Kampung Seniman itu Bernama Kemlayan

Keindahan tempat wisata suatu daerah tidak hanya diukur dari wisata alam yang eksotik saja. Sejarah kota di masa lampau bisa menjadi potensi wisata yang mumpuni bila diolah dengan benar oleh yang berwajib. Hanya tinggal kepedulian dan tindakan pihak berwajib terhadap cagar budaya tersebut. Mau diratakan tanah, lalu berubah wujud menjadi ruko? Atau tetap dilestarikan?

Acara Blusukan Solo bertajuk “Gerak Nada Pusat Kota” yang diadakan bertepatan dengan hari raya Waisak (25 Mei 2013) beberapa hari lalu membuat saya sadar bahwa Kota Solo masih punya banyak sekali peninggalan sejarah seni dan budaya yang terabaikan oleh masyarakat, termasuk salah satunya adalah Kampung Kemlayan.

Kemlayan merupakan nama sebuah kelurahan di kota Solo yang letaknya berada di pusat keramaian Kota Solo. Kawasan Singosaren dan Coyudan yang dipenuhi jajaran pertokoan termasuk dalam lingkup Kelurahan Kemlayan. Berulang kali melintasi Kemlayan saya hanya melihatnya sebagai kampung pada umumnya. Kenyataannya, Kemlayan memiliki sejarah panjang mengenai perkembangan seni tari dan musik yang tidak boleh dipandang sebelah mata.

Semula bernama Desa Mlaya yang merupakan tempat tinggal para seniman pemain gamelan keraton. Pada suatu ketika Sri Susuhunan Paku Buwono IV (PB IV) berlatih gendhing dengan serius hingga lupa melakukan ibadah sholat. Agar tidak lalai saat berlatih hingga malam hari, beliau memutuskan untuk membangun sebuah rumah ibadah dan sumur di desa tersebut.

Namun, penggalian sumur tidak berlangsung secara mulus, mereka harus mengali tiga sumber mata air sampai akhirnya menemukan sumur yang kelak disebut sumur Kamulyan. Gembira dengan sumur yang berhasil digali, PB IV mengatakan ke penduduk bawah desa tersebut mulai saat itu juga diganti nama menjadi Desa Kamulyan.

Kedua sumur ( sumur Bandung dan sumur Ngampok ) yang gagal mengeluarkan air bersih tidak diratakan dengan tanah oleh penduduk setempat. Lubang sumurnya tetap dibiarkan terbuka. Banyak cerita mistis yang beredar di balik kedua sumur tersebut, dikatakan oleh warga bahwa penunggu sumur sering menampakkan diri dalam wujud ular bermahkota dan wujud lainnya.

Sementara sumur Kamulyan selalu mengeluarkan air bersih yang tidak pernah kering sepanjang tahun. Air bersihnya masih digunakan untuk kebutuhan sehari-hari warga di sana. Dari nama itulah desa tersebut mulai dikenal dengan nama Kemlayan.

Sebelum menyusuri ketiga sumur, peserta terlebih dahulu berkumpul di Bank Panin pada pukul 08.30 pagi. Bank Panin merupakan bekas Gedung Kesenian Srikaton yang dulu difungsikan sebagai tempat pementasan kesenian wayang orang dan ketoprak dari para seniman di Kemlayan. Gedung ini sempat menjadi gedung Bioskop Trisakti yang memutar film-film Bollywood.

Tidak jauh dari situ juga terdapat bekas gedung Wayang Orang Panggung yang sudah berubah menjadi Plaza Singosaren. Semenjak perusahaan listrik swasta bernama NV Solosche Electriciteit Maatschappij masuk di Solo tahun 1910, banyak dibangun gedung bioskop di sekitar Kemlayan, seperti bioskop Dhaddy di Pasar Pon ( sekarang menjadi ruko barang elektronik ). Disusul bioskop UP yang sudah menjadi restoran Bima, dan banyak gedung bioskop tua lainnya di Kota Solo yang sudah hilang jejak sejarahnya.

