Jalur Spoor ( Masih ) Terabaikan

Tak disangka 28 September 2014 lalu saya kembali berkesempatan menelusuri jalur mati kereta api di Magelang yang digagas oleh komunitas Kota Toea Magelang ( KTM ). Jika tahun lalu peserta harus berjalan kaki mblusuk sawah dan berbecek ria dari Stasiun Secang menuju Stasiun Candi Umbul. Kali ini peserta dibawa menelusuri jalur spoor dengan jarak tempuh hanya sekitar lima belas kilometer diwarnai pemandangan perkebunan kopi, persawahan, serta rumah-rumah liar di lahan PT KAI.

ready to go...
ready to go…

Setelah briefing singkat pukul setengah delapan pagi, puluhan peserta yang sudah hadir dibagi menjadi beberapa kelompok untuk kemudian naik ke angkutan kota yang akan membawa kami menuju Stasiun Bedono yang ditempuh selama empat puluh lima menit dari pusat kota Magelang. Stasiun ini terletak agak menjorok ke dalam sehingga kami harus melewati beberapa rumah warga di lingkup halaman stasiun.

Dandanan kami tidak seperti gerombolan Satpol PP, namun beberapa warga yang tinggal di rumah-rumah sekitar stasiun memandang heran bahkan ada yang terkesan takut dengan kedatangan saya dan peserta yang lain. Ahh ternyata sebagian dari mereka masih dihantui berita pengusuran penghuni lahan PT KAI yang sedang ramai diperbincangkan. 🙂

Stasiun Bedono
Stasiun Bedono

Pagi itu juga terlihat para pekerja yang sibuk menambal dinding retak stasiun, menyusun batu bata untuk penataan taman yang lebih indah di sekitar stasiun. Rupanya sudah ada perintah dari pusat untuk menghidupkan kembali jalur Magelang – Semarang, dan proyek tersebut sudah dimulai di Stasiun Bedono.

Jalur kereta pertama kali dibangun di Semarang pada tahun 1864 dengan jalur sepanjang 26 kilometer menuju Tanggung yang dibangun oleh perusahaan swasta Belanda bernama NIS ( Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij ). Belanda membutuhkan waktu 60 tahun untuk membangun jalur rel sepanjang 1.518 kilometer di Jawa Tengah, namun sayangnya sekarang hanya tersisa 894 kilometer saja yang masih aktif. Jalur yang tidak aktif bisa terlihat di jalur Semarang menuju Yogyakarta dimana melewati Ambawara, Temanggung, Secang, Magelang dan Muntilan.

Tak lama kemudian Pak Jumadi selaku kepala Stasiun Bedono memberikan sambutan. Sayangnya tak banyak cerita yang dilontarkan terkait dengan sejarah berdirinya Stasiun Bedono. Beliau hanya mengatakan bahwa stasiun sudah tidak berfungsi sejak puluhan tahun silam, selebihnya tidak tahu-menahu. Hanya bisa mengambil kesimpulan sendiri bahwa Stasiun Bedono dibangun sekitar tahun 1903 – 1905 seperti stasiun-stasiun lain yang tersebar di kabupaten Magelang.

Dari Stasiun Bedono, puluhan peserta akan memulai perjalanan menelusuri jalur kereta yang sudah mati di sepanjang Bedono hingga Candi Umbul. Total ada empat stasiun yang akan dilewati, yaitu Stasiun Bedono, Stasiun Gemawang, Grabag Merbabu dan Candi Umbul sebagai titik akhir.

Pemandangan di awal perjalanan tak jauh beda dengan Djeladjah Djaloer Spoor yang pernah saya ikuti tahun lalu, banyak terlihat pemukiman liar warga di sepanjang jalur spoor sampai jejak rel yang nyaris hilang karena sudah tertutup aspal. Berjalan lebih jauh dari kawasan Dusun Krajan pemandangan berubah menjadi area perkebunan kopi, terkadang melintasi jalan setapak dengan semak belukar di samping kanan dan kiri.

Tapi ada yang beda dengan jalur spoor kali ini… Jalur Rel Gigi atau rack railway mendominasi jalur awal menuju Stasiun Gemawang. Sistem rel pegunungan ini digunakan untuk membantu laju kereta terutama lokomotif uap saat akan melintasi dataran lebih tinggi dengan evalasi kemiringan sekitar 6%. Rel serupa bisa dijumpai di Lembah Anai, Sumatera Barat. Keren kan?

