7 Tempat Menarik di Alun-Alun Utara SOLO

Setiap kota punya kesempatan yang sama untuk berkembang menjadi sebuah tujuan wisata. Semua tergantung bagaimana wisatawan memandang suatu tempat yang belum mainstream dan kepedulian pihak berwajib dalam menyikapinya.

Surakarta atau akrab dengan sebutan Solo belum menjadi sebuah kota wisata yang booming seperti kota sebelah. Kota BERSERI ini tidak hanya punya wisata keraton, dan pusat belanja batik saja, masih punya beragam kuliner tradisional serta banyak hal-hal kecil nan sepele yang bisa digali menjadi tujuan wisata yang mumpuni.

Hanya bisa berbagi cerita di sini… Hanya bisa berharap akan membantu Solo semakin padat wisatawan bukan lagi pebisnis dan penanam modal yang hilir-mudik menghancurkan kekunoan sebuah kota…

( Tulisan ini dimuat di www.jakpost.travel dengan judul Seven places to explore in Surakarta’s Alun-Alun Utara yang sudah diterjemahkan dalam bahasa English. )

Gapura Utara Keraton Surakarta
Gapura Utara Keraton Surakarta

Alun-alun menjadi sebuah syarat dari keraton Mataram Islam, Keraton Surakarta Hadiningrat sendiri mempunyai dua alun-alun yang terletak di sebelah utara dan selatan benteng keraton. Masing-masing alun-alun memiliki halaman berumput yang luas dan ditumbuhi dua buah pohon beringin ibarat menyambut kedatangan warga yang hendak masuk wilayah keraton. Rancangan ini ditiru oleh Hamengku Buwono I setelah beliau memutuskan berpisah dari Surakarta dan mendirikan sebuah kerajaan baru yang kelak dikenal sebagai Keraton Yogyakarta Hadiningrat.

Pasar Batu Mulia
Pasar Batu Mulia

Beberapa wisatawan yang singgah di Solo sering kali hanya fokus kepada jalan menuju Museum Keraton Surakarta dan Pasar Klewer tanpa melirik atraksi menarik yang ada di sekeliling alun-alun utara. Selain kedua tempat terkenal tersebut, alun-alun utara mempunyai daya tarik tersendiri. Setelah memasuki gerbang masuk berukuran besar di Gladag, Slamet Riyadi, Anda akan disambut oleh tiga buah gerbang berukiran PB X dengan beberapa pohon beringin rimbun di antaranya.

Berjalanlah searah jarum jam, maka pertama kali akan mendapati Pasar Batu Mulia (1). Puluhan kios berjajar rapi di sebuah pendapa besar. Mereka menjual batu mulia seperti cincin batu akik, kalung berhiaskan permata, kalung mutiara dan tasbih sampai batu yang dianggap bertuah. Jangan heran menemukan penjual yang menawarkan potongan kayu atau lilitan akar yang dijual mahal, mereka menganggap benda tersebut bertuah oleh pembeli yang mempercayainya.

Di sebelah kiri Pasar Batu Mulia bisa menemukan spot menarik berikutnya yaitu Balai Agung “Kerajinan Wayang Kulit Karaton” (2). Tempat pembuatan wayang kulit berbahan dasar kulit kerbau ini memperbolehkan wisatawan untuk sekedar melihat proses pembuatan wayang kulit Solo. Setiap tokoh wayang mempunyai karakter dan detail ukir sendiri-sendiri. Untuk tokoh raja biasanya menggunakan pola ukir lereng dan parang, sedangkan untuk Punakawan menggunakan pola ukir sederhana berupa kawung dan lain sebagainya.

Untuk pembuatan satu tokoh wayang berukuran kecil seperti tokoh Puntadewa dan Janaka, biasanya dikerjakan selama 5 hingga 7 hari, sedangkan untuk tokoh berperawakan besar seperti raksasa dan gunungan memerlukan waktu sekitar seminggu hingga dua minggu. Balai Agung menerima pesanan untuk persiapan pertunjukan wayang kulit maupun wayang souvenir dengan harga mulai dari 300.000 rupiah sampai 3,5 juta rupiah tergantung ukuran dan permintaan khusus. Baca kisah lengkapnya di sini.

souvenir wayang
souvenir wayang

Atraksi selanjutnya adalah Pusat Kacamata (3) yang bersebelahan dengan Pasar Cinderamata (4). Mulai dari kacamata untuk mata minus dan plus, kacamata khusus untuk ultraviolet, dan kacamata gaul bisa ditemui di dua blok pusat kacamata. Beda hal dengan Pasar Cinderamata yang menjual beragam souvenir khas Solo. Wayang berbahan kayu dan kardus yang memiliki harga lebih murah dibanding wayang berbahan kulit hewan banyak dijual di sini. Adapun pedagang yang memajang aneka rupa bentuk keris baik untuk hiasan di rumah maupun untuk pelengkap baju adat Jawa.