Usai bernostalgia gedung bioskop jadul, peserta berjalan menyusuri Pasar Singosaren. Menurut cerita salah seorang peserta, Pasar Singosaren dulu merupakan pasar yang memiliki barang dagangan dengan kualitas terbagus di Solo yang sebanding dengan Pasar Gede Hardjonagoro. Sejarah tinggal kenangan. Setelah pasar dirombak jadi pasar dengan bangunan modern dan berbagi tempat dengan Plaza Singosaren, pasar tersebut justru sepi pengunjung.

Persis di belakang Pasar Singosaren terdapat bekas nDalem (rumah) menantu Sri Susuhunan Paku Buwbowo IX (PB IX) yang bernama Pangeran Singosari. nDalem seluas 8.000 meter ini sudah tidak terlihat kemegahannya seperti di masa lalu. Tembok pembatas nDalem sudah ditutupi oleh bangunan permanen rumah warga yang sudah menetap lama.

Hanya tersisa satu rumah yang masih ditempati oleh keturunan kerabat Praja Mangkunegaran yang bernama R.M.T.H Haroeng Binang. Meski terlihat banyak lubang di atap rumahnya, desain joglo dengan kayu berkualitas tinggi masih terlihat kokoh. Namun, dengan kondisi yang sedikit tidak terawat tersebut tidak bisa menebak sampai berapa lama lagi bangunan cagar itu akan bertahan.

Siang itu matahari sangat terik, namun peserta masih terlihat semangat berjalan menyusuri beberapa kediaman seniman-seniman yang berjasa dengan usahanya membangkitkan lagi budaya Jawa. Salah satunya adalah alm S. Ngaliman. Beliau adalah seorang abdi dalem keraton di bidang tari, Empu Tari ISI Surakarta sekaligus pemrakarsa perkumpulan kesenian masyarakat Kemlayan.

Di saat Kemlayan mengalami keterpurukan dalam memupuk semangat generasi penerus pengrawit, beliau mempelopori berdirinya BARADA atau Bina Raga Budaya. S. Ngaliman juga ikut menggiatkan Sanggar Pamungkas. Usahanya berhasil menumbuhkan kembali semangat generasi muda pada zamannya.

Kunjungan berikutnya adalah bekas nDalem atau rumah salah satu selir dari KGPAA Mangkunagara VII yang sekarang sudah berpindah tangan ke seorang maestro tari asal Solo bernama Sardono W Kusumo. Bangunan ini sudah tidak utuh lagi, banyak pondasi inti yang sudah dipindahkan ke Jakarta mengingat pemilik yang baru sudah menetap di sana. Untungnya nDalem ini masih sering digunakan sebagai tempat latihan menari sanggar Suryo Sumirat Mangkunegaran di waktu-waktu tertentu.

Kondisi keseluruhan bangunan ndalem ageng terlihat seperti sanggar tari dengan panggung terbuka dipenuhi pohon-pohon kamboja yang mengelilingi halaman. Ada beberapa bangunan tambahan yang difungsikan sebagai ruang pendukung untuk berlatih vokal dan menari. Suasana tambah adem dengan adanya sebuah sumur yang dilingkari kolam dipenuhi bunga teratai yang setiap pagi memancarkan sinar pelangi di atas kolamnya. Sayangnya waktu itu kami datang terlalu siang, sehingga hanya bisa berpuas diri melihat bunga teratai yang sedang bermekaran.

Setelah puas mendengar sejarah para maestro tari, peserta juga diajak masuk ke rumah seorang maestro keroncong Indonesia. Ada yang bisa menebak siapa yang saya maksud? Beliau adalah alm. Gesang yang bertempat tinggal di Jalan Bedoyo no 5, Kemlayan. Rumah yang sekarang dihuni oleh keponakannya masih terlihat jajaran piagam penghargaan terhadap apresiasi alm. Gesang dalam bermusik.

Beberapa penghargaan dari negara Jepang, piagam MURI atas prestasi “Usia Tertua Masuk Dapur Rekaman” memadati seluruh dinding ruang tamu. Sayup-sayup terdengar lagu mengalun dari televisi di ruang tamu yang membuat beberapa peserta asyik bersenandung lagu beliau. Kepopuleran lagu Bengawan Solo jangan ditanya lagi. Kalau Indonesia terutama anak muda tidak bangga dengan lagu yang sudah dialih bahasakan ke 13 negara tersebut sungguh keterlaluan!

