Dilema “Wisata” Cagar Alam Krakatau

Siang itu lebih dari dua ratus orang yang terdiri dari peserta tur, media dan pejabat setempat memadati pesisir pantai Gunung Anak Krakatau. Rombongan yang diangkut oleh kapal-kapal nelayan dari Dermaga Pantai Bom yang terletak di Kalianda menjadi sekelompok manusia yang meramaikan pantai.

Tahun sebelumnya, tamu undangan dan pejabat hanya bisa melambaikan tangan dari atas kapal ferry tanpa mendarat di Anak Krakatau saat rangkaian acara Festival Krakatau berlangsung. Tahun ini dengan segenap usaha, penyelenggara berhasil membawa rombongan dalam jumlah lumayan banyak untuk merapat ke pantai, mengantongi izin dan membebaskan peserta untuk menikmati Gunung Anak Krakatau lebih dekat.

Saya menjadi salah satu peserta yang mendapatkan “Tour Krakatau” gratis tanggal 30 Agustus 2014 yang disebarkan melalui media sosial beberapa hari sebelumnya. Seperti yang saya jelaskan di artikel sebelumnya, gratis berarti hanya diberi kesempatan mengikuti tour dengan meeting point dari Bandar Lampung saja.

Merasa beruntung bisa menginjakkan kaki ke salah satu gunung legendaris di Nusantara, tapi timbul perasaan dilema seolah saya tak jauh beda dengan seorang penebang pohon liar di sebuah hutan lindung, penanam pohon kelapa sawit di tengah hunian orang utan.

kapal nelayan yang mengangkut rombongan "Tour Krakatau"
kapal nelayan yang mengangkut rombongan “Tour Krakatau”

Acara ini sebenarnya menjadi bagian dari rangkaian Festival Krakatau 2014, agenda tahunan sejak tahun 1990 Provinsi Lampung yang dilakukan mulai tanggal 19 hingga 31 Agustus 2014 di beberapa tempat di Lampung guna memperingati peristiwa terjadinya letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883 silam. Tentu saja merasa senang bisa menjadi bagian dari festival serta bisa menginjakkan kaki ke salah satu gunung legendaris yang menewaskan 36.417 penduduk 131 tahun yang lalu. Tapi saat menginjakkan kaki di sana, saya sedikit merasa miris saat mendapati bahwa Gunung Anak Krakatau yang merupakan salah satu cagar alam di Indonesia yang belum diseriusi status CAGAR ALAM-nya oleh pemerintah setempat.

Masih banyak orang Indonesia yang belum memahami perbedaan sebuah cagar alam dengan taman nasional. Cagar Alam sejatinya sebuah tempat yang dilindungi baik dari segi tanaman maupun binatang yang hidup secara alami di dalamnya agar kelak dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan di masa kini dan mendatang. Cagar alam yang disalah artikan sebagai sebuah “surga baru” sering berakibat tidak baik di masa mendatang sebagai contoh Cagar Alam Pulau Sempu yang kini sudah memperihatinkan. Tumpukan sampah dari turis, pejalan, backpacker, pemburu berita atau siapapun mereka yang penasaran dengan “surga baru” menjadi momok sebuah cagar alam. Kawan Ijen juga termasuk Cagar Alam yang mulai diberitakan banyak menumpuk sampah dari pengunjung.

Lain halnya dengan Taman Nasional yang memiliki lahan luas penuh flora dan fauna yang terkadang juga digunakan untuk penelitian namun sudah memiliki sarana dan prasarana untuk meningkatkan sektor pariwisata, seperti Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Ujung Kulon, dll. Ada pula status cagar alam yang diubah menjadi taman nasional seperti Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ( pernyataan bisa dilihat di sini –> http://www.dephut.go.id/index.php/news/otresults/3133 )

Keduanya sama-sama dilindungi negara, hanya saja Taman Nasional diberi kelonggaran untuk memajukan sektor pariwisata, sedangkan Cagar Alam hanya diperbolehkan untuk penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, tidak lebih!