Sayangnya sistem ciamik yang dibangun lebih dari seratus tahun lalu sudah dalam kondisi mengenaskan. Nyaris semua rel gigi sudah dililit semak belukar, bahkan ada yang sudah tertutup oleh cor semen rumah warga maupun aspal jalan raya. Selalu timbul perasaan miris saat melakukan kegiatan Djeladjah Djaloer Spoor, saya hanya bisa geleng kepala karena kurang pedulinya PT KAI terhadap jalur kereta yang telah dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Mungkin ada banyak alasan dari PT KAI mengapa jalur kereta api yang menghubungkan beberapa kota di Indonesia terutama Pulau Jawa dan Pulau Sumatera dihentikan operasionalnya. Tapi bukan berarti mereka dengan mudah membiarkan jalur kereta api tertutup aspal, ditumpuk hunian warga, stasiun kuno mangkrak menjadi kawasan kumuh. Mungkinkah harga tiket mahal kereta api jenis argo-argo yang naik turun seperti mata uang dollar beberapa tahun silam membuat PT KAI merugi? #hening

Setelah mendapat pemimpin yang punya pola pikir panjang, barulah mereka bingung mencari sosok yang disalahkan, bingung mencari seribu cara mengusir warga yang terlanjur mangkrak puluhan tahun, kalut mengumpulkan dana yang tidak lagi sedikit dalam menghidupkan kembali jalur mati yang telah dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Ahh Indonesiaku…

jalur rel gigi di Dusun Selo
jalur rel gigi di Dusun Selo

Kembali ke KTM…

Tetesan keringat yang membasahi baju berimbang dengan terik matahari siang itu. Satu jam berjalan kaki sudah cukup membuat beberapa peserta terlihat kelelahan meski jalan yang dilalui tidaklah curam apalagi terjal memotong perbukitan. Setelah melewati Dusun Selo, saya dan kawan yang lain berhenti di pos peristirahatan sembari merebahkan tubuh di sebuah tanah lapang. Banyak yang bertanya ke Mas Bagus selaku koordinator KTM, dimana letak Stasiun Gemawang? Rupanya terduga Stasiun Gemawang adalah jajaran kandang ayam yang barusan kami lewati sebelum tiba di pos peristirahatan! Hal ini dibuktikan dari beberapa jalur rel yang masih menyembul di atas permukaan tanah.

( terduga ) Stasiun Gemawang
( terduga ) Stasiun Gemawang

Perjalanan masih panjang… Mata kembali dihibur oleh pohon-pohon kopi, jembatan baja yang kokoh membentang di atas aliran Sungai Elo, hamparan persawahan Magelang yang tak kalah indah dengan Ubud, Bali. Sapaan ramah dari petani dan penduduk sekitar ikut menambah keasyikan perjalanan kali ini. Kapan lagi bisa merasakan keramahan yang sudah semakin langka di perkotaan kan?

Satu setengah jam kemudian satu-persatu peserta tiba di SMP Ma’arif Grabag yang beralamatkan di Jl Pagonan no 12 Sidogede, Grabag. Perlu diketahui bahwa bangunan yang sudah difungsikan sebagai tempat pendidikan ini dulu adalah Stasiun Grabag Merbabu. Kondisi sekarang, bangunan inti stasiun masih terlihat utuh dan menjelma menjadi kantor guru dan perpustakaan sekolah. Sedangkan tiga jalur kereta masih berbekas meski sudah ditutup oleh tegel demi kenyamanan proses belajar-mengajar.

Kaki kembali melangkah menelusuri jejak rel dari Stasiun Grabag menuju Stasiun Candi Umbul. Saya harus berjalan sekitar satu jam lagi untuk mencapai titik akhir Djeladjah Djaloer Spoor. Oh iya, puluhan tahun yang lalu ada jalur kereta khusus untuk mengangkut noni dan sinyo Belanda dari Stasiun Secang menuju Stasiun Candi Umbul, sayangnya sekarang stasiun sudah tinggal puing-puing saja. Hanya Candi Umbul saja yang masih dianggap cagar budaya dan mampu memberikan kontribusi ke pemerintah setempat.

Setibanya di komplek Candi Umbul, saya langsung merendamkan kaki ke dalam kolam besar berisi mata air panas dari pegunungan tersebut. Pegal di kaki serasa menguap. Rasa lelah yang menguap bukan pengalaman seru berjalan kaki menelusuri jalur mati kereta api. 😉

Stasiun Candi Umbul
Stasiun Candi Umbul
Candi Umbul
Candi Umbul

Berjalan kaki dari Stasiun Bedono menuju Stasiun Candi Umbul kembali membuka pikiran saya akan jalur mati kereta api di Jawa Tengah khususnya jalur Magelang – Ambarawa. Tentu masih ada banyak jalur mati di beberapa kota di Pulau Jawa. Masih ada puluhan stasiun dan halte yang sudah menjadi kawasan kumuh atau bahkan sudah rata dengan tanah. Mereka masih butuh dukungan…

Juga masih terus berharap PT KAI tidak putus asa dalam menghidupkan jalur mati sebagai jalur kereta wisata dengan iming-iming pemandangan indah pegunungan, hamparan sawah dan perkebunan yang mampu membuai wisatawan. Harus ada harapan besar untuk membuat perkeretaapian tertua kedua di Asia setelah India ini kembali bergairah, bukan hanya memikirkan keuntungan perusahaan semata.

