Antara Kaliurang dan Gusti Nurul

Jika kota Solo mempunyai wisata gunung seperti Tawangmangu di kabupaten Karanganyar, kota Yogyakarta juga mempunyai wisata gunung Kaliurang di kabupaten Sleman yang terletak persis di kaki Gunung Merapi. Perjalanan dari kota Yogyakarta menuju Kaliurang bisa ditempuh mengunakan transportasi umum dari terminal Jombor dengan waktu tempuh sekitar satu jam saja. Atau bisa menggunakan kendaraan pribadi melewati jalur Maguwo menuju arah Cangkringan yang tentu saja memiliki jalan tidak lebar, sepi, bebas macet #senyumtebarkode.

Ada apa di Kaliurang? Keindahan alam yang ditunjukkan tidak lebih dari pesona Gunung Merapi yang berdiri megah bersanding dengan pemandangan dataran tinggi khas Kaliurang. Banyak orang terkesima dengan wisata Kali Adem yang identik dengan sosok alm.Mbah Maridjan. Kondisi Kali Adem pasca letusan Gunung Merapi 26 October 2010 sudah berubah banyak ( tulisan tentang Kali Adem dulu dan sekarang akan saya ceritakan terpisah ). Namun apakan kamu tahu bahwa Kaliurang memiliki wisata museum yang nggak bikin rugi deh buat dikunjungi. Nah… museum keren apa aja sih yang terdapat di Kaliurang?

Museum Gunung Api Merapi, Kaliurang
Museum Gunung Api Merapi, Kaliurang
cetak biru bangunan museum
cetak biru bangunan museum

Museum Gunung Api Merapi merupakan geowisata yang dibangun pada tahun 2005 dan baru dibuka untuk umum sejak Januari 2010. Harga tiket masuk museum terbilang murah yaitu 3.000 rupiah dengan koleksi yang bisa saya katakan WOW!
Saya terkesima dengan penataan ruang yang ada di bangunan, seperti satu ruang khusus untuk mengenang bencana letusan Gunung Merapi tahun 2010 dengan adanya foto-foto Merapi dari waktu ke waktu, diperlihatkan juga perkakas rumah tangga yang luber terkena serangan wedhus gembel. Masuk lebih dalam bisa melihat paparan cerita tentang bagaimana terjadinya benua di bumi, macam gunung api di seluruh dunia, susunan lapisan sebuah gunung aktif, dan lain sebagainya.

Setelah masuk Museum Gunung Api Merapi saya baru tahu bahwa ada puluhan gunung api aktif di Indonesia dengan rupa dan dampak letusan yang beda satu sama lain. Bangga melihat keindahan gunung berapi seperti Gunung Ijen, Kelimutu, Gunung Agung, Gunung Batur, Anak Krakatau, Kelud, Semeru, Gunung Rinjani dan lainnya yang menjadi objek wisata terkenal sampai mancanegara sekaligus ngeri melihat bencana dahsyat yang akan timbul bila deretan gunung api tersebut meletus satu-persatu…

Jika Gunung Bromo punya mitos yang bercerita tentang “Roro Anteng dan Joko Seger”, Gunung Merapi juga punya mitos yang tentang sosok “Nyai Gadung Merapi” yang kurang lebih seperti ini :

Diantara sekian banyak tokoh makhluk halus yang dipercaya menempati Kraton Gunung Merapi ada satu tokoh yang paling terkenal dan dicintai oleh penduduk daerahnya, bernama ‘Nyai Gadung Melati’ yang tinggal di Gunung Wutoh. Dia berperan sebagai pemimpin pasukan makhluk halus Merapi dan pelindung lingkungan di daerahnya, termasuk memelihara kehijauan tanaman dan kehidupan hewan. Nyai Gadung Melati juga sering muncul di mimpi-mimpi penduduk sekitar kaki Gunung Merapi sebagai pertanda Merapi akan meletus, dalam mimpi penduduk Nyai Gadung Melati disebutkan berparas cantik dan berpakaian warna hijau daun melati.