Banyak kejutan yang ditemui selama mblusuk bareng Blusukan Solo. Kemlayan merupakan kampung di tengah kota. Tak saya sadari bahwa sering melewati jajaran bangunan tua yang sebenarnya memiliki cerita hebat di dalamnya. Telat sadar bahwa ada sejarah menarik di tiap penamaan jalan, hingga rumah tua di sana.

Selajutnya kami memasuki sebuah bangunan tua bertingkat dua yang masih terlihat megah. Rumahnya memiliki langitan terbuat dari kayu jati yang sekaligus menjadi dasar untuk lantai di atasnya. Sekilas pandang rumah tersebut memiliki arsitektur khas Tionghoa seperti banyak dijumpai di kawasan Sudiroprajan dan Cokronegaran. Langit kayu mengingatkan rumah keluarga besar saya di kawasan Pasar Gede yang sayangnya sekarang sudah dimodernkan.

Semula bangunan ini dimiliki oleh seorang pengrajin mebel bernama Ha Yin asal negeri Tiongkok yang bertugas membuat perabotan di dalam keraton. Ukiran “PB X” yang tertempel di beberapa ruang keraton dan pintu-pintu rumah di Baluwarti merupakan hasil karyanya. Sekarang rumah tersebut didiami oleh Bapak Haryono yang menikah dengan salah satu cucu Pangeran Kusumabrata bernama R.A.J Diah Kusumobroto.

Sekilas tentang Pangeran Kusumabrata, beliau adalah salah satu putra PB X yang ditakuti oleh Belanda karena kecerdasannya. Beliau juga punya peran penting terhadap sekolah dan perguruan tinggi yang ada di Surakarta, termasuk pernah menjabat menjadi pemimpin SMA 4 di Surakarta.

Bu Diah sensiri sudah tidak tahu-menahu mengenai keadaan nDalem Kusumabratan yang hancur karena nDalem tersebut sudah diurus oleh saudaranya yang lebih tua. Beberapa peserta yang pernah mblusuk di nDalem Pangeran kembali mengingat-ingat detail bangunan yang sekarang sudah rata dengan tanah. Kami diajak bernostalgia mengenai beberapa bagian nDalem Kusumabratan seperti keberadaan sumur Bandung yang memiliki beberapa kolam kecil ternyata merupakan keputren atau kamar mandi khusus wanita. Bu Diah juga bercerita bahwa Pangeran Kusumabrata adalah sosok yang tegas dan disiplin terhadap anak dan cucunya semasa hidup.

Kembali menyusuri gang kecil Kemlayan untuk menuju tujuan berikutnya. Semula sempat heran ketika rombongan disuruh berhenti di depan rumah yang memiliki tembok tanpa atap seperti bekas rumah yang akan dirobohkan. Setelah pintu dibuka dan kami dipersilakan masuk, mulut cuma bisa melongo. Di balik alamat palsu ehh … pintu masuk “palsu” terdapat sebuah rumah berarsitektur perpaduan Jawa – Belanda yang masih terlihat megah.

Rumah yang dibangun pada tahun 1830 ini dimiliki oleh keluarga Abdul Fattah, seorang pengusaha batik di Solo. Seperti bangunan indis pada umumnya, langitannya tinggi sehingga sirkulasi udara di setiap ruangan mengalir dengan lancar. Rumah selalu terasa sejuk sepanjang hari. Pintu berukuran besar dengan ukiran besi di setiap ventilasi kamar masih terjaga keasliannya.

Begitu pula dengan tegel antik yang masih mulus dengan motif garis biru dan merah di ruang depan serta tegel warna kuning dan hijau di bagian tengah. Bahkan bekas pabrik pembuatan batik yang terletak di halaman belakang juga masih dibiarkan begitu saja, tidak diubah sama sekali. Ini hanya sedikit contoh pemilik yang masih peduli dengan cagar budaya dan mempunyai cukup dana untuk merawatnya.

