Magelang Kota Sejuta Heritage

Tak terhitung sudah berapa kali saya menyambangi kota Magelang yang terletak di propinsi Jawa Tengah. Ada beberapa alasan saya mengunjungi Magelang, salah satunya adalah menjadi pemandu dadakan saudara dari luar kota yang ingin mengunjungi Candi Borobudur. Mengikuti beberapa rangkaian acara yang diadakan oleh komunitas Kota Toea Magelang dan juga acara #DolanBareng yang diadakan Blusukan Solo beberapa waktu lalu membuat saya semakin mengenal Magelang.

Terletak di dataran tinggi dan dikelilingi oleh gunung dan perbukitan membuat kota ini memiliki udara yang sejuk dan cenderung dingin di malam hari. Sehingga tak heran pada masa sebelum kemerdekaan, Belanda banyak membangun fasilitas dan prasarana untuk mereka tinggal di kota yang dikelilingi Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, Gunung Andong dan pegunungan Giyanti. Bangunan-bangunan tua dengan arsitektur khas kolonial yang tersebar di tengah kota membuat saya tidak pernah bosan dengan Magelang. Sayangnya beberapa di antaranya sudah dihancurkan dan akan berubah wujud menjadi bangunan baru semacam ruko, pasar modern seolah mengikuti jejak Kota Salatiga yang sudah semakin minim bangunan tua.

Ada beberapa versi tentang asal mula nama Magelang. Ada cerita rakyat yang mendongengkan bahwa saat itu pasukan Mataram yang dipimpin oleh Pangeran Purabaya di Gunung Tidar berujar bahwa mereka dikepung perbukitan seperti di dalam gelang. Dari situlah muncul penamaan Mahagelang dan mengalami perubahan bunyi jadi Magelang. Versi sejarah dengan buktinya Prasasti Mantyasih justru mengungkapkan bahwa tertulis di sana nama Desa Glanggang yang kelak disebut Gelangan dan Magelang.

Water Toren
Water Toren

Tidak perlu berjalan jauh dari alun-alun kota sudah bisa menemui beberapa bangunan tua seperti Water Toren yang dibangun oleh Thomas Karsten, arsitektur kebangsaan Belanda yang juga membangun Pasar Gede Hardjonagoro di Kota Solo. Water Toren atau bangunan penampung air yang terletak di alun-alun kota menjadi bangunan paling menonjol sekaligus menjadi icon dari Magelang yang diberi tulisan “Kota Sejuta Bunga” di atasnya oleh pemerintah setempat. Anehnya selama memutari kota dan pedestrian, saya tidak menjumpai banyak taman kota yang ditata sedemikian apik dengan beragam tumbuhan dan bunga warna-warni di sepanjang jalan. Ya sudahlah. 🙂

Di sisi utara alun-alun terdapat GPIB ( Gereja Protestan Indonesia bagian Barat ) yang dibangun tahun 1817 dengan design mirip sebuah kastil mengingatkan saya akan bangunan Gereja Merah yang ada di Kota Probolinggo. Tak jauh dari gereja, terlihat sebuah tugu bernama Tugu ANIEM, sebuah tugu penanda listrik yang diletakkan persis di depan Klenteng Liong Hok Bio, rumah beribadah Tri Dharma yang sudah berdiri sejak tahun 1864. Masjid Agung Kauman di sisi barat semakin menambah warna sekaligus mengukuhkan bahwa sudah terbentuk kerukunan antar agama sejak dulu. Tiga tempat beribadah yang mengelilingi alun-alun ini tatanan yang pakem di beberapa kota di Hindia Belanda zaman dulu. Toleransi beragama secara tidak langsung telah tercipta di lingkungan tersebut.

bekas bioskop
bekas bioskop

Sebagai pusat pemerintahan, di sekeliling alun-alun juga pernah dibangun beberapa sarana hiburan seperti gedung bioskop serta fasilitas kolam renang di sebuah hotel pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Namun kini bangunan hotel sudah dirobohkan. Bekas bioskop pun mangkrak tak bernyawa, tidak mampu mengikuti perkembangan zaman, serta kalah bersaing dengan kondisi gedung bioskop yang lebih modern di kota sebelah.

