Mengintip Kediaman Raja

Masalah intern yang panas perihal perebutan hak waris anak-anak Paku Buwono XII belum ada titik terang. Abaikan masalah yang seolah tidak berujung itu, tengoklah bangunan-bangunan tua di sekeliling istana yang banyak menyimpan potensi wisata sejarah. Ada beberapa bekas kediaman pangeran yang tersebar di balik tembok keraton seperti yang pernah saya tulis sebelumnya di artikel Menelusuri Rumah Pangeran.

Beberapa rumah sudah dimiliki pihak lain, disita oleh negara karena jatuh ke tangan yang salah, ada pula yang kurang terurus karena keterbatasan biaya ahli waris. Ada pemilik nDalem ( rumah ) yang dengan senang hati menyambut kedatangan wisatawan, ada pula yang masih menutup diri terhadap orang luar karena masalah intern keluarga mereka.

Keraton Surakarta
Keraton Kasunanan

Selama ini wisatawan yang singgah di kota Solo masih berpuas diri mengunjungi museum di dalam Keraton Surakarta Hadiningrat saja, tanpa menyadari bahwa ada banyak bangunan pendukung istana yang belum terbuka untuk umum padahal memiliki potensi wisata sejarah yang besar. Nahh, pada tanggal 18 desember 2013 lalu, Blusukan Solo kembali mengajak pesertanya menelusuri bekas kediaman para pangeran dan mengintip beberapa bagian penting di dalam istana.

Keraton Surakarta Hadiningrat ( Kasunanan ) berdiri tahun 1745 pada masa kekuasaan Susuhunan Paku Buwono II setelah boyong kedaton atau perpindahan keraton dari Keraton Kartasura ke Desa Sala. Perlu diketahui bahwa Keraton Kartasura hancur akibat serangan Sunan Kuning ketika Geger Pecinan berlangsung tahun 1743. Susuhunan Paku Buwono II memilih Desa Sala sebagai lokasi pusat pemerintahan kerajaan barunya yag diberi nama Surakarta Hadiningrat.

Salah satu arsitek istana Jawa tradisional yang megah ini adalah adik dari Paku Buwono II, Pangeran Mangkubumi (kelak bergelar Sultan Hamengkubowono I) sehingga tak heran banyak kemiripan arsitektur Jawa tradisional Keraton Kasunanan Surakarta dengan Keraton Kesultanan Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi sendiri memisahkan diri dari Surakarta dan mendirikan Yogyakarta setelah Perjanjian Giyanti ditandatangani tahun 1755.

Seiring dengan masa kejayaan Susuhunan Paku Buwono X (raja Surakarta yang memerintah mulai tahun 1893-1939), istana direnovasi menjadi lebih megah dengan perpaduan arsitektur Jawa dan sedikit sentuhan Eropa tanpa menghancurkan bangunan tradisional Jawa yang telah dibangun pendahulunya apalagi mengurangi nilai ke-Jawa-annya.

Pagi itu lebih dari seratus peserta dikumpulkan di Siti Hinggil, kompleks yang terletak persis di belakang Pagelaran Keraton Surakarta Hadiningrat. Pendapa Pagelaran dulu berfungsi sebagai tempat duduk raja saat beliau akan menemui rakyat dan abdi dalem atau tempatnya menyaksikan upacara rakyat hingga rampokan macan (semacam gladiator Jawa).

Bangunan Siti Hinggil yang berdiri di atas tanah lebih tinggi dari bangunan di sekelilingnya memiliki sebuah ruangan tertutup tirai terletak tepat di tengah bangunan yang berisi sebuah benda pusaka bernama meriam Nyai Setomi (meriam ini merupakan pasangan dari Kyai Setomo atau lebih dikenal sebagai Meriam Si Jagur di Jakarta). Tidak pernah ada yang melihat bentuk asli meriam tersebut kecuali abdi dalem khusus yang menjamasinya sehari sebelum perayaan Maulid Nabi.