gambar gunung api di dunia
gambar gunung api di dunia

Puas belajar ilmu geologi di lantai dasar saatnya melipir ke lantai dua yang punya ruangan khusus yang memperlihatkan foto-foto gunung Merapi dari masa ke masa dengan cahaya redup yang membuat suasana sedikit mistis. Puluhan gambar ditempel di samping kanan dan kiri lorong bundar berlampu merah seolah pengunjung diajak melewati lorong waktu menuju masa depan. 🙂
Berjalan menelusuri lorong waktu, pengunjung akan tiba di ruang khusus presiden yang diisi rekaan meja tamu penyambutan presiden di sebuah gardu pandang gunung Merapi serta foto gagah para presiden Republik Indonesia mulai dari Soekarno, Soeharto, Megawati sampai SBY saat mereka memantau perkembangan Gunung Merapi.

ruang khusus Presiden
ruang khusus Presiden

Menurut saya seluruh koleksi dari museum sangatlah mendidik. Pengunjung bisa belajar banyak ilmu tentang gunung api di Indonesia maupun di seluruh dunia tanpa harus mendengarkan suara guru geografi yang kadang bikin ngantuk di sekolah #ups. Sayangnya koleksi keren di dalam museum tidak diimbangi dengan perawatan yang ada. Banyak terlihat langit yang lubang di berbagai sudut bangunan bertingkat dua ini, banyak ruangan yang dibiarkan kosong dan kotor karena luasnya tempat namun koleksi kurang banyak, dan toilet yang ( maaf ) dipunggut biaya sebesar 1.000 rupiah untuk menggunakannya. Agak terdengar aneh melihat museum nasional yang menarik biaya numpang pipis layaknya mall. Cukup berpikir positif aja, mungkin punggutan biaya tersebut digunakan sebagai dana tambahan pengelolaan museum. 😉

Museum Ullen Sentalu
Museum Ullen Sentalu

Museum Ullen Sentalu masih belum familiar di telinga saya beberapa tahun silam. Salah satu buku panduan wisata pernah bercerita tentang sebuah tempat maha penting yang menjunjung tinggi sosok putri cantik dari Pura Mangkunegaran, Surakarta. Siapakah dia? Secantik apa sih? Seperti apa sosok putri yang bisa membuat galau para pejabat? Dan puluhan pertanyaan konyol lain…

warning!
warning!

Setelah memendam rasa penasaran sekian tahun, akhirnya awal bulan Juni lalu saya menyempatkan diri berkunjung ke museum yang terletak di Jl. Boyong Kaliurang tersebut. Jalan menuju museum terbilang cukup mudah, bisa diakses dari jalan kecil di samping Museum Gunung Api Merapi maupun dari jalan raya Jogja-Kaliurang.  Rasa penasaran melihat sosok sang putri yang melegenda membuat saya harus rela membayar tiket masuk sebesar 25.000 yang bisa dibilang mahal karena setara dengan tiket masuk Candi Prambanan!! Apa boleh buat… rasa penasaran lebih penting daripada uang 😀

Banyak larangan yang berlaku saat masuk museum, di antaranya tidak boleh mengambil foto selama di dalam museum ( selalu didampingi seorang guide untuk menggiring 5-10 pengunjung ), tidak boleh menyentuh koleksi, tidak boleh membawa tas segedhe gaban, dilarang makan dan minum serta merokok selama tour.

Larangan “DILARANG MENGAMBIL GAMBAR” menurut saya agak memberatkan sampai akhirnya saya bertanya ke mbak guide “Kenapa dilarang foto di dalam museum, mbak?”, dan mbak guide menjawab “Banyak lukisan dan koleksi lain yang memiliki hak cipta, mas… Kalau hak cipta dilanggar, kami pihak museum yang mendapat teguran dari penyumbang dan pelaku seninya.”.
Intinya pihak museum takut gambar yang dijepret wisatawan melanggar hak cipta jika gambar koleksi museum dipublikasikan tanpa izin lewat internet atau media cetak. Padahal zaman makin canggih dengan adanya fasilitas kamera handphone tanpa bunyi “klik” saat dipencet bisa dengan mudah membuat larangan tersebut terasa sia-sia. Kecuali dengan cara tegas seperti hal yang berbau kamera diamankan di safety box atau copot batere sebelum pengunjung masuk, right?

