratus meter dari kompleks Keraton Surosowan, Serang. Benteng Speelwijk yang dibangun pada tahun 1683 ini sekaligus menandai era kejatuhan Kesultanan Banten.

Dikisahkan sekitar tahun 1680 terjadi perebutan kekuasaan antara raja yang bertahta tahun 1651 – 1682, Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya yang bernama Sultan Abu Nashar Abdul Qahar ( Sultan Haji ). Perselisihan tersebut dimanfaatkan oleh VOC yang membantu Sultan Haji duduk sebagai pemimpin Kesultanan Banten mulai dari tahun 1683 hingga 1687. Sebagai bentuk pengawasan Hindia Belanda terhadap laju perekonomian dan politik Kesultanan Banten, dibangunlah sebuah benteng di sebelah barat laut Keraton Surosowan.

Benteng Speelwijk di Banten
Benteng Speelwijk

Diberi nama Speelwijk sebagai bentuk penghormatan Gubernur Jenderal Cornelis Janszzon Speelman yang bertugas di Hindia Belanda pada tahun 1681 – 1684. Benteng Speelwijk dibangun di atas reruntuhan tembok Keraton Surosowan pasca penyerangan Sultan Ageng Tirtayasa dengan material yang tidak jauh berbeda dengan bangunan sebelumnya. Batu karang, batu bata merah sebagai material utamanya.

Rancangan Hendrik Lucaszoon Cardeel ini memiliki denah persegi panjang tidak simetris yang dilengkapi dengan bastion di tiap sudutnya, basement untuk gudang logistik, ruang penyimpanan senjata serta dikelilingi oleh kanal guna mencegah dan memperlambat musuh yang akan memasuki area benteng. Konon pembangunan yang berlangsung selama 4 tahun ( 1683 – 1686 ) banyak memakan korban termasuk etnis Tionghoa yang diperbudak di sini. Bukti keberadaan pemukiman etnis Tionghoa bisa dilihat di Kelenteng Avalokitesvara yang dibangun bersebelahan dengan Benteng Speelwijk.

menara bastion Benteng Speelwijk
menara pandang Benteng Speelwijk

Kini benteng dengan tembok setebal satu meter dalam kondisi yang agak memperihatinkan. Belum menjadi cagar budaya yang diperhatikan oleh pihak berwajib, sehingga Benteng Speelwijk bernasib sama seperti kebanyakan benteng-benteng peninggalan masa VOC maupun saat bangsa Belanda menduduki Nusantara (Indonesia).

Jangan heran jika melihat bastion atau menara pantau di Benteng Speelwijk telah dihiasi oleh corat-coret vandalisme yang dilakukan pihak tak bertanggung jawab. Lalu kanal berubah fungsi menjadi tempat penampungan sampah. Beberapa tenda biru juga dibiarkan berdiri di beberapa sudut halaman benteng. Pedagang kaki lima yang semula berdagang di kawasan Masjid Banten sudah melebarkan sayap hingga Benteng Speelwijk.

Terus mengeluh dengan ketidak pedulian pihak berwajib memang melelahkan. Maka dari itu stop mengeluh karena masih banyak yang bernasib lebih buruk. Kenali dan perkenalkan mereka sebelum semua terlambat untuk diatasi. 😉

Save our heritage…
________

Note: Baca lebih banyak tentang benteng peninggalan Belanda yang masih tersisa di Indonesia
–> https://jejakbocahilang.wordpress.com/category/heritage-2/fort-admirer/

Advertisements

39 Comments Add yours

  1. Kesadaran untuk merawat benda peninggalan sejarah seperti memang masih tipis. Mungkin karena yg terlibat di sana tak melihat manfaat jangka panjangnya…:(

    Like

    1. Padahal bisa digunakan sebagai museum atau bangunan penting lain terkait dengan sejarah ya 🙂
      Jadi penasaran dengan kondisi benteng di Padang nih… ntar kalo mo mlipir Sumbar mesti konsultasi sama tante Evi dulu hehe

      Like

  2. mawi wijna says:

    Kok agak memprihatinkan? Klo menurutku sih memprihatinkan Bro.

    Ah, tapi aku lebih mencermati perselisihan antara ayah dan anak itu. Mungkin si anak berpikir kalau bekerja sama dengan pihak asing bakal lebih menguntungkan ya? Sama seperti di jaman sekarang. Ramai-ramai bekerja di korporat asing hanya demi mengejar gaji yang tinggi.