Peserta yang berjumlah lebih dari seratus orang dibagi menjadi dua kelompok dengan rute yang berlawanan agar lebih mudah mblusuk ke dalam keraton. Saat peserta mulai memasuki kompleks Kori Kamandungan ada kejutan kecil dimana sudah berbaris rapi prajurit istana yang siap menyambut peserta dengan atribut musik mereka. Drum ditabuh, terompet ditiup, atraksi pedang. Ahh, serasa jadi tamu penting yang disambut sedemikian meriahnya saja. 😀

Meriam NYai Setomi
ruang penyimpanan Meriam Nyai Setomi

Saya bergabung dengan kelompok yang masuk ke dalam Museum Keraton terlebih dahulu. Di dalam museum, puluhan peserta disambut oleh pak pemandu yang menjelaskan rentetan nama dan kisah singkat perpecahan kerajaan Mataram Islam ( Surakarta – Yogyakarta – Mangkunegaran – Paku Alaman ) dilanjutkan masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi barang-barang koleksi milik istana.

Penataan ruang museum di sini sudah sesuai dengan pengelompokannya. Namun saya akui bahwa barang koleksinya belum sebanyak dan dibikin alur semenarik Museum Pura Mangkunegaran apalagi Museum Keraton Yogyakarta. Penjelasan tentang barang koleksi dan bangunan di lingkup keraton bisa didengarkan tiap kali berkunjung ke museum keraton di luar acara Blusukan Solo, tapi tidak ada salahnya mendengar berulang kali kalau informasi tersebut bisa menambah wawasan tentang sejarah. 😉

Selesai dari museum, peserta berjalan menuju makam Ki Gede Sala yang terletak tidak jauh dari pintu masuk museum. Siapakah Ki Gede Sala? Beliau adalah tetua Desa Sala, sebuah desa yang terletak di pesisir sungai Bengawan Solo yang kemudian dibeli dengan harga kurang lebih 10.000 keping emas oleh Susuhunan Paku Buwono II. Di lahan itulah berdiri sebuah kerajaan bernama Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sebutan “Sala” sendiri berawal dari pohon Sala yang konon tumbuh subur di desa yang terletak di pinggir pelabuhan Beton tersebut, kini tumbuhan tersebut sudah tergolong langka.

Kompleks makam Ki Gede Sala tidak terlalu luas, nisannya didampingi makam Kyai Carang dan Nyai Sumedang. Sempitnya kompleks membuat peserta harus bergantian masuk agar semua bisa tahu siapa sosok penting di balik nama kota Solo. Kompleks makam ini terletak persis di selatan nDalem Mloyokusuman. Seperti yang saya sebutkan di awal, tidak semua nDalem bisa dimasuki oleh peserta. nDalem Mloyokusuman yang sudah menjadi cagar budaya di Kota Solo merupakan salah satu kediaman yang belum terbuka untuk umum.

Kori Kamagangan Keraton Surakarta
penyambutan di Magangan

Pamagangan atau pintu keraton sisi selatan yang terletak di utara alun-alun kidul Keraton Surakarta menjadi tempat melepas lelah peserta yang sudah berjalan sekian kilometer. Jika melintas dengan kendaraan bermotor, kompleks di dalam tembok keraton terlihat tidak terlalu luas, tapi saat ditelusuri semua ternyata membutuhkan energi yang cukup serta waktu yang tidak sedikit. Sebelum merebahkan badan di pendopo, prajurit istana kembali menyambut kedatangan kami. Latar belakang pendopo yang luas dengan langit biru cerah membuat penyambutan ini sekali lagi terasa mewah.

Usai beristirahat, peserta berjalan menuju bekas kediaman BKPH Suryohamijoyo, salah satu anak dari Paku Buwono X yang turut berperan besar dalam pergerakan kemerdekaan NKRI. Beliau merupakan salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI, serta pernah menjabat sebagai Ketua PON pertama.

nDalem Suryohamijoyan memiliki halaman luas dengan lapangan tenis yang pernah dijadikan venue tennis ketika penyelenggaraan PON pertama berlangsung di Surakarta. Tidak hanya itu saja, pendopo nDalem Suryohamijayan juga menjadi saksi bisu tempat terciptanya Sendratari Ramayana yang kini pertunjukannya lebih dikenal di pelataran Candi Prambanan.