Kembali ke pengalaman Tour Krakatau…

penyambutan sederhana
penyambutan sederhana

Penyambutan di pantai kaki Gunung Anak Krakatau dilakukan secara sederhana oleh kelompok musik yang ikut meramaikan festival. Lagu dan tarian yang mereka sajikan membuat perut eneg selama perjalanan lebih dari tiga jam di atas laut sedikit mereda. Setelah seluruh penumpang turun dari kapal, tidak ada komando apalagi briefing singkat dari penyelenggara sebelum kami dibebaskan untuk menaiki Gunung Anak Krakatau. Penyelenggara hanya terlihat sibuk menyambut kedatangan pejabat yang hadir saat itu. Okelah kami hanya rakyat jelata, bukan siapa-siapa.

Hanya ada keterangan tertulis di papan yang tertancap di jalan setapak menuju jalur pendakian yang bisa dibaca sendiri oleh pengunjung. Tanpa guide maupun petugas dinas yang menaunginya, saya hanya bisa pasrah menyimak tiap sejarah yang tertulis di sana tanpa penjelasan lisan dari pihak berwajib.

look...
look…

Puncak Gunung Anak Krakatau tidaklah tinggi, saya hanya memerlukan waktu setengah jam pendakian disertai rasa lelah, tenggorokan kering, kaki yang awalnya melangkah dengan cepat jadi melambat. Tanah dan bebatuan yang tidak padat membuat langkah terasa berat. Dua langkah kaki diimbangi dengan merosot satu langkah, satu langkah kaki diimbangi dengan merosot dua langkah, begitu dan seterusnya.

Tidak semua pengunjung yang memadati pulau tahu tentang keganasan Gunung Anak Krakatau, masih menganggap tempat ini tak ubahnya tempat darmawisata seperti seorang anak kecil yang entah rombongan dari mana terlihat merintih kesakitan. Rupanya tanpa alas kaki membuat telapak kakinya melepuh akibat sengatan panas dari tanah gunung berapi aktif ini.

bebatuan di Anak Krakatau
bebatuan di Anak Krakatau

Sesampainya di puncak, saya melihat pemandangan Pulau Rakata dengan dua pulau lainnya, Pulau Panjang dan Pulau Sertung. Konon lebih dari seribu tahun yang lalu mereka adalah satu kesatuan gunung besar bernama Gunung Krakatau Purba. Hingga tahun 400-an Masehi gunung meletus sehingga menyisakan kaldera besar di Selat Sunda. Menjadi gugusan gunung api yang terdiri dari Gunung Danan, Gunung Perbuwatan dan Gunung Rakata dalam satu pulau yang kemudian diberi sebutan Gunung Krakatau.

Gunung Krakatau meletus dahsyat pada 27 Agustus 1883 yang mengakibatkan Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan lenyap, setengah kerucut Gunung Rakata hilang, terjadi gelombang tsunami setinggi 40 meter yang mengakibatkan puluh ribuan penduduk tewas, langit separuh bumi gelap gulita selama dua hari. Bencana besar! Puluhan tahun kemudian ( 1927 ) muncul daratan baru di tengah Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung yang kelak dikenal dengan nama Gunung Anak Krakatau.

pantai Anak Krakatau
pantai Anak Krakatau

Sejarah keren ini yang dibanggakan warga Lampung setelah kawasan cagar alam tersebut berhasil lepas dari wilayah administrasi Provinsi Banten. Tidaklah heran jika pemerintah setempat ingin mengangkat “nama besar” di kancah dunia pariwisata secara internasional meski dewasa ini turis lebih mengenal potensi Gunung Anak Krakatau saat mereka singgah di Banten. Mereka yang merencanakan perjalanan dari Anyer selama dua hari bisa dengan mudah memperoleh transportasi yang lebih murah serta mendapat iming-iming bermalam di Pulau Sebesi.

Pulau Sebesi adalah pulau berpenduduk di kepulauan Krakatau yang sayangnya tidak disinggahi saat Festival Krakatau 2014 berlangsung. Waktu sangat terbatas, itu alasan penyelenggara. Dari kehidupan pulau kecil jauh dari perkotaan tentu bisa mendapat gambaran jelas tentang kesejahteraan warga di sana. Apakah sanitasi di sana sudah diperhatikan oleh pemerintah Lampung? Apakah potensi “wisata” Gunung Anak Krakatau bisa mengangkat ekonomi mereka? Apakah pendidikan di Pulau Sebesi sudah sebanding dengan sekolah lain di daratan Lampung? Poin-poin penting yang terkadang kurang diperhatikan penggiat pariwisata.