    Saya paham lah….

    Like

    1. Benteng di Ambarawa malah wes jadi sarang walet binaan e angkatan bersenjata lo. Luih menyedihkan mana, Wi? Hehehe.

      Eh bener juga perbandinganmu… masyarakat sekarang lebih bangga bisa kerja dgn pihak asing karena iming-iming gaji tinggi, nggak beda jauh dengan kasus di atas 🙂

      Like

  3. Dita says:

    lohh kamu kapan kesininya kak?
    pas aku kesini malah dipake main bola sama pacaran sama abg2 sekitar hikss 😦
    terus aku pacaran sama siapa? #LHOH

    Like

    1. noe says:

      Wkwkwk, Dita, aku setiap kesini selalu nemui yg pacaran. :p main bola jg sering. Merasa malu sbg warga Serang, tp gk bs berbuat banyak. 😦

      Like

    2. Waini mbak Noe, nyonya rumah Serang 😀

      Like

    3. noe says:

      Kamu blm nginep d rmh ku ah, ngga afdol 😀

      Like

    4. Dita says:

      Gimana lagi ya mba, pemerintahnya jg gak peduli 😦

      Ahh pokoknya hrs mengagendakan ke Serang lagi nih buat main ke rumah mba Noe 😀

      Like

    5. noe says:

      Iya Dita, haruusss… Mampir ke gubug hihi

      Like

    6. Mlipir Benteng Speelwijk akhir tahun kmrn tp baru ditulis sekarang hihihi.
      Brarti mesti balik sana bareng mas bojo, Dit…. biar nggak ngenes amat bersanding sama abg abg-nya 😛

      Like

    7. Rifqy Faiza Rahman says:

      Selama keliling Banten Lama bareng Om Tio dan kakak, saya berulang kali ngenes dan ngelus dada melihat kondisi di kawasan cagar budaya ini 😦

      Btw, saya sudah pernah nginep di rumahnya Mbak Noe loh haha. Dan saya kemarin pas digonceng Om Tio, sempat bilang “Om, om maju aja deh jadi Gubernur Banten, gantiin si Atut tuh!” 😀

      Like

  4. Bama says:

    Belanda tuh memang di mana-mana strateginya sama, mereka jeli melihat perselisihan di dalam keluarga/antarkeluarga kerajaan-kerajaan di Nusantara. Kadang justru mereka lah yang memercikkan api konflik.

    Melihat kondisi peninggalan sejarah di Indonesia memang banyak yang memprihatinkan. Padahal kunjungan ke tempat-tempat semacam ini bisa mengingatkan kita semua mengenai sejarah, mengenai perpecahan di Nusantara, sehingga hal yang sama tidak terulang kembali di Indonesia saat ini.

    Like

    1. Betul banget, Bama. Seperti halnya kerajaan Mataram Islam yang pecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta gegara ulah Belanda. Lalu masing-masing masih dipecah jadi dua lagi, Mangkunegaran dan Pakualaman.

      Tanpa sejarah masa lalu, kita tidak akan menjadi bangsa yang besar seperti sekarang. Ahh semoga mindset keliru, penyampaian dari pendidik, tata ruang sebuah museum yang membuat anak muda enggan belajar sejarah masa lalu bangsanya bisa diluruskan. 🙂

      Like

  5. Gara says:

    Speelwijk adalah satu benteng di barat Jawa yang selalu ingin saya kunjungi. Doh, kondisinya mengenaskan. Saya harus cepat-cepat ke sana untuk mengunjunginya! Kalau tidak salah, di dekatnya juga ada pemakaman kolonial ya, Mas?

    Like

    1. Kompleks kerkoof-nya sejauh ini masih menyisakan bentuk meski beberapa sudah nggak kelihatan tulisan namanya. Kemarin saya cuma sempat lihat yang ada di dekat gerbang benteng aja, belum mblusuk ke bagian yang lebih dalam. Rencana mau ke sana lagi nih 🙂

      Liked by 1 person

  6. Salman Faris says:

    Duh sayang banget ya, kalau di indonesia ini perawatan untuk apapun masih sangat lemah banget, nanti pas udah rusak baru deh nyalahin ini itu, padahal kita sendiri yang ngga ngejaga, nice share

    Like

  7. Sayang Banget emang, kurangnya sosialisasi di sekolah mungkin menjadi salah satu faktor juga, ingin terlihat eksis di cagar budaya haha.