Ironinya sejarah hebat rumah KPH Suryohamijoyo tidak sebanding dengan kondisi bangunannya sekarang. Pendopo dan bagian dalam rumah terlihat banyak yang rapuh dan cukup memprihatinkan. Ruang-ruang kosong dan kamar mandi yang konon merupakan kamar selir-selir Suryohamijoyo dalam kondisi memprihatinkan. Bekas kolam renang dan kandang kuda di halaman belakang pun tidak terawat. Meskipun kediaman ini telah dimiliki oleh salah satu anak dari keluarga Cendana, tidak membuat tempat ini semakin apik, tapi justru semakin terpuruk.

Tak jauh dari nDalem Suryohamijayan terdapat sebuah kediaman yang konon berumur lebih tua dari bangunan Keraton Surakarta bernama nDalem Purwodiningratan. nDalem yang sudah menjadi cagar budaya tersebut masih dihuni oleh keturunan Pangeran Purwodiningrat (anak dari Susuhunan Paku Buwono IV) sampai detik ini.

Beberapa foto-foto raja Kasunanan terdahulu serta foto KGPAA Mangkunagoro VII dan istri tertempel di dinding kayu bagian dalam rumah. Krobongan yang terletak di bagian dalam rumah tidak terlihat seram apalagi membuat bulu kuduk merinding, sambutan ramah pemilik rumah juga membuat suasana rumah terlihat damai tanpa tekanan. View halaman belakang yang asri dengan patung anak kecil di tengah-tengahnya pun semakin membuat nDalem Purwodiningratan terlihat homy.

nDalem Mangkubumen
nDalem Mangkubumen

Jalanan becek akibat hujan deras saat kami di dalam nDalem Purwodiningratan tidak menghalangi peserta untuk melanjutkan perjalanan ke nDalem Mangkubumen. Untuk kali keduanya saya masuk rumah ini masih saja terasa hawa “adem” yang sulit saya ungkapkan. Hanya berusaha bersikap sopan dan tidak berpikiran negatif saat menelusuri nDalem Mangkubumen. Rumah ini tidak lagi dihuni pemiliknya, hanya pada hari tertentu digunakan sebagai tempat kumpul kerabat pemilik rumah. Jadi jangan kaget saat mendapati banyak bunga sesaji yang diletakkan di setiap sudut rumah.

Banyak cerita sejarah di setiap bangunan dalam lingkup Keraton Kasunanan, sayangnya banyak yang tidak menyadari potensi wisata yang besar di balik itu semua. Berandai-andai jika saja bangunan-bangunan tersebut menjelma menjadi sebuah tempat pameran barang kuno, penginapan atau homestay bahkan rumah makan dengan tema Jawa tradisional tanpa mengubah bentuk aslinya. Hanya bisa berharap sekali lagi

Ayo mulai kenali kotamu sendiri! Lestarikan dan jaga sebelum semuanya terlambat untuk diatasi …

Note : Beberapa informasi penting disadur dari Blusukan Solo

Advertisements

31 Comments Add yours

  1. johanesjonaz says:

    boleh tidur disitu gak? #pura2jadipangeran

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Ehmm boleh kok asal udah berhasil ngerayu salah satu Gusti di sana 😛

      Like

  2. Mirna says:

    Ibu saya bilang, dulu waktu kecil dan latihan nari di Keraton Solo, bisa masuk ke area-area yang gak terbuka untuk umum. Ah, jadi iri… Soalnya, waktu 2 tahun lalu mengunjungi keraton ini, kesannya tidak terawat, terutama jika dibandingkan dengan kerajaan tetangganya, Yogyakarta. Semoga masalah rumah tangga Keraton Solo cepat selesai, tercapai kata mufakat yang damai, dan tolong, harta keraton jangan pada dijualin. Duh! 😦

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Semoga masalah cepat selesai dan ruangan di dalam Keraton jadi museum terbuka yang luas dan terbuka untuk umum 🙂

      Like

  3. buzzerbeezz says:

    Yg ikut blusukan solo sampai ratusan orang Lim? 😮

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Edisi khusus pas dapet sponsor bro 😉

      Like

    2. buzzerbeezz says:

      oww.. banyak banget gitu soalnya.

      Like

    3. Halim Santoso says:

      Iya…biasanya acara Blusukan Solo maksimal 30 orang, baru kali ini jumlahnya diperbanyak hehe.
      Ngarepnya sih semua peserta yang nggak tahu jadi tahu tentang sejarah dan cagar budaya terabaikan di lingkup keraton.

