GREBEG SUDIRO

Grebeg Sudiro merupakan bentuk akulturasi dari budaya Tionghoa dengan Jawa yang sudah diselenggarakan oleh Surakarta atau Kota Solo sejak tahun 2007 silam. Acara ini sebenarnya diadakan sebagai wujud dari perkembangan tradisi Tionghoa “Buk Teko” yang sudah ada pada zaman Sri Susuhunan Paku Buwono X memerintah Surakarta Hadiningrat puluhan tahun silam. Tradisi ini sempat hilang di era orde baru.

Semenjak pemerintahan Presiden ke-4 RI, Gus Dur, budaya Tionghoa terasa longgar kanan-kiri, bisa sedikit bernafas lega dan perayaan tradisi budaya Tionghoa berani dikeluarkan dari tempat persembunyian setelah sekian lama sengaja disembunyikan dari tanah air. Tidak lagi takut mengeluarkan Barongsai di jalan raya, tidak lagi takut memakai baju cheong sam warna merah di hari raya Imlek, tidak usah lagi sembunyi-sembunyi belajar ilmu beladiri whusu. Berkat jasa beliau pula perayaan tahun baru Imlek dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional. Hurayy!

Grebeg Sudiro 2011
keramaian Grebeg Sudiro tahun 2011
salah satu gunungan
salah satu gunungan

Sudiro diambil dari nama kelurahan Sudiroprajan di mana kawasan tersebut banyak dihuni oleh penduduk Tionghoa sebagai asal mula ide grebeg ini dibuat. Tidak berbeda dengan tradisi grebeg lain yang ada di Indonesia, Grebeg Sudiro juga mempunyai beberapa gunungan yang dikirab dengan maksud sebagai wujud persembahan terhadap dewa bumi. Gunungan-gunungan berupa kue keranjang, bakpia Balong, onde-onde, bolang-baling, gembukan, bakpao, keleman (semacam arem-arem), serta sayur mayur dan buah-buahan diarak mulai dari klentheng Tien Kok Sie yang terletak di sebelah Pasar Gede Hardjonagoro melewati Jalan Jendral Sudirman, Jalan Cut Nyak Dien (Pusat Grosir Solo), kemudian melewati Jalan RE Martadinata ( Ketandan ), belok ke Kelurahan Sudiroprajan, lalu kembali lagi ke Pasar Gede melalui Jalan Urip Sumoharjo.

Peserta kirab tidak hanya diikuti oleh masyarakat kelurahan Sudiroprajan saja melainkan juga diikuti oleh beberapa kelurahan lain di sekitar Sudiroprajan. Dari tahun ke tahun peserta perayaan ini kian bertambah. Tahun 2010 lalu saya hanya melihat sekitar 20-an kelompok saja yang ikut serta, tahun ini bertambah menjadi 54 kelompok dengan 10 kelompok berasal dari luar Solo. Magelang dengan Tari Topeng Ireng, perwakilan dari tiap kabupaten di Solo Raya, hingga Padepokan Brojo Buwono (pembuat keris di Karanganyar).

Grebeg Sudiro start
Siap GRAK! Maju JALAN!

Kirab diawali dengan berjalannya barisan prajurit kraton Kasunanan diikuti barisan lain seperti kelompok musik “Manunggal Roso” yang berhasil menghibur penonton dengan kebolehan mereka bermain alat musik yang semuanya terbuat dari bambu, kemudian paguyuban klentheng Tien Kok Sie yang pesertanya memakai kostum Biksu Tong, Sun Go Kong serta Pat Kay dan Sam Cheng ( tokoh ‘Journey to The West’ ), dewa-dewi asal Tiongkok, ada juga anak-anak memakai kostum lucu menggambarkan dua belas shio yang ada di Lunar Calender. Topeng Ireng dari kota Magelang, Reog dari Ponorogo serta peserta dari berbagai paguyuban di kota Solo juga ikut meramaikan grebeg yang diselenggarakan hari minggu lalu ( 03 February 2013 ). Puncak dari acara ini adalah atraksi Liong dan Barongsai yang dibawakan secara apik oleh para pemain di sepanjang jalan Urip Sumoharjo.