Sebagian besar koleksi terdiri dari lukisan di atas kanvas berukuran besar yang menggambarkan suatu moment penting keraton Yogyakarta dan Surakarta Hadiningrat, ada juga lukisan sosok Sultan dan Sunan beserta permaisuri saat mereka bertahta. Sepintas museum ini terasa seperti kumpulan sejarah Kasunanan, Mangkunegaran, Yogyakarta, dan Pakualaman yang diringkas singkat, padat dan jelas dalam satu wadah.

Setelah menelusuri ruang yang diisi sejarah singkat keraton, saya dan pengunjung lain digiring menuju beberapa ruang kecil yang terpisah dari bangunan depan, pengunjung digiring menuju ruang berisi koleksi batik Surakarta, batik Yogyakarta, lalu ruang koleksi surat-surat puisi milik GRAj Koes Sapariyam ( putri Sunan Paku Buwono XI ), serta ruang berisi patung penari Serimpi dari Yogya dan patung penari Bedhoyo dari Surakarta. Jujur saya merasa tidak sabar menuju ruang khusus sang putri selama tur berlangsung. Apalah arti kata-kata mbak guide tanpa sepenggal cerita tentang sang putri. Sampai akhirnya tiba di “Ruang Putri Dambaan” yang ditata sedemikian rupa penuh gambar GRAy Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani atau lebih dikenal sebagai Gusti Nurul.

Siapakah Gusti Nurul? Beliau adalah putri dari KGPAA Mangkunegoro VII dengan GKR. Timur Mursudariyah ( putri Sultan Hamengku Buwono VII ) yang lahir pada tahun 1921. Pandangan modern dan pemikiran cerdas ada dalam diri Gusti Nurul. Pandai menari membuat beliau menjadi salah satu pengisi acara di pernikahan Putri Juliana di Belanda. Pandai berkuda dan keahlian lain setara dengan anak laki-laki membuat beliau banyak dilirik oleh anak laki-laki para pejabat. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Sultan Hamengku Buwono IX dan Soekarno pernah mencoba meminang beliau. Namun sayangnya semua lamaran mereka ditolak dengan halus oleh sang putri dengan alasan beliau tidak mau menikah dengan seorang lelaki yang berpoligami.
Keren kan?

Saat melihat wajah ayu sang putri, saya hanya bisa senyam-senyum sendiri melihat kecantikan yang terpancar.
Penasaran dengan wajah ayu Gusti Nurul yang menghipnotis mata setiap lelaki?
Yuk ke Ullen Sentalu 😀
Website resmi Museum Ullen Sentalu >> http://www.ullensentalu.com/

Advertisements

25 Comments Add yours

  1. Avant Garde says:

    mas, gunung yg diantara gunung talang dan banda api yah?

    itu sampul buku geografi sma saya 😉

    Like

    1. Gunung yang mana y, mas? Hehe bingung saya…

      Like

    2. Avant Garde says:

      yg gambar nama-nama gunung di dunia 🙂

      Like

    3. Ohh…apa ya namanya, kepotong pas ambil gambar, hehe… Wahh keren juga ya sempet jadi sampul buku Geografi 🙂

      Like

  2. Avant Garde says:

    yoi mas … dulu lebih suka ilmu sosial drpd alam 😉

    Like

  3. Treasured Odyssey says:

    Duh sayang banget kemarin ikut tur jeep di Kaliurang tapi malah ga sempet ke museum 😦

    Like

    1. Padahal tempatnya nggak jauh dari Kali Adem loh…
      Next time melipir ke Kaliurang lagi kawan 😀

      Like

  4. yusmei says:

    Ulen Sentalu juaraaa,,udah 3 kali ke sana. Museum merapi bagus juga, tapi kurang atraktif, bangunanya juga sudah agak rusak

    Like

    1. Nahh itu dia mbak… Sayang banget bangunan Museum Merapi bertolak belakang ama Ullen Sentalu.
      Padahal museum gunung api kan jarang banget didirikan di Indonesia 😐

      Like

    2. yusmei says:

      eman2 banget lim…pemandunya juga kurang, padahal kekuatan utama museum itu justru pada pemandu yang bisa membagi cerita

      Like

    3. buzzerbeezz says:

      Setuju sama mbak Yus, Ulen Sentalu juara!! alaupun aku baru sekali ke Ulen Sentalu, tapi emang museum tentang budaya yang paling keren yang pernah aku kunjungi.