      Like

  4. Avant Garde says:

    LUAR BIASAAAA ……

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Bukan salam super kan? 😀

      Like

    2. Avant Garde says:

      hahahahhahahaha…apa aja boleh kaka 🙂

      Like

  5. Ah, baru tahu kalau keraton itu tidak cuma di yogyakarta 😐 yang seperti ini harus bener – bener dilestarikan. Biar enggak hilang nanti 🙂 Terus, daripada dibikin konflik internal harusnya pemda nya turun tangan menengahi itu, karena yang kayak gini berarti warisan sejarah yang harus dijaga sama negara juga 😦

    Like

    1. Halim Santoso says:
        Keraton ( Mataram ) yang paling tua adalah Keraton Surakarta – Solo, trus pecah Yogya, pecah lagi Mangkunegaran -Solo, terakhir ada si bungsu Pakualaman – Yogya 🙂

        Like

  6. Setuju juga sih dengan ide si Jon di atas. Sepertinya seru tidur di sana atau tour malam blusukan ke dalam.
    Ihiiirrrrr jadi gak bisa bayangin gimana seremnya kalo blusukan malam.

    Btw untuk bisa masuk rombongan itu gratis atau bayar yah??

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Kalo tur malam berarti uji nyali donk…

      Acara khusus kemarin kebetulan ada sponsor, jadi gratis untuk semua peserta.
      Untuk acara biasa dikenakan biaya konsumsi dan biaya untuk pembinaan tempat yang didatangi 🙂

      Bisa cek FB Blusukan Solo untuk update acaranya >> https://www.facebook.com/blusukansoloindonesia

      Like

    2. Hahaha. Tambah seru kan kl malam.

      Btw thanks ya infonya 🙂

      Like

  7. Salam kenal, banyak tulisan di blog saya yg terinspirasi dari tulisan-tulisan di blog Anda…. Nice~

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Waahh jadi malu tersipu-sipu baca komen ini hehe…
      Salam kenal kawan. Senang banget kalau blog ini bisa menginspirasi 🙂

      Like

  8. Asik bisa masuk ke tempat yang gak biasa buat umum..di sini tinggal tiang aja lagi..

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Kak Indra kalau mau masuk boleh lhoh… Tinggal pilih nDalem trus aku anterin 😀

      Like

  9. Sy Azhari says:

    Aku suka paduan patung-patung malaikat yang menghiasi Keraton. Terkesan kontras dan…sedikit horor.

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Patung-patung made in Belanda yang punya “nyawa” buat awasi tiap pengunjung yang berpikiran kotor hehehe

      Like

  10. Salman Faris says:

    Solo, kota yang terkenal tentram itu kini tak lagi tentram karena masalah kekuasaan

    Like

  11. Suka banget sama bangunan joglo nya 🙂 jadi ngebayangin kalo punya rumah gede trus di bikin ada joglo nya di teras nya buat nongkrong 🙂

    Like

  12. BaRTZap says:

    Setuju banget tuh, kalau misalnya dialihfungsikan sebagai guesthouse atau rumah makan tanpa menghilangkan unsur keasliannya sepertinya akan jauh lebih bermanfaat ya nDalem2 ini Lim … Nice post 🙂

    Like

    1. Thank u bro. Ini tulisan lama dan hingga kini pemilik rumah ya masih begitu deh. Padahal Yogya sudah mulai jeli, beberapa rumah tua dipakai untuk restoran dan guesthouse, bahkan disewakan sebagai properti syuting. Sedangkan Solo? Ahh andai menang lotere sekian juta dollar pasti langsung kubeli rumah terabaikan itu 🙂

      Liked by 1 person

    2. BaRTZap says:

      Beda banget, padahal tetanggaan ya? Hmm aku pikir selama ini Solo lebih kreatif, secara mantan walkot nya dulu terkenal -di media- ‘kreatif’ dan banyak ‘terobosan’.

      Like

    3. Kalo ke Solo ntar kuajak keliling kota dan sudut-sudut kota biar tahu dan nilai sendiri se-“kreatif” apa usaha yang sudah doi lakukan hihihi

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s