Pulau Sebesi dari kejauhan
Pulau Sebesi dari kejauhan

Sempat mengerenyitkan dahi saat mendengar usulan dari salah satu penyelenggara yang berkata akan mengangkat potensi “wisata” Gunung Anak Krakatau dengan mengadakan tour berijin secara berkala. Memang tak salah jika pemerintah setempat ingin mengangkat nama dari suatu objek bersejarah seperti Gunung Anak Krakatau. Tapi sebuah “nama” bisa berakhir buruk. Ketidaksiapan mental pengunjung terutama lokal seperti sampah selalu menjadi momok setiap tempat wisata alam di negeri tercinta.

sampah... oh sampah...
sampah… oh sampah…

Entah kenapa masih banyak yang merasa kesusahan mengantongi plastik bungkus roti ke dalam saku. Entah kenapa tangan mereka terasa ringan saat melempar botol plastik ke semak-semak. Entah kenapa mata terbiasa membiarkan sampah plastik bergulung-gulung di atas ombak… Ada pemberitahuan dari beberapa penyelenggara tentang poin penting “JANGAN MEMBUANG SAMPAH DI PULAU” di bus sebelum kapal berlayar juga masih saja dilanggar oleh beberapa kawan. Ahh sungguh membuat dilema…

Jika usulan tur berkala tersebut terlaksana di masa mendatang, bisa ditebak akan muncul mahaproyek bertajuk “Sail Anak Krakatau” yang akan membuat cagar alam ini semakin terpuruk. Sail Komodo menjadi sebuah contoh proyek yang terkesan egois yang katanya mengangkat ekonomi penduduk setempat. Pejabat lupa menengok ke kanan kiri apa akibat yang akan ditimbulkan jika terjadi lonjakan yang tidak biasa di suatu tempat wisata alam.

Bukankah dengan lonjakan wisatawan di Labuan Bajo, NTT bisa menaikkan pendapatan daerah? Iya bagi investor ( baca: asing ), namun tidak menaikkan ekonomi penduduk asli Labuan Bajo secara signifikan. Sempat tersiar Pantai Pede di Labuan Bajo semakin kotor semenjak rentetan Sail Komodo berlangsung. Pantai sepi yang terletak berdekatan dengan hotel-hotel berbintang tersebut menjadi sasaran sampah yang menggunung.

nelayan di Dermaga Pantai Bom
nelayan di Dermaga Pantai Bom

Entah mau dibawa ke mana arah pariwisata Indonesia, padahal ada banyak hal yang perlu dibenahi terutama kesiapan penduduk lokal serta menghilangkan sisi egois penyelenggara. Pikiran yang masih dipenuhi hal mencari untung, mengangkat “nama baik” ( pencitraan ) dengan mengatasnamakan peduli lingkungan perlu diluruskan terlebih dahulu. Jadi jangan salahkan alam jika suatu saat mereka marah, memporak-poranda daratan dan lautan, semua dilakukan untuk menyadarkan manusia yang khilafnya sudah kebangetan. Cheers and peace…


Note : Tulisan ini dibuat bukan untuk mencela penyelenggara dan pihak terkait atau pembaca yang merasa dinyinyir dan tersinggung. Hanya ingin menyadarkan bahwa objek wisata Indonesia tidak hanya tergantung pada alam saja. Masih banyak sudut kota, kuliner khas, pedesaan, perkebunan dan remeh-temeh lain yang bisa diolah sedemikian rupa guna meningkatkan sektor pariwisata di negeri tercinta yang punya beragam budaya dan keindahan alam. 😉

Advertisements

49 Comments Add yours

  1. mumun indohoy says:

    Fotonya makin caem, lim!

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Makasih… kak Mumun juga tambah cantek #eaaaa 😀

      Like

  2. Kalo tour kmrn kan memang dpt ijin dari bksda . Nah kadang tiap minggu suka ada trip mandiri ke krakatau, itu ijinnya gimana ya? Apa mrk liar liar aja…

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Sama halnya dengan cagar alam yang lain. Sampai detik ini makin banyak yang bebas nyelonong masuk ke Pulau Sempu, Malang. Padahal tempatnya sudah rusak berat tapi petugas dephut nya diem aja. Dilema…

      Harapannya Gunung Anak Krakatau jangan sampai terlanjur rusak baru digencarkan hesteg SAVE. Ayo kakak… benahi Lampung, nyalonlah di salon Menteri Pariwisata #lohh #ehh 😀

      Like

    2. Aku? Kan putri pariwisata?

      Like

    3. Untuk tour mandiri yg tiap minggu selalu ada dari operator2 jakarta maupun lokal. Ijinnya langsung ke penjaga pulau anak krakatau. Tiap rombongan perahu bayar 250ribu kalo ngak salah untuk biaya tambat trus seinget ku ditambah tiap orang kena 3000 rupiah.

