Kreasi Bahari Festival Jenang #270Solo

Kota Solo atau Surakarta tidak pernah berhenti memberikan pertunjukan atau festival yang memukau bagi penonton. Kreatif dalam menghadirkan acara-acara yang terlihat tidak biasa dilakukan di kota sebelah sehingga wisatawan yang baru pertama kali melihatnya selalu menyatakan kekagumannya. Tak jarang acara tahunan beberapa kelurahan yang tahun sebelumnya diadakan secara sederhana pun mendadak diberi kucuran dana agar terlihat lebih bagus dan bisa mendapat perhatian para pemburu berita.

memarut kelapa massal
memarut kelapa massal

Seperti tahun sebelumnya, pemerintah kota Solo mengadakan rangkaian Festival Jenang untuk menyambut hari ulang tahun kota. Selama tiga hari berturut-turut ( 15-17 February 2015 ) kawasan Ngarsopuro yang terletak di dekat Pura Mangkunegaran diramaikan kegiatan yang berhubungan dengan jenang. Mulai dari lomba memarut kelapa massal yang dilakukan para pelajar setempat pada saat Car Free Day berlangsung hingga lomba memasak jenang oleh anggota PKK tiap kelurahan di hari berikutnya.

Agar tidak terlihat membosankan, Festival Jenang tahun ini diberi tema “Kreasi Jenang Bahari” yang mengusung hasil kelautan sebagai pelengkap atau dasar dari jenang. Semula sempat ragu bagaimana jenang yang saya kira hanya berupa jenang sumsum, jenang grendul, jenang mutiara dan jenis lainnya bisa berpadu rasa dengan racikan hasil laut di dalamnya. Keraguan saya ditepis dengan munculnya adonan bubur gurih yang memenuhi stan-stan jenang pada puncak acara tanggal 17 February 2015 yang bertepatan dengan Hari Jadi Surakarta yang ke-270.

Welcome to Festival Jenang 2015
Welcome to Festival Jenang 2015

Pada dasarnya jenang merupakan adonan bubur kental, berarti tidak salah jika jenang bukan hanya berbahan dasar tepung beras atau jenis tepung yang lain. Bubur berbahan dasar beras yang diberi rasa gurih seperti bubur lemu pun bisa disebut jenang. Oh iya perlu diketahui bahwa jenang yang dipamerkan di Festival Jenang bukan jenis jenang dodol yang padat, meski ini juga termasuk kategori jenang. 🙂

Jenang dalam tradisi Jawa memiliki filosofi masing-masing, misalnya jenang mutiara yang memiliki arti mandiri, tidak bergantung kepada orang lain. Kemudian susunan jenang selama masa kehamilan pertama seorang ibu, jenang baning yang dikonsumsi saat usia kandungan satu bulan, jenang iber-iber untuk usia kandungan dua bulan hingga jenang procot jika kandungan sudah menginjak sembilan bulan. Masing-masing memiliki arti rasa syukur dan mendoakan agar prosesi kelahiran bayi berjalan lunyu ( halus ) seperti tekstur jenang.

Wilujeng Rawuh
Wilujeng Rawuh

Meski kesalahan tahun sebelumnya terulang lagi, seperti stan yang kecolongan start dalam membagikan jenang gratis. Sebelum kentongan dipukul oleh walikota sebagai penanda acara pembagian jenang gratis dimulai, ada beberapa stan yang mulai membagikan jenangnya. Pengunjung terus berdesakan menyodorkan tangannya ke penjaga stan jenang, padahal saat itu petinggi negara baru saja hadir dan bercuap panjang di atas panggung.

Hal itu semakin terlihat lumrah apalagi mengingat teriknya sinar matahari siang itu. Keterlambatan waktu yang semakin tidak bisa ditoleran mengakibatkan ketidaksabaran para pengunjung untuk mencicipi jenang aneka rupa yang sudah diletakkan di dalam pincuk daun pisang dan gelas plastik. Tiba-tiba di tengah kerumunan ada salah satu pengunjung mengenakan jaket parka menerobos kerumunan dan mengambil paksa satu pincukan isi jenang. Ahh… Apa mau dikata lagi?

lapak jenang perwakilan dari kelurahan di Solo
lapak jenang perwakilan dari kelurahan di Solo
in action
in action
hasil rayahan jenang GRATIS
hasil rayahan jenang GRATIS

Jenang tinutuan khas Manado, jenang salmon, jenang ikan kakap dan kreasi jenang bahari lain yang dibagikan GRATIS langsung menjadi rebutan para pengunjung. Tak terkecuali saya yang sedari awal sudah mengincar jenang suran kreasi dari Kelurahan Kemlayan. Perlu diketahui bahwa Kampung Kemlayan dulu dikenal sebagai kampung para seniman lho.

