Kwan Sing Bio vs Pantai Boom

Kapal-kapal pengangkut semen dan batu bara terlihat dari kejauhan. Mereka berjalan pelan menelusuri pantai utara, pemandangan yang umum saat saya melewati Jalan Deandels di Tuban. Siapa sangka kabupaten yang terletak di pesisir utara propinsi Jawa Timur ini punya banyak potensi wisata yang sayang kurang terdengar gaungnya. Menjadi kota perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian utara membuat Tuban hanya dipandang sebagai kota transit yang dilewati oleh para pelintas jalur Pantura. Jadi ada apa di Tuban?

Kwan Sing Bio
Kwan Sing Bio

Sebelum bertemu dengan mbak Dian, saya tidak pernah mengenal Tuban lebih dekat. Hanya terbersit sebuah kenangan pernah menyambangi sebuah tempat beribadah bernama Kwan Sing Bio saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar dimana klenteng yang terletak di Jalan R.E Martadinata no 1 tersebut sedang berbenah membangun sebuah replika istana raja dengan jembatan kelok sembilannya.

Beberapa tahun kemudian terdengar kabar bahwa klenteng Kwan Sing Bio diklaim sebagai klenteng terbesar dan termegah se-Asia Tenggara. Bulan November ( 2013 ) lalu saya melihat langsung bentuk Kwan Sing Bio yang baru dan cuma bisa melongo… Bukan melongo terkejut dengan kemegahan yang digembor-gemborkan, melainkan melongo dengan berita media yang terkesan berlebihan.

Klenteng dengan simbol unik kepiting di pintu masuk dan atap bangunan ini tidaklah semegah yang digambarkan oleh media. Dibandingkan dengan Kek Lok Sie di Penang, Malaysia tentu jauh sekali kemewahannya. Kek Lok Sie terus berbenah sehingga menjadi tempat ibadah sekaligus tempat wisata yang sangat menggagumkan, berbeda dengan Kwan Sing Bio yang seolah tidak ada dana lagi untuk membuatnya semakin mewah dalam kurun waktu lebih dari sepuluh tahun ini. Padahal tempat bersembahyang dewa Kiem Sien ini masih memiliki halaman kosong dan luas yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Maket klenteng impian hanya tergeletak di ruangan tengah tanpa ada kelanjutan lagi.

replika istana
replika istana

Selebihnya Kwan Sing Bio masih dikunjungi oleh wisatawan dari luar Jawa Timur saat hari perayaan keagamaan tertentu, tak terkecuali juga wisatawan iseng seperti saya yang hanya sekedar mengambil gambar replika istana serta jembatan kelok sembilan yang berdiri di atas danau buatan.

Klenteng Kwan Sing Bio menyediakan tempat beristirahat bagi siapa saja yang ingin bermalam, bahkan kantin yang terletak di seberang replika istana juga menyediakan makanan gratis ( sebagian besar mengandung daging babi ) setiap hari mulai dari pagi sampai malam.

Tak jauh dari klenteng Kwan Sing Bio terdapat sebuah garis pantai yang cukup panjang yang konon pernah menjadi pelabuhan niaga internasional pada masa kerajaan Majapahit. Dikatakan ratusan tahun yang lalu pelabuhan Tuban pernah menjadi jalur perdagangan antar pulau hingga antar negara. Setelah Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja Majapahit pada tahun 1293 Masehi, beliau memerintahkan Raden Arya Ronggolawe menjadi Mantri Amancanegara dan Adipati daratan serta memimpin Tuban. Dari situlah peradabannya berkembang dengan pesat.

Pantai Boom
Pantai Boom

Sayangnya pelabuhan bersejarah tersebut sudah tidak terlihat lagi bekas peninggalannya. Hanya menyisakan beberapa titik pantai yang sekarang sudah dimanfaatkan sebagai tempat wisata, salah satunya adalah Pantai Boom. Pintu masuk pantainya terletak persis di depan alun-alun kota Tuban, dan pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk sebesar 2.200 saja.

Dibangun beberapa gardu pandang sejak beberapa tahun silam, membuat para pengunjung dengan mudah menggalau #ehh melihat pemandangan lepas pantai di Laut Jawa yang menjadi saksi bisu sejarah kejayaan pelabuhan Tuban. Ada cerita yang mengatakan bahwa di laut lepas tak jauh dari Pantai Boom terdapat banyak sekali bangkai perahu yang konon mengangkut barang berharga seperti gerabah kuno, guci, piring keramik serta barang antik lain yang karam terkena badai di tengah laut.

Ada yang berminat menyelam untuk menemukan harta karun?

Atau cukup melihat beberapa koleksi penemuan bersejarah di museum?

just children
just children

to be continued…

Advertisements

17 Comments Add yours

  1. johanesjonaz says:

    kare rajungan? udah makan belum? ada di samping klenteng

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Serius cuma di samping klenteng? *catet*
      Belum nyempetin kulineran ranjungan, minum tuak, beli legen, cuma sempet seruput es siwalan aja hehe

      Like

    2. johanesjonaz says:

      ya gak sebelah pas sih, 100 meteran lah

      Like

    3. Halim Santoso says:

      Sipp ta catet dulu…
      Bro yen daku mlipir ke Suroboyo anter kulineran donk *pasang puppy eyes* 😉

      Like

    4. johanesjonaz says:

      insyaalah yoooo 🙂

      Like

  2. DianRuzz says:

    Masih inget obrolan tentang relief dewa2 di salah satu bangunan klenteng ini 😆
    Sudah serius2 nyimak, ternyata Halim tahunya dari serial Sun Go Kong hihihihhihii

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Hahaha jadi malu…harap maklum 😀
      Kulineran Tuban masih masuk di daftar list, smoga next trip bisa kuliner sampe kenyang *ngarep*

      Like

  3. Vera Astanti says:

    aku juga pernah masuk di klenteng itu, spacenya yang jembatan itu loh. kece abiissss >.<

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Jembatan jadi spot foto paling menarik di klenteng Kwan Sing Bio 😀

      Like

  4. Eki Akhwan says:

    Menarik dan cukup indah. Tp sayang di bebatuan itu banyak sampah plaStik ya? Sayaaang …

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Betul…padahal pantai tersebut menjadi tempat bermain anak-anak setiap harinya.

      Like

  5. buzzerbeezz says:

    Aku belum pernah ke klenteng ini tapi udah ke Kek Lok Si.. Malu aku deh..

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Melipir lagi ke Lasem trus mampir Tuban bro 😀

      Like

  6. Great… Karena fakta/problem utama tempat wisata itu selalu lebih menarik untuk dibahas dibandingkan hanya dilihat dari sisi keindahannya saja.

    Salam adventure journalist..

    “Leave nothing but footprints. Take nothing but pictures. Kill nothing but time”

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Tetap dibutuhkan kepedulian bukan dari pihak berwajib saja, tapi juga penduduk lokal dan pengunjung yang ingin terus menyaksikan keindahan tempat tersebut 😉

      Like

  7. OpensTrip says:

    keren bang…salam kena ya

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Salam kenal… Terima kasih sudah mampir di blog ini 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s