      Bayar nya langsung di pulau karkatau sama petugas nya

      Like

    4. Ooo gt kak.. Aku dulu juga gt sih

      Like

  3. Nina says:

    Itu yang jadi masalah, turis lokal sangat garang, apa lagi dengan meningkatnya jumlah penduduk kelas menengah indonesia. Memang mungkin susah untuk mengajarkan orang Indonesia membuang sampah di tempatnya, tapi yang jadi masalah juga adalah lingkungannya tidak banyak tempat sampah tersedia. Misalnya untuk mencapai tempat itu harus naik bus dulu. Nah di bus itu bisa di sediakan plastik disetiap kursi penumpang, untuk mengantongi sampah untuk tiap individu pemumpangnya.
    Disisi lain adalah pihak otorita setempat yang harusnya bisa memberikan tarif yang sangat mahal untuk masuk ke tempat tersebut, imbalannya tentunya fasilitas tempat sampah dan mempekerjakan “ranger”/petugas keamanan tempat tersebut yang menjadi polisi pengunjung yang “nakal” dan membuang sampah sembarangan….

    Anyway, ini cuma pandangan dari seseorang yang terakhir jalan-jalan di Indonesia 20 tahun yang lalu…

    Salam…

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Komennya menarik, sampai butuh waktu lama buat balas hahaha…

      Ranger di Pulau Komodo yang pernah saya temui sigap dalam mengarahkan pengunjung serta memberikan informasi terkait sejarah pulau maupun cerita satwa di sana. Sayangnya belum dilakukan oleh cagar alam semacam Pulau Sempu di Malang dan Gunung Anak Krakatau. Banyak yang tak berijin bisa masuk dengan bebas karena penjaga “nakal” yang memudahkan pengiat pariwisata mungkin ada imbalan tertentu, mungkin sih hehehe

      Tentang tarif yang sangat mahal untuk masuk ke objek wisata alam sudah mulai diberlakukan di beberapa tempat seperti Gunung Bromo. Hasilnya terjadi protes dari para penggiat pariwisata dan beberapa pecinta alam. Heran dengan protes yang mereka ajukan. Entah mereka merasa susah mencari keuntungan besar akibat naiknya tiket atau lupa bahwa alam yang terlanjur rusak tidak lagi diminati “pencari surga” 😉

      Liked by 1 person

  4. Nina says:

    Tambahan, mungkin ada baiknya artikel di atas di tulis juga di Kompasiana, jadi lebih banyak public yang baca, dan juga tulis surah sama Oom Jokowi… 🙂

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Makasih atas tambahannya. Usul akan saya pertimbangkan meski bingung gimana cara share di Kompasiana dan nulis surat super super resmi ke Oom Jokowi hehehe.

      Like

    2. Nina says:

      Tulis di Facebooknya aja, surat terbuka, jadi ga cuma di baca oleh doi tapi juga oleh para penasihat yang mengelola FBnya dan juga relawan/penggemar/fans nya… Good Idea?

      Like

    3. Halim Santoso says:

      Very good idea 🙂

      Like

  5. Mudah2an tulisan ini bisa turut menyadarkan para turis alay agar bisa lebih mencintai alam 🙂

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Harapan yang besar… Amin… 🙂

      Like

  6. Bama says:

    Setelah saya pikir-pikir, sebenarnya wilayah-wilayah cagar alam yang sudah kadung jadi tempat wisata tidak akan menjadi terlalu problematik jika sebagian besar wisatawan lokal bisa menghilangkan kebiasaan buruk buang sampah seenaknya. Saya pernah nonton di TV tentang seorang peselancar Indonesia. Ketika dia datang ke suatu pantai yang sering dikunjungi bule pantainya masih bersih. Tapi begitu nama pantai tersebut mulai terkenal di kalangan turis lokal, masalah klasik mulai muncul: sampah di mana-mana. Kadang saya suka bingung dengan beberapa kelompok ‘pecinta alam’ yang kerjaannya hanya mengotori satu gunung ke gunung lainnya. Maupun pencari ‘surga dunia’ yang kebiasaanya setiap meninggalkan satu surga adalah meninggalkan jejak sampah di surga tersebut. Kadang saya merasa sangat tidak berdaya melihat orang-orang yang dengan gampangnya membuang sampah.