Jika tertarik memasuki area Keraton Surakarta, Anda bisa memulai tur dari Pagelaran Sasonosumewo (5), sebuah pendapa berukuran besar dengan sebuah bangsal Pangrawit di tengahnya yang dulu difungsikan sebagai tempat penyelenggaraan upacara tertentu semenjak masa pemerintahan Paku Buwono X. Tidak banyak yang bisa dilihat di dalam, hanya terdapat sebuah bekas tempat duduk raja yang kini sudah tidak digunakan lagi, menara peringatan PB X serta meriam berukuran besar bernama Kyai Pontjoworo di halaman depan Pagelaran.

gerbang masjid
Masjid Agung Surakarta

Masjid Agung Surakarta (6) yang terletak di sebelah barat Alun-alun utara menjadi objek selanjutnya. Salah satu masjid tertua di Solo ini sudah berdiri sejak tahun 1768 atas perintah raja saat itu Paku Buwono III. Seiring dengan waktu bangunan dilanjutkan oleh generasi penerusnya sehingga tampak megah seperti terlihat sekarang. Ruang utama masjid mempunyai empat saka guru ( tiang utama ) dan 12 saka rawa ( tiang tambahan ) dengan tiga pintu di sisi utara, tiga pintu di sisi selatan dan satu pintu di tengah-tengah. Selain itu, masjid juga dilengkapi dengan sebuah menara adzan setinggi 25 meter yang dibangun oleh Paku Buwono X pada tahun 1929. Bangunan bersejarah ini masih terawat dan berfungsi sebagaimana mestinya hingga saat ini.

Dari Masjid Agung melewati sebuah gang menuju kampung Kauman akan menemukan sebuah pasar cinderamata lagi. Tempat ini berbeda dengan pasar cinderamata yang terletak di sebelah timur, pasar ini dipenuhi oleh kios yang menjual baju batik grosiran. Alternatif lain jika tidak ingin berdesakan masuk ke Pasar Klewer yang terletak tak jauh dari situ.

Taman Buku dan Majalah (7) menjadi titik terakhir sebelum kembali keluar melalui gerbang masuk alun-alun utara. Tempat ini dipenuhi oleh rak-rak berisi buku baru maupun buku bekas. Banyak dijual buku kuno berbahasa Belanda maupun beraksara Jawa. Meski debu berterbangan di sela tumpukan buku, hal tersebut tidak mengurangi minat para kolektor yang hendak mencari buku kuno untuk sekedar dikoleksi. Harga yang ditawarkan beragam tergantung interaksi antara penjual dan pembeli. Baca selengkapnya di sini.

Menarik bukan? Selain berbelanja sesuai kebutuhan, wisatawan juga belajar sejarah yang berhubungan dengan Keraton Surakarta Hadiningrat selama mengelilingi alun-alun utara. Selamat berlibur di Solo! 🙂

Advertisements

32 Comments Add yours

  1. yusmei says:

    Idenya unik. Kepikiran aja sih lim bikin postingan tema ini. Keren aah 😀

    Like

    1. Hehehe oh iya mbak, aku izin back link tulisanmu yang Taman Buku dan Majalah yes #telatngomong 😛

      Like

  2. Dian Rustya says:

    Wah! Ternyata banyak destinasi anti maintstream di Solo ya Lim. Sejauh ini tahunya cuma Keraton, Klewer, dan Kauman (Kauman pun tahunya baru belakangan ini, dari blog mbak Yusmei)

    Kalau ke Solo nanti, aku mau ah kesini kesana *Jangan tanya kapan tapi ya*

    Like

    1. Banyakkk objek yang bisa ditelusuri di Solo, sebelumnya harus punya minat mo wisata jenis apa biar nggak random pas nyampe Solo hehe. Ahh mbak Dian tetep kutunggu kedatanganmu meski berulang kali cuma diwacanain, jgn lupa bawa sesaji legen ama tuak 😀 😀