Hal serupa juga dialami oleh beberapa saluran air yang ngandat dan tidak sejernih di masa lampau. Puluhan tahun silam, pemerintah Hindia Belanda memangun saluran air yang jalurnya melintasi tengah kota untuk memenuhi kebutuhan air bersih beberapa gedung karesidenan dan bangunan pemerintahan, hingga pemukiman warga Eropa di Magelang. Jalur yang melewati atas jalan raya dibangun lengkungan yang kini menjadi cagar budaya di Kota Magelang. Lengkungan itu disebut sebagai Plengkung.  Ada dua Plengkung yang masih mempertahankan bentuk aslinya dan terlihat utuh. Keduanya belum dirombak dan masih digunakan sebagai jalur lintas pengendara.

Persis di seberang pintu gerbang Rindam IV Diponegoro di Jalan Pierre Tendean terdapat sebuah Plengkung Lama yang dibangun sejak tahun 1883 di mana terdapat aliran air di atasnya yang mengalir dari Kali Manggis. Sedangkan Plengkung Baru yang dibangun pada tahun 1920 terletak di Taman Badaan. Plengkung ketiga punya letak tak jauh dari kompleks pecinan, namun bentuknya sudah mengalami perubahan sehingga tak dikenali lagi seperti apa bentuk aslinya, kecuali membandingkannya dengan foto lama zaman Hindia Belanda.

Langgar Agung Diponegoro
Langgar Agung Diponegoro

Sosok Pangeran Diponegoro pun meninggalkan kesan yang mendalam bagi Magelang. Banyak jejak perjuangan beliau yang masih bisa dilihat sampai detik ini di beberapa titik. Saat mengikuti kegiatan bertajuk “Djeladjah Perdjoeangan Diponegoro” yang diselenggarakan oleh Kota Toea Magelang ( KTM ) bulan Maret lalu, saya jadi sedikit belajar tentang perjuangan pahlawan nasional yang mengobarkan Perang Jawa ( 1825 – 1830 ) melawan kompeni.

Di kaki bukit Menoreh terdapat sebuah petilasan yang konon pernah digunakan Pangeran Diponegoro untuk bersemedi sembari mengatur siasat untuk melawan Belanda. Bekas petilasan yang terletak di desa Kamal, kecamatan Salaman tersebut kini sudah menjadi tempat beribadah yang diberi nama Langgar Agung Diponegoro.

Dusun Kalipucung
Dusun Kalipucung

Tak jauh dari lokasi langgar terdapat Goa Lawa yang konon menjadi salah satu tempat bersembunyi sebelum akhirnya beliau bertemu dengan Jenderal de Kock untuk melakukan perundingan. Sayangnya lokasi bersejarah tersebut sudah menjadi bagian dari area tambang batu marmer di daerah Salaman.

Dari pabrik marmer kembali menaiki tanjakan dengan jalan belum beraspal mulus menuju Desa Kalirejo guna melihat benda pusaka peninggalan Pangeran Diponegoro berupa ikat kepala yang terbuat dari klari ( pelepah daun kelapa ), ikat pinggang, serta bekas jubah yang masih tersimpan di rumah juru kunci yang bernama pak Haryono. Hanya diletakkan di sebuah kotak kayu dan tidak ada perawatan yang mumpuni membuat benda pusaka tersebut terlihat usang dan nyaris hancur termakan oleh usia. Menurutnya selalu ada peristiwa aneh terjadi saat akan dipindahtangankan menjadi alasan kenapa benda tersebut masih berada di Dusun Kalipucung.