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Betul Bama… masalah utamanya masih berputar pada sampah yang dibuang oleh mirisnya sebagian besar pengunjung lokal. Pecinta alam menurutku juga nggak jauh beda, mereka dengan santainya kamping di suatu danau secara massal. Kadang mereka hanya membawa sampah milik mereka sendiri tanpa mau memungguti sampah orang lain yang tercecer di jalan. Slogan “lu elu, gue gue” ternyata berlaku juga di hutan belantara. Katanya pecinta alam, tapi kok gitu…

      Mungkin ada baiknya guru-guru sekolah dasar memberi materi pelajaran khusus agar tangan anak didiknya tidak terasa ringan melempar sampah di sungai, jalan raya, semak-semak, dll. Biasanya sih jurus yang paling ampuh untuk mengurangi sampah tetap dihubungkan dengan cerita mistis… “Pipis sembarangan di pohon hutan angker bisa mandul”, “Buang sampah di gunung bakal kesambet jin penunggu gunung” dan petuah-petuah yang lain hehehe

      Like

  7. Adie Riyanto says:

    Masalah klasik pariwisata Indonesia. Kadang bukannya congkak ya, tapi ekslusivitas sebuah destinasi wisata, semisal susah dijangkau, harganya agak mahal, menurutku lebih membuat nyaman dan hati tenang daripada membiarkan semua orang tanpa kontrol dan pengaturan bebas menerobos suatu tempat, apalagi yang mempunyai status taman nasional atau cagar alam. Suka gatel pengen ngedukasi orang2 yang suka buang sampah sembarangan pas lihat gitu 😥

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Kalau gatel digaruk dulu, tapi jangan terlalu keras ntar lecet 😀

      Mental Indonesia yang mental sudah membudidaya… Kadang berpikir apakah mereka yang hobby membuang sampah itu nggak lulus mengenyam pendidikan dasar. Apa tidak memikirkan akibat dari yang mereka tuai? Ahh saudaraku…

      Like

  8. winnymarch says:

    pengen kesini dari lama tp gk jadi2

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Menurutku sih bagusan Gn Bromo kalau mau lihat kawah gunung api aja loh. Kalau mau wisata minat khusus lain cerita, seperti mau parasailing di atas Gunung Anak Krakatau atau mau kanoing di tengah erupsi hehehe

      Like

    2. winnymarch says:

      Kalau Bromo aku udah bagus bgt tempatynya sukaa eh Halim jgn lupa tgl 11-12 okt ya aku dtg ke kotamu hehehe

      Like

  9. Oh, baru tau kalau ternyata anak krakatau juga cagar alam..skip dulu kalau gitu..

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Iyap… Gunung Anak Krakatau masuk dalam kategori cagar alam, bisa dicek di –> http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_cagar_alam_di_Indonesia ^^

      Like

  10. Tiap weekend ada sekitar 100-200 orang berkunjung ke krakatau dan itu dah rame banget. Mudah2an aja kondisi nya ngak makin rusak ancur, timbul kedasaran para wisatawan untuk menjaga nya 🙂

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Jika wisatawan yang datang bukan tipe yang peka terhadap lingkungan, harus ada ketegasan dari tiap penyelenggara tour tentang sampah, sampah dan sampah… Karena kekhilafan pengunjung lah yang perlu diluruskan *sodor oli* 🙂

      Like

  11. Efenerr says:

    prosedur yang resmi adalah membuat SIMAKSI, dalam hal ini Pihak Kemenparekraf sudah memberi informasi yang benar. bisa dilihat di sini -> http://www.indonesia.travel/id/destination/621/cagar-alam-kepulauan-krakatau

    persoalan ketika banyak yang melanggar tidak bisa disalahkan pada pemerintah. dalam setiap Cagar Alam selalu ada benturan dua pihak pemerintah. pusat dan daerah.

    ketika keinginan konservasi dibenturkan pada keuntungan akan pengelolaan. maka kita akan selalu mundur ke belakang dan tulisan semacam ini akan tetap ada.