Jenang Suran sejatinya merupakan makanan yang dikeluarkan menjelang kalender Jawa jatuh pada 1 Suro, salah satu tradisi yang masih lestari hingga saat ini. Bubur dengan topping santan yang direbus sampai menyisakan ampas, jenang ini kemudian diberi bulatan terbuat dari campuran adonan kelapa parut dan gula jawa. Manis dan gurih berpadu rasa di dalam mulut. Nyum nyum…

Seru kan? Belajar tentang filosofi jenang, makan jenang gratis, hingga melihat antusias masyarakat yang luar biasa dalam sebuah festival di Kota Solo. Penasaran? Jangan lewatkan Festival Jenang tahun depan ya 😀

Advertisements

34 Comments Add yours

  1. Aku berpikir selama ini jenang itu makanan padat mirip dodol, yang kalo mau dinikmati harus diris dulu..Ternyata banyak sekali jenis jenang..Patutlah jika makanan ini difestivalkan…Tapi apapun lah bentuk jenangnya, sepanjang butuh rasa manis, jenang tak meninggalkan gula merah, kan kakak?
    Wkwkwkw..#promosiratugulaaren

    Like

    1. Jenang di Jawa masih sering digunakan sebagai salah satu bahan saat selametan seperti salah satunya tradisi Tingkeban ( Mitoni ) sehingga diangkat kembali lewat festival agar generasi muda nggak lupa budayanya.

      Iya betul banget, tante Evi bisa promosiin gula aren pas Festival Jenang. Kenapa baru kepikiran sekarang ya? Tahun depan bikin lapak jual gula aren yang menyehatkan di sana yuk 😀

      Liked by 1 person

  2. fyi, info dari kepala chef yg mengkreasikan jenang bahari, topping dari bahan2 seafood (ikan kakap, cumi-cumi, ikan gindara, dll) itu bukan cuma untuk jenang yg berbahan dasar beras (bubur nasi) saja, tapi enak juga dijadikan topping untuk jenang2 yg sudah manis seperti mutiara, ketan item, dll.

    sayangnya saya cuma di ceritain chef-nya aja, mau ikut berebut bwt nyicipin maless 😦

    Like

    1. Terus ngebayangin jenang grendul dicampur taburan ikan kakap. Nggak eneg ya? Maya mesti coba langsung nih biar bisa menghapus keraguanku atau kalau perlu samperin rumah chef-nya #ehh hahaha

      Like

    2. kyknya selama beberapa hari waktu itu juga di jual di omah sinten.. menurut sebagian orang sih memang rasa yang aneh, tapi kyknya cocok2 aja deh. Aneh is my middle name 😀

      Like

  3. Gara says:

    Saya tahunya cuma jenang sumsum karena dulu dikasih tetangga yang asli Jawa :hehe.
    Solo kreatif betul ya, Mas! Setiap kearifan lokal punya perayaannya sendiri, bagus sekali buat pariwisatanya. Salut buat Solo!

    Like

    1. Beberapa pasar tradisional masih ada banyak yang jual macam jenang meski tidak terlalu lengkap, bahkan sekarang ada juga rumah makan khusus yang jual jenang. Ahh jadi pingin nulis tentang rumah makan yang aku maksud nih 😀

      Like

    2. Gara says:

      Ayo, tulisannya ditunggu Mas :hehe

      Like

  4. Dian Rustya says:

    Waaahh, aku baru tahu klo jenang ini banyak macemnya.
    Selama ini tahunya jenang ya yang padat kayak dodol gitu.
    Yang kayak di foto postingan ini, di sini disebutnya bubur

    Jadi penasaran sama rasa jenangnya

    Like

    1. Beda daerah beda istilah ya rupanya, meski sama pulau hehehe. Berarti jenang mutiara, jenang sumsum di Tuban disebut bubur mutiara, bubur sumsum? Kalo bubur beras juga disebut “bubur” kah?