Karesidenan Kedu
Karesidenan Kedu
Museum Diponegoro
Museum Diponegoro

Beberapa peninggalan putra sulung Sri Sultan Hamengkubuwono III yang masih terawat bisa dilihat di Karesidenan Kedu, tepatnya di dalam Museum Diponegoro. Al’quran, sebuah jubah berwarna putih, bale-bale untuk sholat, serta beberapa perabot terbuat dari porselin memenuhi ruang museum seluas sembilan meter itu. Masih tersimpan juga sebuah kursi yang menjadi tempat duduk Pangeran Dipanegara ketika melakukan perundingan di Kedu bersama Jenderal de Kock.

Jika diamati dengan seksama, terdapat sebuah cuilan yang ditimbulkan oleh perasaan emosi Diponegoro yang ditahan saat mendengar isi perundingan Jenderal De Kock yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Beliau hanya bisa menahan amarahnya agar pendukungnya di luar karesidenan tidak menjadi korban pengepungan. Hasil perundingan tanggal 28 Maret 1830 tersebut berakhir dengan penangkapan dilanjutkan pengasingan di beberapa tempat sampai akhirnya beliau wafat 8 Januari 1855 di Makassar.

Ini hanya sedikit cerita dari beragam heritage di Magelang…

Menarik bukan? Magelang tidak hanya punya Candi Borobudur yang fenomenal saja, masih ada banyak cagar yang tersebar di tengah kota, perbukitan, bantaran sungai, sampai bongkahan batu-batu candi yang berserakan di beberapa dusun yang belum dipugar oleh pihak berwajib. Tempat-tempat menarik yang sudah selayaknya dikembangkan untuk bisa menarik perhatian wisatawan yang singgah, right?

Jadi masih mau sebut Magelang sebagai Kota Sejuta Bunga? Bagi saya, kota yang berulang tahun setiap tanggal 11 April (Berdasarkan Prasasti Mantyasih, Hari Jadi Magelang ditetapkan tanggal 11 April 907) ini tetap saya sebut sebagai Kota Sejuta Heritage. Save our heritage. 😉

Advertisements

31 Comments Add yours

  1. Salam kenal Mas.. hehehe..
    Ajakkin saya donk kalo maen ke Magelang lagi..yihihi

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Monggo pinarak… seneng dikunjungi warga Magelang 🙂
      Nti kalo ke Magelang lagi woro-woro njenengan ya hehe

      Like

    2. Hahaha.. siap Mas.. Nasi Goreng nyemek, Sop senereg, Kupat tahu, Nasi lesah, wedang kacang sudah siap di meja..

      Like

  2. winnymarch says:

    aku malah cuma ke borubudur doang padahal banyak tempat wisata gitu ya

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Tulisan di atas baru sedikit tempat yang pernah aku kunjungi Win.
      Masih banyak bertebaran objek yang belum terlalu populer tapi layak dikunjungi di Magelang. Dan kabar baiknya Magelang juga punya kuliner maknyus loh 🙂

      Like

    2. winnymarch says:

      duh cuti udh hbs aaha

      Like

  3. Kota kelahiran mami ku…harus kemari lagi one day 🙂

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Wajib keliling ke Magelang kak, karena kota ini begitu indah untuk dilewatkan…
      Kalau boleh jujur, area persawahan di kabupaten punya view yang nggak kalah menarik dengan Bali 😀

      Like

  4. Magelang emang punya banyak bangunan tua. Dalam perjalanan Jogja-Bandung PP via utara pasti lewat Magelang dan melintasi beberapa bangunan tua.
    Ehem, yg dimaksud “kota sebelah” itu Jogja ya 😀

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Sebelah utara bisa, atau selatan atau sebelah timur juga bisa hehehe.
      Banyak bioskop lama di Solo yang gulung tikar juga karena nggak mampu berinovasi, sekarang bioskop dominan di dalam mol nggak berdiri sendiri di sebuah bangunan seperti dulu. 😉

      Like

    2. Tapi XXI di Jogja berdiri sendiri hehe.

      Like

    3. Halim Santoso says:

      Oh iya dink Yogya ada satu bangunan khusus XXI, bioskop di Solo masih mepet mol semua 😀