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Sebelum acara dimulai memang penyelenggara sudah memberitahukan perihal tour tersebut udah mengantongi izin dari BKSDA Lampung. Yang saya sesalkan perilaku pengunjung yang kurang peka terhadap kelangsungan lingkungan, Chan.
      Penyelenggara sudah menyiapkan kantong sampah besar untuk membawa sampah peserta dari pulau ke daratan Lampung, tapi masih saja banyak terlihat peserta “ndableg” yang tangannya ringan untuk buang sampah di pantai 😦

      Point “Sail Krakatau” hanya perkiraan saya saja saat mendengar ambisi beberapa pihak penyelenggara ( tidak semua ) yang mempunyai ide demikian. Semoga saja mereka punya cara efektif mengatasi sampah sebelum mencari keuntungan dari sebuah konservasi…

      Like

  12. Asalkan pribadi masing-masing sadar akan lingkungan, simple aja, enggak membuang sampah sembarangan, dan gk ngambil atau ngerusak, pasti pariwisata Indonesa bakal maju =)

    Like

    1. Halim Santoso says:

      You’re right, Vel 🙂
      Butuh kesadaran masing-masing individu biar wisata Indonesia semakin maju 🙂

      Like

  13. Eka Zahra says:

    Saya juga suka miris kalo melihat alam yang indah ini dikotori oleh sampah ..rasanya gregettt gitu..Sussah yaa kalo udah kebiasaan buang sampah sembarangan..

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Andai ada mata pelajaran khusus yang sudah diterapkan di sekolah dasar atau mungkin taman kanak-kanak agar para murid belajar tentang menjaga kebersihan lingkungan sejak dini. Bukankah kebersihan adalah bagian dari iman? 🙂

      Like

  14. olenkapriyadarsani says:

    Surem banget tulisanmu yang ini Lim. Aku ikut sedih. Aku butuh booking apa gitu biar kesedihanku hilang

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Makasih sudah ikut sedih mbak e… jgn saranin fans mu utk wisata ke cagar alam di Indonesia aja… sama beliin daku tiket ke Maldives jg gpp biar kesuramanku hilang #ngelunjak 😀

      Like

    2. olenkapriyadarsani says:

      Tapi klo krakatau byk yg ke sana ya. Aku drg tau. Taune ming injen2 sk Labuan. Sosialiasi mana yg cagar alam mana yg ga juga ga jelas lim. Selain Sempu mana lagi?

      Like

    3. Halim Santoso says:

      Tur Krakatau mudah dibeli lewat Anyer, prosesnya mudah denger-denger krn agent di sana udah biasa salam tempel ama pihak di pulau…

      Kawah Ijen masuk cagar alam juga. Semenjak banyak bule yang pamer blue fire-nya jadi banyak wisatawan domestik yang berbondong ke sana, nggak mau kalah ama bule…

      Like

    4. Rifqy Faiza Rahman says:

      Kalau Kawah Ijen sudah lama berubah Mas statusnya sebagai Taman Wisata Alam (TWA) sehingga boleh dikunjungi. Ya meskipun sampah tetap ada dan seakan berkorelasi dengan banyaknya pengunjung.

      Like

  15. n2fs says:

    Salam kenal ka…
    Nice post ka, semoga dengan adanya posting-ngan ini makin banyak orang yang peduli sama lingkungan terutama macam Cagar Alam atau Taman Nasional.

    Sebagai orang “Indonesia” memang seharusnya wajib menjaga apa yang Indonesia punya. Keasadaran akan membuang sampah pada tempatnya memang sangat kurang, terutama di generasi muda saat ini. Kita pun harus selalu membiasakan diri kita tuk membuang sampah di tempatnya, kalau ga ada tempat sampah, ya kita pegang dulu sampe nemu tempat sampah.. kita biasakan sampai jadi habits kmudian kita tularkan ke yang lain.

    🙂

    Like

    1. Perbuatan yang dilakukan terus-menerus akan menjadi kebiasaan kemudian menjadi budaya yang mengakar. Duh jangan sampai rantai sampah semacam ini jadi budaya bangsa lah ya 😐 Harapanku jangan ada rasa ragu untuk menegur orang yang membuang sampah sembarangan, kalau orang tersebut cuek bebek ya kita punggut sampah tersebut kemudian kita buang ke tempat yang seharusnya, karena kalau lu-elu gue-guwe terus ntar kemakan gengsi yang nggak ada habisnya…
      Salam kenal dari Solo, Niya 🙂

      Liked by 1 person

    2. n2fs says:

      Siip ka 🙂

      Like

  16. eh Cagar Alam itu meskipun udah dapet SIMAKSI tapi tetep nggak boleh dengan alasan wisata kan?