      Like

    2. Dian Rustya says:

      Iya Lim, ndek kene jeneng e Bubur Mutiara, Bubur Sumsum, Bubur Grandul, Bubur Kacang Ijo, dll. Bubur beras yo Bubur Beras (biasane gae bancak an nek bubur beras merah)

      Like

  5. mawi wijna says:

    Curhat ah. Aku belum nemu tempat jual jenang di Jogja yang varian jenangnya banyak. Kalau mau nyari jenang paling ya di pasar. Ada juga semacam waralaba di pinggir jalan gitu. Tapi bener-bener nggak ada tempat khusus yang menjual semua variasi jenang yang buka dari pagi sampai malam. Padahal kalau jenang diangkat jadi menu eksotik kafe-kafe kayaknya menjual banget.

    Like

    1. Solo juga baru satu tempat khusus yang jual aneka macam jenang setiap harinya, lbih dari itu sama, kudu cari di pasar tradisional.
      Wi, kenapa nggak coba buka lapak jenang di Yogya, siapa tahu sukses hehehe

      Like

  6. Aku rada eneg kalo makan jenang tapi acara nya seru macam karnaval gitu yaaa

    Like

    1. Om Cumi mesti datang pas Solo ada karnaval kayak gini, dijamin nggak rugi. Sekalian kulineran sampe perut buncit 😀

      Like

  7. Jenang pincuknya menggoda banget, mas!!! Udah lama nggak makan jenang, dulu paling suka kalau ada hajatan, suka dikasih kenduren yg isinya macem-macem jenang (duh, lupa apa namanya)

    Aku setuju Solo selalu mengadakan event-event kreatif, seperti Grebeg Sudiro dan wisata perahu air yg diceritakan mbak Yusmei.

    Like

    1. Inilah cara Solo menarik perhatian wisatawan biar mereka betah singgah lama. Tahu sendiri kota ini minim objek wisata, nggak punya banyak museum kayak di Yogya, kalo wisata alam mesti ke Karanganyar dulu hehe

      Like

    2. Tapi justru dari keterbatasan itu, Solo memacu diri lebih kreatif.

      Btw untuk city tour, menurutku Jogja dan Solo sama aja. Di Solo juga ada keraton, wisata belanja, wisata seni dan budaya, sejarah, bahkan kulinernya jauh lebih kaya 😀

      Like

  8. mysukmana says:

    wah jenengan di lokasi juga toh mas, temen dosen sekaligus chef juga ikutan kemaren. #kotasolo memang tak ada matinya.. 🙂

    Like

    1. Ngidam jenang suran jadi bela-belain dateng ke Festival Jenang tahun ini. Mudah-mudahan tahun depan diadain lagi dengan kreasi yang semakin menarik 😀

      Like

    2. mysukmana says:

      wah ngertio meet up yo mas 🙂

      Like

  9. Agung says:

    cuma pernah makan jenang sumsum doang. 😀

    Like

    1. Mesti coba jenang yang lain biar tahu kekayaan rasa jenang tradisional di Indonesia hehehe

      Like

  10. Lihat foto jenangnya langsung bikin ngiler, sayang udah ngga tinggal di Solo lagi 🙂

    Like

    1. Tahun depan masih ada kok, bisa nonton langsung atau mungkin malah jadi peserta yang jualan jenang hehehe

      Like

  11. kucingbloon says:

    cuma kesampean pembukaannya 😦

    Like

    1. Tahun depan datang lagi, To. Semoga aja puncak acaranya pas weekend hehehe

      Like

  12. arip says:

    Taunya cuma jenang yg versi dodol.

    Like

    1. Inilah keragaman Indonesia. Bahkan sebutan tiap daerah berbeda-beda, seperti Solo yg menyebutnya jenang, kalau sebutan bubur lebih kepada nasi encer 🙂

      Like

  13. momtraveler says:

    Penasaran banget sama festival jenang ini. Tahun kemaren ga bisa dateng moga2 tahun ni bisa ah. Tapi kalo liat ramenya kayanya sebelum makan jenang kita jd cendol ya mas hehehe…

    Like

    1. Kudu pakai strategi kalo mo antre di Festival Jenang. Pertama bawa wadah plastik atau tupperware, lalu incar stan yg punya jenang uenak. Langkah selanjutnya berpanas ria nunggu di depan stan tersebut sampai rayahan jenang dimulai hehehe.

      Pertama sih seneng ikut rebutan, pas tahun kemarin malah keasyikan ekspresi lucu pengunjung yang rayahan, fotogenik semua hahaha 😀

      Like

  14. Satya Winnie says:

    Aku mau Jenangnya. Kirim ke Jakarta dong Lim :p

    Like

    1. Hahaha rasanya nggak enak kalo dikirim ke Jakarta. Enak langsung dimakan di sini, ngerasain desak-desakan bareng ibu-ibu pas rayahan jenang. Itu baru SERU! 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s