Suka Duka Macaca di Tempat Wisata

Berteman dan menjalin keakraban dengan penghuni lokal saat berpergian ke suatu daerah sungguh merupakan kesenangan tersendiri. Mendengar canda tawa dan teriakan nyaring saat beradu pendapat, melihat gerakan gesit langkah kakinya sungguh membuat para wisatawan terpukau.

Ingin rasanya memeluk hangat tubuhnya, mencubit gemas pipinya, mengelus bulu lembutnya…

Sayangnya nggak semua bertingkah laku baik, ada yang suka menyeringai, memamerkan gigi-gigi tajam yang sudah menjadi ekspresi keseharian jika merasa merasa terancam. Kegarangan mereka membuat saya enggan curhat empat mata tentang jodoh dengannya #tsah.

Kenalkan, ini Macaca fascicularis atau sering disebut monyet ekor panjang merupakan salah satu penghuni lokal di beberapa objek wisata di Indonesia.

Monyet di halaman gerbang Taman Nasional Baluran
Monyet di halaman gerbang Taman Nasional Baluran
Sunrise with monkey
Sunrise with monkey

Selain rusa, banteng Jawa, ular piton, dan fauna lain, Taman Nasional Baluran juga memiliki kelompok monyet ekor panjang yang tersebar di beberapa area. Pantai Bama menjadi tempat nongkrong mereka menjelang matahari terbit hingga petang. Mereka awalnya terlihat menggemaskan, posisi berjajar rapi, tatapan mata melunakkan hati, tubuh ramping menggoda dengan paha penuh bulu yang tentu saja nggak semulus paha Cheribelle.

Suatu ketika saat lapar mengundang dan saya bersiap untuk menyantap bekal roti yang saya bawa menuju pinggir pantai, seekor monyet melirik tajam bungkus yang saya bawa. Seekor yang lain mulai menunjukkan gigi tajamnya, berusaha merebut plastik berisi roti cokelat. Happp… Dalam hitungan sekian detik, roti isi coklat sudah lepas dari genggaman saya. Singkat cerita brunch saya gagal, hanya bisa pasrah menatap nanar bungkus roti yang sudah koyak tanpa isi.

menatap nanar dari balik jendela kantin Pantai Bama
menatap nanar dari balik jendela kantin Pantai Bama
penghuni bukit Uluwatu
penghuni bukit Uluwatu

Aksi monyet di Pantai Bama masih dalam batas wajar. Tingkah laku paling liar pernah saya temui saat melipir ke salah satu objek wisata andalan ke Pulau Dewata. Terletak di Desa Pecatu, berdekatan dengan kompleks Garuda Wisnu Kencana dan memiliki pertunjukan tari kecak menjelang sunset yang fenomenal membuat Pura Uluwatu tidak pernah sepi pengunjung.

Di bukit sebelah barat pura terdapat spot ciamik untuk melihat matahari tenggelam. Terlihat sekelompok monyet duduk berdampingan dengan wisatawan yang sedang yoga, seolah mereka ikut meresapi tenggelamnya sang surya. Eits jangan terkecoh dengan aksi imutnya.

mistique Uluwatu
mistique Uluwatu

Beberapa wisatawan sering dinasihati supaya berhati-hati saat menelusuri tangga dari gardu pandang menuju pura. Jangan kaget saat menemui sekawanan monyet tiba-tiba keluar dari semak-semak dan merebut kacamata, tas sampai tustel milik wisatawan.

Korban yang kelabakan dengan aksi tersebut, lalu didatangi seorang anak kecil yang menawarkan jasa mengambil kembali barang tersebut. Tentu si anak minta imbalan donk. Beberapa menit kemudian, transaksi berlangsung dan berakhir dengan adegan si anak kecil menyodorkan sejumput kacang ke monyet, dan monyet dengan patuh memberikan barang curian. Berakhir dengan sejumlah uang yang telah disepakati oleh wisatawan berpindah tangan ke bocah. Sungguh drama penuh tipu muslihat!

reuni keluarga di Tawangmangu
reuni keluarga di Tawangmangu

Kawasan Air Terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu kabupaten Karanganyar juga terkenal dengan aksi nakal para monyet. Kondisi alam sekitar yang semakin minim buah-buahan membuat mereka suka nongkrong di depan gerbang masuk objek wisata. Ayunan tas berisi botol air mineral saja sudah mampu mengundang naluri mereka untuk melakukan aksi rebut paksa. Jadi jangan harap bisa berjalan dengan tenang jika membawa segala makanan dengan bau menggiurkan seperti ayam goreng kesukaan Upin Ipin saat menuruni ratusan tangga menuju air terjun. Betul, betul, betul.