    Like

    1. Harusnya sih cagar alam boleh dimasuki asalakan ada keperluan seperti penelitian terkait flora dan fauna atau dokumentasi liputan khusus. Tapi tahulah negara kita masih lemah dalam mengatasi “amplop” dan “orang berkuasa” hehehe

      Like

    2. berarti secara tidak langsung trip organizer yang ngajakin open trip ke krakatau itu nggak boleh ya harusnya. harusnya

      Like

  17. Katerina says:

    Tulisan ini sangat bagus! Pesannya dalam 🙂

    Like

    1. Terima kasih, Mbak Rien. Ngarepnya semoga berguna bagi pengunjung yang hendak ke Gunung Anak Krakatau 😉

      Like

  18. danis zahfri says:

    Krakatoa emg indah banget dari semua lini. ini mah beneran mantep

    Like

    1. Di balik perkataan yang mengatakan Krakatau adalah “surga” justru muncul kedilemaan seperti ini. Sampah, terumbu karang rusak, flora cagar alam terganggu… Semoga muncul kesadaran dari penikmat “surga” untuk tetap menjaga alam yang dikunjunginya 🙂

      Like

  19. Hai, salam kenal

    Kayaknya tadi lagi cari – cari artikel tentang pencegahan pendakian ke Tegal Panjang, Papandayan Pengalengan – yang berujung dengan patah hati banget karena ternyata instead of artikel “Jangan Mengunjungi..”, hasil yang aku temukan adalah “Surga Tersembunyi..”
    Ah lagi – lagi manusia mencari surga yang tersembunyi.

    Makanya aku juga kaget, what.. Krakatau termasuk dalam Cagar Alam? Oke, kalau begitu aku akan jaga jarak mengunjungi destinasi ini. Karena, sejatinya cagar alam, tidak bisa difungsikan untuk wisata. Bukan itu peruntukannya.

    Pengertian cagar alam adalah sebuah tanah atau lahan atau hutan yang dijadikan sebagai kawasan konservasi. Kawasan ini diperuntukkan untuk melindungi dan membudidayakan flora dan fauna yang hampir mengalami kepunahan. Cagar alam di bangun pada habitat aslinya, dengan kata lain cagar alam termasuk dalam metode insitu. Metode insitu adalah metode konservasi yang dilakukan di alam.

    Sumber dari:gunungindonesia
    Sebagai kawasan konservasi, cagar alam juga dipakai untuk dunia ilmu pengetahuan. Dimana para ilmuwan dapat mempelajari dan membudidayakan jenis fauna dan flora yang langka. Karena diperuntukkan sebagai kawasan konservasi, cagar alam di larang dijadikan sebagai tempat wisata atau tujuan komersil. Sebuah ekosistem, dapat menjadi cagar alam jika memenuhi syarat berikut:

    1. Memiliki ekosistem yang unik
    2. Terdapat jenis fauna dan flora yang dilindungi
    3.Ekosistem belum mengalami kerusakan parah atau kehancuran
    4. Ekosistem masih bersifat alami
    5. Memiliki luas yang cukup

    Nah balik lagi, kesadaranku baru di tahun ini, lebih tepatnya karena menemukan teman – teman saat di perjalanan. Banyak ngobrol, banyak mendengarkan, banyak tahu. Akhirnya aku menjadi ingin mencari, apakah tujuanku nanti merupakan batas wilayah yang sebenarnya bukan untuk wisata. Kalau iya, aku urungkan.
    “Tapi indah banget sumpah!!!”
    Tapi berapa belas spesies dan ekosistem di sana yang aku korbankan hanya karena rasa penasaran tersebut?

    Sudah jangan susah – susah cari surga. Jelas, ada di telapak kaki Ibu.

    Like

    1. Halo, mbak Farah. Komentarnya panjang dan berisi hehehe. Terima kasih sudah mampir ke blog ini dan memberikan opininya tentang “surga yang tersembunyi”. Salam kenal juga dari Solo. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s