Acara akan diakhiri dengan rebutan gunungan yang semula diarak untuk dibagikan kepada masyarakat yang sudah menunggu di pelataran Pasar Gede Hardjonagoro. Meski berulang kali gunungan yang diboyong oleh peserta kirab habis dirayah di tengah jalan, antusias warga menonton dari awal acara hingga acara berakhir dengan pemasangan Lampion Teko sungguh luar biasa. Hujan yang selalu menguyur Kota Solo ketika Grebeg Sudiro berlangsung pun tidak menjadi halangan bagi para penonton.

Dengan adanya perayaan semacam ini seluruh kalangan masyarakat bisa lebih mengenal seni beladiri wushu, tarian Liong yang terkenal, wujud Barongsai yang terkadang membuat takut anak kecil, Reog Ponorogo dan berbagai seni pertunjukan dari berbagai daerah di tanah air. Grebeg Sudiro diadakan setiap satu tahun sekali tepatnya seminggu menjelang tahun baru Imlek.

Jadi jangan lewatkan Grebeg Sudiro tahun depan di kota Solo, kawan. 😉

Advertisements

21 Comments Add yours

  1. nopan says:

    wah, baru tahu saya ada grebeg ini. solo skg emang menarik dg banyaknya festival. thanks infonya

    Like

    1. Rata-rata sebulan sekali kota Solo punya cultural event yang unik dan lain dari kota sebelah 🙂

      Like

  2. Ruslan says:

    Perpaduan yg unik, solo emang unik..

    Like

    1. Hehe…Betul..Solo memang unik 😀

      Like

  3. Akulturasi yang sungguh indah

    Like

    1. Yuk singgah ke Solo tahun depan saat Grebeg Sudiro 🙂

      Like

  4. noerazhka says:

    Aaakkk.. Dia dateng ke Gerebeg Sudirooo.. Penginnn..

    Like

    1. Hehe…dia memang populer 🙂
      Yuk nonton Grebeg Sudiro tahun depan #senyum

      Like

  5. yusmei says:

    Hiks belum pernah liat Grebeg Sudiro…soalnya pasti pas jam kerja…nasiiib…:(

    Like

    1. Grebeg Sudiro pas hari Minggu…
      Minggu juga kerja kah?

      Like

    2. yusmei says:

      Iya mas…biasanya libur Sabtu 🙂

      Like

    3. Hehe…kebalikan ama orang kantoran ya 😀

      Like

  6. Sy Azhari says:

    Baru tahu ada acara Grebeg Sudiro ini, kalah ama Solo Batik Carnival. Bagus banget rasanya ada karnaval budaya asimilasi Jawa dengan Tionghoa begini. Pengennya di Medan ada yang begini mengingat penduduk Hokkian di sini hampir 20% (500ribuan) dari Penduduk Medan.

    Like

    1. Yuk Visit Solo buat ikutin Cultural event yang akan datang 😀

      Like

  7. Wuihhh baru tau Oom ada ginian … Jadi penasaran liatnya 🙂

    Like

    1. Halim Santoso says:

      Tanggal 26 Januari 2014 di Solo.. Yuk mari… 😉

      Like

  8. Adie Riyanto says:

    Rame ya tahun ini. Meriah banget. Jadi, apa koreksi untuk event kali ini selain acaranya yang molor beberapa jam? hehehe *ngumpet*

    Like

    1. Koreksi buat tahun ini, peserta kirab cewek harusnya ditambah lagi biar lenggak-lenggok mereka menyeimbangkan para berondong akmil #halah 😀 😀

      Like

  9. Donna Imelda says:

    Aku tak akan lewatkan tahun depan, koko. Temani aku ya sekalian blusukan. Yeaaaayyy

    Like

    1. Siap sedia jadi guide muter-muter kota Solo. Kampung Sudiroprajan juga menarik buat diblusuki, ntar kita jalan independent tanpa sponsor biar bebas berekspresi dalam menulis hihihi.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s