      Like

  5. adieriyanto says:

    Di antara kota-kota di Jawa, sebenarnya Magelang itu ibarat Ubud di Bali: sebuah destinasi yang mengoleksi resort premium dan potensi wisata yang mendunia. Tanpa menegasikan Borobudur yang memang sudah tersohor, ada tempat-tempat yang sebenarnya jauh dari radar para turis. Sebut saja museum ODHA, kebun teh di MesaStilla, Amanjiwo, Sendang Sono, dan Candi Selogriyo. Tapi aku pengen banget ke Residen Kedu ini. Arsitekturnya cakep banget. Jadi inget fasad bangunan Istana Cipanas dan Rumah Dinas Gubernur Aceh. 🙂

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Ahh betul museum ODHA juga menarik, sayangnya aku belum pernah masuk gegara harga tiket masuk yang lumayan mahal 😛
      Udah pernah coba rafting di kali Progo atau Elo? Asik juga dan wajib dicoba.

      Pesona alam di Magelang nggak diragukan lagi, apalagi diselingi batu candi yang semakin menambah keindahannya.

      Like

  6. Dede Ruslan says:

    Selalu suka sama foto2nya koh halim 🙂
    oke fix bakalan keliling magelang nih dari pd keliling jogja yg udah terlalu mainstream apalagi ke candi borobudur sangat mainstream banget

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Thabk u Ruslan 🙂
      Kalo ada banyak waktudi Magelang coba ke Candi Umbul yg punya kolam pernandian air panas, dijamin berkesan.

      Like

    2. Dede Ruslan says:

      sepintas kayak kota kecil biasa, waktu itu lewat doang ga mampir 😦 .. tau2nya banyak wisatanya juga. aaaak ada pemandian air panas tapi itu untuk umum? 😀

      Like

    3. Halim Santoso says:

      Candi Umbul dibuka buat umum dan buka sampe sore, berendam dikelilingi pohon hijau di bawah bukit… Duh jd ikutan kangen ama Magelang nih hehe

      Like

  7. catatan nobi says:

    wahhh baru ngerti aku,, pdhal sering bolak balik magelang-jogja 😀

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Banyak bangunan tua dan candi kecil yang nggak kalah menarik untuk dikunjungi. Yuk jelajahi Magelang 🙂

      Like

  8. Oom oom seru juga nih wisata ke Magelang …

    Kapan2 ajak oom ke siniiii :3

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Seru dan bikin betah… yukk yukk 🙂

      Like

  9. noerazhka says:

    Senang rasanya membaca tentang kampung halaman dari sudut pandangmu, Lim. Saya saja yang lahir dan besar di Magelang, belum lama tahu tentang latar belakang sejarahnya yang ternyata begitu hebat. Hehehe ..

    Tulisan yang menarik, Lim, as always .. 😀

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Seneng banget dikomen ama blogger kece Magelang di artikel Magelang hehe…
      Tanpa bantuan komunitas semacam KTM di Magelang, mustahil aku bisa blajar banyak sejarah di sana. Cheers utk KTM 🙂

      Like

  10. Baru ke Borobudur… semoga bisa mengunjungi dan mengeksplore magelang lebih banyak lagi… terutama saya tertarik dengan kulinernya yang katanya enak2… 🙂

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Magelang menarik untuk diexplore, kawan. Nahh kuliner di sana juga sangat beragam dan punya rasa maknyus yg bikin nagih hehe.

      Like

  11. mas kalau boleh tanya tau gg siapa arsitek yang bangun gpib di kota magelang?
    trims

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Maaf saya belum mempelajari sampai situ, mungkin bisa langsung tanya ke komunitas KTM lewat >> https://www.facebook.com/groups/kotatoeamagelang/ 🙂

      Like

  12. Lestyo Haryanto says:

    Kota kelahiranku.. Pokoknya the best lah…

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Asyik nih punya kota kelahiran seindah Magelang 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s