Cheers and Peace!

Advertisements

38 Comments Add yours

  1. karena hal seperti inilah yang membuat kita mengerti betapa kita harus lebih mencintai negeri

    Like

    1. Betul sekali… melihat, mendengar dan merasakan kepahitan tersebut justru jadi pemacu semakin cinta Indonesia 🙂

      Like

  2. Andaikan benar2 dihidupkan kembali, jalur ini bisa jadi magnet turis. Apalagi kalau misalnya memungkinkan, jalurnya diteruskan sampai ke Yogyakarta dan Solo.

    Like

    1. Warga Yogya nggak perlu lagi capek naik bus dan nggak perlu harus ke Solo terlebih dahulu untuk naik kereta api jurusan Solo-Semarang. Semoga rencana-rencana manis PT KAI nggak kabur bersamaan dengan pergantian jajaran pemimpinnya 🙂

      Like

  3. Alid Abdul says:

    eh di Kecamatanku Ploso juga ada loh bekas rel kereta api jurusan Jombang Babat Tuban katanya. Gak tahu pasti juga tp bekas jembatannya aja ada di sungai brantas, wlo relnya ilang. nah stasiunnya sekarang jadi pasar loak dan uda byk banguna permanen. dulu waktu kecil sepanjang jalur itu msi banyak rel bekas, sekarang kegusur bangunan ato bahkan uda dikiloin haaha. padahal jalur jombang babat itu lewat dataran tinggi loh, pasti indah pada masanya 😦

    Like

    1. Gugling terus ketemu kenyataan bahwa Stasiun Babat punya jalur Jombang – Pare – Kediri kemudian Tuban – Merakurak – Rembang!! *mata berbinar*
      Lid, cariin info bangunan tua di sekitar Babat donk, cariin kampung tua di Jombang donk hahaha

      Like

    2. opo iki ngomong ngomong babat?

      Like

    3. Woh iya ya… jebule Babat ini Babat asalmu ya? Lagi nyadar kih 😀

      Like

    4. hahaha main main koh kapan-kapan kalo aku pas di rumah tapi, entar sekalian ngeliat proses pembuatan wingko 😀

      Like

  4. Yasir Yafiat says:

    Di kotaku (Kudus) juga ada stasiun bekas peninggalan belanda yang sekarang dijadikan pasar. Banyak juga rel kereta yang sudah tertutup aspal jalan dan tanah.

    Like

    1. Duhh sayang banget, padahal itu jalur kereta api dari Demak – Kudus yang harusnya bisa mengurangi kemacetan di pantura

      Like

    2. Yasir Yafiat says:

      Betul mas… Kabar-kabarnya sih ada wacana mau di aktifkan kembali..
      yang di demak, stasiunnya di bikin restauran.

      Like

  5. indrijuwono says:

    aku tuh selalu tinggal dekat jalur kereta api loh, jadi kayaknya kereta ada di sebagian hidupku. semacam penantian menuju stasiun gituu..

    Like

    1. Wahh keren nih tempat tinggalnya… Saran dariku, jangan kelamaan menggalau di depan jalur kereta ntar pas ditelpon mas pacar nggak kedengeran, kak 😀 😀

      Like

    2. indrijuwono says:

      Kalau sekarang lumayan kok sekilo dari rel. Jadi kalau ditelpon mas pacar gak keganggu #eehhh

      Like

  6. Adie Riyanto says:

    Stasiun Bedono ini sekilas mirip setting film apa gitu ya? Kayaknya OK kalau memang dihidupkan kembali. Selain moda transportasi yang semakin beragam, kalau melihat viewnya gini, bisa deh mendatangkan wisatawan. 🙂

    Like

    1. Ehmm bukan mirip setting dunia lain kan? Hehehe…
      Betul… jika dianggap merugi sebagai jalur transportasi umum, sebenarnya bisa diakali dengan penggadaan kereta wisata seperti di Stasiun Ambarawa beberapa tahun silam. ( kondisi terkini Stasiun Ambarawa masih renovasi 4 tahun belum kelar ) 🙂

      Like

  7. buzzerbeezz says:

    Itu masih aset-aset PT. KAI kan Lim? Tapi kok ada yang udah jadi sekolah?

    Like

    1. Nalarnya semua yang ada di jalur kereta itu aset milik perusahaan tersebut, tapi entah kenapa perusahaan sebelumnya di masa orba, PJKA ( Perusahaan Jawatan Kereta Api ) dan PERUMKA ( Perusahaan Umum Kereta Api ) cuek bebek bahkan anggap rel-rel itu nggak ada gunanya bagi Indonesia.