Sesampainya di bawah, sekawanan monyet dipimpin seekor pempimpin bertubuh ginak-ginuk mulai melakukan aksi menggeram di hadapan wisatawan yang membawa makanan. Selanjutnya saat pengunjung lengah, tas berisi makanan sudah diperebutkan satu sama lain ibarat capres yang lagi heboh rebutan tahta #hening. Tak jarang primata ini menerima sabetan ranting pohon dari wisatawan yang terlalu parno dengan keagresifan mereka. Mereka hanya bisa merintih dan memamerkan gigi tajam sembari lari kecil menghindari sabetan. *puk puk Macaca

primata Gunung Batur
primata Gunung Batur
narsis di Gunung Batur
narsis di Gunung Batur

Tubuh ginak-ginuk dengan bulu yang lebat menjadi ciri khas dari primata yang hidup di dataran tinggi sama seperti penampakan monyet ekor panjang di kawasan geopark Gunung Batur yang keluar setelah matahari terbit. Banyaknya wisatawan yang mulai bikin gaduh dan memadati gardu pandang di puncak Gunung Batur membuat mereka keluar satu-persatu, berharap dengan kebaikan pengunjung yang akan memberi mereka sisa makanan.

Tidak terlihat aksi nakal seperti di Pura Uluwatu, hanya ada teriakan nyaring saat si monyet berebut makanan dengan anjing Kintamani di sebuah tong sampah. Beberapa di antaranya hanya memandang syahdu matahari terbit, mengendong anak serta menatap kerumunan wisatawan dengan pertanyaan dalam hati, “Jan e koe iki ndelok opo to?”. 😀

Primata di Gunung Batur tidak agresif, bahkan menurut saya mereka sedikit tahu aturan dengan menunggu terlebih dahulu wisatawan menyodorkan sisa breakfast barulah mereka mengambilnya.

Selain objek wisata khusus melihat monyet seperti Sangeh, Pulau Bali masih punya wisata minat khusus primata yang terletak di tengah kawasan hutan lindung seluas dua belas hektar di Tabanan. Nama objek wisata yang terletak di Desa Kukuh, kecamatan Marga tersebut adalah Alas Kedaton. Terdapat sebuah pura pemujaan membuat tempat ini selalu ramai oleh orang yang akan sembahyang.

human vs monkey
human vs monkey

Saat saya singgah ke sana beberapa tahun yang lalu, tempat ini masih sepi turis. Padahal monyet di sekitar Pura Dalem Kahyangan Kedaton ini tergolong ramah. Bahkan mereka terlihat sangat tenang, sungguh bertolak belakang dengan keagresifan monyet di Sangeh. Tidak pernah terdengar aksi rebut paksa antara monyet dan wisatawan, monyet di Alas Kedaton betul-betul ramah.

Sesekali mereka memandang mesra wisatawan yang sedang suap-suapan, menyimpan rasa penasaran dengan tingkah laku manusia, sama halnya dengan manusia yang penasaran melihat monyet kawin kan? 😉


Note : Pada dasarnya semua primata di alam liar tidaklah menganggu dan melakukan aksi tak terpuji seperti terlihat di beberapa objek wisata yang saya tulis di atas. Kebutuhan alam yang semakin berkurang akibat maraknya pembangunan rumah, bangunan bertingkat membuat ekosistem terganggu. Mereka melakukan semua itu demi bertahan hidup, meski sabetan, cemooh dan cibiran menjadi akibat yang harus mereka terima. Jangan lupa bahwa monyet juga makhluk hidup.

Advertisements

27 Comments Add yours

  1. Bama says:

    Dulu pas awal-awal saya mulai suka traveling saya menganggap monyet-monyet itu lucu. Tapi semakin ke sini dan karena beberapa kali dihadapkan pada situasi bertemu monyet yang agresif pendapat saya tentang mereka mulai berubah. Tapi sejatinya mereka adalah binatang liar, yang hidup berdasarkan naluri untuk bertahan hidup. Kitalah yang sering mengakibatkan perubahan pada ekosistem sehingga sifat hidupan liarnya berubah. Menurut saya memberi makan kepada monyet liar harus mulai dikurangi, tapi ya syaratnya kita tidak merusak habitat mereka.