      Like

    4. Penataan ruangnya teratur, sayang nggak bisa foto-foto huaaa… tapi kebayar ama Ruang Dambaan Putri dink 🙂

      Like

  5. kayaknya kalo ke ullen sentalu aku harus masuk 2x sekaligus deh hehehe

    Like

    1. Rugi kalo nggak menyambangi kedua museum ini. Jadi harus mampir ya *maksa* 😀

      Like

  6. Ailtje says:

    Aku ke ullen sentalu tiga atau empat kali dan ga puas. Konsep nya yang tour kilat itu geblek. Mana bisa orang dibatasi. Terus di tiap foto atau lukisan ga ada keterangan detail harus rely ke guide padahal ga semua guide informative. Parahnya grup nya selalu besar jadi yang belakang ga kedengaran penjelasannya. Padahal museum ini sangat menarik.

    Like

    1. Sama kak… Saya termasuk pengunjung yang nggak puas mantengin dan mempelajari semua koleksi keren Ulen Sentalu secara santai… Kaya bebek digiring kesannya… Hehe…

      Like

    2. Ailtje says:

      Iya dan buru2nya itu.

      Like

  7. Fahmi says:

    waaa dua museum ini yang paling pengen aku kunjungi kalau ke jogja lagi~~ 😀

    Like

  8. Ryan says:

    Mas. Baru baca yang ini coba gara2 search google soal hak cipta.
    Kalau mengambil foto di museum dan publish di blog itu memang gak boleh ya? Saya masih agak bingung.

    Liked by 1 person

    1. Sebenarnya ada dua alasan, pertama biar pengunjung fokus dengan apa yang diomongkan oleh guide tentang isi dan cerita ttg koleksi di tiap ruang museum, ini yang masuk akal. Tapi kalau sudah menyangkut nggak boleh foto karena masalah hak cipta, menurutku masuk alasan kedua, museum swasta ini takut barangnya dikenakan pajak sesuai nilai yang sesungguhnya. You know why 😀

      Like

  9. rini says:

    Hih iya museum ullen sentalu juara yah. Nggak bosen kesana walaupun nggak boleh foto. Yah menurutku malah lebih gimana gitu. Secara bisa dengerin mbak pemandu tanpa nyambi foto hehe

    Like

    1. Hehehe kalau sudah dengar kisah keraton-keraton dan pura di Mataram Islam pasti agak bosan mendengar cerita pemandu Ullen Sentalu, Rini. Saya pun lebih fokus hanya saat masuk ke ruang Putri Dambaan aja, selebihnya menguap berkali-kali 😛

      Liked by 1 person

    2. rini says:

      Wahahahaha iya sih kalau kamu kak. Kalau aku kan haus soal cerita begituan. Yah, tapi dalam suatu perjalanan pasti ada dong hal baru. Termasuk ke dalam museum ini.
      Iya ruang putri dambaan itu. Aku sebenernya pengen bacain semua sajaknya tapi ya gimana kayak dikejar tayang. Gimana dong solusinya. Hahaha.
      Apa ada misi khusus ya kenapa mereka begitu cepat menceritakan isi museum padaku?wkakaka.

      Liked by 1 person

    3. rini says:

      Eh ralat itu yang di bilik syair hehe baru sadar.

      Like

    4. Ahh ruang yang khusus puisi milik putri PB XI ya? Hehehe waktu yang diberikan pemandu terlalu cepat jadi nggak seksama amati satu-persatu lembaran kertasnya. Kalau balik ke Ullen Sentalu lagi tetep mau protes perihal larangan nggak boleh foto. 😛

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s