      Setelah ganti nama jadi PT KAI barulah bingung memulai semua itu dari nol… kelabakan urus aset, kesusahan usir penghuni liar di sepanjang rel serta bingung urus hukum ke instansi yang sudah membeli stasiun…

      Like

  8. Oh sedihnya 😦 btw, aku baru tahu kalau sepur itu spoor…

    Like

    1. Biaya jutaan gulden untuk jalur spoor di Nusantara pada masa pemerintahan Hindia Belanda disia-siakan… ada inisiatif bikin baru pun pasti nggak akan sama kualitas dengan yang lama… hiks

      Like

  9. yusmei says:

    ayo kita dukung PT KAI biar bener2 menghidupkan jalur2 yang sudah mati 😀

    Like

    1. Tapi… direktur PT KAI nya barusan hijrah ke level lebih tinggi… kita dukung Mas/ Mbak Sepur lewat sms boleh nggak? Hahaha

      Like

    2. ketik dukung_sepur kirim ke 1234567890

      Like

  10. Padahal jalur kereta api Semarang – Magelang – Yogyakarta itu dibutuhkan lho. Serius. Kami lelah harus ke Semarang selalu via Solo, nggak bisa langsung. Menurutku bakal tetap profitable meski bukan kereta wisata.

    Tapi, aku sudah puas dengan kinerja PT KAI sekarang. Kereta api ekonomi sudah ber-AC dan tidak desak-desakan, ada colokan listrik pula. Tiket juga bisa dibeli online. Di Malaysia, kereta apinya tidak dilengkapi fasilitas charging. Kalau mau book online, harus kirim email ke KTM. Sementara Vietnam malah belum melayani pemesanan kereta secara online.

    Aku yakin sih, sistem perkeretaapian kita bisa lebih baik lagi 🙂

    Like

    1. Yang masih belum fair itu tarif kereta api, misal harga tiket Yogya-Solo sama dengan Klaten-Solo. Apalagi kereta jarak jauh… Jakarta-Malang mungkin bisa sama dengan Yogya-Malang.
      Andai harga disesuaikan jarak seperti MRT di Singapore mungkin jadi tambah sipp dan makin banyak yang cinta kereta api dah 🙂

      Like

    2. Oh ya? Wah, aku belum tahu soal itu. Belum pernah mengalami.
      Yup. Same hope. Aku sendiri mengharapkan jalur kereta api bisa digunakan sebagai moda transportasi intracity 🙂

      Like

  11. Bang Ardin says:

    Semoga geliat PT KAI terasa sampai di luar jawa….

    Like

    1. Jalur Bandar Lampung ke Pekanbaru sudah lancar belum ya? Ahh tetep berharap salah satu kebanggaan Sumatera, Mak Itam dihidupkan kembali…

      Like

    2. Bang Ardin says:

      sepur di sumatra cuma di lampung-palembang, di sumbar, dan medan… sisanya belum ada 😦 …

      Like

  12. ahhh baru baca postingan ini koh Halim :3
    kapan-kapan cobain naik kereta dari stasiun Ambarawa koh 😀
    tapi kayaknya harus reservasi dulu apa gimana gitu 😀
    ada web-nya kok, malah ada kereta wisata Ambarawa – Tuntang – Bedono 😀

    Like

    1. Dulu udah pernah naik kereta wisata ( bukan kereta uap ) dari Stasiun Ambarawa ngelewatin Rawa Pening, tp bukan yang arah Tuntang, arah mana ya itu? malah ganti nanya… Hehe

      Like

    2. ke arah Kedungjati kalo nggak salah. ada juga itu koh.
      wtf aku malah durung tau. kemaren ke Ambarawa ada yg mau pake loko uap gitu. anjir pengen

      Like

  13. Wahh sayang bgt jalurnya terbengkalai gt.pdhl seandainya moda KA di Indonesia bgs , terawat Dan mengcover banyak daerah, org2 pasti lbh suka naik KA -_-

    Like

    1. Akses ke semua kota dengan hasil bumi melimpah hampir ada jalur kereta apinya. Sayang sejak zaman orba diterlantarkan oleh kementerian yg menaunginya. Setelah mangkrak puluhan tahun dan ditempati rumah-rumah liar, barulah kini kelabakan akan mengembalikannya seperti sedia kala… 🙂

      Like

  14. Ahmad says:

    sayang ya mas jalur KA nya udah nggak aktif lagi …..

    Like

    1. Jalur kereta di sebagian Pulau Jawa dan Sumatera banyak yang tidak aktif karena pengaruh besar kendaraan roda empat dan roda dua yang semakin memudahkan perjalanan bagi sebagian besar masyarakat yang memburu waktu. Satu-persatu mulai diaktifkan kembali oleh pemerintah dan semoga semua jalur kereta mati bisa ikut aktif. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s