      Like

    2. buzzerbeezz says:

      ini pasti mbak Dian php lagi.. PHP is your middle name mbak *melengos*

      Like

  3. dee nicole says:

    Bisa request edisi makanan seputaran alun-alun juga mas halim 🙂

    Like

    1. Wahh ide bagus nih… Nanti akan kubikin peta simple juga biar wisatawan nggak kebingungan pas putar alun-alunnya. Thx masukannya 😉

      Like

  4. tesyasblog says:

    Aku jadi kangen sama Solo nih Kak Hal…

    Like

    1. Ayooo ke Solo… kalo mau ke Solo jangan ragu hubungi daku, akan kutemeni keliling kota 😀

      Like

  5. Wow! Artikelnya dimuat di Jakpost! KEWL !!!

    Like

    1. Ayo Nugi banyakin tulisan tentang Yogya dan sekitarnya biar banyak orang kenal kotamu 😀

      Like

    2. Bahahaha. Masalahnya aku mulai jadi travel blogger setelah merantau di Bandung nih.
      Nanti kalau pulkam mau blusukan deh ngajak si Wijna hihihi.

      Like

    3. Ikut nginthil ya kalo kalian ada rencana jalan keliling Yogya bareng hehehe

      Like

  6. winnymarch says:

    kemaren tidak semua terjelajahin 😦

    Like

    1. Net time agak lama di Solo nya biar bisa lihat Solo dari sisi lain, bukan dari wisata batik aja hehehe

      Like

    2. winnymarch says:

      siap trs u jd guidenya yah ahha

      Like

  7. mundzirmf says:

    Sering ke Solo, sayang gak pernah mampir ditempat-tempat itu bang,hehe

    kunjungan dari tandapetik.com

    Like

    1. Banyak obyek menarik di Solo, sayangnya beberapa wisatawan yang singgah terpaku pada obyek wisata yang sudah lama dikenal saja. Maka dari itu saya menulis yang belum populer agar menjadi dikenal orang. Yuk ke Solo 😀

      Like

  8. Rullah says:

    Dulu sih sempat sepedaan ke Solo, tapi nggak keliling semua itu 😦

    Like

    1. Solo nyaman dijelajahi secara slow ( lambat ) biar bisa menemukan hal-hal menarik di sepanjang jalan.

      Yuk ke Solo lagi! 😉

      Like

  9. djokedjack says:

    keren juga ya, ada pasar khusus kacamata 😀
    btw share tentang kuliner di solo jugalah bro kalo boleh 🙂

    Like

    1. Kuliner Solo sudah saya bahas loh, bisa cek di kategori “Wisata KULINER” tapi harus siap perut ya hehehe 😀

      Like

    2. djokedjack says:

      Siap perut ato siap ngiler ini bro? 😀

      Like

    3. Siap perut keroncongan dan ehmm siap ngiler juga sih hahaha

      Like

  10. rumahwarisan says:

    wah kirain dulu nggak boleh masuk di balai pembuatan keraton… makanya aku nggak masuk ke situ. lain kali deh…

    Like

    1. Tempat ini terbuka bagi siapa saja yang ingin tahu proses pembuatan wayang kulit, asalkan minta izin dulu sebelum masuk ya 🙂

      Liked by 1 person

  11. marizkapsari says:

    wah ternyata di Solo tuh banyak atraksi lain ya selain keraton dan pasar klewernya itu. Rata-rata wisatawan yg dateng ke Solo memang tujuan utamanya pasti keraton setelah kemarin saya ada fieldtrip buat nyebarin kuesioner ke Solo dan minat wisatawan untuk ke Solo tuh masih sedikit di bandingkan sama Yogyakarta. Harus lebih di promosikan untuk kota Solo sendiri.. Nice info massss 😉

    Like

  12. arip says:

    Itu yg buku-buku cuma rilisan Indonesia aja atau ada buku lawas impor?
    Menarik nih, nanti kalau ada kesempatan ke Solo bisa dipraktekin.

    Like

    1. Ada buku lawas yang berbahasa Belanda dan Inggris, lainnya rilisan Indonesia semua.
      Semoga bermanfaat 🙂

      Like

  13. dhedet says:

    sering main ke alkid buat main tamiya ditempatnya pak janto hehe..
    salam gaspol

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s