    Salam EnjoyBackpacker

    Like

    1. Kebanyakan sekolah masih mengajarkan ilmu sejarah dari sudut pandang perjuangan kerajaan, belum memberikan pengetahuan dari sudut pandang kolonial yang sudah terlanjur dicap penjajah Nusantara selama ratusan tahun hehehe… Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  8. keren, menginspirasi saya untuk jelajah benteng di Indonesia.
    semoga semakin banyak orang yang peduli dengan peninggalan historis kita! 🙂

    Like

    1. Jelajah benteng dan mercusuar di Indonesia terdengar menarik, Yuki 🙂

      Like

    2. oh iya, bener mercusuar! *kemudian googling* 😛

      Like

  9. mysukmana says:

    nih benteng se indonesia klo direnov semua kayak jogja kayaknya bisa jadi tempat wisata yang bs ngasih pendapatan daerah dah mas…

    Like

    1. Sejauh ini baru Benteng Vredeburg dan Benteng Rotterdam di Makassar yang sudah dimanfaatkan sebagai museum, lainnya masih begitu deh 😀

      Like

  10. rahayuasih says:

    Saya sebagai warga Banten pun turut prihatin melihatnya. Pemerintah kurang memperhatikan tempat bersejarah ini. Andai saja tempat wisata bersejarah lebih diperhatikan akan menjadi pemasukan yang menguntungkan dari segi Pariwisata 😦 (*salam kenal)

    Like

    1. Menurut saya peninggalan sejarah Banten keren-keren. Kemarins empat lihat koleksi museumnya juga lumayan detail penjabarannya. Salam kenal juga 🙂

      Like

  11. Avant Garde says:

    mas halim…. anterin aku blusukan solo yuk 😀

    Like

    1. Kapan mau ke Solo kabari-kabari mas 🙂

      Like

    2. Avant Garde says:

      baru banget pulkam, tapi gak kemana2 mas hehe

      Like

  12. Hamid Anwar says:

    Bentengnya bagus ya.. Kalo disana status tanahnya milik siapa, Mas? Sayang sekali kalo belum dimanfaatkan.. Good post!

    Like

    1. Cuma ada papan pengesahan cagar budaya, tapi nggak jelas milik pemerintah atau perorangan. Wajib ke sana, Hamid… mumpung belum rata dengan tanah hehehe

      Like

  13. “Terus mengeluh dengan ketidak pedulian pihak berwajib memang melelahkan. Maka dari itu stop mengeluh karena masih banyak yang bernasib lebih buruk. Kenali dan perkenalkan mereka sebelum semua terlambat untuk diatasi”

    Bener mas,lelah, dan bagi saya (yang domisili di serang) rasanya menyedihkan,tiap blogger yg post tentang peninggalan sejarah di sini,pasti ujung-ujungnya “menyayangkan” 😦

    Liked by 1 person

    1. Tapi jangan menyerah untuk terus mengenalkan potensi wisata Banten, karena peninggalan kesultanan Banten sungguh terlalu indah, sayang untuk dilupakan sejarah masa lalunya. Dengan banyaknya kunjungan yang peduli dengan sejarah niscaya akan membuatnya lebih diperhatikan oleh pihak berwenang dan akan menjadi lebih baik daripada sekarang 😉

      Like

  14. ndop says:

    Bhahaha… mungkin orang indonesia ini dendaman. Jadi bangunan belanda dibumi hanguskan secara pelan2. Padahal ya gak salah apa apa toh bangunannya. Ngenes wis pokoke. Mugo2 gak enek bencana..

    Like

    1. Ting tong… Hooh, kebanyakan isih termakan omongan Indonesia dijajah selama sekian ratus tahun, jadi menyisakan dendam ra jelas hahaha. Padahal bangunan sisa pendudukan negara asing ini bisa dijual sebagai objek wisata kaya di negara tetangga. Nggak perlu lagi fokus jualan wisata alam aja kan? 😉

      Like

    2. ndop says:

      Hahhaha benerrr.. Lha nek gak dijajah londo khan awake dewe gak mungkin nduwe rel sepur. Hhahaha

      Liked by 1 person

  15. lost in science says:

    Pernah kesini nih dulu…. sedih ya.. :((((((((

    Like

    1. Andai diperbaiki dan diberi keterangan sejarahnya pasti bisa jadi destinasi wisata menarik yang nggak kalah dengan benteng di luar negeri ya 🙂

      Like

    2. lost in science says:

      yeah I think so bro… padahal… ah sudahlah… :)))

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s