Tujuan berikutnya adalah nDalem Roesradi Widjojosawarno yang dihuni oleh keluarga dari Mloyosetika, seorang seniman yang berhasil menciptakan not rantai. Putri dari Mloyosetika menikah dengan Roesrawidjojo. Dari tangan Roesrawidjojo itulah tercipta lembaran-lembaran wayang Wahyu yang kini bernilai tinggi.

Wayang Wahyu adalah wayang yang pengambaran tokohnya diambil dari alkitab. Tokoh-tokohnya tidak jauh dari penggambaran santo dan santa dalam ajaran agama Katolik. Sejauh ini koleksi wayang wahyu masih dalam kondisi baik dan dijaga oleh anak Roesrawidjojo yang bernama Ros.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, banyak kejutan selama acara. Rumah adat Jawa dengan bentuk joglo bernuansa warna hijau ini juga masih aktif sebagai Sanggar Tari Pamungkas yang dulu diprakarsai oleh seniman tari S. Ngaliman. Di pendopo itulah peserta diajak untuk menunjukkan kebolehannya dalam bidang tari.

Bukan menari tari modern seperti yang lagi tren di kalangan anak muda, tetapi kami diajari tarian tradisional Jawa. Gerakan tangan dan kaki yang mengikuti irama lagu sungguh membuat saya kembali teringat ektrakurikuler wajib di SD dan SMP. Sekolah zaman sekarang masih mewajibkan anak didiknya mengikuti ektrakurikuler menari nggak ya? Kalau tertarik dengan seni tari, monggo mampir ke sanggar ini. 🙂

Sebagai penutup acara sekaligus kejutan terakhir, peserta dibawa ke salah satu nDalem yang terletak di Jalan Gatot Subroto. Rumah ini tidak terlihat begitu jelas dari jalan raya, kanan kirinya ditutupi oleh bangunan bertingkat. Kami harus berjalan melewati jalan kecil mirip gang senggol sepanjang lima meter hingga bertemu sebuah halaman tidak terlalu luas. Sekelibat terlihat tempelan marmer terukir tulisan “Melestarikan ‘Dalem ProdjoLoekitan, Surakarta, Setu Pahing, 2 Sept 2006“.

Begitu kaki melangkah menuju pendopo, tidak lagi nampak seperti nDalem yang selama ini pernah saya temui. Bangunan bernama nDalem Prodjoloekitan merupakan kediaman seorang arsitek keraton Kasunanan. Pendopo di sana masih terlihat megah dipenhi perabot kuno lengkap dengan beberapa patung-patung dari negeri Belanda membuat aura rumah ini terasa berbeda dengan sebelumnya.

Seolah aya ditarik masuk ke dalam mesin waktu, kembali ke seratus tahun yang lalu di mana masih banyak rumah megah para bangsawan/ priyayi yang mendiami lingkungan Keraton Surakarta. Rumah yang dibangun sejak tahun 1874 ini masih ditinggali oleh cucu-cucunya. Beberapa koleksi alat musik kuno juga masih dijaga keberadaannya.

pendopo nDalem Prodjo Loekito pendopo
pendopo nDalem Prodjo Loekitan

Kadang beberapa orang ( termasuk saya ) sering menyalahkan pihak pemerintah yang enggan mengeluarkan dana lebih untuk kelangsungan cagar. Setelah mendengar secara langsung pemilik nDalem Prodjoloekitan, saya sadar bahwa pribadi penerus juga mempengaruhi kelangsungan hidup sebuah cagar.

Gotong royong antar saudara dalam memperbaiki tiap kerusakan diterapkan dengan baik oleh keluarga mereka. Dengan dana saweran yang cukup kuat, mereka layak berbesar hati karena sukses mempertahankan warisan nenek moyang yang kelak bisa diperlihatkan ke anak cucu mereka. Kalau bukan kita, siapa lagi?

” Banyak sejarah kota yg tergerus oleh perkembangan zaman dan berakhir dgn anak muda yg masa bodoh terhadap sejarah kotanya sendiri.”

Terdengar asyik nggak kegiatan menelusuri sejarah tersembunyi di dalam kota?

Yuk kenali kotamu sendiri sebelum semua itu terlambat untuk diatasi… 😉

Note : Beberapa informasi sejarah Kemlayan disadur dari Blusukan Solo.