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Makanan yang disodorkan wisatawan disambut dengan ramah di awal. Setelah merasakan rasanya lebih enak daripada buah-buahan, mereka jd ketagihan dan berani melakukan aksi rebut paksa demi mengobati sakawnya. Eh kok tingkahnya jd kedengeran seperti manusia ya? Hehe

      Like

  2. yusmei says:

    Jadi melas liat monyet2 itu…tercerabut dari habitat alamiahnya 😦

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Iya mbak… tapi paling gemes ama warga yang bisane memanfaatkan keluguan monyet buat mencuri di Uluwatu. Monyet yang nggak terlalu cerdas jadi ikutan berpikiran licik seperti manusia >.<

      Like

  3. Taufan Gio says:

    Waktu kecil dulu kami pernah piara monyet (hibah dari tetangga yang pindah keluar pulau), tapi monyetnya galaaaak (mungkin dulu sering dijahatin sama empunya). Suatu hari si monyet lepas, dan adikku yang masih 2 tahun habis dicakar & digigit T_T
    Sejak itu gak pernah bisa suka sama monyet-monyet dimanapun, malah cenderung antipati, apalagi sama yang nakal-nakal di Uluwatu, hih! v_v

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Waduhh… kasian adiknya yang kena cakar, pasti nyisain trauma ama monyet nih >.<
      Coba terapi di Alas Kedaton, monyet di sana betul-betul nggak agresif, seolah ada aura positifnya 😀

      Like

    2. Taufan Gio says:

      Betul, sampe detik ini adikku jadi trauma sama monyet 😦
      Di Alas Kedaton, selain aura positif, ada aura kasih juga? #eh

      Like

    3. Halim Santoso says:

      Jalan Aura Kasih berliku-liku mulai dari disamber Ariel sampe punya sodara kembar di sinetron Aisah, sekarang hilang entah kemana… Jangan-jangan tidur di sampingmu ya bang 🙂

      Like

  4. pas di kilometer nol , nasi bungkus yg ditaro di motor dibongkar monyet… huaaaaaaaa ngenes rasanya, kenapa ga bilang. kan bisa makan berdua pasti lebih mesra

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Brarti si monyet udah bikin KK, coba ketemu yg lembar KK nya masih kosong, pasti bersedia suap-suapan 😀

      Like

  5. Medan Wisata says:

    Gk ngeri tuh, banyak monyet” gitu,,, 😀

    nampaknya ramah, kalau lagi laper mereka tetap liar kan mas? 😀

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Awalnya nggak ngeri, malah wajah mereka kelihatan lucu. Lama-kelamaan kok jadi garang tanda kudu was-was ama barang bawaan hehe

      Like

  6. Messa says:

    sangat setuju dengan note-nya. btw, “Jan e koe iki ndelok opo to?” artinya apa mas? 😀

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Jan e koe iki ndelok opo to? – bahasa Jawa dari “Sebenarnya kamu ini melihat apa sih?” 🙂

      Like

    2. Messa says:

      oooo oke deh mas, tak catet nih 😀 makasih ya 🙂

      Like

  7. Jadi monyet emang dilema ya kak…

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Perasaan dilema yang tidak mau diketahui oleh kebanyakan manusia 🙂

      Like

  8. Kadang mereka itu (monyet) lucu, tapi seringnya mereka itu “ngapleki” dan menyebalkan kalau sudah mengganggu. E tapi, aku lebih sering jailin mereka sih kalau ketemu di tempat wisata. ahahaah :p

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Yah itulah macaca, unyu, ngemesin tapi kadang bikin sebel, apalagi kalau masalah merebut paksa barang dari tangan…
      Hahaha dijahilin macam apa? Hati-hati digigit loh 😀

      Like

    2. sering aku kerjain kayak mau ngasih makanan tapi gak jadi gitu ahahaa, kadang mereka sebel2 sendiri XD

      Like

  9. buzzerbeezz says:

    Aku kok selalu takut yasama maccaca ini. Padahal bojoku malah suka godain maccaca kalau pas jalan kemana ketemu maccaca. Tp yg paling serem pas di Sabang, maccaca segede balita hampir aja loncat ke motor kami. Fiuhh..

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Weduhh kalo segede balita serem juga lihatnya. Belum lagi kalo si macaca loncat ke motor dan merangkul mesra puncakmu, apa kata Nenny ya #eh 😀

      Like

    2. buzzerbeezz says:

      Lha ini yang hampir digondeli malah kakinya bojoku e. Ketoke kok macaca-ne itu alpha male.

      Like

  10. Avant Garde says:

    mereka nggak ngganggu, tapi jahil :p

    Like

    1. Cari perhatian kaya anak kecil minta permen ya? hahaha

      Like

    2. Avant Garde says:

      ya begitulah 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s