Advertisements

24 Comments Add yours

  1. ryan says:

    nice. banyak tempat menarik ya. dan juga sejarah di baliknya.

    Like

    1. smoga nggak boring baca artikel berbau sejarah yang panjang ini hehe…

      Like

    2. ryan says:

      gaklah…
      suka kok baca soal sejarah. 🙂

      Like

  2. yusmei says:

    jadi nyesel gak ikut blusukan kemariin….tapi tengkyu ya lim udah berbagi cerita, jadi tetep bisa mengetahui “sisi lain” solo yang belum terjamah 🙂

    Like

    1. Tenang…masih ada bulan depan dengan rute baru 😀

      Like

    2. yusmei says:

      eh bulan depan ke mana?

      Like

    3. masih dirahasiakan ama mas Fendi…biar penasaran katane hehehe…

      Like

    4. yusmei says:

      kudu sms fendi iniii timbang penasaran 🙂

      Like

  3. paten..! seru seru
    boleh lah disambangi kalau main ke solo

    Like

    1. Monggo…ada beberapa tempat yang terbuka untuk umum 🙂

      Like

  4. Fahmi Anhar says:

    wuapik cah postinganmu!! dan setiap buka blogmu, aku selalu menyesal kenapa dulu pas hidup 4,5 tahun di Solo nggak blusukan yak? zzzz

    Like

    1. Matur nuwun 🙂
      Artinya disuru balik kerja di Solo lagi itu hahaha…

      Like

    2. Fahmi Anhar says:

      mau kok aku dimutasi ke solo… beneran | #njurngopo

      Like

  5. Wah, makasih banyak ni ilmunya. Jujur, awalnya ga begitu tertarik sama perjalanannya didaerah yang mungkin ga terlalu mengeksplor objek wisata alam, namun maksain baca ini, ternyata jadi nambah ilmu. Yah, minimal aku aku jadi sedikit tau tentang lokasi-lokasi yang bersejarah. Kalo ke Solo, akan coba maen ke lokasi ini 🙂
    Nice Post 🙂

    Like

    1. Objek wisata nggak harus selalu melihat keindahan alam, tempat bersejarah pun bisa jadi suatu tempat yang menarik untuk dinikmati.
      Semoga bermanfaat ya 🙂

      Like

  6. rika says:

    waah, bagus niy artikelnya mas.. wisata sejarah itu selain asyik kt bisa membayangkan suasana dimasa lampau..

    Like

    1. Banyak tempat bersejarah yang kalah pamor dengan yang udah mainstrem….
      Semoga ke depannya makin banyak anak muda yang mengerti potensi wisata sejarah yang ada 🙂

      Like

  7. Evelyn Indriana says:

    hmmm…sayang e aq ketinggalan moment ini Lim…hiks…hiks…..nyesel…nyesel…..

    Like

  8. Endah Juliastuti says:

    sangat menyenangkan membaca artikel ini. sudut-sudut kota yang memiliki kisah dan terabaikan seiring perkembangan zaman…
    lanjutkan kecintaan budaya sejarah Indonesia, bung! 🙂

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Terima kasih sudah berkunjung. Mudah-mudahan tempat bersejarah lain di seluruh Indonesia bisa bertahan di tengah modernisasi 🙂

      Like

  9. indradi jadug says:

    Mohon info:
    1. Kapan blusukan melihat bangunan kuna di sala diadakan lagi.
    2. R. A. J. Diah itu adik mas Kimpung, mas Soti & mas Inuk ??
    Nuwun.

    Like

    1. Kegiatan Blusukan Solo rutin diadakan setiap bulan sekali dengan destinasi kampung beda tiap bulannya. Bisa add Facebook : Blusukan Solo Indonesia untuk update informasi tentang kegiatannya 🙂

      Like

  10. lantainya khas banget… pengen deh kalo punya rumah sendiri lantainya pakai yg bermotif gitu

    Like

    1. Masih ada yang produksi tegel kuno bikinan Belanda macam itu. Salah satunya Tegel Kunci di Patuk, D.I.Yogyakarta barangkali aja mau pesan dulu hahaha. 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s